• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 STUDI LITERATUR

2.9.2 Tugas Akhir Mengenai Pengembangan Industri

Sama halnya seperti referensi mengenai industri komponen kapal, referensi pada kategori ini juga digunakan sebagai acuan dalam penentuan rancang industri pada penelitian ini, karena memiliki kesamaan yaitu tidak memiliki garis pantai pada layout industrinya.

Referensi ini membahan pembangunan industri rumah apung oleh Putra & Pribadi (2017) dan Personal Watercraft oleh Matovani dan Pribadi (2017). Selain itu referensi ini juga digunakan sebagai acuan dalam perhitungan kelayakan industri.

29

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian merupakan uraian yang terstruktur dari penelitian agar proses penelitian yang dilakukan dapat berjalan lancar yang pada akhirnya dpat digunakan sebagai bahan masukan bagi pihak pihak yang membutuhkan data mengenai bagaimana membangun keramba apung konstruksi High Density Poplythene (HDPE) sesuai dengan prosedur dan standar keamanan yang berlaku. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu metode yang bersifat deskriptif dimana data yang didapat merupakan hasil wawancara, observasi dan studi pustaka. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah memberikan deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 1988)

3.1 Umum

Tahapan – tahapan proses yang dilakukan dalam menyusun tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

1. Tahap Identifikasi

Pada fase ini hal – hal yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Identifikasi masalah, dimana permasalahan utama yang akan dibahas disini adalah pengembangan keramba apung konstruksi High Density Poplythene (HDPE)

b. Penentuan tujuan c. Studi literature

- Sarana pokok - Perencanaan fasilitas - Perencanaan tata letak

- Tujuan perencanaan tata letak - Studi kelayakan

- Konsep dan dasar ekonomi teknik

d. Survei lapangan, survei dilakukan di salah satu yang terletak di Sumenep 3.2 Tahap Pengumpulan Dan Pengolahan Data

Pada tahap ini akan dilakukan pengumpulan data-data yang dapat mendukung untuk melakukan analisa baik dari segi teknis maupun ekonomis,berikut adalah kebutuhan data dalam tugas akhir ini:

30

o Perencanaan desain serta tata letak

o Perencanaan fasilitas yang dapat digunakan oleh industri keramba apung Data teknis yang dibutuhkan meliputi :

- Data tentang jumlah keramba apung di Indonesia

- Data tentang pekerjaan dalam proses pembuatan keramba apung

- Data keseluruhan fasilitas dan peralatan untuk keperluan keramba apung konstruksi High Density Poplythene (HDPE)

o Perhitungan Kelayakan dari sisi ekonomis terhadap rencana perubahan fokus pekerjaan di keramba apung konstruksi High Density Poplythene (HDPE)

Data untuk analisis ekonomi yang dibutuhkan meliputi:

- Data biaya peralatan dan permesinan.

- Data biaya persiapan dan instalasi, listrik, air, dan bahan habisa lainnya.

- Data biaya pembangunan fasilitas 3.3 Tahap Analisa Lokasi

Setelah mendapatkan semua data yang diperlukan tahap selanjutnya adalah melakukan peninjauan lokasi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Peninjauan lokasi tersebut untuk mengetahui kondisi di lokasi tersebut secara pasti untuk merencanakan layout yang tepat.

3.4 Tahap Analisa Teknis Dan Ekonomis

Pada tahap ini akan dilakukan proses analisis teknis dan ekonomis terhadap rencana perubahan fokus pekerjaan pada sebuah industri keramba apung konstruksi High Density Poplythene (HDPE). Setelah didapatkan data yang diperlukan lalu menganalisa teknis dan ekonomis. Tahap analisa teknis sendiri adalah tahap menentukan fasilitas dari industri keramba apung sendiri, mulai dari memilih alat yang diperlukan, berapa bengkel yang diperlukan, dll. Sedangkan analisa ekonomis adalah mengetahui investasi sehingga sampai dimana titik BEP dari galangan itu sendiri.

3.5 Tahap Analisa Dan Interpretasi Data

Pada tahap ini dilakukan analisa dan interpretasi data mengenai tahap pengolahan data yang telah dilakukan sebelumnya. Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan dan saran pada penelitian tugas akhir ini.

31 1. Belum ada fasilitas pengembangan industri keramba apung

2. Produk material biji plastik high density polythylene (HDPE) masih impor 3. Harga produk masih terlampau mahal

4. keramba apung untuk budidaya masih tradisional

5. Diperlukan Industri keramba apung high density polythylene (HDPE)

Kondisi Lapangan 1. Potensi pasar industri keramba apung 2. Observasi dan mempelajari pembuatan

material biji plastik high density polythylene (HDPE)

3. Pencarian lokasi untuk industri keramba apung high density polythylene (HDPE) 4. Proses produksi atau mekanisme teknis

pembuatan biji plastik high density polythylene (HDPE)

5. Layout dan aliran produksi workshop keramba apung high density polythylene (HDPE)

Studi Literatur

Buku dan teori tentang ekonomi teknik serta literatur tentang pengembangan keramba apung high density polythylene (HDPE), meliputi:

1. Pembuatan material biji plastik high density polyhylene (HDPE)

2. Analisa kelayakan investasi 3. Penentuan biaya produksi 4. Pembuatan keramba apung

Perancangan pembangunan industri keramba apung kontruksi high density polyhylene (HDPE)

Simulasi hasil produksi kelayakan dan investasi industri keramba apung kontrusi high density polyhylene (HDPE)

validasi

32

Tahap Penarikan Kesimpulan Analisa Ekonomis

Melakukan Analisa dan pembahasan terhadap hasil yang telah dirancang agar memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Biaya pendapatan industri keramba apung konstruksi high density polyhylene (HDPE)

2. Biaya operasional pengembangan industri keramba apung kontrusi high density polyhylene (HDPE) 3. Kelayakan investasi pengembangan

industri keramba apung kontrusi high density polyhylene (HDPE)

A

Analisa Teknis Melakukan Analisa dan pembahasan terhadap hasil yang telah dirancang agar memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Desain produk keramba apung konstruksi high density polyhylene (HDPE)

2. Proses pembuatan produk keramba apung konstruksi high density polyhylene (HDPE)

1. Melakukan penarikan kesimpulan terhadap penelitian yang telah dilakukan, kesimpulan harus sesuai dengan perumusan masalah dan dapat menjawab semua tujuan awal penelitian

2. Saran diberikan terkait pengembangan metode yang dapat dilakukan kedepannya

Selesai

33

BAB 4

KONDISI EKSISTING

4.1 Kondisi Eksisting Industri Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) Berdasarkan hasil pengamatan langsung dan pencarian data, diketahui bahwa industri keramba apung di Indonesia masih menggunakan keramba apung konvesional yang dimana hanya mempuyai waktu life time yang relatif pendek sekitar 2-3 tahunan dengan harga yang mahal dan mulai sulitnya bahan baku untuk proses pembuatanya maka perlunya pembaruan.

Keramba apung berjenis High Density Polyethene (HDPE) adalah salah satu pembaruan yang dapat diterapkan dengan mempunyai karakteristik dapat bertahan pada suhu air laut maupun sungai atau danau sehingga tidak mencemari lingkungan. Umur keramba apung dengan menggunakan bahan High Density Polyethene (HDPE) relatif lama sekitar 10-15 tahunan dibangdingkan keramba apung konvesional. Di Indonesia industri keramba apung dengan bahan High Density Polyethene (HDPE) masih belum ada. Produk Keramba apung High Density Polyethene (HDPE) merupakan barang import yang masuk dari berbagai negara dan memiliki harga yang cukup tinggi karena pajak dan biaya lainya. Produk ini masih menjadi produk yang sulit dimiliki kalangan pribadi kecuali kalangan tertentu karena di golongkan dalam kategori barang baru. Tentunya produk ini akan sangat berpotensi dalam bidang perikanan dan kelautan bila produk didapat dengan mudah dan lebih murah. Budidaya keramba jaring apung merupakan cara budidaya yang dapat dilakukan di laut, sungai ataupun di danau. Dengan keadaan air yang cukup tinggi dengan kualitas ait yang cukup memadai untuk melakukan budidaya, Keramba menjadi pilihan yang bagus untuk melakukan budidaya.

Keramba Jaring Apung adalah suatu sarana pemeliharaan ikan atau biota air yang kerangkanya terbuat dari bambu, kayu, pipa pralon atau besi berbentuk persegi yang diberi jaring dan diberi pelampung seperti drum plastik atau streoform agar wadah tersebut tetap terapung di dalam air. Kerangka dan pelampung berfungsi untuk menahan jaring agar tetap terbuka di permukaan air, sedang jaring yang tertutup di bagian bawahnya digunakan untuk memelihara ikan selama beberapa bulan. Pada bagian keramba apung terdapat pemberat dengan beberapa bentuk seperti jangkar kecil atau beton berbentuk kotak yang berfungsi untuk keramba apung tidak bergerak saat menyentuh aliran sungai, danau atau laut.

34

Gambar 4. 1 Keramba Apung Tradisional

(Sumber: Keramba apung tradisional Sumenep, Madura, 2017)

Kegiatan budidaya laut pada dasarnya sama dengan budidaya perikanan darat.

Budidaya laut merupakan kegiatan yang baru di dunia perikanan. Beberapa alasan budidaya laut bisa berkembang, diantaranya sumber daya ikan yang ditangkap sudah menurun sehingga nelayan beralih ke budidaya, budidaya perikanan di darat banyak menglami hambatan dan harga atau nilai jual komoditas budidaya laut relatif lebih tinggi dibanding dengan budidaya air tawar. Keramba Jaring Apung dapat dibuat dalam berbagai ukuran. Desain dan bahan tergantung pada kemudahan penanganan, daya tahan bahan baku,harga, dan faktor lainnya.

Jaring atau wadah untuk pemeliharaan ikan di laut dibuat dari bahan polyethene. Bentuk dan ukuran bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran ikan, kedalaman perairan, serta faktor kemudahan dalam pengelolaan. Keramba adalah keranjang atau kotak dari bilah bambu untuk membudidayakan ikan. Definisi lain dari keramba adalah wadah budi daya ikan berupa kandang yang terbuat dari bambu atau papan kayu yang ditempatkan di badan sungai.

Keramba umumnya ditempatkan di sungai sehingga air sungai dapat mengalir melewati keramba dan air di dalam keramba senantiasa bersirkulasi mengikuti arus air.

Keramba bambu dapat ditempatkan tenggelam maupun mengapung sebagian, dan masing-masing dilakukan sesuai kebutuhan. Di perairan yang dalam dan luas, keramba ditempatkan mengapung sebagian dengan bantuan pelampung. Salah satu varian keramba yaitu keramba jaring apung yang ditempatkan di laut. Keramba jaring apung terdiri dari rangka dengan pijakan untuk inspeksi. Jaring apung menggunakan pelampung agar tetap mengapung, serta

35 tertambat pada rangka dan jangkar sehinga tidak berpindah dari posisinya. Ikan tetap berada di dalam keramba karena terkurung oleh jaring. Jenis keramba lain yaitu keramba hampang, dibangun dengan menggunakan jaring yang ditegakkan dengan tonggak kayu atau bambu.

Keramba jenis ini umumnya dibangun di pinggir sungai dan perairan yang dangkal.

Produk keramba apung High Density Polyethene (HDPE) diimpor dari berbagai negara sesuai dengan perusahaan asalnya dan bahkan melalui negara-negara penyalur terdekat seperti Singapura dan Cina. Tentunya proses impor produk mengakibatkan pembengkakan harga jual di dalam negeri karena pengenaan biaya bea masuk, nilai asuransi, ongkos kirim, pajak pendapatan negara dan pajak barang. Keramba apung High Density Polyethene (HDPE) di kategorikan dalam produk yang terkena pajak barang impor. Maka dari itu sangat diharapkan agar industri ini dapat berkembang di Indonesia untuk menekan biaya produksi dan terhindar dari pajak.

4.2 Potensi Pasar

Pada Sub-bab ini di bahas mengenai potensi pasar dari industri keramba apung High Density Polyethene (HDPE) di Indonesia. Data potensi pasar di ambil dengan menghitung penggunaan keramba apung tradisional sebagai sarana pembenihan atau pemeliharaan ikan sebelum di pasarkan serta dengan melakukan pencarian data primer salah satu pengguna High Density Polyethene (HDPE) di Indonesia yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa timur. Untuk memprediksi jumlah kebutuhan keramba apung High Density Polyethene (HDPE) dari tahun 2017-2021, dibutuhkan data keramba apung High Density Polyethene (HDPE) dari tahun-tahun sebelumnya. Data yang diperoleh tersebut berasal dari keramba apung High Density Polyethene (HDPE) oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa timur. Dari data tersebut maka dapat dihitung jumlah produk keramba apung High Density Polyethene (HDPE) yang dibutuhkan.

4.3 Data Penggunaan Produk Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) Data yang digunakan merupakan total penggunaan produk keramba apung High Density Polyethene (HDPE) pada bulan-bulan tertentu. Pada Tabel 4.1 berisikan total jumlah pemakaian keramba apung High Density Polyethene (HDPE) tiap bulannya di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa timur.

36

Tabel 4.1 Data Penggunaan Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa timur

4.4 Calon Konsumen Industri Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE) Dalam perencanaan pembuatan industri keramba apung High Density Polyethene (HDPE), maka diperlukan konsumen yang akan membeli produk tersebut sehingga dapat memberikan pemasukan bagi perusahaan. Dari data konsumen dapat diketahui besarnya kesempatan membangun industri ini di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa konsumen atau market potensial dari industri keramba apung High Density Polyethene (HDPE):

1. Dinas perikanan dan kelautan kabupaten Gresik 2. Dinas perikanan dan kelautan kabupaten Sumenep 3. Dinas perikanan dan kelautan kabupaten Tuban 4. Dinas dan kelautan perikanan kabupaten Banyu wangi 5. Dinas dan kelautan perikanan kabupaten pacitan 6. Nelayan tradisional sumenep

7. Nelayan tradisional pacitan 8. dll

Instansi- instansi dan organisasi di atas merupakan calon konsumen industri keramba apung High Density Polyethene (HDPE). Kebanyakan merupakan instansi yang menaungi bidang perikanan dan kelautan namun terdapat pula organisasi masyarakat daerah serta kalangan pribadi maupun. Masih banyak lagi instansi dan organisasi serupa yang juga masih potensial mengingat berdasarkan analisa awal harga produk nantinya akan jauh lebih murah dibandingkan dengan produk import.

4.5 Pengolahan Data

Dalam pengolahan data ini dilakukan beberapa proses, yaitu peramalan dan perencanaan produk. Untuk peramalan dilakukan pengolahan data pembangunan keramba

37 apung High Density Polyethene (HDPE) dari tahun 2013-2017. Dari hasil peramalan tersebut akan menjadi acuan dari kondisi pasar untuk lima tahun yang akan datang. Berikut adalah penjelasan mengenai proyeksi pembangunan produk keramba apung High Density Polyethene (HDPE).

4.5.1 Proyeksi Permintaan Keramba Apung High Density Polyethene (HDPE)

Untuk proyeksi Permintaan keramba apung High Density Polyethene (HDPE) yang diteliti, di lakukan peramalan permintaan yang diperoleh dari data penjualan keramba apung 5 tahun belakangan. Data acuan adalah data yang diperoleh dari PT. X dan PT. Y selaku salah satu distributor produk keramba apung High Density Polyethene (HDPE) di Indonesia.

Keramba apung dalam data yang digunakan untuk peramalan tidak memperdulikan jenis maupun desain, kesemuanya dianggap sama.

Tabel 4.2 Data rata-rata jumlah penjualan keramba apung High Density Polyethene (HDPE) Data Penjualan Keramba

Apung 2013 2014 2015 2016 2017 Jumlah

Rata-Rata

PT. X 25 25 30 90 88 258 51

PT. Y - - 20 35 50 95 31

Tabel 4.2 menjelaskan tentang jumlah permintaan keramba apung dalam kurun waktu 5 tahun ke belakang yang di dapat dari PT. X dan PT. Y. Langkah selanjutnya adalah pembuatan grafik untuk mengetahui pola permintaan sehingga dapat mempermudah penentuan metode forecasting yang tepat. Berikut adalah grafik data permintaan keramba apung High Density Polyethene (HDPE) pada tahun 2013-2017.

Gambar 4.2 Pola Peramalan Permintaan keramba apung High Density Polyethene (HDPE)

Dilihat dari gambar 4.2 pola permalan permintaan keramba apung High Density Polyethene (HDPE) relatif menyerupai pola musiman (seasoning) dan siklikal.

PT. X PT. Y

38

Tabel 4.3 Hasil Peramalan 2017-2021

Hasil Peramalan 2017 2018 2019 2020 2021

Jumlah Permintaan 69 82 80 77 80

Pada Tabel 4.3 merupakan hasil peramalan permintaan untuk tahun 2017-2021. Dari hasil peramalan tersebut, jumlah permintaan terbanyak terjadi pada tahun 2018 dengan 82 unit. Sedangkan 2018-2021 menjadi tahun paling sedikit dengan 77 unit. Untuk mengetahui performa peramalan maka dilakukan perhitungan koreksi dengan menggunakan Mean Square Error (MSE). Berikut contoh hasil perhitungan MSE dari salah satu metode moving average produk.

Tabel 4.4 Perhitungan MSE pada Moving Average (3)

Tahun Volume Produksi FT X-FT (X-FT)^2

Unit Unit Unit Unit

2012 25

2013 25

2014 30

2015 90 26,67 63,33 4011,11

2016 88 48,33 39,67 1573,44

2017 69,33

Jumlah 144,33 103,00 5584,56

Pada Tabel 4.4 menjelaskan perhitungan dari MSE pada moving average (3). Dari cara tersebut maka didapatkan hasil MSE adalah sebagi berikut:

MSE = Nilai tengah kesalahan kuadrat (Mean Square Error)

MSE = ... ... (4-1) Lebih detail tentang rekapitulasinya akan dilampirkan pada tabel di bawah ini

39

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan MSE Rekapitulasi MSE

Moving Average 1 725,8 2 943,05 3 1116,91 Rekapitulasi MSE

Exponential Smoothing 0,2 1308,33

0,5 957,36 0,8 770,01 Minimum 725,8

Tabel 4.5 menjelaskan tentang nilai MSE dari kedua metode peramalan, dimana MSE terkecil ada pada moving average dengan nilai 725,8. Hasil perhitungan MSE tersebut menunjukan bahwa peramalan dengan metode tersebut cukup valid, karena semakin kecil nilai MSE suatu data maka akan semakin valid hasil peramalan tersebut.

Gambar 4.3 Pola Data Permintaan Keramba Apung

Gambar 4.3 menjelaskan tentang nilai MSE dari kedua metode peramalan, dimana grafik semakin bertambah tahun semakin pola permintaan keramba apung semakin tinggi.

Dari data hasil estimasi industri keramba apung pada sebelumnya, didapatkan pasar industri keramba apung untuk tahun 2017-2021. Target pasar industri industri keramba apung adalah 20 % dari asumsi hasil pembagian pemegang pasar di indonesia.

25 25 30

90 88

0 20 40 60 80 100

2013 2014 2015 2016 2017

40

Tabel 4.6 Target penjualan keramba apungHDPE

Dari target penjualan inilah estimasi pendapatan industri keramba apung dapat diketahui dengan cara mengalikan target penjualan diatas menjelaskan jumlah target pertahun pembuatan produk industri keramba apung, dari data ini dapat dilakukan perhitungan pendapatan total dari industri dalam kurun waktu 2017-2021.

Peramalan dapat dilakukan secara kuantatif ataupun kualitatif. Pengukuran kuantitatif menggunakan metode statistik, sedangkan pengukuran kualitatif berdasarkan pendapat (judgement) dari yang melakukan peramalan. Berkaitan dengan itu dalam peramalan dikenal dengan istilah prakiraan dan prediksi. Prakiraan didefinisikan sebagai proses peramalan suatu kejadian (variable) di masa yang akan datang dengan berdasarkan data variabel yang berkaitan pada masa sebelumnya. Sedangkan prediksi adalah proses peramalan suatu variabel di masa yang akan datang dengan lebih mendasarkan pada pertimbangan subjektif/intuisi daripada data kejadian pada masa lampau. Pada umumnya terdapat dua metode dalam pengukuran kuantitatif, yaitu metode serial waktu (deret berkala, time series) dan metode kausal. Metode serial waktu adalah metode yang digunakan untuk menganalisis serangkaian data yang merupakan fungsi waktu, sedangkan metode kausal (causal explanatory model) mengasumsikan bahwa faktor yang diperkirakan menunjukan adanya hubungan sebab akibat dengan satu atau beberapa variabel bebas (independency), misalnya permintaan akan reparasi floating structure berhubungan dengan jumlah floating structure yang sedang beroperasi. Dalam menentukan metode peramalan tertentu, tidak bisa dengan langsung memakai salah satu dari sekian banyak metode yang ada. Melainkan harus melalui pertimbanganpertimbangan yang sesuai untuk dapat menghasilkan prakiraan yang mendekati kebenaran.Time series (Metode Extrapolative) Metode ini dilakukan dengan cara membuat analisa yang selanjutnya akan diproyeksikan ke dalam peramalan permintaan atau demand untuk waktu yang akan datang.

2017 2018 2019 2020 2021

48,3 57,4 56 53,9 56

Jumlah target penjualan keramba

apung HDPE

41

BAB 5

PERENCANAAN INDUSTRI

5.1. Analisa Teknis

Dalam analisa teknis dilakukan beberapa analisa desain produk keramba apung proses pembuatan produk, peralatan dan mesin yang dibutuhkan, standar keselamatan kerja, pemilihan lokasi industri keramba apung konstruksi (HDPE), dan layout pabrik. Untuk pemilihan lokasi industri keramba apung konstruksi (HDPE) meliputi: kondisi lahan, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan bahan baku, pemasaran, rencana tata ruang, modal, dan kecukupan infrastruktur. Untuk proses pembuatan produk dimulai dari tahap desain keramba apung, fabrikasi, Assembly, dan delivery. Kemudian dapat ditentukan peralatan dan mesin yang dibutuhkan dalam proses pembuatan. Layout pabrik dibuat jika diketahui proses pembuatan produk dan peralatan mesin yang digunakan, hal tersebut untuk menentukan tata letak dan bentuk dari layout pabrik

5.1.1. Desain Produk Industri Keramba Apung Konstruksi (HDPE)

Pada tahap ini, pihak customer menyerahkan gambar-gambar seperti one line diagram, specification building, data teknis dan peralatan yang akan dikontrol, serta data pendukung lainnya. Dari data spesifikasi tersebut, kemudian dibuatkan data material dan gambar kerja yang akan digunakan.

Gambar 5. 1 Contoh Desain Keramba Apung

Keterangan : (t) Thicknes = 0,977 inch = 0,025m Radius = 2.5 m Density = 970 kg/m³

Inside Diameter = 0,204 m

volume = x radius x radius x tinggi = (3.14) x 2.5 m x 2.5 m x 10 m

= 196,25 m³ Tinggi = 10 m Jumlah = 2 buah

42

Gambar 5.1 merupakan contoh desain dari keramba apung dengan sudut pandang 3 dimensi (3d). Desain tersebut digunakan sebagai gambar produksi dari keramba apung.

Keramba ini berbentuk bulat dengan diameter 5 meter. Jenis keramba apung ini dapat digunakan laut, danau dan sungai.

5.1.2 Proses Pembuatan Produk

Pada proses pembuatan produk dibutuhkan beberapa tahap. Dimulai dari proses desain keramba apung , kontrak, desain produk kemudian proses produk fabrikasi dan Assembly persiapan, pencetakan biji plastik dan perakitan, pengujian. Berikut adalah alur proses pembuatan keramba apung terdapat pada Gambar 5.2.

Gambar 5.2 Alur Proses Pembuatan Keramba Apung

Gambar 5.3 Alur Proses Desain Keramba apung PROSES

PRODUKSI

FABRIKASI DAN ASSEMBLY

PERSIAPAN DESAIN PRODUK TEST

PERAKITAN

PENCETAKAN MATERIAL (BIJI PLASTIK)

DELIVERY VISUAL CHECK

Saran-saran perancang

Sketsa desain keramba apung

Pemeriksaan Gambar Produksi Gambar

TIDAK

Requirement (ukuran,jenis dll)

43 Berdasarkan gambar diatas proses desain keramba apung dimulai dari requirement, saran-saran perancang, sketsa desain keramba apung, pemeriksaan gambar, dan gambar produksi.

1. Proses Produksi

Dari Gambar produksi yang akan digunakan sebagai acuan proses produksi. Pada proses ini melalui beberapa tahap, yaitu:

a. Fabrikasi dan Assembly

Pada tahap fabrikasi dan Assembly terdapat beberapa proses, diantaranya:

 Persiapan

Pada proses ini membutuhkan beberapa peralatan, diantaranya: gambar kerja,mesin penimbang, penggaris dan meteran. Berikut adalah rincian dari proses persiapan.

Mempersiapkan material dasar berupa biji plastik berjenis High Density Polyethene (HDPE).

 Pembentukan atau pencetakan material

Pada proses ini membutuhkan beberapa peralatan dan mesin, diantaranya: mesin extuder, mesin gerinda, kaca mata, dan sarung tangan. Berikut adalah rincian dari proses Pembentukan atau pencetakan material. Proses extrusion adalah suatu proses penekanan material yang telah cair, di mana proses penekanannya menggunakan suatu tekanan konstan kemudian material di dorong oleh screw menuju alat pembentuk berupa cetakan yang berasal dari logam atau bisa disebut dengan (dies)

Proses extrusion sangat sesuai dengan material termoplastik seperti PVC (polyvinyl chloride) yang merupakan bahan dasar pipa, karena dengan pemanasan, material ini akan menjadi lunak. Sebaliknya akan mengeras lagi bila di dinginkan, sehingga memungkinkan untuk untuk mendaur ulang pvc sesuai dengan kebutuhan. Proses extrusion menggunakan mesin extrusion di mana material dimasukan lewat hoper untuk dipanas kan di barel, untuk temperatur pemanasan harus perhitungkan sesuai dengan karakteristik mesin yang ada karena temperatur terlalu rendah maka proses pencampuran material kurang sempurna dan jika

Proses extrusion sangat sesuai dengan material termoplastik seperti PVC (polyvinyl chloride) yang merupakan bahan dasar pipa, karena dengan pemanasan, material ini akan menjadi lunak. Sebaliknya akan mengeras lagi bila di dinginkan, sehingga memungkinkan untuk untuk mendaur ulang pvc sesuai dengan kebutuhan. Proses extrusion menggunakan mesin extrusion di mana material dimasukan lewat hoper untuk dipanas kan di barel, untuk temperatur pemanasan harus perhitungkan sesuai dengan karakteristik mesin yang ada karena temperatur terlalu rendah maka proses pencampuran material kurang sempurna dan jika