• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pribadi Bunda Maria Menjadi Jiwa Komunitas Para Suster

BAB III. HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER

3. Pribadi Bunda Maria Menjadi Jiwa Komunitas Para Suster

Frans Imanuel da Santo (2001: 49) dalam bukunya berjudul Sejenak Bersama

Bunda Maria menjelaskan bahwa Maria sebagai perawan dan Ibu yang berdoa

merupakan kekuatan penyatu dan penyembuh bagi para murid yang tercerai berai dan terkoyak oleh kurang kuatnya iman mereka. Di bawah Salib Yesus, Maria dipanggil ‘Perempuan’ (Yoh 19:27). Hal itu mengingatkan pada perempuan yang mengalahkan ular sebagai simbol kejahatan. Maria menjadi yang pertama di antara manusia yang mampu mengalahkan kejahatan. Perempuan yang mampu mengalahkan kejahatan itulah yang diserahkan kepada Yohanes sebagai ibu, dengan demikian menjadi ibu orang beriman.

Frans Imanuel da Santo (2001: 48) menggambarkan Maria sebagai tempat dimana para murid yang tercerai berai berkumpul (Kis 1:14). Dapatlah

dibayangkan bahwa Maria yang sedemikian akrab dan mencintai Putranya, juga akrab dan mencintai orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada Yesus. Para murid dan orang-orang yang percaya kepada Yesus datang kepada Maria untuk menemukan penghiburan, kedamaian dan kekuatan. Mereka akan terpengaruh oleh kekuatan iman, harapan dan kasihnya.

Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 251-255 memaparkan tentang jiwa Bunda Maria yang selayaknya menjadi jiwa para suster Abdi Kritus. Bunda Maria berdoa, karena menyadari kekecilan dan kemiskinan berhadapan dengan sapaan Allah. Karena ia menyebut dirinya Hamba, Maria mampu memuji dan meluhurkan Allah, selalu menggantungkan diri pada kuasa dan rencana Allah. Kesadaran bahwa Allah mencinta dan karena itu Dia membuat dirinya yang hina pantas dicinta itulah yang menjadi kenyataan yang dialami dalam jiwa Bunda Maria. Kesadaran bahwa Tuhan adalah penyelenggara utama membuat beban menjadi ringan dan menghantar orang selalu menghadap hadirat-Nya (Kons. 251). Dalam doa berada di hadirat Allah seperti itu, ia merasa ditemani semua pendoa, pria, wanita, oleh Bunda Maria dan Kristus sendiri (Kons. 252). Berjiwa miskin yang semakin dipupuk dan disuburkan lewat doa itu menjamin sikap miskin, yaitu orang merasa bebas terhadap keterbatasan dalam hidup, latarbelakang, kesehatan, lanjut usia, ketidakmampuan untuk menyelesaikan apa yang diinginkan, ketergantungan kepada orang lain. Ia dibebaskan dari rasa takut dan putus asa. Maka juga tidak mudah goyah oleh godaan, tidak mau membesar-besarkan penderitaan. Semua hanya didasarkan atas kepercayaan bahwa Tuhan sendirilah yang akan menyempurnakan segala-galanya. Karena itu ia dapat memberikan dirinya seutuh-utuhnya, kreatif dan optimis (Kons. 253).

Jiwa kemiskinan itulah yang selayaknya mendorong para suster Abdi Kristus dalam berdoa secara benar dan dibenarkan oleh Allah (Luk 18:13-14), berdoa bersama umat Allah, baik dalam Ekaristi, doa Ibadat harian serta doa-doa lainnya. Jiwa kemiskinan itulah yang mendorong komunitas-komunitas untuk berdoa bersama, sebagai komunitas umat beriman dan secara pribadi dan teratur menghadap Tuhan untuk mendengarkan firman-Nya dan membiarkan dirinya dibimbing serta diperkaya oleh Tuhan sendiri.

Selain itu, jiwa kemiskinan ini pula yang mendorong para suster Abdi Kristus untuk berdoa bagi kepentingan-kepentingan orang-orang lain dan mereka yang dilayani, supaya terjadi menurut rencana Allah. Secara khusus dalam doa memohon kekuatan dan keberanian seperti wanita-wanita dalam Injil diperkenankan bersama Maria di hadapan salib. Sambil memandang Maria di kaki salib, para suster Abdi Kristus hendaknya berusaha memahami apa yang terjadi dalam dirinya dan bagaimana Allah telah mendidik tahap demi tahap sampai bisa mencapai puncak persekutuan dengan Sang Putra yang diabdi (Kons. 254).

Dalam buku Menggapai Kematangan Hidup Rohani, Henri J. M. Nouwen (1985: 100-104) menjelaskan makna semangat kemiskinan sehingga manusia menemukan pusat hidup dalam hati dan secara bebas terlibat dalam kehidupan orang lain. Henri J. M. Nouwen menjelaskan adanya dua bentuk kemiskinan, yaitu kemiskinan dalam budi dan kemiskinan dalam hati. Penjelasan mengenai kemiskinan budi dan hati adalah sebagai berikut:

a. Kemiskinan dalam budi

Seseorang yang penuh dengan gagasan, konsep, pendapat dan keyakinan tidak dapat menjadi tuan rumah yang baik. Tidak ada lagi ruangan batin sebagai

tempat untuk mendengarkan, tidak ada keterbukaan untuk menerima pemberian dari orang lain.

Kemiskinan budi adalah sebagai sikap batin dimana kesediaan bertumbuh untuk menyadari bahwa rahasia hidup adalah rahasia yang tidak dapat ditangkap sepenuhnya. Orang-orang yang seluruh hidupnya diarahkan untuk menguasai dan mengontrol sangat sulit menerima sikap ini. Manusia punya keinginan untuk menjadi orang terdidik sehingga dapat mengontrol keadaan dan semuanya berjalan menurut kepentingannya sendiri. Akan tetapi pendidikan untuk pelayanan bukanlah pendidikan untuk menguasai Allah melainkan untuk dikuasai oleh Allah. Hal ini tampak dalam dirinya yang semakin bebas untuk mendengarkan suara Allah dalam apa yang dikatakan orang, dalam peristiwa hidup sehari-hari dalam buku-buku yang mengungkapkan pengalaman hidup. Dengan demikian, orang yang seperti ini membiarkan terjadi pertumbuhan yang terus-menerus dalam kelembutan dan sikap menerima (Nouwen, 1985: 100-101).

b. Kemiskinan dalam hati

Jika hati penuh dengan prasangka, kecemasan, iri hati maka hanya sedikit tempat bagi orang lain. Di dalam lingkungan yang demikian, tidak mudah bagi orang untuk membuka hati terhadap berbagai ragam pengalaman manusia. Dalam semangat kemiskinan hati, manusia mampu menerima pengalaman orang lain sebagai pemberian. Oleh karena itu, orang perlu menahan diri untuk tidak menggunakan pengalaman diri yang terbatas sebagai ukuran pendekatan terhadap orang lain dengan melihat bahwa hidup mereka lebih besar dari hidupnya, pengalaman, sejarah hidupnya lebih luas dari dirinya dan tentu saja Allah lebih

Agung dari allahya. Sejarah, pengalaman mereka dapat memberi arti baru bagi hidup seseorang dan Allah sungguh berbicara dalam diri orang yang sungguh miskin dalam hati. Kemiskinan dalam hati menciptakan komunitas, karena bukan sikap merasa cukup dari diri sendiri melainkan dalam saling ketergantungan yang kreatif dimana rahasia hidup dinyatakan bagi manusia (Nouwen, 1985: 103-104).

C. RUMAH BIARA ADALAH RUMAH KOMUNITAS KASIH

Para suster Abdi Kristus menghayati persekutuan hidup dalam kasih sebagai komunitas secara nyata di dalam sebuah rumah biara. Bagaimana kehadiran rumah biara dalam pengabdian di tengah-tengah masyarakat dijelaskan dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 284-290 sebagai rumah yang bersifat rasuli, rumah doa, rumah komunitas kasih, rumah religius. Pemaparan penulisan mengacu pada konstitusi ini terbagi dalam tiga bagian yaitu komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh, Sabda Allah dasar hidup berkomunitas, komunitas menjadi ‘oase’ kehidupan para suster Abdi Kristus. Pemaparan dalam bagian ini akan didukung oleh beberapa nomor dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus yang diolah dalam Kapitel Umum IV Kongregasi Biarawati Abdi Kristus tgl. 3-13 Januari 2002. Selain itu penulis juga akan mengambil gagasan dari beberapa sumber buku yang mendukung untuk semakin mengerti dan memahami penulisan ini agar semakin mendalam terutama dalam mengenal, memahami para suster Abdi Kristus yang tinggal dalam komunitas-komunitas.