• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORI

A. Upaya Kepala Sekolah

1. Pengertian Religiusitas

Religiusitas Menurut Kamus Pendidikan, Pengajaran dan Umum, (Religi : Agama, kepercayaan), ( Religius : Yang bersifat keagamaan) (Sulisman dan Sudarsono, 1994 : 198).

Religi mencakup kehidupan keagamaan baik agama tradisional maupun agama yang datang kemudian yang mengatur hubungan dengan Yang Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan hidupnya (Said, 2003 : 177).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “religius” adalah bersifat religi, yang bersangkut paut dengan religi, sedangkan “religi”

23

paling mendasar dijadikan sebagai landasan dalam pendidikan, karena agama memberikan dan mengarahkan fitrah manusia, memenuhi kebutuhan batin, menuntun kepada kebahagiaan dan menunjukan kebenaran.

Keberagamaan atau religiusitas (kata sifat: religius) tidak selalu identik dengan agama. Agama lebih menunjukkan kepada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan, dalam aspek resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya. Sedangkan keberagamaan

atau religiusitas lebih melihat kepada aspek yang “di dalam lubuk hati nurani” pribadi ( Muhaimin, 2008:288). Oleh karna itu, religiusitas atau sifat religius lebih dalam dari agama yang tampak formal.

Keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragam bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat mata, tapi juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati seseorang. Karena itu, keberagamaan seseorang akan meliputi berbagai macam sisi atau dimensi. Dengan demikian, agama adalah sebuah sistem yang berdimensi banyak.

Menurut Glock & Stark dalam ( Ancok dan Suroso, 1994: 76) Agama adalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlambangkan, yang semuanya itu berpusat pada

24

persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi. Jadi Agama adalah sebuah sistem yang berdimensi banyak.

Budaya religius sekolah merupakan cara berfikir dan cara bertindak warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai religius (keberagamaan). Religius menurut Islam adalah menjalankan ajaran agama secara menyeluruh. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al

Baqarah ayat 208

































Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah

syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”(Sahlan, 2010: 75).

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa religiusitas adalah keagamaan bersifat religi meliputi berbagai macam dimensi, keyakinan seseorang di dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya, perilaku yang tercemin untuk diwujudkan untuk kehidupan manusia sehari-hari dengan simbol dan nilai sebagai adanya makna kepercayaan dalam berbagai agama.

25 2. Dimensi-dimensi Religiusitas.

Religiusitas menurut Glock & Stark dalam Ancok dan Suroso (1994: 77-78) ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu dimensi keyakinan (ideologis), dimensi peribadatan atau praktek agama

(ritualistic), dimensi penghayatan (eksperiensial), dimensi pengalaman (konsekuensial), dimensi pengetahuan agama (intelektual).

a. dimensi keyakinan

Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan di mana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana para penganut diharapkan akan taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak hanya di antara agama-agama, tetapi seringkali juga di antara tradisi-tradisi dalam agama yang sama.

b. dimensi praktik agama.

Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik keagamaan ini terdiri atas dua kelas penting, yaitu:

1) Ritual

Ritual yaitu dimana seseorang yang religius akan melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang diperintah oleh

26

agama yang diyakini dengan melaksanakannya sesuai ajaran yang telah ditetapkan.

Indikatornya antara lain: selalu melakukan sembahyang dengan rutin, melakukan kegiatan keagamaan seperti mendegarkan ceramah agama, melakukan dakwah agama, melakukan kegiatan amal, bersedekah, dan berperan serta dalam kegiatan keagamaan seperti ikut berpartisipasi dan bergabung dalam suatu perkumpulan keagamaan.

2) Ketaatan

Ketaatan yaitu dimana seseorang yang secara batiniah mempunyai ketetapan untuk selalu menjalankan aturan yang telah ditentukan dalam ajaran agama dengan cara meningkatkan frekuensi dan intensitas dalam beribadah.

Indikatornya antara lain: khusuk ketika mengerjakan sembahyang atau kegiatan keagamaan, membaca doa ketika akan melakukan pekerjaan dan selalu mengucapkan syukur pada Tuhan. Individu yang menghayati dan mengerti serta selalu ingat pada Tuhan akan memperoleh manfaat, antara lain: ketenangan hati, perasaan yang tenang, aman dan merasa memperoleh bimbingan serta perlindungan-Nya.

Kondisi seperti itu menyebabkan individu selalu melihat sisi positif dari setiap permasalahan yang dihadapi dan

27

berusaha mencari solusi yang tepat dalam memecahkan masalah yang membuat dirinya tertekan.

c. Dimensi pengamalan

Dimensi ini menunjuk pada seberapa tingkatan muslim berperilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya, terutama dengan manusia lain. Dalam Islam, dimensi ini meliputi perilaku suka menolong, bekerjasama, menegakkan keadilan dan kebenaran, berlaku jujur, memaafkan, menjaga lingkungan hidup.

d. Dimensi pengetahuan agama.

Dimensi ini menunjuk pada seberapa tingkat pengetahuan dan pemahaman muslim terhadap ajaran-ajaran agamanya, sebagaimana termuat dalam kitab sucinya dalam Islam, Dimensi ini menyangkut tentang isi Al-Qur’an, pokok -pokok ajaran yang harus diimani dan dilaksanakan (rukun Islam dan rukun Iman), hukum-hukum Islam dan sejarah Islam.

e. Dimensi pengalaman atau Penghayatan

Dimensi ini menunjuk pada seberapa jauh tingkat muslim dalam merasakan dan mengalami pengalaman-pengalaman religius. Dalam Islam, dimensi ini terwujud dalam perasaan dekat dengan Allah, merasa bahwa doa-doanya dikabulkan, takut ketika melanggar aturan, dan merasakan tentang kehadiran Tuhan.

28

Berdasarkan pada teori-teori yang telah dikemukakan di atas maka peneliti mengacu pada teori Glock dan Stark sebagai dasar dalam pembuatan skala karena teori tersebut mencakup lima dimensi yang mendasari individu dalam religiusita. Dimensi tersebut meliputi: keyakinan, praktik agama, pengalaman, pengetahuan agama, pengamalan atau konsekuensi.

Dokumen terkait