6.1 Keragaan Usahatani Padi Bondoyudo
6.1.1 Penggunaan Input
Input yang digunakan pada usahatani padi Bondoyudo adalah benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja yang dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Rata-rata Penggunaan Input Usahatani Padi Varietas Bondoyudo per Hektar per Musim Tanam
No Uraian Jumlah Harga (Rp) Nilai (Rp)
1 Benih 26,03 kg 1.000 26.030 2 Pupuk Urea NPK (Ponska) TSP Organik 96,52 kg 261,90 kg 10,99 kg 25,27 kg 1.500 2.000 2.000 1.000 144.780 523.800 21.980 25.270
Total biaya pupuk 715.830
3 Pestisida Furadan (padat) Ripcor Decis Sidabas Micinta 17,73 kg 2,97 kaleng 2,34 kaleng 1,98 kaleng 0,19 kaleng 12.500 12.000 7500 10.000 12.000 221.625 35.640 17.550 19.800 2.228
Total biaya pestisida 296.843
4 Tenaga kerja
-Tenaga kerja luar keluarga -Tenaga Kerja Keluarga
104,83 12,7 20.000 20.000 2.096.600 254.000
54 a. Benih
Dari 40 responden petani padi Bondoyudo di daerah penelitian diketahui bahwa 100 persen petani menggunakan benih berlabel atau bersertifikat. Petani memperoleh benih dari pemerintah yang diberikan langsung melalui Gapoktan. Setiap petani yang tergabung dalam Gapoktan berhak mendapat benih dengan membayar biaya operasional sebesar Rp 5000 per lima kilogram. Dengan adanya benih bantuan pemerintah, petani merasa sangat terbantu dalam penyediaan benih mengingat harga benih bersertifikat di kios atau toko pertanian yang cukup mahal dan kualitasnya kurang terjamin.
Rata-rata penggunaan benih padi Bondoyudo adalah 26,03 kilogram per hektar per musim tanam. Jumlah penggunaan benih tersebut lebih besar dari jumlah benih yang dianjurkan oleh pemerintah yaitu 25 kilogram per hektar per musim tanam. Hal tersebut terjadi karena petani khawatir apabila benih yang tumbuh sedikit atau mati maka kelebihan benih tersebut dapat digunakan untuk penyulaman.
b. Pupuk
Pupuk yang digunakan untuk padi varietas Bondoyudo adalah pupuk Urea, Phonska (NPK), dan TSP. Rata-rata penggunaan pupuk oleh petani padi per hektar per musim tanam adalah Urea 96,52 kilogram, Phonska 261,9 kilogram dan TSP 10,99 kilogram. Total penggunaan pupuk untuk satu musim tanam 369,41 kilogram per hektar.
Standar dosis pupuk yang digunakan petani yang dianjurkan oleh penyuluh adalah dengan komposisi urea 100 kilogram per hektar per musim tanam dan NPK (Phonska) 300 kilogram per hektar per musim tanam. Petani sebaiknya tidak perlu menggunakan TSP dan KCl karena kandungan P pada TSP dan K pada KCl sudah terdapat pada NPK. Kenyataan di lapang, tidak semua petani mengikuti anjuran tersebut disebabkan karena kekurangan modal untuk membeli pupuk sehingga penggunaan pupuk pada usahatani kurang dari standar yang dianjurkan oleh penyuluh. Sebagian petani juga masih menggunakan TSP padahal penyuluh tidak menganjurkan petani untuk menggunakan TSP apabila sudah menggunakan NPK. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan petani akan teknik pemupukan yang baik. Pupuk kimia diperoleh di toko-toko atau kios
55 pertanian yang terdapat di sekitar tempat tinggal petani dan pasar. Harga pupuk tersebut masing-masing untuk Urea, TSP dan NPK adalah Rp 1.500; Rp 2.000; Rp 2.000 per kilogram.
Selain pupuk kimia, petani menggunakan pupuk organik yang diperoleh dari bantuan pemerintah. Distribusi pupuk organik adalah melalui Gapoktan dengan membayar biaya operasional sebesar Rp 5.000 per lima kilogram. Penggunaan pupuk organik di daerah penelitian adalah rata-rata 25,27 kilogram per hektar per musim tanam. Berdasarkan wawancara dengan pihak penyuluh pertanian, dikatakan bahwa penggunaan pupuk organik dapat menghemat penggunaan pupuk kimia dan produksi padi akan lebih tinggi. Akan tetapi petani sudah sangat tergantung dengan penggunaan pupuk kimia sehingga walaupun sudah menggunakan pupuk organik namun petani tetap menggunakan pupuk kimia dengan dosis yang sama dan bahkan masih banyak petani yang belum memanfaatkan adanya pupuk organik subsidi tersebut.
c. Pestisida
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan pestisida yang terdiri dari pestisida padat dan cair atau serbuk. Pestisida padat adalah furadan yang diberikan dengan cara ditaburkan pada lahan sawah. Jumlah penggunaan furadan yang tepat di daerah penelitian adalah 20 kilogram per hektar. Namun berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata penggunaan furadan per hektar per musim tanam adalah 17,73 kilogram. Jumlah penggunaan furadan yang tidak sesuai dengan ukuran ajuran pemerintah disebabkan karena kurangnya modal petani untuk membeli furadan, dimana harga furadan adalah Rp 12.500 per kilogram.
Pestisida dalam bentuk serbuk dan cair yang digunakan untuk usahatani padi Bondoyudo adalah Ripcor, Decis, Sidabas dan Micinta. Petani menggunakan pestisida-pestisida tersebut sesuai dengan jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman. Penggunaan pestisida ini adalah dengan mencampur dengan air sesuai takaran kemudian pestisida tersebut disemprotkan pada tanaman yang terserang hama dan penyakit sesuai dengan tingkat kerusakan tanaman. Petani tidak mempunyai standar khusus dalam penggunaan pestisida serbuk dan cair, justru petani menghindari penggunaan pestisida ini. Berdasarkan hasil penelitian,
56 jenis pestisida paling banyak menggunakan Ripcor yaitu dengan rata-rata 2,97 kaleng per hektar per musim tanam.
d. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap biaya usahatani. Perhitungan biaya tenaga kerja untuk padi varietas Bondoyudo adalah dengan menghitung hari orang kerja (HOK) dikalikan dengan upah per HOK. Perhitungan biaya tersebut digunakan untuk menghitung biaya tenaga kerja mulai pembuatan media bibit, menabur, meratakan tanah, menggarisi lahan penanaman, penyulaman dan penyiangan pemupukan, penyemprotan dan panen. Pada Tabel 13 dapat dilihat jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam proses budidaya padi Bondoyudo.
Tabel 13. Jumlah Penggunaan Tenaga Kerja dalam Proses Budidaya Padi Bondoyudo
No Proses Budidaya HOK keluarga HOK luar keluarga
1 Pembibitan 20,25 3,5
2 Pengolahan lahan 35,3 958,25
3 Penanaman 28,13 98,28
4 Pemupukan 11,69 9,13
5 Penyiangan dan penyulaman 29,84 44,55
6 Pengendalian hama dan penyakit 10,95 9,13
7 Pemanenan 210,4 1339,012
Total 346,5 2861,81
Di daerah penelitian satu hari kerja berkisar enam jam yang dimulai dari pukul 06.00 sampai pukul 12.00 dengan upah Rp 15.000 per hari untuk pria dan Rp 12.000 per hari untuk wanita. Adanya perbedaan upah pria dan wanita menyebabkan satu hari kerja wanita (HKW) terlebih dahulu dikonversikan ke hari kerja pria (HKP). Tenaga kerja pria dengan upah Rp 15.000 dihitung sebagai satu HKP sedangkan wanita dengan upah Rp 12.000 dihitung sebagai 0,8 HKP. Perhitungan tersebut diperoleh dari pembagian antara upah wanita dengan upah pria.
Jumlah hari kerja yang dibutuhkan petani untuk melaksanakan suatu kegiatan usahatani dikonversikan ke jumlah HOK. Ketetapan satu HOK dalam usahatani adalah 8 jam sehingga satu hari kerja di daerah penelitian setara dengan
57 6/8 HOK. Demikian juga dengan upah dimana upah per hari di daerah penelitian dikonversikan ke upah per HOK. Karena sebelumnya HKW telah dikonversikan ke HKP maka upah per hari yang ditetapkan adalah Rp 15.000. Upah tersebut merupakan upah selama enam jam kerja sehingga upah per jam Rp 2.500. Oleh karena itu upah per HOK selama 8 jam adalah Rp 20.000.
Sistem upah tenaga kerja di tempat penelitian terdapat dua bagian yaitu upah harian dan upah ngepak. Tenaga kerja ngepak adalah tenaga kerja upahan mulai dari proses penanaman hingga panen atau mulai proses penyiangan hingga panen tergantung kesepakatan pemilik lahan dengan tenaga kerja upah tersebut. Upah bagi tenaga kerja ngepak dihitung berdasarkan jumlah produksi padi dengan perbandingan satu banding empat. Kegiatan membajak tanah dilakukan dengan menyewa traktor dengan sistem borongan. Biaya sewa traktor berkisar Rp 800.000 per hektar. Selain traktor, pengolahan lahan juga dilakukan dengan menggunakan bajak kerbau dengan biaya sewa Rp 400.000 per hektar.