• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Pengakuan HAM

Dalam dokumen Buku Pegangan Mahasiswa PKn 2011 (Halaman 65-68)

HAK ASASI MANUSIA

B. Sejarah Pengakuan HAM

Dalam sejarah umat manusia telah tercatat banyak kejadian tentang seseorang atau segolongan manusia mengadakan perlawanan terhadap penguasa atau golongan lain untuk memperjuangkan apa yang dianggap menjadi haknya. Sering perjuangan itu menuntut pengobanan jiwa dan raga.Di dunia barat telah berulangkali ada usaha untuk merumuskan serta memperjuangkan beberapa hak yang dianggap suci dan harus dijamin. Keinginan itu muncul setiap kali terjadi hal-hal yang dianggap menyinggung perasaan dan merendahkan martabat manusia. Dalam proses ini telah lahir beberapa naskah yang secara berangsur-angsur menetapkan bahwa ada beberapa hak yang mendasari kehidupan manusia dan karena itu bersifat universal dan asasi.

Pengakuan dan penghargaan HAM tidak diperoleh secara tiba-tiba, tetapi melalui sejarah yang panjang. Pengakuan HAM dimulai dari (1) Inggris dengan dikeluarkanya Magna Charta pada tahun 1215 yaitu suatu dokumen yang mencatat tentang beberapa hak yang diberikan Raja John kepada para bangsawan bawahannya atas tuntutan mereka. Naskah ini sekaligus membatasi kekuasaan raja. Pada tahun 1689 keluarlah Bill of rights (Undang-Undang Hak) suatu undang-undang yang diterima oleh Parlemen Inggris sesudah berhasil dalam tahun sebelumnya mengadakan perlawanan terhadap Raja James II, dalam suatu revolusi tak berdarah (The Glorius Revolution of 1988). (2) Di Perancis pada tahun 1789 terjadi revolusi untuk menurunkan kekuasaan Raja Louis XVI yang sewenang-wenang. Revolusi ini menghasilkan UUD Perancis yang memuat tentang “La Declaration des droits de l’homme et du citoyen (pernyataan hak manusia dan warga negara). (3) Di Amerika Serikat pada 4 Juli 1776,lahirlah The Declaration of American Independence atau naskah pernyataan kemerdekaan rakyat Amerika Serikat dari koloni Inggris. (4) Di Rusia pada tahun 1937 mulai mencantumkan hak untuk mendapat pekerjaan, hak untuk beristirahat serta hak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran bagi warga negara.

Hak-hak yang dirumuskan pada abad ke-17 dan ke-18 sangat dipengaruhi oleh gagasan mengenai Hukum Alam, seperti yang dirumuskan oleh John Locke (1632-1714) dan Jean Jaques Rousseau (1712-1778) dan hanya terbatas paa hak-hak yang bersifat

politik saja, seperti kesamaan hak, hak atas kebebasan, hak untuk memilih dan sebagainya. Pada abad ke-20 hak-hak politik itu dianggap kurang sempurna, dan mulailah dicetuskan beberapa hak lain yang lebih luas ruang lingkupnya. Yang sangat terkenal adalah empat hak yang dirumuskan Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt yang terkenal dengan The Four Freedoms (empat kebebasan), yaitu : (a) Kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (fredom of speech); (b) kebebasan beragama (freedom of religion); (c) kebebasan dari ketakutan (freedom from fear); (d) kebebasan dari kemelaratan (freedom from want).

Hak yang keempat, yaitu kebebasan dari kemelaratan , khususnya mencerminkan perubahan dalam alam pikiran umat manusia yang menganggap bahwa hak-hak politik pada dirinya tidak cukup untuk menciptakan kebahagiaan baginya. Dianggap bahwa hak politik seperti misalnya hak untuk menyatakan pendapat atau hak untuk memilih dalam pemilihan umum, tidak ada artinya jika kebutuhan manusia yang paling pokok, yaitu kebutuhan akan sandang, pangan dan papan tidak dapat dipenuhi. Menurut pendapat ini hak manusia juga harus mencakup bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Komisi Hak-hak Asasi (Commission on Human Rights) pada tahun 1946 didirikan oleh PBB, menetapkan secara rinci beberapa hak ekonomi dan sosial, di samping hak-hak politik. Pada tahun 1948 hasil pekerjaan komisi ini, Pernyataan Sedunia tentang Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) diterima secara aklamasi oleh negara-negara yang tegabung dalam PBB. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak terlalu sulit untuk mencapai kesepakatan mengenai pernyataan hak asasi , yang memang sejak semula dianggap langkah pertama saja. Ternyata jauh lebih sukar untuk melaksanakan tindak lanjutnya, yaitu menyusun suatu perjanjian (covenant) yang mengikat secara yuridis, sehingga diperlukan waktu 18 tahun sesudah diterimanya pernyataan. Baru pada tahun 1966 Sidang Umum PBB menyetujui secara aklamasi Perjanjian tentang Hak-Hak ekonomi, Sosial dan Budaya (Covenant on Economic, Social and Cultural Rights) serta Perjanjian tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (Covenant on Civil and Political Rights). Selanjutnya diperlukan 10 tahun lagi sebelum dua perjanjian itu dinyatakan berlaku. Perjanjian tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya mulai berlaku 1976, setelah diratifikasi oleh 35 negara, sedangkan Perjanjian tentang Hak-Hak Sipil dan Politik juga telah diratifikasi. Hak –hak sipil dan politik agak

mudah dirumuskan. Sebaliknya hak-hak ekonomi jauh lebih sukar diperinci (misalnya konsep ‘penghidupan yang layak” akan berbeda antara negaa kaya dan miskin).

Hak-hak politik pada hakekatnya memiliki sifat melindungi individu terhadap penyalah gunaan kekuasaan oleh pihak penguasa. Sehingga untuk melaksanakan hak-hak politik itu sebenarnya cukup mengatur peranan pemerintah melalui perundang-undangan, agar campur tangannya dalam kehidupan warga masyarakat tidak melampaui batas-batas tertentu. Akan tetapi ,tidak demikian halnya dengan hak-hak ekonomi. Untuk melaksanakannya tidak cukup membuat undang-undang, akan tetapi pemerintah harus secara aktif menggali semua sumber kekayaan masyarakat dan mengatur kegiatan ekonomi sedemikian rupa sehingga tercipta iklim di mana hak-hak ekonomi, seperti hak atas pekerjaan, hak atas penghidupan yang layak, betul-betul dapat dilaksanakan. Kegiatan yang menyeluruh itu akan mendorong pemerintah untuk mengatur dan mengadakan campur tangan yang luas dalam banyak aspek kehidupan masyarakat, dengan segala konsekuensinya.

Harus disadari bahwa pelaksanaan hak-hak ekonomi bagi banyak negara merupakan tugas yang sukar diselenggarakan secara sempurna, oleh karena itu dalam perjanjian Hak-hak ekonomi ditentukan bahwa setiap negara yang mengikat diri cukup memberi laporan kepada PBB mengenai kemajuan yang telah dicapai. Pada hakekatnya perjanjian ini hanya menetapkan kewajiaban bagi negara-negara yang bersangkutan untuk mengusahakan kemajuan dalam bidang-bidang itu, tetapi tidak bermaksud untuk mengadakan pengawasan secara efektif. Sebaliknya hak-hak politik harus dapat dilaksanakan secara efektif, pemikiran ini tercermin dalam dalam Perjanjian tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, bahwa didirikan suatu Panitia Hak-Hak Asasi (Human Rights Committee) yang berhak menerima serta menyelidiki pengaduan dari suatu negara terhadap negara lain dalam hal terjadinya pelanggaran terhadap sesuatu ketentuan dalam perjanjian itu. Disamping Perjanjian tentang Hak-hak Sipil dan Politik juga disusun Optional Protocol yang menetapkan bahwa Panitia Hak-Hak Asasi juga dapat menerima pengaduan dari perseorangan terhadap negara yang telah menanda tangani Optional Protocol itu jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Perjanjian Hak-Hak Sipil dan Politik.

Sebagai ilustrasi berikut ini akan disajikan beberapa contoh hak asasi yang tercantum dalam Perjanjian Hak-Hak Sipil dan Politik dan Perjanjiann Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Kedua naskah tersebut dimulai dengan pasal yang sama bunyinya dan yang mungkin dianggap sebagai dasar dari semua macam hak asasi yakni: “Semua orang mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri. Berdasarkan hak itu mereka secara bebas menentukan status politik mereka dan secara bebas mengejar perkembangan mereka di bidang ekonomi, sosial dan budaya”.

Hak-hak sipil dan politik mencakup antara lain: Hak atas hidup (pasal6); hak atas kebebasan dan keamanan dirinya (pasal 9); hak atas kesamaan di muka badan-badan peradilan (pasal 14); hak atas kebebasan berfikir dan beragama (pasal 18); hak untuk mempunyai pendapat tanpa mengalami gangguan (pasal 19); hak atas kebebasan berkumpul secara damai (pasal 21); hak untuk berserikat (pasal 22).

Sedangkan Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mencakup antara lain: Hak atas pekerjaan (pasal 6); hak untuk membentuk serikat sekerja (pasal 8); hak atas pensiun (pasal 9); hak atas tingkat kehidupan yang layak bagi dirinya serta keluarganya, termasuk makanan, pakaian dan perumahan yang layak (pasal 11); hak atas pendidikan (pasal 13).

Dalam dokumen Buku Pegangan Mahasiswa PKn 2011 (Halaman 65-68)