• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengintegrasian dalam kegiatan sehari- hari

KAJIAN PUSTAKA

A. Penanaman Nilai Karakter 1.Pengertian Nilai

1. Pengintegrasian dalam kegiatan sehari- hari

Pelaksanaan strategi penanaman nilai karakter melalui pengembangan diri ini dapat dilakukan melalui cara berikut:

a. Keteladanan/ contoh

Masnur Muslich ( 2010: 175) mengatakan bahwa kegiatan pemberian contoh/ teladan bisa dilakukan oleh pengawas, kepala sekolah, staf administrasi di sekolah yang dapat dijadikan sebagai model. Contoh dari keteladanan menurut Masnur Muslich adalah taat terhadap peraturan di sekolah dan disiplin,

Sejalan dengan pendapat di atas, Novan Ardy (2012: 84) keteladanan adalah perilaku dan sikap guru dan tenaga

36

kependidikan yang lain dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik, sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya. Keteladanan ini dapat ditunjukkan melalui nilai disiplin (kehadiran guru yang lebih awal daripada peserta didik), kebersihan, kerapian, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, kerja keras, dan percaya diri.

Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keteladanan adalah tindakan yang dilakukan oleh tokoh yang dijadikan panutan, sehingga diharapkan dapat memberi pengaruh yang positif terhadap peserta didik. Beberapa cara yang dapat dilakukan melalui keteladanan adalah datang tepat waktu, memakai pakaian rapi, menjaga kesopanan, penuh kasih sayang terhadap peserta didik, percaya diri, dan selalu bekerja keras.

b. Kegiatan spontan

Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara spontan pada waktu itu juga. Contoh dari kegiatan spontan adalah menjenguk teman yang sedang sakit, mengumpulkan sumbangan untuk masyarakat yang terkena musibah (Masnur Muslich 2012: 176).

Hal lain diungkapkan oleh Agus Wibowo (2012: 84) bahwa kegiatan spontan misalnya ketika ada peserta didik yang membuang sampah tidak pada tempatnya, berpakaian tidak rapi, dan berlaku tidak sopan, maka guru atau tenaga kependidikan

37

lainnya segera mengoreksi kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik tersebut. selain itu apabila terdapat perilaku baik harus diberikan respon pada saat itu juga, misalnya dengan memberikan pujian.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan spontan ini adalah kegiatan yang dilakukan tanpa adanya suatu perencanaan dan dilaksanakan pada saat itu juga. Contoh dari kegiatan spontan adalah mengumpulkan dana atau sumbangan, menjenguk teman yang sakit, mengoreksi perilaku- perilaku siswa, dan memberikan pujian terhadap siswa.

c. Teguran

Guru mengingatkan peserta didik agar dapat bertindak sesuai dengan nilai yang baik, dan teguran ini juga bertujuan agar peserta didik dapat mengubah tingkah lakunya. Contoh dari kegiatan teguran yang dapat dilakukan oleh pendidik misalnya ketika ada siswa yang perbuatannya menyimpang, anak tersebut diberi nasehat agar dapat memperbaiki perbuatan yang tidak baik yang ia lakukan. d. Pengkondisian lingkungan

Zubaidi (2011: 182 ) mengungkapkan bahwa lingkungan adalah salah satu aspek yang memberikan saham dalam terbentuknya corak pemikiran, sikap dan tingkah laku seseorang, dimana orang tersebut hidup.

38

Sedangkan Masnur Muslich ( 2012: 177) mengungkapkan bahwa penataan lingkungan sekolah sedemikian rupa dengan cara penyediaan sarana prasarana agar tercipta kondisi yang dapat mendukung terlaksananya pendidikan karakter Contoh dari pengkondisian lingkungan seperti: penyediaan tempat sampah, toilet yang bersih, dan poster kata- kata bijak yang terdapat di luar kelas maupun di dalam kelas. Agus Wibowo memberi contoh pengkondisian adalah penaataan alat- alat belajar dan menyediakan tempatnya sehingga sekolah terlihat rapi dan tertata.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengkondisian dapat dilakukan dengan cara penyediaan slogan, tempat sampah, toilet yang bersih, menata alat- alat belajar dan juga menyediakan tempat untuk meletakkan alat- alat belajar. 2. Kegiatan yang diprogramkan

a. Kegiatan rutin

Kegiatan ini dilakukan oleh peserta didik secara terus menerus dan konsisten. Kegiatan ini contohnya berbaris sebelum masuk kelas, berdoa sebelum memulai pelajaran, membersihkan kelas/ piket, melaksanakan upacara, sholat berjamaah, dll (Masnur Muslich, 2012: 177).

Senada dengan pendapat Masnur Muslich, Novan Ardi W (2012: 84) menyebutkan contoh kegiatan rutin yang terintegrasi dalam kegiatan sehari- hari, contohnya: upacara hari besar

39

kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan (kuku, telinga, rambut, dll) setiap hari senin, menjalankan ibadah bersama, mengucap salam dan berjabat tangan apabila bertemu dengan bapak/ ibu guru dan teman, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran.

Dari kedua pendapat dapat disimpulkan bahwa kegiatan rutin meliputi pelaksanaan piket, melaksanakan kegiatan keagamaan, upacara rutin , pemeriksaan kebersihan badan, dan sapa salam.

Secara keseluruhan peneliti dapat menyimpulkan bahwa internalisasi nilai- nilai karakter yang ada di sekolah dapat melalui: 1) integrasi ke dalam bidang studi yaitu penyampaian nilai- nilai

karakter melalui mata pelajaran yang disesuaikan dengan pokok bahasan mata pelajaran tersebut.

2) Melalui budaya sekolah yang terdiri dari:

a) Dalam kelas, seperti: lomba kebersihan antar kelas, penyediaan tata tertib maupun aturan kedisiplinan siswa b) Di sekolah, sepeti: pagelaran seni, lomba pidato yang

bertemakan mengenai karakter, lomba kesenian antar kelas, lomba kebersihan, infaq, maupun perayaan hari keagamaan c) Di luar sekolah, seperti: pramuka, kunjungan ke tempat-

tempat yang dapat menumbuhkan karakter misalnya saja berkunjung ke museum, membersihkan tempat- tempat umum, dan juga membantu membersihkan dan mengatur tempat beribadah.

40

3) pengembangan diri yang meliputi:

a. keteladanan misalnya berpakaian rapi, mentaati tata tertib, berlaku disiplin, penuh

kasih sayang kegiatan

b. kegiatan spontan misalanya penggalangan dana, menjenguk teman yang sakit, dll.

c. teguran contohnya guru memperingatkan siswa apabila melihat perilaku yang tidak terpuji.

d. pengkondisian seperti: penyediaan slogan, tempat sampah, toilet yang bersih, menata alat- alat belajar dan juga menyediakan tempat untuk meletakkan alat- alat belajar. 7. Tahapan Perkembangan Karakter

Menurut Lickona (Zubaedi, 2004: 7-8) jika pendidikan karakter ingin berjalan dengan baik, maka tentunya harus melibatkan 3 aspek yang saling berkaitan. Aspek tersebut adalah:

a. Pengetahuan Moral (Moral Knowing)

Pengetahuan moral berhubungan dengan seorang individu mengetahui suatu nilai, yang mana nilai tersebut dijabarkan ke dalam 5 sub komponen, antara lain: 1) moral awareness (kesadaran moral), 2) knowing moral values (pengetahuan mengenai nilai- nilai moral), 3) perspective- taking (memahami sudut pandang lain/ pandangan ke depan), 4) moral reasoning (penalaran moral), 5) decision making (membuat keputusan), 6) self – knowledge (pengetahuan diri).

41 b. Sikap moral (Moral Feeling)

Sikap moral juga dijabarkan ke dalam 6 sub komponen, antara lain: 1) Conscience (nurani), 2) Self- esteem (harga diri), 3) emphaty (empati), 4) loving the good (cinta kebaikan), 5) self- control (control diri), 6) humility (rendah hati). kata hati, rasa percaya diri, empati, cinta kebaikan, pengendalian diri, dan kerendahan hati.

c. Perilaku moral (Moral Action)

Moral action dijabarkan ke dalam 3 sub komponen, antara lain: 1) competence (kompetensi), 2) Will (keinginan), 3) habit (kebiasaan). Menurut Kemendiknas dalam jurnalnya Policy Brief edisi 4 (2011: 8) menyebutkan bahwa tahapan pembentukan karakter melalui 6 tahapan yang digambarkan melalui bagan di bawah ini:

Gambar1. Tahapan Pembentukan Karakter Keterangan dari bagan:

1. Tahapan mengetahui 2. Tahapan memahami 3. Tahapan membiasakan 4. Tahapan meyakini

5. Tahapan melakukan sesuai dengan 1, 2, 3, 4

6

5

4

3

2

1

42

6. Tahapan mempertahankan.

Melalui kedua pendapat di atas baik dari Lickona maupun menurut Kemendiknas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa tahapan perkembangan moral yang diungkapkan kedua ahli hampir memiliki kesamaan yaitu tahap pertama adalah tahapan pengetahuan/ mengetahui, tahapan yang kedua yaitu sikap moral yang mana sikap moral ini adalah tahap dimana seseorang sudah memahami mengenai nilai- nilai kebaikan yang harus ada dikembangkan di dalam dirinya. Tahap ketiga adalah tahap dimana seseorang sudah mulai membiasakan menerapkan nilai dalam kehidupannya, karena seseorang sudah membiasakan untuk menerapkan nilai tersebut dalam kehidupannya, maka seseorang tersebut meyakini bahwa apa yang dilakukannya itu benar sehingaa ia akan berusaha untuk mempertahankan apa yang telah ia lakukan.