BAB II LANDASAN TEORI
B. Macam – macam upah atau pengupahan
Macam-macam upah dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu:
1. Upah yang sepadan (ujrah al-misli)
Ujrah al-misli yaitu upah yang sepadan dengan kerjanya serta
sepadan dengan jenis pekerjaannya, sesuai dengan jumlah nilai
pemberi kerja dan yang menerima kerja (pekerja) pada saat
transaksi pembelian jasa, maka dengan itu untuk menentukan tarif
upah atas kedua belah pihak yang melakukan transaksi pembeli
jasa, tetapi belum menentukan upah yang disepakati maka mereka
harus menentukan upah yang wajar dengan pekerjaannya atau upah
yang dalam situasi normal biasa diberlakukan dan sepadan dengan
tingkat jenis pekerjaan tersebut. Tujuan ditentukan tarif upah yang
sepadan yaitu untuk menjaga kepentingan kedua belah pihak, baik
penjual jasa maupun pemberi jasa, dan menghindarkan adanya
unsur eksploitasi didalam transaksi-transaksi dengan demikian,
melalui tarif upah yang sepadan, setiap perselisihan yang terjadi
dalam transaksi jual beli jasa akan dapat terselesaikan secara adil
(Salim, 1999: 99-100).
2. Upah yang telah disebutkan ( ujrah al-musamma)
Upah yang disebut (ujrah al-musamma) syaratnya ketika
disebutkan harus disertai adanya kerelaan (diterima) kedua belah
pihak yang sedang melakukan transaksi terhadap upah tersebut.
Oleh karena itu pihak musta‟jir tidak boleh dipaksa untuk
membayar lebih besar dari apa yang telah disebutkan, sebagaimana
pihak ajir juga tidak boleh dipaksa untuk mendapatkan lebih kecil
dari apa yang telah disebutkan, melainkan upah tersebut merupakan upah yang wajib mengikuti ketentuan syara‟.
Apabila upah tersebut disebutkan pada saat transaksi, maka
upah itu merupakan upah yang disebutkan (ajrun musamma).
Namun apabila belum disebutkan, ataupun terjadi perselisihan
terhadap upah yang telah disebutkan, maka upahnya bisa
dibedakan upah yang sepadan(ajrun misli) (An-Nabhani,
1996:103).
Macam-macam upah yang diberikan kepada para pekerjanya
biasanya ditentukan oleh sistem atau kebijakan yang diterapkan
dalam perusahaan atau tempat usaha itu sendiri. Namun setelah
terjadinya perkembangan dalam bidang Muamalah pada saat ini,
maka jenisnya pun sangat banyak diantaranya:
1. Upah perbuatan taat
Menurut mazhab Hanafi, menyewa seseorang untuk shalat,
puasa, haji, membaca Al-Qur‟an, maupun adzan tidak
diperbolehkan, dan hukumnya haram dalam mengambil upah
atas jasa pekerjaan itu. Kartena perbuatan yang tergolong
taqarrub apabila berlangsung, pahalanya jatuh kepada si pelaku,
oleh karena itu tidak boleh mengambil upah dari orang lain
untuk pekerjaan itu (Sabiq, 2006: 21).
2. Upah mengajarkan Al-Qur‟an
Pada saat ini beberapa fuqaha menyatakan bahwa boleh
mengambil upah dari pengajaran Al-Qur‟an dan ilmu-ilmu
penunjang kehidupan mereka dan kehidupan orang-orang yang
berada dalam tanggungan para guru tersebut. Dan waktu mereka
juga tersita atau berkurang untuk kepentingan pengajaran
Al-Qur‟an dan ilmu-ilmu syari‟ah tersebut, maka dari itu
diperbolehkan untuk memberikan kepada mereka sesuatu
imbalan dari pengajaran ini (Sabiq, 2006: 22).
3. Upah sewa-menyewa tanah
Diperbolehkan menyewakan tanah dan disyaratkan
menjelaskan kegunaan tanah yang akan disewa, jenis apa yang
akan ditanam ditanah tersebut, kecuali jika orang yang akan
menyewakan mengizinkan untuk ditanami apa saja yang
dikehendaki. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka ijarah
dinyatakan fasid (tidak sah) (Sabiq, 2006: 30).
4. Upah sewa-menyewa kendaraan
Boleh menyewakan kendaraan, baik hewan atau kendaraan
lainnya, dengan syarat dijelaskan tempo waktunya, atau
tempatnya. Disyaratkan pula kegunaan penyewaan untuk
mengangkut barang atau untuk ditunggangi, apa yang diangkut
dan siapa yang menunggangi (Syafe‟i, 2004: 133).
5. Upah sewa-menyewa rumah
Menyewakan rumah adalah untuk tempat tinggal oleh
menyewakannya kembali, diperbolehkan syarat pihak penyewa
tidak merusak bangunan yang akan disewanya. Selain itu pihak
penyewa mempunyai kewajiban untuk memelihara rumah
tersebut, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di lingkungan
masyarakat (Suhwaradi, 1994: 56).
6. Upah pembekaman
Usaha bekam tidaklah haram, karena Nabi Saw. Pernah
berbekam dan beliau memberikan imbalan kepada tukang
bekam itu, sebagaimana dalam hadis. Jika sekiranya haram,
tentu beliau tidak akan memberikan upah kepadanya (Sabiq,
2006: 24).
ُِْث ُء َلََعْىا بََْثهذَح َهبَق َقبَحْسِإ ُِْث ُذهََحٍُ بََْثهذَح َذِٝزَٝ ُِْث ُذهََحٍُ بََْثهذَح
ٌٍُِْْْٖ ٍوُجَس َِْع ٌٍَْٖس َِْٜث ٍِِْ ٍشَْٝشُق ٍِِْ ٍوُجَس َِْع َةُ٘قْعَٝ ِِْث ََِِْحهشىا ِذْجَع
َْٗأ بٍَِْْٖ َعَطَقَف ُِّٜرُأ هطَعَف َخهنََِث بًٍ َلَُغ ُذٍَْسبَع َهبَق ُحَذِجبٍَ َُٔى ُهبَقُٝ
بًّجبَح َُْْٔع ُ هاللَّ َِٜظَس ٍشْنَث ُ٘ثَأ بََْْٞيَع ًَِذَق بهََيَف بٍَِْْٖ ُذْعَطَقَف َُُّٔرُأ ُذْعِعَع
ُِْئَف َُْْٔع ُ هاللَّ َٜ ِظَس ِةبهطَخْىا ِِْث َشََُع َٚىِإ بََِِٖث اُ٘قِيَطّْا َهبَقَف َِْٔٞىِإ بَْْعِفُس
َشََُع َٚىِإ بَِْث َُِٜٖزّْا بهََيَف َهبَق هصَزْقَْٞيَف ٍُِْْٔ هصَزْقُٝ َُْأ َغَيَث ُحِسبَجْىا َُبَم
ِٜى اُ٘عْدا ٍُِْْٔ هصَزْقُٝ َُْأ اَزَٕ َغَيَث ْذَق ٌَْعَّ َهبَقَف بََْْٞىِإ َشَظَّ َُْْٔع ُ هاللَّ َِٜظَس
َِْٔٞيَع ُ هاللَّ ٚهيَص ِ هاللَّ َهُ٘سَس ُذْعََِس ْذَق ِِّّٜإ بٍََأ َهبَق ًَبهجَحْىا َشَم َر بهََيَف بًٍبهجَح
ْذَقَٗ ِِٔٞف بََٖى ُ هاللَّ َكِسبَجُٝ َُْأ ُ٘جْسَأ بََّأَٗ بًٍ َلَُغ ِٜزَىبَخ ُذَْٞطْعَأ ْذَق ُهُ٘قَٝ ٌَهيَسَٗ
َِِع ِٜثَأ بََْثهذَح ُةُ٘قْعَٝ بََْثهذَح بًغِئبَص َْٗأ بًثبهصَق َْٗأ بًٍبهجَح َُٔيَعْجَر َُْأ بَُٖزََّْٖٞ
ٌٍَْٖس َِْٜث ٍِِْ ٍوُجَس َِْع ََِِْحهشىا ِذْجَع ُِْث ُء َلََعْىا َِْٜثهذَحَٗ َهبَق َقبَحْسِإ ِِْثا
ِٜف َُْْٔع ُ هاللَّ َِٜظَس ٍشْنَث ُ٘ثَأ بََْْٞيَع هجَح َهبَق ُٔهَّأ َِِّْٜٖهسىا َحَذِجبٍَ ِِْثا َِِع
َثِٝذَحْىا َشَمَزَف ِِٔزَف َلَِخ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin
Yazid Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ishaq dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al 'Ala` Bin
Abdurrahman Bin Ya'qub dari seorang lelaki Quraisy dari Bani Sahm dari seorang lelaki di antara mereka yang disebut Majidah dia berkata; aku bertengkar dengan seorang budak lelaki di Makkah, kemudian dia menggigit dan memutuskan telingaku -atau- aku menggigit dan memutuskan telinga, maka ketika Abu Bakar datang kepada kami untuk melaksanakan haji, kami mengajukan perkara itu kepadanya, maka dia menjawab; "Bawalah keduanya kepada Umar Bin Al Khaththab, jika orang yang melukai mencapai untuk dilaksanakan qishash, maka hendaklah dia mengqishashnya." Dia berkata; maka ketika kami sudah tiba dihadapan Umar Bin Al Khaththab, dia memandang kami dan berkata; "Ya, sudah sampai batas untuk dilakukan qishash, panggilkanlah untukku tukang bekam." Maka ketika dia menyebut tukang bekam dia berkata; "Adapun aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku telah memberikan seorang hamba sahaya kepada bibiku dari pihak ibu dengan harapan semoga Allah memberkahinya dengannya, dan aku telah melarangnya agar jangan sampai menjadikannya sebagai tukang bekam, tukang jagal hewan atau tukang emas." Telah menceritakan kepada kami Ya'qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq dia berkata; dan telah menceritakan kepada kami Al 'Ala` Bin
Majidah As Sahmi bahwa dia berkata; "Abu Bakar berangkat haji kepada kami pada masa kekhilafahannya, " kemudian dia menyebutkan hadits
.
7. Upah menyusui anak
Dalam Al-Qur‟an sudah disebutkan bahwa
diperbolehkannya memberikan upah bagi orang yang
menyusukan anak, sebagaimana yang tercantum dalam surat
Al-Baqarah ayat 233.
ٌُْزَْٞرآ بٍَ ٌُْزَْهيَس اَرِإ ٌُْنَْٞيَع َحبَُْج َلََف ٌُْمَد َلََْٗأ اُ٘عِظْشَزْسَر َُْأ ٌُْرْدَسَأ ُِْإَٗ
ِفُٗشْعََْىبِث
Artinya: dan jika kamu ingin anakmu disusukan ke oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut(surat Al-Baqarah
ayat 233) .
8. Perburuhan
Disamping sewa-menyewa barang, sebagaimana yang telah
diuraikan diatas, maka ada pula beberapa persewaan tenaga
yang lazim disebut perburuhan. Buruh adalah orang yang
menyewakan tenaganya kepada orang lain untuk dikaryakan berdasarkan kemampuannya dalam suatu pekerjaan (Ya‟qub, 1984: 325).
ًْيَيَع هّاللَ ىّيَص ي بّىىا ْهَع شَوَأ ْهَع َةَدبَخَق ْهَع َتَواََُع ُهبَأ بَىَثّذَح دبّمَح ههْب ىَي ْحَي بَىَثّذَح هءبَمّضىا ْمهٍْحَزَخَؤَف ْم ٍ يٌَْ لِ َنَهدبَحْشَي اُهقَيَطْوا سبّىىا ْه م َف َيَص
بََِٞف
شَفَو َتَث َلََث ّنَأ َمّيَصََْمهٍهضْعَب َهبَقَف تَصبَصهح هًْى م َنََْشَي بَم ىّخَح فبَجَخهم شَجَح ْم ٍْيَيَع َطَقَضَف ا سبَغ اُهيَخ َذَف ْمهن ىبَمْعَأ قَثََْؤ ب َّاللَ اُهعْدبَف هّاللَ ّلَ إ ْمهن وبَنَم ب همَيْعَي َلَََ هشَثَ ْلِا بَفَعََ هشَجَحْىا َعَقََ ْذَق ضْعَب ى ي ف بَمهٍَى هب يْحَأ هجْىهنَف ناَذ ىاََ ي ى َنبَم ْذَق هًّوَأ همَيْعَح َجْىهم ْن إ ّمهٍّيىا ْمهٍْى م وهجَس َهبَقَف َهبَق بَمهٍَخَى ص ّدهسَأ ْنَأ َتَي ٌاَشَم بَم ٍ صَهءهس ىَيَع هجْمهق هْيَذ قاَس بَمهٍهحْذَجََ اَر إَف بَمهٍي حآَف بَم ٍ ئبَو إ َل ىَر هجْيَعَف بَمّو إ ي وَأ همَيْعَح َجْىهم ْن إ ّمهٍّيىا بَظَقْيَخْصا ىَخَم بَظ قْيَخْضَي ى ّخَح بَم ٍ صَهءهس ي ف َجْىهم ْن إ ّمهٍّيىا هشَخ ْلْا َهبَقََ ش َج َحْىا هثهيهث َهاَزَف بّىَع ْج شَفَف َل باَزَع َتَفبَخَمََ َل خَم ْحَس َءبَجَس هًهحْشَبَزَف هنبَبْضَغ بَوَأََ هيَش ْجَأ هبهيْطَي ي وبَحَؤَف هًهيَمْعَي وَمَع ىَيَع ا شي جَأ هثْشَجْؤَخْصا ي وَأ همَيْعَح هيَش ْجَأ هبهيْطَي ي وبَحَؤَف هبَمْىا وهم هًْى م َنبَم ىّخَح هًهحْشّمَثََ هًهخْعَمَجَف َل ىَر هيَش ْجَأ َكَشَخَف َقَيَطْوبَف بَمّو إ ي وَأ همَيْعَح َجْىهم ْن إ ّمهٍّيىا َهََّ ْلِا هيَش ْجَأ ّلَ إ ً طْعهأ ْمَى هجْئ ش ُْ َىََ هًّيهم َل ىَر ًْيَى إ هجْعَفَذَف هث ىبّثىا َهبَقََ شَجَحْىا بَثهيهث َهاَزَف َهبَق بّىَع ْج شَفَف َل باَزَع َتَفبَخَمََ َل خَم ْحَس َءبَجَس َل ىَر هجْيَعَف بٍََضْفَو بٍََى ّشَقََ بٍَْيَيَع َسَذَق بّمَيَف لَْعهج بٍََى َوَعَجَف ةَأَشْما هًْخَبَجْعَأ هًّوَأ همَيْعَح َجْىهم ْن إ ّمهٍّيىا َل باَزَع َتَفبَخَمََ َل خَم ْحَس َءبَجَس َل ىَر هجْيَعَف بَمّو إ ي وَأ همَيْعَح َجْىهم ْن إ ّمهٍّيىا بٍََيْعهج بٍََى َمّيَصََ بَىَثّذ َح ش ْحَب ُهبَأ بَىَثّذَح ّاللَ ذْبَع َهبَق َنَُْشبَمَخَي َقي وبَعَم اُهجَشَخََ هشَجَحْىا َها َزَف بّىَع ْج شَفَف َتَواََُع ُهبَأ بَىَثّذَح زٍَْب بَىَثّذَح هيَُ ْحَو َشَمَزَف شَوَأ ْهَع ّاللَ ذْبَع َهبَق َةَدبَخَق ْهَع َتَواََُع ُهبَأ هًْعَفْشَي ْمَىََ ي بَأ َهبَق هيبَىْعَم َشَمَزَف اُهقَيَطْوا شَفَو َتَث َلََث ّنَأ ش َوَأ ْهَع َةَدبَخَق ْهَع
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad, Telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Qatadah dari Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu dari Nabi ShollAllahu'alahiwaSallam bersabda: "Zaman dahulu ada tiga orang yang pergi mencari keluarganya, maka turunlah hujan hingga mereka masuk ke sebuah gua, lalu batu besar terjatuh pada mulut gua dan menutupinya hingga mereka tidak bisa melihat celah keluar, maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: sungguh batu besar itu telah jatuh dan jejak kita hilang (oleh manusia) dan tiada yang mengetahui keberadaan kita kecuali hanya Allah, maka berdoalah kepada Allah dengan sebaik baik amal kalian", Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Maka laki laki pertama dari mereka berkata: Ya Allah, sungguh Engkau tahu bahwa
mereka. Saat saya mendapatkan keduanya sedang tidur, saya berdiri disamping kepala mereka karena saya tidak ingin menganggu tidur keduanya sampai mereka bangun. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa saya melakukan hal itu hanya karena mengharapkan rahmatMu dan takut akan azabMu, maka geserkanlah (batu itu), maka bergeserlah sepertiga bagian batu itu. Laki-laki kedua berkata: Ya Allah, Engkau mengetahui saya pernah menyewa seseorang untuk bekerja suatu pekerjaan padaku, dia datang meminta upahnya ketika aku sedang marah dan aku membentaknya, lalu dia pergi dan meninggalkan upahnya. Maka upahnya itu saya kumpulkan dan saya kembangkan sampai melimpah ruah hasilnya. Ketika dia datang hendak mengambil upah tersebut, aku serahkan semuanya beserta perkembangbiakan hasilnya. Sekiranya saya mau, cukup saya berikan upahnya aslinya saja. Engkau Maha Tahu, bahwa aku melakukan hal itu hanya karena mengharapkan rahmatMu dan takut akan azabMu, maka geserkanlah (batu itu). Maka bergeserlah sepertiga bagian lagi batu itu. Orang ketiga berkata: Engkau mengetahui saya pernah tertarik kepada seorang wanita, maka saya beri harga dan bayar dia, namun ketika aku telah membayar upah dan ia menyerahkan dirinya, serta merta aku membatalkannya tanpa meminta uang sepersenpun dari yang aku serahkan padanya. Engkau Maha Tahu, bahwa aku melakukan hal itu hanya karena mengharapkan rahmatMu dan takut akan azabMu, maka geserkanlah (batu itu), maka batu tersebut hilang dari mulut gua semuanya. Dan mereka keluar sambil berpelukan." Abdullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bahr telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Qatadah, Abdullah berkata dari Anas lalu menyebutkan sama. Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Qatadah dari Anas bahwa ada tiga orang yang pergi lalu menyebutkan secara makna, berkata bapakku dan dia tidak memarfu'kannya.
9. Upah borong
Upah borong yaitu penempatan upah yang didasarkan pada
hasil yang didapatnya dan tidak terikat pada waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Misal, tukang bordir yang
Dan biasanya dikerjakan secara bersama-sama atau
berkelompok.
10. Upah harian
Upah harian yaitu upah yang diberikankepada pekerja yang
bekerja atas lamanya atau berapa jam pekerja itu melakukan
pekerjaan atau tugasnya. Biasanya jam kerjanya dari pagi
sampai sore, misal tukang cuci dan bersih-bersih rumah yang
bekerja tanpa tidur dirumah majikan atau juragannya.
11. Upah bulanan atau gaji
Yaitu upah yang diberikan kepada para pekerja dibagian
kantor, administrasi yang biasa pekerjaannya membutuhkan
ketelitian dan keterampilan yang cukup baik, maka dari itu gaji
mereka biasanya lebih besar daripada gaji pekerja yang berada
di bidang produksi.
12. Upah Nominal
Upah nominal yaitu sejumlah uang yang dibayarkan secara
tunai kepada seorang pekerja yang berhak sebagai imbalan atas
jasanya dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam perjanjian
kerja.
13. Upah Minimum
Upah minimum yaitu upah yang terendah yang akan
bekerja di tempat usahanya. Upah minimum ini biasanya
ditentukan oleh pemerintah baik dari provinsi, kabupaten,
maupun kota. Dan upah ini kadang kadang berbeda setiap
tahunnya sesuai dengan tujuan ditetapkannya upah tersebut.
14. Upah Wajar
Upah wajar yaitu upah yang secara relatif di nilai cukup
wajar oleh penguasaha atau pemilik usaha dan pekerja sebagai
imbalan atas jasa-jasa pada pengusaha (Asikin, 2006: 89-91).
Faktor-faktor yang mempengaruhi upah wajar diantaranya:
a. Kondisi ekonomi negara secara umumnya.
b. Nilai upah rata-rata didaerah mana pengusaha ituberoperasi.
c. Posisi usaha dilihat dari struktur ekonomi.
d. Undang-undang yang mengatur tentang upah dan jam kerja.
e. Ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam usaha tersebut.
f. Standar hidup dari para pekerja itu sendiri.
Upah yang wajar inilah yang diharapkan oleh para pekerja,
bukan upah hidup, mengingat upah hidup umumnya sulit untuk
dilaksanakan pemberiannya karena pengusaha-pengusaha
umumnya belum berkembang baik, dan belum kuat untuk
permodalannya (Kartasapoetra, 1986: 102).