• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Variabel Moderating

Dalam dokumen CHRISTINE HERAWATI LIMBONG / AKT (Halaman 65-0)

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

4.6 Metode Analisis Data

4.6.6 Pengujian Variabel Moderating

Pengujian regresi variabel moderating yaitu variabel independen yang akan memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen lainnya tehadap variabel dependen. Pada penelitian ini, pengujian variabel moderating dilakukan dengan uji residual. Persamaan pada pengujian variabel moderating yaitu:

Y = Ξ± + 𝛽1 . 𝑋1 + 𝛽2 . 𝑋2 + 𝛽3 . 𝑋3 + Ξ΅ Z = Ξ± + 𝛽1 . 𝑋1 + 𝛽2 . 𝑋2 + 𝛽3 . 𝑋3 + Ξ΅ β”‚eβ”‚= Ξ± + 𝛽1 . π‘Œ

β”‚eβ”‚= Ξ± + 𝛽2 . π‘Œ β”‚eβ”‚= Ξ± + 𝛽3 . π‘Œ

Keterangan:

Y = Nilai Perusahaan Ξ± = Konstanta

𝛽1…….𝛽3 = Koefisien Regresi

X1 = Corporate Social Responsibility X2 = Profitabilitas

X3 = Ukuran Perusahaan Z = Kepemilikan Manajerial

Ξ΅ = Error atau variabel pengganggu

50 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian 5.1.1 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean), dan nilai standar deviasi. Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan dalam perhitungan statistik deskriptif adalah CSR, profitabilitas, ukuran perusahaan, nilai perusahaan, dan kepemilikan manajerial. Berdasarkan analisis statistik deskriptif diperoleh gambaran sampel pada tabel 5.1 berikut ini :

Tabel 5.1. Statistik Deskriptif Dari CSR, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial dan Nilai Perusahaan

Descriptive NIlai Perusahaan

CSR Profitabilitas Ukuran Perusahaan

Kepemilikan Manajerial

Mean 1.841719 0.389922 0.037930 12.65309 8.530938

Maximum 13.11000 0.870000 2.294396 13.93800 66.65000

Minimum 0.050000 0.110000 -1.760060 10.33600 0.000000

Std. Dev. 2.246013 0.127776 0.333349 0.665511 16.95597

Observations (N) 128 128 128 128 128

Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews.

Berdasarkan Tabel 5.1. dapat dijelaskan bahwa jumlah data (N) adalah sebanyak 128 pengamatan untuk masing-masing variabel penelitian. Periode pengamatan yaitu tahun 2013-2016 pada perusahaan pertambangan.Rata-rata variabel Y yaitu jumlah Nilai Perusahaan sebesar 1,84, nilai maksimum 13,11 dan nilai minimum 13,11 dengan standar deviasi 2,24 dari rata-rata nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan tahun 2013 – 2016.

Untuk variabel Corporate Social Responsibility (CSR), pada nilai maksimum sebesar 0,87 yang dimiliki oleh perusahaan PT Indo Tambangraya Megah Tbk pada tahun 2016. Nilai minimum sebesar 0,11 yang dimiliki oleh PT Cita Mineral Investindo Tbk pada tahun 2013. Nilai dari standar deviasi sebesar 0,127 dan rata-rata dari CSR adalah 0,389 yang artinya menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan pertambangan yang menjadi sampel pada penelitian ini memiliki pengungkapan CSR yang masih rendah. Pada variabel CSR ini menunjukkan nilai yang bervariasi sehingga dapat disimpulkan bahwa pengungkapan CSR perusahaan disesuaikan dengan kondisi perusahaan untuk melakukan program sosial pada lingkungan dan masyarakat.

Variabel profitabilitas memiliki nilai maksimum 2,29 yang dimiliki oleh perusahaan PT Bumi Resources Tbk pada tahun 2013 dan nilai minimum -1,76 pada perusahaan PT Mitra Investindo Tbk pada tahun 2015. Nilai dari standar deviasi sebesar 0,33 dan rata-rata dari profitabilitas adalah 0,037 hasil ini menunjukkan bahwa profitabilitas pada perusahaan pertambangan tergolong belum baik karena nilai rata-rata dan standar deviasi yang rendah.

Pada variabel ukuran perusahaan memiliki nilai maksimum 13,93 yang dimiliki oleh PT Adaro Energy Tbk dan nilai minimum 10,33 pada perusahaan PT Golden Eagle Energy Tbk. Sedangkan nilai standar deviasi 0,66 dengan nilai rata-rata 12,65 hasil ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tergolong baik dengan nilai rata-rata yang cukup tinggi mendekati nilai maksimumnya.

Untuk variabel Z yaitu kepemilikan manajerial diketahui nilai maksimum adalah 66,65 pada perusahaan PT Bayan Resources Tbk dengan nilai minimum adalah 0 yang dimiliki oleh beberapa perusahaan diantaranya ialah PT Aneka

52

Tambang Tbk, PT Central Omega Resources, PT Cita Mineral Investindo Tbk, PT Darma Henwa Tbk, PT Elnusa Tbk. Sedangkan nilai standar deviasi 16,95 dan nilai rata-rata ialah 8,53 menunjukkan bahwa rata-rata kepemilikan manajerial pada perusahaan sampel adalah 8,53 dengan nilai maksimum adalah 66,65 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kepemilikan manajerial tidak terlalu mempunyai pengaruh besar berdasarkan sampel yang diteliti.

Standar deviasi adalah akar dari varian yang merupakan ukuran variasi yang menunjukkan seberapa jauh data tersebar dari mean (rata–ratanya). Semakin bervariasi data tersebut maka semakin jauh data tersebut tersebar di sekitar mean-nya (Situmorang, 2008). Jadi semakin besar standar deviasi yang dimiliki oleh setiap variabel menunjukkan bahwa semakin bervariasinya data tersebut. Standar deviasi tertinggi dari kelima variabel tersebut adalah standar deviasi yang dimiliki oleh kepemilikan manajerial dan standar deviasi terendahya adalah variabel corporate social responsibility.

5.1.2 Penentuan Model Estimasi antaraCommon Effect Model(CEM) dan Fixed Effect Model (FEM) dengan Uji Chow

Untuk menentukan apakah model estimasi CEMatau FEMdalam membentuk model regresi, maka digunakan uji Chow. Aturan pengambilan keputusan terhadap hipotesis sebagai berikut.

1. Jika nilai probabilitas cross-section Chi-square < 0,05, maka FEM ditolak dan CEM diterima.

2. Jika nilai probabilitas cross-section Chi-square β‰₯ 0,05, maka CEM ditolak dan FEM diterima.

Berikut hasil berdasarkan uji Chow dengan menggunakan Eviews.

Tabel 5.2 Hasil dari Uji Chow

Redundant Fixed Effects Tests Pool: DPANEL

Test cross-section fixed effects

Effects Test Statistic d.f. Prob.

Cross-section F 4.678887 (31,93) 0.0000

Cross-section Chi-square 120.302373 31 0.0000

Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews.

Berdasarkan hasil dari uji Chow pada Tabel 5.1.2, diketahui nilai probabilitas adalah 0,0000. Karena nilai probabilitas 0,0000< 0,05, maka model estimasi yang digunakan adalah modelfixed effect model (FEM).

5.1.3 Penentuan Model Estimasi antaraFixed Effect Model(FEM) dan Random Effect Model (REM) dengan Uji Hausman

Untuk menentukan apakah model estimasi FEMatau REMdalam membentuk model regresi, maka digunakan uji Hausman. Hipotesis yang diuji sebagai berikut.

𝐻0: Model REM lebih baik dibandingkan model FEM.

𝐻1: Model FEM lebih baik dibandingkan model REM

Aturan pengambilan keputusan terhadap hipotesis sebagai berikut.

1. Jika nilai probabilitas cross-section random < 0,05, maka ditolak dan 𝐻1 diterima.

2. Jika nilai probabilitas cross-section random β‰₯ 0,05, maka 𝐻0 diterima dan 𝐻1 ditolak.

54

Berikut hasil berdasarkan uji Hausman dengan menggunakan Eviews . Tabel 5.3

Hasil dari Uji Hausman

Correlated Random Effects - Hausman Test Pool: DPANEL

Test cross-section random effects

Test Summary

Chi-Sq.

Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section random 10.097068 3 0.0178

Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews

Berdasarkan hasil dari uji Hausman pada Tabel 5.3, diketahui nilai probabilitas adalah 0,0178. Karena nilai probabilitas 0,0178< 0,05, maka model estimasi yang digunakan adalah modelfixed effect model (FEM).

5.2 Uji Asumsi Klasik 5.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah modelregresi, variabel Independen dan variabel dependen atau keduanya berdistribusisecara normal atau tidak.Dalam penelitian ini, uji normalitas terhadap residual dengan menggunakan uji Jarque-Bera (J-B). Dalam penelitian ini, tingkat signifikansi yang digunakan 𝛼 = 0,05. Dasar pengambilan keputusan adalah melihat angka probabilitas dari statistik J-B, dengan ketentuan sebagai berikut.

1. Jika nilai probabilitas 𝑝 β‰₯ 0,05, maka asumsi normalitas terpenuhi.

2. Jika probabilitas𝑝< 0,05, maka asumsi normalitas tidak terpenuhi.

Sumber: Hasil Olah software Eviews

Gambar 5.1

Uji Normalitas dengan Uji Jarque-Bera

Dari gambar 5.1 dapat dilihat nilai probabilitas dari statistik J-B adalah 0,721842. Karena nilai probabilitas 𝑝, yakni 0,721842, lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05. Hal ini berarti asumsi normalitas dipenuhi.

5.2.2 Uji Multikolinieritas

Dalam penelitian ini, gejala multikolinearitas dapat dilihat dari nilai korelasi antar variabel yang terdapat dalam matriks korelasi. Ghozali (2013) menyatakan jika antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi, yakni di atas 0,8, maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas disajikan pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4 Uji Multikolinieritas

Corporate Social Profitabilitas Ukuran Perusahaan Responsibility

Corporate Social

Responsibility 1.000000 0.308818 0.520528 Profitabilitas 0.308118 1.000000 0.262348 Ukuran Perusahaan 0.520528 0.262348 1.000000 Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews

0

56

Berdasarkan Tabel 5.4, dapat dilihat bahwa korelasi antara CSR dan profitabilitas adalah 0,30, CSR dan ukuran perusahaan adalah 0,52, profitabilitas dan ukuran perusahaan adalah 0,26. Dari hasil pengujian multikolinearitas pada Tabel 5.4 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas antar variabel independen. Hal ini karena nilai korelasi antar variabel independen tidak lebih dari 0,8 (Ghozali, 2013).

5.2.3 Uji Heteroskedastisitas

Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji Breusch-Pagan (Gujarati, 2003). Berikut hasil uji Breusch-Pagan.

Tabel 5.5

Uji Heteroskedastisitas (Uji Breusch-Pagan)

Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey

F-statistic 0.935950 Prob. F(3,124) 0.4255

Obs*R-squared 2.834248 Prob. Chi-Square(3) 0.4179

Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews

Berdasarkan Tabel 5.5, hasil pengujian heteroskedastisitas menunjukkan bahwa hasil pengujian heteroskedastisitas dapat dilihat melaluinilai Prob Obs*R-Squared adalah 0,4179 > 0,05, yang berarti tidak terjadi heteroskedastisitas.

5.2.4 Uji Autokorelasi

Asumsi mengenai independensi terhadap residual (non-autokorelasi) dapat diuji dengan menggunakan uji Durbin-Watson (Field, 2009).Nilai statistik dari uji Durbin-Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3 diindikasi terjadi autokorelasi. Sebaliknya jika nilai statistik dari durbin-watson berada di angka 1

sampai 3 maka dapat dinyatakan tidak terjadi korelasi. Berikut hasil dari uji Durbin-Watson.

Tabel 5.6

Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson

Log likelihood -181.8855 Hannan-Quinn criter. 2.940673 Durbin-Watson stat 1.338597

Sumber: Hasil Olah Software Eviews

Berdasarkan Tabel 5.6, nilai dari statistik Durbin-Watson adalah 1,338597.

Perhatikan bahwa karena nilai statistik Durbin-Watson terletak di antara 1 dan 3, yakni 1 < 1,338597 < 3, maka asumsi non-autokorelasi terpenuhi. Dengan kata lain, tidak terjadi gejala autokorelasi yang tinggi pada residual.

5.3 Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesisakan dilakukan analisis koefisien determinasi, pengujian pengaruh simultan (uji F), dan pengujian pengaruh parsial (uji t). Nilai-nilai statistik dari koefisien determinasi, uji F, dan uji t tersaji pada Tabel 5.7 berikut:

Tabel 5.7

Nilai statistik dari Koefisien Determinasi,Uji F, dan Uji t

Dependent Variable: Nilai Perushaan Method: Pooled Least Squares

Total pool (balanced) observations: 128

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

Corporate Social Responsibility 0.538928 1.285130 0.419357 0.6759 Profitabilitas 0.736427 0.266659 2.761684 0.0069 Ukuran Perusahaan -0.417566 0.328900 -1.269586 0.2074

C 5.153421 4.360946 1.181721 0.2403

R-squared 0.613732 Mean dependent var 0.107986

Adjusted R-squared 0.472516 S.D. dependent var 1.011712 S.E. of regression 0.734787 Akaike info criterion 2.448973 Sum squared resid 50.21186 Schwarz criterion 3.228825 Log likelihood -121.7343 Hannan-Quinn criter. 2.765831

F-statistic 4.346045 Durbin-Watson stat 2.972249

Prob(F-statistic) 0.000000

Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews

58

Berdasarkan Tabel 5.8, diketahui nilai koefisien determinasi (Adjusted R-squared) sebesar 𝑅2 = 0,4725. Nilai tersebut dapat diartikanCSR, profitabilitas, dan ukuran perusahaan mampu mempengaruhi/menjelaskan nilai perusahaan secara simultan atau bersama-sama sebesar 47,25%, sisanya sebesar 52,75% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

5.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Simultan (Uji F)

Uji 𝐹 bertujuan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara bersama-sama atau simultan terhadap variabel tak bebas. Berdasarkan Tabel 5.7, diketahui nilai Prob. (F-statistics), yakni 0,0000<0,05, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel bebas, yakni CSR, profitabilitas, dan ukuran perusahaan secara simultan, berpengaruh signifikan terhadap variabel nilai perusahaan.

5.3.3 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t)

Berdasarkan Tabel 5.7, diperoleh persamaan regresi data panel sebagai berikut:

π‘Œ = 5,15 + 0,53𝑋1+ 0,73𝑋2βˆ’ 0,41𝑋3+ 𝑒 Berdasarkan Tabel 5.7, diketahui:

1. Nilai koefisien dari variabel independen Corporate Social Responsibility adalah 0,53, yakni bernilai positif. Nilai tersebut dapat diinterpretasikan variabel CSR berpengaruh positif terhadap variabel nilai perusahaan.

Diketahui nilai Probadalah 0,6759, yakni > 0.05, maka Corporate Social Responsibilitytidak berpengaruh signifikan (secara statistika) terhadap variabel nilai perusahaan, pada tingkat signifikansi 5%.

2. Nilai koefisien dari variabel independen profitabilitas adalah 0,73, yakni bernilai positif. Nilai tersebut dapat diinterpretasikan variabel profitabilitas berpengaruh positif terhadap variabel nilai perusahaan. Diketahui nilai Prob adalah 0,0069, yakni < 0.05, maka variabel profitabilitas berpengaruh signifikan (secara statistika) terhadap variabel nilai perusahaan, pada tingkat signifikansi 5%.

3. Nilai koefisien dari variabel bebas ukuran perusahaan adalah -0,41, yakni bernilai negatif. Nilai tersebut dapat diinterpretasikan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap variabel nilai perusahaan. Diketahui nilai Prob adalah 0.2074, yakni > 0.05, maka variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan (secara statistika) terhadap variabel nilai perusahaan, pada tingkat signifikansi 5%.

5.4 Pengujian Variabel Moderating

Ghozali (2013) menyatakan terdapat tiga cara menguji regresi dengan varaibel moderating, yaitu: (1) uji interaksi, (2) uji nilai selisih mutlak, dan (3) uji residual. Dalam penelitian ini digunakan uji residual dan selisih mutlak.

Digunakannya uji residual karena pada uji interaksi dan uji nilai selisish mutlak mempunyai kecenderungan akan terjadi multikolinearitas yang tinggi antar variabel independen dan hal ini akan menyalahi asumsi klasik dalam regresi ordinary least square (OLS) (Ghozali, 2013). Untuk mengatasi multikolinearitas ini, maka dikembangkan metode lain yang disebut uji residual.

60

5.4.1 Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan

Tabel 5.8

Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara CSR terhadap Nilai Perusahaan

Dependent Variable: Kepemilikan Manajerial Method: Least Squares

Date: 12/11/17 Time: 08:51 Sample: 1 128

Included observations: 128

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

Corporate Social Responsibility -36.32747 11.37029 -3.194946 0.0018

C 22.69581 4.663738 4.866443 0.0000

R-squared 0.074942 Mean dependent var 8.530938

Adjusted R-squared 0.067600 S.D. dependent var 16.95597 Log likelihood -538.4560 Hannan-Quinn criter. 8.462731

F-statistic 10.20768 Durbin-Watson stat 0.829158

Prob(F-statistic) 0.001767

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

nilai perusahaan 2.331015 1.011246 2.305091 0.0228

C 11.04019 1.024920 10.77176 0.0000

R-squared 0.040464 Mean dependent var 11.29190

Adjusted R-squared 0.032848 S.D. dependent var 11.72380 Log likelihood -493.5662 Hannan-Quinn criter. 7.761327 F-statistic 5.313444 Durbin-Watson stat 1.024703 Prob(F-statistic) 0.022797

Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews

Dapat dilihat pada tabel 5.8, hasil uji moderasi ABS_RES_ZX1 dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

β”‚eβ”‚= Ξ± + 𝛽1 . π‘Œ

β”‚eβ”‚= 11,040 + 2,33 π‘Œ

Dalam pengujian moderasi dengan pendekatan uji residual, suatu variabel dikatakan memoderasi variabel bebas jika koefisien regresi variabel tak bebas (Y) bernilai negatif dan signifikan (Ghozali, 2013). Pada Tabel 5.8 bahwa nilai koefisien dari nilai perusahaan adalah 2,33, yakni bernilai positif. Hal ini berarti variabel kepemilikan manajerial tidak signifikan dalam memoderasi hubungan antara CSR terhadap nilai perusahaan.

5.4.2 Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Tabel 5.9

Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Dependent Variable: Kepemilikan Manajerial Method: Least Squares

Included observations: 128

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

Profitabilitas -6.615579 4.492964 -1.472431 0.1434

C 8.781866 1.501567 5.848467 0.0000

R-squared 0.016916 Mean dependent var 8.530938

Adjusted R-squared 0.009113 S.D. dependent var 16.95597 Log likelihood -542.3496 Hannan-Quinn criter. 8.523569 F-statistic 2.168053 Durbin-Watson stat 0.772534 Prob(F-statistic) 0.143398

Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews

Dependent Variable: ABS_RES_ZX2 Method: Least Squares

Included observations: 128

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

Nilai Perusahaan 0.014257 0.024519 0.581450 0.5620

C 0.175249 0.024851 7.052111 0.0000

R-squared 0.002676 Mean dependent var 0.176789

Adjusted R-squared -0.005239 S.D. dependent var 0.278822 Log likelihood -17.47157 Hannan-Quinn criter. 0.322349 F-statistic 0.338084 Durbin-Watson stat 1.530311 Prob(F-statistic) 0.561976

62

Dapat dilihat pada tabel 5.9, hasil uji moderasi ABS_RES_ZX2 dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

β”‚eβ”‚= Ξ± + 𝛽2 . π‘Œ

β”‚eβ”‚= 0,175 + 0,014 π‘Œ

Dalam pengujian moderasi dengan pendekatan uji residual, suatu variabel dikatakan memoderasi variabel bebas jika koefisien regresi variabel tak bebas (Y) bernilai negatif dan signifikan (Ghozali, 2013). Pada Tabel 5.9 bahwa nilai koefisien dari nilai perusahaan adalah 0,014, yakni bernilai positif. Hal ini berarti variabel kepemilikan manajerial tidak signifikan dalam memoderasi hubungan antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

5.4.3 Uji Signifikansi kepemilikan manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan

Tabel 5.10

Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan

Dependent Variable: Nilai Perusahaan Method: Least Squares

Included observations: 128

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

Ukuran Perusahaan -1.058191 2.267812 -0.466613 0.6416

C 21.92033 28.73419 0.762866 0.4470

R-squared 0.001725 Mean dependent var 8.530938

Adjusted R-squared -0.006198 S.D. dependent var 16.95597 Log likelihood -543.3310 Hannan-Quinn criter. 8.538903 F-statistic 0.217728 Durbin-Watson stat 0.732570 Prob(F-statistic) 0.641582

Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews

Dependent Variable: ABS_RES_ZX3 Method: Least Squares

Included observations: 128

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

nilai perusahaan 1.964577 1.060663 1.852216 0.0663

C 11.48785 1.075004 10.68633 0.0000

R-squared 0.026506 Mean dependent var 11.70000

Adjusted R-squared 0.018780 S.D. dependent var 12.20824 S.E. of regression 12.09306 Akaike info criterion 7.838642 Sum squared resid 18426.49 Schwarz criterion 7.883205 Log likelihood -499.6731 Hannan-Quinn criter. 7.856748 F-statistic 3.430706 Durbin-Watson stat 0.905340 Prob(F-statistic) 0.066335

Sumber: Hasil OlahSoftware Eviews

Dapat dilihat pada tabel 5.10, hasil uji moderasi ABS_RES_ZX3 dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

β”‚eβ”‚= Ξ± + 𝛽3 . π‘Œ

β”‚eβ”‚= 11,487 + 1,964 π‘Œ

Dalam pengujian moderasi dengan pendekatan uji residual, suatu variabel dikatakan memoderasi variabel bebas jika koefisien regresi variabel tak bebas (Y) bernilai negatif dan signifikan (Ghozali, 2013). Pada tabel bahwa nilai koefisien dari nilai perusahaan adalah 1,964, yakni bernilai positif. Hal ini berarti variabel kepemilikan manajerial tidak signifikan dalam memoderasi hubungan antara ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.

5.5. Pembahasan

Hasil pengujian menunjukkan bahwacorporate social responsibility, profitabilitas, ukuran perusahaan, secara simultan atau bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel nilai perusahaan.

64

5.5.1 Corporate Social Responsibility Tidak Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan uji residual menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi sebesar 0,53 yang berarti variabel ini menunjukkan adanya arah positif antara corporate social responsibility dengan nilai perusahaan. Variabel corporate social responsibility memiliki tingkat signigikansi sebesar 0,675 > 0,05.

Dengan demikian variabel corporate social responsibilitytidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa corporate social responsibilitytidak dapat dijadikan sebagai faktor yang mempengaruhi tingginya nilai suatu perusahaan.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dibahas pada bab sebelumnya, bisa diambil gambaran bahwa dimulai pada tahun 2013 perusahaan pertambangan mengalami penurunan yang signifikan yang menyebabkan terjadinya peningkatan hutang yang cukup besar baik hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang, untuk dapat membiayai operasional perusahan. Hal ini tentu akan dapat mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Dimana ketika kondisi keuangan tidak stabil, maka kemungkinan besar perusahaan tidak terlalu memperhatikan program corporate social responsibility yang telah direncanakan sebelumnya. Pada perusahaan pertambangan PT Mitra Investindo, Tbk dapat dilihat pada Tabel 1.2 memiliki harga saham per lembar pada tahun 2013 sebesar 1.140 dan semakin menurun di tahun 2016 yaitu sebesar 61 per lembar saham. Hal yang sama juga dialami pada PT Exploitasi Energi Indonesia, Tbk yang memiliki harga saham per lembar pada tahun 2013 sebesar 315 dan semakin menurun di tahun

2016 yaitu sebesar 51 per lembar saham. Dilihat dari pergerakan harga saham dari kedua perusahaan tersebut dari tahun ke tahun semakin menurun dimana hal ini memungkinkan perusahaan untuk tidak terlalu banyak memberikan program corporate social responsibilitypada masyarakat.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Cecilia, et al (2015) yang menenukan bahwa corporate social responsibility tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang disebabkan karena investor di Indonesia cenderung membeli dan menjual saham tanpa memperhatikan keberlangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang. Investor lebih memilih saham dengan melihat market economy dan berita-berita yang muncul sehingga umumnya cenderungmembeli dan menjual saham secara harian. Sedangkan pengaruh CSR merupakan strategi yang tidak dapat dirasakan dalam jangka pendek, melainkan strategi jangka panjang perusahaan dalam upaya untuk menjaga keberlangsungan perusahaan. Pada penelitian Yustisia (2014), juga menemukan hal yang sama bahwa corporate social responsibility tidak dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak melakukan pengkomunikasian tanggung jawab sosial secara tepat sehingga belum dianggap sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Tetapi hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hanni (2013) bahwa corporate social responsibility dapat mempengaruhi nilai perusahaan, yang menunjukkan bahwa semakin besar pelaksanaan dan pengungkapan corporate social responsibility oleh suatu perusahaan maka akan semakin besar pula nilai perusahaan karena investor tertarik untuk berinvestasi pada

66

perusahaan yang tingkat pengungkapan tanggung jawab sosialnya tinggi, penelitian yang dilakukan oleh Hanni dilakukan di perusahaan manufaktur.

Meskipun hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa corporate social responsibility tidak dapat dijadikan faktor dalam meningkatkan nilai perusahaan, tetapi program CSR memang seharusnya diberikan perusahaan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan juga menyatakan bahwa keberadaan perusahaan tidak menjadi bencana di tengah masyarakat baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tiga motif perusahaan melakukan CSR yaiu: (1) Corporate Charity (motif keagamaan), (2) Corporate philanthropy (etika dan moral universal), dan (3) Corporate citizenship atau kewargaan (Saidi dan Abidin, 2004).

CSR berbeda dengan charity atau sumbangan sosial. CSR harus dijalankan di atas suatu program dengan memerhatikan kebutuhan dan keberlanjutan program dalam jangka panjang. Sementara sumbangan sosial lebih bersifat sesaat dan berdampak sementara. Semangat CSR diharapkan dapat mampu membantu menciptakan keseimbangan antara perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Dengan menjalankan tanggungjawab sosial, perusahaan diharapkan tidak hanya mengejar laba jangka pendek, tetapi juga ikut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan (terutama lingkungan sekitar) dalam jangka panjang.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti bahwa dalam laporan tahunan perusahaan pertambangan yang berjumlah 32 sampel penelitian, diketahui perusahaan yang paling banyak mengeluarkan dana untuk program CSR dari tahun 2013-2016 adalah PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk (PTBA). Dimana pada

tahun 2013 CSR yang diberikan sebesar Rp 155.670.000.000, 2014 sebesar Rp 153.000.000.000, 2015 sebesar Rp 157.798.000.000 , serta 2016 sebesar Rp 155.642.000.000. Perusahaan ini juga mendapatkan penghargaan berupa Proper Emas sejak tahun 2013 dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Penghargaan ini diberikanatas dasar Pengelolaan Lingkungan Pertambangan yang baik melalui terobosan dan inovasi yang dilandasi nilai-nilai visioner, inovatif, integritas, professional, sadar biaya dan lingkungan. Dalam penilaiannya, PTBA dinilai sebagai perusahaan yang berkomitmen dalam melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan secara berkesinambungan.

Tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dilakukan perusahaan tidak hanya semata dijalankan untuk memenuhi aturan, namun lebih dari itu yaitu mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan. PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk telah membuktikan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar perusahaan. Tak hanya itu, peran PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk dalam tanggung jawab sosial turut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

5.5.2 Profitabilitas Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan hasil pengujian regresi pada variabel profitabilitas menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,73 yang berarti variabel ini menunjukkan adanya arah positif antara profitabilitas dengan nilai perusahaan.

Nilai signifikansinya sebesar 0,00069 yang nilainya berada dibawah atau lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,005.

68

Nilai yang lebih kecil dari tingkat signifikansi menunjukkan variabel ini berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Maka hipotesis kedua diterima yang artinya terdapat pengaruh antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan. Artinya dengan meningkatnya nilai ROE akan mampu meningkatkan nilai suatu perusahaan. Semakin besar profitabilitas suatu perusahaan (ROE) memberikan indikasi prospek perusahaan yang baik karena adanya potensi peningkatan keuntungan yang diinvestasikan oleh pemegang saham untuk mendapatkan pertumbuhan laba sehingga dapat memicu investor untuk membeli saham. Sesuai dengan signaling theory bahwa ketika ROE tinggi maka diasumsikan sebagai informasi yang positif. Sehingga hal ini dipandang positif oleh investor yang mengharapkan pengembalian keuntungan dari laba yang diperoleh. Sejalan

Nilai yang lebih kecil dari tingkat signifikansi menunjukkan variabel ini berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Maka hipotesis kedua diterima yang artinya terdapat pengaruh antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan. Artinya dengan meningkatnya nilai ROE akan mampu meningkatkan nilai suatu perusahaan. Semakin besar profitabilitas suatu perusahaan (ROE) memberikan indikasi prospek perusahaan yang baik karena adanya potensi peningkatan keuntungan yang diinvestasikan oleh pemegang saham untuk mendapatkan pertumbuhan laba sehingga dapat memicu investor untuk membeli saham. Sesuai dengan signaling theory bahwa ketika ROE tinggi maka diasumsikan sebagai informasi yang positif. Sehingga hal ini dipandang positif oleh investor yang mengharapkan pengembalian keuntungan dari laba yang diperoleh. Sejalan

Dalam dokumen CHRISTINE HERAWATI LIMBONG / AKT (Halaman 65-0)

Dokumen terkait