• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pentingnya Keterbukaan dan Keadilan dalam Implementasi Polstranas 1 Keterbukaan

Dalam dokumen Buku Pegangan Mahasiswa PKn 2011 (Halaman 196-200)

IDEOLOGI NEGARA

POLITIK DAN STRATEGI NASIONAL

F. Pentingnya Keterbukaan dan Keadilan dalam Implementasi Polstranas 1 Keterbukaan

Penyelenggara negara mempunyai peran penting dalam mewujudkan cita-cita perjuangan bangsa. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa: ”yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hidupnya negara ialah semangat penyelenggara negara dan pemimpin pemerintahan”.

Dalam waktu lebih dari 30 tahun, penyelenggara negara tidak menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal, sehingga penyelenggaraan negara tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini terjadi karena adanya pemusatan kekuasaan, wewenang, dan tanggungjawab pada presiden. Di samping itu masyarakat juga belum sepenuhnya berperan serta dalam menjalankan fungsi kontrol sosial yang efektif terhadap penyelenggaraan negara.

Pemusatan kekuasaan, wewenang, dan tanggung jawab tersebut tidak hanya berdampak negatif di bidang politik, namun juga dibidang ekonomi dan moneter, antara lain terjadinya praktek penyelenggaraan negara yang lebih menguntungkan kelompok tertentu dan memberi peluang terhadap tumbuhnya korupsi, kolusi dan nepotisme.

Tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh penyelenggara negara, ataupun antar penyelenggara negara, melainkan juga oleh penyelenggara negara dengan pihak lain seperti keluarga, kroni, dan para pengusaha, sehingga merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta membahayakan eksistensi negara.

Untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme maka dikeluarkanlah:

(1) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat RI Nomor XI/MPR/1998 Tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggara Negara yang Bersih

dan Bebas dari KKN.

(3) Peraturan Pemerintah RI No. 65 Tahun 1999 Tentang Tata Cara Pemerikaan Kekayaan Penyelenggara Negara.

(4) Peraturan Pemerintah RI. No. 66 Tahun 1999 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengangkatan serta Penghentian Anggota Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara.

(5) Peraturan Pemerintah RI Nomor 68 Tahun 1999 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dalam Penyelenggaraan Negara.

(6) Keputusan Presiden RI No. 81 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara.

2. Keadilan

Keadilan adalah adanya persamaan dan saling menghargai karya orang lain. Seseorang dikatakan bertindak adil apabila orang itu memberikan sesuatu kepada orang lain sesuai dengan haknya, misalnya seseorang berhak memperoleh X, sedang ia menerima X, maka perbuatan itu adil. Ada tiga macam keadilan: yakni keadilan legalis, keadilan distributif, dan keadilan komutatif.

(1) Keadilan legalis

Adalah keadilan yang berupa ketaatan warga negara terhadap peraturan yang dibuat oleh negara. Dengan kata lain keadilan yang arahnya dari warga negara kepada negara. (2) Keadilan distributif

Adalah hubungan keadilan antara negara terhadap warganya, dalam arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan membagi kesejahteraan, subsidi, bantuan serta kesempatan dalam hidup bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban. Contoh konkrit keadilan legalis dan distributif, jika negara mengeluakan undang-undang lalu lintas dan angkutan jalan raya, maka semua warga masyarakat harus mentaati peraturan tersebut. Sebaliknya peraturan itu harus diberlakukan sama bagi semua warga negara.

(3) Keadilan komutatif

Adalah keadilan yang berlaku khusus antara pribadi yang satu dengan yang lain. Artinya setiap warga masyarakat wajib memperlakukan warga yang lain sebagai pribadi yang sama martabatnya. Ukuran pemberian haknya berdasar prestasi. Orang yang punya prestasi yang sama diberi hak yang sama. Jadi sesuatu yang dapat dicapai oleh seseorang harus dipandang sebagai miliknya dan kita berikan secara proporsional sebagaimana adanya.

3. Contoh Keadilan

Sejak MPR menetapkan amandemen Pasal 31 yang menetapkan kewajiban pemerintah membiayai pendidikan dasar yang wajib bagi tiap warga negara (Pasal 31 Ayat 2), dan kewajiban pemerintah dan DPR memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN dan APBD (Pasal 31 Ayat 4, UUD 1945). Pada tahun 2004 penyelenggara negara sepakat mengalokasikan anggaran pendidikan 3,49% dari APBN dan secara bertahap akan ditingkatkan sehingga pada tahun 2009 akan mencapai 20 persen dari APBN.

Kesepakatan DPR dan pemerintah itu pada hakikatnya mengabaikan dan sengaja tidak mematuhi UUD 1945. Suatu keadaan yang ironis bila dibandingkan dengan perhatian negara maju. Di Inggris Perdana Menteri Tonny Blair nyaris mendapat mosi tidak percaya karena pembiayaan pendidikan yang tinggi. Di Indonesia uang kuliah ditentukan oleh tiap universitas, sedangkan di Inggris melalui UU yang ditetapkan parlemen.

Ketidakpedulian pemerintah atas kenyataan masih belum bebasnya rakyat mengikuti pendidikan dasar yang telah ditetapkan sebagai wajib tanpa dipungut biaya, tidak ditindaknya kepala sekolah negeri (SD dan SMP) yang melakukan seleksi masuk SD dan SMP merupakan kenyataan elementer tidak pahamnya penyelenggara negara atas ketentuan Pasal 31 khususnya Ayat 2, UUD 1945. Negara-negara yang kini maju dalam pembangunan bangsanya seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Perancis, Korea Selatan, Taiwan dan Malaysia adalah negara yang memberikan perhatian amat besar pada sektor pendidikan.

Para pendiri negara seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim dan lain-lain sangat merasakan betapa melalui pendidikan bermutu mereka menjadi manusia cerdas yang mampu merintis dan mendirikan Indonesia merdeka.

4. Kewajiban Penyelenggara Negara dalam Rangka Keterbukaan dan Keadilan

Pasal 5 UU No.28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN, menyatakan setiap penyelenggara negara berkewajiban untuk:

a. Mengucapkan sumpah atau janji sesuai dengan agamanya sebelum memangku jabatannya.

b. Bersedia diperiksa kekayaannya sebelum, selama, dan setelah menjabat. c. Melaporkan dan mengumumkan kekayaannya sebelum dan sesudah menjabat. d. Tidak melakukan pebuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

e. Melaksanakan tugas tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan.

f. Melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab dan tidak melakukan perbuatan tercela, tanpa pamrih baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni maupun kelompok, dan tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

g. Bersedia menjadi saksi dalam perkara korupsi, kolusi, dan nepotisme serta dalam perkara lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Hak Penyelenggara Negara dalam Rangka Keterbukaan dan Keadilan

Adapun setiap penyelenggara negara berhak (Pasal 4, UU No. 28 tahun 1999): a. Menerima gaji, tunjangan, dan fasilitas lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

b. Menggunakan hak jawab terhadap setiap teguran, tindakan dari atasannya, ancaman hukuman, dan kritik masyarakat.

c. Menyampaikan pendapat di muka umum secara bertanggung jawab sesuai dengan kewenangannya.

d. Mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

6. Asas Penyelenggaraan Negara dalam Rangka Keterbukaan dan Keadilan

Asas-asas penyelenggaraan negara (Pasal 3, UU No. 26 tahun 1999):

a. Asas kepastian hukum (adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatuhan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelengara negara).

b. Asas tertib penyelenggaraan negara (adalah asas yang menjadi landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggra negara).

c. Asas kepentingan umum (adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif).

d. Asas keterbukaan (adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, dan rahasia negara)

e. Asas proporsionalitas (adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban penyelenggara negara).

f. Asas profesionalitas (adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku).

g. Asas akuntabilitas (adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku).

7. Peran Serta Masyarakat dalam Rangka Keterbukaan dan Keadilan

Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara untuk ikut mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih (Pasal 9, UU No.28 tahun 1999). Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam pasal ini, adalah peran aktif masyarakat untuk ikut serta mewujudkan penyelenggara negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang dilaksanakan dengan mentaati norma hukum, moral, dan sosial yang berlaku dalam masyarakat. Adapun peran serta masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:

Dalam dokumen Buku Pegangan Mahasiswa PKn 2011 (Halaman 196-200)