• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Penanaman Modal Asing (PMA)

2.5.3 Penggolongan Inflasi a. Menurut penyebabnya

1. Demand-pullinflation (inflasi tarikan permintaan). Inflasi yang terjadi karena adanya kenaikan permintaan total (agregat demand) sementara produksi telah berada pada kondisi full employment.

2. Cost Push Inflation (inflasi dorongan biaya). Inflasi yang diakibatkan oleh peningkatan biaya selama periode pengangguran tinggi dan penggunaan sumberdaya yang kurang aktif.

b. Menurut tingkat keparahannya

1. Inflasi ringan (<10% setahun), ditandai dengan kenaikan harga yang berjalan secara lambat dan persentase yang kecil serta dalam jangka waktu yang relatif.

2. Inflasi sedang (10%-30% setahun), ditandai dengan kenaikan harga relatif cepat atau perlu diwaspadai dampaknya terhadap perekonomian.

3. Inflasi berat (30%-100%), ditandai dengan kenaikan cukup besar dan kadang-kadang berjalan dalam waktu yang relatif pendek dan mempunyai sifat akselerasi yang artinya harga minggu atau bulan ini lebih tinggi dibanding dengan harga minggu atau bulan lalu.

4. Inflasi terakhir yang paling parah disebut dengan hiperinflasi (>100%

setahun), ditandai dengan kenaikan harga-harga umum yang berlangsung sangat cepat yang dapat merusak perekonomian. Selama periode ini terjadi, tingkat harga dan upah tidak bergerak dalam tingkatan yang sama, maka inflasi akan memberikan dampak redistribusi pendapatan dan kekayaan diantara golongan ekonomi dalam masyarakat serta menimbulkan terjadinya distorsi dalam harga relatif, output, dan kesempatan kerja, dan ekonomi secara keseluruhan.

2.6. Penelitian Terdahulu

Tabel 2.2.

Penelitian Terdahulur

No Nama Judul Variabel Metode Penelitian Hasil

1 Ade

Hasil estimasi ternyata terjadi hubungan timbal balik antara variabel dimana semua variabel yaitu variabel kebijakan fiskal (TAX dan GOV), variabel kebijakan moneter (SBK dan JUB) dan variabel stabilitas ekonomi makro (PDB, INV, KURS, INF) saling berkontribusi. Hasil analisis interaksi kebijakan fiskal dan moneter terhadap stabilitas ekonomi makro menunjukkan bahwa kebijakan fiskal efektif dalam peningkatan INV dan stabilitas KURS melalui TAX dan GOV, sedangkan kebijakan moneter lebih efektif dalam peningkatan PDB dan stabilitas INF melalui pengendalian SBK dan JUB, maka kebijakan moneter lebih efektif dibandingkan

Hasil penelitian memberikan kesimpulan bahwa di 4 negara yaitu, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Philipina, terdapat kausalitas antara ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia dan Malaysia, pertumbuhan ekonomi mempengaruhi ekspor, di Thailan dan Philipina, ekspor

Asean yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

sementara itu di Singapura tidak terdapat kausalitas antara ekspor dan pertumbuhan ekonomi pada derajat integrasi I, I(I).

2 Ester

Model ekonometrika Hasil penelitian menunjukkan bahwa PDB berpengaruh signifikan dan positif terhadap nilai total impor, nilai impor migas dan non migas. Nilai tukar rupiah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai total impor dan nilai impor non migas tetapi tidak signifikan terhadap nilai impor migas.

Tingkat inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai total impor dan nilai impor non migas tetapi tidak signifikan terhadap nilai impor migas.

3 Eva

Hasil penelitian bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia antara tahun 1984 sampai dengan tahun 2005 di pengaruhi oleh invenstasi dan konsumsi masyarakat dari pada ekspor neto yang diperoleh dari selisih antara ekspor dan impor Indonesia.

4 Hastian

Berdasarkan hasil estimasi pada persamaan cadangan devisa menunjukan bahwa cadangan devisa tahun sebelumnya berpengaruh positif dan signifikan terhadap cadangan devisa. Cadangan devisa, investasi asing langsung dan inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap net ekspor serta net ekspor, jumlah uang

beredar dan

suku bunga SBI berpengaruh positif dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel penelitian yang secara dominan mengkontribusi inflasi adalah shock pengeluaran pemerintah (åG), shock pajak (åT)

dan shock tingkat bunga (åR), variabel penelitian yang secara dominan mengkontribusi PDB adalah shock pengeluaran pemerintah (åG).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (jalan sedang, jalan rusak ringan dan jalan rusak berat), inflasi dan tingkat suku bunga berpengaruh negatif terhadap investasi.

PDRB dan jalan baik berpengaruh positif.

Elastisitas (jalan sedang, jalan rusak ringan dan jalan rusak berat) lebih besar dari variabel lainnya kecuali PDRB. Hasil penelitian terhadap ekspor menunjukkan bahwa jalan rusak ringan dan jalan rusak berat secara simultan berpengaruh negatif terhadap ekspor di Provinsi Sumatera Utara.

7 Rita

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa inflasi berkontribusi terhadap harga minyak dunia, sementara pengangguran terkontribusi terhadap inflasi, harga minyak dunia berkontribusi terhadap inflasi,

beredar (M1),

pengangguran dan jumlah uang beredar.

Selanjutnya produk domestik bruto, jumlah uang beredar dan net-goverment berkontribusi terhadap inflasi dan pengangguran dan nilai tukar berkontribusi terhadap inflasi.

Model Ekonometrika Hasilnya Nilai invenstasi domestik (INV) memberikan pengaruh yang positif terhadap ekspor non migas (ENM) dan perdagangan internasional mempunyai pengaruh yang positif terhadap ekspor nonmigas.

Hasil estimasi metode 2SLS (Two Stage Least Square) PDB menunjukkan bahwa surat berharga pasar uang berpengaruh negatif dan signifikan, tabungan pemerintah berpengaruh positif dan signifikan dengan tingkat kepercayaan α = 1 persen terhadap PDB, PDB, uang beredar dalam arti sempit tahun sebelumnya berpengaruh positif dan negatif

dan signifikan dengan α = 1 persen terhadap surat berharga pasar uang. Indeks harga konsumen dengan α = 5 persen berpengaruh positif dan signifikan.

2.7. Kerangka Konsep

Berdasarkan data beberapa tahun terakhir, produk domestik mengalami kenaikan.

Banyak hal yang mempengaruhi produk domestik bruto Indonesia diantaranya ekspor sektor industri, penanaman modal asing sektor industri dan inflasi. Indikasi, ekspor sektor industri juga berpengaruh signifikan secara langsung dan tidak langsung terhadap produk domestik bruto Indonesia.

Dalam menunjang kondisi produk domestik bruto Indonesia modal dalam negeri tidak cukup untuk dijadikan modal terutama untuk sektor-sektor perekonomian yang membutuhkan suntikan dana yang sangat besar oleh karena itu perlunya PMA. Terutama PMA sektor industri yang sangat membutuhnya seperti transfer teknologi, dalam sektor industri PMA sangat-sangat dibutuhkan karena modal yang gunakan sangat besar.

Agar penanaman modal asing bisa masuk dan mau berinvestasi dalam negeri pengendalian inflasi dalam negeri harus dilakukan sehingga kondisi produk domestik bruto terus meningkat. Berdasarkan uraian teori di atas, maka penelitian akan menguraikan kerangka berpikir agar dimudahkan dalam melakukan penelitian. Berikut merupakan gambar kerangka pemikiran :

Gambar 2.1. Kerangka Konseptual Ekspor Sektor

Industri (X1)

PMA Sektor Industri (X2)

Produk Domestik Bruto (PDB)

(Y) Inflasi

(X3)