• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Pegangan Mahasiswa PKn 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Buku Pegangan Mahasiswa PKn 2011"

Copied!
294
0
0

Teks penuh

  • Mata Pelajaran: Pendidikan Kewarganegaraan
  • Topik: Pengertian Bangsa dan Negara
  • Tipe: Buku Pegangan Mahasiswa
  • Tahun: 2011

I. BAB I PENGANTAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Bab ini memberikan pengantar menyeluruh tentang Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), membahas sejarah perkembangannya di Indonesia, fungsi, tujuan, dan substansi materi. Ditekankan perlunya reformasi PKn menuju paradigma baru yang berorientasi pada masyarakat sipil dan partisipasi aktif warga negara dalam pemerintahan demokratis. Bab ini juga menghubungkan PKn dengan empat pilar pendidikan UNESCO (Learning to Know, Learning to Do, Learning to Be, dan Learning to Live Together), khususnya dalam konteks pengembangan kepribadian mahasiswa.

1.1. Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan

Bagian ini menelusuri sejarah PKn di Indonesia sejak tahun 1957, mencatat perubahan nama dan isi mata kuliah seiring pergantian rezim. Dikritik adanya kecenderungan PKn yang lebih politis daripada akademis. Perkembangannya dikaitkan dengan kebijakan pemerintah, seperti Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Ketetapan MPR, serta pengaruh ideologi seperti P-4 dan transisi ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Diulas pula pergeseran paradigma PKn menuju pendekatan yang lebih demokratis dan berorientasi pada masyarakat sipil, menekankan pentingnya partisipasi warga negara yang aktif.

1.2. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan

Bagian ini mendefinisikan fungsi PKn sebagai wahana pembentukan warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter, setia pada bangsa dan negara, merefleksikan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Tujuan PKn dijabarkan dalam empat kompetensi: berpikir kritis, rasional, dan kreatif; berpartisipasi bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; berkembang secara positif dan demokratis; serta berinteraksi dengan bangsa lain secara efektif. Tujuan-tujuan ini selaras dengan pembentukan warga negara yang aktif dan bertanggung jawab dalam demokrasi.

1.3. Substansi Materi Pendidikan Kewarganegaraan

Substansi materi PKn dikaji dari berbagai perspektif, termasuk pandangan Print (1999) dan Waterworth (1998) tentang hak dan tanggung jawab warga negara, pemerintahan, sejarah, konstitusi, identitas nasional, sistem hukum, HAM, demokrasi, partisipasi warga negara, wawasan internasional, dan nilai-nilai demokrasi. Pilar demokrasi Indonesia menurut Abdul Azis Wahab (2000) juga dibahas, meliputi konstitusionalisme, keimanan, kewarganegaraan cerdas, kedaulatan rakyat, dan lain-lain. Materi PKn juga dihubungkan dengan konsep KBK Diknas tahun 2003, meliputi aspek berbangsa dan bernegara, seperti persatuan bangsa, norma hukum, HAM, dan globalisasi. Terakhir, substansi kajian PKn menurut Dirjen Dikti diuraikan.

1.4. Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK)

Bagian ini membahas PKn sebagai MPK dalam konteks pendidikan tinggi Indonesia, menghubungkan PKn dengan filosofi pendidikan internasional yang humanis, realistis, egaliter, demokratis, dan religius. Dikaitkan dengan empat pilar pendidikan UNESCO, khususnya 'Learning to Live Together'. Ditegaskan peran strategis PKn dalam membentuk lulusan yang unggul intelektual dan moral, kompeten, dan berkomitmen pada peran sosial. Penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) juga dijelaskan dalam konteks pengembangan PKn.

1.5. Kompetensi yang Diharapkan dari Pendidikan Kewarganegaraan

Bagian ini mendefinisikan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan bertanggung jawab. Kompetensi yang diharapkan dari PKn adalah kemampuan warga negara untuk bertindak cerdas dan bertanggung jawab dalam berhubungan dengan negara dan memecahkan masalah masyarakat, bangsa, dan negara. Dihubungkan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 37 ayat (2) dan pasal 3. Ditegaskan pentingnya menumbuhkan sikap mental cerdas dan bertanggung jawab pada mahasiswa, tercermin dalam perilaku beriman, berbudi pekerti luhur, rasional, dan profesional, serta aktif memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan.

II. BAB II BANGSA, NEGARA DAN WARGANEGARA

Bab ini membahas konsep bangsa, negara, dan warga negara secara mendalam. Diteliti berbagai definisi bangsa dari berbagai perspektif, termasuk Renan, Anderson, Bauer, Soekarno, dan Hatta. Konsep negara dikaji melalui pandangan Kranenburg, Logemann, dan Van Apeldoorn, membahas unsur-unsur negara (wilayah, penduduk, pemerintahan, dan kedaulatan), serta fungsi dan sifat-sifat negara. Konsep warga negara dijelaskan, termasuk asas ius sanguinis dan ius soli, dan hubungan negara-warga negara dikaji dari perspektif hukum dan politik.

2.1. Pengertian Bangsa

Bagian ini mendefinisikan bangsa dari berbagai sudut pandang, mulai dari pengertian umum hingga pandangan para ahli seperti Ernest Renan (kesatuan solidaritas), Benedict Anderson (komunitas politik imajiner), Otto Bauer (persatuan perangai), Soekarno (persatuan orang dan tanah air), dan Mohammad Hatta (kesatuan berdasarkan keinsyafan). Dibahas perbedaan dan kesamaan pandangan tersebut, serta menekankan aspek rohaniah bangsa sebagai kesatuan jiwa, kehendak, dan semangat.

2.2. Pengertian Negara

Bagian ini membahas definisi negara dari berbagai perspektif, mencakup pandangan Kranenburg (bangsa sebagai unsur primer), Logemann (negara sebagai organisasi kekuasaan), dan Van Apeldoorn (empat arti istilah 'negara'). Dibahas unsur-unsur konstitutif negara (penduduk tetap, wilayah, pemerintah, dan kemampuan hubungan internasional) berdasarkan Konvensi Montevideo. Dibedakan juga antara negara kesatuan dan negara serikat. Ditegaskan pentingnya pemahaman konsep negara yang komprehensif dan aktual.

2.3. Fungsi Negara

Bagian ini menguraikan fungsi negara menurut Laski (memenuhi keinginan rakyat) dan Merriam (keamanan eksternal, ketertiban internal, keadilan, kesejahteraan umum, dan kebebasan warga negara). Dibahas pula sifat-sifat khusus negara, yaitu sifat memaksa dan sifat mencakup semua, yang menunjukkan kedaulatan negara dalam mengatur dan memaksa kepatuhan warga negara terhadap peraturan perundang-undangan.

2.4. Unsur-Unsur Negara

Bagian ini membahas empat unsur pokok negara: wilayah (termasuk perkembangan konsep wilayah laut), penduduk (menekankan pentingnya persatuan nasional di tengah keanekaragaman), pemerintahan (dengan pembagian kekuasaan dan berbagai sistem pemerintahan), dan kedaulatan (supremasi internal dan kemerdekaan eksternal). Dibahas tantangan dan kompleksitas setiap unsur dalam konteks globalisasi dan perkembangan teknologi.

2.5. Pengertian Warga Negara

Bagian ini menjelaskan perbedaan penduduk dan warga negara, serta membahas asas ius sanguinis dan ius soli dalam menentukan kewarganegaraan. Dikutip UU No. 62 Tahun 1958 tentang kewarganegaraan Indonesia. Dibandingkan hak dan kewajiban warga negara dengan orang asing, menekankan perbedaan hak politik.

2.6. Hubungan Negara dengan Warganegara

Bagian ini membahas hubungan negara-warga negara dari perspektif hukum dan politik. Diteliti konsep hubungan sederajat dan timbal balik, serta hubungan yang tidak sederajat dan timbang timpang. Dirujuk pandangan Kuncoro Purbopranoto tentang governants dan governies, menekankan pentingnya hubungan yang harmonis dan kooperatif. Dibahas juga bentuk-bentuk hubungan politik (kooperatif, kooptatif, dan paternalistik).

2.7. Wujud Hubungan Negara dan Warganegara

Bagian ini membahas wujud hubungan negara-warga negara melalui peran (role) warga negara. Dirujuk teori Soerjono Sukanto tentang peran ideal, peran yang diharapkan, peran yang dipersepsikan, dan peran aktual. Dibahas peran pasif, aktif, positif, dan negatif warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

2.8. Hak dan Kewajiban Negara

Bagian ini menguraikan hak negara (hak memaksa, hak monopoli, dan hak mencakup semua) dan kewajiban negara (membuat dan menetapkan peraturan, melaksanakan peraturan, dan melindungi hak warga negara).

2.9. Hak dan Kewajiban Warga Negara

Bagian ini menjelaskan hak asasi manusia (HAM) secara universal dan di Indonesia, berdasarkan UUD 1945 dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Diuraikan berbagai jenis HAM (hak pribadi, hak ekonomi, hak kesetaraan hukum, hak sipil dan politik, hak sosial dan budaya, dan hak prosedural). Kewajiban warga negara secara universal dan di Indonesia juga dijelaskan, termasuk kewajiban pembelaan negara dan kepatuhan pada hukum.

III. BAB III NASIONALISME

Bab ini membahas konsep nasionalisme, sejarah perkembangannya, dan relevansinya dengan pembentukan negara bangsa. Diteliti pengertian nasionalisme dari berbagai sudut pandang, termasuk perbedaan nasionalisme positif dan negatif. Ditelusuri sejarah nasionalisme di Eropa dan pengaruhnya terhadap gerakan nasionalisme di negara-negara lain.

3.1. Pengertian Nasionalisme

Bagian ini mendefinisikan nasionalisme dengan menghubungkannya pada konsep bangsa. Dikutip pandangan Renan dan Kohn tentang nasionalisme, menekankan pentingnya pemahaman tentang perbedaan nasionalisme positif (mempertahankan kemerdekaan dan harga diri bangsa) dan negatif (sikap yang sempit dan sombong). Nasionalisme dijelaskan sebagai ideologi, visi, dan persepsi yang membentuk 'imagined community'.

3.2. Sejarah Nasionalisme

Bagian ini menelusuri sejarah nasionalisme, dimulai dari munculnya pada akhir abad ke-18 di Eropa. Dibahas perkembangan nasionalisme di Eropa dan pengaruhnya pada gerakan nasionalisme di negara-negara lain di abad ke-20. Ditegaskan peran nasionalisme dalam pembentukan negara-bangsa dan tantangannya dalam konteks pasca-kemerdekaan.

Referensi Dokumen

  • Perkembangan Ideologi-Ideologi Dunia dan Ketahanan Nasional ( Abdulkadir Besar )
  • Membangun Demokrasi ( Abdurrahman Wahid )
  • Indonesia Baru dan Tantangan TNI ( Agus Wirahadikusumah dkk. )
  • Hubungan Sipil Militer di Indonesia Pasca Orde Baru ( Arif Yulianto )
  • Profil Budaya Politik Indonesia ( Alfian dan Nazarudin Syamsudin )

Referensi

Dokumen terkait

Modal sosial merupakan faktor komplemen dari sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan manusia dalam pembangunan ekonomi wilayah. Sebagai faktor yang melekat

Tenaga kerja merupakan salahsatu faktor yang penting dalam faktor produksi untuk menhasilkab barang dan jasa disamping faktor produksi modal, teknologi dan sumber

Penambahan jumlah tenaga kerja dan modal dengan faktor-faktor produksi lain, misalnya tingkat produktivitas dari masing-masing faktor produksi tersebut atau secara

Padat modal adalah suatu kegiatan produksi dimana jumlah faktor produksi modal lebih besar dibanding faktor produksi tenaga kerja2. SISTEM UPAH YANG BERLAKU

Usahatani adalah pengorganisasian faktor produksi meliputi alam, tenaga kerja, dan modal yang dikelola petani untuk memperoleh produksi. kemampuan petani untuk

KEGIATAN UNGGULAN LIPI: KETAHANAN SOSIAL Modal Ekonomi Modal Ekonomi Modal Budaya Modal Budaya Modal Finansial Modal Finansial Modal Sosial Modal Sosial Modal Sumber Daya Alam

Faktor-faktor Produksi Perbedaan utama sistem ekonomi terletak pada cara sistem itu mengelola faktor- faktor produksi – sumber daya dasar yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan di

Faktor lingkungan mencakup elemen alam, sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi yang mempengaruhi interaksi manusia dengan alam dan pemanfaatan sumber