PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Responden
6.2 Pengetahuan Tentang Garam Beriodium Berdasarkan Pendidikan
Menurut Notoatmodjo pengetahuan adalah hal yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang. Di dapatkan bahwa, pengetahuan diperlukan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, dan dapat pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi tindakan sesorang. Tanpa adanya pengetahuan, seseorang tidak mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi. Selain dari itu, pengetahuan juga mempunyai implikasi kuat dengan sikap dan perilaku seseorang. Dengan bekal pengetahuan yang baik, seseorang ibu seharusnya dapat menerapkan perilaku penggunaan garam beriodium yang baik sehari-hari.
(Notoatmodjo, 2003).
Sebelum dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan, sikap dan sumber informasi mengenai garam beriodium, pada IRT telah diberikan screening question terlebih dahulu yaitu “Apakah responden pernah
32 mendengar tentang garam beriodium?”. Hasil dari kuesioner yang diterima, didapatkan sebagian besar responden mengaku pernah mendengar mengenai garam beriodium (82,2%). Responden yang belum pernah mendengar mengenai garam beriodium langsung di kategorikan ke dalam kelompok tingkat pengetahuan kurang.
Dari hasil penelitian didapatkan pengetahuan reponden mengenai garam beriodium sebagian besar dalam kategori cukup (52,2%). Dilihat dari beberapa aspek pengetahuan, lebih dari sebagian responden mengetahui bahwa ikan laut merupakan sumber makanan lain yang mengandungi banyak iodium (65,6%). Lebih dari sebagian reponden sudah mengetahui manfaat garam beriodium untuk mencegah penyakit gondok (67,8%). Pada aspek pemilihan garam beriodium yang baik, lebih dari sebanyak 61,1%
responden sudah mengetahui bahwa garam halus merupakan garam beriodium yang paling baik. Menurut penelitian dari Handayani (2013) garam berbentuk halus lebih tinggi kandungan iodium nya di bandingkan garam berbentuk bata atau briket, apalagi krosok. Kebanyakan reponden juga bisa mengenal pasti cara pemilihan garam yang benar yaitu dengan membeli garam yang dikemas dan bermerek (57,8%). Tetapi pengetahuan reponden pada kandungan garam iodium rata-rata tidak tepat, hanya 10,0%
reponden tahu bahwa garam beriodium yang baik dan benar harus tertulis 30-80ppm pada kemasan atau bungkusan garam. Hal tersebut menunjukkan bahwa reponden tidak mampu dalam mengidentifikasi garam dengan kandungan iodium yang baik. Berdasarkan dari hasil penelitian ini disarankan agar dinas kesehatan dalam melakukan pengawasan kualitas garam beriodium yang beredar dimana hasil pengawasan merek garam beriodium yang memenuhi syarat diinformasikan kepada masyarakat dan konsumen terutama yang tinggal di daerah epidemik GAKI harus mempunyai pengetahuan dalam memilih dan membeli garam beriodium dengan kualitas memenuhi syarat (30-80ppm KIO3).
Kadar iodium, menurut penelitian Handayani dipengaruhi oleh penyimpanannya, penyimpanan garam iodium yang tidak menggunakan wadah (kedap sinar dan tidak berkarat) yang tertutup rapat dan kering, akan mengakibatkan kandungan iodium berkurang (Handayani, 2013). Menempatkan garam iodium di ruangan yang lembap dan terkena panas akan menyebabkan penurunan kadar iodium dan kadar air, karena kadar iodium menurun bila terkena panas dan air akan menguapkan iodium. Lebih dari sebagian responden mengetahui cara menyimpan garam beriodium dengan cara yang benar (52,2%) yaitu reponden menyimpan garam beriodium pada wadah yang tertutup rapat dan tidak dekat dengan hawa panas.
Responden mungkin menyimpan garam beriodium pada wadah yang tertutup dan jauh dari hawa panas secara kebetulan atau akibat sudah menjadi kebiasaan.
33 Hasil penelitian memperlihatkan kebanyakan responden tidak mengetahui dengan tepat fungsi meyimpan garam beriodium (46,7%), reponden hanya mengetahui bahwa fungsi menyimpan garam beriodium pada wadah yang tertutup rapat dan jauh dari hawa panas adalah bertujuan supaya garam tetap kering.
Kurangnya pengetahuan mengenai fungsi penyimpanan garam sebenarnya memiliki implikasi tersendiri.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Handayani, kadar iodium dipengaruhi oleh beberapa faktor terkait dengan penyimpanan. Kehilangan kandungan iodium terbanyak terjadi pada garam yang disimpan dengan menggunakan gelas berwarna merah gelap (Handayani, 2003). Kadar iodium garam akan semakin menurun seiring dengan lamanya garam disimpan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan pemahaman tentang tujuan penyimpanan garam beriodium dengan baik. Hal yang perlu ditekankan adalah kandungan iodium dalam garam yang dapat berkurang akibat penggunan media penyimpanan yang salah, lamanya waktu simpan, dan penempatan garam yang salah.
Kurangnya pengetahuan reponden pada beberapa aspek mengenai garam beriodium mengakibatkan responden tidak mendapat manfaat yang optimal dari penggunaan garam beriodium. Responden umumnya tidak mengetahui bahwa kandungan iodium dari garam beriodium itu dapat hilang akibat dari cara penggunaan yang salah. Menurut WHO (1996) cara pengolahan bahan makanan yang dimasak dengan menggunakan garam beriodium ternyata berpengaruh pada kadar iodium nya seperti menggoreng akan kehilangan 20% iodium, memanggang akan kehilangan iodium sebesar 23%, dan merebus akan kehilangan iodium lebih besar yaitu 58%. Dari hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden tidak mengetahui bahawa cara penggunaan garam sewaktu memasak yang benar yaitu saat masakan atau makanan di hidangkan (87,8%). Temuan tersebut sejalan dengan dari hasil penelitian Setiarini (2010) menunjukkan cara penggunaan garam beriodium oleh IRT pada proses pemasakan sebagian besar masih salah yaitu sebanyak 73,2%. Hal tersebut di karenakan responden beranggapan jika garam ditambahkan setelah proses memasak maka rasanya tidak akan meresap. Menurut penelitian dari Sihombing, cara menggunakan garam beriodium yang masih salah disebabkan karena sudah menjadi kebiasaan oleh IRT sewaktu proses memasak.
Faktor tingkat pendidikan akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Dari Tabulasi silang yang dilakukan antara pendidikan dan tingkat pengetahuan, di dapatkan bahwa, lebih dari sebagian reponden dengan tingkat pendidikan tinggi mempunyai tingkat pengetahuan cukup (51,6%) dan sebanyak 35,5%
mempunyai tingkat pengetahuan yang baik mengenai garam beriodium. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Sihombing (2014) tingkat pendidikan formal merupakan faktor yang ikut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap informasi gizi kesehatan sehingga seseorang memiliki pengetahuan
34 gizi dan kesehatan yang baik. Sehubungan dengan hal tersebut, reponden dengan tingkat pendidikan yang memiliki tingkat pengetahuan garam beriodium yang tinggi umumnya berusaha untuk memahami, menerapkan dan menyebarkan informasi kesehatan dalam hal ini garam beriodium ke dalam keluarga dan orang lain.
Responden dengan tingkat pendidikan kurang ditemukan memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 72,7%. Hasil ini sesuai dengan penelitian dari Sihombing, yang menyatakan bahwa pengetahuan seseorang tidak hanya diperoleh dari pendidikan formal saja tetapi juga diperoleh dari pendidikan non-formal. Pendidikan non-formal di peroleh dari pengalaman yang berasal dari sumber lain misalnya seperti media masa, media elektronik, buku, petugas kesehatan dan keluarga. Hal ini demikian, membuktikan bahwa informasi mengenai garam beriodium tidak semata-mata hanya didapatkan dari pendidikan formal.