BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Defenisi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
2.1.5. Penularan HIV/AIDS
Sebelumnya virus HIV tidak mudah menular seperti virus influenza. Kita
tidak perlu mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS, karena HIV tidak akan menular dengan cara-cara seperti : hidup serumah dengan penderita AIDS (asal tidak mengadakan hubungan seksual), bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita, bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas penderita AIDS, makan dan minum, gigitan nyamuk dan serangga lain, sama-sama berenang dikolam renang.
Sedangkan yang dapat menyebabkan penularan HIV adalah : melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV, transfusi darah yang mengandung virus HIV, melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang sudah dipakai orang yang mengidap virus HIV, hubungan prenatal yaitu pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus HIV kepada janin yang di kandungnya.
a. HIV di Tubuh Manusia
HIV masuk kedalam tubuh manusia melalui aliran darah penderita. HIV sangat mudah mati di luar tubuh manusia (dengan air panas, sabun dan bahan-bahan pencuci yang lain), karena itu HIV tidak dapat menular melalui udara. HIV dalam tubuh manusia bersarang disalah satu sel darah putih, yaitu bernama Limfosit yang berada dicairan tubuh. HIV awalnya melakukan penempelan dengan CD-4 reseptor yang ada dipermukaan Limfosit, lalu virus memasukkan DNA virusnya kedalam inti selnya Limfosit. Virus ini juga dapat ditemukan di dalam sel manusia maesopag dan sel glia jaringan otak.
b. Masa Inkubasi HIV
Waktu antara HIV masuk kedalam tubuh sampai gejala pertama AIDS disebut masa inkubasi HIV. Masa inkubasi HIV bervariasi antara setengah tahun sampai
lebih dari tujuh tahun. HIV (antigen) hanya dapat dideteksi dalam waktu singkat kira-kita setengah bulan sampai 2,5 bulan sesudah HIV masuk kedalam tubuh. Untuk membantu menegakkan diagnosa pemeriksaan mencari HIV tidak dianjurkan karena mahal, memakan waktu lama dan hanya dapat ditemukan dalam waktu terbatas.
Tubuh memerlukan waktu untuk dapat menghasilkan antibodi. Waktu ini rata-rata 2 bulan, ini berarti bahwa seseorang dengan infeksi HIV dalam 2 bulan pertama diagnosisnya belum dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium berdasarkan penentuan antibodi. Lama waktu 2 bulan ini disebut Window Period.
c. Cara Penularan HIV
1) Hubungan Seksual (Humo maupun Heteroseksual) dengan seseorang yang tubuhnya mengidap HIV. Kebanyakan orang terjangkit HIV karna melakukan kegiatan seks yang tidak terlindung dengan orang tertentu yang telah terjangkit HIV. Diperkirakan 95% penularan karna hubungan seksual melalui vagina, dubur maupun mulut. Hubungan seks menyebabkan luka karna gesekan dan melalui luka tersebut virus ditularkan (Maryunani, 2009: Sofa,M, 2015).
2) Darah yang tercemar
Orang terjangkit HIV jika darah yang tercemar HIV masuk kedalam darah mereka. Darah yang tercemar ini dapat masuk kedalam tubuh mereka melalui trasfusi darah (penerimaan darah/produk darah) yang tercemar. Darah yang tercemar ini dapat pula berasal dari jarum suntik atau pisau yang telah digunakan pada seseorang yang telah terjangkit HIV dan tidak disucihamakan setelah jarum dan pisau itu digunakan, termasuk penggunaan alat suntik dan alat medik lain
yang tidak steril atau alat tusuk (alat tato, akupuntur, tindik) yang tercemar.
Penggunaan bergantian jarum suntik secara bergantian terutama dikalangan mereka yang menyuntikkan obat-obatan dapat menyebabkan HIV. Penularan HIV dengan cara ini banyak sekali terjadi pada mereka yang kecanduan obat bius/narkoba yang disuntikkan (Maryunani, 2009).
Trasfusi darah yang tercemar HIV juga termasuk kedalam risiko tertular HIV dimana lebih dari 90% dapat tertular HIV bila pengambilan donor darah tanpa melalui skrining terhadap HIV (Sofa, 2013).
3) Penularan dari Ibu Pengidap HIV Kepada Bayi atau Anak Mereka
Penularan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dilahirkannya yang dapat terjadi selama kehamilan berisiko terinfeksi HIV bekisar 5-10%. Pada saat persalinan 10-20%, sebahagian besar penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat persalinan ini. hal ini disebabkan karna pada saat proses persalinan , tekanan darah pada plasenta terutama pada plasenta yang mengalami peradangan atau terinfeksi menyebabkan terjadinya percampuran darah ibu dengan darah bayi. Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat pula terjadi pada saat bayi terpapar oleh lendir dari jalan lahir. Pada masa nifas (saat menyusui) berisiko sekitar 10-20%. Bila ibu pengidap HIV dan sudah menunjukkan gejala AIDS maka bayi yang dilahirkan 50% tertular HIV (Maryunani, 2009).
2.1.6. Kelompok Resiko Tinggi Tertular HIV
a. Mereka yang mempunyai banyak pasangan seksual (Homo dan heteroseksual) seperti wanita/pria tunasusila dan pelanggannya, mucikari, kelompok
homoseks, biseks dan waria. Semua diduga penyakit AIDS hanya merupakan penyakit yang menimpa laki-laki “homoseks” yang biasa berhubungan dengan sesama jenis. Namun, sekarang diketahui bahwa virus ini dapat menjangkit siapa saja melalui berbagai penularan.
b. Penederita hemophilia dan penerima trasfusi darah atau produk darah lainnya.
c. Bayi/anak yang dilahirkan dari ibu pengidap HIV d. Pengguna narkoba suntik/IDU
e. Perempuan yang mempunyai pasangan laki-laki pengidap virus HIV f. Laki-laki atau perempuan penguat seks bebas (Maryunani, 2009).
2.1.7. Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi HIV
Cara pencegahan penularan HIV yang paling efektif adalah dengan memutus rantai penularan. Pencegahan dikaitkan dengan cara cara penularan HIV. Infeksi HIV/AIDS merupakan satu penyakit dengan perjalanan yang panjang dan hingga saat ini belum ditemukan obat yang efektif, maka pencegahan dan penularan menjadi sangat penting terutama melalui pendidikan kesehatan dan peningkatan pengetahuan yang benar mengenai patofisioligi HIV dan cara penularannya (Noviana, 2016).
a. Pencegahan Melalui Hubungan Seksual
Infeksi HIV terutama terjadi melalui hubungan seksual, sehingga pencegahan AIDS perlu difokuskan pada hubungan seksual. Agar terhindar dari tertularnya HIV dan AIDS seseorang harus berprilaku seksual yang aman dan bertanggungjawab.
Yakni hanya mengadakan hubungan seksual yang dengan pasangan sendiri (suami/istri sendiri). Apabila salah seorang sudah terinfeksi HIV maka dalam
melakukan hubungan seksual harus menggunakan kondom secara benar. Melakukan tindakan seks yang aman dengan pendekaran “ABCD” (Abstinent, Be faithful, Condom) yaitu tidak melakukan aktifitas seksual (abstinent) merupakan metode paling aman untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual, tidak berganti-ganti pasangan (be faithful) , penggunaan kondom (use condom) dan Drug No, dilarang menggunakan narkoba (Maryunani, 2009).
b. Pencegahan Penularan Melalui Darah 1) Trasfusi Darah
Memastikan bahwa darah yang dipakai untuk trafusi tidak tercemar HIV.
2) Alat suntik dan alat lain yang dapat melukai kulit
Desinfeksi atau membersihkan alat-alat seperti jarum, alat cukur, alat tusuk untuk tindik, dan lain-lain dengan pemanasan atau larutan desinfektan.
3) Pencegahan penularan dari ibu ke anak (Pengobatan, operasi ceasar mengindari pemberian ASI) (Noviana, 2016).
2.1.8. Terapi Untuk HIV a. Terapi Antiretroviral
Terapi antiretroviral (ART) adalah penatalaksanaan medis untuk mengatasi penyakit HIV. ART menghambat replikasi atau penggandaan dari HIV. Kombinasi Beberapa obat bertujuan untuk mengurangi jumlah virus dalam darah.
Tujuan Terapi Antiretroviral :
1) Mengurangi mordibitas mortalitas terkait HIV.
2) Memperbaiki mutu hidup
3) Memulihkan dan memelihara fungsi kekebalan
4) Menekan replikasi semaksimal mugkin dalam waktu yang lama.
Saat ini 3 golongan ART yang tersedia di Indonesia:
1) Necleouside Reverse Trancriptase Inkibitur (NRTI)
Obat ini menhambat proses perubahan RNA virus menjadi DNA, obat dalam golongan ini : Ziduvudin (ZDV atau AZT), Lamivudin (3TC), Didonosin (ddl), Zalcitabine (ddc), Stavudin (ABC).
2) Non Nucleouside Reverse Trascriptase Inkibitur (NNRTI)
Obat ini menghambat proses perubahan RNA menjadi DNA termasuk kedalam golongan ini: Nevirapine (NVP), Efavitenz (EFV) dan delavirdine (DLV).
3) Protease inhibitor
Obat ini menghambat enzim protease yang memegang rantai panjang asam amini menjadi protein yang lebih kecil. Obat-obatan dalam golongan ini adalah Indinavir (IDV), Amprenavir (APV) dan lopinavir/litonavir (LPV/r).
ARV dapat dipakai untuk mencegah infeksi pasca pajanan (misalnya pada petugas kesehatan yang tertusuk jarum suntik bekas). Dalam pemakaian ARV akan member dampak menurunkan ,orbiditas, mortalitas serta pemulihan sistem kekebalan tubuh. Dengan pemakian ARV maka peningkatan jumlah CD4 rata-rata 100-200 pda tahun pertama.
ARV memiliki keterbatasan-keterbatasan:
1) Tidak menyembuhkan tetapi harus diminum seumur hidup
2) Dibutuhkan kepatuhan klien yang tinggi untuk meminum obat secara teratur.
3) Infeksi oportunistik masih dapat terjadi, terutama jika terapi dimulai dengan CD4 yang rendah.
4) Penularan dari ibu ke bayi masih bias terjadi
5) Layanan bermutu dan terjangkau dibutuhkan untuk konseling dan tindaklanjut perawatan.
b. Terapi Informasi
Klien yang terdiagnosis positif HIV akan merasa dunia atau hidupnya akan berakhir sampai saat itu juga, merasa buram dan tidak mempunyai masa depan.
Banyak pertanyaan yang timbul dalam diri seperti apa penyakit AIDS tersebut, apa bedanya dengan HIV, bagaimana cara penularannya, apakah ada cara untuk mengobati, gejalanya seperti apa dan sebagainya. Informasi sangat dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Informasi akan mengobati sedikit rasa depresi, memulihkan dan menyelamatkan jiwa klien.
c. Terapi Spiritual
Pengobatan dan perawatan harus mempertimbangkan fungsi aspek biospikososiospiritual. Penempatan ini menempatkan spiritual sebagai salah satu cara untuk pengobatan dalam upaya penyembuhan. Dalam terapi spiritual, klien datang dengan HIV memerlukan rohaniawan yang memahami HIV secara benar.
Pengalaman agama dan kegiatan spiritual dapat menigkatkan motovasi ODHA untuk menjalani masa sulit dalam kehidupannya (Sumiati, dkk, 2016).
2.2. Faktor Risiko terhadap Penularan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba 2.2.1. Defenisi Pecandu Narkoba
Narkotika dan obat-obat terlarang merupakan kasus yang semakin hari semakin meningkat baik dalam hal kualitas dan kauantitas. Hal ini merupakan masalah yang tidak bisa dianggap ringan karna kebanyakan kasus penyalahgunaan narkoba justru dijumpai pada kaum muda, generasi penerus bangsa. Penyalahgunaan narkoba ini mengakibatkan ketergantungan obat (Purwatiningsih, 2001).
Pecandu atau ketergantungan narkoba pada dasarnya merupakan dinamika yang kompleks dimana seseorang mulai nenggunakan, menggunakan secara teratur dengan dosis yang meningkat, berhenti atau menggunakan kembali sepanjang hidupnya dengan berbagai alasan (Praptoraharjo, 2015).
Menurut Hser, et al, 2015, Perjalanan penggunaan narkoba dan permasalahannya tidak selalu sama bagi setiap orang dan perjalanan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor personal, sosial, dan kontekstual serta dalam konteks wilayah tertentu. Dalam konteks perjalanan penggunaan narkoba, perawatan narkoba hanyalah satu faktor dalam proses pemulihan seseorang dari ketergantungan dalam suatu waktu disamping berbagai kejadian lain yang mendorong seseorang untuk berhenti menggunakan narkoba (Praptoraharjo, 2015).
Pada tahun 1990-an ekstasi, shabu, dan heroin memasuki pasaran Indonesia.
Penyebaran ini terus berkembang, masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah meluas dan sangat mengkhawatirkan, tidak saja di perkotaan, melainkan juga menjangkau ke perdesaan. Masalah penyalahgunaan narkoba merupakan masalah
yang sangat kompleks yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen, dan konsisten.
Meskipun dalam kedokteran sebagian besar narkoba masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran di jalur ilegal akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda. Indonesia saat ini tidak hanya sebagai transit perdagangan gelap serta tujuan peredaran narkoba, tetapi juga telah menjadi produsen dan pengekspor (Kemenkes RI, 2014).
Data yang akurat mengenai besaran penyalahguna narkoba secara umum memang belum ada. Namun diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba dan zat yang digunakan semakin berkembang. Setelah maraknya penggunaan amphetamin seperti ecstasy dan shabu pada awal tahun 1990-an, maka belakangan ini berkembang ke arah penggunaan heroin dalam bentuk putauw (putauw adalah salah satu jenis heroin dengan kadar lebih rendah yang berwarna putih/heroin kelas lima atau enam), kemudian berkembang pada akhir tahun 2003 mulai ditemukan penggunaan kokain.
Awalnya zat yang banyak digunakan masuk pada kelompok alkohol, psikotropika dan ganja, kemudian berkembang ke arah jenis zat yang digunakan melalui suntikan.
Jumlah kasus narkoba berdasarkan penggolongannya yang masuk dalam kategori narkotika terus mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir sedangkan yang masuk dalam kategori psikotropika jumlah kasusnya kian menurun, hal ini terlihat
jelas pada tahun 2009 jumlah kasus psikotropika 8.779 kasus dan tahun 2010 jumlah kasus psikotropika menurun secara signifikan menjadi 1.181 kasus (Kemenkes RI, 2014).
2.2.2 Faktor Risiko Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba
Pada tahun 1990-an ecstasy, shabu, dan heroin memasuki pasaran Indonesia.
Penyebaran ini terus berkembang, masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah meluas dan sangat mengkhawatirkan, tidak saja di perkotaan, melainkan juga menjangkau ke perdesaan. Masalah penyalahgunaan narkoba merupakan masalah yang sangat kompleks yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen, dan konsisten.
Meskipun dalam kedokteran sebagian besar narkoba masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran di jalur ilegal akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda. Indonesia saat ini tidak hanya sebagai transit perdagangan gelap serta tujuan peredaran narkoba, tetapi juga telah menjadi produsen dan pengekspor.
Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan narkoba merupakan penyakit mental dan perilaku yang dapat berdampak pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan dan masalah lingkungan sosial. Ditinjau dari sejumlah kasus, walaupun tidak ada data yang pasti mengenai jumlah kasus penyalah guna narkoba, namun diperkirakan beberapa tahun terakhir jumlah kasus penyalah guna narkoba cenderung semakin
meningkat, bahkan jumlah yang sebenarnya diperkirakan sesuai dengan fenomena
“gunung es” (iceberg phenomena), dimana jumlah kasus yang ada jauh lebih besar daripada kasus yang dilaporkan atau dikumpulkan. Masyarakat secara umum memandang masalah gangguan penggunaan narkoba lebih sebagai masalah moral daripada masalah kesehatan (Kemenkes RI, 2014).
Jenis narkoba pertama kali yang paling banyak digunakan adalah ganja (44%), diikuti oleh kelompok benzodiazepine (8%), shabu (6%), trihex/THP (4%), ekstasi (3%), dan tramadol (2%). Jenis narkoba yang banyak dikonsumsi dalam setahun terakhir tetap masih ganja. Sekitar 1 dari 5 orang penyalahguna masih tetap mengkonsumsi ganja (25%). Berikutnya shabu (12%), ekstasi (5%) dan tramadol (5%). Satu dari 8 orang penyalahguna mengkonsumsi shabu, sedangkan ekstasi dan tramadol lebih jarang lagi, yaitu 1 dari 20 orang. Sedangkan jenis narkoba lainnya kurang dari 4%. Konsumsi ganja, ekstasi, dan shabu di kabupaten lebih tinggi dibandingkan di kota di tahun 2015. Padahal pada 2 survei sebelumnya konsumsi ganja, shabu, dan ekstasi lebih tinggi di Kota dibandingkan Kabupaten. Hal ini mengindikasikan telah terjadi pergeseran peredaran narkoba dari tingkat kota ke tingkat kabupaten. Pergeseran ini mungkin disebabkan tingkat pemberantasan(supply reduction) di Kabupaten masih amat terbatas, sehingga para bandar/pengedar lebih leluasa mencari target sasaran peredaran narkoba baru di tingkat Kabupaten dibandingkan Kota dalam 5 tahun terakhir. Ini juga mengindikasikan peredaran narkoba semakin meluas ke wilayah Indonesia lainnya
Secara tren, ganja relatif stabil dalam 15 tahun terakhir, walaupun sempat turun dari 2005 ke 2010, terutama di Kabupaten. Ekstasi cenderung turun dari 10%
(2005) menjadi 5% (2015), sedangkan shabu cenderung naik dari 9% (2005) menjadi 12% (2015). Hal yang perlu jadi sorotan, baik pengguna shabu maupun ekstasi semakin banyak di kabupaten dibandingkan di kota. Sementara itu di kota, penggunaan ekstasi cenderung turun dan shabu relatif stabil. Sedangkan heroin/putau cenderung turun dalam 15 tahun terakhir, tetapi ada sedikit kenaikan dari 2010 ke 2015, terutama di Kabupaten (Pusat Penelitian Data dan Informasi Badan Narkotika Nasional, 2016).
Studi-studi tentang faktor resiko infeksi HIV telah dilakukan di berbagai negara sejak infeksi ini menjadi pandemi di seluruh dunia. Studi ini dilakukan dengan berbagai disain, yaitu disain kohort, trial maupun potong lintang. Namun studi yang paling banyak dilakukan adalah disain potong lintang, hal ini terkait dengan karakteristik infeksi HIV dengan masa laten yang panjang, prevalensi yang masih dibawah 10% di banyak negara dan adanya stigma (Wahyuni, D.T, 2015).
Narkoba dan prilaku berisiko HIV memiliki keterkaitan yang erat sehingga dapat meningkatkan seseorang untuk lebih dini dalam berhubungan seksual. Lebih dari sepertiga orang dengan seksual aktif menganggap narkoba dapat mempengaruhi kepuasan mereka dalam berhubungan seksual. Selain itu narkoba dapat membuat seseorang melakukan aktifitas seksual tanpa kondom dan berganti-ganti pasangan.
Sekitar 20% dewasa muda (usia 18-24 tahun) melakukan hubungan seksual tanpa kondom karna mereka menggunakan narkoba dan 12% pada remaja (usia 12-17
tahun) (Naparudin, 2013).
Tidak hanya pengguna napza suntik yang dapat meningkatkan risiko infeksi HIV. Pengguna narkoba non suntik juga dapat meningkatkan risiko infeksi HIV dengan terganggunya penilaian mereka terhadap kepuasan yang mereka pilih, terutama tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan berganti-ganti pasangan sehingga menjadi prilaku seksual yang berisiko (Faridho, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fikrifar Rizki Faridho di RSKO Jakarta sepanjang Tahun 2010-2011 di dapat bahwa 116 orang penderita HIV memiliki riwayat pecandu narkoba dimana 96,6% adalah laki-laki dengan usia 30-39 tahun (65,55%) dan hanya lulusan SMA (72,4%). Setengah dari penderita populasi HIV (50%) ini merupakan pengguna narkoba tunggal (single drugs user) dengan putaw sebagai jenis narkoba yang banyak digunakan (92,2%).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Naparudin di RSKO Jakarta Tahun 2013 di dapat bahwa 47 orang memiliki riwayat pecandu narkoba. Prilaki berisiko didominasi sebahagian besar pada kelompok usia 26-35 tahun (66%), mayoritas dari mereka adalah lulusan SMA (63,8%) jenis narkoba yang sering digunakan adalah heroin dan narkoba jarum suntik (89,4%), Semua reponden pernah melakukan hubungan seksual dan prilaku seks tanpa menggunakan kondom (68,1%).
Konsep tentang faktor risiko terjadinya infeksi HIV banyak diadaptasi dari konsep yang dibuat oleh J. Ties Boerma & Sharon S. Weir yaitu “The
Proximate-Determinants Framework”. Konsep ini membagi determinan terjadinya infeksi HIV menjadi underlying determinan, proximate determinan dan biological determinan.
Underlying determinants, termasuk di dalamnya faktor sosial ekonomi (mis. income, pendidikan, pekerjaan), sosial budaya (mis. agama, suku), demografik (mis. jenis kelamin, umur, status perkawinan, mobilitas, tempat tinggal) dan intervensi program.
Intervensi program termasuk di dalamnya konseling dan testing, pengendalian IMS, promosi kondom, pendidikan perubahan perilaku, pengamanan darah donor dan pengurangan dampak buruk napza suntik. Determinan proksi sendiri diantaranya jumlah pasangan seks, frekuensi coital, percampuran seks (sexual mixing), abstinensia, transfusi darah, pemakaian narkoba suntik, pemakaian kondom, sirkumsisi, jenis hubungan seksual, viral load, pengobatan ARV dan kerentanan biologis.
a. Demografi 1) Jenis Kelamin
Jenis kelamin juga merupakan karakteristik individu yang bisa menjadi faktor risiko infeksi HIV. Angka kejadian HIV/AIDS di Indonesia secara kumulatif pada tahun 2015 menunjukkan bahwa sebagian besar penderita AIDS adalah laki-laki (55%) dan perempuan (32%). Hal ini dapat terjadi karna hubungan seks yang tidak aman, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, berganti-ganti pasangan, trsfusi darah yang terinfeski HIV dan penularan ibu yang terinfeksi HIV ke anak yg di kandungnya (Noviana, 2016). Puffer, et al (2011) dalam penelitiannya tentang hubungan antara individu dan keluarga dengan faktor tingkat psikososial dan perilaku
seksual pada 325 remaja usia 10-18 tahun di Kenya menjelaskan bahwa laki-laki usia muda lebih cenderung melakukan hubungan seksual berisiko dibandingkan dengan perempuan. Laporan UNFPA menyebutkan bahwa ketidaksamaan gender, praktik pernikahan dini, kekerasan seksual dan pencarian perempuan yang lebih muda dan bebas HIV oleh laki-laki dewasa, menambah risiko bagi perempuan muda di daerah sub Sahara Afrika (UNFPA, 2001).
2) Umur
Menurut Marr, L (1998) Sebagaimana disebutkan pada framework oleh Boerma
& Weir, umur merupakan salah satu underlying determinan terhadap infeksi HIV.
Delapan puluh lima persen (85%) orang yang didiagnosis IMS berusia antara 14-30 tahun. Hal ini mungkin disebabkan pada usia ini dimulainya keingin-tahuan tentang seks pada usia remaja dan dewasa muda. Pada saat yang sama pengetahuan mereka tentang penyakit dan pencegahan IMS sangat minim. Pada kasus ini umur bisa merupakan faktor risiko yang mendasar (underlying determinants) ( Wahyuni D.T , 2015).
Hasil Survey IBBS (Integrated Behaviour and Biological Survey) pada penasun di Pokhara Valley pada tahun 2016 menunjukkan sekitar 77,1% penasun melakukan hubungan seks sebelum usia 20 tahun (FHI, 2017.)
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Erledis Simajuntak tahun 2010 di RSU Haji Adam Malik Medan, menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara umur dan HIV/AIDS pada tingkat kepercayaan 95% pada variable
kelompok umur 15-24 tahun, 25-34 tahun, 35-44 tahun (P:0,000), dan jika dilihat dari nilai OR, maka usia yang paling beresiko terhadap HIV/AIDS adalah umur 25-34 tahun (OR=23,100), 15-24 tahun (OR=6,346), 35-44 tahun (OR=4,641).
Hasil penelitian yang dilakukan Oleh Rokhmah, D pada tahun 2014 menyatakan bahwa data HIV/AIDS berdasarkan kelompok umur menunjukkan bahwa, kasus HIV/AIDS Kabupaten Jember di dominasi oleh mereka yang berusia produktif dan usia seksual aktif yaitu usia 29-49 tahun. Usia produktif dan seksual aktif dapat menularkan HIV/AIDS secara lebih mudah melalui hubungan seksual.
3) Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu karakteristik individu yang menjadi variabel yang paling sering dihubungkan dengan kejadian suatu penyakit, termask IMS dan HIV. Hasil Survey IBBS pada penasun di Pokhara Valley pada tahun 2009 menunjukkan bahwa penasun yang tidak bisa baca-tulis beresiko 20 kali terinfeksi HIV dibandingkan penasun yang bisa baca-tulis (FHI, 2009). Survey IBBS pada penasun di Pokhara Valley pada tahun 2016 menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan terhadap infeksi HIV sekitar 74,7%. (FHI, 2017).
Penelitian yang dilakukan oleh Erledis Simajuntak tahun 2010 RSU Haji Adam Malik Medan, menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dan HIV/AIDS (P<0,05), dimana nilai OR berpendidikan SD (nilai OR=40,500), berpendidikan SLTP (OR=8,357), dari hasil analisis disimpulkan bahwa semakin rendah pendidikan, maka semakin tinggi risiko menderita HIV/AIDS.
4) Status Perkawinan
Studi-studi tentang hubungan berbagai faktor risiko terhadap kejadian infeksi HIV telah bayak dilakukan. Hasil Survey IBBS (Integrated Behaviour and Biological
Studi-studi tentang hubungan berbagai faktor risiko terhadap kejadian infeksi HIV telah bayak dilakukan. Hasil Survey IBBS (Integrated Behaviour and Biological