• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Pengujian Prasyarat Analisis Data

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data pada dua kelompok sampel yang diteliti berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak1. Pengujian normalitas pada penilitian ini menggunakan uji chi square/ kai kuadrat.

1) Uji Normalitas Pretes

Berikut ini hasil uji normalitas dengan menggunakan cara manual dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Pretes Kelompok Jumlah Sampel Rata-Rata SD Lo Hitung Lo Tabel Kontrol 22 49,40 9,883 5,5614 9,49 Eksperimen 22 53,68 7,912 4,6291 5,99 1

Zainal arifin.penelitian pendidikan metode dan paradigma baru. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya. 2011.cetakan pertama.hal.282-290

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 kontrol eksperimen

Dari tabel 4.5 di atas, diperoleh Lo hitung < Lo tabel. Hal ini berarti bahwa hipotesis nol (Ho) diterima dan Ha ditolak. Sebagaimana hipotesis yang diajukan bahwa jika < , maka Ho diterima. Artinya, data berasal dari populasi berdistribusi normal sedangkan jika > , maka Ha diterima atau Ho ditolak. Artinya, data berasal dari populasi tidak berdistribusi normal. Karena Lo hitung < Lo tabel maka data berasal dari populasi berdistribusi normal.

2) Uji Normalitas Postes

Berikut ini hasil uji normalitas postesdapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini: Tabel 4.6 hasil uji normalitas postes

Kelompok Jumlah sampel Rata-rata SD Lo hitung Lo tabel Kontrol 22 54,67 10,13 7,425702 7,81 Eksperimen 22 62,78 11,752 10,7303 11,07

Dari tabel 4.6 di atas, diperoleh Lo hitung < Lo tabel. Hal ini berarti bahwa hipotesis nol (Ho) diterima dan Ha ditolak. Sebagaimana hipotesis yang diajukan bahwa jika < , maka Ho diterima. Artinya, data berasal dari populasi berdistribusi normal sedangkan jika > , maka Ha diterima. Artinya, data berasal dari populasi tidak berdistribusi normal. Dengan demikian data yang diperoleh berasal dari subjek yang berdistribusi normal. b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang sama atau tidak. Dalam penelitian ini, pengujian homogenitas menggunakan uji Fisher (F).2

2

53

1) Homogenitas Pretes

Tabel 4. 7 Hasil Uji Homogenitas Pretes

Kelompok Sampel S² F Hitung F Tabel

Kontrol 22 97,673

1,2491 2,68

Eksperimen 22 62,599

Dari tabel 4.7 di atas diperoleh bahwa F hitung < F tabel yaitu 1,2491 < 2,68. Hal ini berarti hipotesis nol yang diajukan(Ho) diterima dan Ha ditolak pada taraf signifikansi 5% dengan kriteria pengujian Ho = Jika F hitung < Ftabel, berarti homogen Ha = JikaF hitung > F tabel, berarti tidak homogen. bearti kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang sama (homogen). 2) Uji Homogenitas Postes

Tabel 4.8 Tabel Uji Homogenitas Postes Kelas Kontrol Dan Eksperimen

Kelompok Sampel S² F Hitung F Tabel

Kontrol 22 102,76

1,160 2,68

Eksperimen 22 138,1143

Dari tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa maka Ho diterima dan Ha ditolak dan berarti kedua

kelompok sampel berasal dari populasi yang sama. Adapun pasangan hipotesis yang diuji adalah yaitu kedua kelompok sampel berasal dari populasi sama dan yaitu kedua kelompok sampel berasal dari populasi berbeda. Jadi, Ho diterima dan Ha ditolak.

c. Uji Hipotesis

Setelah data diolah dan dilakukan pengujian terhadap uji normalitas dan uji homogenitas dari populasi data dan dinyatakan normal dan homogen, maka selanjutnya peneliti menganalisis data tersebut dengan menggunakan tekhnik

analisis statistic inferensial parametrik yang mana analisis ini dipergunakan oleh peneliti untuk memberikan interpretasi mengenai data dan menarik kesimpulan dari data yang dihasilkan. Adapun analisis data yang akan digunakan kesamaan dua rata-rata dan uji statistik ialah uji-t yang merupakan pengujian hipotesis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat yaitu memanfaatkan uji t. Berikut ini adalah hasil uji hipotesis data pretes kelas kontrol dan eksperimen:

Tabel 4.9 . Tabel Hasil Uji Hipotesis Pretes Kelas Kontrol dan Eksperimen

Keterangan Kelas Eksperimen Kelas

Kontrol Sampel 22 22 Rata-rata 53,68 49,40 S² 62,599 97,673 T hitung 0,256 T tabel 2,021

Kesimpulan Ho diterima dan Ha ditolak

Dari tabel 4.9 hasil uji hipotesis pretes kelas kontrol dan eksperimen di atas, dapat disimpulkan bahwa yaitu 0,256 hipotesis nol (Ho) diterima dan Ha ditolak . dengan hipotesis yang diajukan ialah Jika dengan taraf signifikansi 5% maka H0 diterima dan ditolak dan Jika dengan taraf signifikansi 5% maka ditolak dan Ha diterima dengan derajat kebebasan (df) = dk = (nЇ+nІ) -2. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa “Tidak

55

berpikir kritis siswa kelas IV SDN 1 Sajira pada mata pelajaran IPA konsep ekosistem.

Tabel 4.10 Hasil Uji Hipotesis Postes Kelas Kontrol Dan Eksperimen

Keterangan Kelas Eksperimen Kelas

Control Sampel 22 22 Rata-rata 62,78 54,67 S² 138,1143 102,76 T hitung 2,46 T table 2,021

Kesimpulan Ho ditolak dan Ha diterima

Dari tabel 4.10 hasil uji hipotesis pretes kelas kontrol dan eksperimen di atas,dapat disimpulkan bahwa yaitu 2,46 hipotesis nol (Ho) ditolak dan Ha diterima. dengan hipotesis yang diajukan ialah Jika dengan taraf signifikansi 5% maka H0 diterima dan ditolak dan Jika dengan taraf signifikansi 5% maka ditolak dan Ha diterima dengan derajat kebebasan (df) = dk = (nЇ+nІ) -2. Dengan demikian, terdapat pengaruh model

pembelajaran based learnig Terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas

IV SDN 1 Sajira pada mata pelajaran IPA konsep ekosistem.

B. Pembahasan

Penelitian ini dilakukan di SDN I Sajira kecamatan Sajira kabupaten Lebak-Banten. Setelah peneliti mendapatkan izin dari kepala sekolah yang bersangkutan, peneliti langsung melakukan penelitian dari tanggal 20 – 25 November 2013. Pada waktu penelitian, penulis diberikan kesempatan untuk melakukan penelitian secara

penuh selama jam pelajaran pertama sampai jam pelajaran terakhir. Penelitian ini dilakukan sebanyak lima kali pertemuan. Pada pertemuan pertama, penulis berkenalan terlebih dahulu dengan siswa baik kelas yang dijadikan kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Setelah itu, penulis langsung memberikan pretes terhadap kedua kelas tersebut. Pada pertemuan kedua, ketiga dan keempat, penulis memulai penelitian dengan langsung memberikan treatmen terhadap kelas eksperimen menggunakan model problem based learningsedangkan kelas kontrol tetap menggunakan model konvensional dengan materi pelajaran yang sama dan dilakukan oleh guru kelas yang bersangkutan.

Adapun suasana belajar yang terlihat dari kedua kelas tersebut jelas berbeda. Kelas eksperimen yang menggunakan model problem based learning lebih aktif dan lebih bersemangat ketika pembelajaran berlangsung trlibih ketika mereka diajak langsung observasi ke lapangan terkait permasalahan yang diberikan dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan model konvensional yang hanya diberikan teori sehingga Kelas kontrol lebih pasif dan kurang bersemangat ketika proses pembelajaran berlangsung. Hal itu sesuai dengan pengakuan dari guru kelas yang mengajar di kelas kontrol dan pengakuan dari siswa-siswa sendiri. Pada pertemuan kelima, penulis memberikan postes dengan instrumen tes yang sama dengan pretes kepada kelas kontrol dan eksperimen. Setelah penelitian berakhir, selanjutnya penulis mengolah data tersebut sesuai dengan prosedur pengolahan data yang sudah ditetapkan pada bab III.

Dari uji hipotesis yang dilakukan menggunakan uji t terhadap kelas kontrol maupun kelas eksperimen pada pretes menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk kelas kontrol maupun kelas eksperimen lebih kecil dibandingkan dengan t tabel dimana t hitung 0,256 sedangkan t tabel 2,021. Hal ini berarti bahwa hipotesis nol (Ho) diterima dan Ha ditolak yang berarti Tidak terdapat pengaruh model pembelajaran

based learning terhadap keterampilan berpikir kritis siswa kelas IV SDN 1 Sajira

pada mata pelajaran IPA konsep ekosistem. Dengan demikian kemampuan berpikir kritis siswa baik kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah maupun kelas

57

eksperimen sebelum menggunakan model PBL adalah sama pada taraf signifikansi 5%.

Dari uji hipotesis menggunakan uji t pada postes terhadap kelas kontrol maupun kelas eksperimen menunjukkan bahwa nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel. Dengan nilai t hitung 2,46 dan t tabel 2,021. Hal ini berarti bahwa hipotesis penelitian yang diajukan menolak hipotesis nol (Ho) dan Ha diterima pada taraf signifikansi 5%. Artinya bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran based

learning terhadap keterampilan berpikir kritis siswa kelas IV SDN 1 Sajira pada mata

pelajaran IPA konsep ekosistem. Dengan demikian, kemampuan antara kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah dan kelas eksperimen yang menggunakan model PBL menunjukkan perbedaan dan kemampuan berpikir kritis siswa untuk kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan degan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol yang hanya menggunakan metode ceramah.

Adapun persentase ketercapain tiap-tiap indikator kemampuan berpikir kritis siswa untuk kelas kontrol pada pretes, persentase ketercapaian tertingginya ialah 43

dengan indikator”menganalisis pertanyaan” dan persentase ketercapaian terendahnya ialah 19,4 dengan indikatornya”menentukan tindakan dan menginduksi serta

mempertimbangkan hasil induksi”.sedangkan untuk ketercapaian indikator keterampilan berpikir kritis siswa untuk kelas eksperimen nilai tertingginya ialah

35,86% dengan indikatornya “menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi”

sedangkan nilai terendahnya ialah 19,47 dengan indikatornya”menentukan tindakan”.jika dibandingkan persentase ketercapaian indikator antara kelas kontrol

dan kelas eksperimen berdasarkan pencapaian nilai tertinggi maka kelas kontrol memiliki kemampuan berpikir kritis lebih tinggi dari kelas eksperimen.

Persentase ketercapaian indikator kemampuan berpikir kritis siswa kelas

kontrol untuk postes nilai tertingginya ialah 90,58 dengan indikatornya “menganalisis pertanyaan”dan persentase terendahnya ialah 37,64 dengan indikatornya “menjawab

pertanyaan tentang penjelasan atau tantangan” adapun rata-rata persentase ketercapaian tiap indikatornya ialah 52,413. Adapun persentase ketercapaian tiap

indicator untuk kelas eksperimen pada postes persentase tertingginya ialah 78,57%

dengan indikatornya ialah”menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi”

sedangkan persentase terendahnya ialah 48,57 dengan indikatornya ialah

“menganalisis pertanyaan”dan rata-rata persentase ketercapaian tiap-tiap indikatornya 59,23%. Jika dilihat dari rata- rata persentase ketercapaian indikator antara kelas kontrol dan kelas eksperimen menunjukkan bahwa rata-rata persentase ketercapaian indikator kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata ketercapaian indikator kelas kontrol. Ini berarti bahwa penerapan atau penggunaan model problem

based learning sangat berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis

siswa. Hal tersebut terbukti dengan rata-rata ketercapaian indikator keterampilan berpikir kritis siswa kelas eksperimen yang menggunakan model problem based

learning lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang hanya menggunakan

metode konvensional (ceramah).

Secara umum, ketercapaian indikator keterampilan berpikir kritis siswa kelas eksperimen untuk tiap-tiap indikatornya memperoleh nilai lebih tinggi dibandingkan dengan ketercapaian indikator keterampilan berpikir kritis kelas kontrol. Namun, ketercapaian indikator keterampilan berpikir kritis siswa kelas eksperimen untuk indikator “menganalisis pertanyaan” lebih rendah dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal itu dikarenakan metode penelitian yang penulis gunakan berupa eksperimen semu yang tidak memungkinkan bagi peneliti untuk mengontrol secara penuh variabel yang mempengaruhi terhadap keberhasilan perlakuan yang diberikan. Selain itu, kurang maksimalnya perlakuan yang diberikan penulis terhadap kelas eksperimen yang disebabkan oleh keterbatasan penulis. minimnya sarana dan prasarana juga ikut berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Disamping itu, sebagaimana model pembelajaran yang lain, model problem based learning pun memiliki kelemahan diantaranya bagi siswa yang malas, tujuan keterampilan berpikir kritis siswa sulit untuk dicapai dan keterbatasan waktu dan dana juga ikut berpengaruh dalam ketercapaian indikator tersebut.

59

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBL akan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Pada dasarnya Model

Problem-Based Learning merupakan suatu model pembelajaran dengan

menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui permasalahan-permasalahan.Dengan memberikan permasalahan-permasalahan faktual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa maka siswa akan dilatih untuk mengasah kemampuan mereka dalam mengkritisi sebuah permasalahan secara mendalam dan mampu memberikan solusi yang tepat bagi permasalahan yang diberikan. Hal tersebut tentunya sangatlah perlu untuk dilakukan guna membekali siswa di masa mendatang guna menghadapi tantangan dan masalah kehidupan global yang semakin kompleks dan dinamis. Untuk itu siswa perlu dilatih untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mereka sejak dini dimulai dari pendidikan dasar (SD).

Menurut D Arcangelo, apabila anak-anak diberi kesempatan untuk menggunakan pemikiran dalam tingkatan yang lebih tinggi di setiap tingkat kelas, pada akhirnya mereka akan terbiasa membedakan antara kebenaran dan kebohongan, penampilan dan kenyataan, fakta dan opini, pengetahuan dan keyakinan. Secara alami, mereka akan membangun argumen dengan menggunakan bukti yang dapat dipercaya dan logis.3untuk itu, maka sudah sewajarnya bagi setiap pendidik maupun tenaga kependidikan bisa menerapkan dan mengembangkan kemampuan berpikir para siswanya sejak dini agar kemampuan berpikir kritis siswa bisa lebih terasah sehingga mereka nantinya diharapkan akan mampu merumuskan dan mengevaluasi keyakinan dan pendapat mereka sendiri. Selain itu, dia berpendapat bahwa berpikir kritis adalah sebuah proses terorganisasi yang memungkinkan siswa mengevaluasi bukti, asumsi, logika dan bahasa yang mendasari pernyataan orang lain.

Senada dengan pernyataan di atas, R.H. Ennis (1991) berpendapat bahwa berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan

3

Elaine,B.Johnson.CTL,contextual teaching and learning,menjadikan kegiatan belajar mengajar mengasyikan dan bermakna.Bandung: KAIFA.2012.cetakan keempat.hal.184.

pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Menurut Elaine B. Johnson bahwa berpikir kritis adalah sebuah proses sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan dan pendapat mereka sendiri. Selain itu, dia berpendapat bahwa berpikir kritis adalah sebuah proses terorganisasi yang memungkinkan siswa mengevaluasi bukti, asumsi, logika dan bahasa yang mendasari pernyataan orang lain4.

Selain itu, Sasmita mengatakan bahwa berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara logis, reflektif dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik. Selain itu, berpikir kritis diartikan sebagai merefleksikan permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka bagi berbagai pendekatan dan perspektif yang berbeda, tidak mempercayai begitu saja informasi-infomasi yang datang dari berbagai sumber serta berpikir secara reflektif daripada hanya menerima ide-ide dari luar tanpa adanya pemahaman dan evaluasi yang signifikan5.

Untuk itu, untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa maka hendaknya tenaga pendidik mampu mengasah kemampuan tersebut dengan cara memilih dan menggunakan model serta metode yang tepat salah satunya dengan menggunakan model problem based learning. Karena dengan model problem based learning kemampuan berpikir kritis siswa terbukti meningkat. Untuk itu, perlu adanya upaya terus menerus dari guru dan pihak terkait dalam mengimplementasikan model tersebut sehingga kemampuan berpikir kritis siswa bias lebih terasah dengan penggunaan PBL tersebut.

4

Ibid. hlm.185-187

5

.Desmita. psikologi perkembangan peserta didik,Panduan bagi orang tua dan guru dalam memahami psikologi anak usia SD,SMPdan SMA.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.2010 . Cetakan kedua.h,153

61

BAB V

Dokumen terkait