BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan Penelitian
3. Peningkatan Hasil Belajar
Peningkatan hasil belajar siswa diukur berdasarkan data yang peneliti peroleh dari hasil tes yang dikerjakan siswa pada tiap akhir pembelajaran setiap siklus. Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas IV pada kondisi awal adalah 62,75 dengan siswa yang memenuhi KKM sebanyak 5 siswa, persentase 25,00%
dan siswa yang belum memenuhi KKM sebanyak 15 siswa, persentase 75,00%. Dengan kriteria ketuntasan minimal atau KKM pada mata pelajaran IPA adalah 75,00.
Pada akhir siklus I, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan menjadi 74,72. Rincian persentase dapat dilihat pada tabel 4.4, pada tabel diketahui bahwa pada akhir siklus I terdapat 11 siswa yang tuntas dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan persentase 61,11%. Sedangkan siswa yang tidak tuntas ada 7 siswa dengan persentase 38,89%. Pada siklus I, peneliti mempunyai target untuk rata-rata hasil belajar siswa sebesar 75,00, sehingga pada siklus I peneliti
belum dapat mencapai target. Maka peneliti ingin memperbaiki dengan melanjutkan untuk siklus II.
Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada akhir siklus II, dapat dilihat pada tabel 4.6, berdasarkan data pada tabel tersebut, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II meningkat menjadi 81,94.
Berdasarkan rincian dari tabel tersebut terdapat 12 siswa yang tuntas dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan persentase 66,67%. Sedangkan siswa yang tidak tuntas ada 6 siswa dengan persentase 33,33%. Peneliti mempunyai target untuk siklus II rata-rata hasil belajar siswa sebesar
“80,00”. Pada siklus I, peneliti mempunyai target untuk rata-rata hasil belajar siswa sebesar 75,00, sehingga pada siklus II peneliti sudah mencapai target.
Berdasarkan data yang diperoleh pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II, dapat dibandingkan peningkatan hasil belajar siswa pada tiap tahapnya. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 4.2 tentang grafik peningkatan hasil belajar siswa pada kondisi awal, akhir siklus I, dan akhir siklus II. Perbandingan data pada setiap siklus juga dapat dicermati pada tabel 4.8. Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa data kondisi awal dengan nilai rata-rata 62,75 dengan siswa yang memenuhi KKM sebanyak 5 siswa, persentase 25,00% dan siswa yang belum memenuhi KKM sebanyak 15 siswa dengan persentase 75,00%. Pada siklus I dapat diketahui bahwa data siklus I dengan nilai rata-rata 74,72 dengan siswa yang memenuhi KKM sebanyak 11 siswa, persentase 61,11% dan siswa yang belum memenuhi KKM sebanyak 7 siswa, persentase 38,89%.
Sedangkan pada siklus II dapat diketahui dengan nilai rata-rata 81,94 dengan siswa yang memenuhi KKM sebanyak 12 siswa, persentase 66,67%
dan siswa yang belum memenuhi KKM sebanyak 6 siswa, persentase 33,33%.
Hasil capaian hasil belajar dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.9. Nilai rata-rata kondisi awal sebesar 62,75. Pada siklus I, penelitian mentargetkan nilai rata-rata sebesar 75,00 dan hasil belajar siswa belum
mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata 74,72. Pada siklus II dengan target 80,00, hasil belajar siswa mengalami peningkatan menjadi 81,94.
Berdasarkan data pada tabel 4.8, peneliti menemukan adanya dua siswa yang tidak mengalami kenaikan nilai tetapi mengalami penurunan nilai hasil belajar. siswa tersebut adalah ANAP dan VRE. ANAP pada siklus I mendapat nilai 70,00 dengan kriteria “belum tercapai”. Kemudian pada siklus II menurun menjadi 65,00 dengan kriteria “belum tercapai”, sedangkan VRE pada siklus I mendapat nilai 60,00 dengan kriteria “belum tercapai”. Kemudian pada siklus II mendapat nilai 50,00 dengan kriteria
“belum tercapai”. Peneliti juga menemukan adanya satu siswa yang hanya mengalami peningkatan hasil belajar lebih sedikit dibandingkan teman yang lain. Siswa tersebut adalah DCE, pada siklus I mendapatkan nilai 60.00 dengan kriteria “belum tercapai”. Kemudian pada siklus II mendapatkan nilai 65,00 dengan kriteria “belum tercapai”. Hal ini disebabkan oleh kurangnya konsentrasi siswa dalam pembelajaran dan cenderung bermain sendiri.
Peneliti juga menemukan data pada tabel 4.8 yang menunjukkan adanya satu siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar dengan nilai yang cukup signifikan. Siswa tersebut adalah ARPG. ARPG mendapatkan nilai rata-rata pada siklu I yaitu 75,00 dengan kriteria “tercapai”, pada siklus II naik menjadi 100,00 dengan kreteria “tercapai”. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus I dan II dikarenakan oleh beberapa faktor, menurut Kosasih & Angkowo (2007: 50) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu, 1) faktor internal, berkaitan dengan faktor dari dalam diri siswa, selain faktor kemampuan, ada juga faktor lain yaitu motivasi, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, kondisi fisik dan psikis; 2) faktor eksternal salah satu faktor lingkungan yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar adalah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran adalah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses pembelajaran dalam mencapai tujuan instruksional; 3) faktor pendekatan belajar.
Berkaitan dengan upaya belajar yang dilakukan siswa yang meliputi strategi dan metode pembelajaran. Peneliti sangat setuju dengan pendapat di atas, bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar berkaitan dengan faktor dari dalam diri siswa, selain faktor kemampuan, ada juga faktor lain yaitu motivasi, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, kondisi fisik dan psikis. Seorang siswa yang mendapatkan perhatian dari orang tua dan keluarga serta mendapatkan strategi dan metode pembelajaran yang baik maka proses belajarnya pun akan maksimal.
83 BAB V PENUTUP
Pada bab V ini peneliti akan membahas mengenai kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dalam bab IV, penelitian ini disimpulkan sebagai berikut:
1.
Upaya peningkatan kerja sama dan hasil belajar siswa kelas IV SD Kanisius Gamping tahun pelajaran 2019/2020 pada materi pokok macam-macam gaya dalam subtema 1 dilaksanakan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dengan langkah-langkah yang meliputi: a) penyampaian tujuan dan motivasi; b) pembagian kelompok; c) presentasi atau penyampaian materi oleh guru; d) kegiatan belajar dalam tim/kelompok; e) kuis; f) penghargaan tim/kelompok.2.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dapat meningkatkan kerja sama siswa kelas IV SD Kanisius Gamping pada materi pokok macam-macam gaya dalam subtema 1. Peningkatan kerja sama siswa dapat dilihat dari nilai rata-rata pada data awal yaitu 47,67 dengan kriteria “rendah”, meningkat menjadi 64,70 dengan kriteria “cukup” pada siklus I, dan pada siklus II terjadi peningkatan lagi menjadi 75,65 dengan kriteria “tinggi”.3. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Kanisius Gamping pada materi pokok macam-macam gaya dalam subtema 1. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai rata-rata pada data awal yaitu 62,75 dengan persentase siswa yang mencapai KKM sejumlah 25,00%, meningkat menjadi 74,72 dengan persentase 61,11% pada siklus I, dan pada siklus II terjadi peningkatan lagi menjadi 81,94 dengan persentase 66,67%.
B. Keterbatasan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian, peneliti merasa bahwa masih ada keterbatasan dalam penelitian ini. Keterbatasan tersebut terdiri dari beberapa hal berikut ini.
1. Peneliti kurang tegas saat proses pembelajaran berlangsung, sehingga pada saat kegiatan belajar kelompok dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD siswa menjadi tidak kondusif.
2. Peneliti kurang memahami kemampuan siswa, sehingga ketika pembagian kelompok secara heterogen susah diterima siswa yang merasa pandai dan siswa yang tidak suka teman yang lain.
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, terdapat saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya. Saran tersebut diuraikan sebagai berikut.
1. Sebaiknya peneliti harus lebih tegas dan mempunyai manajemen kelas yang baik agar kelas dapat kondusif selama proses pembelajaran.
Sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lancar, baik, dan sesuai dengan yang diharapkan.
2. Sebaiknya peneliti harus tahu kemampuan masing-masing siswa, sehingga pada saat pembentukan kelompok tidak terjadi kecemburuan.
Daftar Pustaka
Abidin, Y. (2014). Desain system pembelajaran dalam konteks kurikulum 2013.
Bandung: Rafika Aditama.
Ahmad, S. (2011). Perkembangan anak usia dini pengantar dalam berbagai aspeknya. Jakarta: Kencana Perdana Media Group.
Ahmadi , I.K, dkk. (2011). Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu “Pengaruhnya Terhadap Konsep, Mekanisme, dan Proses Pembelajaran Sekolah Swasta dan Negeri”. Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya.
Amirono & Daryanto. (2016). Evaluasi dan penilaian pembelajaran kurikulum 2013. Yogyakarta: Gava Medi.
Arifin, Z. (2009). Evaluasi pembelajaran prinsip, teknik, prosedur. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Arifin, Z. (2012). Evaluasi pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Arifin, Z. (2016). Evaluasi pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Arikunto, S. (2009). Managemen penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, S. (2010). Penelitian tindakan 2010. Yogyakarta: Aditya Media.
Azwar, S. (2009). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Burhan, B. (2010). Metodologi peneltian kuantitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Davis, K, dkk. (2006). Perilaku dalam organisasi. Jakarta: Erlanga.
Dimiyati & Mudjiono. (2009). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Huda, M. (2013). Model-model pengajaran dan pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Huda, M. (2015). Model-model pengajaran dan pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Huda, M. (2011). Cooperative learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Isjoni. (2013). Pembelajaran kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jihad & Haris (2012). Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Karwono, Heni Mularsih. (2017). Belajar dan pembelajaran serta pemanfaatan sumber belajar. Depok: PT Rajagrafindo Persada.
Khalidah Nur P. (2016). Peningkatan Minat Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) Pada Kelas V SD N 1 Sedayu Bantul. Skripsi. Diakses tanggal 12 Juli 2019, dari https://core.ac.uk/download/pdf/78027284.pdf
Kosasih & Angkowo. (2007). Optimalisasi media pembelajaran. Jakarta: PT Grasindo.
Kusnadi. (2002). Masalah kerja sama, konflik, dan kinerja. Malang: Taroda.
Kusuma, W dan Dedi. (2010). Mengenal penelitian tindakan kelas. Jakarta: PT Indeks.
Kusumastuti. (2018). Peningkatan kerja sama da hasil belajar matematika pada siswa kelas IIIA SD Kanisius Murukan melalui model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournaments (TGT). Skripsi. Diakses tanggal 12 Juli 2019, dari http://repository.usd.ac.id/31399/2/141134068_full.pdf Lie, A. (2005). Cooperatif learning. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Majid, A. (2014). Penilaian autentik proses dan hasil belajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Marten. (2017). Peningkatan kerja sama dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SD Karitas tahun pelajaran 2016/2017 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement division (STAD).
Skripsi. Diakses tanggal 12 Juli 2019, dari http://repository.usd.ac.id/9640/2/121134030_full.pdf
Masidjo, I. (1995). Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta:
Kanisius.
Masidjo. (2010). Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta:
Kanisius
Purwanto, M.N. (2009). Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Purwanto. (2009). Evaluasi hasil belajar. Surakarta: Pustaka Indonesia.
Rusman. (2010). Model-model pembelajaran mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Rusman. (2014). Model-model pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rusman. (2013). Model-model pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sanjaya, W. (2013). Penelitian pendidikan jenis, metode dan prosedur. Jakarta:
Kencana.
Shoimin, A. (2014). 68 model pembelajaran inovatif dalam kurikulum 2013.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Slavin, R. E. (2005). Cooperative learning teori, riset dan praktik. Bandung: Nusa Media.
Slavin. R. E. (2010). Cooperative learning teori, riset dan praktik. Bandung: Nusa Media.
Slavin. R. E. (2016). Cooperative learning teori, riset dan praktik. Bandung: Nusa Media.
Soerjono, S. (2006). Sosiologi suatu pengantar. Jakarta: Raja Grapindo.
Sudaryono. (2016). Manajemen pemasaran teori dan implementasi. Yogyakarta:
Andi
Sugiyarti, dkk. (2018). Prosiding seminar dan diskusi nasional pendidikan dasar 2018: Pembelajaran abad 21 di SD. ISSN: 2528-5564: 440. Diakses tanggal
15 Maret 2020, dari
https://repository.stkipgetsempena.ac.id/bitstream/672/1/PROSIDING_SE MNAS_PGSD.pdf
Sudjiono, A. (2011). Evaluasi pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, Kualitatif, dan r&d. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2011). Metode penelitian kombinasi (mixed methods). Bandung:
Alfabeta.
Suprihatiningrum, Jamil. (2016). Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Susanto, A. (2013). Teori belajar pembelajaran di sekolah dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Suyono & Haryanto. (2011). Belajar dan pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Thobroni. (2015). Belajar dan pembelajaran: teori dan praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Trianto. (2010). Model pembelajaran terpadu. Jakarta: PT Bumi Angkasa.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 (Ayat 1)
West, M. (2002). Kerja sama yang efektif. Yogyakarta: Kanisius.
Widodo. (2013). Psikologi belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Widoyoko. (2013). Teknik penyusunan instrumen penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
90
LAMPIRAN
LAMPIRAN I
SURAT IZIN
PENELITIAN
1. Surat Permohonan Izin Penelitian
LAMPIRAN II
SURAT KETERANGAN TELAH
MELAKSANAKAN
PENELITIAN
1. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian
LAMPIRAN III VALIDITAS INSTRUMEN PENELITIAN OLEH DOSEN
DAN GURU
1. Validasi Lembar Kuesioner
1. Validasi Lembar Observasi
1. Rekapitulasi Hasil Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Validator I : Drs. Albertus Hartana SJ., M.Pd
NIDN :051210640
Pembelajaran 1 81,76
Pembelajaran 2 81,76
Pembelajaran 3 83,52
Pembelajaran 4 82,94
Rata-rata 83,23
Keterangan Sangat Layak
Validator II : Desti Listyaningsih, S.Pd.
NIP : -
Pembelajaran 1 87,64
Pembelajaran 2 87,58
Pembelajaran 3 85,88
Pembelajaran 4 86,47
Rata-rata 86,89
Keterangan Sangat Layak
Rekapitulasi Hasil Validasi
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
No Perangkat
Pembelajaran Ahli Hasil Penilaian Rata-rata Validator II 87,64
2 RPP Pb 2
Validator I 81,76
84,67
Sangat layak Validator II 87,58
3 RPP Pb 3
Validator I 83,52
84,70
Sangat layak Validator II 85,88
4 RPP Pb 4
Validator I 82,94
84,70
Sangat layak Validator II 86,47
LAMPIRAN IV RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
SIKLUS I DAN II
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan : SD Kanisius Gamping
Kelas/Semester : IV/2 (dua)
Tema : 7. Indahnya Keberagaman di Negeriku Subtema : 1. Keragaman Suku Bangsa dan Agama di
Negeriku Pembelajaran ke : 1
Mupel yang terkait : Bahasa Indonesia dan IPA Alokasi Waktu : 2 x 35 menit
Hari/Tanggal : Senin, 09 Maret 2020 I. Tujuan Pembelajaran
IPA
3.3.1.1 Melalui kegiatan mengamati video tentang macam-macam gaya, peserta didik mampu menjelaskan satu (1) pengertian gaya (Menganalisis Faktual) 3.3.2.1 Melalui penugasan dalam kelompok tentang macam-macam gaya, peserta didik
mampu mengidentifikasi dua (2) macam gaya dalam kehidupan sehari-hari (Mengingat Konseptual)
3.3.3.1 Melalui penugasan dalam kelompok tentang gaya, peserta didik mampu mengkategorikan dua (2) macam gaya (Menganalisis Konseptual)
4.3.1.1 Melalui menggambar dalam penugasan kelompok tentang gaya, peserta didik mampu mempresentasikan dua (2) manfaat gaya dalam kehidupan sehari-hari (Naturalisasi Keterampilan) tulisan dari teks nonfiksi dengan bahasa sendiri (Mencipta Keterampilan)
II. Kompetensi Inti
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai pelajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga, serta cinta tanah air.
3. Memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, serta benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.
4. Menunjukkan keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif. Dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan tindakan yang mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap perkembangannya.
III. Kompetensi Dasar dan Indikator
No Mupel Kompetensi Dasar Indikator 1 IPA
-
Kompetensi spiritual dicapai secara tidak langsung sebagai suatu dampak pengiring.
-
Kompetensi sosial (sikap sosial peduli dan menghargai) dicapai secara tidak langsung sebagai suatu dampak pengiring.
3.3 Mengidentifikasi macam-macam gaya, antara lain: gaya otot, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, dan gaya gesekan.
3.3.1 Menjelaskan pengertian gaya (Memahami C-2)
3.3.2 Mengidentifikasi gaya dalam kehidupan sehari-hari (Mengingat C-1)
3.3.3 Mengkategorikan macam-macam gaya (Mengevaluasi C-5)
4.3 Mendemonstrasikan manfaat gaya dalam
4.3.1 Mempresentasikan manfaat gaya dalam kehidupan sehari-hari (Naturalisasi P-5)
2 Bahasa
Indonesia - Kompetensi spiritual dicapai secara tidak langsung sebagai suatu dampak pengiring.
-
Kompetensi sosial (sikap sosial peduli dan menghargai) dicapai secara tidak langsung sebagai suatu dampak pengiring.
3.7 Menggali pengetahuan baru yang terdapat pada teks nonfiksi
3.7.1 Menyebutkan pengetahuan baru yang terdapat pada teks nonfiksi (Mengingat C-1) 4.7 Menyampaikan
pengetahuan baru dari teks nonfiksi ke dalam tulisan dengan bahasa sendiri.
4.7.1 Membuat tulisan dari teks nonfiksi dengan bahasa sendiri (Presisi P-3)
IV. Materi Pembelajaran
Bahasa Indonesia : Pengetahuan baru dari teks nonfiksi (Pengetahuan Faktual)
IPA : Macam-macam gaya (Pengetahuan Konseptual)
V. Pendekatan, Model, Metode, dan Teknik Pembelajaran 1. Pendekatan : Tematik integratif, Saintifik 2. Model : Cooperative Learning
3. Metode : Diskusi, penugasan, tanya jawab, ceramah 4. Teknik : STAD (Student Teams Achievement Division)
VI. Langkah-langkah Pembelajaran Penggalan 1 (2 x 35 mnit)
Tahap Pembelajaran
Sintaks
STAD Kegiatan Pembelajaran Waktu
Kegiatan Awal
1. Salam pembuka, doa, dan absensi 2. Literasi:
Peserta didik membaca bacaan tentang “Suku Bangsa di Indonesia”
3. Peserta didik menyampaikan isi atau pengetahuan baru dari bacaan yang menyanyikan lagu “Naik Delman”
5. Apersepsi:
Peserta didik mengamati gambar yang berhubungan dengan gaya dan mendapat pertanyaan dari guru untuk menggali pengetahuan peserta didik.
a. Apa yang kalian temukan dari video tersebut?
b. Ada berapakah macam gaya dari video tersebut?
6. Orientasi:
Peserta didik memperhatikan penjelasan dari guru mengenai tema, subtema, pembelajaran ke, tujuan pembelajaran dan skenario pembelajaran yang akan dilakukan.
Kegiatan Inti Tahap 2:
Pembagian kelompok
7. Peserta didik membentuk kelompok 4-5 anggota kelompok secara heterogen dibantu oleh guru.
8. Peserta didik diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan teman satu kelompoknya.
50 Menit
9. Peserta didik memberi nama kelompok sesuai dengan nama-nama bulan
11. Peserta didik menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru terkait dengan video yang telah diamati.
(Menalar – Berpikir Kritis) 12. Peserta didik mengamati gambar
mengenai materi gaya. (Mengamati – Berpikir Kreatif)
13. Peserta didik diberikan kesempatan bertanya mengenai materi gaya yang belum dipahami. (Menanya – yang dibagikan oleh guru.
15. Peserta didik mengerjakan LKPD 1 dalam kelompok. (Mencoba – Berpikir Kritis)
16. Peserta didik bersama dengan guru membahas hasil pekerjaan LKPD 1.
(Menalar – Berpikir Kritis) 17. Peserta didik memperoleh LKPD 2
yang dibagikan oleh guru.
18. Peserta didik mengerjakan LKPD 2 dalam kelompok. (Mencoba – Berpikir Kritis)
19. Peserta didik mempresentasikan hasil pekerjaan LKPD 2 di depan evaluasi secara indvidu pada lembar tes yang diberikan oleh guru.
(Menalar – Berpikir Kritis) Tahap 6:
Penghargaan Kelompok
22. Kelompok yang memperoleh skor tertinggi dari akumulasi nilai peningkatan hasil belajar individual yang dilihat dari nilai kuis ditambah dengan nilai LKPD 1 dan 2 akan mendapatkan reward dari guru.
Kegiatan Akhir
23. Kesimpulan: Peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari yaitu macam-macam gaya. (Menalar – Berpikir Kreatif)
24. Peserta didik diberi kesempatan untuk menanyakan materi yang belum dipahami. (Menanya – Komunikasi)
10 Menit
25. Refleksi : Peserta didik bersama guru melakukan refleksi terhadap aktivitas (bagaimana perasaan peserta didik, apa manfaat yang telah diperoleh setelah pelajaran hari ini, dan kesulitan yang dialami oleh peserta didik.
26. Tindak Lanjut : Peserta didik diminta untuk mempelajari kembali materi yang telah dipelajari hari ini.
a. Remedial: soal remedial akan disusun berdasarkan analisis kesulitan peserta didik.
b. Pengayaan: peserta didik mengerjakan soal pengayaan yang sudah disediakan oleh guru.
27. Salah satu peserta didik ditunjuk untuk memimpin doa penutup 28. Guru mengucapkan salam dan
mempersilahkan peserta didik untuk pulang.
VII. Media, Alat/Bahan, dan Sumber Belajar a. Media
1. Video mengenai “Macam-macam Gaya”
2. Gambar mengenai “Macam-macam Gaya”
3. Power Point
1. Buku paket pegangan guru dan siswa
a) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Buku Guru Edisi Revisi 2017: Indahnya Keragaman di Negeriku. Tema 7. Kelas IV.
Jakarta: Kemendikbud. Halaman 1-38.
b) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Buku Siswa Edisi Revisi 2017 Indahnya Keragaman di Negeriku. Tema 7. Kelas IV.
Jakarta: Kemendikbud. Halaman 1-48.
2. Model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) Rusman. 2012. Model-Model Pemelajaran. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
3. Internet
1) Lagu “Naik Delman”
https://www.youtube.com/watch?v=jXbSCdh8vA4 diakses pada tanggal 10 Januari 2020, pukul 21.30 WIB
2) Video mengenai “Macam-macam Gaya”
Media Pembelajaran Powtoon || "Macam-macam Gaya" Kelas 4 SD https://www.youtube.com/watch?v=rGbJsJlm0VM diakses pada
tanggal 10 Januari 2020, pukul 20.00 WIB 3) Gambar mengenai “Macam-macam Gaya”
Buah Apel jatuh dari pohonnya
https://www.flickr.com/photos/153680683@N07/44974809092 diakses pada tanggal 10 Januari 2020, pukul 20.30 WIB
Gaya Otot
https://sumayasadumedukasi.blogspot.com/2018/04/macam-macam-gaya-dan-pengaruh-gaya.html diakses pada tanggal 10 Januari 2020, pukul 20.45 WIB
Rem Sepeda
https://arsyadriyadi.blogspot.com/2016/11/manfaat-gaya-gesekan-dalam-kehidupan.html diakses pada tanggal 10 Januari 2020, pukul 21.00 WIB
Magnet
http://togetherlearnsuccess.blogspot.com/2017_01_28_archive.html diakses pada tanggal 10 Januari 2020, pukul 20.15 WIB
Gravitasi
https://3.bp.blogspot.com/Wonyyylh8GM/WIymfQSKGHI/AAAA AAAAAK0/e_JNSSO1KvQYN0RxRnFQew9q9IYIbPb1gCEw/s1
600/Untitled2.jpg diakses pada tanggal 10 Januari 2020, pukul 21.15 WIB
4) Materi “Macam-macam Gaya”
http://zocara.blogspot.com/2016/02/pengertian-gaya-merupakan-suatu.html#ixzz6EbnJrREv diakses pada tanggal 10 Januari 2020, pukul 19.30 WIB 1 IPA Sikap Spiritual Kompetensi spiritual
dicapai secara tidak langsung sebagai suatu dampak pengiring.
- -
Sikap Sosial Kompetensi sosial (sikap sosial peduli dan menghargai) dicapai secara tidak langsung sebagai suatu dampak pengiring.
- -
Pengetahuan 3.3.1 Menjelaskan pengertian Keterampilan 4.3.1 Mempresentas
ikan manfaat
Sikap Spiritual Kompetensi spiritual dicapai secara tidak langsung sebagai suatu dampak pengiring.
- -
Sikap Sosial Kompetensi sosial (sikap sosial peduli dan menghargai) dicapai secara tidak langsung sebagai suatu dampak pengiring.
- -
Pengetahuan 3.7.1 Menyebutkan pengetahuan Keterampilan 4.7.1 Membuat
tulisan dari
Daftar Lampiran
1. Literasi
2. Materi Pembelajaran 3. Media Pembelajaran
4. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
5. Instrumen Penilaian dan rubrik Penilaian KD-3 6. Instrumen Penilaian dan rubrik Penilaian KD-4 7. Remidial
8. Pengayaan 9. Lembar Refleksi
10. Model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division)
1. Literasi
LITERASI
Suku Bangsa di Indonesia
Sejak dahulu kala bangsa Indonesia hidup dalam keragaman. Kalimat Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara Garuda Pancasila bukan cuma slogan. Penduduk Indonesia terdiri atas beragam suku bangsa, agama, bahasa, adat, dan budaya tetapi semua dapat hidup rukun berdampingan. Berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, bangsa Indonesia terdiri atas 1.331 suku.
Berdasarkan sensus itu pula, suku bangsa terbesar adalah Suku Jawa yang meliputi 40,2 persen dari penduduk Indonesia. Suku Jawa ini merupakan gabungan dari suku-suku bangsa di Pulau Jawa, yaitu: Jawa, Osing, Tengger,
Berdasarkan sensus itu pula, suku bangsa terbesar adalah Suku Jawa yang meliputi 40,2 persen dari penduduk Indonesia. Suku Jawa ini merupakan gabungan dari suku-suku bangsa di Pulau Jawa, yaitu: Jawa, Osing, Tengger,