• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.4 Instrumen Penelitian

3.4.1 Pengujian Instrumen Penelitian

Guna mendapatkan hasil penelitian yang tepat dan akurat maka alat ukur untuk menguji tersebut harus valid dan reliabel. Oleh karena itu, kuesioner/angket yang diberikan kepada responden dilakukan 2 macam tes yaitu tes validitas dan tes reliabilitas. Untuk tes yang diberikan dilakukan 4 macam tes yaitu validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda soal. Penjelasan lebih lanjut adalah sebagai berikut:

3.4.1.1Tes Validitas Variabel Efektivitas Penggunaaan Media Pembelajaran (X)

Menurut Arikunto (2010, hlm. 211) mengatakan bahwa “validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument.” Arikunto (2010, hlm. 213) menuturkan pula untuk menguji validitas instrumen, digunakan teknik korelasi product moment dari Pearson dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

= Koefisien validitas yang dicari

= Skor yang diperoleh dari subjek tiap item Y = Skor total item instrumen

∑X = Jumlah skor dalam distribusi X ∑Y = Jumlah skor dalam distribusi Y

∑ = Jumlah kuadrat pada masing-masing skor X ∑ = Jumlah kuadrat pada masing-masing skor Y N = Jumlah responden

Dalam hal ini, kriteria validitasnya adalah sebagai berikut: = Sangat rendah

0,20 – 0,39 = Rendah 0,40 – 0,59 = Sedang/cukup 0,60 – 0,89 = Tinggi

0,90 – 1,00 = Sangat tinggi

Dengan menggunakan taraf signifikan α = 0,05 koefisien korelasi yang diperoleh dari hasil perhitungan dibandingkan dengan tabel korelasi tabel nilai r dengan derajat kebebasan (n-2) dimana N menyatakan jumlah baris atau banyak responden. Jika > maka valid dan jika < maka tidak valid.

Uji validitas digunakan untuk mengukur apakah instrumen dapat benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Perhitungan uji validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan Microsoft Office Excel 2013.

Setelah dilakukan perhitungan diperoleh rhitung dengan taraf kepercayaan 95% atau α = 0,05 dengan db = n-2), dan didapat rhitung sebagaimana terlampir pada tabel dibawah ini, jumlah rtabel dengan 20 responden 0,423 jika rhitung > rtabel, maka item tersebut dinyatakan valid, dan jika rhitung < rtabel, maka item tersebut dinyatakan tidak valid.

Rekapitulasi hasil perhitungan uji validitas variabel efektivitas penggunaan media pembelajaran (X) dengan bantuan program Microsoft Excel 2013 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.5

Validitas Variabel Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran (Variabel X)

Sumber: Hasil Uji Coba Instrumen (Terlampir)

Berdasarkan hasil uji validitas terhadap 13 item pertanyaan pada variabel Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran menunjukan bahwa semua item pertanyaan valid.

No.

Item Nilai r hitung Nilai r tabel Ket

1 0.501 0.423 Valid 2 0.612 0.423 Valid 3 0.463 0.423 Valid 4 0.500 0.423 Valid 5 0.640 0.423 Valid 6 0.667 0.423 Valid 7 0.738 0.423 Valid 8 0.689 0.423 Valid 9 0.658 0.423 Valid 10 0.576 0.423 Valid 11 0.600 0.423 Valid 12 0.586 0.423 Valid 13 0.493 0.423 Valid

3.4.1.2Uji Reliabilitas Variabel Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran (X)

Instrumen yang digunakan dalam penelitian selain harus valid, instrumen tersebut harus reliabel (dapat dipercaya). Uji realibilitas instrumen dilakukan untuk mengetahui konsistensi instrumen sebagai alat ukur. Rumus yang digunakan untuk menguji realibilitas instrumen menggunakan rumus Koefisien Alfa ( ) dari Cronbach (dalam Muhidin, 2010, hlm. 31), yaitu:

=

Dimana sebelum menentukan nilai reliabilitas, maka terlebih dahulu mencari nilai varians dengan rumus sebagai berikut:

= Keterangan:

= Reliabilitas instrumen/koefisien korelasi/korelasi alpha K = Banyaknya bulir soal

= Jumlah varians bulir = Varians total

N = Jumlah responden

Langkah kerja yang dapat dilakukan dalam rangka mengukur reliabilitas instrumen penelitian seperti yang dijabarkan oleh Muhidin (2010, hlm. 31-35), adalah sebagai berikut:

1. Menyebarkan instrumen yang akan diuji reliabilitasnya, kepada responden yang bukan responden sesungguhnya.

2. Mengumpulkan data hasil uji coba instrumen.

3. Memeriksa kelengkapan data, untuk memastikan lengkap tidaknya lembaran data yang terkumpul. Termasuk di dalamnya memeriksa kelengkapan pengisian item angket.

4. Membuat tabel pembantu untuk menempatkan skor-skor pada item yang diperoleh. Dilakukan untuk mempermudah perhitungan atau pengolahan data selanjutnya.

5. Memberikan/menempatkan skor (scoring) terhadap item-item yang sudah diisi responden pada tabel pembantu.

6. Menghitung nilai varians masing-masing item dan varians total. 7. Menghitung nilai koefisien alfa.

8. Menentukan nilai tabel koefisien korelasi pada derajat bebas (db) = n – 2. 9. Selanjutnya nilai di atas dibandingkan dengan pada tingkatn

kepercayaan 95% dengan derajat bebas (db = n - 2)

10. Membuat kesimpulan dengan cara membandingkan nilai hitung r dan nilai tabel r. Kriterianya:

a. Jika nilai > nilai , maka instrumen dinyatakan reliabel. b. Jika nilai < nilai , maka instrumen dinyatakan tidak

reliabel.

Selanjutnya dengan taraf signifikasi α = 0,05 nilai reliabilitas yang diperoleh dari hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai dari tabel korelasi nilai r dengan derajat kebebasan (n-2) dimana N menyatakan jumlah baris atau banyak responden. Jika maka reliabel dan jika maka tidak reliabel.

Tabel 3. 6

Interprestasi Derajat Reliabilitas

Rentang Nilai Klasifikasi

0,000-0,200 Derajat reliabilitas sangat rendah

0,201-0,400 Derajat reliabilitas rendah

0,401-0,600 Derajat reliabilitas cukup

0,601-0,800 Derajat reliabilitas tinggi

0,801-1,000 Derajat reliabilitas sangat tinggi

Arikunto (2006, hlm. 223)

Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas angket sebagaimana terlampir, rekapitulasi perhitungan sebagai berikut:

Uji Reliabilitas Variabel Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran (X)

Sumber: Hasil Uji Coba Instrumen (Terlampir)

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa rhitung sebesar 0,831 dan nilai rtabel 0,423. Hal ini menunjukan bahwa rhitung lebih besar dari rtabel (0,831>0,423), dengan demikian angket untuk variabel efektivitas penggunaan media pembelajaran (X) dinyatakan reliabel.

3.4.1.3 Uji Validitas Variabel Hasil Belajar Keterampilan Mengetik (Y)

Soal dalam bentuk naskah mengetik menjadi instrumen yang dilakukan pada 20 mahasiswa angkatan 2013 Program Studi Pendidikan Manajemen Perkantoran Universitas Pendidikan Indonesia. Uji validitas ini untuk mengetahui kualitas dari instrumen soal yang dilakukan apakah sudah mengukur apa yang seharusnya di ukur. Tabel dibawah ini adalah hasil uji validitas dengan menggunakan bantuan Software Anates Versi 4.

Tabel 3.8

Uji Validitas Hasil Belejar Keterampilan Mengetik

No Validitas Korelasi No soal

1. Signifikan 1.000 1

Sumber: Hasil Uji Coba Instrumen (Terlampir)

Tabel di atas menunjukkan bahwa soal instrumen yang digunakan menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan signifikan atau valid.

3. 4.1.4 Uji Reliabilitas Variabel Hasil Belajar Keterampilan Mengetik (Y)

Pengujian selanjutnya setelah uji validitas adalah uji reliabilitas. Uji reliabilitas ini untuk mengetahui bahwa instrumen ketika diujikan dengan subjek yang sama dengan waktu yang berbeda akan menghasilkan hasil uji yang relatif sama. Tingkat reliabilitas instrumen soal yang dihitung dengan menggunakan

Variabel r hitung r tabel Keterangan

Efektivitas Penggunaan

aplikasi Software Anates Versi 4, diperoleh nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,95. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa instrument bersifat reliabel dan instrument layak untuk digunakan untuk penelitian. Koefisien reliabilitas yang didapatkan, dilihat pada penejelasan di atas bahwa tingkat reliabilitas yang didapatkan termasuk kedalam klasifikasi sangat tinggi.

3.4.1.5 Uji Tingkat Kesukaran Variabel Hasil Belajar Keterampilan Mengetik (Y)

Tingkat kesukaran soal naskah mengetik dapat dilihat pada saat mahasiswa mengerjakan. Dari hasil mengetik yang mahasiswa berikan dapat disimpulkan bahwa naskah tersebut termasuk kedalam soal yang mudah, sedang, ataupun sulit. Menurut Arikunto (2008, hlm 207), “Bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran. Semakin besar indeks kesukaran berarti naskah soal yang diberikan semakin mudah dan sebaliknya ketika indeks yang dihasilkan kecil maka naskah soal yang diberikan dikatakan sulit”. Tingkat kesukaran dapat dihitung dengan rumus dibawah ini:

Arikunto (2006, hlm 100) Keterangan :

P : Indeks Kesukaran

B : Banyak mahasiswa yang menjawab soal itu dengan benar Js : jumlah seluruh mahasiswa peserta tes.

Untuk menentukan apakah naskah soal tersebut dikatakan baik atau tidak sehingga perlu direvisi, digunakan kriteria seperti tabel dibawah ini:

Tabel 3.9

Rentang Nilai Tingkat Kesukaran

No

Rentang Nilai Tingkat

1. 0,70-1,00 Mudah

2. 0,30-0,70 Sedang

3. 0,00-0,30 Sukar

Arikunto (2006, hlm 100) Uji tingkat kesukaran adalah untuk mengetahui apakah instrumen soal termasuk kepada soal mudah, sedang, atau sukar. Hasil uji tingkat kesukaran dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 3.10

Uji Tingkat Kesukaran Soal

Variabel Hasil Keterampilan Mengetik (Y)

No Kategori Tingkat

Kesukaran

Nilai Indeks

Kesukaran Nomor Soal

1. Sedang 0,629 1

Sumber : Hasil Uji Coba Instrumen (Terlampir)

Analisis di atas menunjukkan bahwa terdapat instrumen soal yang digunakan termasuk dalam kategori tingkat kesukaran sedang dengan indeks kesukaran 0,629. Kategori tingkat kesukaran yang didapatkan, dilihat dari bab sebelumnya.

3.4.1.6 Uji Daya Pembeda Soal Variabel Hasil Belajar Keterampilan Mengetik (Y)

Menurut Arikunto (2008, hlm 211), mengemukakan bahwa “Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membuktikan antara mahasiswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dan mahasiswa yang berkemampuan rendah”. Dengan kata lain, soal yang diberikan dapat mengukur kemampuan mahasiswa, mana mahasiswa yang dikatakan berkemampuan tinggi dan mana saja siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi (D), indeks diskriminasi berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00. Untuk mengetahui indeks diskriminasi dapat menggunakan rumus dibawah ini:

Arikunto (2006, hlm 100) Keterangan :

D : Indeks diskriminasi (daya pembeda)

: Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar : Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar : Banyaknya peserta kelompok alas

: Banyaknya peserta kelompok bawah

: Proporsi kelompok atas yang meniawab benar : Proporsi kelompok bawah yang menjawab benar

Tabel 3. 11

Klasifikasi Daya Pembeda

Arikunto (2001, hlm 218)

Daya pembeda soal adalah pengujian instrumen soal yang dapat membedakan mahasiswa termasuk kepada kelompok atas maupun kelompok bawah. Tabel dibawah ini adalah hasil dari pengujian uji daya pembeda soal:

Tabel 3.12 Uji Daya Pembeda Soal

Variabel Hasil Belajar Keterampilan Mengetik (Y)

No Kategori Daya Pembeda Indeks Daya Pembeda

Nomor Soal

1. Baik 0,45 1

Sumber : Hasil Uji Coba Instrumen (Terlampir)

No Rentang Nilai D Klasifikasi

1 Negatif Tidak dapat digunakan

2 0,00-0,19 Jelek

3 0,20-0,39 Cukup

4 0,40-0,69 Baik

Tabel diatas memunjukkan bahwa instrumen soal termasuk kedalam kategori baik Hal demikian menyatakan bahwa soal dikatakatan baik dalam mengukur tingkat kemampuan mengetik mahasiswa, sehingga secara instrumen soal tersebut layak sebagai instrumen dalam penelitian.

Dokumen terkait