• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjalanan Pemikiran Yu>suf al-Qarad}a>wi>

BAB III : YU<SUF AL-QARAD{A<WI< DAN PEMIKIRANNYA

C. Pemikiran Yu>suf al-Qarad{a>wi> Tentang Persentase

5. Perjalanan Pemikiran Yu>suf al-Qarad}a>wi>

Membaca pemikiran Yu>suf al-Qarad}a>wi mengenai persentase zakat dari tiga buku utama yang penulis rujuk, akan didapatkan suatu perjalanan penyampaian ide dan pemikiran.

Buku pertama adalah karya Yu>suf al-Qarad}a>wi tentang zakat, Fiqh az-Zaka>h Dira>sat Muqa>ranah Li Ahka>miha wa Falsafatiha fi Daw‘i al-Qura>n wa as-Sunnah, yang terbit pertama pada tahun 1969M/1389 H. Buku kedua Mala>mih al-Mujtama>’ al-Musli>m al-laz{i> Nunsyiduhu yang diterbitkan pertama tahun 1993 M/1413 H. Sementara buku ketiga adalah As-Sunnatu Mas}daran li al-Ma’rifati wa al-Had}a>rati diterbitkan secara terbuka oleh Dar asy-Syuruq Kairo pertamakali pada tahun 1997 M /1417 H.

65Ibid., 46

66 Ibid., 56

Ide persentase zakat sebagai suatu yang dinamis sudah terlihat kuat dalam pemikiran Yu>suf al-Qarad}a>wi. Ini dilihat dalam setiap bab pembahasan tentang zakat hal ini selalu diungkapkan tentang persentase zakat itu seharusnya sebagai sebuah kebijakan Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang disesuaikan dengan kemaslahatan masyarakat pada zamannya.67 Disebabkan banyaknya topik pembahasan buku ini, pemikiran persentase dinamis seakan-akani tenggelam dibandingkan pemikiran-pemikiran baru Yu>suf al-Qarad}a>wi lainnya, seperti zakat profesi.

Kuatnya ide pemikiran bahwa presentase zakat itu dinamis diungkapkan dengan gamblang oleh Yu>suf al-Qarad}a>wi dalam bukunya Mala>mih al-Mujtama>’ al-Musli>m, ketika membahas kewajiban zakat sebagai bagian penting dalam kemadirian ekonomi masyarakat Islam. Yu>suf al-Qarad}a>wimengungkapkan bahwa agama sudah menetapkan persentase zakat yang sederhana, yaitu 2.5 % untuk emas perak dan perniagaaan, 5%

untuk tanaman yang disiram pakai alat, 10% untuk yang disiram tanpa alat, dan 20% untuk rikaz (barang temuan purbakala) dan tambang. Semakin besar kepayahan seseorang maka semakin ringan kadar zakatnya.68 Disini Yu>suf al-Qarad}a>wi sudah gamblang mengungkapkan bahwa persentase zakat dinamis disesuaikan dengan tingkat kepayahannya, zakat akan semakin kecil ketika semakin besar tingkat kepayahannya.

Mengiringi buku kedua ini, ternyata Yu>suf Qarad}a>wi> telah menyiapkan satu buku yang sangat memperjelas dan memperkuat argumen pendapatnya tentang ketentuan-ketentuan zakat yang dipandang sebagai sesuatu yang dipandang harus berubah sesuai kondisi dan kemaslahatan waktu tertentu.

Bukunya As-Sunnatu Mas}daran li al-Ma’rifati wa al-Had}a>rati di bab pertama membahas secara panjang bagaimana Sunnah harus diperlakukan. Ini sekaligus memperkuat argumen Yu>suf

67 al-Qarad}a>wi>, Fiqh az-Zakah Dira>sat …, I:216, 232, 373-374

68 al-Qarad}a>wi>, Malamih al-Mujtama’ al-Muslim …, 348.

98

Qarad}a>wi> yang sudah dilontarkan sebelumnya bahwa ada sunnah yang bukan sebagai tablig. Artinya ada sunnah yang sifatnya tidak mengikat bagi umat Islam sepanjang zaman dan dimanapun, termasuk ketentuan-ketentuan tentang zakat yang bersumber dari Sunnah.

Pemikiran tentang persentase zakat yang dinamis, yang diusung Yu>suf al-Qarad}a>wi> ini, jika dikaitkan dengan maqa>s}id asy-syari>’ah dapat dibincangkan dalam aspek berikut:

D{aru>riyya>t (primer) atau h}a>jiyya>t (sekunder)kah?

Pemikiran Yu>suf al-Qarad}a>wi> tentang persentase zakat yang dinamis adalah masuk maslahah yang sifatnya h}a>jiyya>t, karena adanya persentase zakat itu sendiri adalah untuk meghilangkan kesulitan amil dalam mengambil zakat dari muzakki. Dengan adanya tarif/persentase yang jelas dan aplikatif, amil dapat melaksanakan perintah al-Qura>n itu dengan mudah.

Namun, ketika persentase itu tidak dinamis atau tidak disesuaikan dengan kondisi suatu daerah dan masa tertentu, akan membuat ketentuan persentase zakat tersebut susah untuk diterapkan. Daerah Indonesia misalnya, peternakan yang banyak berkembang di Indonesia sangat berbeda dengan peternakan yang dominan di daerah Saudi Arabia. Karena kondisi geografis dan alam yang berbeda antara kedua daerah tersebut. Ada beberapa jenis peternakan yang bisa dikembangkan dengan baik di masing-masing daerah, dan ada juga peternakan yang tidak bisa dikembangkan dengan baik di masing-masing daerah.

Unta adalah peternakan yang bisa berkembang baik di daerah Saudi, tetapi sapi dan unggas mungkin tidak, begitu juga sebaliknya. Ternak unta di Indonesia akan menimbulkan biaya tinggi, karena tingkat kesulitan perawatannya di daerah dengan kondisi alam yang berbeda dengan habitat awal hewan tersebut.

Unta merupakan barang langka yang harganya sangat tinggi di Indonesia. Persentase zakat untuk binatang ini tentu akan berbeda dengan perbedaan daerah tersebut. Ternak sapi di Indonesia tentu sebaliknya dengan ternak unta, sapi lebih banyak di Indonesia dan lebih dikenal di masyarakat dibandingkan unta.

Ketika ketentuan persentase zakat dibakukan untuk kedua jenis hewan ini di daerah yang berbeda tentu akan timbul beberapa kesulitan. Karena harga atau nilai untuk kedua binatang ini akan berbeda, dengan perbedaan daerah tersebut.

Perincian zakat unta untuk daerah Saudi adalah hal yang seharusnya, begitu juga perincian zakat sapi untuk Indonesia juga keharusan. Sebaliknya ketentuan zakat sapi di Saudi tidak begitu penting dan sama halnya dengan ketentuan zakat unta untuk di Indonesia. 69

Persentase zakat sapi masih terjadi perdebatannya dalam khazanah hukum Islam, antara nisabnya yang 5 ekor disamakan dengan unta dan nisabnya yang 30 ekor. Hal ini tentunya di Saudi tidak menjadi persoalan yang serius karena yang berzakat sapi tidak banyak. Tetapi ketika di Indonesia, zakat sapi juga dibiarkan tanpa ada keputusan yang jelas berapa nisab dan kadar zakatnya, akan membuat sulitnya amil untuk menarik zakat sapi di beberapa daerah di Indonesia.

Dari beberapa paparan di atas, ketentuan persentase zakat yang baku akan menyebabkan zakat sulit dan tidak berjalan, maka persentase zakat dinamis yang awalnya adalah maslah}ah}

hajjiyya>t itu bisa menempati posisi maslah}ah} d}aru>riyya>t,70 yaitu untuk menjaga agama. Artinya ketika persentase zakat itu tidak dinamis maka perintah zakat dalam Alquran tidak akan berjalan dengan baik pada umat Islam

Dilihat dari qas}du mukallaf/kepentingan mukallaf, persentase zakat yang dinamis tersebut akan lebih mudah bagi mukallaf memahami perintah kewajiban zakat yang disesuaikan dengan kondisi sekitar mereka, dan akan memudahkan untuk melaksanakan kewajiban zakat tersebut. Namun, ketika persentasenya baku, seperti dirincikannya persentase unta bagi

69 Pada Bab II tulisan ini sudah dipaparkan bagaimana rinci dan jelasnya ketentuan tentang zakat unta seperti dalam hadis Abu Bakar.

70 Ahmad bin asy-Syaikh Muhammad az-Zarqa, Syarah} Qawa>’id al-Fiqhiyyah (Beirut: Da>r al-Qalam, 1989), 209-210

100

masyarakat Indonesia yang tidak biasa dengan ternak unta, maka aturan persentase zakat bagaikan idealita yang tidak untuk dilaksanakan. Begitu juga, ketika persentase itu dipandang baku maka kesulitan dalam melaksanakannya akan dialami oleh mukallaf, seperti persentase zakat pertanian. Petani tetap mengeluarkan 10 %, tidak bisa 5% atau 2.5% karena tidak boleh berubah lagi, walaupun hal itu dirasakan oleh petani amat memberatkan, ketentuan syari’ah akan menjadi susah untuk

“dimengerti” oleh mukallaf.

Pemikiran Yu>suf al-Qarad}a>wi> tentang kedinamisan persentase zakat, tidak hanya khusus untuk persentase zakat itu, tetapi untuk zakat secara keseluruhan. Tentang nisab misalnya, Yu>suf al-Qarad}a>wi> memandang ketentuan nisab (batas minimal harta yang dikenai zakat), bukanlah ketentuan baku. Artinya juga pemerintah atau pemimpin masyarakat bisa menentukannya, sesuai dengan kemaslahatan pada masanya.

Dasarnya adalah larangan Nabi untuk menzakati kuda, juga perbedaan ukuran nisab sapi, karena Nabi tidak memberikan ketentuan pasti. Menurut Yu>suf al-Qarad}a>wi>, Nabi sengaja melakukan itu untuk memberikan kebebasan kepada umat dan para pemimpin mereka.71 Larangan dan perintah Nabi dalam masalah ini merupakan larangan dan perintah kepala negara, sama dengan ketentuan persentase zakat, terkadang mengikat dan terkadang tidak; sesuai dengan kemaslahatan umat dan agama pada waktu itu, sehingga waktu-waktu tertentu—sebagai contoh zakat kuda pada masa peperangan yang amat tergantung kepada kuda—kuda tidak perlu dizakati.

Andaikan persentase zakat dinamis, kemudian nisab zakat juga dinamis, apakah dalam hal zakat tidak ada yang baku? Bagi Yu>suf al-Qarad}a>wi>, zakat itu harus memenuhi tiga syarat, dan ini akan berlaku tetap, 1. Harus dalam jumlah tertentu yang ditetapkan oleh syara’ yaitu, 20 %, 10 % , 5% atau 2.5 %. 2.

Harus dengan niat tertentu, yaitu untuk mendekatkan diri

71 al-Qarad}a>wi>, as-Sunnatu Mas}daran…, 60-61

kepada Allah Swt, 3. Harus diberikan kepada sasaran tertentu, yaitu delapan asnaf yang ditentukan oleh syari’at.72 Inilah, menurut Yu>suf al-Qarad}a>wi>, yang menyebabkan zakat tidak bisa disamakan dengan pajak resmi yang dikeluarkan pemerintah.

Ditambahkan oleh Yu>suf al-Qarad}a>wi>, yang membedakan zakat dari pajak, bahwa zakat disertai ruh iman yang tidak terdapat dalam pajak; zakat diambil dari orang-orang kaya dan dibagikan untuk orang-orang miskin di mana zakat itu dipungut;

penerima zakat sudah ditentukan jelas oleh Allah SWT. dan tidak diserahkan kepada pemikiran ilmuan pembuat undang-undang; kewajiban zakat adalah pertolongan yang pertama dalam sejarah manusia melalui pemerintah bagi orang-orang yang lemah dalam masyarakat; zakat adalah hak bagi mereka yang “dilemahkan” dan kewajiban dari Allah Swt.73 Abu Ubaid juga menambahkan perbedaan itu dengan; walaupun pemerintahan merupakan hal penting bagi berjalannya zakat, tetapi andaikan pemerintahan tidak ada maka kewajiban zakat tetap ada, berbeda dengan pajak yang adanya berjalan seiring dengan adanya pemerintahan.74

Kewajiban zakat juga berbeda dengan pungutan pemerintah lainnya yang ada sebelum Islam, karena kewajiban zakat memiliki konsep nisab (batas minimal terkena zakat), miqdar (tarif atau persentase zakat), ma>l zakawi> (objek zakat), dan haul (jatuh tempo), dan semua ditetapkan oleh penguasa, berdasarkan kemaslahatan muzakki dan mustahiq untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.75

72 al-Qarad}a>wi, Fiqh az-Zaka>h Dira>sat … II: 1107

73 Ibid., bagian penutup dari Fiqh az-Zakat.

74 Dikutip melalui Ugi Suharto, Keuangan Publik Islam: Reinterpretasi Zakat dan Pajak, cet. ke-1 (Yogyakarta: Pusat Studi Zakat IBS STIS Yogyakarta, 2004), 83

75 Masdar F. Mas’udi, “Zakat: Etika Pajak dan Belanja Negara Untuk Rakyat” dalam Syamsul Anwar dkk., Antologi Pemikiran Hukum Islam di Indonesia: Antara Idealitas dan Realitas, cet. ke-1 (Yogyakarta: Syari’ah Press, 2008), 54-55.

102