HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.1. Statistik Deskriptif
4.1.3.3. Pengujian Autokorelasi
2
0 -2
-4
Regression Standardized Predicted Value
2 1 0 -1 -2 -3 -4 -5 R egressi on S tudent iz ed R esi dual
Dependent Variable: Return_Saham Scatterplot
Gambar 4.1. Pengujian Heterokedastisitas
4.1.3.3.Pengujian Autokorelasi
Autokorelasi adalah masalah statistik dalam model yang ditunjukkan oleh
adanya hubungan antara variasi error antara berbagai periode waktu penelitian. Gejala
ini dapat timbul dalam penelitian time series. Berdasarkan pengujian otokorelasi dengan menggunakan pengujian Durbin-Watson, diperoleh nilai d untuk persamaan
regresi yang diajukan sebesar 1. 896 (Lampiran X). Model yang tidak memiliki
autokorelasi jika du < d < 4- du atau dalam persamaan ini untuk n sebanyak 75, α =
ini berarti variabel gangguan antara satu periode dengan periode lain tidak saling
berkorelasi. Berdasarkan pengujian ini persamaan regresi yang diajukan sudah dapat
dianalisa dengan baik.
Tabel 4.4. Pengujian Autokorelasi
4.1.4. Pengujian Hipotesis
Pengujian data menyangkut normalitas data, pengujian multikolinearitas,
pengujian heteroskedastisitas, dan pengujian autokorelasi menghasilkan bahwa model
penelitian yang diajukan di dalam penelitian ini sudah dapat dianalisa dengan
menggunakan analisis regresi berganda. Untuk memberikan kemudahan analisa,
persamaan regresi yang diajukan beserta hasil yang diperoleh disampaikan di dalam
tabel 4.5. Cara perolehan nilai dalam tabel 4.5 :
1. Nilai FHitung dan tHitung diperoleh dari output pengolahan data berdasarkan
analisa regresi SPSS (Lampiran XIII)
2. Nilai FTabel diperoleh untuk α = 5% untuk k sebanyak variabel bebas yang
dimasukkan yaitu 4 variabel serta derajat kebebasan sebesar n-k-1, yaitu
75-4-1=70.
3. Nilai ttabeldiperoleh dari nilai α = 5% dan derajat kebebasan n-k-1.
Model Summary b .535a .286 .245 41.70463 1.892 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
Predictors: (Constant), Earning_Per_Share, Arus_Kas_Investasi, Arus_ Kas_Pendanaan, Arus_Kas_Operasi
a.
Dependent Variable: Return_Saham b.
Berdasarkan ringkasan hasil pengolahan data dalam tabel diatas, kesimpulan terkait
hipotesa penelitian dapat disampaikan sebagai berikut :
Tabel 4.5. Pengujian Hipotesis
1. H1 : b1 = b2 = b3 = b4 ≠ 0, Hipotesa penelitian ini yang menyatakan bahwa
terdapat pengaruh yang signifikan variabel arus kas operasi, arus kas investasi,
arus kas pendanaan, dan arus Earnings per Share (EPS) secara simultan terhadap return saham berdasarkan pengujian analisa regresi terhadap sampel penelitian terbukti. Hal ini terlihat dari nilai FHitung>FTabel serta nilai signifikansi 0.000<0.05.
Model Summaryb .535a .286 .245 41.70463 1.892 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
Predictors: (Constant), Earning_Per_Share, Arus_Kas_Investasi, Arus_ Kas_Pendanaan, Arus_Kas_Operasi
a.
Dependent Variable: Return_Saham b. ANOVAb 48828.191 4 12207.048 7.018 .000a 121749.3 70 1739.276 170577.5 74 Regression Residual Total Model 1 Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), Earning_Per_Share, Arus_Kas_Investasi, Arus_Kas_ Pendanaan, Arus_Kas_Operasi
a.
Dependent Variable: Return_Saham b. Coefficientsa 9.191 5.005 1.836 .071 .087 .038 .249 2.296 .025 .368 .265 .232 .870 1.150 -.043 .040 -.111 -1.063 .292 .016 -.126 -.107 .942 1.062 .059 .039 .160 1.511 .135 .293 .178 .153 .914 1.094 .156 .049 .345 3.166 .002 .434 .354 .320 .859 1.164 (Constant) Arus_Kas_Operasi Arus_Kas_Investasi Arus_Kas_Pendanaan Earning_Per_Share Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients
t Sig. Zero-order Partial Part Correlations
Tolerance VIF Collinearity Statistics
Dependent Variable: Return_Saham a.
2. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa hubungan antar variabel
independen terhadap variabel dependen tidak terlampau kuat. Pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen hanya sebesar 28.6%. Hal ini berarti
bahwa variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model memberikan
pengaruh yang jauh lebih besar yakni sekitar 71.4%.
3. Hi : bi ≠ 0, Hipotesa yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan dari
variabel independen secara parsial terhadap return saham, kesimpulannya secara parsial adalah sebagai berikut :
1. Variabel Arus Kas Operasi berpengaruh positif secara signifikan
terlihat dari nilai thitung>ttabel serta tingkat signifikansi 0.025 lebih kecil
dari 0.05. Koefisien sebesar 0.087 memberikan pengertian bahwa
perubahan arus kas operasi sebesar 1% dapat memberikan pengaruh
sebesar 0.087% terhadap harga saham.
2. Variabel Earnings Per Share terbukti secara signifikan memberikan pengaruh positif terhadap return saham. Hal ini terbukti dari nilai thitung>ttabel serta tingkat signifikansi yang lebih kecil dari 0.05 yaitu
sebesar 0.002. Koefisien regresi sebesar 0.156 memberikan pengertian
bahwa perubahan Earnings Per Share sebanyak 1% akan memberikan dampak sebesar 0.156% dengan arah yang sama.
4. H0 : bi = 0, Hipotesa yang menyatakan tidak terdapat pengaruh yang signifikan
dari variabel independent secara parsial terhadap return saham, kesimpulannya sebagai berikut :
1. Variabel arus kas investasi terbukti tidak memberikan pengaruh yang
signifikan karena thitung<ttabel serta tingkat signifikansi 0.292 > 0.05.
2. Variabel arus kas pendanaan terbukti tidak memberikan pengaruh yang
signifikan karena thitung<ttabel serta tingkat signifikansi 0.135 > 0.05.
4.2. Pembahasan
Pengujian yang dilakukan diatas terhadap model menunjukkan bahwa model
yang diajukan secara signifikan membuktikan adanya pengaruh arus kas operasi, arus
kas investasi, arus kas pendanaan, dan earnings per share secara bersama terhadap return saham. Pengaruh ini tidak terlampau besar jika ditinjau dari koefisien determinasi yang hanya berada di sekitar 28.6%. Hasil penelitian ini sejalan dengan
berbagai penelitian di pasar modal sebelumnya bahwa hubungan yang kuat antara
informasi akuntansi dengan harga saham tidak secara kuat dan nyata. Hasil yang
diperoleh sering tidak konsisten sehingga tidak dapat ditarik kesimpulan yang jelas.
Hasil yang tidak konsisten ini merupakan indikasi bahwa memang tidak
terdapat pola yang kuat terkait dengan masalah ini. Faktor penyebab yang sering
diduga menjadi penyebab hal ini adalah masalah rentang waktu dari informasi
tersebut menyebabkan efek dari informasi akuntansi sering bukan pada periode yang
sama dengan harga saham yang diambil sebagai data penelitian.
Penelitian yang diusahakan untuk meminimalisasi masalah waktu tersebut
dengan membentuk lag time tetapi tidak dapat menemukan lag time yang paling optimal. Hal ini terlihat dari hasil berbagai penelitian lag time yang tidak konsisten menghasilkan periode waktu yang sama. Hasil ini kemungkinan besar diakibatkan
bahwa interval waktu investor dalam melakukan peramalan terhadap harga saham
berdasarkan informasi akuntansi memang bervariasi antara suatu saham dengan
saham yang lain.
Analisa terhadap variabel independen secara parsial menunjukkan bahwa
terdapat dua variabel yang memberikan pengaruh secara signifikan yaitu variabel arus
kas operasi dengan earnings per share. Arus kas operasi memberikan pengaruh positif terhadap return saham secara signifikan. Lebih terperinci, arus kas operasi memberikan pengaruh sebesar 0.087% terhadap return saham. Hal ini berarti kenaikan arus kas operasi sevesar 1% akan mengakibatkan kenaikan return saham sebesar 0.087%. Penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Khaddafi (2006) yang
menyatakan bahwa arus kas operasi tidak mempunyai pengaruh terhadap return saham. Namun hal ini sesuai dengan penelitian Livnat (1990) dan Pradono (2004)
yang menghasilkan kesimpulan bahwa arus kas operasi memberikan pengaruh secara
positif sedangkan arus kas bagian lain tidak memberikan pengaruh terhadap harga
memberikan pengaruh positif, namun penelitian ini juga menghasilkan bahwa arus
kas pendanaan memberikan pengaruh yang positif.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan kajian teoritis terkait. Arus kas operasi
mengacu kepada tingkat return perusahaan dalam periode tertentu yang berasal dari aktivitas utama perusahaan tersebut. Arus kas positif pada bagian ini
merepresentasikan tingkat keberhasilan perusahaan dalam mengelola bisnis utamanya
sehingga akan sangat berpengaruh terhadap return saham. Investor secara logis tentunya akan sangat memperhatikan laporan arus kas pada bagian ini karena hal ini
juga meberikan suatu permalan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
keuntungan di periode yang akan datang. Perolehan laba yang besar tetapi tidak
berasal dari aktifitas operasi tentunya bukanlah suatu hal yang terlalu baik, investor
akan memberikan apresiasi yang lebih besar jika laba tersebut diperoleh dari arus kas
operasi.
Arus kas investasi yang merupakan gambaran dari kegiatan investasi, dimana
jika arus kas ini negatif memberikan indikasi bahwa perusahaan lebih banyak
membuat investasi baru dibandingkan menarik investasi lama. Jika arus kas ini
negatif secara teoritis memberikan indikasi yang baik karena akan menghasilkan
return di masa mendatang sehingga harga sahamnya seharusnya mengalami peningkatan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian atas sampel penelitian ini tidak
mendukung kajian teoritis tersebut dimana thitung lebih kecil dari ttabel dan tingkat
signifikansi lebih besar dari α = 0.05 sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat
ini sesuai dengan penelitian Livnat (1990) yang menyatakan arus kas investasi tidak
mempengaruhi return saham.
Penelusuran terhadap berbagai artikel umum menyangkut pasar modal
memberikan dugaan bahwa investor tetap memperhatikan arus kas investasi, namun
interval waktu mereka menjadikan hal tersebut sebagai dasar keputusan sangat
variatif. Sebahagian investor menunggu sampai investasi tersebut secara nyata
memberikan return pada suatu saham, sementara investor yang lain telah melakukan penyesuaian harga pada saat investasi tersebut dilakukan. Keadaan ini tentunya
menghasilkan pola yang tidak jelas secara statistik. Pengujian dengan menggunakan
lag time juga diduga tidak akan memberikan hasil yang jelas, sehingga penelitian dengan kuesioner merupakan suatu metode yang mungkin memberikan hasil yang
lebih baik.
Hasil yang sama diperoleh untuk variabel arus kas pendanaan. Arus kas
pendanaan yang merupakan gambaran pengembalian kewajiban, pembayaran bunga,
pembelian saham kembali, dan pembayaran dividen. Arus kas defisit
mengindikasikan bahwa perusahaan melunasi kewajiban maupun mengurangi luas
kepemilikan. Hal ini memberikan hal yang baik bagi investor karena akan
meningkatkan return terhadap saham mereka di masa mendatang. Ekspektasi return ini akan mengakibatkan kenaikan harga. Hasil penelitian terhadap sampel dalam
penelitian ini ternyata tidak sejalan dengan kajian teori tersebut dimana thitung lebih
kecil dari ttabel dan tingkat singifikansinya lebih besar dari α = 0.05. Hal yang sama
arus kas pendanaan tersebut, namun hasil ini disebabkan oleh ketidakseragaman
respon terhadap informasi akuntansi. Hasil yang diperoleh terkait arus kas investasi
dan arus kas pendanaan sesuai dengan berbagai penelitian sebelumnya yang memang
tidak menemukan hubungan dan pengaruh yang kuat antara variabel tersebut.
Analisa terhadap variabel earnings per share secara parsial memberikan hasil thitung lebih besar dari ttabel dengan tingkat signifikansi 0.002 sehingga dihasilkan
kesimpulan yang mendukung teori dan berbagai penelitian sebelumnya salah satunya
Irwansyah (2005) yang menyatakan bahwa earnings per share . Earnings per share sebagai salah satu variabel derivatif dari laba memang masih menjadi informasi
utama dalam investasi. Laba perusahaan akan semakin diperhatikan di dalam suatu
keadaan yang kurang stabil, dimana informasi lain yang masih merupakan prediksi
memiliki resiko yang besar dalam peluang terjadinya. Keadaan ini membuat investor
hanya dapat menjadikan laba sebagai informasi yang paling dapat dipercaya dan
dipastikan sudah terjadi. Analisa terhadap koefisien untuk variabel ini
mengindikasikan bahwa pengaruh dari earnings per share tersebut terhadap return saham tidak terlampau besar. Kenaikan 1% earnings per share hanya menaikkan return saham sebanyak 0.156%. Terdapat indikasi bahwa investor telah melakukan penyesuaian harga sebelum informasi tersebut diumumkan kepada publik sehingga
jika dilakukan regresi pada waktu yang bersamaan, maka pengaruh tersebut menjadi
relatif lebih kecil.
Pengujian diatas tidak dilakukan terhadap setiap bagian/sektor dari
perusahaan barang-barang konsumsi karena jumlah perusahaan dari setiap sektor
berbeda dan pengaruh antara satu perusahaan dengan perusahaan lain cukup variatif,