HASIL PENELITIAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian
B. Deskripsi Permasalahan Penelitian
1. Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan Anak Punk
Setiap masyarakat mempunyai hak untuk menilai sesuatu yang ada di sekitar mereka, tak terkecuali dengan keberadaan anak punk di Bekonang saat ini juga mendapat sorotan dari masyarakat. Masyarakat meempunyai persepsi berdasarkan cara pandang masing-masing. Persepsi tersebut dapat berupa pandangan yang positif maupun negatif terhadap eksistensi punk di Bekonang. Pada akhirnya persepsi masyarakat terhadap punk dapat menimbulkan reaksi atas keberadaan komunitas punk di lingkungan mereka.
commit to user
Berikut akan disajikan berbagai persepsi masyarakat berdasarkan cara pandang masing-masing terhadap komunitas punk di bekonang khususnya pada komunitas Street Punk Bekonang Riot :
a. Persepsi Masyarakat Umum
Yang dimaksud masyarakat umum disini adalah masyarakat yang berada di luar Bekonang, baik yang sudah pernah mendengar dan melihat langsung fenomena keberadaan komunitas Street Punk Bekonang Riot ataupun hanya mengetahui lewat media dan cerita yang beredar tentang komunitas tersebut. HDK sebagai seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di Solo mengatakan : “pendapat saya terhadap keberadaan komunitas punk ya itu merupakan fenomena yang biasa terjadi pada masyarakat modern seperti sekarang ini, dampak globalisasi yang tidak tertahankan, mau tidak mau anak-anak muda akan terpengaruh pada kebudayaan orang barat, seperti kebudayaan punk. Di dunia barat sendiri kebebasan itu kebebasan berkreasi, misalnya dalam hal musik, fashion, budaya dan pengetahuan. Mereka sadar kalau mereka itu hidup di masyarakat yang berada dalam tatanan aturan yang berlaku, kalau boleh saya bilang, mereka tidak bisa hidup berdampingan dengan masyarakat dengan ideologi mereka yang seperti itu, dan selamanya akan menjadi hal yang tabu, perusak ketertiban dan musuh masyarakat”. (W/HDK/02/05/12). Dari pendapat HDK tersebut dapat disimpulkan bahwa ia meninterprestasikan punk secara negatif, ia tidak setuju dengan pengartian kebebasan yang dianut oleh komunitas punk, menurutnya kebebasan yang dibenarkan adalah kebebasan berkreasi dalam artian seni, seperti fashion, musik sedangkan apa yang dilakukan komunitas punk berbeda, menurut pria 23 tahun ini kelompok punk mengartikan kebebasan yang se bebas-bebasnya, bebas melakukan apa saja, menyalahi nilaidan bebas berperilaku yang tidak sesuai dengan norma di masyarakat.
Hal yang berbeda diungkapkan oleh FRD, mahasiswa di salah satu universitas swasta di surakarta mengatakan bahwa : “Kebanyakan mereka itu anak muda atau masih dalam usia sekolah ya? Saya tahu dan pernah melihat komunitas seperti itu di kampung belakang kampus saya, kalau menurut saya sih hal tersebut
commit to user
hanya trend sesaat saja, saya tahu apa itu punk, saya juga suka musik-musik punk seperti SID, Rancid, NOFX dan sebagainya. Anggota punk merupakan remaja yang hanya ikut-ikutan saja, jadi ada fase dimana seseorang akan merasa jenuh apabila mengalami kejadian dan suatu pola yang sama setiap harinya, sebagai mahasiswa jurusan Psikologi, saya menilai bahwa hal ini tidak akan berlangsung lama apalagi yang tergabung dalam komunitas ini adalah para remaja yang secara psikis masih labil dan masih dapat berubah setiap saat dan apa yang mereka anggap sebagai ideologi itu lama-kelamaan akan melunak karena mereka semakin dewasa akan semakin matang cara pikirnya dan saya optimis mereka satu per satu akan meninggalkanya”. (W/FRD/03/05/12). Dari pendapat FRD diatas dapat disimpulkan bahwa ia menilai komunitas punk adalah komunitas yang bersifat “semu” dan keberadaanya hanya dipengaruhi trend media yang bersifat kontemporer, seperti fashion, musik, perilaku dan gaya hidup. Jadi keberadaan komunitas ini menurutnya tidak akan membahayakan dan memberikan pengaruh yang besar bagi lingkungan sekitarnya.
Sedangkan TN sebagai seorang pemilik studio musik dan studio recording di Sukoharjo yang juga mempunyai teman yang menyukai musik punk juga berusaha memberikan persepsinya terhadap komunitas SPBR sebagai berikut: “anak punk yang ada di bekonang saya juga pernah lihat yang sering nongkrong di depan pasar bekonang itu ya. Dalam pandangan saya sebenarnya anak punk itu kreatif, akan tetapi kekreatifan mereka cenderung diaplikasikan ke sesuatu yang negatif. Dalam aktualisasi diri misalnya rambutnya dibuat berdiri dan dicat warna-warni, tidak seperti orang pada umumnya, terus dalam hal lagu mereka cenderung menyukai lagu-lagu yang berirama keras. Walaupun saya sebagai insan musik juga memahami isi lirik dalam lagu-lagu mereka sebenarnya sebagian mengandung nilai-nilai moral dan menyerukan perdamaian dan kesetaraan, ya paling tidak saya dapat menemukan sisi positif dari ideologi punk dari salah satu band punk rock dari Bali yang sangat saya sukai yaitu Superman Is Dead, menurut saya mereka layak dijadikan contoh bagi band-band punk lain yang notabenenya dari band-band punk itulah yang mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk moralitas komunitas punk. Kalau saya lihat dari fashionnya
commit to user
komunitas punk di Bekonang itu termasuk street punk, dan pengaruh band-band street punk yang saya ketahui yaitu lebih cenderung sisi negatif daripada sisi positifnya. Seperti pada komunitas street punk pada umumnya mereka bertindak kurang memperhatikan norma yang ada di masyarakat, tanpa mempedulikanya mereka bertindak terlalu cuek, terserah diri mereka sendiri, mereka tidak peduli apa kata orang lain”(W/TN/05/05/12). Dari pendapat TN tersebut dapat dikatakan bahwa ia melihat sisi positif dari keberadaan komunitas punk, sisi positif tersebut ditemuinya dalam bidang musik, karena bagi anak punk, lirik-lirik yang ada di dalam lagu-lagu punk ada yang mengkampanyekan perdamainan, kesetaraan, kerukunan dalam perbedaan. Akan tetapi menurutnya ada juga sisi negatifnya seperti gaya hidup yang tidak sesuai dengan norma di dalam masyarakat.
Berdasarkan persepsi dari masyarakat umum di atas maka dapat ditarik benang merah bahwa masyarakat memandang bahwa remaja yang menjadi anak punk telah menganut gaya hidup yang tidak sesuai dengan lingkungan sekitar sebab kebebasan yang dianut oleh anak punk telah disalah artikan lewat perilaku mereka. Seperti berperilaku acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar dengan mengabaikan norma yang berlaku, akan terapi mereka juga kreatif dalam menciptakan musik yang berirama keras.
b. Persepsi Masyarakat Bekonang
Masyarakat Bekonang yang dimaksud adalah masyarakat yang berdomisili di dusun Sentul, kelurahan Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo. Peneliti merasa beruntung karena telah mengenal sebagian dari informan karena memang peneliti juga berdomisili di dekat lokasi penelitian. Salah satunya adalah bapak GN salah satu tokoh masyarakat yang berprofesi sebagai kepala sekolah salah satu SMP swasta di Karanganyar, beliau memberikan pandanganya terhadap komunitas punk sebagai berikut : “ saya merasa prihatin terhadap apa yang terjadi pada komunitas remaja yang menyebut dirinya sebagai punk dan saya menganggap ini sebagai permasalahan serius bagi remaja yang seharusnya pada usia seperti mereka berlomba-lomba dalam meraih prestasi, pemerintah sebaiknya bersikap setegas-tegasnya kepada mereka” (W/GN/04/07/12). sedangkan GH sebagai ketua perkumpulan muda-mudi di dusun sentul, ia berusaha memberikan persepsinya
commit to user
terhadap komunitas punk SPBR sebagai berikut : ”saya dan anda (peneliti) sebagai orang intelek pasti berpikir bahwa segala perilaku yang ditunjukkan komunitas punk di sini tentu menyalahi aturan-aturan yang ada dalam masyarakat, saya sendiri juga tidak habis pikir tentang gaya hidup yang mereka anut, apa yang mereka cari dan tujuan mereka itu sebenarnya apa? walaupun saya hanya sedikit tahu tentang apa itu punk, tetapi yang jelas saya sama sekali tidak membenarkan tentang eksistensi mereka dikampung ini, karena dilihat dari segi apapun tidak ada nilai positifnya kelompok ini sama saja seperti preman, perilaku mereka hanya membuat onar dan meresahkan.
Saya sebagai ketua perkumpulan muda-mudi dikampung ini merasa kecewa kepada sebagian pemuda yang ada disini yang terpengaruh oleh kelompok punk ini, salah satunya AP yang merupakan teman dari adik saya ADR, awalnya dia termasuk pemuda yang aktif dalam kegiatan muda-mudi disini, rajin sekali nyinom (membantu kalau ada warga yang punya hajat) tapi beberapa bulan ini dia sudah tidak lagi terlihat dan lebih sering saya menemui dia berkumpul bersama komunitas punk di gang mati samping rumahnya mbak P (baliau adalah pemilik rumah di sebelah kanan gang buntu dan rumah kosong yang selama ini dijadikan markas komunitas punk SPBR) sambil main gaplek (permainan kartu) dan menenggak “ciu”(W/GH/07/05/12).
Senada dengan GN dan GH, informan ini adalah seorang ustad yang cukup aktif dalam kegiatan keagamaan di Bekonang, kepada peneliti ABD berusaha memberikan persepsinya terhadap keberadaan komunitas SPBR sebagai berikut : “Iya dek saya tau siapa dan bagaimana perilaku mereka (Komunitas Punk) di kampung ini, memang saat ini bangsa barat mencoba melumpuhkan bangsa ini dengan cara merusak generasi muda. Contohnya dengan penyebaran budaya punk yang sama sekali tidak sesuai dengan norma manapun termasuk norma agama. Akhlak mereka sudah jauh dari islam dan dekat sekali dengan kemungkaran dan perbuatan keji, mereka mempertuhanan hawa nafsu. Adapun keinginan hawa nafsunya selalu ditaati. Maka tidak mengherankan kalau perbuatan munkar dan keji dapat tumbuh subur pada generasi muda tersebut dan ini adalah salah satu dari banyak sekali keberhasilan bangsa barat dalam merusak generasi muda kita,
commit to user
saya rasa itu sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana persepsi saya terhadap keberadaan komunitas punk. (W/ABD/08/05/12). Dari berbagai persepsi diatas dapat dikatakan bahwa sebagian masyarakat tidak setuju dengan gaya hidup yang dianut oleh komunitas punk dan mereka tidak menemukan sisi positif dari keberadaan punk di kampungnya. Selain karena berperilaku yang tidak sesuai dengan norma, komunitas ini juga sering kali mempengaruhi pemuda lain untuk ikut berkecimpung di dalamnya sehingga dia mengatakan hal tersebut sebagai tindakan yang meresahkan.
Informan berikutnya adalah AM yang merupakan pemilik Attara studio yang terletak tidak jauh dari tempat penelitian, studio ini biasa dijadikan tempat latihan oleh band “Uthug Ublug” yaitu band yang berasal dari komunitas SPBR. Pria paruh baya tersebut berkata : Saya lihat performa mereka saat latihan disini cukup bagus apalagi permainan drumnya dengan irama menghentak, jujur saya sangat menyukai lagu-lagu mereka, saya tahu mereka berasal dari komunitas Street Punk Bekonang Riot kan? Ya menurut saya mereka itulah yang bisa disebut musisi sejati, mereka menceritakan masalah-masalah sosial dan politik yang dikemas apa adanya, dengan emosi yang luar biasa, mereka benar-benar menjiwai musik mereka, nah disitulah saya menemukan nilai seni yang tinggi, bahwa musisi adalah independen, berdiri sendiri, idealis dengan aliran yang diusungnya dan tidak semata-mata untuk mencari untung atau materialisme. Mereka kalau latihan disini tidak hanya 4 atau 5 orang saya tetapi bisa sampai belasan orang, sebagian mereka hanya menonton, ber phogo dan ikut bernyanyi”.(W/AM/08/05/12). Dari pendapat AM di atas dapat dapat dikatakan bahwa ia melihat sisi positif komunitas SPBR yaitu dalam hal seni, mereka menyampaikan buah pikiran tentang isu-isu sosial-politik lewat karya-karya mereka.
Informan berikutnya adalah pemilik warung kelontong yang berada di dekat markas dari komunitas punk SPBR. Warung ini hanya berjarak 20 meter dari lokasi penelitian, warung tersebut sering dikunjungi oleh anggota komunitas SPBR, mereka makan, minum, membeli rokok dan bahkan membeli minuman “ciu”, Karena warung ini memang menyediakan minuman khas Bekonang
commit to user
tersebut. Peneliti mengunjungi warung tersebut dan bertemu langsungdengan pemilik warung, sambil menyantap makanan dan minuman yang tersedia diwarung tersebut peneliti berbincang-bincang santai dengan ibu SR sebagai pemilik warung memberikan persepsinya terhadap komunitas SPBR sebagai berikut : “Ya mereka sering kesini mas, makan-minum dan beli rokok disini tapi mereka kebanyakan bon, mereka mengambil rokok setiap pagi dan bayarnya di siang hari, mereka ngamen dulu nanti habis ngamen biasanya mereka makan siang disini dan bayar bon’nya. Kalau malam mereka biasanya membeli minuman disini juga. Ya menurut saya sih biasa saja mas selama mereka tidak mengganggu ketertiban kampung, saya dan warga kampung sini tidak merasa aneh lagi dengan penampilan mereka, mungkin itu sudah menjadi jalan hidupnya, saya tidak paham tentang apa itu punk, menurut saya punk itu sama saja dengan preman. Ya asalkan mereka dapat hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar bagi saya tidak masalah”.(W/SR/10/05/12).
Dari pendapat SR diatas dapat dikatakan bahwa sebagai warga kampung yang tinggal di dekat markas komunitas SPBR ia sudah terbiasa dan menerima keberadaan komunitas punk SPBR selama mereka dapat hidup berdampingan dengan masyarakat. Terkait dengan kebiasaan mabuk-mabukan di malam hari yang dilakukan anggota komunitas SPBR memang sudah bukan menjadi hal yang aneh di masyarakat Bekonang. Jadi peneliti tidak mendalami hal yang “lumrah” bagi masyarakat Bekonang tersebut.
c. Persepsi Anak Punk Terhadap Masyarakat
Anak punk yang dimaksud adalah punker yang tergabung dengan komunitas SPBR.Baik yang aktif dalam komunitas, hidup di jalanan dan tinggal di markas komunitas SPBR, punk yang berasal dari luar daerah, maupun punk elite yang masih tergabung dalam komunitas tersebut. TGR adalah salah satu punker yang berasal dari luar daerah, ia berasal dari Sukoharjo dan sementara tinggal di markas komunitas SPBR untuk mempererat solidaritas sesama punker dari scene yang berbeda. Ia memberikan persepsinya terhadap masyarakat sebagai berikut : “kalau menurut saya pribadi mas, kalau boleh saya bilang masyarakat itu
commit to user
buta akan indahnya perbedaan, kita berusaha untuk tidak mengganggu mereka akan tetapi mereka tetap saja menganggap kami seperti sampah masyarakat, bukan kah kita lebih baik hidup untuk saling menjaga walaupun kita berbeda-beda? Kalau disini agak mendingan mas, karena masyarakat disini sebagian besar acuh dan sebagian ada yang mau menerima, kalau di daerah saya kerap kali di kejar-kejar polisi dan laskar jihad (kelompok keagamaan).” (W/TGR/15/05/12). Dari hasil wawancara dengan TGR tersebut dapat dikatakan bahwa ia merasa dikucilkan oleh masyarakat dan merasa tidak aman dengan aparat keamanan dan ia merasakan suasana berbeda ketika tinggal di markas SPBR karena menurutnya tekanan yang dilancarkan masyarakat terhadap komunitas punk lebih rendah dibanding daerah tempat tinggalnya.
Berbeda dengan informan sebelumnya, RZ yang merupakan punker yang hidup dijalanan dan tinggal di markas SPBR memberikan persepsinya sebagai berikut : “wah tak kiro warga ning kene apik-apik wae mas, yo walaupun sok-sok ngelekne tapi isih sewajare, emang sih ndekmben pas jik nongkrong ning mburi pasar kae dioyak-oyak karo satpol pp, goro-gorone cah-cah ki ndekmben yen mendem podo nongkrong ning pinggir dalan karo nyetel musik banter banget tur yen ora nduwe duit nggo tuku ciu sok-sok cah-cah njaluki duit keamanan karo bakul-bakul ning njero pasar dadi musuhe malah dadi dobel mas, satpol pp karo gali-gali pasar. tapi semenjak tinggal ning markas sing anyar awake dewe luwih bebas tur yo gali-gali ndesone wonge luwih penak iso nompo awake dewe gek iso digojeki dijak mendem bareng. Yen ning markas sing anyar ora ono sing ngganggu mas, arep mendem tepar ngasi subuh ora enek sing wani ganggu mas, paling pak RT gur ngandani tok kon ojo bengok-bengok yen tengah wengi, Liyane paling-paling gur ngrasani”.(W/RZ/16/05/12). (Saya kira warga di sini baik-baik saja mas, walau pun kadang-kadang kita dinasehati oleh warga tapi mereka melakukanya secara wajar. Memang dulu ketika waktu markas kita di belakang pasar sering di kejar-kejar Satpol PP, karena anak-anak dulu kalau mabuk dipinggir jalan sambil mendengarkan musik dengan volume yang keras sekali. Trus kalau tidak punya uang buat beli ‘ciu’ kadang anak-anak minta uang sebagai jatah keamanan terhadap para pedagang di dalam pasar. Jadi pada saat itu kita
commit to user
mempunyai musuh dobel, yaitu Satpol PP dan juga preman pasar. Akan tetapi semenjak kita tinggal di markas yang baru kita merasa lebih bebas dan preman-preman kampung yang ada disitu dapat menrima kehadiran kita, mereka dapat diajak bercanda dan mabuk-mabukan bersama. Kalau di markas yang baru tidak ada yang ganggu mas, mau mabuk-mabukan sampai subuh tidak ada yang peduli, paling hanya pak RT yang kadang memperingatkan agar tidak teriak-teriak kalau tengah malam. Selebihnya paling hanya membicarakan kita di belakang). MD yang merupakan salah satu punker yang berasal dari dusun Sentul memberikan persepsinya mengenai masyarakat sebagai berikut : “Aku dewe dadi punker ngeneki awale yo disengeni mbokku mas tapi aku nekat, lha pie mas jeneng uwong wis ngefans karo Tendangan Badut. Lagu-lagune ki keren mas tur fashione sing dienggo personile karo band-band liyane ki rebel banget ngunu lhu mas. Tapi suwe-suwe aku yo ditokne wae karo keluargaku karo tonggo-tonggoku yoan soale wis podo bosen ngelekne aku, aku yo orang ngerti nganti kapan sing genah aku wis bacut nyaman ning kene karo dulur-dulur punker liyane, yo gur ning kene mas aku entuk kebebasan”. (W/MD/16/05/12). ( Aku sendiri menjadi punker seperti sekarang ini sebenarnya dimarahi ibu tapi saya nekat, lha bagaimana lagi mas namanya saja sudah nge-fans dengan Tendangan Badut (Band punk asal solo). Lagu-lagunya itu keren banget mas selain itu pakaian yang dikenakan para personilnya dan band-band lainya benar-benar pemberontakan. Tapi keluarga dan tetangga saya lama-kelamaan membiarkan saya menjadi punker, mungkin mereka merasa sudah bosan menasehati saya. Saya tidak tahu sampai kapan saya akan seperti ini tapi saya sudah terlanjur nyaman disini bersama anak-anak punk lainya dan disini saya dapat merasakan kebebasan).
d. Persepsi pemerintah setempat terhadap keberadaan anak punk
Pemerintah setempat yang dimaksud adalah lembaga pemerintahan yang ada di kelurahan Bekonang, kecamatan Mojolaban, kabupaten Sukoharjo. JT Selaku kepala desa di kelurahan Bekonang memberikan persepsinya mengenai keberadaan anak punk di bekonang:
commit to user
“Saya tidak bisa membenarkan atau pun menyalahkan anak punk, karena saya tidak tahu problema anak punk. Menurut saya yang salah dari anak punk itu hanya penampilan mereka yang urak-urakan dan dalam Islam tidak dibenarkan berpakaian seperti itu. Islam mengajarkan berpakaian bersih dan rapi. Tidak semua anak punk itu jahat, bahkan yang bukan anak punk pun banyak yang jahat. Permasalahan pertama yang perlu kita perhatikan dalam permasalah anak punk itu adalah pola didikan orang tua, sudah benar belum? Arah kita mendidik anak itu sudah benar tidak? Pola didikannya mengikuti zaman. Di era globlalisasi ini, bagaimana cara kita memberikan didikan untuk anak-anak yang diharapkan dalam islam. Pendidikan dari rumah itu pondasi paling kuat. Karena jika kita mengelola pendidikan yang baik terhadap anak di rumah, maka di luarrumah pun anak akan menjadi baik. Jangan selalu kita menyalahkan anak. Karena yang men-nasranikandanmen-yahudikananakadalah orang tua. Saya selaku orang yang paling bertanggung jawab atas permasalahan yang terjadi di desa ini sebenarnya merasa kecewa akan permasalahan yang tidak kunjung selesai ini, banyak laporan dari warga tentang ketidaknyamanan mereka dengan keberadaan anak punk. Mengenai permasalahan seperti ini kita memang bersinergi dengan polsek mojolaban untuk segera mengambil tindakan yang lebih tegas”.(W/JT/17/05/12). Sedangkan bapak PRK selaku ketua RT di dusun Sentul mengaku sudah mencoba memberikan tindakan-tindakan yang bersifat normatif kepada anak-anak punk, beliau memberikan persepsinya sebagai berikut : “ Saya sudah tidak kaget lagi dengan keberadaan mereka karena setiap hari saya menemui mereka lewat di depan rumah saya sambil bercanda dengan nada yang keras sehingga membuat suasana menjadi gaduh, menurut saya, gaya berpakaian dan perilaku mereka yang seperti orang sakit jiwa itu tidaklah enak dilihat apalagi terkadang mengganggu waktu istirahat warga di tengah malam saat mereka mabuk dan teriak-teriak. Saya sudah coba mengingatkan mereka mas, dengan memberikan teguran dan nasehat kepada mereka, akan tetapi dalam beberapa hari setelah saya memberikan teguran, mereka melakukanya lagi, saya merasa sangat jengkel dengan keberadaan mereka.” (W/PRK/18/05/12). Dari apa yang diungkapkan informan diatas dapat dipahami bahwa pemerintah menyoroti pola pendidikan keluarga punker,
commit to user
menurutnya penanaman norma agama sejak kecil merupakan cara paling efektif untuk mencegah terjadinya penyimpangan sosial yang dilakukan oleh para remaja anggota komunitas punk SPBR. Selama ini pemerintah dalam tingkat RT sudah