• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUH ASA DENGAN DOA

Dalam dokumen Kumpulan Tulisan Prof Ali (Halaman 40-44)

February 8th, 2013 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (0 Comments) PENUH ASA DENGAN DOA

Khutbah Jum‟at di Masjid Al Falah Surabaya

Tanggal 08 Pebruari 2013

Oleh:

Prof.Dr.Moh.Ali Aziz, M.Ag Para hadirin yang saya hormati.

Saat ini, kita sangat berbahagia berada di bulan Rabi‟ul Awal, bulan kelahiran Nabi SAW. Tapi sebenarnya juga bulan kesedihan, karena pada bulan yang sama, Nabi SAW meninggalkan para sahabat untuk selamanya.

Pada saat menjelang ajal, Nabi SAW berkata kepada Jibril a.s, ”Siapa yang mengurusi umatku sesudah aku mati?.” Maka Allah SWT memberi perintah kepada Jibril, ”Beritahukan kekasihku bahwa Aku tidak menelantarkan umatnya. Beritahukan pula, ia adalah orang yang pertama kali keluar dari bumi pada hari kebangkitan, sekaligus pemimpin mereka yang dibangkitkan itu. Juga beritahukan, siapapun tidak diijinkan memasuki surga sebelum dimasuki umatnya.” Maka Nabi SAW berkata,”Sekarang aku jadi tenang.”

Saat itu, Nabi SAW dalam dekapan Aisyah r.a. Begitu dekatnya, sampai ia katakan, “Aku kumpulkan air ludahku dengan ludah Nabi di waktu wafatnya.” Pada saat-saat kritis itu, datanglah kakak Aisyah, Abdurrahman dengan siwak di tangannya. Nabi SAW terus memandang siwak itu. Aisyah faham, bahwa Nabi SAW menginginkannya. ”Aku akan mengambilnya untukmu,” kata Aisyah kepada Nabi SAW dan beliau mengiyakan dengan isyarat kepala. Dengan tangan gemetar, beliau memasukkan siwak ke dalam mulutnya. Tapi ternyata siwak itu masih terasa keras baginya, maka Aisyah mengambilnya kembali untuk dilembutkan ujungnya.

Di sebelah Nabi, terdapat wadah berisi air. Beliau memasukkan tangannya dan mengusapkannya ke muka seraya mengucapkan, ”La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Sungguh, kematian itu melalui sakarat (proses yang berat).” Lalu beliau mengangkat tangannya untuk berdoa dengan suara lirih, “(Jadikan aku) bersama dengan orang-orang yang Engkau beri nikmat, para

nabi, para shiddiqin, para syuhada‟ dan orang-orang yang shaleh (QS. An Nisa‟: 69). Wahai Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan ”Ar-Rafiqul A‟laa, Ar-Rafiqul A‟laa”

Para hadirin,

Pada khutbah kali ini, saya tidak meneruskan kisah detik-detik terakhir Rasulullah itu. Saya hanya ingin menceritakan, siapa sebenarnya pria yang diberi kehormatan menyediakan kayu siwak untuk pembersih gigi Rasulullah menjelang wafat beliau itu. Ia adalah Abdurrahman putra Abu Bakat As Shiddiq, kakak kandung Aisyah r.a. Pernikahan Abu Bakar dengan Ummu

Rumman, janda dari al-Harits ibnu Sukhairah menghasilkan dua anak yaitu Abdrurrahman dan Aisyah.

Pada masa-masa awal, Abdurrahman adalah anak durhaka, yang tiada henti menyakiti hati bapak dan ibunya. Bahkan, pernah berhadapan langsung dalam perang Badar. Abu Bakar pada pasukan Nabi dan anaknya pada pasukan musuh. Betapa kontrasnya, Abu Bakar yang dikenal orang pertama yang masuk Islam dan menjadi pembela setia Rasulullah SAW mendapat perlawanan ideologis dan fisik dari anaknya sendiri.

Abu Bakar dan istri tiada henti mengajak sang anak masuk Islam dan mempercayai hari kebangkitan pada hari kiamat. Tapi Abdurrahman menolak mentah-mentah dan menyebutnya omong kosong Muhammad. Menurutnya, belum ada satupun manusia yang pernah dibangkitkan untuk hidup kembali. “Itu dongeng palsu orang-orang kuno (asathirul awwalin),” katanya. Abu Bakar dan isteri sedih dan terus berdoa (wahuma yastaghitsani) sambil tiada bosan menasehati sang anak, tapi tetap saja ia menolaknya. Saat itulah Allah menurunkan Al Qur‟an Surat Al-Ahqaf [46] ayat 17:

“Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, “Persetan, bagi kamu berdua. Apakah kamu berdua mengingatkan aku bahwa aku akan dibangkitkan?. Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Kedua ibu bapaknya kemudian memohon pertolongan (istighatsah) kepada Allah seraya mengatakan, “Celaka kamu, berimanlah! Sungguh, janji Allah benar.” Lalu si anak berkata, “Ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang kuno”. (QS

Al-Ahqaf [46]:17)

Amat kasihan bagi sang Ibu. Ia wafat dengan kesedihan melihat anaknya masih tetap memusuhi sang bapak dan Rasulullah SAW. Setelah sekian lama berdoa, Allah SWT baru mengabulkan doa Abu Bakar, setelah istrinya meninggal. Tiba-tiba saja, Abdurrahman meminta bapaknya membimbing masuk Islam. Betapa senangnya sang bapak, Abu Bakar. Alangkah bahagia sang adik, Aisyah yang saat itu sudah menjadi istri Nabi SAW.

Abdurrahman kemudian tidak hanya muslim biasa. Tapi muslim shaleh dan pejuang tangguh. Ketika Abu Bakar dikukuhkan sebagai kepala negara sepeninggal Rasulullah, Abdurrahman menjadi tentara andalan beliau untuk menumpas 40.000 pasukan nabi palsu, Musailamah al-Kadzdzab, para pembangkang pembayar zakat. Luar biasa, Abdurrahman berhasil membunuh Muhammad ibnu al-Thufail, orang kepercayaan Musailamah. Sedangkan Musailamah sendiri mati atas sabetan pedang Wahsy bin Harb.

Para hadirin,

Dulu, Abdurrhman amat memusuhi Nabi SAW. Tapi ketika wafat Nabi, dia mendapat kehormatan menyerahkan siwak kepada Nabi. Dulu, Abdurrahman-lah yang menjadi penyebab kesedihan Abu Bakar. Tapi pada akhir hayat Abu Bakar, Abdurrahman-lah yang paling dicintainya. Bahkan ia mendapat wasiat untuk memandikan jenazah sang ayah. Itulah kekuatan doa orang tua.

Setiap doa orang tua untuk anaknya pasti dikabulkan Allah SWT. Tapi perlu dicatat, tidak semua permohonan itu dikabulkan dengan segera. Ada kalanya, dibutuhkan kesabaran yang ekstra,

sebab Allah telah menentukan jadual tersendiri kapan sebuah permohonan dikabulkan. Bahkan, permohonan itu ada kalanya baru dikabulkan setelah pemohonnya meninggal dunia, sebagaimana yang dialami oleh keluarga Abu Bakar as-Shiddiq.

Setiap pemohon harus tunduk kepada kehendak Allah, berupa jadual terpenuhinya permohonan. Jika sedikit saja ada ada perasaan terburu-buru, permohonan itu tidak akan dikabulkan Allah. Doa dengan harapan terkabulnya permohonan secara terburu-buru berarti mendikte Allah. Berarti pula ia bertindak sebagai manusia Maha di atas Maha Kuasanya Allah SWT. Nabi SAW bersabda, “Permohonan seorang di antara kalian akan dikabulkan Allah selama ia tidak

tergesa-gesa dan berkata, “Saya sudah berdoa kepada Tuhanku, tapi Tuhanku belum saja mengabulkannya (qad da‟awtu rabbi, falam yastajib li” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah

r.a).

Tetaplah penuh asa menghadapi semua masalah dengan doa. Tapi, hindari bahasa dan sikap bernada memaksa yang Maha Kuasa. Selamat berdoa untuk keluarga sepanjang masa. Semoga tetap sabar menunggu jawaban Allah, Yang Maha Pemurah.

HIDUP ITU KOMA (2)

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag

Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Mungkinkah seorang pencuri menjadi kiai di kemudian hari? Masihkah bisa diharapkan seorang pemabuk berubah menjadi pemuka agama pada suatu saat? Jawabnya: sangat mungkin, karena hidup itu koma: belum titik. Dan itulah yang dibahas pada artikel sebelumnya. Sekarang sebaliknya. Bisakah pegiat agama berubah menjadi pezina? Mungkinkah seorang kiai berubah menjadi pencuri? Atau penyuluh agama berubah menjadi pembunuh sesama? Anda akan bisa menjawabnya sendiri setelah membaca kisah berikut ini.

Pada masa Bani Israil, hiduplah Barshisha, orang yang sangat populer keilmuan dan kesalehannya. Murid dan pengikut setianya mencapai 60.000 orang. Hampir semua mereka ini bisa terbang karena kehebatan ilmu dan spiritualnya. Apalagi kelebihan sang guru, Barshisha. Tidak hanya manusia, para malaikat juga amat kagum pada Barshisha. Tapi, Allah mengingatkan para malaikat, agar tidak tergesa-gesa menyanjungnya. “Jangan tergesa-gesa mengaguminya. Dengan ilmu-Ku, Aku Maha Mengetahui, apa yang tidak kalian ketahui,” kata Allah.

Pada suatu saat, Iblis mendatangi Barshisha untuk pura-pura berguru. Selama belajar, Iblis hanya beribadah, tidak makan dan minum sama sekali. Barshisha bertanya, ”Bagaimana kamu bisa beribadah sekian lama? Bagaimana pula kamu bisa menahan makan dan minum berhari-hari selama beribadah?. Saya telah beribadah bertahun-tahun, belum bisa melakukan seperti kamu”. Iblis menjawab, ”Saya beribadah begini karena saya telah banyak melakukan dosa. Saya bertobat secara sungguh-sungguh. Lakukan zina atau membunuh orang terlebih dahulu, lalu bertobatlah. Baru tuan bisa merasakan nikmatnya ibadah.”

Barshisha menolak disuruh berzina dan membunuh karena keduanya dosa besar. Tapi dengan kepandaian rayuan Iblis, akhrinya ia mau hanya meminum minuman keras. “Ya, itu dosa kecil, dan lebih mudah diampuni Allah, karena tidak menyangkut orang lain,” kata Iblis memberi dorongan. Setelah diberitahu tempat penjualan miras, Barshisha berangkat menuju kedai miras di sebuah desa dengan wanita cantik penjaganya. Setelah minum sedikit dan mabuk, ia amat terangsang dengan paras wanita itu, sampai terjadi pemerkosaan.

Sial. Ia kepergok oleh sang suami yang datang pada kejadian itu. Barshiha cepat mengambil keputusan untuk membunuhnya. Iblis bergembira karena Barshisha telah melakukan tiga dosa sekaligus: minum, zina dan membunuh. Ia ditangkap dan dihukum mati. Di tiang gantungan, ia didatangi Iblis, ”Maukah kamu saya tolong agar lepas dari hukuman ini? Jika mau, segera pejamkan mata dan tundukkan kepala sejenak kepadaku.” Ketika ia melakukan perintah Iblis itu, ia menghembuskan nafas terakhir.

Hidup masih koma. Anda wajib bersyukur menjadi orang baik-baik sekarang berkat hidayah Allah. Tapi Anda harus ingat, hanya malaikatlah yang sudah titik: pasti baik selamanya, karena mereka tidak memiliki nafsu. “…dan (para malaikat itu) tidak mendurhakai Allah terhadap apa

yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.

Hidup masih koma. Esok hari masih penuh spekulasi. Maka bacalah ihdinash shirathal mustaqim (Wahai Allah tunjukilah kami jalan yang lurus) dengan penuh penghayatan dalam setiap shalat. Baca juga doa, “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada

kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami” (QS. Ali Imran [3]: 8). Atau bacalah doa

dari Rasulullah SAW, “Wahai Allah, sesungguhnya saya memohon hidayah, takwa, kelapangan,

dan rasa cukup” (H.R. Muslim).

Dalam dokumen Kumpulan Tulisan Prof Ali (Halaman 40-44)