PENJUALAN ANGSURAN
PENGGABUNGAN BADAN USAHA (BUSINESS COMBINATIONS)
Penggabungan badan usaha adalah usaha untuk menggabungkan suatu perusahaan dengan satu atau lebih perusahaan lain ke dalam satu kesatuan ekonomis.
Dari segi organisasinya usaha mengembangkan perusahaan, dapat dilakukan melalui salah satu dari dua jalan berikut:
a. Mengadakan ekspansi (perluasan usaha) dari usaha yang telah ada atau Internal business expansion.
b. Mengadakan penggabungan badan usaha atau External business expansion.
Di lihat dari segi cara pembentukannya, penggabungan usaha jmelalui external business expansion kini dapat dibedakan menjadi 2 cara, berikut:
1. Penggabungan badan usaha
Menggabungkan beberapa perusahaan yang telah ada sebelumnya menjadi satu perusahaan yang baru, atau berfungsinya beberapa perusahaan ke dalam satu perusahaan yang baru.
2. Pemilikan sebagian besar saham-saham perusahaan lain
Dengan dimilikinya sebagian besar saham-saham perusahaan lain, berarti berhak untuk sepenuhnya mengendalikan operasi dan manajemen perusahaan lain tersebut.
Bentuk-bentuk Penggabungan Badan Usaha Dari segi jenis usaha perusahaan yang bergabung:
1. Penggabungan horizontal
Terjadi apabila perusahaan-perusahaan yang bergabung menjalankan fungsi produksi dan penjualan barang-barang sejenis.
2. Penggabungan vertical
Apabila perusahaan yang semula merupakan langganan terhadap produk (jasa) yang diasilkan oleh perusahaan lain, atau sebaliknya perusahaan lain itu adalah suplies bahan baku baginya dan kemudian mengadakan penggabungan perusahaan; maka penggabungan demikian disebut penggabungan vertikal.
3. Penggabungan konglomerat
Merupakan kombinasi dari penggabungan horizntal dan vertikal. Terbentuk apabila perusahaan-perusahaan yang bergabung bukan perusahaan-perusahaan-perusahaan-perusahaan sejenis dan tidak pula mempunyai hubungan langganan – supplier.
Dilihat menurut kejadian hukumnya 1. Merger
Penggabungan perusahaan dengan jalan pemilikan langsung oleh suatu perusahaan terhadap harta milik dari satu atau lebih perusahaan lain yang di gabungkan.
2. Konsolidasi
Dalam proses penggabungan itu dibentuk sebuah perusahaan baru dengan tujuan khusus untuk membeli (mengambil alih) harta milik dan mengakui hutang-hutang dari dua atau lebih perusahaan yang telah ada.
Persoalan yang Timbul dalam Penggabungan Perusahaan Masalah Kontribusi Relatip Perusahaan yang Bergabung - Kontribusi relatip dari kekayaan bersih
- Kontribusi relatip dari laba yang diproyeksikan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Dasar yang Akan Dipakai Di dalam Menentukan Besarnya Kontribusi Relatip dari Masing-Masing Pihak
Ada dua faktor yang harus dipertimbangkan:
1. Apakah perusahaan yang baru dibentuk akan mengeluarkan satu jenis atau golongan surat berharga (modal saham) saja.
2. Apakah perusahaan yang baru dibentuk akan mengeluarkan dua atau lebih jenis (golongan) surat berharga (modal saham).
Penggabungan Perusahaan Dengan Mengeluarkan Satu Jenis Modal Saham Contoh 1:
PT Anon, PT Dian dan PT Dani bersepakat untuk bergabung dengan membentuk satu perusahaan baru dengan nama PT Siwi Peni. Kekayaan bersih menurut harga pasar dan keuntungan rata-rata selama lima tahun terakhir yang oleh masing-masing pihak dipercaya akan dapat dipertahankan untuk 5 tahun mendatang adalah sebagai berikut:
diserahkan 15.000.000 22.500.000 37.500.000 75.000.000 Kekayaan bersih relatip
terhadap kekayaan total 20% 30% 50% 100%
Jumlah keuntungan
yang di kontribusikan 2.250.000 2.250.000 3.000.000 7.500.000 Keuntungan relatip dari
keuntungan total 30% 30% 40% 100%
PT Siwi Peni mengeluarkan satu jenis saham atas dasar ratio kekayaan bersih, pemegang saham PT Anon, PT Dian, dan PT Dani masing-masing akan menerima modal saham tersebut dengan perbandingan; 20 : 30 : 50. Dengan demikian, pembagian modal dalam hubungannya dengan kontribusi masing-masing terhadap kekayaan bersih sebesar Rp.75.000.000 tetap sama seperti halnya pada saat sebelum mereka bergabung. Akan tetapi keuntungan sebesar Rp. 7.500.000 di kemudian hari akan dibagi sesuai dengan perbandingan modal saham yang dimiliki. Hal ini akan berakibat kerugian bagi pemegang saham PT Anon di satu pihak dan keuntungan bagi pemegang saham PT Dani di pihak yang lain.
Sebaliknya, jika modal dibagikan sesuai dengan perbandingan tingkat keuntungan relatip yang disumbangkan. Pemegang saham PT Anon, PT Dian, dan PT Dani masing-masing akan menerima jumlah sahm dengan perbandingan 30 : 30 :40. Dengan demikian meskipun pembagian keuntungan yang kelak diperoleh dapat dipertahankan seperti sediakala, kan tetapi para pemegang saham tidak dapat mempertahankan pemilikan terhadap kekayaan bersih yang diserahkan kepada perusahaan yang baru dibentuk. Hal ini berakibat para pemegang saham PT Anon akan mempunyai klaim terhadap net assets lebih besar dari jumlah yang ditanamkan, sebaliknya bagi para pemegang sahan PT Dani, klaim terhadap net assets pada perusahaan yang baru akan lebih kecil dibandingkan dari jumlah yang diinvestasikan.
Untuk menghindarkan ketidak-adilan sebagaimana disebutkan di atas, maka kontribusi dari masing-masing pihak harus ditentukan lebih lanjut dengan memperhatikan adanya kemampuan lebih untuk mendapatkan leuntungan dan menambah jumlah tersebut kepada kekayaan bersih yang diserahkan. Sedang sebgai dasar alokasi modal saham selanjutnya adalah kontribusi relatp daripada kekayaan bersih masing-masing yang telah ditambah dengan gooswill tersebut.
Contoh 2:
Jika dari contoh 1 di atas, di tentukan sebagai berikut:
Dengan ketentuan tersebut, maka jumlah kontribusi relatip yang diperhitungkan dengan mempertimbangkan kedua faktor itu dihitung sebagai berikut:
PT Anon
15.000.000 22.500.000 37.500.000 75.000.000 Goodwill:
Laba rata-rata 2.250.000 2.250.000 3.000.000
Laba normal 6% 900.000 1.350.000 2.250.000
Kelebihan di atas
laba normal 1.350.000 900.000 750.000
Kapitalisasi kelebihan laba normal 20%
6.750.000 4.500.000 3.750.000 15.000.000
Kontribusi relatip
Pada cara ini Modal Saham PT Siwi Peni, selanjutnya dikeluarkan dan dibagikan kepada masing-masing pihak atas dasar kontribusi relatip dari kekayaan bersih termasuk goodwill. Sedang besarnya kekayaan yang harus diakui oleh perusahaan yang baru dibentk dalam penggabungan perusahaan dapat dipakai dua dasar. Pertama perusahaan yang baru dibentuk dapat mengakui besarnya kekayaan yang diserahkan oleh masing-mmasing pihak sebesar kekayaan bersih termasuk goodwill. Kedua besarnya kekayaan yang diakui dan dicatat hanya sebesar kekayaan bersih riil, tidak termasuk goodwill.
Dibawah ini adalah prosedur pembukuan pada buku-buku PT Siwi Peni; masing-masing apabila modal saham dikeluarkan dalam hubungan nya dengan kontribusi kekayaan bersih termasuk goodwill, dan kontribusi yang diakui sebesar kekayaan bersih riil tanpa goodwill.
Keterangan
Goodwill diakui
PT Siwi Peni mengeluarkan 9.000 lb saham biasa, nominal
@ Rp. 10.000
Macam-macam aktiva Rp. 75.000.000 (D) Modal Saham Rp. 90.000.000 (K)
Alokasi Modal Saham =
PT Anon = Rp. 21.750.000 : 10.000 = 2.175 lb PT Dian = Rp. 27.000.000 : 10.000 = 2.700 lb PT Dani = Rp. 41.250.000 :10.000 = 4.125 lb Jumlah = 9.000lb
Meskipun pada masing – masing cara itu jumlah lembar saham yang di bagikan berbeda satu sama lain, akan tetapi cara alokasi tersebut memungkinkan prosentase pemilikan oleh masing-masing perusahaan yang terdahulu di dalam perusahaan yang baru di bentuk tetap sama. Pada cara ini klaim terhadap kekayaan bersih dan bagian terhadap keuntungan dari perusahaan terdahulu dalam perusahaan yang baru, akan menjadi sebgai berikut:
Kesimpulan:
Jika keuntungan relatip yang diserahkan berbeda dengan kekayaan bersih relatipnya dan satu jenis saham dikeluarkan dalam penggabungan perusahaan, maka perbandingan semula baik dalam hak atas bagian laba maupun klaim terhadap kekayaan bersihnya kedua-duanya tidak dapat dipertahankan dalam perusahaan yang baru.
Keterangan
Goodwill Tidak Diakui PT Siwi Peni mengeluarkan 7.500 lb Saham Biasa, nominal
@ Rp. 10.000
PT Siwi Peni mengeluarkan 18.750 lb Saham Biasa, nominal
@ Rp. 10.000
Agio Saham Rp. 18.750.000 (K) Alokasi Modal Saham:
'&.&&& x 18.7500 lb
= 4.375 lb dan hak atas pembagian laba, dalam perusahaan yang baru
24% 30% 46% 100%
Penggabungan Perusahaan dengan Mengeluarkan dua atau lebih Jenis Modal Saham
Jika dikehendaki agar proporsi pemilikan dan hak-hak dari masing-masing pihak dapat dipertahankan dalam perusahaan yang baru, maka perlu dikeluarkan lebih dari satu jenis saham.
Cara mengalokasikan modal saham tersebut, jika dikeluarkan lebih dari satu jenis diatur sebagai berikut:
1) Keuntungan relatip dari masing-masing pihak harus dikapitalisasikan dengan suatu tingkat atau tertentu. Suatu prioritas saham harus dikeluarkan dan dibagikan kepada masing-masing pihak, sesuai dengan jumlah kekayaan bersih riil yang diserahkan.
2) Saham biasa yang dikeluarkan adalah sebesar slisih antara modal saham yang harus dikeluarkan dikurangi dengan jumlah modal saham prioritas.
3) Preferensi saham prioritas terhadap kekayaan, dimaksudkan agar klaim terhadap kekayaan dlam perusahaan yang baru sama dengan kekayaan riil yang diserahkannya. Sedang saham prioritas juga harus berpartisipasi penuh, dimaksudkan agar ratio pembagian laba tetap dapat di pertahankan.
Dengan demikian itu mencakup keharusan untu dipertimbangkannya atau dikapitalisasikannya kemampuan memperoleh laba di atas laba normal dengan suatu tingkat tertentu. Apabila laba yang diperoleh oleh perusahaan baru dibentuk kurang dari jumlah laba yang didapat oleh masing-masing perusahaan sebelum digabungkan, maka hak atas laba dalam perusahaan yang baru tidak lagi sama dengan kontribusi relatip masing-masing pihak. Hal ini terjadi karena saham biasa yang dkeluarkan atas dasar laba di atas normal yag diperhitungkan itu ternyata tidak dapat direalisasikan.
Berarti, modal statuair untuk seluruh golongan saham dlam perusahaan yang baru dibentuk dan dibagikan kepada masing-masing pihak yang bergabung harus didasarkan atas kontribusi relatip dari keuntungannya. Prosentase yang dipakai sebagai dasar untuk mengkapitalisasikan laba tidak boleh lebih besar dari rentabilitas yang paling rendah di antara perusahaan yang bergabung dan hak prioritas atau preferensi atas pembagian laba dari Saham Prioritas. Laba yang diharapkan dari masing-masing perusahaan terdahulu dikapitalisasikan dengan satu prosentase tertentu, untuk menentukan jumlah saham yang akan dikeluarkan sebagai pembayaran atas kekayaan bersih yang diserahkan.
Apabila prosentase yang digunakan untuk mengkapitalisasikan laba melampaui rate of return dari kekayaan bersih riil, akan berakibat jumlah pembayaran kepada perusahaan terdahulu kurang dari jumlah kekayaan bersih riil yang diserahkan. Agar klaim terhadap kekayaan bersih di dalam perusahaan yang baru sesuai dengan kontribusinya, harus dikeluarkan modal saham yang nilainya lebih besar dari jumlah yang harus dibayar kepada perusahaan yang digabungkan tersebut.
Jika tingkat kapitalisasi yang dipakai lebih kecil dari prioritas hak atas laba dari saham preferen, ketidaksesuaian akan terjadi di dalam pembagian laba di antara perusahaan yang terdahulu.
Untuk mencapai keseimbagngan pembagian laba di antara perusahaan yang terdahulu diperlukan laba minimum pada perusahaan yang baru dibentuk jauh lebih besari dari tingkat laba yang diharapkan.
Contoh 3 :
PT. Anon, PT. Dian, dan PT. Dani pada contoh 1 bermaksud untuk mengadakan penggabungan badan usaha dengan membentuk perusahaan baru bernama PT Siwi Peni. Untuk itu telah disetujui PT Siwi Peni akan mengeluarkan 1.000 lembar 6% Sahan Prioritas, nominal @ Rp 100.000,00 per lembar dan 3.000 lembar Saham Biasa dengan nilai nominal @ Rp 25.000,00 per lembar. Data tentang kekayaan bersih yang akan diserahkan oleh masing-masing perusahaan dan laba yang diproyeksikan untuk setiap perusahaan itu nampa pada tabel berikut :
Perusahaan Kontribusi
Berdasar uraian tersebut, besarnya modal saham yang harus dikeluarkan untuk pembayaran kekayaan bersih yang diserahkan oleh masing-masing perusahaan menurut golongan saham sesuai dengan prosentase yang dipakai untuk mengkapitalisasi kemampuan memperoleh laba beserta pengaruhnya terhadap pembagian laba kelak di kemudian hari.
A. Tingkat kapitalisasi laba adalah 6% sama dengan prioritas yang diberikan kepada Pemegang Saham Preferen (Prioritas)
Penentuan besarnya nominal saham yang harus dikeluarkan dan alokasinya kepada masing-masing perusahaan yang bergabung yaitu :
PT Anon (Rp) PT Dian (Rp) PT Dani (Rp) Total (Rp) Laba yg
diproyeksikan
2.250.000 2.250.000 3.000.000 7.500.000 Rentabilitas
diperhitungkan 1.350.000 900.000 750.000 3.000.000 Modal saham
Apabila hal ini terjadi, maka laba (keuntungan) PT Siwi Peni sebesar Rp 7.500.000,00 di kemudian hari akan memberikan hak atas laba kepada para pemegang saham (perusahaan terdahulu) masing-masing 6% dari nominal sham yang dimilikinya seperti berikut :
PT Anon PT Dian PT Dani Total sesuai dengan kontribusi relatipnya dalam perusahaan gabungan, akan dapat dipertahankan apabila PT Siwi Peni meperoleh laba lebih besar atau sama dengan Rp 7.500.000,00.
Jumlah laba dibawah Rp 7.500.000,00 pada perusahaan yang baru dibentuk, berarti tidak dapat direalisasikanya jumlah laba sebelum terjadinya penggabungan yang tidak dipertahankan, sehungga pihak-pihak tertentu akan merasa untung dengan adanya penggabungan tersebut.
Risiko demikian itu akan menimpa pada pihak-pihak tertentu yang kontribusi relatip kekayaan bersihnya berbeda dengan kontribusi relatip keuntungannya. Pada contoh ini, risiko itu akan berlaku antara PT Anon dan PT Dani. laba sebesar Rp 4.500.000,00 yang didapat PT Siwi Peni misalnya, akan berakibat ratio pembagian laba di antara pemegang saham perusahaan terdahulu menjadi = PT Anon : PT Dian : PT Dani
= 20% : 30% : 50%.
Jumlah laba yang semakin mendekati jumlah yang dipoyeksikan, akan mengubah ratio pembagian laba menuju ke arah ratio keseimbangan tersebut.
B. Tingkat Kapitalisasi Laba sebesar 8%, di atas prosentase hak prioritas yang diberikan kepada Pemegang Saham Preferen (Prioritas)
Apabila laba dikapitalisasi dengan tingkat 8%, maka jumlah modal saham yang harus dikeluarkan oleh perusahaan yang baru dibentuk sebesar Rp 93.750.000,00 terdiri dari Saham Preferen Rp 75.000.000,00 dan saham biasa Rp 18.750.000,00. Alokasi sahm tersebut kepada (pemegang saham) perusahaan terdahulu, sebagai berikut :
PT Anon (Rp) PT Dian (Rp) PT Dani (Rp) Total (Rp) Laba yg
diproyeksikan
2.250.000 2.250.000 3.000.000 7.500.000 Rentabilitas
kekayaan bersih riil yg
diserahkan : 8% dari 15.000.000
1.200.000 - - 1.200.000
8% dari 22.500.000
- 1.800.000 - 1.800.000
8% dari 37.500.000
- - 3.000.000 3.000.000
Return on unrecorded intangibles
(goodwill) 1.050.000 450.000 - 1.500.000
Modal saham yg dikeluarkan : 6% Saham Preferen, sbsr kekayaan bersih riil
15.000.000 22.500.000 37.500.000 75.000.000
Saham biasa, sbsr goodwill yg dibentuk :
1.050.000/0,08 13.125.000 - - 13.125.000
450.000/0,08 - 5.625.000 - 5.625.000
Jumlah 28.125.000 28.125.000 37.500.000 93.750.000
Pembagian laba sebesar Rp 7.500.000,00 di kemudian hari akan memberikan hak atas laba kepada para pemegang saham (perusahaan terdahulu) sebagai berikut :
PT Anon PT Dian PT Dani Total
Komposisi pembagian laba tetap dapat dipertahankan seperti keadaan sebelum terjadinya penggabungan. Akan tetapi apabila tingkat kapitalisasi laba leih besar dari hak prioritas atas pembagian laba yang diberikan kepada saham preferen dan presentase itu tidak lebih besar dari rate of return terendah di antara peusahaan-perusahaan yang bergabung, maka komposisi pembagian laba dapat dipertahankan sejak tingkat laba yang dibentuk sama dengan hak prioritas saham preferen. Pada contoh sejak PT Siwi Peni memperoleh laba sebesar Rp 5.625.000,00 (6% dari Rp 93.750.000,00), pembagian laba akan mencapai komposisi sebelum terjadi penggabungan, meskipun jumlah laba itu belum mencapai laba yang diproyeksikan.
Pembagian laba sebesar Rp 5.625.000 akan memberikan hak atas laba masing-masing sebesar PT Anon Rp 1.687.500, PT Dian Rp 1.687.500, PT Dani Rp 2.250.000.
C. Tingkat Kapitalisasi Laba sebesar 5%, lebih rendah dari hak prioritas pembagian laba yang diberikan kepada Pemegang Saham Preferen (Prioritas)
Pada cara ini modal saham yang dikeluarkan perusahaan yang baru dibentuk akan berjumlah Rp 150.000.000,00 terdiri dari masing-masing Rp 75.000.000,00 untuk setiap golongan saham. Perhitungan moda saham yang harus dikeluarkan dan alokasinya kepada masing-masing pihak adalah sebagai berikut :
PT Anon (Rp) PT Dian (Rp) PT Dani (Rp) Total (Rp) Laba yg
diproyeksikan 2.250.000 2.250.000 3.000.000 7.500.000 Rentabilitas
kekayaan bersih riil yg
diserahkan : 5% dari 15.000.000
750.000 - - 750.000
5% dari 22.500.000
- 1.125.000 - 1.1250.000
5% dari 37.500.000
- - 1.875.000 1.875.000
Return on unrecorded intangibles
(goodwill) 1.500.000 1.125.000 1.125.000 3.750.000 Modal saham
yg dikeluarkan : 6% Saham Preferen, sbsr kekayaan bersih
riil 15.000.000 22.500.000 37.500.000 75.000.000 Saham biasa,
sbsr goodwill yg dibentuk
1.500.000/0,05 30.000.000 - - 30.000.000
1.125.000/0,05 - 22.500.000 - 22.500.000
1.125.000/0,05
45.000.000 45.000.000
22.500.000 60.000.000
22.500.000 150.000.000
Sedang pembagian laba sebesar Rp 7.500.000,00 dikemudian hari tidak akan memberikan hak-hak sesuai komposisi pada saat sebelum diadakan penggabungan, meskipun jumlah tersebut sesuai dengan laba yang diproyeksikan.
Hal ini disebabkan hak prioritas pembagian laba yang diberikan kepada saham preferen lebih besar dari tingkat laba yang diharapkan. Pembagian laba sebesar Rp 7.500.000,00 akan menghasilkan komposisi sebagai berikut :
Jumlah 2.100.000 2.250.000 3.150.000 7.500.000
Bagian laba
stlh pgbgan 28% 30% 42% 100%
Bagian laba
sblm pgbgan 30% 30% 40% 100%
Pada cara ini komposisi pembagian laba itu akan mencapai komposisi seperti keadaan sebelum penggabungan, apabila tingkat laba perusahaan yang baru dibentuk minima 6% dari jumlah aktivanya atau sebesar Rp 9.000.000,00, yaitu sama dengan hak prioritas yang diberikan kepada pemegang saham
Jumlah 2.700.000 2.700.000 3.600.000 9.000.000
Bagian laba
stlh pgbgan 30% 30% 40% 100%
Bagian laba
sblm pgbgan 30% 30% 40% 100%
D. Kapitalisasi Laba sebesar 10%, lebih besar dari tingkat laba yang paling rendah diantara perusahaan-perusahaan yang bergabung
Modal saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang baru dibentuk berjumlah Rp 75.000.000,00.
Dengan demikian tidak ada goodwill yang harus diperhitungkan di dalan penggabungan badan usaha.
Pada cara ini pembagian laba oleh perusahaan yang baru , tidak akan pernah mencapai komposisi semula pada saat sebelum terjadi penggabungan. Pembagian laba sebesar Rp 7.500.000,00 di kemudian hari akan berakibat komposisi pembagian laba menjadi sebagai berikut :
Setelah Penggabungan Komposisi sblm
penggabungan
Komposisi pembagian laba demikian itu akan terjadi pada setiap tingkat laba yang didapat oleh perusahaan yang baru.
Meskipun dalam penggabungan ini, misalnya ada goodwill yang dibentuk tetapi selama tingkat kapitalisasi laba adalah lebih besar dari tingkat laba paling rendah di antara perusahaan yang bergabung, maka komposisi keseimbangan pembagian laba itu tidak pernah dapat dicapai.
E. Tingkat Kapitalisasi Laba Normal berbeda dengan Laba di atas Normal
Penentuan jumlah modal saham yang harus dikeluarkan oleh perusahaan yang baru dibentuk sebagai pembayaran atau kekayaan bersih yang diserahkan oleh perusahaan – perusahaan terdahulu dihitung dengan mengkapitalisasi laba yang diproyeksikan untuk masing – masing perusahaan dengan suatu prosentase tertentu. Prosentase tersebut diperlakukan sama untuk keseluruhan laba yang diharapkan, tanpa dibedakannya kemampuan untuk memperoleh laba yang normal dan kemampuan untuk memperoleh laba diatas normal dari masing – masing perusahaan.
Contoh 4 : Kapitalisasi Laba Normal 5%, Laba di atas Normal 10%
PT EVS didirikan dengan menggabungkan sumber – sumber potensial yang dimiliki oleh PT Dahlia dan PT Wijaya. Akte pendirian yang mengatur tentang permodalan PT EVS sebagai berikut :
Modal Statutair sebesar Rp 500.000.000,00 terdiri dari : 5% Saham Preferen. Tidak berpartisipasi
sebanyak 2.500 lembar,@Rp
100.000,00/lembar Rp 250.000.000,00
Saham Biasa, sebanyak 5.000 lembar, @Rp
50.000,00/lembar Rp 250.000.000,00
Jumlah Rp 500.000.000,00
Informasi keuangan PT Dahlia dan PT Wijaya, yang digunakan sebagai titik tolak dalam penggabungan kedua perusahaan tersebut :
PT Dahlia PT Wijaya
Kekayaan Bersih Riil Rp 50.000.000 Rp 150.000.000 Laba yang Diproyeksikan Rp 7.500.000 Rp 15.000.000 Prosentase laba dari kekuasaan
bersih 15% 10%
Sesuai dengan ketentuan dan uraian di atas, maka perhitungan penentuan jumlah modal saham PT EVS yang harus dikeluarkan dalam penggabungan PT Dahlia dan PT Wijaya serta alokasinya kepada masing – masing pihak yaitu :
Perhitungan PT Dahlia PT Wijaya Total
Laba diproyeksikan
-tingkat laba atas kekuasaan bersih riil yang diserahkan 5% dari 50.000.000 -tingkat laba atas aktiva tak
berwujud, yang tidak dibukukan
5.000.000 7.500.000 12.500.000 Modal saham yang harus
dikeluarkan :
-5% saham preferen, sebesar kekayaan bersih riil
-saham biasa, sebesar goodwill 50.000.000 150.000.000 200.000.000
b. 7.500.000 :0,10
Jumlah 100.000.000 225.000.000 325.000.000
Ratio pembagian laba setelah penggabungan
-tingkat laba atas kekayaan bersih riil
-tingkat laba atas aktiva tak berwujud
Tabel berikut memperlihatkan berbagai kemungkinan ratio pembagian laba kepada para pemegang saham perusahaan – perusahaan terdahulu pada setiap tingkat laba yang dicapai oleh PT EVS.
Tingkat laba setelah
penggabungan
Pembagian laba Ratio pembagian laba sebelum penggabungan
Ratio pembagian laba setelah penggabungan
Keuntungan (kerugian)
Jumlah
(Rp) % PT.Dahlia PT.Wijaya PT Dahlia PT.Wijaya PT.Dahlia PT.Wijaya PT.Dahlia PT.Wijaya
5000 1,00 1.250 3.750 33,30 66,70 25,0 75,0 (8,30) 8,30
Masalah Akuntansi Dalam Penggabungan Badan Usaha
Dilihat dari segi akuntansi, apabila dua atau lebih badan usaha diselenggarakan bersama atau digabungkan, dengan tujuan untuk melanjutkan usaha – usahanya terdahulu, sebagai akibat adanya kombinasi tersebut dibedaka dalam 2 cara pencatatan, yaitu :
1. Penggabungan Badan Usaha atas dasar Pembelian (By Purchase)
Penggabungan badan usaha atas dasar pembelian terjadi apabila dalam suatu kombinasi usaha dari dua atau lebih badan usaha dimana bagian yang terpenting dari pemilikan perusahaan atau perusahaan – perusahaan yang diperoleh itu dieliminasikan. Atau jika penggabungan badan usaha tersebut berakibat para pemilik perusahaan yang bergabung tidak lagi ikut berpartisipasi secara substansiil.
Terdapat beberapa faktor yang digunakan untuk menentukan seberapa jauh adanya suatu kepemilikan baru atas penerusan dari pemilikan lama di dalam suatu kombinasi usaha, yaitu :
- Apabila saham – saham yang diterima oleh beberapa pemilik dari perusahaan yang terdahulu tidak secara substansial sebanding dengan kepentingannya pada perusahaan terdahulu.
- Apabila bagian – bagian hak suara yang ada di antara perusahaan yang tergabung itu berubah secara material melalui pengeluaran hak kepemilikan yang lebih utama.
- Apabila ada suatu rencana yang pasti untuk menarik bagian terpenting dari modal saham yang dikeluarkan kepada para pemilik dari satu atau lebih perusahaan yang bergabung. Atau terdapat
perubahan substansial di dalam pemilikan yang terjadi segera sebelum atau segera sesudah kombinasi.
- Apabila manajemen dari salah satu perusahaan yang bergabung itu dieliminasikan, atau pengaruhnya terhadap manajemen secara keseluruhan perusahaan – perusahaan sedemikian kecil, maka merupakan petunjuk adanya “pembelian”.
- Contoh 5 :
Berikut adalah neraca PT Danny, PT Hanny, dan PT Sanny pada tanggal 1 Juli 1979.
PT Danny PT Hanny PT Sanny Aktiva lain lain 150.000.000 93.750.000 75.000.000
Jumlah 150.000.000 93.750.000 75.000.000
Hutang Jumlah hutang dan modal 150.000.000 93.750.000 75.000.000
Pada saat posisi keuangan masing – masing seperti tersebut di atas para pemegang saham bersepakat untuk mengadakan penggabungan badan usaha. PT Danny yang akan tetap meneruskan usaha – usahanya bersedia membeli kekayaan bersih PT Hanny dan PT Sanny. Sebagai alat pembayaran PT Danny akan mengeluarkan modal sahamnya yang pada tanggal tersebut mempunyai harga pasar @ Rp 50.000/lembar. Penilaian kembali terhadap harta kekayaan PT Hanny dan PT Sanny sesuai dengan persetujuan bersama mengakibatkan kenaikan kekayaan bersih PT Hanny sebesar Rp 11.250.000 dan kekayaan bersih PT Sanny sebesar Rp 7.500.000.
Jumlah saham PT Danny yang akan dikeluarkan sesuai dengan kontribusi kekayaan bersih setelah diadakan penilaian kembali, untuk para pemegang saham PT Hanny dan PT Sanny dihitung sebagai berikut :
PT Hanny PT Sanny Jumlah Jumlah kekayaan bersih 75.000.000 56.250.000 131.250.000
PT Hanny PT Sanny Jumlah Jumlah kekayaan bersih 75.000.000 56.250.000 131.250.000