ANALISIS PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY, PROFITABILITAS, UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN DENGAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL SEBAGAI MODERATING PADA PERUSAHAAN
PERTAMBANGAN TERBUKA
TESIS
OLEH:
CHRISTINE HERAWATI LIMBONG 157017108 / AKT
SEKOLAH PASCASARJANA MAGISTER AKUNTANSI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2
ANALISIS PENGARUHCORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY, PROFITABILITAS, UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN DENGAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL SEBAGAI MODERATING PADA PERUSAHAAN
PERTAMBANGAN TERBUKA
TESIS
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Akuntansi pada
Sekolah PascasarjanaUniversitas Sumatera Utara
OLEH
CHRISTINE HERAWATI LIMBONG 157017108 / AKT
SEKOLAH PASCASARJANA MAGISTER AKUNTANSI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
4
Telah diuji pada
Tanggal : 01 Maret 2018
PANITIA PENGUJI TESIS:
Ketua : Dr. Khaira Amalia SE, MBA,Ak
Anggota : Dra. Narumondang Bulan Siregar, MM, Ak, CA Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak, CA
Prof. Dr. Badaruddin, M.Si Dr. Rujiman, M.Si
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul:
“ANALISIS PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY, PROFITABILITAS, UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN DENGAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL SEBAGAI MODERATING PADA PERUSAHAAN
PERTAMBANGAN TERBUKA”
Adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akhir guna untuk memperoleh gelar Magister pada Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan jelas, benar apa adanya dan apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan berlaku yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara.
Medan, 01 Maret 2018
Peneliti
Christine Herawati Limbong
ii
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh corporate social responsibility, profitabilitas dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel moderating pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian asosiatif kausal. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang menerbitkan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan atau informasi sosial lainnya selama tahun 2013-2016 yang berjumlah 32 perusahaan. Metode pengambilan sampel adalah purposive sampling, sehingga jumlah unit analisis yang digunakan berjumlah 128. Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari website BEI yaitu www.idx.co.id. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis regresi linear berganda dan uji residual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, corporate social responsibility, profitabilitas, ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, namun secara parsial, hanya profitabilitas yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan corporate social responsibility dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Pengujian residual, variabel kepemilikan manajerial sebagai variabel moderating di dalam penelitian ini tidak dapat memoderasi hubungan antaracorporate social responsibility, profitabilitas dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.
Kata Kunci :Corporate Social Responsibility, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial, Nilai Perusahaan.
The objective of the research was to analyze the influence of corporate social responsibility, profitability, and firm size on firm value with managerial ownership as moderating variable in the mining companies listed on BEI (the Indonesia Stock Exchange). This research employed causal associative design. The population and samples were the mining companies that issued financial statements and continuous reports or other social information from 2013 until 2016 i.e. 32 companies. The samples were taken by applying purposive sampling technique, so there were 128 units of analysis. This research used secondary data obtained from the website of BEI www.idx.co.id. The data were analyzed by using multiple linear regression analysis method and residual testing. The results of the research demonstrated that simultaneously, corporate social respobsibility, profitability, and firm size had significant influence on firm value, but partially, only profitability had positive and significant influence on firm value, while corporate social responsibility and firms size did not have any influence of firm value. The residual testing results showed that managerial ownership as the moderating variable in this research could not moderate the correlation of corporate social responsibility, profitability and firm size with firm value.
Keywords: Corporate Social Responsibility, Profitability, Firm Size, Managerial Ownership, Firm Value.
iv
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esaatas Anugerah dan kasihkaruniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Pengaruh Corporate Social Responsibility, Profitabilitas Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kepemilikan Manajerial Sebagai Variabel Moderating Pada Perusahaan PertambanganTerbuka”.
Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian tesis ini penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan, motivasi dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis dengan sepenuh hati mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak, CA selaku Ketua Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan sekaligus sebagai Komisi Pembanding yang telah memberikan masukan dan saran untuk kesempurnaan tesis ini.
4. Ibu Khaira Amalia, SE, MBA, Akselaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan arahan dan saran untuk perbaikan hingga selesainya tesis ini.
5. Ibu Dra. Narumondang Bulan Siregar, MM, Ak, CA selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan arahan dan saran untuk perbaikan hingga selesainya tesis ini.
7. Bapak Dr. Rujiman, M.Si selaku Pembanding yang juga telah banyak memberikan masukan dan saran untuk kesempurnaan tesis ini.
8. Bapak dan Ibu para dosen serta seluruh pegawai pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Sumatera Utara atas ilmu dan bantuan yang telah diberikan selama ini.
9. Abang dan Kakak pengelola Sekretariat Program Studi Magister Akuntansi, Kak Yusna dan Bang Faisal, yang telah membantu administrasi penelitian ini.
10. Kedua Orang Tua Saya, Ayahku J. Limbong, SH, M.Kn dan Ibuku S. Naibaho, S.Pd, yang telah memberikan doa, cinta, kasihsayang dan dukungan yang tulus dan tak ternilai sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di Program Studi Magister Akuntansi ini.
11. Kekasih hati, Karotama Depatriowan yang selalu menjadi penyemangat, motivasi, memberikan dukungan dan doa kepada penulis.
12. Adik-adik tersayang, Ariston Bachtiar Limbong, SH, Sri Handayani Limbong, SE, dan Nopri Adi Damanik, S.Th yang secara langsung/tidak langsung telah memberikan dukungan spirit dan motivasi kepada penulis.
13. Rekan-rekan seangkatan di Program Studi Magister Akuntansi angkatan 2016 yang telah memberikan dukungan dan saran bagi penulis serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan saran dan perhatian sehingga penulisan tesis ini.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna, sehingga masih diperlukan masukan dan saran yang membangun guna perbaikan dan
vi
kesempurnaan, dan akhirnya harapan penulis semoga tesis ini dapat bermanfaatdan menambah wawasanbagi para pembaca. Terima Kasih. Tuhan Memberkati. Amin.
Medan, 01 Maret 2018 Peneliti,
Christine Herawati Limbong
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ………. xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 12
1.3 Tujuan Penelitian ... 13
1.4 Manfaat Penelitian ... 13
1.5 Originalitas Penelitian ... 14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 16
2.1.1 Signalling Theory ……….... 16
2.1.2 Agency Theory ... 17
2.1.3 Nilai Perusahaan ... 18
2.1.4 Corporate Social Responsibility...20
2.1.5 Profitabilitas... 22
2.1.6 Ukuran Perusahaan ... 24
2.1.7 Kepemilikan Manajerial ... 25
2.2 Review Penelitian Terdahulu ... 27
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep ... 32
viii BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian ... 35
4.2 Lokasi Penelitian... ... 36
4.3 Populasi dan Sampel... 36
4.4 Metode Pengumpulan Data... 38
4.5 Definisi Operasional Variabel... 39
4.5.1 Variabel Dependen (Y)... 39
4.5.2 Variabel Independen (X) ... 40
4.5.3 Variabel Moderasi (Z) ... 41
4.6 Metode Analisis Data ... 42
4.6.1 Statistik Deskriptif ... 43
4.6.2 Pemilihan Metode Estimasi ... 43
4.6.3 Uji Signifikansi Model . ... 44
4.6.4 Pengujian Asumsi Klasik ... 45
4.6.5 Pengujian Hipotesis ... 47
4.6.6 Pengujian Variabel Moderating ... 49
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ... 50
5.1.1 Statistik Deskriptif ... 50
5.1.2 Penentuan Model Estimasi Common Effect Model (CEM) dan Fixed Effect Model (FEM) dengan Uji Chow ... 52
5.1.3 Penentuan Model Estimasi Fixed Effect Model (FEM) dan Random Effect Model (REM) dengan Uji Hausman ... 53
5.2 Uji Asumsi Klasik ... 54
5.2.1 Uji Normalitas ... 54
5.2.2 Uji Multikolinieritas... 55
5.2.3 Uji Heteroskedastisitas... 56
5.2.4 Uji Autokorelasi ... 56
5.3 Pengujian Hipotesis ... 57
5.3.3 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t) ... 58
5.4 Pengujian Variabel Moderating ... 59
5.4.1 Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan ... 60
5.4.2 Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan ... 61
5.4.3 Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan ... 62
5.5 Pembahasan ... 63
5.5.1 Corporate Social Responsibility Tidak Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan... 64
5.5.2 Profitabilitas Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan ... 67
5.5.3 Ukuran Perusahaan Tidak Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan ... 69
5.5.4 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Sebagai Variabel Moderating Terhadap Nilai Perusahaan ... 70
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 73
6.2 Keterbatasan Penelitian ... 75
6.2 Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA... 77
x
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
Tabel 1.1Kasus Pencemaran Lingkungan ... 6
Tabel 1.2 Harga Saham Perusahan Pertambangan ……….. 7
Tabel 1.3 Originalitas Penelitian ………. 15
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ……… 27
Tabel 4.1 Sampel Penelitian Berdasarkan Kriteria ... 37
Tabel 4.2 Daftar Sampel Perusahaan Pertambangan ………... 38
Tabel 4.3 Tabel Definisi Operasional Variabel ………... 42
Tabel 5.1 Statistik Desktiptif dari CSR, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial dan Nilai Perusahaan ………... 50
Tabel 5.2 Hasil Uji Chow ……… 53
Tabel 5.3 Hasil Uji Hausman ……….. 54
Tabel 5.4 Uji Multikolinearitas ………... 55
Tabel 5.5 Uji Heteroskedastisitas (Uji Breusch-Pagan) ……….. 56
Tabel 5.6 Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson ………. 57
Tabel 5.7 Nilai Statistik dari Koefisien Determinasi, Uji F, Uji t ……….. 57
Tabel 5.8 Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara CSR terhadap Nilai Perusahaan... 60
Tabel 5.9 Uji Signifikansi Kepemilikan Manajerial dalam Memoderasi Hubungan antara Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan ... 61
Perusahaan ... 62
xii
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
Gambar 3.1 Kerangka Konsep ………... 32 Gambar 5.1 Uji Normalitas dengan Uji Jarque-Bera ... 55
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Saat ini dunia usaha semakin berkembang dengan pesat yang dapat dilihat dengan semakin banyaknya jumlah perusahaan yang bermunculan yang membuat persaingan semakin ketat. Salah satu tujuan penting pendirian suatu perusahaan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang saham, atau memaksimalkan kekayaan pemegang saham melalui peningkatan nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2006).
Salah satu indikator untuk melihat nilai perusahaan yang baik di masa mendatang adalah dengan melihat kemampuan perusahaan tersebut untuk dapat menghasilkan laba. Laba perusahaan selain merupakan indikator perusahaan untuk dapat memenuhi kewajiban bagi para penyandang dananya, juga merupakan elemen dalam penciptaan nilai perusahaan (Rahayu, 2010).
Menurut Mardiasari (2012) “Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Sedangkan Menurut Martin (2008) “Nilai perusahaan merupakan nilaiatau harga pasar yang berlaku atas saham umum perusahaan”. Nilai perusahaan akan tercemin dari nilai sahamnya. Jika nilai sahamnya tinggi bisa dikatakan bahwa nilai perusahaannya juga baik. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, karena dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham yang tinggi pula. Menurut Jensen (2001), untuk dapat memaksimukan nilai perusahaan dalam jangka panjang, manajer di tuntut untuk membuat keputusan yang
2
mempertimbangkan semua stakeholder, dimana manajer akan dinilai kinerjanya berdasarkan keberhasilannya mencapai tujuan.
Dalam proses memaksimalkan nilai perusahaan akan muncul konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham (pemilik perusahaan) yang sering disebut agency problem. Pihak manajemen memiliki tujuan dan kepentingan yang bertentangan dengan tujuan utama perusahaan, dan sering mengabaikan kepentingan pemegang saham. Perbedaan kepentingan ini dapat mengakibatkan konflik yang disebut dengan agency conflict. Pemegang saham tidak menyukai kepentingan manajemen atau manajer perusahaan yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi, karena yang dilakukan manajer perusahaan dapat meningkatkan biaya perusahaan yang berpengaruh dengan harga saham dan menurukan nilai perusahaan.
Pada tahun 2013 perusahaan pertambangan mengalami penurunan yang disebabkan oleh harga minyak mentah dan harga batubara belum kunjung membaik.
Hal ini menyebabkan terjadinyapeningkatan hutang yang cukup besar baik hutang jangka pendek maupun hutangjangka panjang, untuk membiayai operasional perusahaan yang terus menerusmengalami peningkatan. Tentu saja ini akan mempengaruhi kondisi keuanganperusahaan. Banyak perusahaan-perusahaan yang menunda atau menambahjangka waktu pembayaran hutangnya (www.metrotvnews.com). Sama halnya di tahun 2015 juga menjadi tahun yang buruk bagi perusahaan pertambangan, karena sampai sejauh ini belum terlihat faktor yang bisa membantu pasar batu bara untuk pulih. Ditengah permintaan yang masih rendah, diperkirakan pasar tetap mengalami kelebihan pasokan (www.tambang.co.id). Tetapi di tahun 2016 harga saham batu bara terus meroket hingga melebihi level US$100 per metik ton. Sebagai contoh PT Adaro Energy Tbk
(ADRO) sempat menguat hingga Rp1.720 pada perdagangan 2 November 2016, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang juga menguat pada harga Rp318 pada 10 November 2016. Posisi harga saham Adaro Energy dan Bumi Resources tersebut juga merupakan raihan tertinggi sepanjang perdagangan saham hingga saat ini sejak awal tahun 2016.
Penelitian Riny (2016) berpendapat bahwa faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya nilai perusahaan adalah kinerja keuangan. Kinerja keuangan merupakan kunci utama yang mempengaruhi nilai perusahaan karena merupakan faktor yang menjelaskan tentang pengelolaan keuangan perusahaan agar efisien dalam penggunaannya. Sedangkan menurut McWilliams dan Siegel (2000), kinerja keuangan ternyata tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan. Keberlanjutan perusahaan hanya akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan lingkungan sekitar perusahaannya. Perusahaan juga perlu melakukan pengungkapan terhadap lingkungan di sekitar perusahaannya yang biasa di sebut dengan tanggung jawab social (corporate social responsibility).
Corporate Social Responsibility(CSR) sekarang menjadi bagian yang menjadi keharusan dalam perusahaan khususnya yang berbadan hukum perseroan terbatas, dan diatur dalam Undang-Undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Perusahaan yang melakukan pertanggungjawaban terhadap lingkungan sekitarnya, akanberdampak meningkatnya citra perusahaan tersebut. Perusahaan dengan citra yang baik lebih dapat menarik minat investor, loyalitas masyarakat meningkat sehingga penjualan perusahaan membaik dan profitabilitas perusahaan juga meningkat (Meiriska, 2016).Perusahaan pertambangan merupakan salah satu industri penyumbang terbesar atas kerusakan lingkungan sehingga perlu
4
diadakannya Corporate Social Responsibility sebagai pertanggung jawaban sosial dan lingkungan (www.kompasiana.com). Corporate Social Responsibility lahir dari desakan masyarakat atas perilaku perusahaan tersebut diatas yang biasanya mengabaikan tanggung jawab sosialnya terhadap lingkungan dan penduduk sekitar wilayah penambangan (goodcsr.wordpress.com).CSR merupakan fenomena strategi perusahaan yang terutama dimaksudkan untuk mengakomodasi kebutuhan dan kepentinganstakeholder. Oleh karena itu, diharapkan pemangku kepentingan mengetahui informasi yang berkaitan dengan program CSR yang dilakukan oleh perusahaan (Andreas Tan, 2016).
Corporate Social Responsibility juga memiliki standar dan pedoman yang disusun dalam ISO 2600. ISO 26000 merupakan Guidance on social responsibility (panduan tanggung jawab sosial) adalah suatu standar yang memuat panduan perilaku bertanggung jawab sosial bagi organisasi guna berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. ISO 26000 merupakan tanggapan ISO terhadap semakin maraknya perhatian dunia terhadap isu tanggung jawab sosial perusahaan (ivan.lanin.org). Adanya ketidakseragaman dalam penerapan CSR diberbagai negara menimbulkan adanya kecenderungan yang berbeda dalam proses pelaksanaan CSR itu sendiri di masyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu pedoman umum dalam penerapan CSR di manca negara. Dengan disusunnya ISO 26000 sebagai panduan (guideline) atau dijadikan rujukan utama dalam pembuatan pedoman SR yang berlaku umum, sekaligus menjawab tantangan kebutuhan masyarakat global termasuk Indonesia (isoindonesiacenter.com). Apabila hendak menganut pemahaman yang digunakan oleh para ahli yang menggodok ISO 26000 Guidance Standard on Social responsibility yang secara konsisten mengembangkan
tanggung jawab sosial maka masalah SR akan mencakup 7 isu pokok yaitu: 1) Pengembangan Masyarakat, 2) Konsumen, 3)Praktek Kegiatan Institusi yang Sehat, 4) Lingkungan, 5)Ketenagakerjaan, 6) Hak asasi manusia, 7) Tata Kelola Perusahaan (Jalal, 2010).
Menurut Tri Wijayanti (2011) mengemukakan beberapa motivasi dan manfaat yang diharapkan perusahaan dengan melakukan tanggung jawab social perusahaan meliputi:
1) Perusahaan terhindar dari reputasi negatif perusak lingkungan yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek tanpa memperdulikan akibat dari perilaku buruk perusahaan
2) Perilaku etis perusahaan aman dari gangguan lingkungan sekitar sehingga dapat beroperasi dengan lancar
3) Perusahaan mendapat rasa hormat dari kelompok inti masyarakat yang membutuhkan keberadaan perusahaan khususnya dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan
4) Kerangka kerja etis yang kokoh dapat membantu para manajer dan karyawan menghadapi masalah seperti permintaan lapangan pekerjaan di lingkungan dimana perusahaan bekerja.
Berkembangnya praktik Corporate Social Responsibility di Indonesia, dipicu karena banyaknya kasus pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan yang di lakukan di Indonesia, beberapa kasus tersebut antara lain:
Tabel 1.1
Kasus Pencemaran Lingkungan
No Nama Perusahaan Kasus Pencemaran Lingkungan
6
1 Vale Indonesia, Tbk (VALE)
Pada tahun 2014, masyarakat Kabupaten Luwu Timur, melakukan protes terhadap PT Vale Indonesia yang diduga telah mencemari lingkungan dengan tumpahan minyak di Laut Lampia (Sumber: www.gatra.com)
2 Adaro Indonesia, Tbk (ADRO)
Pada Oktober 2009 ikan-ikan yang dibudidayakan oleh masyarakat di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan mati akibat tercemarnya sungai Balangan sehingga mengakibatkan kerugian materi ditaksir miliaran rupiah.
(Sumber: nasional.tempo.co) 3 Aneka Tambang, Tbk
(ANTM)
Pada senin (23/5/2016), Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jambi, menegaskan aktivitas tambang PT Antam yang mengunakan bahan kimia berdampak di daerah hilir sungai Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun.Berbagai jenis ikan di sepanjang aliran terkena dampak dari aktivitas pertambangan tersebut. (Sumber:
tabloidjubi.com) 4 Berau CoalEnergy,
Tbk (BRAU)
Warga Kelurahan Rinding, Kecamatan Teluk Bayur mengeluhkan blasting (peledakan) yang dilakukan kontraktor perusahaan PT Berau Coal.
Peledakan yang dilakukan telah lama dirasakan, mengingatjarak pemukiman dan lokasi tambang hanya 600 meter, kerusakan fisik yaitubanyaknya bangunan retak. (Sumber: www.beraunews.com) 5 Elnusa, Tbk (ELSA) Semburan lumpur mengandung gas meresahkan
warga Desa Pijoan, Kabupaten Muarojambi, yang dikhawatirkan berasal dari kegiatan seismik PT Elnusa.Dampak secara ekonomi produksi batu bata warga terganggu. Lahan sumber bahan baku
terendam lumpur. (Sumber:
news.metrotvnews.com) 6 Energi Mega Persada,
Tbk (ENRG)
Terjadi kebocoran di salah satu pipa milik perusahaan PT Energi Mega Persada di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau pada Agustus 2017. Dinas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meminta perusahaan bertangung jawab membersihkan limbah, diperkirakan 350 liter minyak mentah tumpah dan mencemari lingkungan.
(Sumber:daerah.sindonews.com) 7 Merdeka Copper
Gold, Tbk (MDKA)
Hadirnya PT. Merdeka Copper Gold, Tbk, kini telah memicu konflik sosial dan perlawanan dari warga desa Sumberagung dan sekitarnya.
Penyebabnya diantaranya adalah kawasan tangkap ikan nelayan tradisional dan kawasan
wisata pantai Pulau Merah yang bersebelahan langsung dengan areal pertambangan telah rusak total. (Sumber: walhijatim.or.id)
8 Mitrabara Adiperdana,Tbk (MBAP)
Air Sungai Malinau warnanya berubah menjadi coklat dalam kurang lebih sepuluh tahun terakhir, disebabkan oleh perusahaan Mitra Adiperdana, Tbk. Air sungai menjadi tidak layak pakai untuk kebutuhan sehari-hari – seperti minum dan mandi. (Sumber: www.jatam.org)
9 Bara Multi Sukses Sarana,Tbk (BSSR)
Ratusan massa menolak aktivitas perusahaan tambang batubara PT Bara Multi Sukses Sarana, Tbk yang telah merusak lingkungan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan dan mengancam ekosistem dan habitat monyet hidung panjang atau sering disebut monyet Bekantan. (Sumber:
www.wartabuana.com) 10 PT Karya Utama
Tambang Jaya (Anak Perusahaan Cita Mineral Investindo / CITA)
Hasil investigasi Relawan Pemantau Hutan Kalimantan sejak 2012-2014 memperkuat dugaan bahwa perusahaan menguasai separuh cadangan bauksit di Kalbar ini, terbukti melakukan aktivitas ilegal.Dampak dari pertambangan illegal yakni kerusakan lingkungan, tanah menjadi gersang dan dampak sosial lainnya.(Sumber:
www.aktual.com)
Berikut ini adalah harga saham yang terjadi pada PT Vale Indonesia, Tbk (sub sektor logam mulia), PTBukit Asam Tbk, dan PT Adaro Indonesia, Tbk (Sub sektor batubara) pada periode tahun 2013 - 2016 yaitu :
Tabel 1.2
Harga Saham Perusahaan Pertambangan
No
Nama Perusahaan
Harga Saham
2013 2014 2015 2016
1 Adaro Energy Tbk 1.090 1.040 515 1.695
2 Aneka Tambang Tbk 916 895 314 895
3 Apexindo Pratama Duta Tbk 2.550 3.330 3.330 1.780
4 Atlas Resources Tbk 850 448 400 520
5 Atpk Resources Tbk 270 209 194 194
6 Baramulti Suksessarana Tbk 1.950 1.590 1.110 1.410
7 Berau Coal Energy Tbk 186 63 82 82
8 Bayan Resources Tbk 8.500 6.650 7.875 6.000
9 Benakat Integra Tbk 111 121 50 71
8
11 Bumi resources Tbk 380 80 50 278
12 Cakra mineral Tbk 215 199 50 68
13 Central Omega Resources Tbk 380 397 397 334 14 Cita Mineral Investindo Tbk 390 940 940 900
15 Citatah Tbk 64 67 56 80
16 Darma Henwa Tbk 50 50 50 50
17 Delta Dunia Makmur Tbk 92 193 54 510
18 Elnusa Tbk 330 685 247 420
19 Energi Mega Persada Tbk 70 100 50 50
20 Exploitasi Energi Indonesia Tbk 315 155 50 51
21 Garda Tujuh Buana Tbk 990 474 260 260
22 Golden Eagle Energy Tbk 1.686 1.785 171 149 23 Golden Energy Mines Tbk 2.175 2.000 1.400 2.700
24 Harum Energy Tbk 2.750 1.660 675 1.985
25 Indo Tambangraya Megah Tbk 28.500 15.375 5.725 16.875 26 j Resources Asia Pasific Tbk 343 540 1.370 244 27 Medco Energi Internasional Tbk 2.100 3.800 795 1.320 28 Merdeka Copper Gold Tbk 1.900 2.000 2.015 2.000
29 Mitra investindo Tbk 1.140 185 124 61
30 Mitrabara Adiperdana Tbk 1.200 1.310 1.115 2.090
31 Perdana Karya Perkasa Tbk 86 88 50 50
32 Petrosea Tbk 1.150 925 290 720
33 Permata Prima Sakti Tbk 2.375 1.800 1.800 1.800 34 Radiant Utama Interinsco Tbk 192 217 215 236
35 Ratu Prabu Energi Tbk 181 101 170 50
36 Resource Alam Indonesia Tbk 2.050 1.005 420 1.500
37 Samindo Resources Tbk 490 458 525 630
38 Sigmagold Inti Perkasa Tbk 550 488 438 50
39 Smr Utama Tbk 239 264 238 340
40 Surya Esa Perkasa Tbk 2.375 2.995 1.650 1.620 41 Tambang Batubara Bukit Asam Tbk 10.200 12.500 4.525 12.500
42 Timah Tbk 1.081 1.230 505 1.075
43 Toba Bara Sejahtera Tbk 740 920 675 1.245
44 Vale Indonesia Tbk 2.650 3.625 1.635 2.820
Sumber : www.duniainvestasi.com
Pada Tabel 1.2 menunjukkan naik turunnya harga saham perusahaan pertambangan pada periode tahun 2013-2016. Perusahaan dengan harga saham diatas rata-rata perusahaan lain adalah PT Bukit Asam Tbk, walaupun pada tahun 2015 mengalami gejolak harga saham yang turun drastis, tetapi di tahun 2016 harga saham kembali meningkat, yang berarti tingginya nilai perusahaan yang
ditunjukkan dengan menguatnya harga saham di tahun 2016. Sedangkan pada PT Mitra Investindo, PT Vale Indonesia, dan PT Golden Energy Minesjuga mengalami kenaikan harga saham tahun 2016, walaupun dari tahun 2014-2015 saham dikedua perusahaan ini mengalami penurunan yang cukup dratis.
Nilai perusahaan juga dapat dipengaruhi oleh besar kecilnya profitabilitas yang dihasilkan oleh perusahaan. Rasio profitabilitas merupakan rasio utama dalam seluruh laporan keuangan, karena tujuan utama perusahaan adalah hasil operasi/
keuntungan. Keuntungan adalah hasil akhir dari kebijakan dan keputusan yang diambil manajemen. Rasio keuntungan akan digunakan untuk mengukur keefektifan operasi perusahaan sehingga menghasilkan keuntungan pada perusahaan. Perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi menunjukkan tingginya kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dan semakin baik kinerja perusahaannya, semakin tinggi profitabilitas akan meningkatkan nilai perusahaan.
Menurut Riyanto (2012) memberikan pengertian bahwa “profitabilitas perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut”. Dapat dikatakan bahwa profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba untuk periode tertentu.
Sedangkan menurut Sutrisno (2009) mengungkapkan bahwa “kegunaan dari profitabilitas adalah untuk mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat diperoleh oleh perusahaan.” Hal tersebut menegaskan bahwa semakin besar tingkat keuntungan yang diraih maka akan menunjukkan kinerja manajemen yang semakin baik dalam mengelola perusahaan.
10
Menurut Kusumaningrum (2010), ukuran perusahaan (firm size) menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata total penjualan asset, dan rata-rata total aktiva.
Perusahaan yang memiliki total aktiva yang besar, memiliki kondisi keuangan yang kuat dan kegiatan operasional lebih stabil dan relatif lebih dapat menghasilkan laba sehingga prospek ke depannya lebih baik. Perusahaan dengan ukuran perusahaan yang besar lebih dapat menjalankan operasinya secara berkelanjutan sehingga dapat memberikan pengembalian investasi yang lebih tinggi maka semakin besar ukuran perusahaan, nilai perusahaan akan semakin tinggi.
Kepemilikan manajerial yang tinggi menyebabkan deviden yang dibayarkan pada pemegang saham rendah. Penetapan deviden rendah disebabkan manajer memiliki harapan investasi di masai mendatang yang dibiayai dari sumber internal.
Distribusi saham antara pemegang saham dari luar yaitu institusional investor dan shareholder dispersion mengurangi agency cost karena kepemilikan mewakili suatu sumber kekuasaan (source of power) yang berguna mendukung keberadaan manajemen atau sebaliknya (Gideon, 2005).
Beberapa peneliti telah melakukan penelitian mengenai nilai perusahaan dan faktor yang mempengaruhi, ada peneliti yang meneliti bahwa Corporate Social Responsibility berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (Hani, 2013 dan Rika, 2005) sedangkan penelitian (Cecilia, 2016 dan Yustisia, 2014) meneliti bahwa Corporate Social Responsibility tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Pada penelitian lainnya (Unita, 2016; Cecilia, 2015; Putu, 2016; Riny, 2016; I Gusti, 2013) berpendapat bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan menurut penelitian (Meirisika,
2012) meneliti bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Menurut Cecilia (2015), ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan tidak signifikan, sedangkan penelitian (Meiriska, 2012; I Gusti, 2013; Riny, 2016; Putu, 2016) menyimpulkan bahwa ukuran perusahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Kegiatan pertambangan dimulai dengan kegiatan ekplorasi dan eksploitasi yang terkadang dilakukan sampai puluhan tahun, hal inilah yang menyebabkan industri pertambangan adalah industri yang padat modal berbeda dengan industri lainnya. Menurut UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara bahwa Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.Perusahaan pertambangan memiliki 4 sektor pertambangan yaitu pertambangan batu bara, pertambangan minyak bumi dan gas, pertambangan logam mulia, dan pertambangan batu-batuan. Perusahaan pertambangan mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, dimana tahun 2011, jumlah perusahaan pertambangan mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, dimana tahun 2011, jumlah perusahaan pertambangan yang listing sebesar 29 perusahaan, kemudian di tahun 2012 menjadi 31 perusahaan, bertambah lagi di tahun 2013 menjadi 37 perusahaan dan terus mengalami peningkatan di tahun 2014 menjadi 40 perusahaan dan terakhir di tahun 2016 menjadi 44 perusahaan.
Alasan dipilihnya perusahaan pertambangan dalam penelitian ini
12
ekonomi di Indonesia. Dengan keberadaan perusahaan pertambangan diharapkan mampu mendukung upaya kesejahteraan sosial bagi masyarakat. Di negara Indonesia ini juga memiliki prospek yang baik dalam hal sumber daya alam berupa batu bara, logam mulia, minyak, dan gas bumi sangat berlimpah sehingga dapat menarik minat investor untuk dapat menanamkan modalnya ke perusahaan pertambangan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul“Analisis Pengaruh Corporate Social Responsibility, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan terhadap Nilai
Perusahaan Kepemilikan Manajerial sebagai Variabel Moderating pada Perusahaan PertambanganTerbuka”
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada identifikasi masalah yang telah dikemukakan, maka perumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah:
1. Apakahcorporate social responsibility, profitabilitas, dan ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan di BEI periode 2013-2016?
2. Apakah kepemilikan manajerial dapat memoderasi pengaruh corporate social responsibility, profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan identifikasi latar belakang masalah yang telah dikemukakan dalam perumusan masalah, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh corporate social responsibility, profitabilitas, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia secara simultan maupun parsial.
2. Untuk menguji dan menganalisis kepemilikan manajerial dapat memoderasi pengaruh corporate social responsibility, profitabilitas, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Data dan informasi dalam penelitian ini diharapkan dapatmemberikan manfaat kepada :
1. Bagi penulis adalah untuk mengetahui hubungan antar variabel yangditeliti dan menambah wawasan penulis mengenai nilai perusahaan,profitabilitas dan ukuran perusahaan, dan corporate social responsibility serta kepemilikan manajerial dalam perusahaanpertambangan.
2. Bagi perusahaan, diharapkan dapat digunakan untuk menetapkan kebijakan perusahaan dalam meningkatkan nilai perusahaan dimasa yang akan datang.
3. Bagi pihak akademis, sebagai dasar untuk penelitian lanjutan, khususnya sebagai bahan referensi dan pembanding bagi mereka yang berminat mengadakan penelitian lebih lanjut dibidang ini.
14
4. Bagi masyarakat, penulis berharap hasil penelitian ini dapatmemberikan sumbangan pemikiran yang dapat berguna untukmenambah wawasan ilmu pengetahuan dan bahan perpustakaan.
1.5 ORIGINALITAS
Penelitian ini merupakan replikasi yang mengacu pada penelitian Cecilia, et al (2015) dengan judul Analisis Pengaruh Corporate Social Responsibility, Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Perkebunan yang Go Public di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Pada penelitian ini peneliti mencoba menambahkan variabelmoderator yaitu kepemilikan manajerial.
Peneliti menambahkan kepemilikan manajerial sebagai variabel moderating dikarenakan naik turunnya nilai perusahaan juga dipengaruhi oleh struktur kepemilikanperusahaan. Siallagan dan Machfoedz (2006) menyatakan bahwa semakin besar kepemilikanmanajerial dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung meningkatkan kinerjanya untukkepentingan pemegang saham dan kepentingannya sendiri. Sehingga, beberapa penelitian menjadikan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoderasi dalam hubungan antarapengungkapan Corporate Social Responsibility dan Nilai Perusahaan. Hal ini didukung dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Rika (2005), bahwa kepemilikan manajerial atau kepemilikan manajemen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan.
Penelitian dilakukan untuk mengkaji lebih lanjut berbagai penelitian terdahulu maupun teori yang ditelaah, penelitian ini di replikasi dengan perbedaan
yaitu menambahkan variabel moderating yaitu kepemilikan manajerial, dan objek penelitian adalah perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.
Tabel 1.3
Originalitas Penelitian
Kriteria Penelitian Terdahulu Penelitian Sekarang Judul
Penelitian
Analisis Pengaruh Corporate Social Responsibility, Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Perkebunan yang Go Public di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Analisis Pengaruh Corporate Social Responsibility, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan Kepemilikan Manajerial sebagai Variabel Moderating pada Perusahaan Pertambangan Terbuka Objek
Penelitian
Perusahaan Perkebunan Perusahaan Pertambangan Periode
Penelitian
2012-2014 2013-2016
Variabel Dependen
Nilai Perusahaan Nilai Perusahaan Variabel
Independen
Corporate Social
Responsibility, Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan
Corporate Social
Responsibility, Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan Variabel
Moderating
- Kepemilikan Manajerial
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel independen profitabilitas pengaruh positif dan signifikan dan positif terhadap variabel dependen nilai perusahaan, sedangkan variabel independen corporate social responsibility dan ukuran perusahaan terbukti berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap variabel dependen nilai perusahaan.
Proses Penelitian
16 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori 2.1.1. Signaling Theory
Teori signaling menyatakan bahwa perusahaan yang berkualitas baik dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar, dengan demikian pasar diharapkan dapat membedakan perusahaan yang berkualitas baik dan buruk (Hartono,2005).Agar sinyal tersebut baik maka harus dapat ditangkap pasar dan dipresepsikan baik serta tidak mudah ditiru oleh perusahaan yang memliki kualitas yang buruk (Hartono,2005).
Teori sinyal berakar pada teori akuntansi pragmatik yang memusatkan perhatiannya kepada pengaruh informasi terhadap perubahan perilaku pemakai informasi. Salah satu informasi yang dapat dijadikan sinyal adalah pengumuman yang dilakukan oleh suatu emiten. Pengumuman ini nantinya dapat mempengaruhi naik turunnya harga sekuritas perusahaan emiten yang melakukan pengumuman (Suwardjono, 2005).
Menurut Jama’an (2008) Signaling Theory mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan, dimana sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik.
Teori sinyal juga dapat membantu pihak perusahaan (agen), pemilik (prinsipal), dan pihak luar perusahaan mengurangi asimetri informasi dengan menghasilkan kualitas atau integritas informasi laporan keuangan. Untuk memastikan pihak-pihak yang berkepentingan meyakini keandalan informasi
keuangan yang disampaikan pihak perusahaan (agen), perlu mendapatkan opini dari pihak lain yang bebas memberikan pendapat tentang laporan keuangan (Jama‟an, 2008).
2.1.2. Agency Theory
Teori keagenan (agency theory) dikembangkan di tahun 1970-an terutama pada tulisan Jensen dan Meckling (1976) pada tulisan yang berjudul “Theory of the firm: Managerial behavior, agency costs, and ownership structure”.Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham (shareholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham.
Karena mereka dipilih, maka pihak manejemen harus mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya kepada pemegang saham.
Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi dengan mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran kepemilikan saham oleh manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk mengurangi agency cost yang berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer merasakan langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambilnya. Proses ini dinamakan dengan bonding mechanism, yaitu proses untuk menyamakan kepentingan manajemen melalui program mengikat manajemen dalam modal perusahaan.
Terjadinya konflik keagenan dapat berpengaruh pada investor. Pemikiran bahwa manajemen dapat melakukan tindakan yang hanya memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri didasarkan pada suatu asumsi yang menyatakan setiap orang
18
mempunyai perilaku yang mementingkan diri sendiri atau self-interested behaviour.
Keinginan, motivasi dan utilitas yang tidak sama antara manajemen dan pemegang saham menimbulkan kemungkinan manajemen bertindak merugikan pemegang saham, antara lain berperilaku tidak etis dan cenderung melakukan kecurangan akuntansi (Rachmawati dan Triatmoko, 2007).
Konflik keagenan yang mengakibatkan adanya sifat opportunistic manajemen akan mengakibatkan rendahnya kualitas laba. Rendahnya kualitas laba akan mengakibatkan para pemakai laporan keuangan membuat kesalahan dalam pembuatan keputusan seperti investor dan kreditur, sehingga nilai perusahaan akan berkurang (Siallagan dan Machfoedz, 2006)
2.1.3. Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan adalah cerminan tentang kondisi perusahaan saat ini.
Menurut Brigham dan Houston (2006), nilai perusahaan sangat penting, karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham. Semakin tinggi harga saham semakin tinggi juga nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi.
Menurut Husnan (2004) nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Sedangkan menurutWahyudi dan Pawestri (2006) menyatakan bahwa nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham, sangat dipengaruhi oleh peluang- peluang investasi.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa nilai perusahaan dapat diukur menggunakan harga saham. Harga saham di pasar modal terbentuk berdasarkan kesepakatan antara permintaan dan penawaran investor, sehingga harga saham merupakan fair price yang dijadikan proksi nilai perusahan. Semakin tinggi harga saham, maka semakin tinggi nilai perusahaan, yang berarti kemakmuran pemegang saham semakin meningkat.
Ada beberapa rasio untuk mengukur nilai pasar perusahaan, misalnyaprice book value (PBV), price earning ratio (PER), Market to book ratio (MBR), Tobin’s Q, Price Flow Ratio, dan Market to sales Ratio. Pada penelitian ini nilai perusahaan di ukur dengan menggunakanprice book value (PBV).Price Book Value (PBV) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai perusahaan terhadap jumlah ekuitas yang diinvestasikan, investor dapat mengetahui berapa kali market value dihargai melebihi dari book value sehingga investor mendapat gambaran apakah nilai perusahaan berpotensi untuk naik ke depannya.Nilai perusahaan dalam penelitian ini diindikasikan dengan price to book value (PBV), dengan rumus:
Price Book Value = 𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎𝑃𝑎𝑠𝑎𝑟𝑝𝑒𝑟𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟𝑆𝑎 ℎ𝑎𝑚 Nilai Buku per Lembar Saham
Nilai price to book value (PBV) baik ketika nilai price to book value (PBV) diatas satu yaitu nilai pasar lebih besar daripada nilai buku perusahaan dan sebaliknya. Perusahaan dengan price to book value (PBV) yang masih rendahsebaiknya dibeli untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih besar pada tingkat resiko tertentu. Perusahaan dengan nilai perusahaan yang tinggi menunjukkan apresiasi pasar sehingga diyakini memiliki prospek ke depan.
20
2.1.4. Corporate Social Responsibility
Konsep corporate social responsibility melibatkan tanggung jawab kemitraan antara pemerintah, lembaga sumberdaya masyarakat, serta komunitas setempat (lokal). Kemitraan ini tidaklah bersifat pasif dan statis. Kemitraan ini merupakan tanggung jawab bersama secara sosial antara stakeholders.
Menurut Ocran (2011), corporate social responsibility sebagai sebuah konsep memerlukan praktek di mana entitas perusahaan secara sukarela mengintegrasikan kebaikan yang didapat perusahaan baik sosial dan lingkungan dalam filosofi bisnis mereka dan operasi.
Sedangkan menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan.
Praktik dan pengungkapan corporate social responsibility didasari oleh hubungan perusahaan atau entitas bisnis dengan keseluruhan stakeholder baik internal maupun eksternal yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan.Pengungkapan ada yang bersifat wajib (mandatory) dan ada yang bersifat sukarela (voluntary). Konsep pelaporan CSR digagas dalam Global Reporting Initiative (GRI).Global Reporting Initiative (GRI) adalah sebuah jaringan berbasis organisasi yang telah mempelopori perkembangan dunia, paling banyak menggunakan kerangka laporan keberlanjutan dan berkomitmen untuk terus-
menerus melakukan perbaikan dan penerapan di seluruh dunia (www.globalreporting.org).
Saat ini standar GRI versi terbaru yaitu G4 telah banyak digunakan oleh perusahaan di Indonesia, GRI G-4 menyediakan kerangka kerja yang relevan secara global untuk mendukung pendekatan yang tersandarisasi dalam pelaporan yang mendorong tingkat transparansi dan konsistensi yang diperlukan untuk membuat informasi yang disampaikan menjadi berguna dan dapat dipercaya oleh pasar dan masyarakat. Fitur yang ada di GRI G-4 menjadikan pedoman ini lebih mudah digunakan baik bagi pelapor yang berpengalaman dan bagi mereka yang baru dalam pelaporan keberlanjutan sektor apapun dan didukung oleh bahan-bahan dan layanan GRI lainnya (www.globalreporting.org).
GRI G-4 menyediakan panduan bagaimana menyajikan pengungkapan keberlanjutan dalam format yang berbeda, baik itu laporan keberlanjutan mandiri, laporan terpadu, dan laporan tahunan. Dalam standar GRI G-4, indikator kinerja dibagi menjadi tiga komponen utama yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Kategori sosial mencakup hak asasi manusia, tenaga kerja, dan produk. Dengan total indikator mencapai 91 item (www.globalreporting.org).
Indikator- indikator yang terdapat di dalam GRI yang digunakan dalam penelitian yaitu :
1. Indikator Kinerja Ekonomi (economic performance indicator) 2. Indikator Kinerja Lingkungan (environment performance indicator) 3. Indikator Kinerja Sosial (social performance indicator)
4. Indikator Kinerja Tenaga Kerja (labor practices performance indicator) 5. Indikator Kinerja Hak Asasi Manusia (human rights performance indicator)
22
6. Indikator Kinerja Produk (product responsibility performance indicator)
Proksi yang digunakan untuk mengukur pengungkapan CSR adalah CSRI (Corporate Social Responsibility Disclosure Index) berdasarkan indikator yang dikembangkan oleh Global Reporting Initiatives (GRI), yang telah diakui secara internasional karena sebagai indikator sustainability report perusahaanperusahaan hampir di seluruh dunia dan dijadikan sebagai standar pelaporan.Rumus penghitungannya adalah sebagai berikut :
CSRI
=
𝑥𝑖𝑗𝑛𝑗x
100 % Keterangan:CSRI : Corporate Social Responsibility Indeks Perusahaan
nj : Jumlah criteria pengungkapan Corporate Social Responsibility untuk perusahaan, nj ≤ 91
Xij : 1 = Jika criteria diungkapkan, 0 = Jika kriteria tidak diungkapkan
Pengungkapan atas kegiatan corporate social responsibilityadalah sinyal yang bagus bagi investor dan stakeholder bahwa perusahaan aktif dalam melakukan kegiatan corporate social responsibility, serta nilai pasar perusahaan berada dalam posisi yang bagus. Kinerja sosial perusahaan yang bagus membantu perusahaan untuk memperoleh reputasi dari pasar modal dan pasar utang sehingga membuat nilai suatu perusahaan meningkat.
2.1.5. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan gambaran dari kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan (Petronila dan Mukhlasin, 2003). Ukuran profitabilitas dapat berbagai
macam seperti: laba operasi, laba bersih, tingkat pengembalian investasi atau aktiva, dan tingkat pengembalian ekuitas pemilik.Profitabilitas menurut Kasmir (2010) “merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan”. Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukan efisiensi perusahaan.
Menurut Wahidahwati (2002) bahwa rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas menunjukan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (profit).
Keuntungan yang layak dibagikan kepada para pemegang saham adalah keuntungan setelah bunga dan pajak. Semakin besar keuntungan yang diperoleh semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya, profitabilitas merupakan pertimbangan yang penting bagi investor dalam keputusan investasinya. Nilai perusahaan dengan profitabilitas memiliki hubungan yang erat karena profitabilitas merupakan suatu tindakan prestasi perusahaan atas pendapatan laba (profit) perusahaan sehingga dapat mengembangkan perusahaannya ke level yang lebih tinggi lagi.Rasio profitabilitas dalam penelitian ini diwakili oleh return on equity (ROE), dengan rumus:
Return On Equity (ROE) = Earning After Income Tax
Equity
ROE sebagai salah satu rasio profitabilitas merupakan indikator yang sangat penting bagi para investor. ROE dibutuhkan investor untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih yang berkaitan dengan dividen.
Pemilihan ROE sebagai proksi dari profitabilitas adalah karena dalam ROE ditunjukkan, semakin tinggi ROE menunjukkan semakin efisien perusahaan dalam menggunakan modal sendiri untuk menghasilkan laba investor yang ditanam pada perusahaan (Horne dan Wachowicz, 2005). Naiknya rasio ROE dari tahun ke tahun
24
pada perusahaan berarti terjadi adanya kenaikan laba bersih dari perusahaan yang bersangkutan. Naiknya laba bersih dapat dijadikan salah satu indikasi bahwa nilai perusahaan juga naik karena naiknya laba bersih sebuah perusahaan yang bersangkutan akan menyebabkan harga saham yang berarti juga kenaikan dalam nilai perusahaan (Horne dan Wachowicz, 2005).
2.1.6. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan adalah ukuran citra perusahaan, yang bisa dinilaiberdasarkan aktivitas perusahaan, yang dapat dilihat dariberbagai aspek (Georgeta, 2013). Besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity, nilai penjualan atau nilai aktiva (Riyanto, 20012).Semakin besar total aktiva, penjualan, log size, nilai pasar saham, dan kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran perusahaan tersebut. Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi dalam tiga kategori yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium-size), dan perusahaan kecil (small firm).
Dalam UU No. 20 Tahun 2008 mengklasifikasikan ukuran perusahaan ke dalam 4 kategori yaitu usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar.
Menurut Suwito dan Herawaty (2005), ukuran perusahaan pada dasarnya adalah pengelompokan perusahaan kedalam beberapa kelompok, diantaranya perusahaan besar, sedang dan kecil.Skala perusahaan merupakan ukuran yang dipakai untuk mencerminkan besar kecilnya perusahaan yang didasarkan kepada total aset perusahaan.
Perusahaan yang memiliki total aktiva dengan jumlah yang besar biasanya kondisi keuangan lebih kuat dan operasional perusahaan lebih stabil dan
relatifdapat menghasilkan laba sehingga ke depannya prospek perusahaan lebih baik. Jika perusahaan memiliki total aktiva yang besar, akan lebih banyak mendapatkan perhatian dari investor, kreditor maupun pemakai informasi keuangan lainnya dibandingkan perusahaan kecil. Manajemen yang berada pada perusahaan dengan total aktiva yang besar,lebih dapat mengendalikan dan memanfaatkan aktiva yang ada untuk dapat meningkatkan kegiatan operasional perusahaan dan mencapai tujuan perusahaan. Sehingga investor akan merespon positif untuk berinvestasi pada perusahaan dan nilai perusahaan akan meningkat. Adapun perhitungan ukuran perusahaan menurut Arini(2009) adalah sebagai berikut :
Ukuran Perusahaan =Log Total Aktiva
2.1.7. Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan saham manajerial merupakan kepemilikan saham terbesar oleh manajemen perusahaan.Indikator untukmengukur kepemilikan manajerial adalah presentase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang beredar. Kepemilikan manajerial (managerial block ownership) dimana struktur kepemilikan ekuitas berpengaruh penting terhadap insentif manajerial dan nilai perusahaan. Mereka berargumen bahwa kepemilikan saham manajerial dapat mengurangi insentif manajer untuk mengkonsumsi kemewahan, menyedot kekayaan pemegang saham, atau terlibat dalam perilaku yang tidak memaksimumkan nilai lainnya. Argumen ini dikenal sebagai hipotesis penyatuan kepentingan.
Menurut Sujono dan Soebiantoro (2007) kepemilikan manajerial akan mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerjanya, karena mereka juga ikut
26
memiliki perusahaan. Ross (1977) menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan manajemen dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung untuk berusaha untuk meningkatkan kinerjanya untuk kepentingan pemegang saham dan untuk kepentingannya sendiri. Dengan kinerja yang meningkat maka akan meningkatkan nilai perusahaan.
Kepemilikan manajemen adalah proporsi pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan oleh direktur dan komisaris (Diyah dan Widanar, 2009). Munculnya kepemilikan saham dalam pihak manajemen akan menjadikan nilai perusahaan dapat meningkat karena pihak manajemen bisa melaksanakan dan selalu mengawasi perkembangan perusahaan sekaligus memperhitungkan kebijakan dividen yang terbaik dari dua sisi yaitu dari sisi pemegang saham dan kemajuan perusahaan.
Semakin besar kepemilikan saham pada pihak manajerial, maka pihak manajerial akan bekerja lebih proaktif dalam mewujudkan kepentingan pemegang saham dan akhirnya akan meningkatkan kepercayaan, kemudian nilai perusahaan juga akan naik. Kepemilikan manajemen diungkapkan melalui jumlah kepemilikan saham yang dimiliki manajemen dan dewan komisaris dibagi dengan total keseluruhan saham perusahaan.Secara sistematis perhitungan tersebut dirumuskan sebagai berikut (Masdupi, 2005):
Kepemilikan Manajerial = Kep. saham manajer + dewan komisaris + direktur Total keseluruhan saham perusahaan
2.2 Review Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pengaruh corporate social responsibility, profitabilitas, ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan dengan variabel pemoderasi yaitu kepemilikan manajerial telah banyak diteliti oleh penelitian-penelitian sebelunya dan menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Penelitian terdahulu ini akan menjadi bahan acuan agar dapat membandingkan penelitian ini dengan penelitian terdahulu.
Rincian mengenai penelitian-penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu 1 Unita
Hizkia (2016)
Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Corporate Social Responsibility dan Kepemilikan
Manajerial Sebagai Variabel Moderating pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI.
Variabel Independen:
Profitabilitas
Variabel Dependen:
Nilai Perusahaan Variabel Moderasi:
Corporate Sosial Responsibility, Kepemilikan Manajerial
Hasil pengujian statistik secara simultan menunjukkan bahwa profitabilitas,
kepemilikan manajerial dan corporate social responsibility secara simultan
mempengaruhi nilai perusahaan.
Secara parsial, variabel profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Variabel pemoderasi Corporate Social Responsibility
berpengaruh negatif terhadap hubungan profitabilitas dengan nilai perusahaan. Dan Kepemilikan
Manajerial berpengaruh positif terhadap hubungan profitabilitas
dengan nilai
perusahaan.
2 Yustisia Puspa Nigrum
Pengaruh Corporate Sosial
Responsibilitydan
Variabel Independen:
Corporate Sosial
Hasil pengujian statistik secara parsial bahwa corporate social
28
Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Profitabilitas
dan Ukuran
Perusahaan Sebagai Variabel Moderating
Kepemilikan Manajerial
Variabel Dependen:
Nilai Perusahaan
Variabel Moderating:
Profitabilitas, Ukuran Perusahaan
pengaruh negatif dan tidak signifikanterhadap nilai perusahaan, kepemilikan manjerial memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
Profitabilitas tidak dapat memoderasi pengaruh CSR dan kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan.
Ukuran perusahaan memperkuat CSR dan kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan.
3 Cecilia, et al (2015)
Analisis Pengaruh Corporate Sosial Responsibility,
Profitabilitas, Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan
Perkebunan yang Go Public di Indonesia, Malaysia, dan Singapura
Variabel Independen:
Corporate Sosial Responsibility, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan
Variabel Dependen:
Nilai Perusahaan
Hasil pengujian statistik secara simultan menghasilkan kesimpulan bahwa hasil seluruh variabel independen secara serempak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Secara parsial menunjukkan bahwa Corporate Sosial Responsibility dan Ukuran Perusahaan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
Sedangkan profitabilitas yang diproksikan melalui ROE menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
4 RIKA NURLELA (2005)
PengaruhCorporate Sosial Responsibility, terhadap Nilai Perusahaan dengan prosentase
kepemilikan
manajemen sebagai variabel moderating pada Bursa Efek Jakarta
Variabel Independen:
Corporate Sosial Responsibility Variabel Dependen:
Nilai Perusahaan Variabel Moderasi:
Prosentase Kepemilikan Manajemen
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility,
prosentase kepemilikan manajemen, serta interaksi antara Corporate Social Responsibility dengan prosentase kepemilikan manajemen secara simultan bepengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.