• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

4. Pengertian Pestisida Nabati

Salah satu alternatif untuk menggantikan penggunaan pestisida sintetik yang banyak menimbulkan dampak negatif adalah menggunakan senyawa kimia yang berasal dari tanaman yang dikenal dengan nama Pestisida Nabati (Sudarmo, 2005). Pestisida nabati mencangkup bahan nabati (ekstrasi penyulingan) yang dapat berfungsi sebagai zat pembunuh, zat penolak zat

pengikat, dan zat penghambat pertumbuhan organisme pengganggu tanaman.

Pada umumnya, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Menurut FAO (1988) dan US EPA (2002), pestisida nabati dimasukkan ke dalam kelompok pestisida biokimia karena mengandung biotoksin. Pestisida biokimia adalah bahan yang terjadi secara alami dapat mengendalikan hama dengan mekanisme non toksik (Asmaliyah dkk, 2010: 2).

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang dapat berfungsi sebagai zat pembunuh, penolak, pengikat ataupun penghambat pertumbuhan OPT. Pestisida nabati relatif lebih mudah dibuat, lebih mudah terurai di alam dan lebih aman bagi manusia dan lingkungan. Pemanfaatan pestisida nabati dalam pengendalian OPT, selain sebagai pengendali alamiah yang efektif dan berkelanjutan, juga dapat berperan dalam meningkatkan daya saing produk melalui peningkatan efisiensi usaha dan image produk perkebunan ramah lingkungan (Haryono, 2011: 2).

Pestisida nabati terbuat dari bahan alami/nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan yang mengkonsumsinya karena

residunya mudah hilang. Pestisida Nabati bersifat “pukul dan lari” (hit and run), yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu dan setelah hama terbunuh maka residunya akan cepat menghilang di alam. Dengan demikian, tanaman akan terbebas dari residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi (Agus Kardinan, 2000: 4-5).

Secara evolusi, tumbuhan telah mengembangkan bahan kimia sebagai alat pertahanan alami terhadap pengganggunya. Tumbuhan mengandung banyak bahan kimia yang merupakan metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu. Menurut Agus Kardinan (2000) , di dalam tumbuhan ada zat metabolit sekunder yang berfungsi untuk melindungi diri dari pesaingnya. Zat inilah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif pestisida nabati. Zat ini mempunyai karakterisitik rasa pahit (mengandung alkaloid dan terpen), berbau busuk dan berasa agak pedas sehingga tumbuhan ini tidak diserang oleh hama (Hasyim, 2010).

Tumbuhan sebenarnya kaya akan bahan bioaktif, walaupun hanya sekitar 10.000 jenis produksi metabolit sekunder yang telah teridentifikasi, tetapi sesungguhnya jumlah bahan kimia pada tumbuhan dapat melampaui 400.000. Grainge et al., (1984) melaporkan ada 1800 jenis tanaman yang mengandung pestisida nabati yang dapat digunakan untuk pengendalian hama

(Sastrosiswojo, 2002),. Di Indonesia, sebenarnya sangat banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati, dan diperkirakan ada sekitar 2400 jenis tanaman yang termasuk ke dalam 235 Famili (Agus Kardinan, 2000). Menurut Morallo-Rijesus (1986), jenis tanaman dari Famili Asteraceae, Fabaceae dan Euphorbiaceae, dilaporkan paling banyak mengandung bahan insektisida nabati (Sastrosiswojo, 2002). Oleh karena itu, jika dapat mengolah tumbuhan ini sebagai bahan pestisida maka akan membantu masyarakat petani untuk menggunakan pengendalian yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya setempat yang ada di sekitarnya (Agus Kardinan, 2000).

Telah banyak diteliti bahwasanya ekstrak tanaman tertentu mengandung molekul, yang bekerja secara tunggal maupun berinteraksi dengan molekul lainnya yang mampu berperan sebagai pestisida. Cara kerja (mode of action) molekul tersebut dapat sebagai biotoksin, pencegah makan (antifeedantt, feeding deterrent), penolak (repellent) dan atau pengganggu alami, baik yang diperoleh dari tumbuhan maupun jasad renik yang disebut sebagai pestisida biorasional (biorational pesticides) (EPA, 1989).

Pada umumnya tanaman yang digunakan sebagai pestisida nabati bersifat repellent. Oleh karena itu, jika dapat mengolah tumbuhan ini sebagai bahan pestisida maka akan membantu masyarakat petani untuk menggunakan pengendalian yang ramah

lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya setempat yang ada di sekitarnya (Agus Kardinan, 2000).

Sudarmo (2005) menyatakan bahwa pestisida nabati dapat membunuh atau menganggu serangga hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal . Cara kerja pestisida nabati yaitu merusak perkembangan telur, larva, pupa, menghambat pergantian kulit, mengganggu komunikasi serangga, menyebabkan serangga menolak makanan, mengurangi nafsu makan, memblokir kemampuan makan serangga mengusir serangga, dan menghambat perkembangan patogen.

Berikut ini beberapa kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan pestisida nabati.

1. Kelebihan pestisida nabati menurut Suwahyono (2010: 23- 24)

a. Mempunyai sifat cara kerja (mode of action) yang unik yaitu tidak meracuni (nontoxic).

b. Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang. c. Penggunaan dalam dosis yang kecil atau rendah. d. Mudah diperoleh di alam. Di Indonesia sangat

e. Cara pembuatannya relatif mudah dan secara sosial ekonomi penggunaanya mengKasumbago Untungkan bagi petani mikro di negara sedang berkembang.

f. Umumnya, pestisida nabati kurang beracun dibanding pestisida sintetik sehingga resiko bahaya yang ditimbulkan juga lebih kecil.

g. Pestisida nabati hanya berpengaruh pada hama sasaran dan organisme lain yang berdekatan kerabatnya. Berbeda dengan pestisida sintetik yang berspektrum luas yaitu dapat membunuh organisme non target (serangga, burung, mamalia).

h. Pestisida nabati umumnya efektif pada jumlah (dosis) rendah dan cepat teruarai sehingga pemaparannya lebih rendah dan terhindar dari masalah pencemaran. Lain halnya pestisida sintetik yang sering kali menimbulkan dampak residu. i. Penggunaan pestisida nabati dalam program

pengendalian hama terpadu dapat mengurangi banyak sekali penggunaan pestisida sintetik degan hasil panen tetap tinggi.

2. Kekurangan / kelemahan pestisida nabati menurut Abdul Latief Abadi (2003: 125-126)

a. Senyawa racun yang terkandung dalam pestisida botani mudah sekali terdegradasi karena cahaya, tercuci air dan kelembaban yang tinggi, sehingga perlu aplikasi yang lebih sering, harus sangat tepat waktu dan tepat sasaran.

b. Senyawa botani cepat menyebabkan serangga berhenti makan dan menyebabkan muntah dan paralisis, tetapi dapat menyebabkan serangga tidak mati dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari. c. Kebanyakan senyawa botani ini mempunyai

toksisitas yang rendah atau moderat terhadap hewan mamalia, walau demikian dapat saja meracuni manusia atau lingkungan.

d. Kebanyakan senyawa botani tidak menyebabkan fitotoksik pada tanaman kecuali nikotin sulfat. e. Pestisida botani tidak banyak tersedia di pasar

(terutama di Indonesia) dan kalaupun ada (di luar negeri) harganya lebih mahal dibandingkan dengan pestisida sintetik.

f. Walaupun bahan-bahannya murah harganya di Indonesia, pembuatan pestisida botani tidak praktis, tidak bersifat tahan lama dalam penyimpanan, dan belum tentu bahannya tersedia pada saat dibutuhkan.

g. Potensi keberhasilan dari pestisida botani sangat ditentukan oleh jenis sumber yang digunakan atau kandungan bahan aktif yang ada dalam tanaman yang dapat bervariasi menurut umur, varietas tanaman dan takaran yang digunakan.

h. Pestisida botani cenderung berspektrum luas, tidak spesifik sehingga dapat pula merugikan pada musuh alami yang ada di pertanaman tersebut.

Menurut Agus Kardinan (2000), penggunaan dan pengembangan pestisida nabati di Indonesia mengalami beberapa kendala berikut : pestisida sintetis (kimia) tetap lebih disukai dengan alasan mudah didapat, praktis mengaplikasinya, hasilnya relatif cepat terlihat, tidak perlu membuat sediaan sendiri, tersedia dalam jumlah banyak, dan tidak perlu membudidayakan sendiri tanaman penghasil pestisida . Kurangnya rekomendasi dari para penyuluh karena mungkin keterbatasan pengetahuan para penyuluh tentang pestisida nabati, tidak tersedianya bahan tanaman secara berkesinambungan dalam jumlah yang memadai saat diperlukan,

dan sulitnya regristasi pestisida nabati di komisi pestisida karena bahan aktif tidak dapat dideteksi.

Pemanfaatan pestisida nabati secara luas akan langsung berpengaruh terhadap berkurangnya volume penggunaan pestisida dan berdampak positif terhadap kualitas produk tanaman, terutama dengan makin terhindarnya produk dari kemungkinan pencemaran residu pestisida sintetikwi. Kondisi produk tanaman yang demikian, saat ini menjadi perhatian konsumen dan dapat memberikan imej kualitas produk yang tinggi (Haryono, 2011: 3).

Dokumen terkait