• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan industri kreatif perlu dilandasi oleh ketersediaan soft infrastruktur yang kuat dan lingkungan yang kondusif bagi penciptaan ide-ide kreatif. Infrastruktur tersebut terkait penghargaan atas ide kreatif, pemasaran yang didukung teknologi, dan kemudahan akses pembiayaan. Ketiganya diharapkan mampu menstimulasi ide-ide kreatif dan mewujudkannya menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi.

Penghargaan atas ide penciptaan produk kreatif perlu didukung pula oleh pemberian Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Pemberian HAKI kepada inovator kreatif di daerah perlu terus diperluas mengingat belum semua pelaku usaha industri kreatif memiliki kepedulian terhadap HAKI. Saat ini, baru pelaku usaha di Sumatera Barat yang mendapat fasilitas pengurusan HAKI di atas 50% (Grafik II.36).

Sumber: Riset Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), 2016 Grafik II.36. Pelaku Usaha yang Mendapat Fasilitas HAKI

Penguatan peran industri kreatif juga perlu didukung oleh pemanfaatan teknologi dan sistem informasi. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa tingkat penggunaan internet penduduk di Sumatera baru mencapai 15,7%; jauh berada di bawah Jawa yang mencapai 65% dan nasional yang mencapai 51,8%. Dengan penggunaan internet yang masih terbatas, metode pemasaran produk kreatif Sumatera masih harus lebih banyak mengandalkan metode langsung yang tidak memanfaatkan jaringan internet. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendampingan bagi pelaku usaha kreatif untuk memanfaatkan jaringan internet dalam memasarkan produknya.

Dukungan pembiayaan menjadi faktor penting lainnya yang juga sangat penting untuk mengakselerasi kinerja pelaku usaha kreatif.

Meskipun cenderung meningkat, porsi penyaluran kredit ke industri kreatif masih di bawah 1% dari total kredit perbankan di Sumatera. Kondisi usaha yang tidak bankable karena masih merupakan jenis usaha baru dan skalanya yang masih relatif kecil dan risiko yang tidak diketahui menjadi salah satu faktor penghambat akses memperoleh kredit perbankan bagi usaha industri kreatif. Oleh karena itu, masih diperlukan adanya upaya Pemerintah bekerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk mendukung tumbuhnya industri kreatif baru melalui pemberian insentif dan juga pendampingan yang lebih intensif.

Ekonomi Jawa pada triwulan III 2017 tumbuh sebesar 5,51% (yoy), meningkat dari 5,42% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan investasi, konsumsi pemerintah, dan perbaikan kinerja ekspor. Peningkatan kinerja investasi didukung oleh pembangunan infrastruktur pemerintah yang masih berlanjut dan perbaikan iklim investasi yang mendorong investasi swasta. Selanjutnya, peningkatan kinerja konsumsi pemerintah dipengaruhi oleh pembayaran gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) ke-13 pada bulan Juli. Adapun perbaikan kinerja ekspor lebih diakibatkan oleh dampak carry over realisasi ekspor dari triwulan II 2017 akibat kembali normalnya kegiatan operasional di sektor riil pasca-Ramadhan dan Idul Fitri. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Jawa didukung oleh membaiknya kinerja lapangan usaha utama, yakni lapangan usaha industri pengolahan dan perdagangan sejalan dengan kembali normalnya hari kerja efektif pasca Ramadhan dan Idul Fitri.

Tekanan inflasi Jawa pada triwulan III 2017 tercatat sebesar 3,80% (yoy), mengalami penurunan bila dibandingkan triwulan II 2017 yang sebesar 4,30% (yoy). Penurunan tersebut sejalan dengan koreksi harga beberapa komoditas strategis pasca perayaan Hari Raya Idul Fitri. Komoditas strategis yang mengalami penurunan antara lain tarif transportasi angkutan laut dan darat, serta beberapa komoditi pangan, seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai merah seiring musim panen raya yang mulai terjadi di beberapa sentra produsen di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Terjaganya inflasi di Jawa sesuai dengan sasaran inflasi nasional didukung kontribusi positif sinergi kebijakan pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang difokuskan pada penguatan ketahanan pangan daerah, penguatan distribusi pangan, dan pengembangan sistem informasi harga komoditas.

Perekonomian Jawa pada tahun 2017 diprakirakan tumbuh stabil dibandingkan 2016 pada kisaran 5,3%-5,7% (yoy). Pertumbuhan tersebut didorong oleh membaiknya pertumbuhan investasi, konsumsi pemerintah, dan ekspor. Beberapa faktor yang diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa antara lain potensi perbaikan ekonomi global, multiplier effect pembangunan infrastruktur, dan dukungan kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian. Sementara itu, inflasi pada akhir 2017 diprakirakan masih dalam kisaran sasaran nasional, seiring dengan penurunan tekanan harga beberapa komoditi pangan strategis.

Pertumbuhan ekonomi Jawa tahun 2018 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 di kisaran 5,5%-5,9% (yoy). Peningkatan tersebut diprakirakan berasal dari perbaikan konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor luar negeri. Beberapa faktor yang mendukung antara lain berlanjutnya pembangunan infrastruktur strategis pemerintah, penyelenggaraan Asian Games di DKI Jakarta dan Jawa Barat, potensi perbaikan ekonomi global, serta penyelenggaraan pemilihan kepala daerah di 3 provinsi, 14 kota, dan 31 kabupaten pada Juni 2018. Sementara itu, inflasi tahunan Jawa pada 2018 diprakirakan lebih rendah dari tahun 2017 dan berada dalam rentang target inflasi 3,5% ± 1%. Penurunan inflasi tersebut didukung oleh nilai tukar rupiah yang stabil dan belum adanya rencana penyesuaian tarif yang ditentukan oleh Pemerintah secara signifikan, serta upaya menjaga pasokan pangan melalui program prioritas ketahanan pangan nasional.

Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian Jawa tumbuh meningkat pada triwulan III 2017 dari 5,42% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 5,51% (yoy). Peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh DKI Jakarta sebesar 6,29% (yoy), diikuti Banten sebesar 5,62% (yoy), D.I. Yogyakarta sebesar 5,41% (yoy), dan Jawa Timur sebesar 5,16% (yoy).

Sementara pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah relatif stabil sebesar 5,13% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Jawa tertahan oleh perlambatan ekonomi di Jawa Barat dari 5,35% (yoy) menjadi 5,19% (yoy).

Tabel III.1. Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Jawa

Sumber: BPS (diolah)

Membaiknya ekonomi Jawa didorong oleh peningkatan investasi dan konsumsi pemerintah serta kinerja ekspor. Peningkatan investasi ditopang oleh pembangunan infrastruktur strategis di Jawa yang masih berlanjut, sementara perbaikan konsumsi pemerintah didorong oleh adanya penyaluran bantuan sosial dan pembayaran gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa tertahan oleh konsumsi Rumah Tangga (RT) yang tumbuh melambat dari 5,32%

(yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 4,35%

(yoy) pasca peningkatan konsumsi di periode Ramadhan dan Idul Fitri.

Perlambatan konsumsi rumah tangga terjadi di hampir seluruh provinsi, kecuali D.I. Yogyakarta.

Konsumsi rumah tangga di D.I. Yogyakarta masih tumbuh meningkat seiring dengan musim liburan panjang yang terjadi di awal triwulan III.

Perlambatan konsumsi terutama disumbang oleh melambatnya konsumsi makanan dan minuman, konsumsi transportasi dan komunikasi, serta

konsumsi pakaian dan alas kaki. Pelemahan konsumsi rumah tangga tercermin dari penurunan penjualan beberapa korporasi di sektor perdagangan yang bergerak di bidang retail pada triwulan laporan.

Sumber: BPS (diolah)

Grafik III.1. Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan (Triwulanan)

Perlambatan konsumsi rumah tangga juga terkonfirmasi dari penurunan permintaan kredit konsumsi dari perbankan. Pertumbuhan kredit konsumsi tercatat melambat dari 10,8% (yoy) menjadi 10,4% (yoy), yang salah satu sumbernya adalah perlambatan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Sejalan dengan hal tersebut, Indeks Penjualan Riil (IPR) Bank Indonesia juga menunjukkan adanya pelemahan konsumsi yang terlihat dari menurunnya IPR dari 204 di triwulan II menjadi 174 pada triwulan III 2017.

Grafik III.2. Perkembangan Kredit Konsumsi, IKK dan IPR

Peningkatan investasi di Jawa ditopang oleh membaiknya investasi Pemerintah dan juga investasi swasta. Perbaikan investasi Pemerintah

I II III IV Total I II II DKI Jakarta 5.89 5.74 6.04 6.10 5.51 5.85 6.45 5.96 6.29 Jawa Barat 5.04 5.20 6.06 5.97 5.45 5.67 5.28 5.35 5.19 Banten 5.40 5.10 5.17 5.24 5.53 5.26 5.94 5.46 5.62 Jawa Tengah 5.47 5.08 5.71 5.01 5.33 5.28 5.31 5.15 5.13 DI Yogyakarta 4.95 5.11 5.44 4.95 4.71 5.05 5.12 5.16 5.41 Jawa Timur 5.44 5.44 5.64 5.62 5.48 5.55 5.39 5.08 5.16 Jawa 5.47 5.38 5.82 5.70 5.45 5.59 5.68 5.42 5.51

Provinsi 2015 2016 2017

didorong oleh pembangunan 55 proyek strategis yang pada triwulan III masih berjalan dengan nilai investasi sekitar Rp 401 triliun6. Hal ini tercermin dari konsumsi semen di wilayah Jawa yang tercatat meningkat pada triwulan laporan.

Sementara itu, hasil liaison juga mengonfirmasi bahwa minat investasi swasta pada triwulan III 2017 mengalami peningkatan, yang disebabkan oleh perbaikan iklim investasi di Indonesia7. Membaiknya pertumbuhan ekonomi Jawa juga disumbang dari akselerasi konsumsi Pemerintah. Konsumsi Pemerintah tumbuh sebesar 2,06% (yoy), setelah mengalami kontraksi 4,56% (yoy) pada triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan realisasi konsumsi pemerintah tersebut didorong oleh adanya pembayaran gaji ke-13 pada Juli 2017 bagi ASN, realisasi belanja barang Pemerintah, dan penyaluran bantuan sosial.

Sumber: Bea Cukai dan Asosiasi Semen (diolah) Grafik III.3. Perkembangan SKDU, Impor Barang Modal

dan Penjualan Semen

Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2017 juga didukung oleh meningkatnya pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan impor. Pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan impor membuat net ekspor Jawa tercatat mengalami kenaikan. Ekspor triwulan laporan

6 Data Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP)

7 Perbaikan Ease of Doing Business, kenaikan Global Competitiveness Index, dan kenaikan investment grade menjadi BBB- oleh tiga lembaga pemeringkat yaitu S & P, Moody’s, dan Fitch.

tumbuh 15,41% (yoy) setelah kontraksi 10,96%

(yoy) pada triwulan sebelumnya. Membaiknya kinerja ekspor didorong oleh peningkatan kinerja korporasi seiring kembali normalnya jumlah hari kerja produksi dan dampak carry over realisasi penjualan pasca Ramadhan dan Idul Fitri di triwulan II. Selain itu, perbaikan kinerja ekspor turut didukung ekspansi pasar oleh pelaku usaha ke beberapa negara baru dimana share ekspor ke Singapura dan Saudi Arabia mengalami peningkatan.

Membaiknya ekonomi Jawa mendorong peningkatan impor, terutama impor bahan baku. Pertumbuhan impor sebesar 16,13% (yoy) terutama ditopang oleh impor barang modal dan bahan baku yang masih-masing dapat tumbuh 37,31% (yoy) dan 27,33% (yoy). Peningkatan tersebut juga sejalan dengan meningkatnya investasi dan kinerja industri pengolahan pada triwulan laporan. Sementara itu sejalan dengan perlambatan konsumsi rumah tangga, impor barang konsumsi terpantau melambat.

Sumber: Bea Cukai (diolah)

Grafik III.4. Perkembangan Ekspor dan Impor Luar Negeri

Pertumbuhan ekonomi Jawa diprakirakan akan meningkat pada triwulan IV 2017, terutama ditopang membaiknya konsumsi rumah tangga.

Konsumsi rumah tangga diperkirakan terakselerasi seiring dengan pola seasonal akhir tahun, khususnya pada Natal dan tahun baru. Hal ini dikonfirmasi oleh Indeks Ekspektasi Konsumsi (IEK) yang mengindikasikan adanya peningkatan konsumsi rumah tangga. Selain itu, penundaan kenaikan tarif dasar listrik dan elpiji untuk

konsumen rumah tangga diperkirakan dapat menjadi pendorong meningkatnya daya beli masyarakat.

Grafik III.5. Perkembangan IEK

Selain konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah pada triwulan IV diprakirakan tetap dapat tumbuh lebih tinggi di tengah potensi shortfall penerimaan pajak. Peningkatan konsumsi pemerintah didorong oleh realisasi anggaran Pemerintah Daerah (PEMDA) yang umumnya relatif tinggi pada akhir tahun. Selain itu, peningkatan konsumsi pemerintah juga didorong oleh proses persiapan pemilihan kepala daerah serentak yang sudah akan dimulai dengan tahapan pemutakhiran data dan proses pendaftaran pasangan calon. Namun demikian, akselerasi konsumsi pemerintah berpotensi tertahan jika terjadi pemotongan anggaran sebagai bagian dari upaya efisiensi pemerintah.

Sesuai Instruksi Presiden No. 4 Tahun 2017, akan dilakukan pemotongan anggaran K/L sebesar Rp 16 Triliun akibat koreksi pertumbuhan pajak dalam APBPN 2017 menjadi 14,6%.

Dari sisi investasi, berlanjutnya pembangunan proyek infrastruktur pemerintah dan investasi sektor swasta di Jawa diprakirakan masih menjadi penopang pada triwulan IV.

Pembangunan proyek infrastruktur pemerintah di sejumlah daerah yang telah dimulai sejak awal tahun 2017 diperkirakan masih terus berjalan, meski beberapa proyek telah memasuki tahap finishing seperti venue ASIAN Games. Sementara investasi swasta diprakirakan berasal dari pembangunan beberapa pabrik, antara lain

pabrik petrokimia dan pengolahan coklat di Jawa Barat.

Kinerja ekspor dan impor diperkirakan melambat pada akhir tahun yang terjadi di hampir seluruh provinsi di Jawa. Kinerja ekspor pada triwulan IV 2017 masih tercatat tinggi namun masih lebih rendah bila dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal tersebut tercermin dari PMI Amerika Serikat dan Tiongkok pada bulan Oktober 2017 yang relatif lebih rendah apabila dibandingkan dengan triwulan III 2017. Di samping itu, kinerja ekspor Jawa mengahadapi tantangan lain berupa persaingan yang semakin kompetitif dengan negara eksportir seperti Vietnam dan Bangladesh terutama pada komoditas tekstil. Sementara perlambatan impor diprakirakan sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekspor pada triwulan IV 2017.

Selain itu, pertumbuhan impor yang lebih rendah turut disebabkan oleh kenaikan impor yang sudah relatif tinggi pada triwulan III 2017.

Kapasitas utilisasi yang masih relatif rendah berdasarkan hasil liaison diperkirakan turut menahan pertumbuhan impor barang modal di akhir tahun.

Kinerja Lapangan Usaha

Sumber: BPS (diolah)

Grafik III.6. Pertumbuhan Lapangan Usaha Utama

Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2017 didukung oleh membaiknya kinerja lapangan usaha utama di Jawa. Pertumbuhan ekonomi pada lapangan usaha industri pengolahan dan perdagangan meningkat seiring kembali normalnya hari kerja efektif pasca Ramadhan dan

Idul Fitri. Sementara itu, peningkatan kinerja lapangan usaha pertanian didukung oleh peningkatan produksi hortikultura di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta panen padi di Jabar (Tasikmalaya & Cirebon). Sementara itu, kinerja lapangan usaha konstruksi terpantau meningkat seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah dan pabrik maupun properti oleh sektor swasta.

Industri Pengolahan

Kinerja industri pengolahan mengalami perbaikan pada triwulan III 2017 yang terindikasi dari peningkatan produksi dan kapasitas terpakai. Industri pengolaham mengalami peningkatan pertumbuhan dari 4,92%

(yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 5,19%

(yoy). Membaiknya kinerja industri pengolahan terutama dipengaruhi oleh kembali normalnya kegiatan operasional pasca Ramadhan dan Idul Fitri. Hal ini tercermin dari Prompt Manufacturing Index8 (PMI) yang mengalami kenaikan dari 53,22 menjadi 55,42, serta kapasitas terpakai industri pengolahan9 yang juga meningkat dari 76,35%

menjadi 78,86% pada triwulan III 2017. Selain itu, peningkatan pertumbuhan industri juga tercermin dari penyaluran kredit kepada lapangan usaha industri pengolahan pada triwulan III 2017 yang tumbuh 7,26% (yoy), cukup tinggi bila dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 4,37% (yoy), serta kenaikan ekspor produk manufaktur yang tumbuh 24,73%

(yoy) pada triwulan III 2017 setelah mengalami kontraksi 5,55% (yoy) pada triwulan sebelumnya.

Membaiknya kinerja industri pengolahan didukung oleh perbaikan kinerja industri alat angkutan, tekstil dan produk turunannya, serta industri semen. Pertumbuhan produksi mobil triwulan III 2017 sebesar 11,10% (yoy) setelah mengalami kontraksi 11,15% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Penjualan kendaraan bermotor juga terpantau tumbuh sebesar 7,53% (yoy) sementara penjualan motor juga tumbuh 16,31%

8 Berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha

9 Berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha

(yoy), meningkat dari triwulan II 2017 dimana masing-masing mengalami kontraksi 5,69% (yoy) dan 15,00% (yoy)10. Sementara peningkatan kinerja industri tekstil dan produk turunannya (TPT), terlihat dari peningkatan ekspor TPT pada triwulan laporan. Membaiknya kinerja industri semen tercermin dari pertumbuhan penjualan semen di Jawa sebesar 28,99% (yoy) akibat pembangunan proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang masih berlanjut11.

Grafik III.7. Perkembangan Industri Pengolahan

Sumber: Bea Cukai, AISI dan GAIKINDO (diolah) Grafik III.8. Perkembangan Industri Pengolahan Sub

Lapangan Usaha Alat Angkut dan TPT

Perbaikan kinerja industri pengolahan di triwulan III 2017 diprakirakan berlanjut pada triwulan IV 2017. Hal ini sejalan dengan optimisme dunia usaha terhadap peningkatan konsumsi rumah tangga di akhir tahun berpotensi mendorong kinerja industri yang berorientasi domestik12. Di sisi lain, pertumbuhan eskpor

10 Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat

11 Sumber: Asosiasi Semen Indonesia (ASI)

12 Sumber: Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan Liaison Bank Indonesia

diperkirakan terbatas yang tercermin dari PMI Tiongkok dan Amerika Serikat yang cenderung menurun pada bulan Oktober 2017. Hal tersebut sejalan dengan ekspor yang diperkirakan sedikit melambat pada akhir tahun 2017.

Konstruksi

Akselerasi pembangunan proyek infrastruktur Pemerintah dan sektor swasta diprakirakan menjadi penopang kinerja lapangan usaha konstruksi pada triwulan IV. Beberapa proyek infrastruktur di DKI Jakarta yang masih berlangsung antara lain pembangunan konstruksi LRT Jabodebek, Fly Over (Cipinang Lontar, Pancoran, dan Bintaro), proyek MRT, dan pembangunan beberapa infrastruktur pendukung pelaksanan Asian Games 2018. Selain proyek infrastruktur di Jakarta, saat ini masih berlangsung pembangunan tol Cikampek di Jawa Barat, pembangunan tol Trans Jawa, PLTU Batang, Pelabuhan Tanjung Emas di Jawa Tengah, pembangunan New Yogyakarta International Airport di DI Yogyakarta, pembangunan tol Solo-Kertosono, serta Pelabuhan Marina Bay.

Sementara pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh swasta yang juga sedang berjalan, antara lain pabrik baja dan petrokimia di Banten, serta penambahan tower Tunjungan Plaza di Jawa Timur.

Sumber: Asosiasi Semen (diolah)

Grafik III.9. Perkembangan Penjualan Semen dan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR)

Peningkatan kinerja konstruksi juga sejalan dengan pertumbuhan kinerja sektor properti rumah residensial. Secara spasial, peningkatan IHPR terjadi di seluruh provinsi dan turut

tercermin dari permintaan Kredit Pemilikian Rumah (KPR) yang meningkat pada triwulan laporan. Selain itu, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Jawa pada triwulan III 2017 meningkat ke level 231,41 atau lebih tinggi dari 228,68 pada triwulan sebelumnya, terutama didorong oleh kenaikan harga rumah tipe kecil.

Perbaikan kinerja sektor konstruksi juga ditunjukan oleh penjualan semen yang tumbuh 28,99% (yoy) pada triwulan laporan.

Kinerja lapangan usaha konstruksi pada triwulan IV 2017 diprakirakan tumbuh stabil.

Pertumbuhan tersebut masih didukung oleh aktivitas investasi di perluasan kawasan industri di wilayah Jawa Tengah, proyek-proyek venue ASIAN Games yang sudah memasuki tahap finishing, maupun proyek infrastruktur lainnya yang dilaksanakan multiyears. Selain itu, permintaan perumahan residensial juga diprakirakan masih meningkat pada triwulan IV.

Pertanian

Pertumbuhan kinerja lapangan usaha pertanian pada triwulan III 2017 meningkat dari triwulan sebelumnya yang sebesar 0,96% (yoy) menjadi sebesar 1,57% (yoy). Peningkatan kinerja lapangan usaha pertanian terutama didorong oleh produksi hortikultura yang meningkat.

Berlanjutnya musim kemarau basah pada triwulan III 2017 memberikan dampak positif untuk produksi hortikultura. Pada triwulan laporan, tercatat produksi aneka cabai dan bawang merah di Jawa Tengah dan Jawa Timur meningkat. Sejalan dengan hal tersebut, terjadi deflasi pada komoditas aneka cabai dan bawang merah sepanjang triwulan III 2017. Selain komoditas hortikultura, produksi padi di Jawa Barat masih relatif tinggi, sejalan dengan periode puncak panen padi pada bulan September-Oktober 2017, meski panen padi di daerah lain telah berakhir. Meningkatnya kinerja lapangan usaha pertanian didukung oleh perbaikan upaya pengendalian hama di kawasan Jawa. Kementan telah memberikan bantuan 500 ton benih padi varietas antihama dan peluncuran varietas baru

yang berproduksi tinggi, tahan hama, dan mampu bertahan pada kemarau dan banjir. Adapun luas lahan yang mengalami gagal panen hanya sebesar 0,4% dari sekitar 63 ribu ha luas tanam padi di Jawa13.

Perbaikan kinerja sektor pertanian juga tercermin dari peningkatan penyaluran kredit dan rasio Nilai Tukar Petani (NTP). Penyaluran kredit sektor pertanian pada triwulan III 2017 tumbuh 6,96% (yoy), lebih tinggi daripada triwulan sebelumnya 5,21% (yoy). Selain itu membaiknya kinerja pertanian juga terlihat pada kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) dari 102,24 pada triwulan II 2017 menjadi 104,83 di triwulan laporan.

Grafik III.10. Perkembangan Kredit Pertanian

Kinerja pertanian diprakirakan meningkat pada triwulan IV 2017 seiring dengan masa panen komoditas tanaman pangan (padi) dan hortikultura. Potensi panen padi pada akhir tahun 2017 terjadi di Provinsi D.I Yogyakarta, sementara potensi peningkatan produksi hortikultura diprakirakan masih akan berlangsung seiring dengan berlanjutnya musim kemarau basah hingga akhir tahun. Indikasi peningkatan kinerja lapangan usaha pertanian ke depan tercermin dari dari hasil SBT SKDU yang naik menjadi 1,40%, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang sebesar 0,10%14.

13 Sumber: Kementan

14 Sumber: survei SKDU Bank Indonesia

Perdagangan

Kinerja lapangan usaha perdagangan masih dapat tumbuh meningkat pada triwulan III 2017 dari 5,51% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 6,28% (yoy). Peningkatan tersebut tercermin dari penjualan mobil dan motor pada triwulan III 2017. Selain itu, kinerja korporasi beberapa perusahaan retail juga menunjukkan kenaikan penjualan meski pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat. Membaiknya kinerja sektor perdagangan didukung oleh penyelenggaraan festival belanja di beberapa pusat perbelanjaan dan penyelenggaraan event budaya dan pariwisata di wilayah Jawa, antara lain Borobudur Internasional Festival, Solo Batik Festival, Prambanan Jazz Festival, Dieng Culture Festival, Tour de Banyuwangi-Ijen, dan Pekalongan Batik Festival.

Sumber: GAIKINDO dan AISI

Grafik III.11. Perkembangan LU Perdagangan dan Indikator Pendukungnya

Pertumbuhan kinerja sektor perdagangan pada triwulan IV diprakirakan relatif stabil. Penjualan kendaraan bermotor diprakirakan meningkat sesuai dengan target pertumbuhan penjualan mobil sebesar 5%. Potensi pertumbuhan sektor perdagangan sejalan dengan indikator survei konsumen Bank Indonesia yaitu IEK yang meningkat, serta prakiraan kondisi dunia usaha hasil SKDU yang membaik pada triwulan laporan.

Selain itu, penundaan kenaikan tarif listrik diprakirakan menjadi penopang terjaganya daya beli masyarakat. Namun demikian, pertumbuhan kinerja sektor perdagangan tertahan oleh perubahan pola konsumsi masyarakat yang

ditunjukkan dengan restrukturisasi, rekonsolidasi, dan reformating gerai ritel, terutama di DKI Jakarta.

Jasa Keuangan

Kinerja lapangan usaha jasa keuangan pada triwulan III tumbuh melambat, dari 5,91% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 3,48% (yoy).

Perlambatan kinerja jasa keuangan disebabkan oleh pertumbuhan Financial Intermediation Services Indirectly Measured (FISIM) dan pendapatan sekunder perbankan yang melambat.

Pertumbuan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami perlambatan bila dibandingkan triwulan II 2017. Perlambatan lebih dalam tertahan oleh penyaluran kredit perbankan yang masih menunjukkan peningkatan pertumbuhan menjadi 8,66% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 8,23% (yoy).

Sumber: IDX

Grafik III.12. Perkembangan FISIM dan Pasar Keuangan

Kinerja lapangan usaha jasa keuangan diprakirakan tumbuh lebih tinggi pada triwulan IV 2017. Akselerasi lapangan usaha jasa keuangan tersebut diprakirakan masih akan bersumber dari permintaan kredit perbankan dan penghimpunan dana pihak ketiga.

Tracking Perekonomian Jawa Tahun 2017 Perekonomian Jawa tahun 2017 diprakirakan tetap tumbuh positif di kisaran 5,3%-5,7% (yoy), meski sedikit melambat dibandingkan 2016.

Pertumbuhan ekonomi Jawa secara keseluruhan tahun 2017 didorong oleh pertumbuhan investasi, konsumsi pemerintah, dan ekspor.

Beberapa faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa antara lain realisasi pembangunan proyek-proyek infrastruktur pemerintah, potensi perbaikan ekonomi global, khususnya mitra dagang utama Jawa, serta terjaganya stabilitas perekonomian.

Kinerja ekspor Jawa diprakirakan membaik di

Kinerja ekspor Jawa diprakirakan membaik di