KAJIAN TEORI
A. Upaya Kepala Sekolah
4. Wujud Budaya Religius di Sekolah
Budaya religius adalah sekumpulan nilai-nilai agama yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, peserta didik, dan masyarakat sekolah. Sebab itu budaya tidak hanya berbentuk simbolik semata sebagaimana yang tercermin di atas, tetapi di dalam penuh dengan nilai-nilai. Perwujudan budaya juga tidak hanya muncul begitu saja, tetapi melalui proses pembudayaan diantaranya yaitu:
1. Senyum, Salam, Sapa (3S)
Dalam Islam sangat dianjurkan memberikan sapaan pada orang lain dengan mengucapkan salam. Ucapan salam di samping sebagai doa bagi orang lain juga sebagai bentuk persaudaraan antara sesama manusia. Secara sosiologis sapaan dan salam dapat meningkatkan interaksi antara sesama, dan berdampak pada rasa
31
penghormatan sehingga antara sesama saling dihargai dan dihormati.
Senyum, sapa dan salam dalam perspektif budaya menunjukkan bahwa komunitas masyarakat memiliki kedamaian, santun, saling tenggang rasa, toleran dan rasa hormat. Dulu bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun, damai dan bersahaja. Namun seiring dengan perkembangan dan berbagai kasus yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, sebutan tersebut berubah menjadi sebaliknya. Sebab itu, budaya senyum, salam dan sapa harus dibudayakan pada semua komunitas, baik di keluarga, sekolah atau masyarakat sehingga cerminan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang santun, damai, toleran dan hormat muncul kembali.
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk membudayakan nilai-nilai tersebut perlu dilakukan keteladanan dari para pemimpin, guru dan komunitas sekolah. Di samping itu perlu simbol-simbol, slogan atau motto sehingga dapat memotivasi siswa dan komunitas lainnya dan akhirnya menjadi budaya sekolah.
2. Saling Hormat dan Toleran
Budaya saling hormat dan toleran juga Nampak ada di sekolah. Saling menghormati antara yang muda dengan yang lebih tua, menghormati perbedaan pemahaman agama, bahkan saling menghormati antar agama yang berbeda.
32
Masyarakat yang toleran dan memiliki rasa hormat menjadi harapan bersama. Dalam perspektif apapun toleransi dan rasa hormat sangat dianjurkaan. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbinneka dengan ragam agama, suku dan bahasa sangat mendambakan persatuan dan kesatuan bangsa, sebab itu melalui Pancasila sebagai falsafah bangsa menjadi tema persatuan sebagai salah satu sila dari pancasila, untuk mewujudkan hormat sesama anak bangsa.
Fenomena perpecahan dan konflik yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan karena tidak adanya toleransi dan rasa hormat diantara sesama agama atau masyarakat yang memiliki paham, ide, atau agama yang berbeda. Sebab itu melalui pendidikan dan dimulai sejak dini, sikap toleran dan rasa hormat harus dibiasakan dan dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejalan dengan budaya hormat dan toleran, dalam Islam terdapat konsep ukhuwah dan tawadlu. Konsep tawadlu secara bahasa adalah dapat menempatkan diri, artinya seorang harus dapat bersikap dan berperilaku sebaik-baiknya (rendah hati, hormat, sopan dan tidak sombong). Konsep ini sangat terlihat dalam budaya pesantren, bagaimana seorang santri hormat atau tawadlu pada kyai. Dalam Islam guru sangat dihormati sebab itu ada
konsep “berkah”, artinya seorang murid hanya akan mendapatkan
33 3. Puasa Senin Kamis
Puasa merupakan bentuk peribadatan yang memiliki nilai yang tinggi terutama dalam pemupukan spiritualitas dan jiwa sosial. Puasa hari senin dan kamis ditekankan di sekolah disamping sebagai bentuk peribadat sunnah muakkad yang sering dicontohkan Rasulullah SAW, juga sebagai sarana pendidikan dan pembelajaran
tazkiyah agar siswa dan warga sekolah memiliki jiwa yang bersih, berpikir dan bersikap positif, semangat dan jujur dalam belajar dan bekerja, dan memiliki rasa kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai yang ditumbuhkan melalui proses pembiasaan berpuasa tersebut merupakan nilai-nilai luhur yang sulit dicapai oleh siswa-siswi di era sekarang ini, disamping hantaman budaya negatif dan arus globalisasi juga karena piranti untuk penangkal arus budaya negatif tersebut yang tidak maksimal baik dalam bentuk pendidikan maupun keteladanan dari tokoh dan warga masyarakat. Sebab itu melalui pembiasaan puasa senin kamis diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai luhur tersebut yang sangat dibutuhkan oleh generasi saat ini (Sahlan, 2010: 116-119). 4. Shalat.
Secara etimologi kata shalat berarti doa. Sedangkan secara terminologi bahwa shalat adalah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam. Shalat menempati
34
kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh banyak ibadah lainnya. Karena shalat juga merupakan rukun Islam.
Umat Islam diharapkan mengerjakan shalat pada waktunya dengan didorong rasa taat dan tunduk kepada perintah Allah. Rahasia waktu-waktu yang ditentukan itu tidak seorangpun tahu kecuali Allah dan Rosul. Sedemikian pula tentang cahaya dari berkah dan rahmat Allah yang turun pada waktu-waktu tersebut (An-nadwi, 1992 : 18).
Dalam Islam dibagi dua macam, yaitu shalat fardhu dan shalat sunnah. Pelaksanaan shalat dan pengulangan shalat sehari semalam terdapat hikmah yang besar sebagai santapan sehat dan komplit untuk jiwa, sebagai penjagaan dari malaikat Allah, sebagai penyaring hati dan jiwa dari debu-debu materi (An-nadwi, 1992 : 19). Shalat wajib disyaratkan untuk berjamaah karena dengan berjamaah umat Islam akan mendapatkan faedah yang berharga diantaranya ada yang bersifat sosial dan kebersamaan, seperti persatuan, solidaritas dan persaudaraan (An-nadwi, 1992 : 49).
Shalat dhuha sudah menjadi kebiasaan bagi siswa. Melakukan ibadah dengan mengambil wudlu dilanjutkan dengan shalat dhuha dilanjutkan dengan membaca al-Quran memiliki implikasi pada spiritualitas dan mentalitas bagi seorang yang akan dan sedang belajar. Dalam Islam seorang yang akan menuntut ilmu dianjurkan untuk melakukan pensucian diri baik secara fisik
35
maupun ruhani. Berdasarkan pengalaman para ilmuwan muslim seperti, al-Ghozali, Imam Syafi’I, Syaikh Waqi, menuturkan bahwa
kunci sukses mencari ilmu adalah dengan mensucikan hati dan mendekatkan diri pada Allah SWT (Sahlan, 2010: 120).
5. Membaca Al-quran.
Al-quran biasa didefinisikan sebagai firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril sesuai redaksinya kepada nabi Muhammad, dan diterima umat Islam secara mutawatir (Shihab, 1997 : 43). Fungsi Al-quran bukan hanya sebutan untuk dibaca, juga memperingatkan kepada seseorang untuk mengingatkan dari hari pembalasan, berdialog dengan orang-orang yang hidup bahwa hari pembalasan itu ada (Shihab, 1997 : 48).
Oleh karena itu bacaan dan hafalan Al-quran harus dilakukan terus menerus, sebab kekalnya Al-quran merupakan salah satu keistimewaan tersendiri. Hal ini tercermin daripada penghafalnya yang tidak pernah putus dari generasi ke generasi. Termasuk masalah tulisan dan hafalan secara lisan dan tulisan. Terus menerus membacanya Al-quran harus tetap dilestarikan, karena merupakan salah satu bagian terpenting dari ajaran Islam dan penganutnya (Al-Ghazali, 1996 : 23).
Tadarus al-Qur’an atau kegiatan membaca al-Qur’an
merupakan bentuk peribadatan yang diyakini dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dapat meningkatkan keimanan dan
36
ketakwaan yang berimplikasi pada sikap dan perilaku positif, dapat mengontrol diri, dapat tenang, lisan terjaga, dan istiqamah dalam beribadah.
Tadarrus al-Qur’an disamping sebagai wujud peribadatan, meningkatkan keimanan dan kecintaan pada al-Qur’an juga dapat
menumbuhkan sikap positif di atas, sebab itu melalui tadarrus
al-Qur’an siswa-siswi dapat tumbuh sikap-sikap luhur sehingga dapat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar dan juga dapat membentengi diri dari budaya negatif (Sahlan, 2010: 120-121). 6. Doa.
Orang Islam percaya kepada kekuasaan Tuhan dalam mewujudkan kepentingan manusia. Dan manusia diperinah untuk memohon pertolongan Allah karena Allah berjanji akan mengabulkan doanya.
Manusia selalu berdoa dan merasa dekat kepada Allah apabila sedang mengalami kesusahan ataupun kesedihan. Akan tetapi dalam keadaan senang seorang manusia menjadi lupa bersyukur akan apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Doa itu ada kalanya langsung dikabulkan dan ditunda Allah. Umat Islam diwajibkan selalu berdoa baik itu sesudah shalat atau sebelum melakukan sesuatu agar terhindar dari gangguan setan dan setiap saat dilindungi Allah.
37
Istighasah adalah do’a bersama yang bertujuan memohon pertolongan dari Allah SWT. Inti dari kegiatan ini sebenarnya dhikrullah dalam rangka taqarrub ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah SWT). Jika manusia sebagai hamba selalu dekat dengan Sang Khaliq, maka segala keinginannya akan dikabulkan oleh-Nya.
Istilah ini biasa digunakan dalam salah satu madzab atau tarikat yang berkembang dalam Islam. Kemudian dalam perkembanganya juga digunakan oleh semua aliran dengan tujuan meminta pertolongan dari Allh SWT. Dalam banyak kesempatan, untuk menghindarkan kesan eklusif maka sering digunakan istilah
do’a bersama (Sahlan, 2010: 121).