BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Implementasi Green Hospital Pada Rumah Sakit Panti Rapih
2. Penilaian Implementasi Elemen Green Hospital Rumah Sakit
Pembahasan implementasi elemen Green Hospital dilakukan dengan menyajikan hasil skoring elemen berdasarkan checklist seperti pada lampiran 2. Menurut Pedoman Rumah Sakit Ramah Lingkungan (Green
Hospital) di Indonesia tahun 2018, terdapat 4 tahapan strategis dalam
prinsip implementasi Green Hospital yaitu a) Kebijakan dan Perencanaan, b) Implementasi dan Operasi, c) Pengecekan dan Upaya Perbaikan serta d) Mengkaji kembali manajemen Green Hospital. Dalam checklist pedoman tersebut, terdapat juga daftar inovasi yang dilakukan dan penghargaan bidang kesehatan lingkungan yang diraih pihak rumah sakit. Masing-masing tahapan tersebut akan dibahas lebih lanjut pada bagian ini. a. Tahap Kebijakan dan Perencanaan
Tahap ini merupakan langkah awal dalam melakukan implementasi elemen Green Hospital menurut Pedoman Green Hospital di Indonesia. Pada tahap ini, pihak manajemen rumah sakit perlu menyusun kebijakan dan perencanaan tentang komitmen pengelolaan
rumah sakit ramah lingkungan. Berikut adalah tabel yang menampilkan hasil implementasi 10 elemen Green Hospital pada tahap pertama.
Tabel 5.1. Persentase Implementasi Masing-Masing Elemen
Green Hospital Pada Tahap Kebijakan dan Perencanaan
No Elemen Jumlah Item
Pernyataaan Jawaban Ada Total Jawaban Ada (%) Persentase
1 Kepemimpinan 5 2 40
2 Lokasi dan
Landscape 2 1 50
3 Bangunan Rumah Sakit 2 1 50
4 Pengelolaan Bahan Kimia dan B3 2 1 50
5 Pengelolaan Limbah 2 2 100 6 Efisiensi Energi 2 1 50 7 Efisiensi Air 2 1 50 8 Kebersihan Lingkungan dan Pengendalian Vektor 2 2 100 9 Pengelolaan Makanan 2 2 100 10 Kualitas Udara 2 2 100
Perhitungan persentase masing-masing elemen dengan menggunakan rumus:
x 100%
Contoh Perhitungan:
Persentase jawaban ada elemen kepemimpinan x 100% = 40% Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 elemen Green
Hospital (GH) terdapat 4 elemen yang memiliki kebijakan dan
perencanaan dalam bentuk program kerja yaitu 1) pengelolaan limbah, 2) kebersihan lingkungan dan vektor, 3) pengelolaan makanan dan 4) kualitas udara.
Pada elemen kepemimpinan, Rumah Sakit Panti Rapih baru memenuhi 40% persyaratan yaitu memiliki dokumen lingkungan rumah sakit dan Surat Keputusan (SK) serta unit kerja kesehatan lingkungan rumah sakit. Unit kerja kesehatan lingkungan Rumah Sakit Panti Rapih disebut Unit Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK).
Persyaratan elemen kepemimpinan yang belum dimiliki oleh Rumah Sakit Panti Rapih adalah kebijakan direktur, rencana strategi implementasi, SK dan tim Green Hospital. Pada tahap awal dalam melakukan implementasi Green Hospital, kebijakan direktur, rencana strategi implementasi dan SK penting dilakukan untuk menjaga komitmen bersama tim kerja Rumah Sakit Panti Rapih dalam melakukan implementasi Green Hospital. Ketiga poin yang menjadi landasan implementasi ini belum dimiliki oleh pihak rumah sakit karena saat penelitian ini dilakukan, pihak rumah sakit sedang melakukan pengembangan gedung rawat jalan terpadu yang merupakan salah satu master plan rumah sakit. Seperti yang disampaikan Kepala Seksi Unit LHK berikut ini:
“…kami konsentrasi untuk persiapan gedung rawat jalan terpadu, kalau item-itemnya (elemen Green Hospital) kami sudah menyiapkan beberapa baik tidak secara langsung… apa saja yang ada di situ kami coba untuk mempelajari..”
Selain program implementasi Green Hospital yang belum masuk dalam program rumah sakit, faktor internal rumah sakit seperti kesiapan biaya dan sumber daya manusia menjadi hal yang masih
dipertimbangkan pihak rumah sakit. Biaya awal yang dibutuhkan cukup besar dan sumber daya manusia perlu mengikuti pelatihan-pelatihan dalam implementasi Green Hospital. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Bidang Infrastuktur berikut ini:
“…memungkinkan untuk pengelolaan menuju ke Green Hospital, tapi kendala cost yang besar dan SDM ya harus pelatihan supaya bisa menerapkan…”
Pada tahun 2011 pihak manajemen Rumah Sakit Panti Rapih mengeluarkan kebijakan lingkungan sebagai langkah dalam mengikuti program PROPER pertama kali. Kebijakan lingkungan tersebut yang menjadi panduan saat ini untuk melakukan pengelolaan lingkungan rumah sakit menjadi lebih ramah lingkungan. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Seksi Unit LKH berikut ini:
“…pernah manajemen membuat kebijakan yang dikeluarkan sejak kita pertama mengikuti PROPER tahun 2011, kebijakan lingkungan yang dibuat oleh manajemen..”
Menurut Azmal, et al (2014), penerapan Green Hospital akan dicapai melalui komitmen yang kuat dari staf untuk mengambil langkah-langkah kepemimpinan dalam pencegahan dan perlindungan lingkungan pada masa yang akan datang.
Pembentukan tim Green Hospital juga menjadi penting dilakukan karena banyak elemen yang terlibat dalam melakukan implementasi
Green Hospital. Menurut Pedoman Rumah Sakit Ramah Lingkungan
(Green Hospital) di Indonesia, tim internal Green Hospital memiliki tanggung jawab terhadap program Green Hospital dan dapat memiliki
struktur organisasi serta mencantumkan garis koordinasi lintas program dan sektor serta uraian tugas dan kewenangan yang jelas. Anggota tim internal tersebut sebaiknya multidisiplin ilmu sesuai dengan unit kerja yang terlibat. Tim Green Hospital Rumah Sakit Panti Rapih dapat terdiri dari unit kerja LHK, Sarana Prasarana, K3, Pengelolaan Sistem Informasi (PSI), Keuangan, Pengelolaan Pelayanan Kesehatan dan Humas.
Terdapat 5 elemen yang memiliki perencanaan dalam bentuk program kerja, namun belum memiliki kebijakan dalam bentuk SK. Elemen- elemen tersebut adalah 1) lokasi dan landscape, 2) bangunan rumah sakit, 3) pengelolaan bahan kimia dan B3, 4) efisiensi energi dan 5) efisiensi air. Pihak Rumah Sakit Panti Rapih perlu menyusun kebijakan tertulis mengenai komitmen rumah sakit dalam menerapkan prinsip-prinsip Green Hospital sebagai pedoman dalam pencapaian implementasi Green Hospital.
Berdasarkan tabel 5.2 berikut ini mengenai persentase total implementasi elemen Green Hospital secara keseluruhan pada tahap kebijakan dan perencanaan, jumlah elemen yang sudah dilakukan pihak Rumah Sakit Panti Rapih sebesar 65% dari total elemen yang dipersyaratkan berdasarkan Pedoman Rumah Sakit Ramah Lingkungan (Green Hospital) di Indonesia.
Tabel 5.2. Persentase Total Implementasi Elemen Green Hospital Pada Tahap Kebijakan dan Perencanaan
No Elemen Jumlah Item
Pernyataaan Jawaban Total Ada
Persentase Jawaban Ada
(%)
1 Kepemimpinan 5 2 8,7
2 Lokasi dan Landscape 2 1 4,3
3 Bangunan Rumah Sakit 2 1 4,3
4 Pengelolaan Bahan Kimia dan B3 2 1 4,3
5 Pengelolaan Limbah 2 2 8,7
6 Efisiensi Energi 2 1 4,3
7 Efisiensi Air 2 1 4,3
8 Kebersihan Lingkungan dan
Pengendalian Vektor 2 2 8,7
9 Pengelolaan Makanan 2 2 8,7
10 Kualitas Udara 2 2 8,7
Total 23 15 65
Perhitungan persentase masing-masing elemen dengan menggunakan rumus:
x 100%
Contoh Perhitungan:
Persentase jawaban ada elemen kepemimpinan x 100% = 8,7% b. Tahap Implementasi dan Operasi
Setelah tahap pertama, pembahasan berikut terkait tahap strategis kedua dalam implementasi Green Hospital yaitu implementasi dan operasi yang akan dijelaskan secara lebih rinci hasil implementasi per elemen. Menurut Pedoman Rumah Sakit Ramah Lingkungan (Green
Hospital) di Indonesia, pada tahap ini seluruh kegiatan operasional
rumah sakit harus dilengkapi oleh SOP atau pedoman teknis dan disosialisasikan kepada semua pihak terkait. Selanjutnya, dilakukan penyusunan program pelatihan sebagai sarana untuk memberikan
pemahaman terhadap prinsip-prinsip implementasi Green Hospital sehingga ada kepedulian antara seluruh lapisan staf yang terlibat di rumah sakit.
Tabel 5.3 berikut ini menampilkan persentase implementasi 10 elemen Green Hospital pada tahap kedua. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 2 elemen yang memenuhi semua persyaratan implementasi Green Hospital yaitu 1) pengelolaan limbah baik padat maupun cair dan 2) kebersihan lingkungan dan pengendalian vektor. Tiga elemen dengan tiga persentase terkecil adalah 1) elemen efisiensi air, 2) bangunan rumah sakit dan 3) efisiensi energi.
Tabel 5.3. Persentase Implementasi Masing-Masing Elemen
Green Hospital Pada Tahap Implementasi dan Operasi
No Elemen Jumlah Item
Pernyataaan Total Jawaban Ada Jawaban Ada Persentase (%)
1 Kepemimpinan 3 2 67
2 Lokasi dan
Landscape 11 8 73
3 Bangunan Rumah Sakit 7 3 43
4 Pengelolaan Bahan Kimia dan B3 14 11 78
5 Pengelolaan Limbah Padat
Cair 10 5 10 5 100 100 6 Efisiensi Energi 13 6 46 7 Efisiensi Air 10 3 30 8 Kebersihan Lingkungan dan Pengendalian Vektor 3 3 100 9 Pengelolaan Makanan 5 4 80 10 Kualitas Udara 13 8 62
Perhitungan persentase masing-masing elemen dengan menggunakan rumus:
Contoh Perhitungan:
Persentase jawaban ada elemen kepemimpinan x 100% = 67% Tabel 5.4 berikut ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan pada tahap implementasi dan operasi, jumlah elemen Green Hospital yang sudah diimplementasikan pihak Rumah Sakit Panti Rapih sebesar 67% dari total elemen yang dipersyaratkan berdasarkan Pedoman Rumah Sakit Ramah Lingkungan (Green Hospital) di Indonesia.
Tabel 5.4. Persentase Total Elemen Green Hospital Pada Tahap Implementasi dan Operasi
No Elemen Jumlah Item
Pernyataaan Total Jawaban Ada Persentase Jawaban Ada (%) 1 Kepemimpinan 3 2 2,1
2 Lokasi dan Landscape 11 8 8,5
3 Bangunan Rumah Sakit 7 3 3,2
4 Pengelolaan Bahan Kimia dan B3 14 11 11,7 5 Pengelolaan Limbah Padat Cair 10 5 10 5 10,6 5,3 6 Efisiensi Energi 13 6 6,4 7 Efisiensi Air 10 3 3,2 8 Kebersihan Lingkungan dan Pengendalian Vektor 3 3 3,2 9 Pengelolaan Makanan 5 4 4,3 10 Kualitas Udara 13 8 8,5 Total 94 63 67
Perhitungan persentase masing-masing elemen dengan menggunakan rumus:
x 100%
Contoh Perhitungan:
Meskipun tiga poin penting yang menjadi landasan dalam implementasi Green Hospital belum dimiliki, namun 65% implementasi pada tahap kebijakan dan perencanaan serta 67% pada tahap implementasi dan operasi sudah dilakukan oleh pihak rumah sakit. Hal ini terjadi karena pihak Rumah Sakit Panti Rapih memiliki kebijakan lingkungan dalam mengikuti PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan) dan sudah terakreditasi Paripurna. Pada penilaian PROPER dan akreditasi terdapat beberapa bidang penilaian yang sama dengan Green Hospital seperti pengelolaan limbah, dampak lingkungan, air dan udara. Selain itu, program Lean Management juga sudah dilakukan oleh pihak rumah sakit sehingga sudah memiliki program dalam efisiensi sumber daya, pengelolaan limbah dan lingkungan . Hal ini disampaikan oleh Kepala Seksi Unit LHK berikut ini:
“…kan bidang kami supporting ya tidak menghasilkan langsung dalam bentuk uang seperti unit layanan yang lain, tapi kalau kami bisa melakukan efisisensi sangat bagus… jelas kalau rumah sakit arahnya ke efisiensi, mengurangi beban operasional.. Lean nya dijalankan karena kami sudah teraparkan lean juga..”
Berikut ini ulasan lebih lanjut terkait implementasi elemen-elemen Green Hospital di rumah Sakit Panti Rapih, yaitu:
1) Kepemimpinan
kepemimpinan sudah dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Panti Rapih. Pihak rumah sakit dalam hal ini unit kerja Lingkungan Hidup dan Kebersihan melakukan pelaporan kinerja tahunan unit kerja kesehatan lingkungan rumah sakit yang dilakukan setiap tiga bulan sekali dan satu tahun sekali. Pelaporan berikutnya yang rutin dilakukan setiap 6 bulan sekali adalah pelaporan implementasi Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi D.I Yogyakarta. Laporan kinerja tahunan unit Green
Hospital belum dilakukan karena belum dibentuk tim Green Hospital di Rumah Sakit Panti Rapih.
2) Lokasi dan Landscape
Implementasi elemen Lokasi dan Landscape memiliki 7 poin dengan 11 item persyaratan yaitu:
a) Lokasi Rumah Sakit Panti Rapih mudah dicapai dengan menggunakan transportasi umum yang ada di Yogyakarta misalnya bis Transjogja. Terdapat halte Transjogja di depan Rumah Sakit Panti Rapih memudahkan pengunjung untuk mengakses rumah sakit.
b) Area ruang terbuka hijau berupa taman di atas basement gedung baru Rumah Sakit Panti Rapih dan roof garden di Gedung Rawat Inap Carolus lantai 5. Terrace garden terdapat
di bagian gedung lama dan gedung baru rumah sakit, sedangkan wall garden belum tersedia di area rumah sakit.
Gambar 5.1. Terrace Garden Gedung Borromeus
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gambar 5.2. Taman Area Gedung Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Hal yang menarik dari pemanfaatan area taman di Rumah Sakit Panti Rapih adalah kegiatan Healing Garden. Kegiatan ini dilakukan per minggu setiap hari Sabtu di area taman dekat gedung-gedung rawat inap yang bertujuan untuk menghibur pasien baik rawat jalan maupun rawat inap, keluarga pasien dan pengunjung rumah sakit. Terdapat hiburan berupa live music yang lembut dan dialog kesehatan
dengan tenaga medis dari Rumah Sakit Panti Rapih. Seperti pesta kebun terdapat juga sajian makanan dan obrolan sesama pasien dan keluarga pasien sambil menikmati keindahan taman dan kesejukan udara ruang terbuka. Hal ini secara psikologis dapat membantu proses penguatan dan kesembuhan pasien serta penguatan bagi keluarga pasien. Taman-taman di lingkungan rumah sakit tidak hanya sekedar hiasan namun dapat diakses dan bermanfaat bagi seluruh penghuni Rumah Sakit Panti Rapih.
Gambar 5.3. Kegiatan Healing Garden
c) Fasilitas area parkir khusus sepeda belum tersedia di Rumah Sakit Panti Rapih karena area parkir yang cukup terbatas sehingga tempat parkir sepeda digabung dengan parkir sepeda motor baik di basement maupun area parkir gedung lama.
d) Fasilitas jalur pejalan kaki di dalam area rumah sakit menuju halte belum tersedia. Para pengunjung rumah sakit yang akan menuju halte melalui jalan yang sama dengan jalur pengunjung yang tidak menggunakan kendaraan umum.
e) Sumur resapan air hujan terdapat di beberapa titik sejumlah kurang lebih 30 sumur. Kolam resapan air hujan belum tersedia di Rumah Sakit Panti Rapih karena keberadaan sumur resapan sudah cukup dan ruang terbuka hijau masih luas sehingga resapan air masih baik.
f) Lubang resapan biopori terdapat pada beberapa area di rumah sakit yaitu taman dan beberapa titik di area ruang terbuka hijau lainnya yang berjumlah kurang lebih 180 titik. Lubang resapan ini dapat membantu mengurangi genangan air dengan meningkatkan daya resap air di dalam tanah sehingga mengurangi risiko terjadi banjir.
Gambar 5.4. Biopori di Area IPAL
Sumber : Dokumen Pribadi
g) Paving block terdapat pada area halaman dan area parkir luar gedung lama Rumah Sakit Panti Rapih. Paving block bermanfaat untuk menghindari genangan air karena daya serapnya tinggi sehingga mengurangi risiko banjir. Dalam proses pemasangan paving block tidak menggunakan alat yang mencemari lingkungan.
Gambar 5.5. Paving Block Area Parkir (Sumber : Googlemaps)
3) Bangunan Rumah Sakit
Dua dari tujuh persyaratan yang sudah dilakukan pihak Rumah Sakit Panti Rapih terkait implementasi elemen Bangunan Rumah Sakit adalah memiliki panduan tentang pengelolaan
kesehatan lingkungan dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada kegiatan renovasi dan pemeliharaan gedung. Pihak rumah sakit menggunakan aluminium pengganti kayu pada lemari, rak dan sekat.
Cat ramah lingkungan belum digunakan oleh pihak rumah sakit, saat ini kriteria cat yang digunakan adalah untuk cat bangunan bagian dalam dan bagian luar serta cat yang mematikan bakteri yaitu cat yang mengandung titanium dioksida khusus digunakan di area ruang bedah untuk meminimalkan infeksi bakteri selama proses operasi. Penggunaan lantai keramik bekas dan batu alami ringan belum dilakukan oleh pihak rumah sakit.
4) Pengelolaan Bahan Kimia dan Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)
Dalam implementasi elemen ini, terdapat 7 poin dengan 11 item persyaratan yang sudah dilakukan oleh pihak rumah sakit. Rumah Sakit Panti Rapih sangat memperhatikan pengelolaan bahan yang cukup berbahaya ini dengan memiliki daftar bahan kimia atau B3 yang digunakan berikut lembar data pengamannya dan memiliki panduan pengelolaan bahan kimia atau B3 untuk melindungi pasien, pekerja, kesehatan masyarakat dan lingkungan. Terdapat juga ruang khusus penyimpanan bahan pembersih dan B3 umum yang tertata rapi dan sesuai jenis bahannya. Ruang penyimpanan B3 terbagi menjadi 2 yaitu
1) limbah B3 medis yang memiliki 1 bilik yang luas dan 2) limbah B3 umum dengan 7 bilik yang masing-masing bilik
dikelompokkan berdasarkan jenis limbah B3 seperti lampu, oli,
cartridge, baterai, sisa bahan kimia dan obat.
Gambar 5.6. TPS Limbah B3 Medis
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gambar 5.7. TPS Limbah B3 Non Medis
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Penggunaan alat kesehatan non merkuri berupa digital sudah diterapkan pada alat tensimeter, thermometer, inkubator laboratorium, thermometer ruang, timbangan dan rontgen atau
computed radiography. Hal ini mengurangi risiko paparan
merkuri baik pada pasien, pekerja rumah sakit maupun lingkungan. Upaya penggunaan pipa tanpa timbal dan detergen ramah lingkungan sudah dilakukan oleh pihak rumah sakit.
Gambar 5.8. Alat Tensimeter Digital
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Tiga persyaratan yang belum diterapkan di Rumah Sakit
Panti Rapih adalah 1) upaya pengurangan batu baterai, 2) penggunaan AC dan 3) kulkas atau freezer bebas freon.
5) Pengelolaan Limbah
Pengelolaan limbah terdiri dari 2 jenis, yaitu limbah padat dan cair. Dalam pengelolaannya, baik limbah padat maupun cair seluruh persyaratan implementasi terkait Green Hospital telah diterapkan di Rumah Sakit Panti Rapih.
Persyaratan pengelolaan limbah padat meliputi :
b) Logbook B3 yaitu pencatatan harian jumlah limbah yang masuk dan keluar.
c) Neraca limbah B3 yaitu dokumentasi pencatatan jumlah limbah yang masuk dan keluar yang dilakukan setiap 3 bulan.
d) Manifest limbah B3 yaitu dokumentasi harian jumlah total limbah yang dipindahkan ke pengelola limbah pihak ketiga.
Gambar 5.9. Manifest Limbah B3
Sumber : Dokumentasi Pribadi
e) Tempat penampungan sementara (TPS) dan ijin penyimpanan limbah B3 rumah sakit dengan nomor ijin : 188/2671/KEP/VIII/2019 yang berlaku hingga Agustus 2024. Ijin ini akan diperpanjang setiap 5 tahun sekali.
f) Memiliki MoU dengan pengolah limbah dan atau transporter yang memiliki ijin dari KLHK dengan nomor MoU : B.025/PKS/RSPR/IV/2019 yang akan diperpanjang setiap satu tahun sekali.
g) Fasilitas komposit sampah organik atau daun
Limbah daun-daun ditimbun dan diolah menjadi pupuk organik sehingga pihak rumah sakit tidak menggunakan pupuk kimia dan berdampak terhadap manajemen pada efisiensi biaya pengadaan pupuk. Hal ini juga berdampak baik bagi lingkungan dengan penggunaan pupuk organik
tidak merusak unsur hara tanah. Hal ini yang dikemukakan oleh Kepala Seksi LHK :
“… salah satu upaya kami untuk mengurangi paparan kimiawi dengan panen pupuk organik di area biopori taman sehingga mengurangi risiko pengrusakan lingkungan…”
h) Fasilitas tempat sampah daur ulang
TPS limbah padat memiliki mesin pencacah botol yang digunakan untuk mendaur ulang limbah-limbah plabot, botol kaca dan botol plastik yang kemudian diserahkan kepada pihak ke tiga untuk dikelola lebih lanjut. Hal ini dapat mengurangi beban operasional rumah sakit dalam pengelolaan limbah padat.
Gambar 5.10. Mesin Pencacah Botol
Gambar 5.11. TPS Sampah Daur Ulang
Sumber : Dokumentasi Pribadi
i) Upaya penggunaan kertas bekas (paperless) yang dilakukan dengan cara menggunakan kertas bekas yang masih layak untuk amplop pengantar internal rumah sakit dan kebutuhan kertas internal rumah sakit yang tidak formal lainnya. Undangan untuk kepentingan internal saat ini diinformasikan juga sudah melalui telepon seluler kepada masing-masing kepala unit.
j) Memiliki panduan pengelolaan limbah padat rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku. Pihak rumah sakit memiliki Kebijakan Pedoman Pengelolaan Limbah Padat dan Cair dengan nomor: 420/A/RSPR/SK/B/VII/2019 yang diperbaharui setiap 3 tahun.
k) Memiliki panduan pengoperasian incinerator namun alat sudah tidak digunakan lagi.
Persyaratan limbah cair terdiri dari 5 poin, yaitu:
a) Memiliki fasilitas, panduan, dan ijin pengelolaan air limbah (IPAL).
Rumah Sakit Panti Rapih memiliki 2 IPAL yaitu IPAL A dan B dengan kapasitas olah 300m3/ hari. Volume air bersih yang digunakan rata-rata 370m3/hari. Nomor Ijin IPAL : 004/GK/2015/0293/03 yang akan diperbaharui jika ada perubahan titik pembuangan.
Gambar 5.12. Fasilitas IPAL
Sumber : Dokumentasi Pribadi
b) IPAL dilengkapi alat ukur debit outlet
Gambar 5.13. Alat Ukur Debit Air
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gambar 5.14. Bak Sampling Olahan Limbah Cair
Sumber : Dokumentasi Pribadi
d) IPAL dilengkapi tanda titik koordinat untuk menentukan titik pengambilan sampling limbah cair.
Gambar 5.15. Titik Koordinat IPAL
Sumber : Dokumentasi Pribadi
e) IPAL dilengkapi simbol atau petunjuk K3 6) Efisiensi Energi
Dalam upaya memenuhi persyaratan implementasi elemen ini, 6 dari 13 persyaratan yang sudah dilakukan pihak rumah sakit adalah sebagai berikut:
a) Melakukan pemantauan energi setiap 3 bulan sekali
b) Kampanye penghematan energi berupa stiker seperti pengingat untuk mematikan lampu saat tidak digunakan dan pengaturan suhu AC
c) Kampanye penghematan energi berupa sosialisasi yang masih terbatas pada ruang lingkup internal rumah sakit.
d) Kampanye penghematan energi berupa media pada tampilan layar komputer karyawan.
e) Pihak rumah sakit juga melakukan catatan pemantauan penggunaan energi listrik (Kwh) setiap hari dalam bentuk kartu.
f) Penghematan energi listrik sudah dilakukan sejak 2 tahun yang lalu yaitu menggantikan bola lampu neon dengan lampu LED dan secara bertahap sudah mencapai sekitar 50% dari total jumlah lampu. Penggunaan lampu hemat energi (LED) sudah dilakukan pada seluruh area gedung baru Rumah Sakit Panti Rapih termasuk lampu penerangan jalan. Penggantian lampu LED pada area gedung lama dilakukan secara bertahap dengan cara menggantikan lampu yang sudah mati atau rusak dengan lampu LED. Hal ini dilakukan untuk melakukan penghematan penyediaan lampu LED secara bersamaan dan mengurangi pemborosan dengan tidak membuang lampu yang sudah terpasang dan masih dalam kondisi baik. Keterangan
tersebut disampaikan oleh Kepala Seksi Teknik dan Sarana Prasarana:
“…penggantian lampu LED kami baru berproses sekitar 50% dan gedung baru kami sudah menggunakan lampu LED semua.”
Gambar 5.16. Penerangan Jalan Umum LED
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Pengelolaan energi yang paling besar adalah penggunaan listrik untuk AC sehingga upaya efisiensi yang dilakukan dengan mengganti freon yang ramah lingkungan. Kedua hal yang dilakukan tersebut memberikan dampak efisiensi energi sekitar 10% – 12%. Menurut Tabish (2016), penghematan energi yang dapat dicapai dalam implementasi Green Hospital sebesar 20% - 40%. Bharara, et al (2018) mengemukakan efisiensi energi pada salah satu rumah sakit pendidikan di North-West Delhi yang telah menggunakan lampu LED selama 4 tahun total energi yang digunakan tidak
meningkat meskipun rumah sakit telah berkembang dan beban pasien meningkat lebih dari 130% kapasitas rumah sakit. Hasil penelitian Andini dan Utomo (2014) menunjukkan bahwa penggunaan lampu LED menyebabkan biaya awal pembelian lampu lebih besar daripada lampu
essential, namun biaya operasional dan pemeliharaan lampu
LED lebih rendah serta lebih menguntungkan pada tahun investasi ke dua.
Kampanye penghematan energi yang belum dilakukan