BAB II LANDASAN TEORI
D. Pengupahan menurut Hukum Islam
1. Upah menurut hukum Islam
Upah dalam bahasa Arab disebut Al-ujrah. Dari segi bahasa
al-ujru yang berarti „iwad (ganti) kata “al-ujrah” atau “al-ujru” yang
menurut bahasa berarti al-iwad (ganti), dengan kata lain imbalan yang
diberikan sebagai upah atau ganti suatu perbuatan yang telah
dilakukan (Karim, 1997: 29).
Pengertian upah dalam kamus bahasa Indonesia adalah uang dan
sebagainya yang dibayarkan sebagai imbalan jasa atau sebagai
pembalasan jasa atau sebagai pembayaran tenaga yang sudah
dilakukan untuk mengerjakan sesuatu (Depdik, 2000: 1108).
Dasar yang membolehkan upah yaitu dalam firman Allah dan
Sunnah Rasul-Nya.
a. Landasan Al-Qur‟an
1) Surat Az-Zukhruf ayat 32:
ِّثَس َذََْحَس ََُُِ٘سْقَٝ ٌَُْٕأ
ِحبََٞحْىا ِٜف ٌَُْٖزَشِٞعٍَ ٌََُْْْٖٞث بَََْْسَق ُِْحَّ ۚ َل
بًعْعَث ٌُُْٖعْعَث َزِخهزَِٞى ٍدبَجَسَد ٍطْعَث َقَْ٘ف ٌَُْٖعْعَث بَْْعَفَسَٗ ۚ بَُّّْٞذىا
َُُ٘عََْجَٝ بهٍَِ ٌشَْٞخ َلِّثَس ُذََْحَسَٗ ۗ بًِّٝشْخُس
Artinya: apakah mereka yang membagi-bagi rahmat tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain bebrapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagain yang lain. Dan rahmat tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
Ayat diatas menjelaskan tentang penganugerahan rahmat Allah apalagi pemberian waktu, semata-mata adalah wewenang Allah, bukan manusia. Allah telah membagi bagi-bagi sarana penghidupan manusia dalam kehidupan dunia, karena mereka tidak melakukannya sendiri dan Allah telah meninggikan sebagian mereka dalam harta benda, ilmu, kekuatan, dan lain-lain atas sebagian yang lain, sehingga mereka dapat saling
tolong-menolong dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Karena itu masing-masing saling
membutuhkan dalam mencari dan mengatur
kehidupannya. Dan rahmat Allah baik dari apa yang mereka kumpulkan walau seluruh kekayaan dan kekuasaan duniawi, sehingga mereka dapat meraih kebahagiaan duniawi dan ukhrawi (Quraish Shihab, 2000: 561).
2) Surat Ath-Thalaq ayat 6
هَُِٕسُ٘جُأ هُُِٕ٘رآَف ٌُْنَى َِْعَظْسَأ ُِْئَف
Artinya:kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka
هُِإ ۖ ُْٓشِجْؤَزْسا ِذَثَأ بَٝ بََُٕاَذْحِإ ْذَىبَق
َُِّٛ٘قْىا َدْشَجْؤَزْسا ٍَِِ َشَْٞخ
َُْأ َٰٚيَع َِِْٞربَٕ هَٜزَْْثا َٙذْحِإ َلَحِنُّْأ َُْأ ُذِٝسُأ ِِّّٜإ َهبَقٍَُِْٞ ْلأا
ُذِٝسُأ بٍََٗ ۖ َكِذِْْع ََِِْف اًشْشَع َذَََْْرَأ ُِْئَف ۖ ٍجَجِح َِّٜبَََث َِّٜشُجْؤَر
ُِْإ ُِّٜذِجَزَس ۚ َلَْٞيَع هقُشَأ َُْأ
َِِٞحِىبهصىا ٍَِِ ُ هاللَّ َءبَش
Artinya: salah seorang dari wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Berkatalah dia (Syu‟aib): “sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah satu dari anakku ini, atas dasar nbahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak akan memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.
4) Surat Ali-Imran ayat 57
َلَ ُ هاللََّٗ ۗ ٌَُْٕسُ٘جُأ ٌِِّْٖٞفََُ٘ٞف ِدبَحِىبهصىا اُ٘يََِعَٗ اٍَُْ٘آ َِِٝزهىا بهٍَأَٗ
ََِِِٞىبهظىا ُّتِحُٝ
Artinya: adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka, dan Allah tidak menyukai oramng-orang yang zalim.
Upah atau gaji harus dibayarkan sebagaimana yang
disyaratkan Allah dalam al-qur‟an surat Ali Imran
bahwa setiap orang yang bekerja harus dihargai dan di
berikan imbalan sesuai dengan pekerjaannya. Dan tidak
memberikan upah bagi para pekerja adalah suatu
kezaliman yang tidak disukai Allah.
b. Landasan Sunnah
Sedangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Memusuhi tiga golongan di hari kiamat yang salah satu
golongan tersebut adalah orang yang tidak membayar upah
pekerja.
Begitu juga dalam hadis yang diriwayatkan oleh
ibnu majah bahwa pemberian upah diberikan kepada
pekerja sebelum kering keringatnya.
Pemberian upah atas tukang bekam dibolehkan,
sehingga mengupah atas jasa pengobatan pun juga
diperbolehkan. Sebagaimana dalam hadis yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu „Abbas.
3. Rukun dan Syarat Upah
Rukun adalah unsur unsur yang membentuk sesuatu,
sehingga sesuatu itu terwujud karena adanya unsur-unsur tersebut
yang membentuknya. Misalnya gedung terbentuk karena adanya
unsur-unsur yang membentuknya, yaitu pondasi, tiang, lantai,
dinsing, atap dan seterusnya. Dalam konsep Islam, unsur-unsur
yang membentuk sesuatu itu disebut rukun (Anwar, 2007:95).
Ahli-ahli kitab madzhab Hanafi, mengungkapkan bahwa
rukun akad hanyalah ijab dan qabul saja, mereka menyatakan
bahwa tidak mungkin ada akad tanpa adanya para pihak yang
membuatnya dan tanpa adanya obyek akad. Perbedaan dengan madzhab Syafi‟i hanya terletak dalam cara pandang saja, tidak
Adapun menurut Jumhur Ulama, rukun Ijarah ada 4
(empat), yaitu:
a. Aqid (orang yang berakad)
Adalah orang yang melakukan akad sewa-menyewa atau
upah-mengupah. Orang yang memberikan upah dan yang
menyewakan disebut mu‟jir dan yang menerima upah untuk
melakukan sesuatu dan yang menyewa sesuatu disebut
musta‟jir (Suhendi, 2002: 117).
Karena begitu pentingnya kecakapan bertindak itu sebagai
persyaratan untuk melakukan sesuatu akad, maka golongan Syafi‟iyah dan Hambilah menambahkan bahwa mereka yang melakukan akad itu harus orang yang sudah dewasa dan tidak
cukup hanya sekedar mumayyiz saja (Anwar, 2007: 95).
b. Sigat
Pernyataan kehendak yang lazimnya disebut sigat akad (sigatul
„aqd), tediri atas ijab dan qabul. Dalam hukum Islam, ijab dan qabul dapat melalui:
1) Ucapan
2) Utusan dan tulisan
3) Isyarat
4) Secara diam-diam
5) Dengan diam-diam
Syarat-syaratnya sama dengan syarat ijab dan qabul pada jual
beli, hanya saja ijab dan abul dalam ijarah harus menyebutkan
masa atau waktu yang ditentukan.
c. Upah (ujrah)
Yaitu sesuatu yang diberikan kepada musta‟jir atas jasa
yang telah diberikan atau diambil manfaatnya oleh mu‟jir. Dengan syarat hendaknya :
1) Sudah jelas atau sudah diketahui jumlahnya. Karena itu
ijarah tidak sah dengan upah yang belum diketahui.
2) Pegawai khusus seperti seorang hakim tidak boleh
mengambil uang dari pekerjaannya, karena dia sudah
mendapatkan gaji khusus dari pemerintah. Jika dia
mengambil gaji dari pekerjaannya berarti dia mendapat
gaki 2 kali dengan hanya mengerjakan satu pekerjaan
saja.
3) Uang sewa harus diserahkan bersamaan dengan
penerimaan barang yang disewa. Jika lengkap manfaat
yang disewa, maka uang sewanya harus lengkap
(Rawwas, 2005: 178). Yaitu, manfaat dan pembayaran
(uang) sewa yang menjadi obyek sewa-menyewa.
4) Manfaat
karena itu, jenis pekerjaannya harus dijelaskan,
sehingga tidak kabur. Karena transaksi ujrah yang
masih kabur hukumnya adalah fasid ( Chairuman dan
dkk, 1994: 157).
4. Syarat Upah (ujrah)
Dalam hukum Islam mengatur sejumlah persyaratan yang
berkaitan dengan upah (ujrah) yaitu sebagai berikut:
a. Upah harus dilakukan dengan cara-cara musyawarah dan
konsultasi terbuka, sehingga dapat terwujudkan di dalam diri
setiap individu pelaku ekonomi, rasa kewajiban moral yang
tinggi dan dedikasi yang loyal terhadap kepentingan umum
(Salim, 1999: 99-100).
b. Upah harus berupa malm mutaqawwim dan upah tersebut harus
dinyatakan secara jelas (Mas‟adi, 2002: 186). Konkrit, dan dengan menyebutkan kriteria-kriterianya.
Karena upah merupakan pembayaran atas nilai manfaat, nilai
tersebut disyaratkan harus diketahui dengan jelas (Hasan, 1990:
231).
c. Upah harus berbeda dengan jenis obyeknya. Mengupah suatu
pekerjaan dengan pekerjaan yang serupa, termasuk dalam
mengupah yang tidak memenuhi persyaratan. Karena itu
hukumnya tidak sah, dan dapat mengantarkan pada praktik
sayuran dan upahnya berupa bahan masakan atau sayuran
tersebut.
d. Upah perjajian persewaan hendaknya tidak berupa manfaat dari
jenis sesuatu yang dijadikan perjanjian. Dan tidak sah pula
membantu seseorang dengan upah membantu orang lain.
Masalah terbesar yaitu tidak sah karena persamaan manfaat.
Maka masing-masing tidak sah tersebut berkewajiban
mengeluarkan upah atau ongkos sepantasnya setelah
menggunakan tenaga seseorang tersebut (Zuhaili, 2011: 391).
e. Berupa harta tetap yang diketahui (Syafei, 2001: 129)
Jika manfaat itu tidak jelas dan menyebabkan perselisihan,
maka akadnya tidak sah karena ketidakjelasan menghalangi
penyerahan dan penerimaan sehingga tidak tercapai akad yang
dimaksud. Kejelasan objek akad (manfaat) terwujud dengan
penjelasan, tempat manfaat, masa waktu, dan penjelasan, objek
kerja dalam penyewaan para pekerja.
1) Penjelasan tempat waktu
Disyaratkan bahwa manfaat itu dapat dirasakan, ada
harganya, dan dapat diketahui
2) Penjelasan waktu
Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan untuk
mensyaratkannya, sebab apabila tidak dibatasi hal itu dapat
menyebabkan ketidak tahuan waktu yang wajib dipenuhi.
Di dalam buku kaerangan Wahbah Zuhaili Safi‟iiyah sangat ketat dalam mensyaratkan waktu. Dan bila pekerjaan tersebut sudah tidak jelas, maka hukumnya tidak
sah (An-Nabhani, 1996:88)
3) Penjelasan jenis pekerjaan
Penjelasan tentang jenis pekerjaan sangat penting dan
diperlukan ketika menyewa orang untuk bekerja sehingga
tidak terjadi kesalahan atau salah paham.
4) Penjelasan waktu kerja
Tentang batasan wkatu kerja sangat bergantung pada
pekerjaan dan kesepakatan dalam akad.
Syarat-syarat pokok dalam Al-Qur‟an maupun as-Sunnah
mengenai hal pengupahan adalah para musta‟jir harus
memberi upajh kepada mu‟ajir sepenuhnya atas jasa yang
diberikan, kemudian mu‟ajir harus melakukan pekerjaan
dengan sebaik-baiknya, kegagalan dalam memenuhi
syarat-syarat ini dianggap sebagai kegagalan moral baik dari pihak
musta‟jir maupun mu‟ajir dan ini harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan (Haroen, 2000:236).
Pandangan orang tentang tingkat tinggi rendahnya upah
boleh dikatakan tidak berubah, yaitu asal mencukupi. Namun arti
mencukupi sangat relatif dan tergantung sudut pandang yang
digunakan. Sisi lain dari mencukupi adalah kewajaran. Berapa
sebenarnya tingkat upah yang wajar? Dalam sejarah pemikiran
ekonomi dikenal dengan berbagai madzhab yang masing-masing
mempunyai konsep sendiri-sendiri tentang upah wajar (Arfida,
2003: 149).
Upah didefinisikan sebagai balas jasa yang adil dan layak
diberikan kepada para pekerja atas jasa-jasanya dalam mencapai
tujuan organisasi. Upah merupakan imbalan finansial langsung
yang diberikan kepada karyawan berdasarkan jam kerja, jumlah
barang yang dihasilkan atau banyak pelayanan yang diberikan
(Rivai, 2009: 758).
Bekerja bukanlah masalah kuantitas tapi kualitas
penggunaan waktu dengan keberkahan margin keuntungan. Dari
sini, semakin efektif seseorang memanfaatkan waktunya untuk
kepentingan Allah, dirinya dan perusahaan akan semakin mahal
kompensasinya yang dapat diberikan atas pemanfaatan waktu tersebut (Dep. Pengembangan bisnis syari‟ah, 2011: 16).
Adakalanya perbedaan upah itu sangta mencolok sekali.
bisa mencapai suatu kehidupan yang sangat mewah. Akan tetapi
yang penting untuk dianalisa disini yaitu faktor-faktor yang
menyebabkan adanya perbedaan upah tersebut. Adapun
faktor-faktor yang menjadi sumber dari perbedaan upah yaitu (Sukirno,
1997: 310).
a. Perbedaan jenis pekerjaan
Kegiatan ekonomi meliputi berbagai jenis pekerjaan.
Diantara jenis pekerjaan tersebut, ada pekerjaan yang
ringan dan snagat mudah. Tetapi ada pula pekerjaan yang
harus dikerjakan dengan mengeluarkan tenaga yang besar.
b. Perbedaan kemmpuan, keahlian, dan pendidikan
kemampuan, keahlian, dan keterampilan para pekerja
didalam suatu jenis pekerjaan sangatlah berbeda. Ada
sebagian pekerja yang mempunyai kemampuan fisik dan
mental yang lebih baik dari segolongan pekerja lainnya.
Secara lahiriah, sebagian pekerja mempunyai kepandaian,
ketekunan, dan ketelitian yang lebih baik. Sifat tersebut
menyebabkan mereka mempunyai produktifitas yang lebih
tinggi (Sasono, 1994: 26).
c. Ketidaksempurnaan dalam mobiitas tenaga kerja
Dalam teori seringkali diumpamakan bahwa terdapat
mobilitas faktor-faktor produksi, termasuk juga mobilitas
perumpamaan ini berarti: kalau ada pasar tenaga kerja
terjadi perbedaan upah, maka para pekerja akan mengalir
kepasar tenaga kerja yang upahnya lebih tinggi
(Simanjuntak, 1998: 52).
Perbedaan tingkat upah juga bisa ditimbulkan
karena perbedaan keuntungan yang tidak berupa uang.
Perbedaan biaya latihan pun sering menyebabkan adanya
perbedaan tingkat upah. Perbedaan tingkat upah juga bisa
disebabkan oleh keterlambatan atau juga ketidaktahuan.
Tetapi dalam beberapa hal, hukum Islam mengakui adanya
perbadaan upah diantara tingkat kerjaan.
Hal ini karena adanya perbedaan kemampuan serta bakat
yang dapat mengakibatkan perbedaan penghasilan, dan
hasil material. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT
dalam Al-qur‟an surat An-Nisa‟ ayat 32:
“dan jangan kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para (wanita) pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa‟:32)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan tingkat
upah diakibatkan karena perbedaan bakat, kesanggupan dan
pekerja tanpa memperhatikan upah mereka. Sedangkan para pekerja
juga tidak boleh mengekploitir pengusaha melalui serikat buruh.
Mereka juga harus melaksanakan tugas pekerjaan mereka dengan tulus
dan jujur.
Selain itu, pengupahan dalam konteks Islam terdapat perbedaan
yang sangat mencolok dengan pengupahan orang-orang kapitalis.
Pengusaha-pengusaha kapitalis menerapkan upah kepada karyawannya
tanpa memperhatikan atas pertimbangan kebutuhan hidup
karyawannya. Sedangkan dalam Islam, upah menjadi sorotan yang
menjadi perhatian demi keberlangsungan kesejahteraan karyawannya.
6. Pembatalan dan berakhirnya Ijarah
Adapun jumhur ulama dalam hal ini mengatakan bahwa akad
al-ijarah itu bersifat mengikat kecuali ada cacat atau barang itu tidak
boleh dimanfaatkan. Akibat perbedaan itu dapat diamati dalam
kasus apabila sesorang meninggal dunia. Menurut ulama
Hanafiyah, apabila salah seorang meninggal dunia maka akad
al-ijarah batal, karena manfaat tidak boleh diwariskan. Namun,
jumhur ulama mengata (al-maal). Oleh karena itu kematian salah
satu pihak yang berakad tidak membatalkan akad al-ijarah.
Berakhirnya ijarah menurut pendapat Al-Kasani, akad ijarah
berakhir apabila ada hal-hal diantaranya:
a. Tenggangnya waktu yang disepakati dalam akad ijarah
atau kios itu dikembalikan kepada pemiliknya, dan apabila
yang disewa itu jasa seseorang maka orang tersebut berhak
menerima upahnya.
b. Wafatnya salah seorang yang berakad.
c. Apabila ada halangan dari salah satu pihak, seperti ruko atau
kios yang disewakan ternyata dalam pengawasan bank terkait
hutang, maka akad ijarahnya batal.
d. Obyek al-ijarah hilang atau musnah seperti ruko atau kiosnya
terbakar (Al-Kasani, 1970: 208).
e. Rusaknya barang yang diupahkan, seperti bahan baju yang
diupahkan untuk dijahit.
f. Telah terpenuhinya manfaat yang diakadkan sesuai dengan
masa yang telah ditentukan dan selesainya pekerjaan.
Akad ijarah berakhir dikutip dari Sohari dan Ru‟fah apabila
ada hal-hal berikut:
1) Terjadinya cacat pada barang sewaan.
2) Rusaknya barang yang disewakan, seperti ruko atau kios
menjadi runtuh dan sebagainya.
3) Rusaknya barang yang diupahkan (ma‟jur „alaih), seperti baju
yang diupahkan untuk dijahit.
4) Terpenuhinya manfaat yang diadakan, berakhirnya masa yang
5) Menurut Hanafiyah, boleh fasakh ijarah dari salah satu pihak
seperti yang menyewa toko untuk dagang kemudian
dagangannya ada yang mencuri, maka ia dibolehkan
mem-fasakh-kan sewaan itu (Sahrani, : 125).
Pendapat M. Ali Hasan, akad ijarah berakhir apabila:
a) Obyek hilang atau musnah seperti ruko kios terbakar.
b) Habis tenggang waktu yang disepakati.
Menurut Madzab Hanafi, yang diuraikan oleh Sohari bahwa
akad berakhir apabila salah seorang meninggal dunia.