• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

B. Deskripsi Permasalahan Penelitian

2. Persepsi Masyarakat terhadap keberadaan anak punk

Persepsi masyarakat terhadap keberadaan komunitas punk dapat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman sosial dan kebudayaan yang ada di sekitar. Dari data di lapangan masyarakat memandang keberadaan punk sebagai sebuah kelompok remaja yang menganut gaya hidu yang tidak sesuai dengan lingkungan sekitar sebab kebebasan yang dianut anak punk telah disalah artikan lewat perilaku yang ditunjukkan di scene seperti nongkrong sambil mabuk-mabukan, punk berperilaku acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar dengan mengabaikan norma yang berlaku.

Persepsi masyarakat tersebut dapat dimaklumi karena selama ini masyarakat hanya melihat komunitas punk dari kulit luarnya saja tanpa ada keinginan untuk mencoba memahami bagaimana kehidupan anak punk yang sebenarnya. Sedangkan di sisi lain, anak punk juga tidak dapat dipungkiri berperilaku terlalu acuh terhadap lingkungan sekitar dengan mengabaikan norma

commit to user

yang berlaku. Remaja ingin merealisir kehidupanya secara bebas, kebebasan itulah yang sering bertentangan dengan norma-norma masyarakat. Pergaulan bebas, berpakaian bebas, mode pakaian yang serba aneh, rambut dan sebagainya. Intinya remaja menunjukkan tingkah laku yang serba bertentangan dan tidak selaras dengan norma dan kebiasaan masyarakat. Norma yang ada di masyarakat pada umumnya memiliki sanksi yang kurang mengikat seperti cemooh dn celaan karena norma juga tidak tertulis. Tentu saja sanksi seperti ini kekuatanya terlalu ringan, sehingga siapa saja bisa melanggarnya. Bisa dikatakan secara umum norma masyarakat bersifat lebih permisif untuk dilanggar.

Memudar atau melemahnya norma dan nilai dalam masyarakat merupakan problema masyarakat secara umum, khususnya adanya penyimpangan terhadap norma-norma masyarakat. Menurut Bambang Mulyono (1993:67) masyarakat merupakan ‘sitz im leben’ (situasi vital atau konteks hidup) bagi prilaku kelompok remaja. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan anak punk merupakan kumpulan dari berbagai pengalaman yang ada disekitar individu, sehingga peran lingkungan dalam membentuk persepsi sangatlah besar. Lingkungan skitar tempat anak punk berkumpul mempunyai corak budaya tradisional akan mempengaruhi pola pikir masyarakat terhadap keberadaan punk di lingkungannya.

Masyarakat pada umumnya telah memberi label atau cap negatif terhadap komunitas punk. Stigma-stigma negatif yang diciptakan oleh masyarakat tersebutlah yang slama ini mendarah daging di setiap pemikiran masyarakat sehingga anak punk juga sulit untuk menunjukkan sisi positif dari komunitas mereka karena merubah pandangan negatif masyarakat sangat sulit dilakukan. 3. Hubungan antara Perilaku Anak Punk Kaitanya Dengan Norma Yang

Berlaku di Masyarakat pada Umumnya

Perilaku anak punk dalam komunitas punk SPBR memang mendapat sorotan luar biasa dari masyarakat, sebab perlaku mereka dianggap sebagai penyimpangan sosial yang telah mengganggu ketertiban dan ketenangan

commit to user

masyarakat walaupun tidak semua lapisan masyarakat merasa terganggu secara langsung dengan keberadaan komunitas SPBR.

Masyarakat luar menganggap perilaku anak punk dalam komunitas SPBR sebagai penyimpangan sosial yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Akan tetapi penyimpangan tersebut tidak berlaku bagi anggota SPBR sebab mereka memiliki norma sendiri yang hanya berlaku bagi komunitasnya. Sebagai sebuah subkultur SPBR memiliki norma yang cenderung menyimpang dari kultur dominan. Menurut teori dai Iman Budi Santoso (2001:69) ada tiga motivasi dasar yang melatar belakangi perilaku menyimpang suatu komunitas. Yaitu: a) Motivasi pemberontakan: sebagai manivestasi anak punk untuk melepaskan diri dari budaya dominan yang dianggap membelenggu dan tidak sesuai dengan aspirsasi remaja; b) Justifikasi (pembenaran) karena perilaku di komunitas punk sulit diterima oleh masyarakat luar; c) Eksistensi dimana kebebasan yang diperoleh di komunitas SPBR merupakan jembatan agar keberadaan mereka diakui oleh anggota lain.

Anggota dari komunitas SPBR akan berperilaku sesuai dengan norma-norma subkulturnya. Sebagai sebuah subkultur dapat dianalisis dengan teori dari Dick Hebdige, subkultur yang menyimpang memisahkan diri dari aturan-aturan, nilai, bahasa, dan istilah-istilah yang berlaku secara umum. Budaya punk bertentangan dengan budaya dominan yang telah disepakati oleh masyarakat umum. Hal-hal yang ditabukan oleh masyarakat menjadi hal yang wajar dan tampak alami dalam subkultur punk. Contoh perilaku yang dianggap menyimpang dan di tabukan oleh masyarakat adalah perilaku mabuk-mabukan. Perilaku mabuk-mabukan yang dipandang menyimpang oleh sebagian besar masyarakat dikarenakan perilaku tersebut tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Akibat dari perilaku mabuk-mabukan tersebut tidak jarang mereka berurusan dengan pihak kepolisian yang sedang melakukan operasi penertiban.

Penyimpangan sosial yang terjadi dalam komunitas SPBR belum bisa dikatakan sebagai tindakan yang melanggar hukum sebab mereka tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum atau tindakan kriminalitas. SLH sebagai seorang yang mengetahui tentang norma hukum mengungapkan bahwa

commit to user

perilaku komunitas SPBR cenderung mengerah ke penyimpangan secara sosial dan bukanlah suatu penyimpangan terhadap norma hukum meskipun masih dapat diperdebatkan. Keberadaan komunitas SPBR yang bertempat di tengah pemukiman warga berdampak pada ketertiban dan kenyamanan warga. Keberadaan komunitas SPBR yang terlihat sering berkumpul di dekat perempatan lalu lintas dapat mengganggu masyarakat sekitar serta membuat lingkungan menjadi tidak bersih. Operasi penertiban yang dilakukan terhadap anak punk merupakan salah satu cara untuk menangani keberadaan komunitas SPBR agar anggotanya dapat dibina dan tidak kembali lagi ke jalanan.

Bahkan karena minuman keras pula anak punk terkadang harus berurusan dengan pihak kepolisian karena terjaring pada saat dilakukan operasi penertiban. Penahanan anak punk yang terjaring dalam operasi penertiban sebenarnya terkesan tidak efektif, sebab selama ini anak punk hanya ditangani secara parsial dengan cara mengambil mereka untuk kemudian di data di kepolisian, diberi penjelasan dan pembinaan, sesudah itu dilepas lagi. Pada saat diambil dan diberi indoktrinasi sama dengan melakukan tindakan represif terhadap mereka. Padahal penganganan semacam itu tidak berupaya untukmencari akar permasalahanya.

commit to user

122 BAB V