BAB 2 STUDI LITERATUR
2.3 Keramba Apung Konvensional
2.3.3. Pengikat Keramba Apung Konvensional
Tali pengikat sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat, seperti tambang plastik, kawat ukuran 5 mm, besi beton ukuran 8 mm atau 10 mm. Tali pengikat ini digunakan untuk mengikat kerangka jaring terapung, pelampung atau jaring.
11 2.3.4. Jangkar Keramba Apung Konvensional
Jangkar berfungsi sebagai penahan jaring terapung agar rakit jaring terapung tidak hanyut terbawa oleh arus air dan angin yang kencang. Jangkar terbuat dari bahan batu, semen atau besi. Pemberat diberi tali pemberat/tali jangkar yang terbuat dari tambang plastik yang berdiameter sekitar 10 mm – 15 mm. Jumlah pemberat untuk satu unit jaring terapung empat petak/kantong adalah sebanyak 4 buah. Pemberat diikatkan pada masing-masing sudut dari kerangka jaring terapung. Berat jangkar berkisar antara 50 – 75 kg. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.8
Gambar 2.8 Jenis-jenis Jangkar Keramba Jaring Apung (Sumber: perikananptk.blogspot.com, 2018)
2.3.5. Jaring Keramba Apung Konvensional
Jaring yang digunakan untuk budidaya ikan di perairan umum, biasanya terbuat dari bahan polyethylene atau disebut jaring trawl. Ukuran mata jaring yang digunakan tergantung dari besarnya ikan yang akan dibudidayakan. Kantong jaring terapung ini mempunyai ukuran bervariasi disesuaikan dengan jenis ikan yang dibudidayakan, untuk ikan air laut ukuran kantong jaring yang biasa digunakan berukuran mulai 2 X 2 X 2 m sampai 5 X 5 x 5 m.
Sedangkan untuk jenis ikan air tawar berkisar antara 3 X 3 X 3 m sampai 7 X 7 X 2,5 m.
Untuk mengurangi resiko kebocoran akibat gigitan binatang lain, biasanya kantong jaring terapung dipasang rangkap (doubel) yaitu kantong jaring luar dan kantong jaring dalam.
Ukuran jaring bagian luar biasanya mempunyai mata jaring (mesh size) yang lebih besar.
Salah satu contohnya adalah sebagai berikut :
a. Jaring polyethylene no. 380 D/9 dengan ukuran mata jaring (mesh size) sebesar 2 inch (5,08 cm) yang dipergunakan sebagai kantong jaring luar.
b. Jaring polyethylene no. 280 D/12 dengan ukuran mata jaring 1 inch (2,5 cm) atau 1,5 inch (3,81 cm) dipergunakan sebagai kantong jaring dalam.
12
Jaring yang mempunyai ukuran mata jaring lebih kecil dari 1 inch biasanya digunakan untuk memelihara ikan yang berukuran lebih kecil. Di perairan umum, khususnya dalam budidaya ikan di jaring terapung ukuran jaring yang digunakan adalah ukuran ¾ - 1 inch.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Ukuran Mata Jaring yang Digunakan Berdasarkan Ukuran Ikan yang Dibudidayakan.
No Ukuran mata
Kantong jaring yang digunakan untuk memelihara ikan dapat diperoleh dengan membeli jaring utuh. Dalam hal ini biasanya jaring trawl dijual dipasaran berupa lembaran atau gulungan. Langkah awal yang harus dilakukan untuk membuat kantong jaring adalah membuat desain/rancangan kantong jaring yang akan dipergunakan. Ukuran kantong jaring yang akan dipergunakan berkisar antara 2 X 2 m sampai dengan 10 X 10 m. Setelah ukuran kantong jaring yang akan dipergunakan, misalnya akan dibuat kantong jaring dengan ukuran 7 X 7 X 2 m, langkah selanjutnya adalah memotong jaring. Untuk memotong jaring harus dilakukan dengan benar berdasarkan pada ukuran mata jaring dan tingkat perenggangannya saat terpasang di perairan.
2.3.6. Sistem Mooring Keramba Apung :
Menurut API RP 2SK tahun 2015 terdapat tiga tipe sistem tambat yang dibedakan yaitu spread mooring, single point mooring dan dynamic positioning (DP). Spread mooring sistem tabat yang sangat baik digunakan untuk bangunan apung berbentuk seperti kapal (ship-shaped vessels). Seiring dengan perkembangan jaman, spread mooring lebih banyak digunakan untuk bangunan tidak berbentuk seperti kapal. Hal itu dikarenakan sensivitas terhadap arah datang lingkurangan yang rendah. Spread mooring dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Catenary Mooring
Caternary mooring merupakan mooring yang digunakan pada kondisi perairan dangkal menuju dalam. Pada sistem tambat ini gaya pengembali dilakukan oleh berat dari mooring lines.
13
Gambar 2.9 Tali Tambat dengan Sistem Caternary Mooring (Sumber: www.dredgingengineering.com, 2018)
b. Taut Leg Mooring
Taur leg mooring merupakan yang digunakan pada kondisi laut dalam. Sistem mooring ini akan membentuk sudut antara tali tambat dengan dasar laut sehingga dapat menahan gaya horizontal dan vertikal
Gambar 2.10 Tali Tambat dengan Sistem Taut Leg Mooring (Sumber: www.dredgingengineering.com, 2018)
Pemasaangan mooring dilakukan tergantung dengan kebutuhan. Cara pemasangan yang bisa dipilih diantaranya :
a. Dipasang mengunakan tali (mooring) dan pile pancang.
b. Dipasang dengan piling, sehingga nantinya dapat bergerak naik turun tanpa ada gerakan lateral
c. Dipasang mengunakan masa konrit atau jangkar kapal yang ditali
14
2.4 Dasar Bahan Polimer HDPE
Polimer adalah salah satu bahan rekayasa bukan logam (non-metallic material) yang penting. Saat ini bahan polimer telah banyak digunakan sebagai bahan substitusi untuk logam terutama karena sifat-sifatnya yang ringan, tahan korosi dan kimia, danmurah, khususnya untuk aplikasi-aplikasi pada temperature rendah. Hal lain yang banyak menjadi pertimbangan adalah daya hantar listrik dan panas yang rendah, kemampuan untuk meredam kebisingan, warna dan tingkat transparansi yang bervariasi, kesesuaian desain dan manufaktur.
Istilah plastik, yang sering digunakan oleh masyarakat awam untuk menyebut sebagian besar bahan polimer, mulai digunakan pada tahun 1909.Istilah tersebut berasal dari kata plastikos yang berarti mudah dibentuk dan dicetak. Teknologi modern plastik baru dimulai tahun 1920-an, yaitu dengan mulai digunakannya polimer yang berasal dari produk derivatif minyak bumi.
Plastik, serat, film, dan sebagainya yang biasa dipergunakan dalan kehidupan sehari-hari mempunyai berat molekul di atas 10.000. Bahan dengan berat molekul yang besar itu disebut polimer, mempunyai struktur dan sifat-sifat yang rumit disebabkan oleh jumlah atom pembentuk yang jauh lebih besar dibandingkan dengan senyawa yang berat atomnya rendah.
Umumnya suatu polimer dibangun oleh satuan struktur tersusun secara berulang diikat oleh gaya tarik-menarik yang kuat yang disebut ikatan kovalen, dimana setiap atom dari pasangan terikat menyumbangkan satu elektron untuk membentuk sepasang elektron.
Gaya tarik-menarik diantara atom-atom di dalam benda-benda digolongkan :
o Ikatan kovalen,
Di antaranya (1), (5) dan (6) biasa digunakan pada bahan polimer, sedangkan (2), (4) dan 7 ditemukan kadangkadang.Gaya antar molekul yang terutama berkerja pada bahan polimer seperti (5) dan (6),juga lebih lemah dari pada ikatan kovalen.Bahan polimer yang mempunyai berat molekul besar dan ikatan kovalen, samasekali menunjukkan sifat-sifat yang berbeda dari bahan organik yang mempunyai berat molekul rendah.
15 Bahan yang mempunyai berat molekul rendah berubah menjadi cair dengan visikositas rendah atau menguap kalau dipanaskan, sedangkan bahan polimer mencair dengan sangat kental dan tidak menguap. Bahan yang tidak bisa berfungsi itu terurai karna panas menjadi karbon, pada tahap akhir tanpa penguapan.. Molekul polimer disusun dalam satu struktur rantai seperti polyethylene dan polipropilen, dalam struktur tiga dimensi dengan ikatan kovalen seperti phenol dan resinepoksi, dan dalam hal struktur hubungan silang seperti karet dimana sebagian molekul rantai terikat satu sama lain. Sifat-sifat termik dan mekanik dari polimer sangat berbeda tergantung pada keadaan. Dimana distribusi berat molekul mempunyai hubungan erat dengan sifat-sifat bahan polimer.
Tabel 2.3 Bahan Polymers dan Kerja Temperature Panas
Polymers Jangka panjang kerja
2.4.1 Sifat-Sifat Bahan Polimer
Beberapa diantara polimer rantai mempunyai molekul-molekul yang tersusun secara teratur membentuk kristal. Bahan tersebut dinamakan polimer Kristal walaupun tidak seluruhnya mengkristal, temperature dimana kristal dalam polimer itu mencair dinamakan titik cair polimer. Sifat-sifat khas bahan polimer pada umumnya adalah sebagai berikut : 1. Mampu cetak yang baik. Pada temperatur relatif rendah bahan dapat dicetak dengan penyuntikan, penekanan, ekstrusi dan seterusnya akibatnya biaya pembuatan relative lebih rendah dibanding pada logam atau keramik.
2. Produk yang kuat dan ringan dapat dibuat. Berat jenis polimer adalah rendah di banding logam dan keramik, yaitu 1,0 – 1,7 yang memungkinkan dapat diproduksibarang yang kuat dan ringan.
3. Banyak diantara polimer bersifat isolator yang baik. Polimer mungkin saja dibuat konduktor dengan jalan mencampurnya dengan serbuk logam, butiran karbon,serbuk alam dan lain-lain.
4. Baik sekali dalam ketahanan air dan ketahanan zat kimia. Pemilihan bahan yang baik akan menghasilkan produk yang mempunyai sifat-sifat baik sekali.
16
5. Produk-produk dengan sifat yang cukup berbeda dapat dibuat tergantung pada cara pembuatannya. Dengan mencampur zat plastis, pengisi dan sebagainya. Sifat-sifat dapat berubah dalam daerah yang luas.
6. Kekerasan permukaan sangat kurang. Bahan polimer yang keras ada tetapi masih jauh dibawah kekerasan logam dan keramik.
7. Kurang tahan terhadap pelarut. Umumnya larut dalam zat pelarut tertentu kecuali pada bahan tertentu seperti politetrafluoretilen. Kalau tidak larut, mudah retak karena kontak terus-menerus dengan zat pelarut dan disertai adanya tegangan. Oleh karena itu perlu perhatian khusus.
Tabel 2.4 Suhu Operasi Termoplastik Bahan Temperatur Pengerjaan
(˚C) Contoh Pengerjaan
CA 160-200 Profil, lembaran, pipa
PS 170-210 Lembaran busa
SB 170-220 Lembaran, profil
ABS 170-220 Pipa, lembaran, profil
LDPE 130-200 Pipa, lembaran, bungkus kawat
HDPE 140-220 Pipa, lembaran, bungkus kawat, pipapengikat
PP 180-260 Pipa, lembaran, pipa pengikat
PVC-Keras 160-200 Pipa, lembaran, profil
PVC-Lunak 150-190 Selang, profil, bungkus kabel dan karet
PMMA 160-190 Lembaran, profil, pipa
PC 300-340 Lembaran, profil
PA 260-300 Selang, bungkus kabel, pipa
POM 170-200 Pipa profil
(Sumber: Karayannidis, G.P. 2007)
2.5 High Density Polyethene (HDPE)
Definisi high density polyethene (HDPE) adalah salah satu jenis plastik bertekanan yang banyak digunakan untuk pipa air dan pipa gas. Disebut pipa plastik karena material HDPE berasal dari polymer minyak bumi. Di industri polimer, polietilena ditulis dengan singkatan (PE), perlakuan yang sama yang dilakukan oleh Polistirena (PS) dan Polipropilena (PP). Molekul etena C2H4 adalah CH2=CH2. Dua grup CH2 bersatu dengan ikatan ganda. Polietilena dibentuk melalui proses polimerisasi dari etena. Polietilena bisa diproduksi melalu proses polimerisasi radikal, polimerisasi adisi anionik, polimerisasi ion
17 koordinasi, atau polimerisasi adisi kationik. Setiap metode menghasilkan tipe polietilena yang berbeda.
Gambar 2.11 Logo Kode 2 Plastik HDPE (Sumber: en.wikipedia.org, 2018)
High Density Polytheylene (HDPE) adalah jenis plastik yang terbuat dari baham polythylene dengan kepadatan tinggi sehingga jenis pipa yang dihasilkan dapat menahan gaya tekan yang lebih tinggi, kuat, lentur dan tahan terhadap bahan kimia. High Density Polytheylene (HDPE) adalah polietilena termoplastik yang terbuat dari minyak bumi. Untuk membuat 1 kg HDPE diperlukan 1,75 kg minyak bumi (sebagai energi dan bahan baku) . High Density Polytheylene memiliki kekuatan tensil dan gaya antar molekul yang tinggi (120°c) dengan karakteristik yang lentur, sehingga dapat mengurangi pengunaan fitting atau sambungan sehingga tidak mempuyai pontensi untuk mengkontaminasi air dan dapat digunakan untuk intallasi air panas dan air dingin.
2.5.1 Karakteristik High Density Polyethene (HDPE)
Karakteristik high density polyethene (HDPE) memiliki kekakuan dan kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan polyethylene PE yang memiliki berat molekul di bawah 300.000 g/mol. HDPE juga memiliki tensile strength dan compression strength yang jauh lebih kuat sekitar empat kalinya dibanding LDPE. Dilihat dari struktur rantai polimer, densitas LDPE lebih rendah dibanding dengan HDPE sehingga mempengaruhi properties kekuatan, hal ini juga karena LDPE memilki lebih banyak rantai cabang yang justru terkadang lebih panjang dibanding rantai utamanya. Hal ini akan mencegah molekul menjadi lebih kompak dan rapat. (tambahan keterangan : ada satu tipe lagi dari PE yang sedikit lebih tinggi properties fisik dan mekaniknya dibanding LDPE yaitu LLDPE (Linear Low Density Polyethylene), meskipun keduanya memiliki densitas dan berat molekul yang tidak jauh berbeda 60.000 – 100.000 g/mol mengapa hal ini bisa terjadi ? LLDPE memiliki rantai
18
cabang yang lebih banyak dibanding dengan LDPE namun rantai cabang tersebut lebih pendek. LLDPE juga lebih tahan sobek dibanding dengan LDPE). Kembali ke plastik HDPE.
Karakter HDPE memiliki impak strength sangat baik meski ketangguhannya tidak se-ekstrim UHMW-PE, kemudahan dimesining dan mempunyai karakter melumasi sendiri. Properties ini bertahan meski bekerja pada temperature yang sangat rendah (minus 60 deg C). HDPE memiliki ketahanan stress crack yang baik, tahan terhadap korosi (terkecuali untuk kimia asam oksidasi kuat dengan temperature tinggi). Tahan terhadap asam, basa, degreasing agents, dan hampir semua organic solvent, beberapa hydrocarbon hanya menyebabkan swelling permukaan yang ringan saja pada temperature moderate. Dibanding PP plastik HDPE memiliki impak strength yang lebih baik, tetapi kalah dalam hal temperature kerja dan tensile strength. HDPE ringan bersifat mengapung di air, menolak air dan kelembaban sehingga aman dari staining. HDPE dapat di joining dengan hot gas welding, fusion dan butt welding.
Dapat dan mudah di thermoforming.
Gambar 2.12 Pipa Berbahan Plastik High Density Polyethene (HDPE) (Sumber: www.iymax.en.alibaba.com, 2018)
2.6 Investasi
Investasi memiliki beberapa pengertian diantaranya adalah sebagai berikut :
a. “Investasi menurut (Kertonegoro, 1999) “Investasi merupakan wahana dimana dana ditempatkan dengan harapan akan dapat memelihara atau memperoleh nilai dan memberikan penghasilan yang meningkat atau return yang positif”.
Sedangkan menurut (Handaru, 1999).
b. “Investasi dapat diartikan sebagai penanaman modal baik langsung maupun tidak langsung, yang bertujuan untuk mendapatkan manfaat atau keuntungan tertentu sebagai hasil penanaman modal tersebut”. Berdasarkan pengertian
19 diatas maka dapat dikatakan bahwa keputusan investasi melibatkan tiga unsur pokok, yaitu:
1. Keuntungan yang akan diperoleh
2. Pengorbanan saat ini untuk memperoleh manfaat dimasa yang akan dating 3. Dalam jangka panjang (umur proyek)
Kegiatan investasi telah direncanakan dan dilaksanakan dalam bentuk kesatuan dan jangka waktu tertentu. Proses yang dimaksud diatas merupakan proses perecanaan yang terdiri atas perhitungan akan untung atau rugi, perhitungan akan jangka waktu pengembaliannya, dan perhitungan kelayakan. Dimana proses-proses tersebut dilakukan dengan cara mengadakan studi kelayakan proyek.
Menurut (Suwarsono, 1994) “Yang dimaksud dengan studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil”. Keberhasilan ini dapat ditafsirkan dalam arti terbatas yaitu keberhasilan dalam arti manfaat ekonomis (biasanya dipergunakan oleh pihak swasta) dan keberhasilan dalam artian yang lebih luas yaitu manfaatnya bagi masyarakat. Sedangkan karakteristik dasar dari suatu investasi adalah umumnya memerlukan pengeluaran saat ini untuk memperoleh manfaat di masa yang akan datang. Tujuan dari pada diadakannya suatu studi kelayakan adalah untuk menghindari keterlanjuran penanaman modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan. Biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan studi kelayakan ini relatif kecil dibandingkan dengan resiko kegagalan suatu investasi dalam jumlah yang besar. Aspek-aspek studi kelayakan bisnis, yaitu: aspek pasar, aspek teknis, aspek finansial, dan aspek manajemen.
2.6.1 Kriteria Investasi
Kriteria untuk suatu investasi sangat diperlukan untuk menentukan apakah suatu usulan investasi dapat diartikan Go Project atau Not Go Project. Apakah investasi tersebut feasible atau tidak. Dapat dikatakan bahwa semua kriteria menggunakan perbandingan-perbandingan atau hubungan antara penerimaan dan seluruh pengeluaran. Usulan investasi yang feasible adalah usulan yang manfaatnya lebih besar atau paling tidak sama dengan pengeluarannya. Menurut (Soetrisno, 1992) terdapat dua kriteria, yaitu:
20
1. Kriteria Internal
Kriteria internal adalah kriteria yang terletak dalam proyek bersangkutan, sehingga tidak dapat dibandingkan dengan investasi atau keadaan lain seperti inflasi, keadaan ekonomi, dan lain-lain. Dalam kriteria ini tidak diperlukan suatu reevaluasi apabila terjadi perubahan-perubahan yang bersifat eksternal, reevaluasi diperlukan apabila terjadi perubahan-perubahan yang bersifat internal. Contoh daripada kriteria internal adalah metode Pay Back Period, Net Present Value, dan Internal Rate of Return
2. Kriteria Eksternal
Kriteria eksternal adalah kriteria yang dibandingkan dengan keadaan lain, terutama dibandingkan dengan usulan investasi lain. Kriteria ini juga dibandingkan dengan keadaan eksternal seperti tingkat inflasi dan perkembangan ekonomi, oleh karenanya jika terjadi perubahan-perubahan seperti perubahan tingkat inflasi, maka pada kriteria ini perlu mengadakan reevaluasi. Contoh dari pada kriteria ini Benefit Cost of Ratio. Untuk usulan investasi berdasarkan kriteria diatas haruslah benar-benar diperhitungkan dengan kecermatan yang tinggi, haruslah diadakan forecasting (peramalan) dengan tingkat keakuratan yang dapat dipercaya. Menurut (Handoko, 1997) forecasting (peramalan) dan lingkungan eksternal makro sangatlah penting bagi operasi atau investasi perusahaan. Hal ini juga tergantung pada antisipasi dan adaptasi terhadap perkembangan lingkungan eksternal makro.
2.6.2 Metode Penilaian Investasi
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kriteria investasi terbagi menjadi dua yaitu kriteria internal dan eksternal, dimana yang internal menggunakan Pay Back Period, Net Present Value dan Internal of Return sedangkan yang eksternal menggunakan metode Benefit Cost Ratio. Berikut ini adalah metode-metode yang sering digunakan untuk mengajukan usulan investasi:
1. Metode Pay Back Period (PBP)
Menurut (Umar, 2008) metode Pay Back Period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash investment) dengan menggunakan aliran kas, dengan kata lain Pay Back Period merupakan rasio antara initial cash investment dengan cash flow-nya yang hasilnya merupakan satuan waktu.
Menurut (Suwarsono, 1994) metode Pay Back Period adalah “Metode untuk mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali, karena itu satuan hasilnya bukan prosentase, tapi satuan
21 waktu”. Sedangkan menurut (Riyanto, 1998) metode Pay Back Period adalah satuan periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan proses atau aliran kas netto (Net Cash flow), dengan demikian metode ini menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana yang ditanam pada saat investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya. Dengan berdasarkan pada metode Pay Back Period usulan yang diterima adalah usulan yang menghasilkan Pay Back Period yang lebih pendek dari Pay Back maximum yang ditetapkan (umur ekonomis proyek). Berikut adalah keuntungan dan kelemahan dari Pay Back Period:
Keuntungan dari metode Pay Back Period adalah:
a. Mudah dimengerti
b. Lebih mengutamakan investasi yang menghasilkan aliran kas yang lebih cepat
c. Beranggapan bahwa semakin lama waktu pengembalian, maka semakin tinggi resikonya
d. Cukup akurat untuk mengukur nilai investasi yang dibandingkan untuk beberapa kasus dan bagi pembuat keputusan
Kelemahan metode Pay Back Period adalah:
a. Mengabaikan nilai waktu daripada uang (time value of money)
b. Mengabaikan penerimaan-penerimaan investasi atau proses setelah Pay Back Period tercapai
2. Metode Net Present Value (NPV)
Menurut (Umar, 2008) metode Net Present Value yaitu selisih antara present value dari investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih (aliran kas operasional maupun aliran kas terminal) dimana yang akan datang untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan bunga yang relevan. Menurut (Suwarsono, 1994) metode Net Present Value adalah menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih (operasional maupun terminal cash flow) di masa yang akan datang.
Pada metode ini menghitung selisih antara cash flow yang didiscounted pada tingkat bunga yang minimum (tingkat bunga yang relevan). Apabila jumlah Present Value dari keseluruhan proses yang diharapkan lebih besar dari Present Value investasinya, maka usulan dapat diterima. Dengan melihat Net Present Valuenya prositif yang berarti lebih besar dari nol, maka usulan diterima. Berikut adalah keuntungan dan kelemahan dari Net Present Value:
22
Keuntungan dari metode Net Present Value adalah:
a. Memperhatikan nilai waktu daripada uang (time value of money) b. Mengutamakan aliran kas yang lebih awal
c. Tidak mengabaikan aliran kas selama periode proyek atau investasi Kelemahan dari metode Net Present Value adalah:
a. Memerlukan perhitungan Cost of Capital sebagai Discount Rate b. Lebih sulit penerapannya daripada Pay Back Period
3. Metode Internal Rate of Return (IRR)
Menurut (Riyanto, 1998) menyebutkan bahwa metode ini adalah metode yang memperhitungkan tingkat bunga yang akan menjadikan jumlah nilai sekarang dari proses yang diharapkan akan diterima sama dengan jumlah nilai sekarang pengeluaran modal, pada dasarnya metode ini harus dicari dengan cara trial dan error atau coba-coba. Menurut (Sudarmo, 1998) tingkat diskonto atau discount Rate yang menjadikan sama antara Present Value dari hasil investasi discount rate atau tingkat diskonto yang menunjukan net present value atau sama besarnya dengan nol.
Penilaian untuk metode Internal Rate of Return ini adalah Jika Internal Rate of Return yang diperoleh lebih kecil dari biaya bunga yang dipergunakan, maka proyek tersebut ditolak.
Sebaliknya jika internal rate of return yang diperoleh lebih besar, maka proyek tersebut diterima. Berikut adalah keuntungan dan kelemahan dari Internal Rate of Return:
Kelebihan metode Internal Rate of Return adalah:
a. Tidak mengakibatkan aliran kas selama periode proyek b. Memperhitungkan nilai waktu daripada uang
c. Mengutamakan aliran kas awal daripada aliran kas belakangan Kekurangan metode Internal Rate of Return adalah:
a. Memerlukan perhitungan COC (Cost of Capital) sebagai batas minimal dari nilai yang akan dicapai .
b. Lebih sulit dalam melakukan perhitungan.
2.7 Karakteristik Industri
Karakterristik Industri merupakan suatu bentuk usaha yang diarahkan pada proses produksi barang/jasa dengan menghasilkan suatu nilai tambah atas produk barang/jasa yang dihasilkan. Industri tersebut pada umumnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
23 konsumen/masyarakat dengan mengantisipasi keinginan dan daya beli konsumen. Ditinjau dari segi proses produksinya, secara umum dikenal ada 2 (dua) jenis industri utama (Prasetyo, 2016), yaitu:
1. Mass-Product Oriented Industry 2. Project Oriented Industry
Kedua jenis industri tersebut mempunyai karakter yang berbeda, antara lain:
1. Mass-Product Oriented Industry
Contoh: Industri pemprosesan bahan mentah (penyulingan minyak kelapa sawit, pabrik gula, pabrik tepung terigu, dll), industri makanan (mie, coklat, kue-kue, dll), industri kebutuhan rumah tangga (sabun, sampo, sikat gigi, dll), industri pakaian/garmen, industri sepatu, dll. Ditinjau dari segi produk, maka jenis industri ini menghasilkan suatu produk yang tetap secara massal dengan jumlah produksi tertentu. Produk ini juga merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat, dan mempunyai product life-cycle yang relatif singkat. Atau keluaran (output) dari industri ini sering merupakan suatu bahan baku (input) bagi pembuatan produk dari jenis industri yang lain. Apabila dari segi pemasaran, maka produk yang dihasilkan
Contoh: Industri pemprosesan bahan mentah (penyulingan minyak kelapa sawit, pabrik gula, pabrik tepung terigu, dll), industri makanan (mie, coklat, kue-kue, dll), industri kebutuhan rumah tangga (sabun, sampo, sikat gigi, dll), industri pakaian/garmen, industri sepatu, dll. Ditinjau dari segi produk, maka jenis industri ini menghasilkan suatu produk yang tetap secara massal dengan jumlah produksi tertentu. Produk ini juga merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat, dan mempunyai product life-cycle yang relatif singkat. Atau keluaran (output) dari industri ini sering merupakan suatu bahan baku (input) bagi pembuatan produk dari jenis industri yang lain. Apabila dari segi pemasaran, maka produk yang dihasilkan