Tidak dapat disangkal, bahwa suatu kejadian atau peristiwa selalu ada penyebabnya. Apabila ditelusuri penyebab-penyabab dari suatu kejadian, dengan cara menjadikan penyebab yang terdekat. Apabila diteliti hakekat dari penyebab- penyebab tersebut, akan ternyata bahwa penyebab-penyebab tersebut pada suatu saat dapat berupa suatu perbuatan tertentu, pada saat lain berupa suatu kehendak, suatu keadaan, suatu dorongan, dan sebagainya. Pencarian penyebab tidak terbatas kepada hanya suatu tindakan yang dapat dipidana saja, melainkan berlaku untuk semua kejadian/peristiwa. Setiap penyebab mengandung suatu akibat, ibarat hukum alam yang menentukan adanya reaksi terhadap setiap aksi.
Dilihat dari cara merumuskannya, maka tindak pidana dapat dibedakan antara tindak pidana yang dirumuskan secara formil disebit dengan tindak pidana formil (formeel delicten), dan tindak pidana yang dirumuskan secara materiil disebut dengan tindak pidana materiil (materieel delicten).
Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan dengan melarang melakukan tingkah laku tertentu, artinya dalam rumusan itu secara tegas disebutnya wujud perbedaan tertentu yang dilarang. Perbuatan tertentu inilah yang menjadi pokok larangan dalam tindak pidana formil. Dalam hubungan dengan penyelesaian tindak pidana formil kriterianya ialah pada perbuatan yang dilarang
tersebut. Apabila perbuatan terlarang selesai dilakukan, maka selesai pulalah tindak pidana, tanpa melihat atau tergantung pada akibat apa dari perbuatan itu.
Sedangkan tindak materil ialah tindak pidana yang dirumuskan dengan melarang menimbulkan akibat tertentu disebut akibat terlarang. Titik beratnya larangan pada menimbulkan akibat terlarang (unsur akibat konstitutif). Walupun dalam rumusan tindak pidana tersebut juga unsur tingkah laku (misalnya menghilangkan nyawa pada pembunuhan (Pasal 338 KUHP), namun untuk penyelesaian tindak pidana tidak bergantung pada selesainya mewujudkan tingkah laku, akan tetapi apakah dari wujud tingkah laku telah menimbulkan akibat terlarang ataukah tidak in casu pada pembunuhan hilangnya nyawa orang lain. Mewujudkan tingkah laku menghilangkan nyawa, misalnya dengan wujud konkritnya: menusuk (dengan pisau) tidaklah dengan demikian melahirkan tindak pidana pembunuhan, apabila dari perbuatan menusuk itu tidak melahirkan akibat matinya korban.
Dalam hal percobaan tindak pidana materiil juga digantungkan pada unsur akibat konstitutif, bukan pada tingkah laku. Tingkah laku telah diwujudkan misalnya, melepaskan tembakan, tetapi dari wujud tingkah laku itu tidak atau belum menimbulkan akibat terlarang yakni matinya korban, maka yang terjadi barulah percobaan pembunuhan. Terwujudnya tindak pidana materiil secara sempurna adalah apabila akibat terlarang telah terwujud dari tingkah laku.
Dalam hal terwujudnya tindak pidana materiil secara sempurna diperlukan tiga syarat esensial,23
1. Terwujudnya tingkah laku; yaitu:
2. Terwujudnya akibat (akibat kontitutif atau constitutief gevolg); dan
3. Ada hubungan kausal (causaal Verband) antara wujud tingkah laku dengan akibat kontitutif.
Tiga syarat inilah satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk terwujudnya tindak pidana materiil. Untuk menentukan (dalam praktek digunakan istilah untuk membuktikan) terwujudnya tingkah laku dengan terwujudnya akibat, tidaklah terdapat kesukaran. Akan tetapi untuk menentukan bahwa suatu akibat yang timbul itu apakah benar disebabkan oleh terwujudnya tingkahlaku adalah mendapatkan kesukaran, berhubung disebabkan oleh banyak faktor yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Contohnya, seorang bapak mengendarai sebuah sepeda motor hendak menyebrang – mengambil jalur lain dengan berbelok kekanan tanpa memperhatikan kenderaan dari arah belakang – dan ketika itu ada sebuah mobil yang melaju dari arah belakang. Menghadapi keadaan itu si pengendara mobil menginjak rem sekuat tenaga sehingga mengeluarkan suara gesekan ban di jalan yang keras, yang mengakibatkan bapak tersebut terkejut. Walupun mobil tidak sampai menabrak sepeda motor, namun tiba-tiba didepan mobil yang berhenti, bapak itu rubuh dan jatuh pingsan. Kemudian segera dilarikan kerumah sakit. Di rumah sakit ia tidak segera mendapatkan pertolongan, setengah jam kemudian meninggal dunia.
Penyidikan dilakukan terhadap pengendara mobil dengan sangkaan kurang hati-hati menyebabkan orang lain meninggal dunia (Pasal 359 KHUP). Hasil otopsi menyebutkan bahwa “kematian korban, disebabkan karena serangan jantung”. Terbukti secara medis, bapak tadi mengidap penyakit jantung, yang
sewaktu-waktu dapat kambuh dan menyebabkan kematiannya. Dengan berdasarkan hasil otopsi tersebut, penyidikan dihentikan.
Peristiwa diatas merupakan satu contoh yang sulit dalam praktek hukum untuk menentukan ada tidaknya causaal Verband antara wujud perbuatan (pada contoh diatas: mengemudikan mobil dengan tiba-tiba mengijak rem) dengan akibat yang timbul yakni kematian bapak tadi. Pada peristiwa diatas, terdapat beberapa faktor yangn berpengaruh sehingga ujungnya menimbulkan kematian. Rangkaian faktor itu ialah:
1. Korban berbelok kanan – menyebrang dengan tiba-tba; 2. Pengemudi mobil dengan sekuat tenaga mengijak rem
3. Adanya bunyi keras dari gesekan ban dengan aspal; menyebabkan 4. korban terkejut; menyebabkan
5. kambuhnya penyakit jantung korban;
6. tidak segera mendapatkan pertolongan medik.
Dalam peristiwa diatas ada enam faktor yang ikut mempengaruhi sehingga pada ujungnya ada kematian. Dalam hubungannya dengan penentuan pertanggungjawaban pidana, tidaklah mudah untuk menentukan faktor yang manakah yang menyebabkan kematian. Dalam menghadapi persoalan mencari dan menetapkan adanya hubungan kausal anatara wujud perbuatan dengan akibat semacam contoh diatas, ajaran kausalitas menjadi penting.
Ajaran kausalitas adalah ajaran yang berusaha untuk mencari jawaban dari masalah seperti peristiwa diatas. Ajaran kausalitas dapat membantu para praktisi hukum terutama hakim dalam mencari dan menentukan ada atau tidaknya hubungan kausal antara wujud perbuatan dengan akibat yang timbul. Ajaran
kausalitas juga penting dalam hal mencari dan menentukan adanya hubungan kausal antara wujud perbuatan dengan akibat dalam tindak pidana yang yang dikualifisir oleh unsur akibatnya. Tindak pidana yang dikulifisir oleh unsur akibatnya ialah suatu tindak pidana bentuk pokok (eenvoudige delicten) yang ditambah dengan satu unsur khusus yakni unsur akibat yang timbul dari perbuatan, baik unsur akibat yang menjadikan tindak pidana lebih berat maupun lebih ringan.24