• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER

D. KOMUNITAS ABDI KRISTUS DALAM GERAKAN

1. Pentingnya Ongoing Formation bagi Komunitas Religius

Mardi Prasetya (2001: 48-49) menjelaskan bahwa dalam proses pertumbuhan, agar manusia dari hari ke hari semakin menjadi sempurna sebagaimana Bapa di surga sempurna adanya, maka ongoing formation atau pembinaan terus menerus menjadi penting. Pribadi manusia yang senantiasa diharapkan bertumbuh ini, pertumbuhannya tidak sekali jadi tetapi berproses dalam suatu peziarahan. Begitu pula seluruh daya-dayanya tidak sekali jadi dan serentak mencapai klimaksnya. Daya-daya yang berupa psiko-fisik, psiko-sosial, psiko spiritual-rasional yang ada dalam pribadi itu senantiasa diasah dalam sosialitas, dalam zaman yang juga bergerak secara dinamis.

Kalau direfleksikan atas dasar rahmat permandian, Mardi Prasetya (2001: 50), menerapkan pengolahan hidup terus-menerus bagi umat kristiani yaitu bahwa umat beriman kristiani senantiasa memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan nyala api iman dalam hati jangan sampai padam dan karena itu permandian menuntut suatu kesetiaan dan pembaharuan bahkan memberi daya kehidupan karena telah dilahirkan dalam Sang Kehidupan berkat hembusan Roh kehidupan yang mengajak manusia menuju kesucian. Ini berarti ia senantiasa bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih.

Mardi Prasetya (2001: 51) menambahkan berkaitan dengan pembinaan terus menerus bagi kaum religius bahwa jika sebagai religius ingin tetap setia dan efektif dalam penghayatan hidup religius, maka diandaikan ia senantiasa tinggal bersama Yesus, bekerja bersama Yesus dan bekerja seperti Yesus dan ini menyertakan kesiapan untuk senantiasa melakukan pembedaan Roh. Pembedaan Roh bertujuan untuk mengetahui dengan jelas kebijaksanaan sejati dalam mengambil sikap-sikap baru, dalam menemukan diri yang senantiasa bertumbuh juga di hadapan peristiwa-peristiwa yang sulit atau jika peziarahan hidup mulai terasa kering.

Dalam pemaparan berikutnya Mardi Prasetya (2001: 55) menjelaskan bahwa

ongoing formation menekankan pada usaha untuk terus menerus membaharui diri

sesuai dengan tuntutan zaman dan tuntutan spiritualitas dengan konskuensi tidak mau berhenti dalam pembaharuan, terus menerus memperkembangkan kemampuan dan ketrampilan dalam membatinkan nilai-nilai religius dan mewujudkan cita-cita tarekat dan pengabdiannya sebagai ungkapan iman bersama sesuai dengan kharisma kongregasi, kemudian terus menerus berusaha memberi bentuk kesaksian hidup bakti dalam Gereja dan masyarakat sesuai dengan tempat dan kemampuannya.

Seperti yang telah diungkapkan dalam bab-bab sebelumnya bahwa dalam hidup berkomunitas, tak bisa dipungkiri seringkali terjadi konflik atau perpecahan antar pribadi, sehingga sulit bekerjasama. Akibat yang lebih emosional atau afektif adalah terjadinya ketegangan dalam hati masing-masing, dan ini seakan-akan mewarnai hidup berkomunitas, misalnya, ketegangan karena adanya gap antara medior dan senior, antara medior dengan yunior, antara kontemplasi dan aksi, antara doa dan kerasulan, antara anggota komunitas dan pembesarnya dan lain-lain.

Ketegangan yang terjadi dalam komunitas menuntut masing-masing pribadi untuk berdiskresi, membuat refleksi dan evaluasi kritis atas dirinya sendiri, apa yang mau dibuat, bagaimana bersikap dalam situasi tertentu. Melihat kenyataan ini. semakin jelas bahwa ongoing formation menjadi sangat penting agar masing-masing pribadi yang berkomitmen hidup dalam komunitas religius tidak ikut jatuh dalam ketegangan atau menjadi frustasi, tetapi dapat berubah dan mengubah ketegangan menjadi rahmat pertumbuhan.

Keutamaan pertumbuhan yang diharapkan bertumbuh dalam diri religius oleh Mardi Prasetya (2001: 57-58) dijelaskan dalam aspek kognitif, aspek sosial, afektif, rohani, apostolik dan fisik.

a. Aspek kognitif

Aspek kognitif berupa pengertian yang makin mendalam tentang kongregasi, spiritualitas, kharisma dan gerak dinamis kerasulan kongregasi sehingga selalu mempunyai pencerahan dan sarana untuk berkonfrontasi diri dengan kenyataan hidup yang terus berjalan dan berubah. Konfrontasi ini yang akan menyuburkan pribadi sehingga mampu menjadikan kerohanian kongregasi tetap aktual dan relevan, artinya mampu menjawab tiap tantangan dan aneka situasi yang berubah (Mardi Prasetya, 2001: 57).

b. Aspek sosial

Aspek sosial, khususnya kemampuan untuk senantiasa mengadakan pembaharuan dan penyesuaian diri karena bertumbuhnya kemampuan sosialisasi dan adaptasi yang seimbang dalam dunia sosial yang semakin kompleks tanpa hanyut atau malah ditelan oleh arus dan dampak negatif dari modernisasi. Hal ini

mengandaikan taraf kedewasaan tertentu dalam menempatkan diri, dalam ambil bagian dalam kehidupan sosial dan dalam pergaulan dengan sesama saudara dalam komunitas (Mardi Prasetya, 2001: 57).

c. Aspek afektif

Aspek afektif yang dimaksud adalah aspek yang menyangkut hidup seseorang khususnya dalam menata batin sampai mencapai tahap kebebasan batin, dalam arti tidak mudah terombang-ambing oleh gejolak emosi dan perasaan sendiri, mampu menata dan mengendalikan sesuai dengan tujuan hidupnya sebagai religius. Hal ini mengandaikan kemampuan mengolah hidup dan oleh rohani yang menyertakan aspek ingkar diri dan tertib hidup sampai mencapai keadaan yang lepas bebas untuk Tuhan (Mardi Prasetya, 2001: 57).

d. Aspek rohani

Semakin memiliki cinta yang personal atau kedekatan hidup pada Tuhan, semakin menjadi murid Yesus yang sejati dan semakin berjalan ke arah konfigurasi dengan Kristus yang membuatnya makin mampu mengurangi pengaruh dari kelemahan dan cacat pusaka, mampu menanggung resiko dan konskuensi dari pilihan hidup religiusnya dan mampu memanggul salibnya setiap hari. Hal ini mengandaikan sikap diskretif (penuh pembedaan Roh) yang membuatnya terus berusaha untuk hidup dalam Roh (Mardi Prasetya, 2001: 57-58).

e. Aspek apostolik

Semakin memancarkan keterlibatan hidup apostolik yang didasarkan pada keprihatinan-keprihatinan Yesus dalam situasi dan kondisi konkrit sesuai dengan yang dicanangkan oleh kongregasi dan opsi real yang diputuskan dalam

kerjasamanya dengan keuskupan setempat. Bila keempat aspek di atas cukup bertumbuh dan berkembang maka aliran dan gema daripadanya adalah cinta kasih Kristus yang terungkap dalam hidup dan karya tiap religius yang tidak lepas dari misi kongregasi (Mardi Prasetya, 2001: 58).

f. Aspek fisik

Aspek fisik ini khususnya berhubungan dengan kesehatan fisik dan pemeliharaan kesehatan. Karena afektivitas yang tinggi dan intelegensi yang tinggi tidak akan banyak berguna kalau secara fisik ia tidak sehat. Kondisi fisik akan sangat berpengaruh dalam pembentukan kehendak yang kuat (Mardi Prasetya, 2001: 58).