LANDASAN TEORI
A. Tianjauan Pustaka 1. Tentang Persepsi
4. Pengertian Punk
Punk dapat diartikan melalui sudut pandang yang masing-masing memiliki makna yang berbeda. Pengertian punk yang di tuliskan dalam kamus besar bahasa indonesia adalah (kelompok) pemuda yang tidak berpengalaman (biasanya dijadikan pasangan kaum homoseks). Pengertian tersebut menggambarkan bahwa punk sebagai pemuda yang tidak berpengalaman atau tidak berarti. Bahkan dapat diartikan juga sebagai orang yang ceroboh, sembrono dan ugal-ugalan. Pengertian tersebut sebenarnya kurang menggambarkan makna punk secara keseluruhan. Pengertian punk saat ini dari berbagai sudut pandang, antara lain punk sebagai sebuah subculture bagi kaum muda, punk sebagai counter culture bagi budaya mainstream, dan punk sebagai lifestyle. Jadi punk adalah komunitas pemuda yang berperilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan perilaku pemuda pada umumnya, menentang kemapanan kehidupan masyarakat untuk berperilaku bebas yang tidak beraturan menurut kehendaknya sendiri.
a. Punk sebagai subkultur
Kata “Kultur” dalam subkultur menunjuk pada keseluruhan cara hidup yang dapat di mengerti oleh para anggotanya. Kata “Sub” mempunyai arti konotasi yang khusus dan perbedaan dari kebudayaan dominan atau kebudayaan induk dalam masyarakat. Subkultur dapat diartikan sebagai kebudayaan yang menyimpang dari kebudayaan induk. Kajian mengenai subkultur telah dipelopori oleh Centre Of Contemporary Curtural Studies (CCCG) di Universitas Birmingham pada tahunn 1970-an, yang memandang subkultur sebagai budaya perlawanan yang harus diberi tempat.
Menurut Fitrah Hamdani dalam Zaelani Tammaka (2007:164) “Subkultur’’ merupakan gejala budaya dalam masyarakat industri maju yang
commit to user
umumnya terbentuk berdasarkan usia dan kelas. Secara simbolis di ekspresikan dalam bentuk pencipta gaya dan bukan hanya merupakan penentang terhadap hegemoni atau jalan keluar dari suatu ketegangan sosial. Subkultur lebih jauh menjadi bagian dari ruang bagi penganutnya untuk memberikan otonomi dalam suatu tatanan sosial masyarakat industri yang semakin kaku dan kabur.
Dick Hebdige dari Brimingham School British cultural dalam bukunya Asal Usul Dan Ideologi Subkultur Punk menggambarkan punk merupakan subkultur pemuda yang berasal dari kelas pekerja sebagai tanggapan atas kehadiran komunitas kulit hitam yang ada di inggris, hal ini terlepas dari sejarah hidup sosial dan ekonomi inggris, identitas rasial di inggris, politik dan budaya di inggris. Sebagai subkultur,Dick Hebdige (1999:192) menggambarkan punk masa kini telah menghadapi dua bentuk perubahan yaitu :
1) Bentuk komoditas
Dalam segi ini, atribut dan assesoris yang dipakai oleh subkultur punk telah di manfaatkan oleh industri sebagai barang dagangan yang di distribusikan kepada konsumen untuk mendapatkan keuntungan. Atribut dan assesoris punk yang dulu dipakai oleh anak punk yang digunakan sebagai simbol identitas, kini dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko jalanan yang menjual assesoris punk dan dikonsumsi secara umum.
2) Bentuk Ideologis
Dari segi ideologis, punk merupakan ideologi yang mencangkup aspek sosial dan politik. Ideologi mereka dulu sering dikaitkan dengan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak punk. Berbagai perilaku-perilaku anak punk yang menyimpang telag didokomentasikan dalam media massa, sehingga membuat identitas punk dibalik aksesoris yang melekat di tubuhnya dipandang sebagai seorang yang berbahaya dan berandalan. Punk sebagai subkultur telah membentuk bangunan budaya baru yang berbeda dengan budaya mainstream yang dianut oleh kaum muda sejak awal kemunculanya di inggris hingga perkembanganya sampai sekarang. Nilai-nilai yang menjadi substansi punk sebagai subkultur tetap diyakini oleh anggotanya .
commit to user
walaupun punk telah berganti generasi, tetapi sebagai sebuah subkultur, nilai-nilai dan eksistensi punk masih dipertahankan hingga sekarang
b. Punk Sebagai Budaya Tandingan (Counter Culture)
Subkultur merupakan bagian dari kebudayaan dominan yang dianut oleh sebagian tertentu dari masyarakat pendukung kebudayaan dominan atau mainstream. Subkultur tersebut bisa saja sesuai dengan budaya dominan, atau mungkin bertentangan dengan nilai-nilai budaya dominan dan menjadi budaya tadingan. Walaupun bertentangan, budaya tandingan tidak selalu buruk. Menurut Hans Sebald dan Soerjono Soekanto (1990:1992) budaya tandingan timbul apabila terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1) Suatu bagian dari masyarakat atau kelompok sosial tertentu sedang menghadapi masalah yang bukan merupakan persoalan yang dihadapi oleh warga lainya.
2) Menurut Rubington dan Weinher budaya tandingan harus mencerminkan : ...a common understanding and prescribed ways of thinking, feeling, and acting when in the company of ones own deviant’s peers and dealing with acting when in the company of one’s own deviant’s peers and dealing with representatives of the conventional world. Once these deviant’s (counter culture come into being, and flourish, they have an consequenns for their bearer and conventional outsider well.
(Sebuah cara pemahaman dan penentuan yang lazim dari pikiran, perasaan, dan tindakan dalam suatu kelompok orang yang mempunyai teman sebaya yang menyimpang yang berhubungan dengan wakil dunia yang umum. Sekali para penyimpang ini melawan budaya menjadi bentuk kehidupan, dan berjalan dengan baik, mereka mempunyai dampak bagi pembawa pesan mereka dan juga orang di luar mereka).
3) Anggota –anggota kelompok sosial yang menimbulkan budaya tandingan mempunyai taraf keterlibatan tertentu yang dianggap signifikan.
commit to user
4) Adanya suatu lembaga total yang menangani mereka, seperti yang dianggap oleh Erving Goffman ”..a place when people lived and work with a large member of like-situated persons, where they are, cutt-off from the broather society for signifikan periods of time, and where they lead and enclosed, fonnaly administered life”(...suatu tempat tinggal dan bekerja di dalamnya sebuah individu dalam situasi sama, terputus dari masyarakat yang lebih luas untuk jangka waktu tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkungkung dan diatur secara formal).
Pengertian punk sebagai Counter Culture terhadap budaya mainstream dikemmukakan oleh Craig O Hara dalam Philosophy of punk ( Thya Keep Punk Live www.pikiranrakyat.com) Menyebutkan tiga definisi punk yaitu : 1) punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik; 2) punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan; 3) punk merupakan bentuk perlawanan yang hebat karena menciptakan musik, gaya hidup, dan komunitas sendiri.
1) Punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik
Punk memang lebih dikenal dari fashion dan musik (kecuali dari Negara asal punk) seperti yang dikemukakan oleh Rouse dalam Macolm Bannard (1996 : 185) Punk muncul dan sikembangkan sebagai suatu reaksi atas komersialisasi besar-besaran atas musik dan fashion bagi kaum muda. Dalam fashion segala atribut dan assesoris punk telah diadopsi oleh kaum muda sebagai trend. Contohnya fashion punk yang identik dengan jaket kulit dan celana jeans ketat dan lusuh, sepatu boots, memakai rantai dan spike, serta gaya rambut Mohawk ala suku Indian yang dicat dengan warna-warna terang. Punk juga dikenal sebagai musik pemberontakan. Jenis musik komunitas underground ini adalah turunan dari music rock. Melalui musik turunan rock yang bertempo tinggi mereka meluapkan kemarahan terhadap kapitalisme, militerisme, fasisme dan rasisme yang dianggap sebagai tindak penindasan. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan music dan
commit to user
lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
2) Punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan.
Kemuculan punk merupakan suatu bentuk resistensi budaya yang sudah mapan di inggris. Punk berusaha menentang budaya mainstream yang dikuasai borjuis dan melawan segala bentuk kapitalisme.
Apa yang dianggap kotor oleh masyarakat, maka oleh punk diaanggap sebagai sesuatu yang baik dan layak.seperti yang dikatakan Dick Hebdige (1999:212) Obyek-obyek yang kotor mendapat tempat dalam ensambel punk. Seperti peniti yang dikeluarkan dari konteks “utilitas” domestiknya dan menjadi ornament menggerikan di sekitar pipi, kuping, hidung, lidah dan lain-lain. Sebagian punk memakai rantai, anting-anting gembok, sepatu boots dan sepatu militer sebagai perlawanan terhadap kebudayaan kemapanan yang sudah ada.
3) Punk sebagai bentuk pelawanan yang hebat karena menciptakan music, gaya hidup, dan kebudayaan sendiri
Punk telah menciptakan kebudayaan sendiri dengan membentuk bnagunan budaya baru atau subkultur bagi para pemuda. Budaya yang dicitakan oleh punk adalah budaya yang melawan budaya mainstream. Sebagai budaya resistensi, punk cenderung disebut sebagai counter culture terhadap budaya mainstream. Budaya mainstream adalah budaya yang merupakan budaya dominan yang disepakati oleh umum baik dalam hal fashion, musik, gaya hidup maupun perilaku.
Budaya punk hanya berlaku bagi komunitasnya sendiri. Punk tidak menyukai apabila ada orang yang dari luar komunitas dengan sengaja meniru atau mengenakan atribut dan assesoris identitas punk. Apabila atribut dan gaya hidup punk telah disamai atau di imitasi oleh masyarakat umum, maka punk akan berusaha mencari kebudayaan baru yang lain agar terlihat berbeda dengan budaya yang sudah ada.
commit to user c. Punk Sebagai Gaya Hidup ( Life Style) 1) Gaya Hidup Sebagai Proyek Refleksif
Selain pengertian yang telah disebutkan di atas, punk juga dapat dikatakan sebagai suatu gaya hidup atau lifestyle di kalangan remaja. David Chaney (1996:13-14) menyebutkan bahwa gaya hidup merupakan proyek refleksif dan menggunakan fasilitas konsumen secara kreatif. Dia mengatakan :
Perkembangan gaya hidup dan perubahan struktural modernitas saling terhubung melalui revlektivitas institusional: karena keterbukaan (openness) kehidupan sosial masa kini, pluralitas, konteks tindakan dan aneka ragam otoritas, pilihan gaya hidup menjdi sangat penting dalam penyusunan identitas diri dan aktivitas keseharian.
Hal ini sependapat dengan Anthony Giddens (2002:61). Bahwa di dalam post tradisional (modernitas), Giddens melihat diri (the self) menjadi suatu proyek refleksif. Obyek, sikap dan gaya tertentu secara khusus menjadi signifikan sebagai ikon gaya hidup Berpedoman pada filsafat Rene Descrates (1596-1650) yang terkenal dengan ungkapanya “Cogito, ergo sum” : Aku berfikir maka aku ada” Ungkapan ini di ditransformasikan oleh David Chaney menjadi “kamu bergaya maka kamu ada”. Menurut Chaney, industri gaya hidup untuk sebagian besar adalah industri penampilan. Oleh karena itu penampakan luar menjadi salah satu situs yang penting bagi gaya hidup. “Kamu bergaya maka kamu ada” mungkin adalah ungkapan yang cocok untuk melukiskan kegandrungan manusia modern akan gaya. David Chaney (1996:16) mengatakan :
Disinilah gaya mulai menjadi modus keberadaan manusia modern : kamu bergaya maka kamu ada! Kalau kamu tidak bergaya, maka bersiap-siaplah dianggap tidak ada : diremehkan, diacuhkan, diabaikan atau mungkin di lecehkan. Itulah sebabnya orang sekarang perlu bersolek atau berias diri, jadilah kita seperti masyarakat pesolek (dandy society).
Dengan demikian, pakaian dan gaya rambut sudah menjadi kebutuhan akan gaya hidup seseorang yang terus akan terus berusaha menampilkan citra diri lewat penampilan. Tubuh dan penampilan sehari-hari telah menjadi proyek penyemaian gaya hidup.
commit to user 2) Punk sebagai Gaya Hidup Resistensi
Audifax dalam Alfahri addin (2006:122) Mengkategorikan kelompok punk sebagai salah satu gaya hidup alternative, punk bertujuan untuk membedakan diri, menunjukan perilaku yang berlandaskan perlawanan terhadap budaya mainstream. Contoh perlawanan yang dilakukan oleh punk terhadap budaya mainstream antara lain punk menentang gaya potongan rambut yang biasa disebut Mohawk. Mohawk adalah potongan rambut yang dibuat seperti bulu tengkuk kuda yang dibuat berdiri. Perlawanan punk juga terlihat dari pakaian yang di kenakan. Punk mengenakan pakaian yang mencolok dengan berbagai assesoris pin dan paku yang menempel, sehingga tampak berbeda dengan gaya pakaian remaja pada umumnya.
Gaya hidup resistensi punk hanya berlaku pada kelompok punk itu sendiri. Jenskins dalam David Chaney (1996:81) membedakan antara gaya hidup dan subkultur dalam hal mode pakaian sebagai suatu hal yang sulit, sebab konteks kultur menunjukkan suatu hubungan tetap dan sering kali menyimpang dari angan-angan budaya dominan. Sedangkan gaya hidup tidak mengharuskan adanya nilai-nilai resistensi. Gaya hidup bisa saja perilaku yang selalu mengikuti budaya mainstream oleh Audifax disebut sebagai gaya hidup differensiasi. Contohnya gaya hidup para artis yang selalu setter Bagi para penggemarnya, jadi daripada menciptakan gaya hidup sendiri seperti yang dilakukan oleh punk, maka mereka memilih untuk mengikuti arus mainstream, gaya hidup semacam ini bertolak belakang dengan gaya hidup resistensi punk.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak punk dapat dikenali dari penampilan mereka yang unik, mulai dari pakaian dan rambut merupakan gaya hidup resistensi yang melawan arus budaya mainstream. Dari satu sisi penampilan tersebut dapat menimbulkan rasa bangga bagi pemakainya, tetapi bagi orang lain akan memandangnya aneh dan menyeramkan
commit to user 5. Sejarah Punk
Suatu periode sejarah yang terjadi disuatu tempat kemudian berkembang dan berganti di tempat lain tentu tidak hanya merubah waktu dan ruang sejarah, tetapi mungkin makna dan ciri yang menunjukkan sejarah akan berbeda. Sejarah awal kemunculan punk di Inggris yang terjadi atas kondisi sosial ekonomi yang terjadi pada saat itu, akan berbeda maknanya dengan sejarah munculnya punk di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa punk saat masuk Indonesia, maknanya sudah berbeda dengan punk yang ada di Inggris sebagai negara asal pergerakan punk.
a. Punk di Inggris