BAB II KAJIAN TEORI
F. Penelitian Relevan
Untuk menghindari kesamaan penulisan dan plagiasi maka dalam penulisan skripsi ini penulis cantumkan beberapa hasil penelitian yang ada kaitannya dengan skripsi ini diantara penelitian-penelitian yang relevan dengan penelitian penulis adalah:
1. Penelitian Risqon Agung Pangestu, dengan judul penelitiannya
“Peranan ikatan remaja masjid dalam meningkatkan pengalaman agama pada remaja di masjid Safinatul Husna Bambu Larangan Cengakreng, Jakarta Barat.(Risqon Agung Pangestu. Skripsi:2008)
Perbedaan penelitian ini yaitu studi kasus dan kondisi masyarakat yang diteliti. Dari hasil penelitiannya terdapat peranan organisasi ikatan remaja masjid Safinatul Husna Bambu Larangan Cengakreng, Jakarta Barat dalam meningkatkan pengalaman agama pada remaja, yaitu sebagai motivator, sebagai pelayanan masyarakat, pembinaan masyarakat khususnya remaja.
2. Penelitian Lukman Hakim, dengan judul penelitian “Peranan RISMA JT (Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah) sebagai lembaga dakwah Masjid Agung Jawa Tengah”
Perbedaan penelitian ini terletak pada objek yang diteliti, lembaga dakwah berbeda orientasi dengan organisasi remaja masjid.Dari hasil penelitiannya RISMA JT (Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah) memiliki kedudukan dan peranan yang strategis dalam rangka memberdayakan remaja dan memakmurkan masjid pada umumnya, khususnya Masjid Agung Jawa Tengah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perananya, antara lain: melakukan pembinaan generasi muda Islam yang bertaqwa kepada Allah Swt, melakukan proses kaderisasi anggota, dan membantu kegiatan. (Lukman Hakim. Skripsi:2011)
3. Penelitian Ahmad Mubarok, dengan judul penelitian “ Peranan aktivitas pemuda dalam pengembangan pendidikan agama Islam non-formal di Desa Karangyar Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara(Ahmad Mubarok. Skripsi:2011)
Perbedaan nya dengan penelitian penulis adalah, penelitian Ahmad Mubarak ini penelitian hanya mencari peningkatan dan pengembangan pendidikan Islam dalam masyarakat.
4. Penelitian Amry Al Mursalaat dengan judul penelitian “ Peranan organisasi kepemudaan masjid dalam meningkatkan partisipasi kegiatan keagamaan di masyarakat (studi kasus ikatan remaja masjid Al-Anwar)”
Perbedaan nya sama penelitian penulis yaitu, penelitian ini lebih membahas kepada peran remaja masjid yang kegiatan keagamaan nya menurun, kemudian figur pemerintah dalam hal ini tidak lagi mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat, hilangnya peran pemerintah dan publik figur dalam memberikan contoh pengalaman keagamaan harus dicari segera solusinya. Persamaannya yaitu sama-sama melihat bagaiman peran remaja masjid dalam meningkatkan kegiataan keagamaan di masjid-masjid yang diteliti tersebut.
Dari keempat skripsi diatas membedakan dengan penelitian ini adalah fokus dan letak lokasi penelitiannya. Dalam penelitian penulis dengan judul “Peran Remaja Masjid Dalam Meningkatkan Aktivitas keagamaan di Masjid Raya Salimpaung, dimana alasan penulis meneliti di Masjid RayaSalimpaung, dikarenakan remajanya sangat aktif sekali dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di bandingkan dengan remaja masjid ditempat penulis tinggal.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang mana peneliti akan melihat gejala atau fenomena yang terjadi di masyarakat seperti apa adanya tanpa diikuti persepsi penelitian (verstehen) emosional, maka penulis menggunakan deskriptif kualitatif yaitu pendekatan atau suatu prosedur yang menghasilkan data-data yang bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Menurut Denzim & Lincoln dalam buku Rulam Ahmadi mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah multimetode dalam fokus, termasuk pendekatan interpretif dan naturalistik terhadap pokok persoalannya. Ini berarti para peneliti kualitatif menstudi segala sesuatu dalam latar alamiahnya, berusaha untuk memahami atau menginterpretasi fenomena dalam hal makna-makna yang orang-orang berikan pada fenomena tersebut. Penelitian kualitatif mencakup penggunaan dan pengumpulan beragam material empiris yang digunakan studi kasus, pengamalan personal, introspektif, kisah hidup, dan teks wawancara, observasi, sejarah, interaksional, dan teks visual yang mendeskripsikan momen-momen rutin dan problematik serta makna dalam kehidupan individual (Rullam Ahmadi, 2014:14).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan bentuk penelitian deskriptif, karena peneliti berusaha memaparkan, menggambarkan bagaimana, peranan remaja dalam melaksanakan aktivitas melalui kualitas salat berjamaah di masjid Raya Salimpaung. Untuk melakukan hal tersebut peneliti menggunakan kata-kata sebagai ala tuntuk menggambarkannya, yang disusun dalam bentuk kalimat.
41
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Adapun yang menjadi tempat penelitian penulis adalah Masjid Raya Salimpaung, alasan penulis meneliti di lokasi tersebut adalah dikarenakan di lokasi tersebut remajanya sangat aktif dalam aktivitas keagamaan dibandingkan dengan remaja masjid lainnya yang berada di nagari Salimpaung. Penulis ingin mengetahui peranan remaja dalam melaksanakan aktivitas keagamaan melalui kualitas shalat berjemaah dan aktivitas sosial keagamaan di masjid Raya Salimpaung”.Waktu penelitian pada hari kamis tanngal 15 November 2018, dalam penyelesaian skripsi ini ada beberapa lama waktu yang akan dilakukan.
C. Sumber Data
Sumber data atau informan adalah sesuatu yang bermanfaat untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian (Sugiyono, 2013:225).Dalam penelitian kualitatif, sampel sumber data dipilih secara purposive dan bersifat snowballing sampling. Penentuan sampel sumber data, pada proposal masih bersifat sementara, dan akan berkembang kemudian setelah peneliti di lapangan. Sampel sumber data pada tahap awal memasuki lapangan di pilih orang yang memiliki power dan otoritas pada situasi sosial atau obyek yang diteliti, sehingga mampu “membukakan pintu”
kemana saja peneliti akan melakukan pengumpulan data.
Sanafiah faisal dalam Sugiyono dengan mengutip pendapat spredley mengemukakan bahwa, situasi sosial untuk sampel awal sangat disarankan suatu situasi sosial yang didalamnya menjadi semacam muara dari banyak domain lainnya. Selanjutnya dinyatakan bahwa, sampel sebagai sumber data atau informan sebaiknya yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Informan yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayatinya
2. Informan yang tergolong sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti
3. Informan yang mempunyai waktu yang memadai untuk diminta informasi
4. Informan yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil
“kemasannya” sendiri
5. Informan yang pada mulanya tergolong “cukup asing” dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semua guru atau narasumber (Sugiyono, 2014:454).
Sumber data penelitian ini yaitu informan kunci atau data primer adalah remaja masjid Raya Salimpaung.
D. Teknik Pengumpulan Data
Pada bagian ini dikemukakan bahwa, dalam penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data yang utama dalah obsevasi participant, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan gabungan ketiganya atau triangulasi. Perlu dikemukakan kalau teknik pengumpulan datanya dengan observasi, maka perlu dikemukakan kalau teknik pengumpulan apa yang diobservasi, kalau wawancara, kepada siapa akan melakukan wawancara (Sugiyono, 2014:455).
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek peneliti, pengamat, dan pencatatan yang dilakukan terhadap obyek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa sehingga observasi berada pada obyek yang diteliti (Djam‟an Satori Aan Komariah, 2011:105).
Nasution dalam Rulam Ahmadi menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil (proton dan elektron) maupun yang sangat jauh (benda ruang angkasa) dapat diobservasi dengan jelas.
Marshall (1995) dalam Rulam Ahmadi menyatakan bahwa
“thruogh observation, the researcher”. Melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.
Sanafiah Faisal dalam Rulam Ahmadi, mengklarifikasikan observati menjadi observati berpatisipasi, observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt observation dan covert observation) (Rulam Ahmadi, 2014:377)
Penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap objek baik secara langsung maupun tidak langsung, menggunakan teknik yang disebut dengan “pengamatan atau observation”. Pelaksanaan pengamatan menempuh tiga cara utama, yaitu:
a. Pengamatan langsung (direct observation), yakni pengamatan yang dilakukan tanpa perantara terhadap objek yang diteliti.
b. Pengamatan tidak langsung (indirect observation), yakni pengamatan yang dilakukan terhadap suatu objek melalui perantaraan suatu alat atau cara.
c. Pengamatan partisipatif (participative observation), yakni pengamatan yang dilakukan dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam suatu objek yang diteliti (Hadeli, 2006:85-86).
Sumber data penelitian ini yaitu informan kunci atau data primer adalah remaja masjid Raya Salimpaung, pembina remaja masjid dan masyarakat.
2. Wawancara
Wawancara adalah alat pengumpulan informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula, inti utama dari wawancara adalah kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi (interviewer) dengan sumber informasi (interview). Pada metode ini peneliti dan responden berhadapan langsung (face to face) untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan tujuan mendapatkan data yang dapat menjelaskan permasalahan penelitian sesuai dengan jenisnya (Muri Yusuf, 2014:372).
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin
mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi (Sugiyono, 2014:385).
Adapun langkah-langkah wawancara menurut Lincolin dan Guba dalam Sugiyono, mengemukakan ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
a. menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan
b. menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan
c. mengawali atau membuka alur wawancara d. melangsungkan alur wawancara
e. mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya f. menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan
g. mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh.
Supaya hasil wawancara dapat terekam dengan baik, dan peneliti memiliki bukti telah melakukan wawancara kepada informan atau sumber data, maka diperlukan bantuan alat-alat sebagai berikut.
1) Buku catatan: berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan sumber data. Sekarang sudah banyak komputer yang kecil, notebook yang dapat digunakan untuk membantu mencatat data hasil wawancara.
2) Alat perekam: berfungsi untuk merekam semua percakapan atau pembicaraan. Penggunaan alat rekaman dalam wawancara perlu memberi tahu kepada informan apakah dibolehkan atau tidak.
3) Camera: untuk memotret kalau peneliti sedang melakukan pembicaraan dengan informan/sumber data. Dengan adanya foto ini, maka dapat meningkatkan keabsahan penelitian akan lebih terjamin, karena peneliti betul-betul melakukan pengumpulan data.
Wawancara yang penulis maksud disini untuk mendapatkan data utama yaitu dengan melakukan wawancara dengan remaja masjid Raya Salimpaung, pembina remaja masjid, pengurus masjid dan masyarakat.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa membentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumentasi yang digunakan penulis disini yaitu dalam bentuk gambar (Sugiyono, 2014:396).
E. Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Bogdan adalah peoses mencari dan menyusun secara sistem data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dengan cara mengorganisasikan data kedalam katergori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain (Sugiyono, 2014:401).
Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu menjadi hipotesis, berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulang-ulang sehingga selanjutnya dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul. Berdasarkan data yang terkumpul secara berulang-ulang, ternyata hipotesis diterima maka hipotesis tersebut berkembang menjadi teori (Sugiyono, 2014:402).
Beberapa langkah diambil untuk menggambarkan teknik menganalisis data adalah proses penyusunan data agar dapat ditafsirkan menurut S. Nasution (1996:126) dalam buku Jonathan Sarwono menjelaskan bahwa penyusunan data berarti menggolongkan kedalam pola, tema atau kategori sehingga demikian tidak terjadi chaos, tafsiran atau interprestasi data
artinya memberikan makna terhadap analisis, menjelaskan pola atau kategori, mencari hubungan antar berbagai konsep yang mencerminkan pandagan atau perspektif peneliti, dan bukan kebenaran.
Jonathan Sarwono dalam bukunya menurut Miles dan Huberman untuk menganalisis data dianalisis dengan pendekatan kualitatif yaitu terdiri dari tiga hal:
1. Pengumpulan informasi, melalui observasi langsung, wawancara dan dokumentasi
2. Reduksi Data (Data Reduction), lamgkah ini adalah untuk memilih informasi mana yang sesuai dan tidak dengan masalah penelitian. Berarti merangkum, memilih hal-hal yang penting. Dicari tema dan polanya membuang yang tidak perlu, dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk pengumpulan data selanjutnya. Jadi, pada penelitian ini peneliti akan merangkum data tentang peran remaja masjid Raya Salimpaungdalam meningkatkan aktivitas keagamaan nya kemudian memilih data yang dibutuhkan dalam penelitian, kemudian peneliti akan menyimpulkan data yang telah diperoleh.
3. Penyajian Data (Data Display), setelah informasi dipilih maka disajikan dalam bentuk tabel, grafik, ataupun uraian penjelas. Yang sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dalam teks yang bersifat naratif. Dengan mendispaly data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami. Jadi, dalam penelitian ini peneliti akan memaparkan data yang telah didapat lalu menyajikan data peran remaja masjid Raya Salimpaung dalam meningkatkan aktivitas keagamaan nya.
4. Conclusion Drawing Verification, adalah penarikan kesimpulan data dan verifikasi, kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Jadi, Verifikasi
data adalah langkah untuk mengambil kesimpulan tentang bagaimana peran remaja masjid Raya Salimpaung dalam meningkatkan aktivitas keagamaan nya (2006:245).
F. Teknik Penjaminan Keabsahan Data
Untuk melakukan keabsahan data kualitatif, maka peneliti menggunakan teknik Triangulas. Triangulasi, artinya melakukan pengecekan data dari berbagai sumber dan dengan berbagai cara dan waktu. Trianggulasi dengan sumber berarti membanding dan mengecekan balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan jalan:
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara
b. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan orang secara spribadi
c. Membandingkan keadaan dan perspektif informan
d. Membandingkan apa yang dikatakan orang lain tentang situasi
Pelaksanaan dari langkah-langkah triangulasi adalah setelah terkumpulnya data maka peneliti dapat mengelola data tersebut secara sistematis dan akurat dengan membandingkan data mana yang kebih kuat yang diperoleh antara data observasi dengan hasil wawancara, antara yang dikatakan seseorang di depan umum dengan yang dikatakannya secara pribadi kepada peneliti dan antara yang dikatakan orang lain saat melakukan penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.
Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama.
Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama (Sugiyono, 2014:397)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Temuan Umum
Dalam melaksanakan penelitian, mengetahui kondisi yang akan diteliti merupakan hal yang sangat penting yang harus terlebih dahulu diketahui oleh peneliti. Adapun lokasi yang diteliti oleh peneliti yaitu dinagari Salimapung khususnya di Masjid Raya Salimpaung. Sebelum penulis memaparkan secara detail tentang hasil penelitian mengenai peran remaja dalam meningkatkan aktivitas keagamaan di Masjid Raya Salimpaung kenagarian Salimpaung, maka terlebih dahulu penulis akan jelaskan sekilas tentang temuan umum tempat penulis melakukan penelitian yaitu:
1. Profil Singkat Masjid Raya Salimpaung
a. NamaMasjid :Masjid Raya Salimpaung b. Alamat
Nagari :Salimpaung
Kecamatan :Salimpaung
Kabupaten :Tanah Datar
Provinsi : Sumatera Barat
c. No. Telp :081374452900
d. Tahundidirikan :1991
e. Status Bangunan :Masjid di tempat publik Masjid Raya Salimpaungterletak di Nagari Salimpaung, KecamatanSalimpaung, KabupatenTanah Datar Provinsi Sumatera Barat, masjid ini terletak di pusat Nagari Salimpaung, di samping itu juga Masjid Raya Salimpaung berada di tepi jalan Raya Batusangkar-Baso km12.Masjid Raya Salimpaung inimerupakansalahsatumasjid yang ada di KabupatenTanah Datar.
50
Dari awal pembangunan masjid ini yang dimulai secara resmi peletakkan batu pertama tanggal 14 September 1987, telah dicanangkan berdirinya sebuah masjid permanen bertingkat paripurna kelas desa/nagari, yang menjadi pusat kegiatan dan pembinaan umat dalam berbagai hal, kegiatan itu menyangkut bidang dakwah, ibadah, pendidikan, pelatihan pembinaan sosial, ekonomi dan lain-lain.
Kalau diperhatikan realisasi program tersebut secara bertahap alhamdulillah satu-satu dapat diwujudkan, seperti:
a. Selesainyan pembangunan fisik masjid permanen berlantai dua dengan kokoh, megah dan besar
b. Tetap terlaksananya ibadah salat berjamaan secara rutin lima waktu sehari semalam, bahkan setiap subhuh selalu diisi dengan ceramah subhuh dengan materi tafsir al-Qur‟an, fikih, ibadah, hadist, dan lain-lain
c. Bidang pendidikan formal berdirinya perguruan al-Qur‟an masjid Raya Salimpaung sejak tahun 1989 (TKQ/TPQ/TPSQ/MDA).
d. Bidang pendidikan formal dengan lahirnya MAS Salimpaung sejak tahun ajran 2000/2001 yang lalu, sampai saat ini telah semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat.
e. Bidang pelatihan dan keterampilan adanya pelatihan imam, khatib/mubaligh, muazzin sejak tahun 2006 yang lalu.
f. Bidang bimbingan dan pelatihan bagi calon jemaah haji telah berdirinya kelompok bimbingan manasik haji (KBMH) ulul albab masjid Raya Salimpaung, sejak tahun 2004 M/1424 hijriah, yang pesertanya juga berdatangan dari luar kecamatan Salimpaung seperti: kecamatan Sungai tarab, Sungayang, Tanjung baru, Pariangan, Lima kaum, Rambatan, dan lain-lain.
g. Bidang bimbingan jamaah haji yang telah kembali dari tanah suci Makkah telah berdiri pula organisasi kelompok binaan jamaan pasca haji ulu albab (KBJPH-UA) masjid Raya Salimpaung yang selalu mengadakan wirid bulanan setiap hari minggu awal bulan
h. Kegiatan binaan dan santunan bagi anak yatim dan fakir miskin, baik dalam bentuk uang/materi maupun bantuan kependidikan , sosial, ekonomi.
i. Bidang bimbingan dengan lahirnya organisasi remaja Islam masjid Raya Salimpaung (REIMASRA) yang mana REIMASRA Salimapung aktif dalam melakukan acara tahunan baik dihari besar Islam maupun nasional.
2. Visi dan Misi a. Visi
Menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat agar selamat dunia dan akhirat.
b. Misi
1) Memasyarakatkan amal makruf dikalangan masyarakat
2) Menumbuh kembangkan nasehat-menasehati dalam kesabaran dan kebenaran.
3) Mengajak sesama muslim untuk melaksanakan salat wajib wajib berjamaah di masjid.Pada dasarnya visi dan misi tidak hanya terdapat pada sebuah perusahaan, perkantoran ataupun di sekolah melainkan visi dan misi terdapat juga pada suatu masjid baik itu masjid yang ada di kota maupun yang ada di desa.
3. Struktur PengurusRemaja Masjid Raya Salimpaung a. Pengurus Remaja Masjid
DPO : Ahmad Dhani
Arif Hidayat Filota Jendri
Ketua : Ilham Nasri
Wakil ketua : Dino Andika Putra
Sekretasris Umum : Tiara Monisa
Wk. Sekretaris : Vina Elinda
Bendahara Umum : Hazhiyah Qisthi Masyurah
4. Stuktur Pengurus Masjid Raya Salimpaung Pengurus Masjid
Ketua : Drs. H. Mansyur. L
Wakil ketua : H.Yondrial, SKM
Sekretasris Umum : H. Salmi, S.Ag
Wk. Sekretaris : Yonmardi
Bendahara Umum : Syarif, ST.R. Basa
Tata Usaha : 1. Hendra Saputra
2. Zulhendra 5. Tujuan Remaja Masjid
Menjadikan remaja-remaja yang dekat dengan Allah melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan di Mesjid Raya Salimpaung tersebut.
6. Keadaan Remaja Masjid Raya Salimpaung
Jumlah remaja masjid pada tahun 2018 seluruhnya berjumlah lebih kurang 50 orang yaitunya terdiri dari anak-anak tingkat SD, SMP, SMA, Kuliah bahkan yang sudah tamat menempuh jenjang pendidikan pun sudah ada. mereka berasal dari sekeliling nagari salimpaung tersebut. Daftar remaja di masjid Raya Salimpaung adalah sebagai berikut:
Tabel 1 Daftar Remaja di Masjid Raya Salimpaung NO Jumlah Remaja
Laki-Laki
Jumlah Remaja Perempuan
Jumlah Seluruh Remaja
1 23 Orang 27 Orang 50 Orang
(H.Arif Donal, Wawancara tgl 15-11-2018) B. Temuan Khusus
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis data model Milles dan Huberman. Temuan khusus dalam penelitian ini dipaparkan berdasarkan batasan dan rumusan masalah yang ada dengan perincian sebagai berikut:
Berdasarkan wawancara pertama yang peneliti lakukan di Masjid Raya Salimpaung pada hari kamis tanggal 15 November 2018, Penulis mengamati bahwa remaja sangat aktif dalam melaksanakan aktivitas keagamaan .
1. Peran Remaja Masjid Raya Salimpaung dalam Meningkatkan Kegiatan Salat Berjamaah
a. Salat Berjamaah
Remaja masjid Raya Salimpaung adalah organisasi remaja masjid yang memiliki keterikatan dengan masjid, karena itu perlu menghadirkan program kerja yang beroriantasipada kegiatan-kegiatan keremajaan dan kemasjidan. Program-program yang disusun diharapkan dapat memenuhi kebutuhan anggota remaja masjid dalam mendakwahkan Islam, menambah kemakmuran masjid utamanya dalam meningkatkan kualitas salat berjamaah dan manfaat bagi masyarakat. Selain itu, diharapkan mampu meningkatkan keimanan, keilmuan dan keterampilan remaja muslim dilingkungan masjid.
Melihat realita sekarang tidak sedikit orang yang mengesampingkan salat berjamaah di masjid dan mushola, dengan alasan yang berbeda-beda. Sedangkan salat berjamaah sangat di
Melihat realita sekarang tidak sedikit orang yang mengesampingkan salat berjamaah di masjid dan mushola, dengan alasan yang berbeda-beda. Sedangkan salat berjamaah sangat di