BAB II. PERENCANAAN KINERJA
RINCIAN KEGIATAN SEBAGAI BERIKUT :
3. Perhitungan investasi peralatan
3.1.1.2. Pengukuran Capaian Indikator Kinerja 2 dari Sasaran Program
Pengukuran capaian Indikator kinerja 2 dari Sasaran Program 1 yaitu Jumlah
Rekomendasi di bidang TAB yang dimanfaatkan, dengan target 2 rekomendasi, yang meliputi : (a) Buku outlook teknologi pangan, (b) Buku outlook teknologi kesehatan.
Tabel 3.10. Capaian Kinerja Indikator Kinerja 2 dari Sasaran Program 1 Sasaran Program 1
Terwujudnya inovasi di bidang Agroteknologi dan Bioteknologi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa
Indikator Kinerja 2
Jumlah Rekomendasi di bidang TAB yang dimanfaatkan Target :
2 Rekomendasi
Penjelasan Target Indikator Kinerja
a. Buku Outlook Teknologi Pangan 2016 ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan acuan bagi instansi pemerintah, swasta, industri, akademisi dan masyarakat pada umumnya dalam pengembangan teknologi untuk mendukung diversifikasi pangan nasional jangka panjang.
b. Buku Outlook Teknologi Kesehatan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi sumber informasi, acuan dan bahan pertimbangan dalam melakukan pengembangan teknologi untuk industri farmasi dan alat kesehatan nasional jangka panjang
Program/Kegiatan Capaian Kinerja Output Bukti Pendukung
Program Pengkajian dan Penerapan Teknologi Agroindustri / Pengembangan Pangan Lokal - Diperolehnya buku Outlook Teknologi Pangan Foto FGD Buku Teknologi Outlook Pangan
Program Pengkajian dan Penerpan Teknologi Farmasi dan Medika
- Diperolehnya buku Outlook Teknologi Kesehatn Foto Konsinyering penyusunan Outlook Buku Outlook Teknologi Kesehatan Foto acara peluncuran Outlook
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 37 Penjelasan Capaian Indikator Kinerja :
a. Buku outlook teknologi pangan
a.1. Uraian Pelaksanaan Kegiatan tahun 2016 dan hasil yang dicapai (disertai dengan foto-foto kegiatan dan mitra pengguna)
Uraian Kegiatan
Program Pengembangan Pangan Berbasis Bahan Baku Lokal berupaya untuk mengembangan sumber daya lokal salah satunya untuk mendukung substitusi impor pangan nonberas dan nonterigu, juga dengan memanfaatkan tanaman sagu yang potensi luasannya nomor satu di dunia, jagung, dan ubi kayu sesuai dengan kearifan lokal daerah. Peran teknologi dalam program diversifikasi (penganekaragaman) pangan sangat penting dan dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, menghasilkan produk pangan yang berkualitas, dan efisiensi produksi. Sehingga dapat dihasilkan produk pangan lokal yang sehat, rasanya enak, praktis, dengan harga terjangkau sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Pengembangan diversifikasi (penganekaragaman) pangan selalu terkait dengan pengembangan ekonomi. Untuk itu perlu disusun sebuah buku Outlook Teknologi Pangan, yang membahas data potensi pangan lokal kita saat ini dan hingga prediski potensi dan kebutuhan hingga 20 tahun kedepan serta skenario pengembangan diversifikasi pangan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Isu penting dalam pertumbuhan ekonomi adalah upaya untuk melepaskan diri dari ketergantungan impor pangan yang saat ini sudah mencapai 70%.
Buku Outlook Teknologi Pangan 2016 ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan acuan bagi instansi pemerintah, swasta, industri, akademisi dan masyarakat pada umumnya dalam pengembangan teknologi untuk mendukung diversifikasi pangan nasional jangka panjang.
Metodologi yang dilakukan
Sumber Data
Outlook Teknologi Pangan edisi 2016 ini disusun berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari data primer hasil deep interview dari nara sumber dan
Focuss Group Discussion (FGD) , serta data sekunder yang bersumber dari Instansi terkait, seperti BPS, Bappenas, BKP-Kementan, Kemenperin, Kemendag, Kemenristekdikti, dan beberapa publikasi terkait lainnya.
Gambar 3.18. FGD dalam rangka penyusunan Outlook teknologi Pangan
- Prediksi Demografi dan Pertumbuhan Penduduk
Analisis Prediksi Demografi dan Pertumbuhan Penduduk Indonesia dilakukan dengan mengacu pada data demografi yang telah tersedia, yaitu data yang dikeluarkan dari BPS dan Bappenas. Data utama yang digunakan adalah data jumlah penduduk, pertumbuhan, jenis kelamin dan kelompok umur penduduk.
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 39
- Prediksi Kebutuhan Teknologi Pangan
Prediksi Kebutuhan Teknologi Pangan hingga tahun 2035 digunakan dengan metode penilaian dari para ahli dan pemangku kepentingan (pejabat dari lembaga terkait, pakar dari perguruan tinggi dan lembaga litbang, praktisi industri pangan). Penilaian didukung dengan analisis data sekunder.
Buku Outlook Teknologi pangan diawali dengan sambutan kepala BPPT, halaman berikutnya Sambutan Menetri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Bab 1. Pendahuluan, berisi tentang latar belakang, urgensi, ruang linhkup dan metodologi. Bab 2. Potret Kondisi Panan Saat ini, berisi tentang konsumsi pangan, Ketersediaan Pangan Karbohidrat, Produksi dan Impor pangan, hingga Kebijakan pangan. Bab 3. Ketersediaan Teknologi Diversivikasi Pangan meliputi on farm dan off farm. Bab 4 Proyeksi Hingga Tahun 2045, meliputi proyeksi jumlah penduduk, konsumsi dan produksi pangan pokok, trategi Pengurangan Konsumsi Beras dan roadmap teknologi Diversivikasi Pangan Karbohidrat.
a.2. Perbandingan antara capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir
Tidak ada
a.3 Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis Tidak ada
a.4 Perbandingan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional Tidak ada
a.5 Analisis penyebab keberhasilan atau peningkatan kinerja Belum ada
a.6 Analisis atas efisiensi penggunaan sumberdaya Belum ada
a.7 Analisis program/kegiatan penunjang keberhasilan Belum ada
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 41
b. Buku outlook teknologi kesehatan
b.1. Uraian Pelaksanaan Kegiatan tahun 2016 dan hasil yang dicapai (disertai dengan foto-foto kegiatan dan mitra pengguna)
Uraian Kegiatan
Buku Outlook Teknologi Kesehatan 2016 disusun dengan tujuan untuk memberikan informasi dan gambaran tentang proyeksi kebutuhan teknologi untuk industri farmasi dan alat kesehatan ke depan yang diperlukan untuk mendukung penyediaan produk obat dan alat kesehatan hingga tahun 2035 dalam rangka mewujudkan kemandirian dan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan nasional. Sehingga diharapkan Outlook ini dapat digunakan sebagai salah satu rujukan bagi para pihak yang terlibat pada dunia kesehatan dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat sesuai semangat Undang-undang Kesehatan.
Metodologi dalam penyusunan Buku Outlook Teknologi Kesehatan 2016 dengan cara pengumpulan data data dan informasi primer hasil deep interview dari narasumber dan Forum Group Discussion (FGD) dan sekunder yang bersumber dari institusi terkait seperti Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kementerian Perdagangan (Kemendag), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dan publikasi terkait lainnya. Selanjutnya data yang diperoleh diolah dan dianalisis secara intensif melalui diskusi tim penyusun dengan menghadirkan pada narasumber yang pakar di bidang masing- masing.
Buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2016 yang dihasilkan menyajikan data, analisis, dan proyeksi kebutuhan produk dan teknologi untuk industri farmasi dan alat kesehatan hingga tahun 2035 dengan mengacu pada proyeksi demografi dan pola penyakit, kecendrungan pasar, kemampuan industri dan
kebijakan pemerintah. Berdasarkan data demografi, penduduk Indonesia tahun 2035 diproyesikan akan mencapai 305,5 juta. Prosentase penduduk kelompok usia anak (0-14 tahun) cenderung mengalami penurunan, namun prosentase kelompok produktif (15-59 tahun) dan kelompok usia lanjut (60 tahun ke atas) mengalami peningkatan. Diproyeksikan hingga tahun 2035 pola penyakit di Indonesia akan mengalami pergeseran yaitu kelompok penyakit menular (communicable disease) mengalami penurunan, sedangkan kelompok penyakit tidak menular (non communicable disease) dan penyakit akibat cedera menunjukkan peningkatan. Ada korelasi antara jumlah penduduk kelompok usia lanjut yang meningkat dengan peningkatan penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung, hipertensi, diabetes dan kanker. Berdasarkan pola penyakit tersenut, diperkirakan kebutuhan produk kesehatan hingga tahun 2035 akan lebih banyak digunakan untuk mengatasi penyakit tidak menular seperti produk untuk penyakit jantung, hipertensi, hiperkolesterol, osteoarthritis dan kanker serta obat analgetik antipiretik. Namun demikian, sediaan obat untuk mengatasi penyakit menular (infeksi) juga masih diperlukan secara kontinyu yaitu kelompok antibiotika, anti virus dan vaksin. Kebutuhan bahan baku obat akan meningkat sejalan dengan peningkatan kebutuhan produk jadi. Upaya pengembangan industri bahan baku obat menjadi penting untuk didorong oleh seluruh stakeholder. Diperkirakan permintaan pasar produk herbal lebih banyak untuk fungdi pencegahan penyakit, perlindungan fungsi organ dan peningkatan daya tahan tubuh. Sementara beberapa produk alat kesehatan yang diperkirakan kebutuhannya terus meningkat hingga 2035 adalah kelompok produk bahan medis habis pakai, hospital furniture, produk implan ortopedi, in vitro diagnostic dan peralatan elektronik untuk diagnosis dan monitoring kesehatan.
Outlook Teknologi Kesehatan edisi 2016 ini akan menyajikan potret industri farmasi dan industri alat kesehatan, analisis kebutuhan produk kesehatan yang mengacu pola penyakit, dan proyeksi kebutuhan teknologi untuk mendukung industri farmasi dan alat kesehatan hingga tahun 2035. Industri farmasi yang
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 43 bahan alam, produk biologi dan biosimilar. Sedangkan industri alat kesehatan juga mencakup industri in vitro diagnostic (IVD). Kelompok teknologi yang dibahas dalam Outlook Teknologi Kesehatan edisi 2016 meliputi (i) Teknologi produksi bahan baku obat kimia dan eksipien, (ii) Teknologi produksi produk biologi dan biosimilar, (iii) Teknologi produksi produk herbal, dan (iv) Teknologi produksi alat kesehatan dan in vitro diagnostic (IVD). Buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2016 disajikan pada Gambar 3.20.
Gambar 3.20. Buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2016
Berdasarkan hasil review dan analisis yang dilakukan, maka kebutuhan teknologi untuk industri farmasi dan alat kesehatan hingga tahun 2035 dapat diproyeksikan sebagai berikut:
(i) Teknologi untuk pengembangan sediaan obat jadi
Kebijakan pemerintah tentang Jaminan Kesehatan Nasional akan memberikan pengaruh besar pada peningkatan penyediaan obat generik. Diperkirakan teknologi formulasi sediaan obat menjadi prioritas kebutuhan, terutama teknologi formulasi untuk memperbaiki sistem penghantaran obat dan teknologi formulasi untuk memperbaiki atau mengubah bentuk sediaan dalam rangka memenuhi persyaratan farmasetika, farmakodinamik dan farmakokinetik serta efisiensi proses
produksi. Nanoteknologi merupakan salah satu pilihan utama untuk diterapkan dalam teknologi formulasi sediaan obat tersebut.
(ii) Teknologi untuk produksi bahan baku obat
Dalam upaya mengurangi ketergantungan impor, pembangunan pabrik bahan baku obat penting untuk ditingkatkan. Teknologi produksi bahan baku obat menggunakan konsep multipurpose plant dengan 2-3 langkah proses merupakan pilihan terbaik untuk diterapkan. Pengembangan katalis dalam rangka optimalisasi proses sintesis, peningkatan produktivitas dan efisensi biaya penting untuk dilakukan. Dalam produksi bahan baku obat juga perlu menerapkan konsep proses produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan serta berbasis sumberdaya bahan baku lokal yang ada.
(iii) Teknologi untuk pengembangan produk biologi dan biosimilar
Produk biologi dan biosimilar yang diperkirakan akan berkembang hingga tahun 2035 adalah produk-produk untuk penyakit tidak menular seperti kanker, diabetes mellitus, osteoarthritis, dan penyakit menular yang disebabkan virus. Teknologi yang diperkirakan akan berkembang adalah teknologi antibodi monoklonal, teknologi protein dan DNA rekombinan, serta teknologi sel punca.
(iv) Teknologi untuk pengembangan produk herbal
Teknologi pengembangan produk herbal diperkirakan akan menggunakan teknologi verifikasi botani secara molekular untuk menjamin kualitas simplisia, teknologi ekstraksi cairan bertekanan untuk meningkatkan rendemen dan menjaga kualitas hasil, teknologi ekstraksi dengan ultrabunyi, penapisan bioaktivitas dengan menggunakan kombinasi ekspresi gen, protein array dan identifikasi konstituen kandungan senyawa dalam ekstrak atau fraksi, teknologi untuk verifikasi efek farmakodinamik secara , serta teknologi untuk meningkatkan
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 45 stabilitas, solubilitas dan menutup warna, bau, dan rasa pada produk herbal.
(v) Teknologi untuk pengembangan alat kesehatan
Kebijakan pemerintah tentang Jaminan Kesehatan Nasional juga berpengaruh cukup besar terhadap penyediaan alat kesehatan, khususnya kelompok bahan habis pakai (disposable), hospital furniture, peralatan elektromedik, radiologi dan implan ortopedi. Teknologi produksi peralatan dan bahan baku alat kesehatan terkait kelompok produk tersebut, sangat perlu dikembangkan untuk mendorong industri alat kesehatan dalam negeri. Selain itu teknologi informasi diperkirakan akan semakin banyak dimanfaatkan dalam bidang pengembangan alat kesehatan.
(vi) Teknologi untuk pengembangan in vitro diagnostic (IVD)
Produk kit diagnostika yang diproyeksikan banyak digunakan adalah reagen diagnostika dan point of care testing. Teknologi yang prospek untuk dikembangkan adalah deteksi dini untuk penyakit demam berdarah, HIV-AIDS, malaria, dan tuberkulosis.
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 3.21. Rangkaian kegiatan penyusunan Buku Outlook Teknologi
Kesehatan 2016, gambar (a) dan (b) Konsinyering penyusunan buku outlook teknologi kesehatan 2016 oleh tim penyusun; (c) dan (d) Lounching dan pemberian buku outlook teknologi kesehatan 2016 untuk stakeholder
b.2. Perbandingan antara capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir
Outlook Teknologi Kesehatan ada ditahun 2016 dan belum ada di tahun lalu dan tahun sebelumnya.
b.3. Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 47 Gambar 3.22. Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini
dengan target jangka menengah
b.4 Perbandingan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional
Kemenkes mengeluarkan roadmap pengembangan industri bahan baku
obat nasional tahun 2015-2020.
Kementerian Perindustrian mengeluarkan RIPIN (Rencana Induk
Pembangunan Industri Nasional ) tahun 2015-2035.
b.5 Analisis penyebab keberhasilan atau peningkatan kinerja
Faktor Penyebab Keberhasilan:
SDM: Tersedia SDM dengan pendidikan dan kompetensi sesuai
Lainnya: Adanya target launching saat acara LABINDO
Faktor Penyebab Kegagalan/Penurunan Kinerja:
Industri nasional belum mempunyai budaya riset untuk
mengembangkan riset dan teknologi.
Buku Outlook Teknologi Kesehatan bidang Inovasi Teknologi Produksi Sediaan Obat Herbal dan
Ekstrak Terstandar 2016 2017 2018 2019 2020 Buku Outlook Teknologi Kesehatan 2016 Buku Outlook Teknologi Kesehatan bidang Inovasi Teknologi Produksi Produk Biologi dan Biosimilar Buku Outlook Teknologi Kesehatan bidang Inovasi Teknologi Produksi
Bahan Baku Obat Teknologi
untuk Industri Farmasi dan Alat Kesehatan Nasional Proyeksi 2035 Buku Outlook Teknologi Kesehatan bidang Inovasi Teknologi Pengembangan Alat Kesehatan
Waktu penyusunan yang terlalu sempit.
Anggaran yang relative kecil.
Alternatif Solusi yang telah dilakukan :
Sosialisasi dan koordinasi dengan stakeholder terkait seperti BPOM,
Kemenkes, Industri Obat Herbal, Industri Bahan Baku Obat, Industri Biofarmasetika dan alat kesehatan.
Penyusunan dilakukan dengan target waktu yang sudah ditentukan.
b.6 Analisis atas efisiensi penggunaan sumberdaya - Tidak ada
b.7 Analisis program/kegiatan penunjang keberhasilan
Gambar 3.23. Analisis program/kegiatan penunjang keberhasilan Outlook Teknologi Kesehatan 2016
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat diketahui bahwa capaian kinerja Deputi Penetapan Kinerja
Buku Outlook Teknologi Kesehatan 2016
Menunjang
SDM : tersedia SDM dengan pendidikan dan kompetensi sesuai
Kerja sama : Adanya koordinasi dan stakeholder dalam penyusunan buku outlook teknologi kesehatan 2016 Lainnya : Adanya target launching saat acara LABINDO
Menghambat
Keuangan : anggaran yang tersedia relative kecil Lainnya : Waktu penyusunan yang terlalu singkat
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 49
di bidang TAB yang dimanfaatkan, dengan target 2 rekomendasi adalah sebagai
berikut:
Dalam penetapan indikator kinerja tingkat Lembaga sampai Unit Kerja/ Satuan Kerja, BPPT selalu berupaya memenuhi kriteria SMART. Pemenuhan kriteria indikator kinerja adalah sebagai berikut :
Tabel 3.11. Kriteria indikator kinerja untuk Indikator Outlook Teknologi
Kriteria Penjelasan
Spesifik Buku Outlook teknologi Pangan spesifik menampilkan potret kondisi pangan saat ini, ketersediaan teknologi serta proyeksi pangan hingga tahun 2045
Buku Outlook Teknologi Kesehatan menampilkan hasil kajian yang berisi tentang potret, analisis, dan proyeksi kebutuhan teknologi untuk industri farmasi dan alat kesehatan hingga tahun 2035
Dapat diukur Kandungan dalam buku bisa diukur akurasinya, dilengkapi dengan foto dan sumber data
Dapat dicapai Buku Outlook Teknologi Pangan telah dicetak dengan ISBN 978- 602-74844-0-5
Buku Outlook Teknologi Kesehatan telah dicetak dengan ISBN 978-602-95911-2-5
Relevan Kegiatan pembuatan buku ini sangat relevan dengan kebutuhan teknologi pengeringan pangan dengan kapasitas besar yang belum tersedia khususnya untk industri beras analog
Sementara itu untuk buku Outlook Teknologi Kesehatan sangat relevan mengganbarkan kondisi teknologi farmasi dan kesehatan saat ini serta prediksi kebutuhan hingga 2035 demi mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan nasional
Capaian Kinerja BPPT untuk untuk Indikator Jumlah Rekomendasi di bidang TAB yang dimanfaatkan : Buku Outlook Teknologi Pangan dan Buku Outlook Teknologi Kesehatan Prosentase Capaian Kinerja = Realisasi x 100% Target = 2 Rekomendasi x 100% = 100% 2 Rekomendasi
Tabel 3.12. Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja tahun ini Indikator Kinerja 2 sasaran program 1
Indikator
Kinerja Target Realisasi % Program Mitra
Buku Outlook Teknologi Pangan 1 1 100 Program Pengkajian dan Penerapan Teknologi Agroindustri / Pengembangan Pangan Lokal - Buku Outlook Teknologi Kesehatan 1 1 100 Program Pengkajian dan Penerapan Teknologi Farmasi dan Medika
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 51 3.1.2. Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Program 2
Pengukuran Capaian Sasaran Program 2 (SP 2) yaitu Terwujudnya layanan teknologi di bidang Agroteknologi dan Bioteknologi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa, dengan 2 (dua) Indikator Kinerja dan target sebagai berikut:
1. Jumlah Layanan teknologi di bidang TAB:
a) Layanan konsultasi kepada UKM pengolah produk olahan jagung b) Alih teknologi produksi mie jagung di Technopark Grobogan c) Layanan konsultasi kepada 4 UKM
d) Layanan difusi olahan produk pati
e) Layanan teknologi budidaya ubi kayu dan tebu
f) Terbentuknya 2 Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dan 100 orang penerima manfaat teknologi di Technopark Kab. Bantaeng
g) Layanan teknologi produksi bibit tanaman melalui kultur jaringan ex-vitro dan in-vitro
2. Indeks Kepuasan Masyarakat dengan target B
3.1.2.1. Pengukuran Capaian Indikator Kinerja 1 dari Sasaran Program 2
Pengukuran capaian Indikator kinerja 1 dari Sasaran Program 2 yaitu Jumlah Layanan
teknologi di bidang TAB, dengan target 12 layanan, yang meliputi : (a) Layanan konsultasi kepada UKM pengolah produk olahan jagung; (b) Alih teknologi produksi mie jagung di Technopark Grobogan; (c) Layanan konsultasi kepada 4 UKM; (d) Layanan difusi olahan produk pati; (e) Layanan teknologi budidaya ubi kayu dan tebu; (f) Terbentuknya 2 Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dan 100 orang penerima manfaat teknologi di Technopark Kab. Bantaeng; dan (g) Layanan teknologi produksi bibit tanaman melalui kultur jaringan ex-vitro dan in-vitro .
Tabel 3.13. Capaian Kinerja Indikator Kinerja 1 Sasaran Program 2
Sasaran Program 2
Terwujudnya layanan teknologi di bidang Agroteknologi dan Bioteknologi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa
Indikator Kinerja 1
Jumlah Layanan teknologi di bidang TAB Target :
12 LayananTeknologi
Penjelasan Target Indikator Kinerja
a. Layanan konsultasi kepada UKM pengolah produk olahan jagung. Layanan konsultasi teknologi bertujuan untuk membina UKM di wilayah
technopark Grobogan untuk berkembang, melalui pengenalan teknologi proses pengolahan pangan
b. Alih teknologi produksi mie jagung di Technopark Grobogan, memberikan inforamsi, pelatihan hingga UKM bisa mandiri melakukan proses produksi mie jagung
c. Layanan konsultasi kepada 4 UKM d. Layanan difusi olahan produk pati
e. Layanan teknologi budidaya ubi kayu dan tebu
f. Terbentuknya 2 Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dan 100 orang penerima manfaat teknologi di Technopark Kab. Bantaeng
g. Layanan teknologi produksi bibit tanaman melalui kultur jaringan ex-vitro dan in-vitro
Program/Kegiatan Capaian Kinerja Output Bukti Pendukung
Pengkajian dan Penerapan Teknolog/ Pengembangan Teknologi Agroindustri Technopark Grobogan 2 Layanan konsultasi Kepada UKM pengolah produk olahan jagung
Laporan dan dokumentasi kegiatan pelatihan, workshop dan pameran Pengkajian dan Penerapan Teknolog/ Pengembangan Teknologi Agroindustri Technopark Grobogan 1 Alih teknologi produksi mie Jagung dengan pewarna alami
Laporan dan
dokumentasi kegiatan pelatihan, workshop dan pameran
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 53 Inovasi dan Layanan
Teknologi Techno Park di Kabupaten Lampung Tengah Layanan konsultasi kepada 4 UKM Daftar hadir Foto kegiatan
Layanan Jasa Teknologi Pati
Layanan difusi olahan produk pati
Foto kegiatan
Perjanjian Kerjasama Layanan Jasa Teknologi
Pati Layanan teknologi budidaya ubikayu dan tebu Foto kegiatan Perjanjian Kerjasama Bukti setoran PNBP Pengembangan Kawasan Technopark Bantaeng Pembentukan 2 PPBT bidang perbenihan dan pengolahan pangan (pasca panen
100 orang penerima manfaat teknologi pada Technopark bantaeng
Sertifikat
pembentukan PPBT Kab. Bantaeng
Sertifikat pelatihan
Layanan jasa Teknologi Layanan teknologi produksi bibit tanaman melalui kultur jaringan ex-vitro dan in-vitro (1 layanan)
Perjanjian Kerjasama
Penjelasan Capaian Indikator Kinerja :
a. Layanan konsultasi kepada UKM pengolah produk olahan jagung
a.1. Uraian Pelaksanaan Kegiatan tahun 2016 dan hasil yang dicapai (disertai dengan foto-foto kegiatan dan mitra pengguna)
Uraian Kegiatan
Ketahanan pangan telah ditetapkan sebagai program prioritas utama dalam pembangunan nasional. Sejalan dengan hal tersebut di atas, jagung merupakan salah satu produk pangan lokal yang mempunyai prospek baik untuk dikembangkan. Hal ini dikarenakan jagung telah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan makanan pokok dan makan ringan di wilayah Kabupaten Grobogan.
Melihat potensi jagung di wilayah Grobogan yang cukup melimpah, BPPT pada program Kawasan Teknopark Grobogan berserta pemerintah setempat terdorong untuk mengembangkan potensi yang ada menjadi peluang usaha. Salah satu bentuk kontribusi Program Technopark Grobogan adalah dengan memperhatikan dan memberikan layanan teknologi kepada UKM produk pangan dan membentuk serta membina Kelompok Usaha Baru berbasis teknologi pangan di kabupaten Grobogan. Tahun 2016 ini layanan konsultasi yang diberikan kepada UKM adalah teknologi dan proses pengolahan pangan berbahan baku jagung. Pada tahun 2016 ini, dihasilkan 2 layanan konsultasi kepada UKM pengolah produk pangan berbahan baku jagung.
Layanan 1
Layanan konsultasi teknologi Proses Produksi Emping Jagung
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 55 Alamat : Desa Taruman Kecamatan Klambu Kabuapten Grobogan Nama Ketua : Khusnul Khotimah
Anggota : 12 orang
Produk : Emping Jagung, Tortila Jagung, Keripik Singkong, Keripik pisang Keripik Sukun,
Kapasitas : Awal : 65 Kg/hari Setelah optimasi : 100 kg .hari
Permasalahan : Proses produksi tidak efisien pada tahap pencucian Solusi : Pengenalan teknologi horizontal mixer tank untuk pencucian
Dalam usaha untuk ingin meningkatkan kapasitas produksi emping jagung KUB Mekar Abadi, terkendala dengan efisiensi proses produksi. Setelah dilakukan survey lokasi, maka ditemukan permasalah utama proses produksi adalah penanganan tahap pencucian jagung pada proses produksi emping jagung setelah perebusan sebelum digiling.