commit to user Tabel 4.8. Rataan dan Jumlah Rataan Prestasi Afektif
E. Pembahasan Hasil Analisis Data
1. Pengujian Hipotesis Pertama
Terdapat berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil belajar peserta didik yang memuaskan, salah satunya adalah dengan mengembangkan metode pembelajaran. Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan dalam penelitian ini mencakup faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan, kelarutan dan hasil kali kelarutan, pengaruh ion sejenis terhadap kelarutan, dan meramalkan pengendapan.
Dari cakupan materi tersebut dapat diketahui bahwa dalam mempelajari materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan, peserta didik akan mempelajari sebagian besar materi berupa konsep dan hitungan. Apabila dalam penyampaian materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan, guru/ pengajar sering menggunakan metode ceramah, siswa akan merasa bosan dan suasana belajar kurang menyenangkan.
Oleh karena itu, peneliti menerapkan pembelajaran CTL yang diterapkan pada metode pembelajaran yang berupa metode GI dan proyek. Pembelajaran CTL diterapkan pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan karena dalam materi ini terdapat banyak konsep yang berkaitan dengan kehidupan sehari-sehari.
Sedangkan tujuan diterapkannya metode GI dan metode proyek dikarenakan agar siswa lebih aktif dan terdorong untuk menemukan konsep yang ada pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Dengan metode pembelajaran yang menuntut siswa menemukan konsep, konsep akan lebih tertanam pada siswa sesuai dengan teori belajar konstruktivisme. Dengan pendekatan pembelajaran CTL siswa menjadi lebih tertarik untuk menemukan konsep dari materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dua metode pembelajaran yang berbeda akan mempunyai pengaruh yang berbeda pula terhadap prestasi belajar. Metode mengajar yang digunakan oleh guru sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memahami suatu konsep materi tertentu, khususnya Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Hal ini sesuai dengan apa yang telah diungkapkan oleh Slameto (2010:64) bahwa faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode mengajar, relasi guru dengan siswa, dan
commit to user
Jadi dalam penelitian ini, peneliti membandingkan kelas XI IPA 1 yang dikenai perlakuan pembelajaran CTL dengan metode GI dengan kelas XI IPA 4 yang dikenai perlakuan pembelajaran CTL dengan metode proyek.
a. Aspek Kognitif
Sebelum pengujian dengan menggunakan anava dua jalan, telah dilakukan uji prasyarat anailisis, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas menggunakan metode Liliefors, yang menunjukkan bahwa hasil prestasi belajar kognitif siswa dari kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 merupakan data yang normal. Uji prasyarat selanjutnya adalah uji homogenitas. Uji homogenitas yang menggunakan uji Barlett menunjukkan bahwa dari aspek kognitif, kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 berasal dari populasi yang homogen.
Hasil dari anava dua jalan aspek kognitif dari kedua metode tersebut menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel dengan nilai 12,799 > 6,39 yang berarti bahwa Ho ditolak (Lampiran 62) sehingga H1 diterima. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh antara kelas eksperimen I (pembelajaran CTL dengan metode GI) dan kelas eksperimen II (pembelajaran CTL dengan metode proyek) terhadap prestasi belajar kognitif siswa pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan.
Besarnya rataan prestasi siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran CTL dengan metode GI adalah 82,94. Sedangkan besarnya rataan prestasi siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran CTL dengan metode proyek adalah 76,66.
Apabila diukur dari hasil uji keseimbangan atau uji t-matching 2 pihak dimana keadaan awal siswa sudah seimbang, maka dapat dikatakan bahwa kelas yang dikenai pendekatan pembelajaran CTL dengan metode GI memiliki prestasi yang lebih tinggi dibandingkan kelas yang dikenai pendekatan pembelajaran CTL dengan metode proyek dalam mempelajari materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Hal ini disebabkan karena pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran GI lebih sesuai dengan karakter siswa yang cenderung masih belum terbiasa dengan metode pembelajaran yang bersifat inquiry murni, siswa masih membutuhkan bimbingan untuk menemukan konsep.
Bimbingan yang diberikan oleh guru berupa bimbingan yang mendorong siswa agar siswa dapat membangun konsep mereka sendiri. Penjelasan singkat yang
commit to user
mendoromg siswa untuk bisa menyimpulkan tentang konsep kelarutan diberikan oleh guru.
Berbeda dengan metode proyek, guru tidak melatih secara langsung, guru hanya sebagai fasilitator dan siswa tidak mendapatkan bimbingan sama sekali dalam menjalankan proyek untuk menemukan konsep. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Haryanto (2011: 96-97) yang menyimpulkan bahwa metode proyek memilki beberapa kelemahan yaitu sulit mengontrol kegiatan proyek yang dilakukan peserta didik, keterbatasan waktu yang tersedia, sehingga peserta didik tidak bisa memanfaatkan waktu yang tersedia dengan efektif dan efisien.
b. Aspek Afektif
Sebelum pengujian dengan menggunakan anava dua jalan, telah dilakukan uji prasyarat anailisis, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas menggunakan metode Liliefors, yang menunjukkan bahwa dari aspek afektif, kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 merupakan sampel yang berasal dari populasi yang normal. Uji prasyarat selanjutnya adalah uji homogenitas. Uji homogenitas yang menggunakan uji Barlett menunjukkan bahwa dari aspek afektif, kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 berasal dari populasi yang homogen.
Hasil dari anava dua jalan aspek afektif dari kedua metode tersebut menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel dengan nilai 13,06 > 6,39 yang berarti bahwa Ho ditolak (Lampiran 63) sehingga H1 diterima. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh antara kelas eksperimen I (pendekatan pembelajaran CTL dengan metode GI) dan kelas eksperimen II (pendekatan pembelajaran CTL dengan metode proyek) terhadap prestasi belajar afektif siswa pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan.
Rataan nilai atau prestasi afektif siswa yang dikenai pendekatan pembelajaran CTL dengan metode GI lebih besar (79,19) daripada rataan nilai atau prestasi afektif siswa yang dikenai pendekatan pembelajaran CTL dengan metode proyek (74,68). Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar aspek afektif pada kelas eksperimen II (pendekatan pembelajaran CTL dengan metode GI) lebih tinggi
commit to user
dibandingkan kelas eksperimen I (pendekatan pembelajaran CTL dengan metode proyek). Hal ini disebabkan karena siswa masih mendapatkan bimbingan dalam pembelajaran dengan metode GI, siswa lebih cenderung tidak merasa bingung dengan adanya miskonsepsi, sehingga afeksi siswa juga lebih cenderung ke pernyataan positif.
c. Aspek Psikomotor
Sebelum pengujian dengan menggunakan anava dua jalan, telah dilakukan uji prasyarat anailisis, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas menggunakan metode Liliefors, yang menunjukkan bahwa dari aspek psikomotor, kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 merupakan sampel dari populasi yang normal. Uji prasyarat selanjutnya adalah uji homogenitas. Uji homogenitas yang menggunakan uji Barlett menunjukkan bahwa dari aspek psikomotor, kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 berasal dari populasi yang homogen.
Hasil dari anava dua jalan aspek afektif dari kedua metode tersebut menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel dengan nilai 9,71 > 6,39 yang berarti bahwa Ho ditolak (Lampiran 64) sehingga H1 diterima. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh antara kelas eksperimen I (pendekatan pembelajaran CTL dengan metode GI) dan kelas eksperimen II (pendekatan pembelajaran CTL dengan metode proyek) terhadap prestasi belajar psikomotor siswa pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan.
Rataan nilai atau prestasi psikomotor siswa yang dikenai pendekatan pembelajaran CTL dengan metode GI lebih besar (56,94) daripada rataan nilai atau prestasi psikomotor siswa yang dikenai pendekatan pembelajaran CTL dengan metode proyek (50,91). Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar aspek psikomotor pada kelas eksperimen I (pendekatan pembelajaran CTL dengan metode GI) lebih tinggi dibandingkan kelas eksperimen II (pendekatan pembelajaran CTL dengan metode proyek). Hal ini disebabkan karena adanya pembelajaran CTL dengan metode GI membuat siswa lebih mendapat bimbingan.
Guru sering kali mengajarkan ketrampilan baru yang belum diketahui oleh siswa.
dengan bertambahnya bimbingan, maka semakin bertambah pula ketrampilan siswa dalam hal praktikum. Sehingga nilai rata-rata siswa yang diberi perlakuan
commit to user
pembelajaran CTL dengan metode GI lebih baik dibanding kelas yang diberi perlakuan pembelajaran CTL dengan metode proyek.