TANAH BEKAS MILIK WARGA ASING BELANDA
3. Tanah Eigendom Bekas Milik Pemerintah Belanda
Tanah eigendom bekas milik pemerintah Belanda adalah, tanah yang pernah ditempati dan digunakan untuk penyelenggara pemerintahan pada saat Belanda masih menjajah/berkuasa di Indonesia. Tanah-tanah ini sering disebut dengan tanah eigendom Goverment Indie yang dipergunakan untuk kantor-kantor, peruma-han, losmen-losmen dan lain lain. Di samping itu, juga terdapat tanah yang digunakan untuk tangsi Belanda/benteng pertahanan tentara Belanda, pabrik gula, hutan dan tanah rel ban kereta api, yang sekarang tanah rell ban ini dikuasai oleh PJKA atau disebut tanah negara milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), yang telah berubah menjadi tanah milik P.T. Kereta Api Indonesia (PT.KAI).
Tanah bekas eigendom Goverment Indie sebagaimana disebutkan di atas diatur dalam:
a. UUPA No. 5 Tahun 1960 tentang ketentuan-ketentuan konversi Pasal 1 ayat (2) menyatakan hak eigendom kepunyaan pemerintah negara asing, yang dipergunakan untuk keperluan rumah kediaman kepala perwakilan dan gedung kedutaan, sejak mulai berlakunya undang -undang ini menjadi hak pakai tersebut dalam Pasal 41 ayat (1) yang akan berlangsung selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tersebut diatas. Pasal 41 ayat (1) menyatakan bahwa, hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiaannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan ketentuan undang-undang ini. Pasal 2 Ayat (1) menyatakan, atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1 bumi, air dan ruamg angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu, pada tingkatan
72 Urip Santoso, Pendaftaran Tanah Dan Peralihan Hak Atas Tanah, Jakarta Kencana, 2010, hlm. 210.
tertinggi dikuasai oleh negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. 73
b. Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965 tentang Pelaksanaan Konversi Hak Penguasaan Atas Tanah Negara dan ketentuan-ketentuan tentang kebijaksanaan selanjutnya Pasal 1 menyatakan bahwa, Hak penguasaan atas tanah negara sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1958 yang diberikan kepada Departemen-Departemen, Direktorat-Direktorat dan daerah-daerah Swatantra sebelum berlakunya peraturan ini sepanjang tanah-tanah tersebut dipergunakan untuk kepentingan Instansi-Instansi itu sendiri dikonversi menjadi hak pakai, sebagai yang dimaksud dalam UUPA No. 5 Ttahun 1960 yang berlangsung selama tanah tersebut dipergunakan untuk keperluan itu, oleh Instansi yang bersangkutan.
c. Peraturan Menteri Agraria No. 1 Tahun 1966 tentang Pendaftaran Hak Pakai Dan Hak Pengelolaan, Pasal 1 huruf a menyatakan bahwa, Selain hak milik, hak guna usaha dan hak guna bangunan, harus pula didaftarkan menurut ketentuan ketentuan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961, Semua hak pakai, termasuk yang diperoleh Departemen departemen, direktorat direktorat dan daerah daerah swatantra sebagai dimaksud dalam Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965.
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 Tahun 1972 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Hak Atas Tanah, Pasal 1 ayat (3) menyatakan, yang dimaksud dengan tanah negara adalah tanah yang langsung dikuasai oleh negara, sebagaimana dimaksud dalam UUPA No. 5 Tahun 1960. 74
e. Keputusan Menteri Keuangan No. 653/KMK.011/1986 tanggal 7 Agustus 1986 tentang Pedoman Umum Tata Cara Penghapusan Barang Milik/Kekayaan Negara, Angka I.4.1. huruf a) menjelas-kan bahwa, Barang milik/kekayaan negara adalah, semua barang milik negara yang berasal/dibeli dengan dana yang bersumber untuk seluruhnya atau sebagian dari APBN atau dana diluar APBN yang dikuasai dibawah pengurusan Departemen
73 Pasal 2 ayat (1) UUPA No. 5 Tahun 1960.
74 Pasal 1 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 tahun 1972 Tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Hak Atas Tanah.
Departemen, lembaga lembaga negara, lembaga pemerintah non departemen serta unit unit didalan lingkungannya, baik di dalam maupun diluar negeri, tidak termasuk kekayaan negara yang dipisahkan.
f. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara, Pasal 2 ayat (1) huruf b menyatakan bahwa, Barang milik Negara/Daerah miliputi, Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah. Pasal 2 ayat (2) hurup b menyatakan, barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b perolehan lain yang sah meliputi, Barang yang diperoloeh berdasarkan Undang-Undang atau Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 75
Menyikapi hal tersebut diatas, hak pakai dapat diperoleh oleh negara, apabila negara melalui instansi Departemennya menguasai tanah secara terus menerus selama 20 tahun dan tidak ditemukan bekas pemegang hak atau tanah tersebut belum diterbitkan suatu hak oleh siapapun. Namun apabila terhadap tanah yang ditempati oleh instansi pemerintah masih dilekati hak milik pihak lain, maka instansi yang bersangkutan apabila bermaksud mempero-leh/memiliki sertifikat hak pakai harus memberikan ganti rugi terhadap bangunan atau tanaman yang masih melekat diatas tanah tersebut kepada pemiliknya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tanah tersebut akan digunakan untuk kepentingan umum peme-rintah, tetap memperhatikan hak-hak rakyat untuk mendapatkan ganti kerugian dalam rangka peningkatan dan kesejahteraan rakyat.
R. Soepomo menyampaikan di depan sidang Badan Penye-lidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 31 Mei 1945, menyatakan bahwa “begitupun tentang tanah, pada hakikatnya negara menguasai tanah seluruhnya, tambang-tambang yang penting untuk negara akan diurus oleh negara sendiri”. Melihat sifat masyarakat Indonesia sebagai masyarakat pertanian, maka dengan sendirinya tanah pertanian menjadi tempat mencari nafkah
75 Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan barang Milik Negara.
demi hidup da kehidupan petani, dan negara harus menjaga supaya tanah pertanian itu tetap dipegang oleh kaum tani‘.76
Untuk menjamin kesejahteraan kaum tani, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian atau yang juga lazim disebut dengan istilah landreform. Landreform adalah merupakan kebijakan pembagian tanah sesuai dengan kebutuhan dan keharusan yang perlu kita tempuh demi pemanfaatan yang sebesar besarnya dari tanah untuk kemakmuran bersama.
Selanjutnya mengenai kebijakan pemerintah tentang landreform pembagian tanah diatur sebagai berikut:
a. penggarap yang mengerjakan tanah yang bersangkutan.
b. buruh tani tetap pada bekas pemilik yang mengerjakan tanah yang bersangkutan.
c. pekerja tetap pada bekas pemilik tanah yang bersangkutan.
d. penggarap yang belum sampai tiga tahun mengerjakan tanah yang bersangkutan.
e. penggarap yang mengerjakan tanah hak milik
f. penggarap yang tanah garapannya kurang dari 0,50 Ha.
g. pemilik yang luas tanahnya kurang dari 0,50 Ha h. petani atau buruh tani lainnya.
Menurut Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertana-han Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan, Pasal 1 menentukan bahwa: “pemberian hak atas tanah adalah penetapan Pemerintah yang memberikan suatu hak atas tanah negara, perpanjangan jangka waktu hak, pembaharuan hak, perubahan hak, termasuk pemberian hak di atas hak Pengelolaan”. Penetapan pemberian hak sebagaimana dimaksud di atas dikeluarkan oleh Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional ditingkat Pusat, maupun ditingkat Daerah sesuai batas luas tanah yang menjadi kewena-ngannya, penetapan itu berbentuk Surat Keputusan Pemberian Hak,
76 Risalah Sidang BPUPKI, PPKI 29 Mei 1945 hlm. 19, dikutip oleh Muhammad Bakri, hlm. 2. Sejalan dengan pendapat Yagus Suyadi 2007, Perkembangan Hukum Agraria dan Politik Hukum Tanah Nasional, Asri Press, Sidoarjo, hlm. 97.
dan Penetapan yang dikeluarkan Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional bersifat:
a. penetapan yang menciptakan keadaan hukum baru pada obyek tertentu.
b. penetapan yang menciptakan keadaan hukum baru bersifat umum.
c. penetapan yang membentuk atau membubarkan suatu badan hukum.
d. penetapan yang membebani kewajiban tertentu kepada suatu badan hukum atau perorangan.
e. penetapan yang memberikan keuntungan kepada suatu instansi, badan, perusahaan atau perorangan77
Penetapan pemberian hak atas tanah oleh Pemerintah adalah perbuatan hukum administrasi negara yang sifatnya menciptakan keadaan hukum baru dan pembebanan kewajiban tertentu.
Wewenang Pemerintah dalam pemberian hak atas tanah dapat berupa pemberian hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, hak memungut hasil hutan dan hak-hak lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
Pengertian penguasaan atas tanah dapat diartikan, penguasaan secara fisik atas bidang tanah, dan penguasaan secara yuridis atas bidang tanah. Penguasaan dalam arti fisik adalah memanfaatkan, mengusahakan, mengelola dan menikmati bidang tanah untuk diambil manfaatnya, sedangkan penguasaan dalam arti yuridis adalah penguasaan yang dilandasi adanya bukti alas hak yang dapat dilindungi oleh hukum.
Harsono Boedi menyatakan bahwa, hak penguasaan atas tanah, berisi serangkaian wewenang, kewajiban dan atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki. Sesuatu yang boleh, wajib atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan itulah yang menjadi kriterium atau tolok ukur pembeda antara hak-hak penguasaan atas tanah yang
77 Moh. Abror, Hak Penguasaan Negara Atas Pertambangan Berdasarkan UUD 1945, Disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran, 1999 hlm, 113.
diatur dalam hukum tanah.78 Tanah- tanah barat atau tanah -tanah Eropa, merupakan tanah-tanah dengan suatu hak barat, misalnya tanah hak eigendom, tanah hak erfpacht, tanah hak opstal, Rechts van gebruik atau hak pakai dan lain-lain, merupakan tanah-tanah yang sudah terdaftar pada Kantor Pendaftaran Tanah menurut Ordonansi Balik Nama atau Overschjvings ordonnantie, tanah-tanah barat tersebut tunduk pada ketentuan-ketentuan hukum agraria barat Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau Burgelijk Wetboek disingkat B.W.
Tanah-tanah dengan hak-hak Indonesia, misaInya tanah-tanah ulayat, tanah bengkok, tanah yasan, tanah milik, tanah usaha, tanah gogolan, tanah agrarisch eigendom, tanah grant sultan dan lain-lainnya, pada umumnya merupakan tanah yang tidak terdaftar pada Kantor Pendaftaran Tanah dan tunduk pada ketentuan hukum adat. Pasal 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1960 tentang Pelaksanaan Ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria, menyatakan bahwa orang-orang warga negara Indonesia yang pada tanggal 24 September 1960 berkewarganegaraan tunggal dan mempunyai tanah dengan hak eigendom didalam waktu 6 bulan sejak tanggal tersebut wajib datang kepada Kepala Kantor Pendaftaran Tanah (KKPT) yang bersangkutan untuk memberikan ketegasan mengenai kewarganegaraannya itu.
Pasal 4 menentukan, hak-hak eigendom setelah jangka waktu 6 bulan tersebut pada pasal 2 lampau pemiliknya tidak datang pada KKPT atau pemiliknya tidak dapat membuktikan bahwa ia berkewarganegaraan tunggal oleh KKPT dicatat pada akta aslinya sebagai dikonversi menjadi hak guna bangunan dengan jangka waktu 20 tahun. Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 menentukan bahwa orang asing yang sesudah berlakunya Undang-Undang ini memperoleh hak milik karena pewarisan tanpa waktu atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warga negara Indonesia yang mempunyai hak milik dan setelah berlakunya Undang-Undang ini kehilangan kewarganegaraanya. Wajib melepaskan hak itu didalam jangka
78 Harsono Boedi, Undang-Undang Pokok Agraria Sejarah Penyusunan Isi dan Pelaksanaannya Hukum Agraria Indonesia, Djambaran, Jakarta, 1968 hlm. 5.
waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilang kewarganegaraan itu. Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu tidak dilepaskan maka hak milik itu hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada Negara. Dengan ketentuan bahwa hak hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung, juncto KUHPer (B.W) Pasal 1 menyatakan, menikmati hak perdata tidaklah tergantung pada hak kenegaraan.
Memperhatikan kutipan di atas, maka dapat dikatakan bahwa tanah bekas hak-hak barat milik warga asing Belanda di samping diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau Burgelijk Wetboek B.W, juga diatur dalam UUPA No. 5 Tahun 1960, sehingga BW Pasal 1 tersebut diatas sebagai dasar terbitnya Undang-Undang pokok Agraria yang mengatur tentang bekas milik hak hak barat.
Selanjutnya Moerdiono menegaskan, bahwa kini persoalan tanah tak lagi sekedar menyangkut masalah agraria, tapi tanah sudah menjadi masalah lintas sektoral yang memiliki dimensi ekonomi, sosial, politik, dan hankam.79
Tanah adalah sarana hidup dan penghidupan bagi rakyat Indonesia, sebagai tempat untuk hidup dan juga sebagai tempat untuk melangsungkan segala aktifitas kehidupan dalam pemenuhan kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan, tanah mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hubungan manusia dengan tanah merupakan hubungan yang bersifat abadi, secara magis religius tanah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dipergunakan dan dimanfaatkan secara optimal dalam keseim-bangan dan mempunyai fungsi sosia1.80 Dalam rangka melaksanakan hak atas tanah tersebut juga terkandung sebagian hak dari orang lain, termasuk hak eigendom milik bangunan hak hak barat bekas peninggalan warga Belanda yang masih melekat diatas tanah yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Hak eigendom bekas peninggalan Belanda ada dua macam yaitu, Recht Van Eigendom Verpondeing Eigenaar: Hed Governement Van
79 H. Muchsin Moerdiono Ihtisar Hukum Indonesia Setelah Perubahan Ke-empat UUD 1945 dan Pemilihan Presiden Secara Langsung, Badan Penerbit Ilham, Jakarta 2005, hlm. 139.
80 H. Muchsin, Ihtisar Hukum Indonesia Setelah Perubahan Keempat UUD 1945 dan Pemilihan Presiden Secara Langsung, Badan Penerbit Ilham, Jakarta 2005 hlm. 141.
Net Indie atas nama bekas Pemerintah Kolonial Belanda dan hak Eigendom Verp. atas nama bekas milik warga Belanda. Kedua bekas hak eigendom tersebut terdapat Meetbrief Nomor atau Surat Ukur Nomor. dalam Meetbrief tersebut dicantumkan gambar situasi tanah dan gambar bangunan bekas milik hak hak barat peninggalan pemerintah Belanda dan atau gambar tanah/bangunan bekas milik hak hak barat warga Belanda. Menurut Pasal 574 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ( KUH.Pdt), Seorang yang mempunyai hak milik atau eigendom atas suatu benda dapat berbuat apa saja dengan benda itu untuk menjual, menggadaikan, memberikan, bahkan untuk merusak, asal saja ia tidak melanggar Undang-Undang dan hak hak orang lain. Untuk itu setiap pemilik suatu benda baik bergerak maupun tidak bergerak berhak meminta kembali bendanya dari siapa saja yang menguasainya berdasarkan hak miliknya itu.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt) yang menjadi dasar tanah dan bangunan bekas peninggalan warga Belanda untuk diminta kembali hak prioritas tanah, tanaman dan bangunan oleh ahli waris yang berwarga negara Indonesia, karena bekas peninggalan hak hak barat masih tunduk pada KUHPdt, sedangkan ahli waris bangsa Belanda yang berwarga negara Indonesia tunduk pada UUPA No. 5 Tahun 1960.
Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria No. 2 tahun 1960 tentang pelaksanaan beberapa ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria, Angka 1 menjelaskan, sejak pendaftaran tanah diseleng-garakan menurut PP No. 10 tahun 1960, maka tidak diadakan perbedaan lagi antara hak-hak atas tanah yang berasal dari hak-hak barat dan hak-hak Indonesia. 81
81 Angka 1 Peraturan Menteri Agraria No. 2 Tahun 1960 tentang Pelaksana-An Beberapa Ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria.
BAB 10