TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Reformasi Administrasi Perpajakan
Secara definitif dalam Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
(KUP) No 16 tahun 2000 menyebutkan bahwa pajak adalah iuran
masyarakat kepada Negara berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan),
tanpa kontraprestasi secara langsung dan digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Definisi ini berubah
dalam Undang-Undang KUP No 28 tahun 2007 yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
1. Pengertian Reformasi Perpajakan
Menurut Erly Suandi (2005:101-102), reformasi pajak dilakukan
karena Pemerintah menganggap bahwa peraturan perpajakan yang
berlaku saat itu (tahun 1983) adalah peninggalan kolonial Belanda yang
sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, tidak sesuai
dengan struktur dan organisasi pemerintahan tidak berdasarkan
Pancasila, dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan ekonomi, yang
selama ini berlaku di Indonesia.
Tujuan utama pembaruan perpajakan nasional adalah untuk lebih
menegakkan kemandirian kita dalam membiayai pembangunan nasional
dengan jalan lebih mengerahkan lagi segenap kemampuan kita sendiri.
Pemerintah menyadari bahwa untuk membiayai pelaksanaan
pembangunan (mulai Repelita IV) kita tidak dapat dan tidak mungkin
sekadar mengandalkan kepada peningkatan penerimaan negara dari
minyak dan gas alam maupun utang luar negeri. Oleh karena itu,
peningkatan penerimaan Negara melalui perpajakan dari sumber-sumber
diluar minyak bumi dan gas alam merupakan keharusan yang mutlak
bagi berhasilnya pelaksanaan Repelita IV. Dengan reformasi pajak
nasional sistem pajak yang berlaku saat itu akan disederhanakan,
penyederhanaan tersebut mencakup jenis pajak, tarif pajak, dan cara
pembayaran pajak. Setelah reformasi ini, system pembayaran pajak akan
makin adil dan wajar, sedang jumlah wajib pajak akan makin luas,
selanjutnya reformasi pajak juga akan dilakukan terhadap aparat pajak
(fiskus) yang baik yang menyangkut prosedur, tata kerja disiplin maupun
mental.
Dengan reformasi pajak diharapkan beban pajak akan makin adil dan
wajar, sehingga satu pihak mendorong wajib pajak melaksanakan
kesadaran kewajiban membayar pajak dan di lain pihak menutup
peluang-peluang yang selama ini masih terbuka bagi wajib pajak untuk
menghindari wajib pajak. Dengan reformasi pajak diharapkan sistem
pajak yang sederhana dan mudah dimengerti oleh setiap wajib pajak.
Untuk itu sistem pajak yang didasarkan pada prinsip keadilan dan
kewajaran, dan sistem pajak yang memberikan kepastian bagi setiap
wajib pajak.
Reformasi perpajakan di Indonesia pertama diluncurkan tahun 1983
dengan digantikannya sistem official assessment menjadi self
assessment, dimana wajib pajak diberi kepercayaan untuk melaksanakan sendiri kewajiban pajaknya. Selanjutnya pada tahun 1994, reformasi
pajak sebagai upaya merespon globalisasi dunia yang semakin kuat.
Perubahan khususnya secara teknis perpajakan yang makin meengurangi
kesenjangannya dengan praktik akuntansi yang dibarengi dengan
regulasi bidang perpajakan yang makin luas dan instrumen hukum yang
lebih baik. Tahun 2000, kembali pemerintah menyusun reformasi
perpajakan yang merombak struktur badan peradilan pajak menjadi
badan peradilan independen yang tunduk pada struktur peradilan
dibawah Mahkamah Agung.
Reformasi perpajakan adalah perubahan yang mendasar disegala
aspek perpajakan. Reformasi perpajakan yang sekarang menjadi prioritas
menyangkut modernisasi administrasi perpajakan jangka menengah (tiga
hingga enam tahun) dengan tujuan tercapainya: pertama, tingkat
kepatuhan sukarela yang tinggi. Kedua, kepercayaan terhadap
administrasi perpajakan yang tinggi, dan ketiga, produktivitas aparat
perpajakan yang tinggi, Satriyo (2009).
Sebagaimana kondisi masyarakat yang selalu berubah dan tuntutan
adanya reformasi disemua bidang, kondisi dan situasi yang terjadi
didalam proses pemberian pelayanan maupun penerapan administrasi
kepada wajib pajak juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Saat ini wajib pajak sudah semakin kritis dalam melihat setiap
perubahan kebijakan pemerintah terutama dalam bidang fiskal. Kondisi
ini mau tidak mau mengharuskan Direktorat Jendral Pajak untuk
melakukan reformasi dibidang perpajakan. Sebagaimana yang menjadi
sasaran sejak tahun 2002, bahwa reformasi perpajakan secara
komperhensif sebagai satu kesatuan dilakukan terhadap tiga bidang
pokok atau utama secara langsung menyentuh pilar perpajakan, yaitu:
Bidang administrasi, Bidang peraturan, dan Bidang pengawasan.
a. Bidang administrasi, yakni melalui modernisasi administrasi
perpajakan.
b. Bidang peraturan, dengan melakukan amandemen terhadap
Undang-Undang perpajakan.
c. Bidang pengawasan, membangun bank data perpajakan nasional.
Menurut Gunadi (2003), pajak ini mengikuti fenomena kehidupan
sosial ekonomi masyarakat. Di setiap perubahan kehidupan sosial
perekonomian masyarakat maka sudah sepantasnyalah bahwa pajak
harus mengadakan reformasi. Reformasi perpajakan adalah perubahan
yang mendasar di segala aspek perpajakan. Hal tersebut seperti yang
dikemukakan Guillermo Perry (2000) bahwa the word reform conveys
major change. Berdasarkan pengalaman yang terjadi di negara maju maupun Negara berkembang, terdapat begitu banyak pengertiaan
mengenai reformasi perpajakan, dikarenakan terdapat perbedaan
pengertian dan pola reformasi perpajakan yang dianut oleh negara
berkembang dan yang dianut oleh negara maju. Hal ini dikarenakan
terdapat perbedaan struktur pajak yang umumnya seragam di negara
maju tetapi ada bermacam-macam struktur pajak di negara berkembang.
Reformasi perpajakan yang didukung pemerintah telah membuat
kebijakan perpajakan baru dengan mengubah Undang-Undang. Selama
ini pemerintah telah mengalami empat tahap reformasi perpajakan,
diantaranya adalah:
a. Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan, Undang-Undang ini berlaku sejak tanggal 1
Januari 1984.
b. Undang No. 9 Tahun 1994 Tentang perubahan atas
Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan.
c. Undang-Undang No. 16 Tahun 2000 Tentang perubahan kedua atas
Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan.
d. Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan, Undang-Undang ini berlaku sejak 1 Januari
2008.
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik keimpulan bahwa reformasi
administrasi perpajakan yang meliputi bidang pengawasan, bidang
peraturan, dan bidang administrasi sudah diatur dalam Undang-Undang
yang sudah ditetapkan pemerintah, sehinga reformasi perpajakan bisa
berjalan dengan baik.
2. Pengertian Administrasi Pajak (Tax Administration)
Chandler (1988) dalam Torontuan (2004:2), mengemukakan bahwa
administrasi publik adalah proses dimana sumber daya dan personel
publik diorganisir dan diorganisasikan untuk memformulasikan,
mengimplementasikan, dan mengelola keputusan-keputusan dalam
kebijakan publik. Kemudian dijelaskan bahwa administrasi publik
merupakan seni dan ilmu yang ditujukan untuk mengatur public affairs
dan melaksanakan berbagai tugas yang telah ditetapkan. Sebagai disiplin
ilmu, administrasi publik bertujuan memecahkan masalah-masalah publik
melalui perbaikan-perbaikan terutama di bidang organisasi, sumber daya
manusia dan keuangan.
Administrasi pajak dalam arti sempit merupakan penatausahaan
dan pelayanan atas hak-hak dan kewajiban-kewajiban pembayaran pajak,
baik penatausahaan dan pelayanan yang dilakukan di kantor pajak
maupun ditempat wajib pajak, sedangkan administrasi pajak dalam arti
luas meliputi fungsi, administrasi perpajakan merupakan seperangkat
unsur (subsistem) yaitu peraturan perundang-undangan, sarana dan
prasarana, dan wajib pajak yang saling berkaitan yang secara
bersama-sama menjalankan fungsi dan tugasnya untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Ensiklopedi perpajakan (1997:582), administrasi perpajakan (Tax Administration) ialah cara-cara atau prosedur pengenaan dan pemungutan pajak. Mengenai peran administrasi perpajakan, Pandiangan (2008), mengemukakan bahwa administrasi perpajakan diupayakan untuk merealisasikan peraturan perpajakan, dan penerimaan negara sebagaimana amanat APBN.
Sedangkan sebagai lembaga administrasi perpajakan merupakan
institusi yang mengelola sistem dan mengelola proses perpajakan yang
terwujud pada kantor pusat, wilayah, dan pelayanan kualitas dan
kuantitas sumber daya manusia juga merupakan salah satu tolak ukur
kinerja administrasi pajak. Administrasi perpajakan memegang peranan
yang sangat penting karena seharusnya bukan saja sebagai perangkat
laws enforcement, tetapi lebih penting daripada itu, sebagai service point yang memberikan pelayanan prima kepada masyarakat sekaligus pusat
informasi perpajakan.
Pemberdayaan administrasi pajak seharusnya juga dilakukan
dengan terlebih dahulu melakukan penelitian untuk mengetahui apa-apa
sajakah yang sebenarnya menjadi leverage, yaitu tindakan dan
perubahan dalam struktur yang dapat mengarah pada perbaikan,
peningkatan (improvements) yang signifikan dan berlangsung
selamanya. Sering kali, pengungkit mengikuti prinsip ekonomi di mana
hasil terbaik tidak datang dari usaha berskala besar, tetapi dari tindakan
kecil yang terfokus. Oleh karena itu, reformasi perpajakan yang hanya
terfokus pada pengadopsian atau penggunaan teknologi yang canggih
(yang membutuhkan biaya yang sangat besar) tidak akan berarti apa-apa
jika perbaikan mental model sumber daya manusianya tidak diperbaiki.
3. Reformasi Administrasi Perpajakan
Menurut Nasucha (2004:37), reformasi administrasi perpajakan
adalah penyempurnaan kinerja administrasi, baik secara individu,
kelompok, maupun kelembagaan agar efisien dan ekomomis dan cepat.
Agar reformasi administrasi perpajakan dapat berhasil, dibutuhkan: (1)
struktur pajak disederhanakan untuk kemudahan, kepatuhan, dan
administrasi, (2) strategi reformasi yang cocok harus dikembangkan, (3)
komitmen politik yang kuat terhadap peningkatan administrasi
perpajakan.
keberhasilan reformasi administrasi perpajakan kedepan adalah
kapasitas administrasi perpajakan dalam mengimplementasikan struktur
perpajakan secara perpajakan secara efisien dan efektif. Hal ini meliputi
pengembangan sumber daya manusia, teknologi informasi, strukutur
organisasi, proses dan prosedur serta sumber daya finansial dan intensif
yang cukup (Nasucha 2004).
Menurut Gunadi (2003), reformasi perpajakan meliputi dua area,
yaitu reformasi kebijakan pajak (tax policy) yaitu regulasi atau peraturan
perpajakan yang berupa undang-undang perpajakan dan reformasi
administrasi perpajakan. Reformasi administrasi memiliki tujuan utama
untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam memenuhi
kewajiban perpajakannya. Kedua, untuk mengadministrasikan
penerimaan pajak sehingga transparansi dan akuntabilitas penerimaan
sekaligus pengeluaran pembayarandana dari pajak setiap saat bisa
diketahui. Yang ketiga, untuk memberikan suatu pengawasan terhadap
pelaksanan pemungutan pajak, terutama adalah kepada aparat
pengumpul pajak, kepada Wajib Pajak, ataupun kepada masyarakat
pembayar pajak.
Dari uraian diatas dapat disimpulan bahwa administrasi perpajakan
yang baik dan yang transparan sangat berguna bagi wajib pajak yang
ingin mematuhi kewajibannya membayar pajak.
4. Dimensi Reformasi Adminitrasi Perpajakan
Menurut Nasucha (2004:37), Penerapan sistem administrasi
perpajakan modern melalui program dan kegiatan dalam kerangka
reformasi administrasi perpajakan jangka menengah berikut ini diuraikan
Dalam dimensi-dimensi sistem administrasi, empat dimensi reformasi
administrasi perpajakan, yaitu: struktur organisasi, prosedur organisasi,
strategi organisasi, dan budaya organisasi.
a. Struktur Organisasi
Dalam penelitian Sofyan (2005), bahwa struktur organisasi adalah unsur yang berkaitan dengan pola-pola peran yang sudah ditentukan
dan hubungan antar peran, alokasi kegiatan kepada sub unit-sub unit
terpisah, pendistribusian wewenang di antara posisi administratif, dan
jaringan komunikasi formal.
b. Prosedur Organisasi
Sofyan (2005:27), Prosedur organisasi berkaitan dengan proses
komunikasi, pengambilan keputusan, Pemilihan prestasi, sosialisasi
dan karier. sedangkan pembahasan dan pemahaman prosedur
organisasi berpijak pada aktivitas organisasi yang dilakukan secara
teratur.
c. Strategi Organisasi
Sofyan (2005:27), Strategi organisasi dipandang sebagai siasat,
sikap pandangan dan tindakan yang bertujuan memanfaatkan segala
keadaan, faktor, peluang, dan sumber daya yang ada sedemikian rupa
sehingga tujuan organisasi dapat dicapai dengan berhasil dan selamat.
Strategi berkembang dari waktu ke waktu sebagai pola arus keputusan
yang bermakna.
d. Budaya Organisasi
Sofyan (2005:27), Budaya organisasi didefenisikan sebagai sistem
penyebaran kepercayaan dan nilai–nilai yang berkembang dalam
organisasi dan mengarahkan perilaku anggota–anggotanya.
Sedangkan menurut P.Robbins dan A.judge (2008) budaya organisasi
(Organizational Culture) mengacu pada sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu
organisasi dari organisasi–organisasi lainnya.
Dari pengertian dimensi reformasi administrasi perpajakan yang
sudah penulis uraikan diatas, terlihat bahwa struktur organisasi,
prosedur organisasi, strategi organisasi, dan budaya organisasi
mempunyai keterkaitan yang saling berhubungan guna meningkatkan
kepatuhan wajib pajak.