• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pembayaran Non Tunai

Volume transaksi SKNBI tumbuh meningkat setelah pada triwulan sebelumnya sempat mengalami perlambatan. Volume transaksi SKNBI tercatat mencapai 27,26 juta transaksi atau tumbuh sebesar 10,49% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 2,65% (yoy). Peningkatan volume transaksi kliring ini sejalan dengan peningkatan transaksi ekonomi Jawa yang terjadi pada triwulan III 2017, serta realisasi pembayaran terkait aktivitas belanja Pemerintah Daerah, antara lain pembayaran gaji ke 13.

Dari sisi nominal, transaksi SKNBI juga membaik pada triwulan laporan sejalan dengan makin kecilnya nilai kontraksi yang dialami. Transaksi SKNBI di Jawa secara total mencapai Rp 673,99 triliun, atau terkontraksi sebesar 3,62% (yoy).

21 Merupakan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia untuk wilayah Jawa

Kontraksi yang terjadi pada triwulan laporan membaik dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya yang sebesar 34,55% (yoy).

Grafik III.25. Volume Transaksi SKNBI

Grafik III.26. Nominal Transaksi SKNBI

Pertumbuhan transaksi RTGS (Real Time Gross Settlement) secara nominal mengalami peningkatan. Total nominal transaksi RTGS mencapai Rp 3.562,70 triliun, atau tumbuh 23,98% (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 19,86% (yoy). Di sisi volume, transaksi RTGS mencapai 930.927 transaksi, tumbuh melambat dari triwulan II sebesar 111,69% (yoy) menjadi 38,89% (yoy) pada triwulan laporan. Secara spasial, perlambatan volume transaksi RTGS terjadi di seluruh provinsi di Jawa.

Transaksi transfer dana non bank dari dan ke wilayah Jawa mengalami penurunan terutama pada transfer dana masuk dari luar negeri.

Secara keseluruhan, transaksi incoming (masuk) internasional dan domestik ke wilayah Jawa lebih tinggi bila dibandingkan dana yang outgoing (keluar). Pada triwulan III 2017, net transfer yang

masuk sebesar Rp9,55 triliun, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp11,60 triliun. Transfer dana incoming internasional ke Indonesia sebagian besar berasal dari negara Malaysia, Arab Saudi, dan Hongkong yang merupakan negara-negara tempat Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Kontribusi transfer dana incoming Jawa terhadap transfer dana nasional relatif besar, hal ini disebabkan oleh daerah basis TKI di Indonesia yang terbesar berada di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Pengelolaan Uang Rupiah

Sejalan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang melambat, wilayah Jawa mengalami net-inflow pada triwulan laporan.

Net-inflow Jawa tercatat sebesar Rp 78,08 triliun, sejalan dengan pola historis pasca Hari Raya Idul Fitri, dimana setoran uang ke perbankan mengalami peningkatan. Net-inflow tersebut terpantau lebih tinggi dibandingkan net-inflow pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp62,59 triliun.

Grafik III.27. Perkembangan Inflow dan Outflow

Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan terus memperkuat edukasi CIKUR (Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah) bagi masyarakat untuk mengurangi peredaran uang palsu di daerah.

Sampai dengan triwulan III 2017, jumlah uang diragukan keasliannya yang dilaporkan kepada Bank Indonesia mencapai 35.048 lembar, lebih tinggi daripada triwulan sebelumnya yang mencapai 27.377 lembar. Penemuan tersebut sebagian besar berasal dari DKI Jakarta sebanyak 13.072 lembar, disusul Jawa Timur sebanyak

8.366 lembar, dan Jawa Tengah sebanyak 6.707 lembar. Meskipun secara jumlah total meningkat, rasio temuan uang palsu per 1 juta inflow menunjukan perbaikan, dengan rata-rata temuan adalah 11 lembar uang palsu per satu juta inflow.

Rasio pada triwulan laporan tersebut lebih rendah bila dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 21 lembar uang palsu per satu juta inflow. Berbagai upaya penanggulangan uang palsu terus dilakukan oleh Bank Indonesia dengan berkoordinasi dengan pihak berwajib sebagai upaya preventif terhadap tindak pemalsuan uang. Bank Indonesia di seluruh wilayah Jawa juga bekerja sama dengan berbagai pihak antara lain perbankan, Penyelenggara Jasa Pengolahan Uang Rupiah (PJPUR), dan instansi pemerintah untuk memberikan edukasi kepada teller perbankan, kasir, maupun masyarakat umum mengenai pemahaman ciri-ciri keaslian uang rupiah.

Grafik III.28. Perkembangan Temuan Uang Palsu

Bank Indonesia terus melakukan berbagai upaya dalam menjaga kualitas uang layak edar. Dalam kaitan tersebut, Bank Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE). Rasio pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) terhadap inflow tercatat mengalami peningkatan pada triwulan III 2017. Selain itu, Bank Indonesia juga secara rutin melakukan layanan kas keliling dan layanan penukaran kepada masyarakat untuk menjaga kualitas uang layak edar.

Selain kegiatan pemusnahan UTLE, Bank Indonesia juga terus melakukan kegiatan kas keliling dan kas titipan oleh Kantor Perwakilan

Bank Indonesia (KPw BI). Pada triwulan III 2017, jumlah nominal dari kegiatan kas keliling mencapai Rp 119 miliar, relatif lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai sebesar Rp 586 miliar. Hal ini dikarenakan adanya penurunan kebutuhan uang tunai layak edar di masyarakat pasca berakhirnya perayaan Hari Raya Idul Fitri. Hal ini juga terjadi pada layanan penukaran uang yang turun dari Rp 731 miliar menjadi Rp 202 miliar.

Grafik III.29. Perkembangan Pemusnahan UTLE

Upaya meningkatkan uang layak edar di Jawa, juga dilakukan melalui penambahan jaringan kas titipan. Pada triwulan III 2017 telah dibuka kas titipan baru di Ponorogo dan pada bulan November 2017 akan dibuka kas titipan di Pangandaran. Dengan demikian, jaringan kas titipan di Pulau Jawa tersebar di 13 kota/kabupaten. Adapun sebaran lokasi dari 13 kas titipan tersebut adalah 3 kota/kabupaten di wilayah Jawa Barat (Sukabumi, Subang, Pangandaran), 4 kota/kabupaten di wilayah Jawa Tengah dan DIY (Cilacap, Pekalongan, Kudus, Kebumen), dan 6 kota/kabupaten di Jawa Timur (Pamekasan, Probolinggo, Banyuwangi, Bojonegoro, Madiun, dan Ponorogo). Nominal uang tunai yang dikelola oleh kas titipan pada triwulan III 2017 mencapai Rp 5,8 triliun.

Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB)

Jumlah KUPVA BB Berizin di Jawa hingga bulan Oktober 2017 terus menunjukkan peningkatan.

Pada triwulan laporan, jumlah KUPVA BB Berizin meningkat menjadi 689, dari 660 pada triwulan

sebelumnya. Peningkatan tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Timur yang saat ini memiliki 107 KUPVA BB Berizin. Namun demikian, dari sisi transaksi KUPVA BB Berizin di Jawa baik transaksi jual maupun beli mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Total nominal transaksi jual tercatat sebesar Rp 31,7 triliun, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp 32,7 triliun.

Sementara itu, transaksi beli juga menurun dari Rp32,5 triliun menjadi Rp31,9 triliun. Penurunan tersebut terutama terjadi di Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Timur, sedangkan provinsi lainnya masih mengalami peningkatan.

Grafik III.30. Perkembangan Transaksi KUPVA BB Berizin

Prospek Perekonomian

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Jawa pada triwulan I 2018 diprakirakan melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, terutama dipengaruhi oleh perlambatan pada konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor luar negeri. Pada awal tahun umumnya belanja pemerintah masih relatif rendah karena proses leleng proyek sedang berlangsung. Selain itu, penyaluran bantuan sosial dan dana desa di awal tahun relatif masih terbatas. Sementara itu, investasi swasta diprakirakan tertahan karena pelaku usaha cenderung wait and see menjelang pelaksanaan Pilgub dan Pilkada pada tahun 2018. Dari sisi eksternal, perbaikan harga komoditas diprakirakan tidak setinggi awal tahun 2017 sehingga pertumbuhan ekspor diprakirakan tidak

sebaik triwulan I 2017. Namun perlambatan yang lebih dalam masih tertahan oleh konsumsi rumah tangga yang diprakirakan tumbuh meningkat dibanding triwulan sebelumnya, seiring dengan berlalunya dampak kebijakan pemerintah yang menaikkan sejumlah tarif seperti TTL dan STNK pada triwulan I 2017.

Dari sisi lapangan usaha, perlambatan ekonomi Jawa pada triwulan I 2018 bersumber dari perlambatan kinerja lapangan usaha industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. Hal ini sejalan dengan terbatasnya belanja Pemerintah dan kegiatan investasi di awal tahun, serta berlalunya momen natal dan libur akhir tahun. Perlambatan lebih dalam ditahan oleh peningkatan kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan seiring dengan memasuki masa panen untuk tanaman bahan makanan.

Perekonomian Jawa pada tahun 2018 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 yang bersumber dari membaiknya investasi dan ekspor luar negeri. Ekonomi Jawa tahun 2018 diperkirakan tumbuh dalam rentang 5,5% - 5,9% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan perkiraan pertumbuhan tahun 2017 dalam rentang 5,3% - 5,7% (yoy). Akselerasi pertumbuhan ekonomi Jawa pada tahun 2018 diprakirakan bersumber dari peningkatan kinerja investasi dan ekspor luar negeri. Beberapa faktor yang mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa antara lain berlanjutnya pembangunan sejumlah proyek infrastruktur strategis pemerintah yang bersifat multiyears maupun proyek yang konstruksinya baru dimulai tahun 2018, penyelenggaraan Asian Games 2018 di DKI Jakarta dan Jawa Barat, berlanjutnya perbaikan ekonomi global, serta penyelenggaraan Pilkada di 3 provinsi, 14 kota, dan 31 kabupaten pada Juni 2018.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga diprakirakan tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Jawa pada tahun 2018 sejalan dengan terjaganya daya beli rumah

tangga. Kebijakan Pemerintah yang tidak akan melakukan penyesuaian tarif listrik rumah tangga atau biaya STNK sebagaimana terjadi di tahun 2017 turut menjadi faktor yang menjaga daya beli RT. Adanya event besar seperti Pilkada dan Asian Games juga diharapkan memberikan spillover effect kepada tambahan pendapatan rumah tangga. Selain itu, pelonggaran suku bunga kebijakan juga berpotensi mendorong kegiatan konsumsi RT yang dibiayai perbankan.

Hal ini sejalan dengan optimisme keyakinan konsumen di Jawa yang masih terjaga menjelang akhir tahun 2017 dan diperkirakan berlanjut ke tahun 2018.

Pertumbuhan investasi juga diprakirakan meningkat dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan Jawa di tahun 2018. Akselerasi pertumbuhan diprakirakan masih disumbang oleh investasi bangunan. Hal ini didorong oleh penyelesaian proyek infrastruktur strategis pemerintah yang bersifat multiyears maupun proyek-proyek vital lainnya, yang akan mulai konstruksi di tahun 2018 (antara lain Jalan Tol Serang Panimbang dan Pelabuhan Patimban), serta penyelesaian infrastruktur pendukung dan venue Asian Games 2018 juga turut mendorong kegiatan investasi bangunan.

Berlanjutnya perbaikan ekonomi global, terutama negara mitra dagang Jawa diprakirakan mampu mendorong kinerja ekspor Jawa di tahun 2018. Negara yang diprakirakan mengalami akselerasi pertumbuhan dibanding tahun 2017 antara lain Amerika Serikat, India, dan sejumlah negara berkembang Asia lainnya.

Adapun negara maju lainnya seperti Eropa dan Jepang diprakirakan tumbuh terbatas dibanding tahun 2017. Secara umum, peningkatan laju pertumbuhan global pada 2018 relatif moderat dibanding peningkatan pada 2017. Dari sisi domestik, beroperasinya sejumlah pabrik yang menambah kapasitas produksi Jawa di tahun 2018 diprakirakan dapat mendorong kinerja ekspor. Meski di saat yang bersamaan, peningkatan ekspor Jawa juga akan berdampak

pada peningkatan impor, terutama impor bahan baku dan barang modal.

Dari sisi penawaran, akselerasi ekonomi Jawa tahun 2018 ditopang oleh hampir seluruh lapangan usaha utama, yakni industri pengolahan, pertanian, dan konstruksi.

Meningkatnya kinerja industri pengolahan sejalan dengan potensi meningkatnya permintaan baik domestik maupun global. Selain itu, pembangunan kawasan industri terintegrasi JIIPE di Gresik dan infrastruktur dasar, serta sejumlah perusahaan skala besar juga akan merealisasikan ekspansi pabrik di tahun 2018. Akselerasi kinerja lapangan usaha pertanian terutama didukung oleh faktor cuaca dan iklim. Pada tahun 2018, diprakirakan kondisi iklim akan kembali normal setelah sebelumnya fenomena El Nino dan La Nina terjadi di sepanjang tahun 2015-2017. Hal ini berpotensi memberikan dampak positif kepada produktivitas tanaman pangan dan hortikultura.

Prakiraan pertumbuhan ekonomi Jawa yang membaik masih dibayangi oleh beberapa risiko internal dan eksternal. Dari sisi eksternal, kenaikan Federal Fund Rate di tahun 2018 masih terbuka, berpotensi menggangu stabilitas nilai tukar Rupiah. Selain itu, IMF juga memprakirakan pertumbuhan volume perdagangan global di tahun 2018 sedikit melambat dibanding tahun 2017 seiring dengan perkiraan melambatnya pertumbuhan Eropa dan Jepang dibanding tahun 2017. Dari sisi domestik, agenda pembangunan infrastruktur perlu didukung dengan perencanaan penerimaan negara yang memadai.

Laju inflasi Jawa triwulan I 2018 diprakirakan lebih rendah dibanding prakiraan inflasi pada triwulan IV 2017. Inflasi Jawa diperkirakan akan berada pada rentang 2,7-2,9% (yoy) pada triwulan I 2018. Terjaganya inflasi pada awal tahun disebabkan oleh tekanan yang relatif rendah dari kelompok administered prices (AP) dan volatile food (VF), serta terjaganya inflasi inti.

Laju inflasi yang terkendali turut didukung oleh kembali normalnya permintaan masyarakat

setelah meningkat pada akhir tahun ketika libur panjang natal dan tahun baru.

Menurunnya tekanan inflasi administered prices diprakirakan berasal dari tidak adanya penyesuian Tarif Tenaga Listrik (TTL) dan bensin pada awal tahun. Meningkatnya TTL disertai penyesuaian biaya perpanjangan STNK menjadi penyumbang inflasi terbesar pada awal tahun 2017. Selain itu, kembali normalnya tarif angkutan udara setelah mengalami kenaikan pada akhir tahun diprakirakan juga dapat menahan tekanan inflasi administered prices.

Sementara itu tekanan dari volatile food diperkirakan terbatas, dimana tekanan bersumber dari kenaikan harga komoditas hortikultura sesuai dengan pola seasonalnya.

Kenaikan tersebut disebabkan oleh belum masuknya masa panen pada periode dimaksud.

Sementara panen raya beras yang diperkirakan berlangsung pada akhir triwulan dapat menahan tekanan inflasi volatile food.

Inflasi inti yang stabil turut menjaga laju inflasi Jawa pada triwulan I 2018. Risiko kenaikan inflasi inti bersumber dari adanya potensi kenaikan tarif sewa dan kontrak rumah. Kenaikan kedua komoditas tersebut biasanya terjadi pada awal tahun dalam rangka menyesuaikan biaya yang meningkat pada tahun sebelumnya. Selain itu, cukai rokok tahun 2018 yang telah ditetapkan sebesar 10,04% juga akan memberikan sumbangan inflasi secara bertahap terhadap komoditas rokok.

Laju inflasi tahunan Jawa pada tahun 2018 diperkirakan sedikit lebih rendah dari tahun 2017 dan berada dalam rentang sasaran inflasi 3,5% ± 1%. Secara umum, menurunnya tingkat inflasi Jawa disumbang oleh menurunnya inflasi administered prices dengan tidak adanya penyesuaian tarif yang ditentukan oleh pemerintah secara signifikan. Selain itu, inflasi inti juga masih terjaga stabil sejalan dengan nilai tukar rupiah yang semakin stabil. Sementara itu, inflasi volatile food yang rendah pada tahun 2017 diprakirakan meningkat meski masih tetap

terjaga sejalan dengan rencana peningkatan produktivitas pertanian.

Tren inflasi administered prices yang menurun tetap menghadapi risiko kenaikan seiring tren peningkatan harga minyak. Kenaikan harga minyak berpotensi memberikan risiko kenaikan harga untuk komoditas TTL dan bensin, meski kenaikan tersebut turut dipengaruhi beberapa faktor lainnya. Sementara itu, risiko inflasi dari kenaikan tarif angkutan diharapkan dapat diminimalisir seiring dengan adanya penetapan atas dan bawah.

Ringkasan

Industri petrokimia merupakan industri strategis dan penting bagi perkembangan industri pengolahan di Jawa. Secara umum, industri petrokimia merupakan industri yang mengolah bahan kimia dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari proses pengolahan minyak bumi dan gas. Industri petrokimia dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu industri hulu, industri hulu antara, dan industri antara. Neraca perdagangan industri petrokimia di Jawa pada tahun 2016 tercatat defisit sebesar USD 10,5 miliar. Defisit dari industri petrokimia merupakan salah satu yang terbesar apabila dibandingkan dengan industri lainnya, dan menjadi penyumbang Current Account Deficit (CAD) terbesar di Indonesia.