Sistem Pembayaran Nontunai
Sejalan dengan pertumbuhan perekonomian KTI, kinerja sistem pembayaran turut mengalami perbaikan pada triwulan III 2017. Perbaikan kinerja sistem pembayaran tersebut tercermin dari pertumbuhan transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) di semua wilayah di KTI.
2016 2016
III II III III II III
Total Kredit 12.46 8.58 8.95 4.83 5.05 4.87
- Pertanian 29.07 34.39 40.18 2.19 2.27 2.02
- Perikanan 28.32 16.80 17.54 6.26 8.92 8.24
- Tambang 19.87 -10.30 -8.57 6.49 7.03 11.98
- Industri 23.28 9.67 8.14 5.78 3.72 3.66
- Konstruksi 9.69 3.11 8.75 11.16 12.81 11.81
- Perdagangan 12.32 6.57 6.06 4.37 5.05 4.76
- Akomodasi 17.94 10.87 14.59 3.37 3.43 3.66
Indikator & Wilayah
gKredit (% yoy) NPL (%)
2017 2017
2016 2016
III II III III II III
Total Kredit 17.80 10.50 12.23 5.26 8.45 8.34
- Pertanian 34.36 13.41 20.90 3.01 8.02 7.76
- Perikanan 39.52 47.50 40.54 3.62 4.18 3.47
- Tambang 3.00 23.92 45.96 3.65 11.64 9.92
- Industri 35.81 1.82 4.07 7.92 9.72 9.25
- Konstruksi 40.02 16.21 9.52 8.57 15.78 14.58
- Perdagangan 24.67 5.70 7.98 4.56 5.25 5.47
- Akomodasi 33.12 36.98 38.14 6.26 15.93 15.73
Indikator & Wilayah
gKredit (% yoy) NPL (%)
2017 2017 2016 2016
III II III III II III
Total Kredit 17.03 12.59 11.56 2.57 3.86 3.21
- Pertanian 32.25 27.30 32.00 1.38 2.22 2.54
- Perikanan 25.28 28.02 39.84 1.68 1.98 1.96
- Tambang -49.11 -48.44 -27.75 3.91 10.62 5.18
- Industri 22.37 5.71 9.25 2.88 3.60 3.44
- Konstruksi 4.69 13.60 16.34 5.56 6.48 6.09
- Perdagangan 20.01 9.14 7.36 2.53 3.17 3.28
- Akomodasi 15.76 32.36 27.62 3.92 11.61 4.35
Indikator & Wilayah
gKredit (% yoy) NPL (%)
2017 2017
Transaksi kliring secara nominal maupun volume melalui SKNBI pada triwulan III 2017 mengalami peningkatan meskipun masih berada pada zona negatif. Volume transaksi SKNBI pada tahun triwulan III 2017 tercatat sebanyak 2,23 juta lembar dengan nilai nominal sebesar Rp78,85 triliun, atau masing-masing tumbuh -3,59% (yoy) dan -9,33% (yoy). Capaian ini lebih baik dibandingkan capaian triwulan II 2017.
Secara spasial, pertumbuhan volume dan transaksi SKNBI di seluruh wilayah KTI mengalami kontraksi, dengan Kalimantan sebagai wilayah dengan kontraksi volume dan nominal transaksi terkecil masing-masing sebesar -0,61% (yoy) dan -3,38% (yoy).
Kontraksi nominal terbesar terjadi di wilayah Maluku-Papua yakni 15,75% (yoy) atau sebesar Rp5,97 triliun, sementara kontraksi volume terbesar terjadi di wilayah Sulawesi yakni 10%
(yoy) atau sejumlah 544 ribu lembar. Penurunan ini selain karena kondisi perekonomian salah satunya ditengarai akibat perubahan batas minimal transaksi BI-RTGS dari sebelumnya Rp500 juta menjadi 100 juta. Perubahan ini memunculkan irisan layanan antara RTGS dan SKN BI dimana transfer dana antar nasabah dengan nominal antara Rp100 juta sampai dengan Rp500 juta yang sebelumnya hanya dapat dilakukan via SKN, juga dapat dilakukan via RTGS per tanggal 1 Juli 2016.
Grafik IV.30. Volume Transaksi Kliring
Berdasarkan aliran transaksinya, KTI mengalami net outflow untuk transaksi kliring kreditnya.
Outflow terbesar ke regional Jawa sebesar
Rp27,4 triliun diikuti Sumatera sebesar Rp313 miliar. Sementara aliran transaksi kliring sesama wilayah di regional KTI tercatat sebesar Rp112 miliar dengan net flow terbesar dari wilayah Maluku-Papua ke wilayah Sulawesi sebesar Rp80 miliar.
Grafik IV.31. Nominal Transaksi Kliring
Di sisi lain, BI-RTGS mencatatkan pertumbuhan nominal transaksi pada triwulan III. Nominal transaksi RTGS KTI tumbuh 24,95% (yoy). Hal ini akibat base effect rendahnya nominal transaksi RTGS pada Triwulan III 2016. Berbeda dengan nominal transaksi, volume transaksi RTGS pada TW III 2017 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya dengan tumbuh sebesar 7,6% (yoy). Pertumbuhan tertinggi nominal dan volume transaksi selama triwulan III 2017 terjadi di bulan Juli 2017 dimana nominal dan volume transaksi masing-masing tumbuh sebesar 30,59% (yoy) dan 73,96% (yoy).
Kenaikan ini didorong penyelesaian transaksi pada periode Lebaran.
Grafik IV.32. Nominal & Growth Transaksi RTGS Secara spasial, semua wilayah di KTI mencatatkan pertumbuhan nominal transaksi
RTGS. Pertumbuhan nominal tertinggi terjadi di Kalimantan sebesar 41,11% (yoy). Sementara kontraksi nominal transaksi RTGS terjadi di Sulawesi sebesar 13,42% (yoy).
Transfer dana KTI mengalami peningkatan, terutama untuk transaksi transfer dana di domestik baik outgoing maupun incoming. Pada triwulan III 2017, KTI mencatatkan incoming transfer sebesar Rp400 miliar. Secara spasial, hanya wilayah Balinusra dan Sulawesi yang mencatatkan inflow, sementara wilayah Kalimantan dan Maluku-Papua mencatatkan outflow. Balinusra dan Sulawesi masing-masing inflow sebesar Rp690 miliar dan Rp40 miliar, sementara Kalimantan dan Maluku-Papua outflow sebesar Rp250 miliar dan Rp80 miliar.
Inflow yang terjadi di Balinusra dan Sulawesi itu sejalan dengan posisi kedua wilayah itu sebagai hub perdagangan di wilayah KTI.
Berdasarkan porsinya, porsi terbesar transfer dana di KTI untuk transaksi domestik terjadi di Kalimantan dengan porsi sebesar 54% dan 33%
masing-masing untuk outgoing dan incoming.
Sementara porsi terbesar transfer dana luar negeri di KTI oleh Balinusra masing-maisng sebesar 46% dan 69% untuk transaksi outgoing dan incoming seiring dengan kondisi Bali dan NTB yang merupakan daerah tujuan wisata dan daerah NTB sebagai pemasok TKI.
Upaya elektronifikasi di KTI pun menunjukan hasil yang menggembirakan.
Penetrasi non tunai di jalan tol Bali Mandara dan jalan tol Makassar masing-masing mencapai 100% dan 74%. Selain itu, realisasi Unik dibandingkan kebutuhannya di Bali dan di Makassar masing-masing telah mencapai 66%
dan 41%.
Capaian implementasi bantuan sosial non tunai di KTI pun meningkat dibandingkan triwulan II 2017, baik untuk penyaluran maupun penyerapan untuk Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Pada triwulan III 2017 penyaluran PKH II 2017 meningkat 1302%
dibandingkan triwulan II 2017 dengan tingkat penyerapan mencapai 96,6%. Begitu pun dengan penyaluran BPNT yang meningkat 4484%
dibandingkan triwulan II 2017 dengan penyerapan mencapai 34,5%.
Meskipun demikian, elektronifikasi di KTI masih menyisakan berbagai kendala yang perlu diperbaiki antara lain terbatasnya pendamping Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di NTB dan Papua serta lokasi agen yang relatif jauh di Kalsel dan Sulsel
Pengelolaan Uang Rupiah
Kebutuhan uang kartal masyarakat selama triwulan III 2017 (hingga Agustus 2017) mengalami penurunan yang tercermin dari posisi net inflow. Hal ini sesuai sejalan dengan pola historisnya dimana dimana periode setelah lebaran selalu ditandai dengan net inflow. Posisi net inflow menggambarkan lebih besarnya aliran uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia (inflow) dibanding uang kartal yang keluar dari Bank Indonesia (outflow). Posisi net inflow ini pun tercatat meningkat dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp8,26 triliun. Berdasarkan wilayah, net inflow terbesar terjadi pada wilayah Sulawesi sebesar Rp4,24 triliun dan terendah terjadi di wilayah Balinusra sebesar Rp2,28 triliun. Sementara wilayah Maluku-Papua menjadi satu-satunya wilayah yang mencatatkan net outflow, yakni sebesar Rp0,18 triliun.
Grafik IV.33. Aliran Uang Kartal
Terkait kegiatan pengedaran uang, Kantor Perwakilan Bank Indonesia di KTI terus
berupaya meningkatkan layanan perkasan di daerah. Hal ini ditempuh melalui perluasan jaringan kas titipan dengan target pembukaan 16 kas titipan baru untuk KTI pada tahun 2017 serta peningkatkan jangkauan layanan pengedaran uang di area perbatasan dan kepulauan terpencil melalui inisiatif BI Jangkau. Di KTI, inisiatif tersebut direncanakan untuk dilakukan di enam provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, serta Papua. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan soil level (kualitas uang yang diedarkan) dan menekan angka temuan uang palsu di masyarakat.
Seiring dengan kebijakan clean money policy, kegiatan pemusnahan uang tidak layak edar (UTLE) terus dilakukan oleh Bank Indonesia.
Selama Triwulan III (hingga Agustus 2017), jumlah UTLE yang dimusnahkan mencapai Rp 7,92 triliun dengan rasio terhadap inflow sebesar 28,69%.
Jumlah pemusnahan tersebut lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp7,00 triliun. Tingkat pemusnahan terbesar secara berturut-turut ada di wilayah Kalimantan sebesar Rp2,75 triliun dengan rasio terhadap inflow mencapai 29,22%, Balinusra sebesar Rp2,31 triliun dengan rasio 33,37%, Sulawesi Rp2,23 triliun dengan rasio 24,97%, dan Maluku-Papua sebesar Rp633 miliar dengan rasio 28,44%.
Jumlah uang yang diragukan keasliannya yang dilaporkan kepada Bank Indonesia di KTI pada triwulan III 2017 tercatat meningkat. Temuan uang palsu pada triwulan III 2017 tercatat sebanyak 5.159 lembar, lebih banyak daripada triwulan sebelumnya yang hanya 4.690 lembar dengan dominasi uang pecahan besar (Rp50 ribu dan Rp100 ribu). Secara spasial, uang palsu terbanyak ditemukan di Provinsi Bali (1406 lembar), Provinsi Nusa Tenggara Barat (1258 lembar), dan Provinsi Sulawesi Utara (781 lembar). Sebagai upaya mengantisipasi peningkatan peredaran uang palsu, edukasi kepada masyarakat terkait ciri-ciri keaslian uang Rupiah terus dilakukan di seluruh daerah. Selain itu, terus dilakukan pula penguatan koordinasi
antara Bank Indonesia, perbankan, dan pihak yang berwenang dalam hal penanganan laporan masyarakat terkait uang yang diragukan keasliannya.
Grafik IV.34. Temuan Uang Palsu
KUPVA Bukan Bank
Hingga Agustus 2017, Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) berizin di wilayah KTI terus mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari peningkatan jumlah KUPVA BB berizin dan transaksinya.
KUPVA BB di KTI tercatat sebanyak 216 KUPVA dengan sebaran terbanyak di wilayah Balinusra sebanyak 160 KUPVA, atau meningkat dibandingkan 2016 sebanyak 212 KUPVA.
Capaian ini berasal dari kenaikan jumlah KUPVA BB di Balinusra (4 KUPVA) dan Maluku-Papua (2 KUPVA), serta penurunan jumlah KUPVA di Sulawesi (2 KUPVA). Kenaikan ini didorong oleh upaya Bank Indonesia bersama pihak berwajib untuk menertibkan KUPVA BB tidak berizin sehingga dapat dicegah risiko pemanfaatan KUPVA BB untuk kegiatan pencucian uang, pendanaan terorisme, judi online, dan kejahatan lainnya sesuai dengan PBI No.18/20/PBI/2016 tanggal 3 Oktober 2016.
Transaksi KUPVA di KTI meningkat sejak awal 2017 hingga mencapai Rp2,3 triliun untuk transaksi pembelian dan Rp 2,32 triliun untuk transaksi penjualan. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan junlah wisman di KTI. Secara spasial, NTB menjadi provinsi dengan pertumbuhan transaksi KUPVA tertinggi yakni 166% (yoy) untuk
transaksi penjualan dan 167,1% (yoy) untuk transaksi pembelian.
Keuangan Inklusif
Perkembangan keuangan inklusif di KTI pun mengindikasikan perbaikan. Hal ini ditandai dengan kenaikan nominal dan pertumbuhan jumlah agen LKD, kenaikan jumlah uang elektronik (unik) serta kenaikan transaksi pembayaran menggunakan unik. Hingga Agustus 2017, agen LKD di wilayah KTI tercatat sebanyak 44.095 agen atau tumbuh 77,5% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan angka triwulan II 2017 yang tercatat sebesar 38.268 agen atau tumbuh 66,9%
(yoy).
Secara spasial, agen LKD KTI tersebar di Sulawesi, Kalimantan, Balinusra, dan Maluku-Papua masing-masing dengan porsi sebesar 36,74%, 26,21%, 25,06%, dan 12%.
Prospek Perekonomian
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Ekonomi KTI pada triwulan I 2018 diperkirakan tumbuh sedikit melambat dibanding triwulan IV 2017. Perlambatan tersebut terutama disumbang oleh wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku-Papua. Sementara ekonomi di wilayah Balinusra diperkirakan mengalami akselerasi yang menjadi faktor penahan perlambatan pertumbuhan ekonomi KTI lebih dalam. Akselerasi pertumbuhan ekonomi di wilayah Balinusra didorong oleh peningkatan ekspor tambang yang cukup siginifikan. Hal tersebut dipengaruhi oleh rendahnya ekspor komoditas tambang di triwulan I 2017 (base effect) karena kendala perpanjangan izin ekspor terkait implementasi Undang-Undang Minerba. Selanjutnya, perlambatan di Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku-Papua terutama disebabkan oleh masih belum optimalnya pertumbuhan konsumsi, sejalan dengan perlambatan kinerja lapangan usaha industri pengolahan, konstruksi, akomodasi, dan administrasi pemerintahan.
Dari sisi permintaan, perlambatan ekonomi KTI diperkirakan berasal dari melambatnya
konsumsi dan investasi (PMTB) di tengah masih kuatnya kinerja ekspor. Perlambatan konsumsi RT, Konsumsi Pemerintah, dan investasi pada triwullan I 2018 sejalan dengan pola historisnya di awal tahun pada saat mayoritas proyek pemerintah masih dalam tahap persiapan lelang dan kembali normalnya permintaan pasca perayaan natal dan tahun baru. Sementara itu, membaiknya kinerja ekspor luar negeri tidak terlepas dari optimisme eksportir tembaga akan penerbitan izin ekspor secara periodik dan meningkatnya permintaan sejalan membaiknya perekonomian negara tujuan utama ekspor KTI seperti Tiongkok dan Jepang.
Dari sisi lapangan usaha, perlambatan ekonomi pada triwulan I 2018 bersumber dari melemahnya kinerja hampir semua sektor perekonomian KTI kecuali pertambangan, pertanian, listrik, dan jasa keuangan. Hal ini terkait dengan belum maksimalnya penyerapan anggaran belanja pemerintah di awal tahun serta sesuai pola siklikalnya, sebagian besar korporasi masih melakukan konsolidasi dan perencanaan di awal tahun.
Adapun peningkatan kinerja lapangan usaha pertanian didukung oleh peningkatan produktivitas tabama, masa panen hortikultura dan palawija, serta dukungan cuaca yang kondusif bagi produksi perikanan tangkap.
Sementara perbaikan kinerja lapangan usaha pertambangan berasal dari peningkatan permintaan nikel oleh industri olahan nikel serta optimisme perbaikan kinerja mineral tembaga terkait perpanjangan izin ekspor tembaga.
Untuk keseluruhan tahun 2018, optimisme perbaikan kinerja perekonomian KTI diperkirakan berlanjut dari tahun 2017 didukung perbaikan konsumsi, investasi, dan menguatnya kinerja ekspor. Ekonomi KTI tahun 2018 diprakirakan tumbuh pada kisaran 5,2%-5,6%
(yoy), lebih tinggi dari prakiraan capaian 2017 yang sebesar 4,9%-5,3% (yoy).
Dari sisi sektoral, akselerasi ekonomi KTI pada tahun 2018 diperkirakan berasal dari perbaikan
kinerja lapangan usaha pertambangan, konstruksi, dan perdagangan.
Secara spasial, akselerasi ekonomi KTI pada tahun 2018 ditopang oleh perbaikan ekonomi di seluruh wilayah di KTI kecuali Kalimantan. Perlambatan di Kalimantan dipengaruhi oleh belum prospektifnya harga komoditas ekspor utama Kalimantan seperti batubara, CPO, dan karet sehingga menjadi disinsentif bagi produsen.
Di Sulawesi, dukungan program Pemda pada produksi tabama menjadi salah satu faktor utama penguatan lapangan usaha pertanian yang menopang akselerasi pertumbuhan. Sementara itu, di Maluku-Papua akselerasi didukung oleh produksi mineral tembaga yang diperkirakan membaik seiring dikeluarkannya perpanjangan izin ekspor secara periodik. Selain itu, kinerja lapangan usaha konstruksi juga diproyeksikan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Maluku-Papua di 2018 dengan terus berlanjutnya proyek konektivitas strategis di Papua serta pembangunan infrastruktur untuk mendukung pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020. Di Balinusra, peningkatan kinerja lapangan usaha pertambangan serta tingginya optimisme peningkatan wisman dan MICE menjadi akselerator utama pertumbuhan ekonomi.
Meski diproyeksikan meningkat pada 2018, terdapat beberapa downside risk terhadap pertumbuhan ekonomi KTI yang perlu diwaspadai. Dari aspek eksternal, risiko muncul dari tren perlambatan komoditas ekspor utama serta agresifnya kebijakan switching sumber energi Tiongkok yang dapat memengaruhi kinerja ekspor bahan mineral khususnya batubara. Dari aspek fiskal, pelaksanaan Pilkada 2018 di berbagai daerah di KTI memunculkan risiko terhadap kurang optimalnya pengelolaan fiskal daerah. Selain itu, terdapat pula risiko proses administrasi alih usaha pertambangan, gangguan hama, dan cuaca yang dapat mempengaruhi lapangan usaha pertanian, serta risiko peningkatan inflasi kelompok administered prices
dan volatile food yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat. Di sisi lain, upside risk pertumbuhan ekonomi KTI muncul dari momentum perbaikan ekonomi global yang berpotensi meningkatkan permintaan negara mitra dagang selain kerjasama bilateral perdagangan yang terus diupayakan oleh pemerintah. Lebih dari itu, percepatan proyek infrastruktur dan strategis nasional yang cukup marak di KTI dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi 2018 ke arah yang lebih tinggi.
Prospek Inflasi
Tekanan inflasi di KTI pada triwulan I 2018 diprakirakan menurun. Menurunnya tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok AP terutama karena tidak adanya kebijakan penyesuaian tarif listrik dan STNK serta adanya penambahan rute penerbangan sejak akhir 2017 di beberapa daerah di KTI. Selain itu dari sisi VF, diperkirakan pasokan relatif terjaga didukung kondisi cuaca yang kondusif yaitu rendahnya potensi El Nino dan La Nina hingga awal tahun 2018 dan normalnya curah hujan di sebagian besar wilayah KTI.
Secara spasial, seluruh wilayah diprakirakan mengalami penurunan tekanan inflasi pada triwulan I 2018. Pada saat itu, sudah tidak terdapat lagi dampak kenaikan tarif listrik yang terjadi sebelumnya sehingga akan menjadi faktor utama penurunan inflasi di Kalimantan, Sulawesi, dan Balinsura. Di sisi lain, inflasi Maluku-Papua pada triwulan I 2018 diperkirakan meningkat.
Kenaikan marine fuel oil sekitar 47% berpotensi memicu kenaikan biaya kirim peti kemas dan pada akhirnya akan mendorong kelompok VF.
Dengan perkembangan tersebut, tekanan inflasi KTI pada sepanjang tahun 2018 diperkirakan masih dalam rentang target nasional. Melihat kondisi perkembangan yang lalu dan potensi inflasi ke depan, rentang perkiraan inflasi tahun 2018 mencapai 3,6-4,0% (yoy), meningkat dari tahun sebelumnya. Secara spasial, kenaikan
inflasi diprakirakan terjadi di hampir semua wilayah.
Sumber utama peningkatan tekanan inflasi KTI pada tahun 2018 berasal dari kenaikan cukai rokok dan peningkatan permintaan yang sejalan dengan penguatan perekonomian. Selain itu, penyelenggaraan Pilkada dan peningkatan UMP yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya juga diperkirakan mendorong tekanan dari sisi permintaan.
Untuk mengurangi risiko pencapaian target inflasi 2018, sinergi TPID dengan pemerintah dan unsur lain seperti satgas pangan perlu dioptimalkan.
Rencana program TPID Wilayah KTI di tahun 2018 diantaranya penguatan ketahanan pangan melalui perbaikan pola tanam, optimalisasi penggunaan waduk, serta pelatihan bagi petani oleh akademisi dan praktisi perlu terus dilakukan.