• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS

C. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian

Dalam psikologi pendidikan yang dimaksud motif ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Atau seperti yang dikatakan Sartain dalam bukunya yaitu Motif adalah suatu pernyataan yang kompleks didalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku/ perbuatan kesuatu tujuan atau perangsang.5

Motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alas an-alasan atau dorong-dorongan dalam arti manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu.6

Orang menyebut kata motif untuk menunjuk mengapa seseorang itu berbuat sesuatu. Berawal dari kata motif itu maka motivasi dapat diartikan sebagai daya pengerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan.7

Apabila suatu kebutuhan dirasakan mendesak untuk dipenuhi, maka motif daya penggerak menjadi aktif. Motif atau daya penggerak yang telah menjadi aktif disebut motivasi.

Motivasi adalah dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan prilaku manusia, termasuk prilaku belajar. Dalam motivasi terkandung keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan prilaku individu belajar.8

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Ada tiga unsur yang saling berkaitan dalam motivasi yaitu :

5 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya, 1988), h. 60 6

W.A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung: PT. Eresco, 1996), h. 140 7

Sardiman, Interaksi dan…, h. 71. 8

a. Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi. Perubahan-perubahan dalam motivasi timbul dari perubahan-perubahan tertentu didalam sistem neuropisiologis dalam organisme manusia.

b. Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan effective arousal. Mula-mula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang bermotif.

c. Motivasi ditandai dengan emosi-emosi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang bermotivasi mengadakan respons-respons yang tertuju kearah suatu tujuan. Respons-respons itu berfungsi mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh perubahan energi dalam dirinya.9

2. Macam-Macam Motivasi

Beberapa pendapat tentang jenis-jenis motivasi. Sartain membagi motif menjadi dua golongan yaitu :

a. “Psycological drive” yaitu dorongan-dorongan yang bersifat fisiologis/ jasmaniah, seperti lapar, haus, seks dan sebagainya.

b. “Sosial motivies” yaitu dorongan dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan manusia yang lain dalam masyarakat, seperti dorongan estestis, dorongan ingin selalu berbuat baik (etika) dan sebagainya.

Woodworth menggolongkan motif-motif ini menjadi tiga golongan : a. Kebutuhan-kebutuhan organis, yaitu motif-motif yang berhubungan

dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam dari tubuh seperti lapar, haus, tidur dan sebagainya.

b. Motif-motif yang timbul sekonyong-konyong (emergency motivies) ialah motif-motif yang timbul jika situasi menuntut timbulnya tindakan kegiatan yang cepat dan kuat dari kita seperti dorongan untuk membalas, untuk berusaha yang jelas ada rangsangan dari luar.

9

c. Motif obyektif, yaitu motif yang diarahkan / ditujukan kesuatu obyek atau tujuan tertentu di sekitar kita. Motif ini timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita.10

3. Bentuk-Bentuk Motivasi di Sekolah

Di dalam kegiatan belajar-mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan Motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.

Dalam kaitan itu perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi adalah bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat, dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Hal ini guru harus hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik.

Sebab mungkin maksudnya membcrikan motivasi tctapi justru tidak menguntungkan perkembangan belajar siswa.

Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.

1. Memberi angka

Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang utamajustru untuk mencapai angka/ nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai pada raport angkanya baik- baik.

.Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga, bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar pokoknya naik kelas saja. Ini menunjukkan motivasi yang dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka baik. Namun demikian semua itu

10

harus diingat oleh guru bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru adalah bagaimana cara memberikan angka-angka dapat dikaitkan dengan values

yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekadar kognitif saja tetapi juga keterampilan dan afeksinya.

2. Hadiah

Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seseorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.

3. Saingan/kompetisi

Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak di- manfaatkan di dalam dunia industri atau perdagangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar siswa.

4. Ego-involvement.

Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri,

begitu juga untuk siswa si subjek belajar. Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.

5. Memberi ulangan.

Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat oleh guru, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan dan bersifat rutinitis. Dalam hal ini guru harus juga terbuka, maksudnya kalau akan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.

6. Mengetahui hasil.

Dengan mengetahui basil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.

7. Pujian

Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk

reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu, supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

8. Hukuman.

Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa mcnjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus memahami prinsip-prinsip pembcrian hukuman.

9. Hasrat untuk be/ajar.

Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.

10. Minat

Di depan sudah diuraikan bahwa soal motivasi sangat erat hubungannya dengan unsur minat. Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar ituakan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut:

a. membangkitkan adanya suatu kebutuhan;

b. menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau; c. memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik; d. menggunakan berbagai macam bentuk mengajar.

11. Tujuan yang diakui

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.

Di samping bentuk-bentuk motivasi sebagaimana diuraikan di atas, sudah barang tentu masih banyak bentuk dan cara yang bisa dimanfaatkan. Hanya yang penting bagi guru adanya bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna. Mungkin pada mulanya, karena ada sesuatu (bentuk motivasi) siswa itu rajin belajar, tetapi guru harus mampu melanjutkan dari tahap rajin belajar itu bisa diarahkan menjadi kegiatan belajar yang bermakna, sehingga hasilnya pun akan bermakna bagi kehidupan si subjek belajar.

4. Fungsi Motivasi

Setiap motif itu berkaitan erat dengan suatu tujuan, makin berharga tujuan makin kuat pula motifnya. Guna/ fungsi motif-motif itu ialah : a. Mendoronga manusia untuk berbuat / bertindak

Motif itu berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor yang memberikan energi (kekuatan) kepada seseorang untuk melakukan suatu tugas.

b. Menentukan arah perbuatan

Yakni kearah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu.

c. Menyeleksi perbuatan kita

Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.11

Selain itu motivasi dapat juga berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan usaha karena adanya motivasi. Dengan kata lain adanya usaha yang tekun terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang akan belajar. Hal tersebut akan dapat melahirkan prestasi yang baik.12

Motivasi yang tinggi cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi dan motivasi yang rendah cenderung menghasilkan prestasi yang rendah.13

5. Motivasi dan Perilaku

Manusia bukanlah benda mati yang bergerak hanya bila ada daya dari luar yang mendorongnya, melainkan makhluk yang mempunyai daya-daya dalam dirinya sendiri untuk bergerak – inilah motivasi. Oleh karena itu motivasi sering disebut penggerak perilaku (the energizer of

11 Purwanto, Psikologi…, h. 70. 12

Sardiman, Interaksi dan…, h. 83. 13

Sudarwan Danin, Motivasi Kepemimpinan dan Efektifitas Kelompok, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004).

behaviour). Ada juga yang mengatakan bahwa motivasi adalah penentu (determinan) perilaku. Dengan kata lain, motivasi adalah suatu konstruk teoritis mengenai terjadinya perilaku. Menurut para ahli, konstruk teoritis ini meliputi aspek-aspek pengaturan (regulasi), pengarahan (direksi),

serta tujuan (insentif global) dari perilaku. Selutuh aktivitas mental yang dirasakan / dialami yang memberikan kondisi hingga terjadinya perilaku tersebut disebut motif.

Secara umumdapat digolongkan 3 determinan terjadinya perilaku, yaitu : a. Determinan yang berasal dari lingkungan (kegaduhan, bahaya dari

lingkungan, desakan guru, dan lain-lain)

b. Determinan dari dalam diri individu (harapan / cita-cita, emosi, instink, keinginan dan lain-lain)

c. Tujuan / insentif / nilai dari suatu obyek. Faktor-faktor ini berasal dari dalam diri individu (kepuasan kerja, tanggung jawab dan lain-lain) atau dari luar individu (status, uang dan lain-lain)

Ditinjau dari sifatnya, determinan-determinan tersebut dapat dikatakan : a. bersifat biologis (nafsu, kebutuhan-kebutuhan biologis)

b. bersifat mental (cita-cita, rasa tanggung jawab)

c. bersifat objek atau kondisi dalam lingkungan (uang, pangkat, rencana) Walau motivasi menggerakkan perilaku tetapi hubungan antara kedua konstruk ini cukup kompleks. Berikut ini beberapa cirri motivasi dalam perilaku:

a. Penggerakan perilaku menggejala dalam bentuk tanggapan-tanggapan yang bervariasi. Motivasi tidak hanya merangsang suatu perilaku tertentu saja, tetapi merangsang berbagai kecenderungan yang memungkinkan tanggapan yang berbeda-beda.

b. Kekuatan dan efisiensi perilaku mempunyai hubungan yang bervariasi dengan kekuatan determinan. Rangsang yang lemah mungkin menimbulkan reaksi hebat dan sebagainya.

d. Penguatan positif (positive reinforcement) menyebabkan suatu perilaku tertentu cenderung untuk diulangi kembali.

e. Kekuatan perilaku akan melemah bila akibat dari perilaku itu bersifat tidak enak.14

6. Daur Motivasi

Perilaku terjadi karena suatu determinan tertentu, determinan ini merangsang timbulnya suatu keadaan (bio) psikologis tertentu dalam tubuh yang disebut kebutuhan, kebutuhan menciptakan suatu keadaan tegang (tension) dan ini mendorong perilaku untuk memenuhi kebutuhan

tersebut (perilaku instrumental).

Bila kebutuhan sudah dipenuhi, maka ketegangan akan melemah (relief) sampai timbulnya ketegangan lagi karena munculnya kebutuhan baru. Inilah yang disebut daur motivasi.

Tidak semua perilaku mengikuti pola daur seperti ini. Bila determinan yang menimbulkan itu tidak ada lagi, maka daur tidak terjadi.15

7. Teori Motivasi

Dalam buku Psikologi Pendidikan karangan Ngalim Purwanto, menyatakan beberapa teori motivasi sebagai berikut :

a. Teori Hedonisme

Semua orang cenderung menghindari diri dari sesuatu yang sulit dan yang menyusahkan dan lebih cenderung suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan.

b. Teori Naluri

Pada dasarnya manusia memiliki tiga dorongan naluri pokok, yakni

naluri mempertahankan diri, naluri mengembangkan diri dan naluri mempertahankan dan mengembangkan jenis. Kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya setiap hari, mendapat

14

Irwanto, Psikologi Umum, (Jakarta: PT. Prenhalindo, 2002), t.t.p

15

dorongan atau digerakkan oleh ketiga naluri tersebut. Teori ini menjelaskan tentang perilaku manusia yang memiliki motivasi, didasarkan oleh naluri.

c. Teori Reaksi Yang Dipelajari

Perilaku manusia berdasarkan pada pola-pola dari tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan dimana tempat orang itu hidup.

d. Teori Daya Pendorong

Teori ini merupakan perpaduan antara teori naluri dengan teori reaksi yang dipelajari. Seorang pemimpin yang ingin memotivasi bawahannya, ia mendasarkannya kepada daya pendorong naluri dan reaksi yang dipelajari dari kebudayaan lingkungan dimana dia berada.

e. Teori Kebutuhan

Tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakekatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Teori kebutuhan ini dapat dijelaskan dengan teori Abraham Maslow.16

Maslow sebagai tokoh motivasi aliran humanisme, menyatakan bahwa kebutuhan manusia secara hierarkis semuanya laten dalam diri manusia. Kebutuhan tersebut mencakup fisiologis (sandang pangan), kebutuhan rasa aman (bebas bahaya), kebutihan kasih sayang, kebutuhan dihargai dan dihormati, dan kebutuhan aktualisasi diri. Aktualisasi diri, penghargaan atau penghormatan, rasa memiliki, dan rasa cinta atau sayang, perasaan aman, dan tentram merupakan kebutuhan fisiologis mendasar. Teori ini dikenal sebagai teori kebutuhan (needs).17

Teori Maslow mengenai motivasi didasarkan kepada adanya tingkat-tingkat kebutuhan dan perubahan daya dorongnya. Perubahan daya dorong atau dalam istilah Maslow “prepotency” berarti bahwa apabila semua tingkat kebutuhan manusia tidak bisa dipenuhi lag, maka kebutuhan-kebutuhan dasar yang bersifat fisik merupakan kebutuhan yang

16

Purwanto, Psikologi…, h. 60. 17

Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007).

paling dominant “and all other needs may some seem to be non existent or be pushed into the background.”18

Berdasarkan teori motivasi yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan, motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku / aktivitas lebih baik dari keadaan sebelumnya. Dengan sasaran sebagai berikut : (a) mendorong manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang didasarkan atas pemenuhan kebutuhan. Dalam hal ini, motivasi merupakan motor penggerak dari setiap kebutuhan yang akan dipenuhi, (b) menentukan arah tujuan yang hendak dicapai, dan (c) menentukan perbuatan yang harus dilakukan.19

8. Peranan Motivasi Dalam Belajar Dan Pembelajaran a. Peran Motivasi dalam Menentukan Penguatan Belajar

Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seorang anak yang belajar dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang pernaha dilaluinya. Sebagai contoh, seorang anak akan memecahkan materi matematika dengan bantuan tabel logaritma. Tanpa bantuan tabel tersebut, anak itu tidak dapat menyelesaikan tugas matematika. Dalam klaim itu, anak berusaha mencari buku tabel matematika. Upaya untuk mencari tabel merupakan motivasi yang dapat menimbulkan penguatan belajar.

b. Peran Motivasi dalam Memperjelas Tujuan Belajar

Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu, jika dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak. Sebagai contoh, anak akan termotivasi belajar elektronik

18

Buchori Zainun, Manajemen dan Motivasi, (Jakarta: Balai Aksara, 1989). 19

karena tujuan belajar elektronik itu dapat melahirkan kemampuan anak dalam bidang elektronik. Dalam suatu kesempatan misalnya, anak tersebut diminta membetulkan radio yang rusak, dan berkat pengalamannya dari bidang elektronik, maka radio tersebut menjadi baik setelah diperbaikinya. Dari pengalaman itu, anak makin hari makin termotivasi untuk belajar, karena sedikit anak sudah mengetahui makna dari belajar itu.

c. Motivasi Menentukan Ketekunan Belajar

Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan berusaha memperlajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memproleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya, apabila seseorang kurang belajar atau tidak memiliki motivasi untuk belajar, maka dia tidak tahan lama belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan ketekunan belajar.20

B. Prestasi Belajar

1. Pengertian Prestasi Belajar

Kata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata yaitu prestasi dan belajar. Prestasi adalah hasil tertinggi yang telah dicapai seseorang. Sedangkan arti prestasi dalam kamus ilmiah popular adalah “hasil yang telah dicapai”. Dapat dikatakan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh perbuatan yang telah dilakukan. Dengan demikian prestasi adalah hasil karya dari suatu usaha.

Ada beberapa definisi tentang pengertian belajar. Menurut Slameto belajar adalah usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh

20

perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, dengan hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.21

Oemar Hamalik mengemukakan pendapatnya tentang belajar. Menurutnya belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing). Maksudnya belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat tapi mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.22

Skinner dalam bukunya Educational Psychology : The Teaching Learning Proses, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.

Chaplin dalam Dictionery Of Psychologi membatasi belajar dengan dua rumusan. Rumusan pertama yaitu belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai berikut adanya latihan khusus.23

Menurut teori behavioristik adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stumulus dan respon.24

Dari definisi-definisi yang tersebut diatas, dapat dikemukan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu :

21

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi, (Jakarta: Bina Aksara, 1998), h. 56.

22

Hamalik, Proses Belajar…, h. 27.

23 Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006), h. 90.

24

C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 20.

a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tungkah lau, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi ada juga kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.

b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi. c. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap;

harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Ini berarti kita harus mengenyampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya berlangsung sementara.

d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian baik secara fisik maupun psikis, seperti : perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/ berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.25

Banyak sekali bentuk-bentuk perubahan yang terdapat dalam diri manusia yang bergantung pada belajar, sehingga kualitas peradaban menusia juga terpulang pada apa dan bagaimana ia belajar. E.L.Thorndike meramalkan, jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang tidak akan berguna bagi generasi mendatang. Bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman.26

25

Purwanto, Psikologi…, h. 84. 26

Prestasi belajar menurut pendapat Purwadarminta adalah hasil yang telah dicapai individu merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam diri (internal) maupun dari luar (eksternal).27

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat

Dokumen terkait