STATUS TANAH BEKAS MILIK WARGA ASING CINA
5. Masa Penjajahan Van Den Bosch
Kegagalan keuangan Belanda menyebabkan Gubernur Jenderal Van Der Cappellen digantikan oleh Gubernur Van Den Bosch. Menurut Gubernur Van Den Bosch, kegagalan petani disebabkan oleh lemahnya kualitas produk pertanian yang dihasilkan sehingga diperlukan pemantapan usaha tanam, dimana petani pada sebagian tanah diharuskan untuk ditanami tanaman tertentu dan dijual kepada pemerintah atau dikenal dengan sistem tanam paksa. Secara teoritis, pemerintah harus menyediakan uang untuk membayar pada penduduk desa atas hasil usaha taninya dan sebaliknya desa harus membayar uang sewa jika nilai hasil usaha berkurang. Menurut Van Den Bosch, sistem ini akan berfungsi jika suatu persekutuan dibentuk antara Pemerintah kolonial, Bupati dan Kepala Desa. Van Den Bosch berusaha mengembalikan kekuasaan Bupati yang sebelumnya hilang pada masa pemerintahan Raffles.
Secara kuantitatif, hasil usaha tani meningkat namun sistem kerja paksa telah mengakibatkan terjadinya distorsi pada pengerahan tenaga yang berlebihan dengan cara menambahkan jumlah pendu-duk yang selanjutnya menciptakan tambahan beban tanggungan hidup yang harus dipikul oleh para petani. Pada kenyataannya, rakyatlah yang menanggung beban tersebut, sementara golongan elit dapat menikmati “kemakmuran”. Di beberapa tempat seperti di Semarang, Cirebon dan Demak telah mengakibatkan bencana kelaparan. Bencana itu mengakibatkan 200.000 orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya pindah ke daerah lain.
Sistem tanam paksa juga menciptakan kekuasaan otoriter, kesengsaraan pada kalangan rakyat dan kebingungan pada pengusaha-pengusaha swasta karna dihapuskannya peran usaha swasta. Golongan partai liberal di Belanda mengkritik keras sistem tanam paksa dengan alasan melanggar prinsip kemanusiaan dan prinsip pasar bebas yang salah satu komponennya adalah pengusaha
Belanda secara umum. Partai liberal berhasil memenangkan mayori-tas parlemen.
Salah satu bentuk keberhasilan tersebut adalah membuka pulau Jawa untuk investor swasta dengan mengeluarkan Regerings Reglements 1854. Peraturan ini secara umum memungkinkan tanah untuk disewa oleh pihak swasta, walaupun dalam jangka waktu tidak lebih dari 20 tahun. Peraturan ini dikritik oleh kalangan pengusaha karena waktu sewa yang sedikit dan letak tanah sewa di pedalaman yang minim tenaga kerja. Kaum pengusaha menekankan perlunya tanah-tanah dimiliki oleh perorangan orang Indonesia asli sehingga statusnya jelas untuk disewa, sedangkan tanah lainnya menjadi milik negara.
Partai liberal berusaha menciptakan suatu undang-undang yang memungkinkan perseorangan memiliki hak atas tanah yang berasal dari tanah milik bersama. Dasar pemilikannya adalah pemilikan bersama menghambat sewa-menyewa bagi pengusaha golongan Eropa. Masalah timbul manakala milik bersama diakhiri dan meningkatnya milik individu yaitu pada kesulitan mendapat tanah dan tenaga kerja karena petani cenderung ingin mengolah tanahnya sendiri.
Konflik pendekatan antara golongan liberal dan konservatif di Belanda mengakibatkan raja mengeluarkan instruksi pada Gubernur Jenderal untuk melakukan suatu survei di Jawa. Pada tahun 1870 ( hasil survei tanah di Jawa belum disusun), Pemerintah Belanda mengeluarkan Agrarische Wet yang isinya menekankan pada 2 hal yaitu dimungkinkannya perusahaan-perusahaan perkebunan swasta dan diakuinya eksistensi tanah-tanah pribumi atas hak adat mereka.
Agrarische Wet 1870 kemudian dimasukkan dalam Pasal 51 Konstitusi Hindia Belanda (De Wet Op Staatsinrichting van Nedherlands Indie).61
61 Pasal 51 berbunyi 1) Gubernur Jenderal tidak boleh menjual tanah; 2) Larangan ini tidak berlaku terhadap bidang-bidang tanah sempit untuk perluasan kota atau desa, 3) Gubernur Jenderal boleh menyewakan tanah terkecuali terhadap tanah yang telah dibuka oleh penduduk asli yang digunakan untuk pengembalaan desa atau kepntingan-kepentingan desa lainnya; 4) Waktu sewa berlangsung sampai dengan 75 tahun; 5) dalam memberikan hak sewa, Gubernur Jenderal akan menghormati hak-hak tanah penduduk asli; 6) Tanah-tanah yang dalam kenyataannya dimiliki oleh penduduk asli dapat diberikan hak eigendom (hak milik) kepadanya; 7)
Berdasarkan Pasal 51 konstitusi Hindia Belanda untuk wilayah Jawa dan Madura, dibentuklah Agrarische Besluit 1870 Nomor 118. Pasal 1 aturan ini menyatakan bahwa dengan pengecualian atas tanah-tanah yang termasuk dalam klausal 5 dan 6 Pasal 51 dari Konstitusi Hindia Belanda, maka semua tanah yang hak miliknya tidak dapat dibuktikan akan dianggap menjadi milik negara. Dalam wacana timbul berbagai penafsiran soal manakah yang dianggap tanah hak milik penduduk asli.62
Teori Domein menciptakan hak-hak barat tertentu, seperti hak eigendom, hak opstal dan hak erfpacht, namun juga membiarkan hak-hak adat terus berlanjut sehingga di Jawa khususnya terdapat bermacam-macam hak yaitu hak milik adat, hak milik individu, hak milik yang didasarkan pada agrarische eigendom, hak milik yang diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada pribumi, hak milik kerajaan, hak untuk sewa, membangun, mengusahakan tanah-tanah milik orang lain serta hak-hak atas tanah pemerintahan yang dikuasai oleh orang-orang asing Asia (seperti Cina yang berlokasi di Jakarta, Kerawang dan Bekasi). Pada tahun 1874 pemerintahan mengeluarkan Staatsblad Nomor 97 yang menetapkan bahwa tanah-tanah dalam kekuasaan desa adalah tanah-tanah pengembalaan bersama, tanah untuk usaha pertanian penduduknya secara terus menerus, tanah untuk kepentingan umum. Selain tanah-tanah itu, manakala akan dipergunakan haruslah dengan ijin Pemerintah.
Secara faktual, Staatsblad ini menimbulkan berbagai pertentangan.63 Atas dasar timbulnya berbagai pertentangan tersebut, pemerintahan akhirnya mengakui hak-hak pribumi atas kepemilikan sebidang tanah yang berasal dari pengolahan atau pengambilan hasil hutan dengan cara diakui dan disetujui oleh para tetangga, Kepala
Persyaratan dan tata cara sewa tanah dari penduduk asli harus sesuai dengan undang-undang.
62 Menurut Van Vollenhoven, Logeman dan Ter Haar, berdasarkan prinsip pemilikan luar wilayah penduduk maka tanah-tanah pertanian dan pe-ngembalaan di luar wilayah desa adalah termasuk tanah hak milik, sedang-kan menurut Nalst Trenite, tanah tersebut dianggap tanah milik negara karena tidak nyata-nyata dikuasai oleh penduduk.
63 Di Sumatera Barat tidak ada pejabat negara yang berani mengumumkan adanya ordonansi mengenai pernyataan domein Staatsblad No.75 sampai 119a tertanggal 14 September 1875. Di Jambi Residen tidak berani mengu-mumkan karena akan menciptakan 2.400 sengketa tanah.
Desa dan Residen. Mulai saat itu terjadi penguatan konflik kepentingan antara masyarakat adat dengan pemerintahan mengenai tanah-tanah hak milik dan hak ulayat.64
Kebijakan Agrarisch Wet 1870 sampai dengan awal abad 19 tidak berubah secara mendasar. Pemerintahan hanya mengeluarkan aturan sewa tanah tahunan yang berlaku dalam jangka waktu tertentu. Selanjutnya mengenai tujuan utama gerakan kelompok liberalisasi sebagai berikut:
a. agar pemerintahan memberikan pengakuan terhadap tanah oleh pribumi sebagai hak milik mutlak (eigendom), yang memungkin-kan penjualan dan penyewaan karena tanah-tanah dibawah hak kolonial tidak diperkenankan untuk dijual atau disewakan keluar;
b. agar dengan asas domein, pemerintah memberikan kesempatan kepada pengusaha swasta untuk dapat menyewakan tanah jangka panjang dan murah yang nantinya diberikan hak erfpacht.
Pada tahun 1870 Parlemen menyetujui memberikan hak erfpacht selama 75 tahun yang dituangkan sebagai tambahan dalam pasal 62 RR, kemudian menjadi Pasal 51 Indische Staatsregeling. Ketentuan tersebut selanjutnya diatur dalam peraturan yang dikenal dengan Domein Verklaring; semua tanah yang tidak dapat dibuktikan hak pemilikannya (eigendom) adalah domein negara. Menyatakan domein negara atas tanah dimaksud adalah tidak lain untuk mempertegas adanya hubungan penguasaan penuh dari negara atas tanah. Selain hubungan antara negara (pada waktu itu) dengan tanah yang diletakkan dalam hubungan domein, terdapat pula hubungan antara tanah dengan perseorangan yang diberikan menurut hukum barat, serta hubungan antara tanah dengan golongan Bumiputera.65 Di
64 Menurut Geertz, pada masa liberal banyak perseroan yang besar dan bersifat serba usaha (konglomerat) mempunyai jaringan usaha yang kuat di Indonesia, salah satunya adalah Nedherlandsche Handels Maatschapity (NHM) pada tahun 1915 yang telah memiliki 16 pabrik gula dan secara efektif mengontrol 20 pabrik lainnya dimana terdapat pula 4 pabrik tem-bakau, 12 pabrik teh dan 14 perkebunan karet.
65 Hubungan antara tanah dengan perseorangan yang diberikan menurut hukum barat, secara jelas merupakan hubungan keperdataan yang diatur di dalam BW. Khusus untuk hubungan dalam eigendom, pemiliknya memiliki kekuasaan atau wewenang penuh yang pelaksanaannya hanya dapat diba-tasi oleh hukum dan undang-undang, dengan tujuan tidak merugikan kepentingan orang lain. Penetapan hak dalam eigendom dilakukan oleh
dalam ketentuan Pasal 1 Agrarische Besluit dinyatakan, bahwa negara memandang dirinya sebagai pemilik dari semua tanah-tanah yang tidak dapat dibuktikan pemilikannya, sedangkan jika tanah penduduk asli yang dikuasai hukum adat termasuk di dalam lingkup dari teori domein tersebut karena pemegang hak atas tanah menurut hukum adat tidak dapat membuktikan pemilikannya, maka hal itu berarti bahwa saat yang bersamaan berlaku dua jenis hukum di atas bidang tanah yang sama. Dalam keadaan demikian, penciptaan hubungan hukum antara tanah dengan Belanda atau Eropa lainnya atau Timur lain memperoleh perlakuan yang diistimewakan.