Menjabarkan detail penting proyek beserta kritik dan saran yang dibutuhkan untuk kelangsungan studi selanjutnya.
BAB 2
GAMBARAN UMUM PROYEK
2.1 Latar Belakang Pembangunan Proyek
Proyek pembangunan Apartemen Kemang View di Jalan Raya Pekayon, kota Bekasi menjadi salah satu program pengembangan kota yang mengarah pada hunian bangunan tinggi serta merupakan investasi yang baik bagi kota Bekasi sebagai salah satu kota yang memiliki pertumbuhan yang cukup pesat.
Hunian apartemen terus menjadi daya tarik dalam pertumbuhan kota yang semakin rapat dan ditengah sulitnya menemukan hunian pada lahan cukup luas di daerah perkotaan. Pembangunan Apartemen Kemang View bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hunian dikawasan Bekasi sekaligus memiliki tujuan komersial.
Lokasi Apartemen pun tidak sulit dijangkau karena berada tepat di depan tol Jakarta-Cikampek sehingga menjadi lokasi yang banyak diminati para investor dari kemudahan akses. Proyek Apartemen Kemang View mulai dilaksanakan mulai 12 November 2012 dan direncanakan akan selesai pada 27 Juli 2014. dengan luas bangunan sebesar 1,45 Ha. Proyek Pembangunan Apartemen Kemang View dilaksanakan oleh PT. Pembangunan Perumahan (PP) Divisi IV cabang Jawa Barat yang di pimpin oleh Manajer Proyek Wahyu Triyanto, ST.
Gambar 2.1 Apartemen Kemang View Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
2.2 Deskripsi Umum Proyek
Nama Proyek : Apartemen dan Hotel Kemang View Bekasi
Lokasi : Jl. Raya Pekayon Jaya. RT/RW 001/004. Kel. Pekayon Jaya-Bekasi Selatan. Kota Bekasi
Pemberi Tugas : PT. Anugrah Duta Mandiri Izin (No. IMB) : 503/0534/IB/BPPT/XII/2012 Konsultan Struktur : PT. Adinata Surya Pratama Konsultan M&E : PT. Adhicipta Prajawidya Konsultan Arsitektur : X | Y Architects
Konsultan Pengawas : PT. Anugrah Duta Mandiri
Konsultan Pelaksana : PT. Pembangunan Perumahan (PP) Nilai Kontrak : Rp119.504.224.000,00 (include PPN)
Mata Uang : Rupiah
Waktu Pelaksanaan : 630 Hari Kalender (21 Bulan) 12 Bulan Pek. Struktur
14 Bulan Pek. Arsitektur (Overlap 5 Bulan dengan Pek. Struktur) Dari 12 November 2012 – 27 Juli 2014
Cara Pembayaran : Monthly Progress Payment
Project Manager : Wahyu Triyanto, ST
Site Engineering Manager : Astri Oktaviani, ST
Site Administration Manager : Yulia Indriani D, SE
Site Operation Manager : Hendrajat, ST
Tipe Kontrak : Lump Sum Fixed Price
Retensi : 5% × Rp119.504.224.000,00 = Rp5.975.212.200,00
2.3 Lingkup Umum Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang terdapat pada Proyek Pembangunan Apartemen Kemang View secara umum meliputi:
a. Survai lokasi
b. Penyelidikan tanah dan perbaikan tanah
c. Pengadaan fasilitas sarana dan prasarana proyek. 2. Pekerjaan Struktur yang meliputi:
a. Pekerjaan Tanah
i. Dewatering Air Tanah
ii. Galian Basement
b. Pekerjaan Struktur Bangunan Bawah
i. Pengerjaan Sub Struktur Semi Basement 1 lantai ii. Pekerjaan Lantai Kerja
c. Pekerjaan Struktur Bangunan Atas
i. Pengerjaan Lantai Tipikal sampai 22 lantai ii. Pekerjaan Atap (Mahkota), Lift, dan Tangga d. Pekerjaan Struktur Kolam Renang
e. Pekerjaan Struktur Pelengkap (Canopy, Duct House dan Summpit) f. Pekerjaan Teknik Lingkungan: Pengerjaan Sub Struktur Sewage
Treatment Plant (STP), Ground Water Tank (GWT) dan Power
House
3. Pekerjaan Arsitektur yang meliputi: a. pekerjaan dinding
b. pekerjaan dinding pracetak c. pekerjaan partisi
d. pekerjaan lantai e. pekerjaan plafond
f. pekerjaan opening pintu dan jendela g. pekerjaan railing
h. pekerjaan sanitary
i. pekerjaan lain-lain (meja beton pracetak)
4. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal (M/E) yang meliputi : a. Pemasangan Air Conditioner (AC)
c. Pemasangan Plumbing untuk Air Bersih, Air Kotor dan Air Flushing/Gardening
d. Pemasangan Alarm Keselamatan e. Pemasangan Sistem Elektrikal f. Pemasangan Lift
5. Pekerjaan Landscape a. Pembuatan Taman b. Pembuatan Boulevard
2.4 Data Teknis dan Peta Lokasi
Struktur terdiri dari :
o Semi Basement
o Ground Floor
o Upperground Floor
o Lantai 1, 2, 2A, 3, 3A, 5, 5A, 6, 7, 8, 8A, 9, 10, 11, 12, 12A, 15, 16, 17, 18
o Mahkota Penggunaan :
o Hunian Apartemen
o Hotel (dalam Apartemen terdapat area yang dijadikan sebagai Hotel)
o Pertokoan serta Commercial Building lainnya
Gross Area: 1,45 Ha = 14.500m2
Kondisi Eksisting
Pada tanggal 17 Juni 2013 kondisi eksisting yang terdapat di lokasi proyek pembangunan meliputi :
Fasilitas karyawan seperti site office, kantor pemasaran, kantor
owner, kantor subkontraktor, sistem penyediaan air bersih, dan
genset.
Pekerjaan struktur bawah (ba sement) sudah selesai dikerjakan. Pekerjaan struktur atas dilakukan pertahapan.
Gambar 2.2 Peta Lokasi Sumber: Google Map, 2013
BAB 3
METODE KONSTRUKSI
3.1 Deskripsi Umum
Proyek pembangunan Apartemen Kemang View di jalan raya Pekayon, kota Bekasi menjadi salah satu program pengembangan kota yang mengarah pada hunian bangunan tinggi serta merupakan investasi yang baik bagi kota Bekasi sebagai salah satu kota yang memiliki pertumbuhan yang cukup pesat. Apartemen Kemang View merupakan proyek bangunan tipikal. Untuk mengerjakan proyek ini, pihak owner yakni PT. Anugrah Duta Mandiri, menunjuk kontraktor yang memenuhi kriteria.
Setelah dilakukan seleksi oleh owner, maka diperoleh kontraktor terpilih untuk mengerjakan proyek ini. Kontraktor yang menangani ialah PT Pembangunan Perumahan atau yang biasa disebut PT. PP (Persero) Tbk. dengan status sebagai kontraktor struktur atas. Struktur Bawah pondasi telah dikerjakan sebelum pelelangan oleh pihak owner dengan kontraktor lainnya. Setelah PT. PP (Persero) Tbk. terpilih, maka selanjutnya dilakukan rapat koordinasi dengan pihak
owner. Rapat ini secara umum membahas mengenai detail pekerjaan teknis dan
aspek manajemen proyek antara owner dengan PT. PP (Persero) Tbk. Dengan adanya rapat koordinasi ini, maka:
Tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak jelas;
Menyatukan persepsi antara kontraktor dengan owner dalam hal perencanaan pembangunan;
Membahas detail aspek manajemen proyek kosntruksi; Menentukan metode konstruksi yang tepat.
Rapat koordinasi antara PT. PP (Persero) Tbk.; dengan pemenang pelelangan lainnya yang mengangani pekerjaan pembangunan STP, Mekanikal dan Elektrikal, serta dengan owner proyek membahas detail alur prosedur kerja yang digunakan selama pekerjaan konstruksi berlangsung sampai dengan proses serah terima kepada owner.
3.1.1 Pengantar Metode Konstruksi
Setelah proses serah terima tentunya kontraktor akan memulai pekerjaan dengan menggunakan metode konstruksi yang dinilai paling efisien. Setiap kontraktor memiliki metode konstruksi yang berbeda-beda, bergantung kepada metode dan cara kerja masing-masing perusahaan. Metode yang digunakan untuk suatu pekerjaan konstruksi dapat berbeda dengan metode lainnya. Pada umumnya, kontraktor menerapkan metode konstruksi tergantung kepada mutu pekerjaan yang diinginkan, waktu pekerjaan yang diperbolehkan, biaya yang tersedia, dan spesifikasi teknis yang disyaratkan. Dengan adanya metode pekerjaan, pihak
owner dapat melakukan penilaian terhadap kinerja kontraktor dengan harapan jika
hasil pekerjaan sesuai keinginan dan metode kerja yang dilakukan.
Inovasi yang dilakukan PT. PP pada proyek Apartemen Kemang View ini adalah inovasi menggunakan metode pracetak (precast). Akhir–akhir ini sering sekali metode pracetak (precast) digunakan pada pekerjaan struktur dalam bidang teknik sipil di Indonesia. Hal ini dilakukan karena semakin besarnya tuntutan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang efisien. Metode pracetak (precast) memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan dibandingkan metode cor setempat
(cast in site). Metode precast sangat cocok untuk diaplikasikan pada jumlah
pemakaian elemen yang semakin banyak dengan tipe yang berulang (tipikal).
3.1.2 Metode Pengaturan Organisasi Proyek
Dalam hal sumber daya manusia, PT. PP membagi tugas yang tetap dipimpin oleh 1 Project Manager dengan 3 Site Manager, diantaranya: Site
Engineering Manager (SEM), Site Administration Manager (SAM), dan Site
Operation Manager (SOM). Pada setiap Site Manager memiliki perbedaan dalam
tugas dan tanggung jawab namun tetap saling bekerjasama. SEM membawahi bidang-bidang seperti : Perencanaan Teknik & Material, Perencanaan Biaya & Administrasi Kontrak, Quantity Surveyor, Drafter, Logistik, dan Peralatan. SOM atau Site Operation Manager membawahi Genera l Superintendent yang langsung memerintah Superintendent lalu dibawahnya ada Surveyor yang memiliki
Manager membawahi bagian-bagian yaitu : Keuangan, Akuntansi, Umum, SDM,
dan Office Boy.
Gambar 3.1 Struktur Organisasi Proyek Apartemen Kemang View Bekasi Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
3.1.3 Durasi Waktu Pelaksanaan Pekerjaan
Proyek Kemang View Apartement akan dikerjakan dalam waktu 630 hari kalender (21 bulan) atau 89 minggu menurut kalender. Periode ini dibagi menjadi dua bagian yaitu 12 bulan untuk pekerjaan struktur sedangkan 14 bulan untuk pekerjaan arsitektur dengan overlap lima bulan. Ketika lima bulan terakhir menuju penyelesaian pekerjaan struktur maka dimulai pekerjaan arsitektur hingga berlangsung selama 14 bulan.
Kontraktor, yaitu PT. PP (Persero) Tbk. tidak menangani untuk pemancangan pondasi. Pemancangan pondasi menjadi tanggung jawab owner. Dalam pelaksanaannya, pemancagan pondasi berjalan paralel dengan pekerjaan awal struktur bawah. Di proyek ini, wilayah kerja terbagi menjadi 4 zona. Pembagian zona pekerjaan dibagi berdasarkan kesiapan lahan yang telah dipancang oleh Pihak Owner.
3.1.4 Rencana Penggunaan Alat Konstruksi
Detail mengenai peralatan konstruksi dan material yang digunakan pada proyek ini akan dijelaskan selanjutnya pada bagian tersendiri, tetapi pada sub-bab ini dijelaskan terlebih dahulu, sebagai pengantar saja. Jenis-jenis alat yang digunakan pada proyek ini adalah sebagai berikut:
Tower Crane Gantry Crane Excavator Concrete Pump Concrete Mixer Dump Truck Bucket Lift barang
Peralatan Survey (theodolit, waterpa ss, total station, dan lainnya ) Peralatan lainnya yang terkait.
Tower Crane nantinya akan diletakan di kedua titik yang berbeda yaitu di
sebelah utara proyek dan di bagian selatan. Tower Crane di bagian selatan diletakkan tepat di sebelah utara dari Tower Apartemen bagian C dengan tujuan agar penggunaan Tower Crane maksimal di semua titik yang dijangkau.
Gambar 3.2 Penggunaan Excavator dan DumpTruck Sumber: Dokumentasi PT.PP (Persero) Tbk., 2013
Dengan meletakkan Dump Truck di wilayah sudut swing bucket dari Excavator kisaran 45o - 90o bisa mengurangi cycle time dari Excavator hingga waktu yg digunakan untuk memuat hasil galian ke dalam Dump Truck menjadi lebih cepat.
Jalur yang dilalui Dump Truck juga diperhatikan agar menghasilkan produk galian yang optimal. Dari arah Dump Truck datang, lalu parkir dan kembali pergi untuk membuang hasil tanah galian ke disposal area.
Gambar 3.3 Jalur Datang dan Pergi Dump Truck untuk hasil galian yang optimal Sumber: Dokumentasi PT.PP (Persero) Tbk., 2013
3.2 Pekerjaan Pendahuluan
Pekerjaan pendahuluan pada proyek pembangunan Apartemen Kemang View di jalan raya Pekayon, kota Bekasi ini merupakan tahap pekerjaan paling awal dalam rangkaian proyek konstruksi. Pada pembahaan laporan ini, pekerjaan pendahuluan telah salesai dikerjakan saat dimulainya masa studi kerja praktek sehingga sumber data yang kami peroleh berasal dari pihak-pihak terkait pekerjaan tersebut dengan menggunakan metode wawancara. Pekerjaan pendahuluan meliputi: survai lokasi, penyelidikan tanah dan perbaikan tanah, pengadaan fasilitas sarana dan prasarana proyek.
3.2.1 Survai Lokasi
Pekerjaan survai lokasi proyek merupakan suatu pekerjaan yang bertujuan untuk melakukan penentuan teknis mengenai:
Perhitungan luasan lahan suatu proyek secara menyeluruh;
Menentukan elevasi muka tanah suatu proyek relatif terhadap elevasi jalan raya terdekat;
Zoning pekerjaan;
Lokasi bangunan relatif terhadap koordinat lokal dan koordinat global; Faktor teknis lainnya yang berhubungan dengan kegiatan surveying.
Kegiatan survai biasa dilakukan setelah kegiatan pembersihan lahan atau biasa disebut land clearing. Kegiatan I ni umum dilakukan pada suatu proyek karena umumnya lokasi awal lahan suatu proyek biasa ditumbuhi tanaman ataupun sisa dari bangunan yang pernah berdiri sebelumnya.
Pada proyek Apartemen Kemang View ini, dilakukan pekerjaan land
clearing secara menyeluruh. Lahan yang digunakan proyek ini pada sebelumnya
sebagian adalah perumahan tua dan sebagian adalah lahan kosong bekas taman sehingga hanya ditumbuhi oleh tanaman-tanaman kecil dan beberapa pepohonan. Pengupasan lapisan tanah humus juga perlu sedikit dilakukan pada proyek ini karena tanah di lokasi ini cukup lama ditinggalkan sehingga ditumbuhi oleh tanaman namun pengupasan dilakukan dengan metode manual karena tanah masih relatif baik untuk proyek seperti tanah-tanah pada lokasi proyek di kota-kota pada umumnya.
Pekerjaan survai yang cukup penting adalah zoning pekerjaan. Pada tahap ini, zoning pekerjaan dibagi berdasarkan kesiapan lahan yang telah dipancang oleh Pihak Owner. Adapun Pembagian zona dibagi menjadi 4 bagian, yaitu
Pekerjaan survai lokasi dilakukan setelah gambar desain rencana awal proyek telah dikeluarkan. Dari gambar inilah, para surveyor akan melakukan kegiatan ma rking lokasi proyek berdasarkan gambar rencana proyek. Peran
surveyor sangat penting pada hal ini. Surveyor harus memastikan lokasi pekerjaan
proyek sesuai dengan lokasi gambar kerja yang sudah disetujui pihak owner. Zona 1 Tower A & Podium
Zona 2 Tower B Zona 3 Podium Zona 4 Tower C
Gambar 3.4 Zoning Pekerjaan Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Peralatan konstruksi yang umumnya digunakan pada fase pekerjaan ini adalah: theodolit, total station, leveling, rambu, waterpass, dan peralatan survai lainnya. Pekerjaan survai biasanya melibatkan sistem koordinat lokal dan global. Sistem koordinat ini dimaksudkan untuk membantu tim surveyor dalam melaksanakan pekerjaannya. Biasanya sistem koordinat lokal diberikan dari pemerintah daerah setempat dengan dikeluarkannya denah situasi koordinat jalan raya yang dekat dengan lokasi proyek tersebut. Dengan keluarnya denah situasi ini, pihak surveyor dapat melakukan kalkulasi terhadap koordinat lokasi proyek dan memenuhi syarat administrasi yang diterapkan berupa: Garis Sepadan Bangunan (GSB), Koefisien Dasar Bangunan (KDB), dan Garis Sepadan Jalan (GSJ).
3.2.2 Penyelidikan Tanah dan Perbaikan Tanah
Penyelidikan tanah merupakan tahapan awal dan paling penting dalam sebuah proyek konstruksi, terutama proyek konstruksi yang memiliki berat struktur tinggi. Setidaknya, terdapat beberapa faktor yang menjadi alasan
dilakukannya suatu penyelidikan tanah untuk suatu pekerjaan proyek konstruksi. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
Untuk mengetahui urutan, ketebalan lapisan tanah suatu lokasi, dan terutama daya dukung tanah;
Memperoleh contoh tanah yang dianggap dapat mewakili kondisi tanah lapangan. Contoh tanah ini kemudian diuji oleh sejumlah pengujian laboratorium yang sesuai;
Mengetahui kedalaman lapisan tanah keras yang nantinya berperan dalam penentuan dimensi dan jenis dari pondasi yang digunakan;
Mempelajari perilaku tanah di lokasi proyek dengan melakukan pengujian lapangan;
Penyelidikan tanah juga berfungsi untuk mempelajari kemungkinan terjadinya masalah yang berkaitan dengan kondisi tanah di lokasi tersebut.
Penyelidikan tanah pada proyek Apartemen Kemang View yang kami dapat juga merupakan data hasil wawancara dan tidak melalui penyelidikan langsung dikarenakan pekerjaan struktur bawah dari bangunan sudah selesai dikerjakan oleh owner. Pengujian yang umum dilakukan adalah uji sondir dan uji Bor dalam. Pengujian tersebut akan memperoleh sampel tanah baik disturbed maupun undisturbed guna penyelidikan tanah lanjutan melalui test laboratorium diantaranya Triaxial Test untuk mengetahui sudut geser tanah dan nilai kohesi tanah sehingga dapat mengetahui karakteristik tanah dan pola keruntuhannya. Uji Laboratorium lainnya yakni Uji Konsolidasi untuk mendapatkan nilai koefisien konsolidasi yang nantinya nilai koefisien tersebut dapat digunakan untuk mengetahui besar penurunan bangunan atau konsolidasi yang dapat diartikan sebagai peristiwa penyusutan volume secara perlahan pada tanah jenuh sempurna dengan permeabilitas rendah akibat pengaliran sebagian air pori dari tanah akibat dibebani oleh struktur bangunan. Besar penurunan ini perlu ditentukan guna mengantisipasi masalah penurunan pondasi akibat beban struktur yang besar terutama pada tanah yang ditimbun.
Pengujian sondir bertujuan untuk mengetahui tahanan friksi dari tanah dan tahanan ujung dari tanah. Dengan pengujian sondir ini, dapat diketahui kedalaman tanah keras yang merupakan tempat bertumpunya pondasi. Hasil dari pengujian sondir menunjukan jika penetrasi konus berhenti pada nilai qc (cone
resistance) = 150 kg/cm2 dan nilai qt (total resista nce) = 250 kg/cm2 berarti telah
mencapai tanah keras sehingga selanjutnya dapat ditentukan Fs untuk menentukan Hambatan Pelekat (HP) dan Jumlah Hambatan Pelekat (JHP) serta persen
Friction Resistance (FR). Nilai-nilai tersebut digunakan untuk memperoleh
klasifikasi tanah Untuk nilai sondir di titik lainnya, dalam percobaan ada kemungkinan perbedaan nilai qc dan qt akibat karakteristik alamiah tanah yang tidak sama di semua titik.
Pengujian sondir terbatas pada kedalaman 20 meter dan pengujian ini “diragukan” jika terdapat lensa (lapisan tanah keras semu) karena penetrasi konus bisa saja membaca lensa tersebut sebagai tanah keras. Untuk itulah dilakukan pengujian perbandingan lainnya, yaitu pengujian bor dalam (Standard Penetration
Test / SPT). Pengujian bor dalam sendiri bertujuan untuk mengambil sampel tanah
tak terganggu (undisturbed sample) dan mengetahui kedalaman tanah keras dengan nilai pukulan per 15 cm penurunan (NSPT). Pengujian bor dalam mampu menembus lensa dan kedalamannya bisa mencapai 50 meter lebih, sehingga kondisi tanah dapat tergambarkan lebih dalam di sini.
Hasil pengujian sondir dan bor dalam ini kemudian digunakan tim konsultan struktur untuk dapat merencanakan beban struktur yang mampu ditahan tanah dan jenis pondasi yang cocok digunakan pada bangunan ini. Selain itu hasil ini juga digunakan untuk menentukan spesifikasi dari detail pondasi yang akan digunakan. Contohnya saja: jika hasil sondir berhenti pada kedalaman 13 meter, maka rencana panjang tiang pancang / tiang bor yang digunakan juga akan berkisar di nilai 13 m atau lebih.
Hal lain yang juga dapat dihasilkan dari pengujian ini, baik sondir maupun bor dalam, yakni dapat mengetahui elevasi muka air tanah (ground water
level). Padaproyek Apartemen Kemang View ini, elevasi muka air tanah (ground
water level) ditemukan pada kedalaman 2 meter dari permukaan. Data ini
3.2.3 Pelaksanaan Fasilitas Sarana dan Prasarana Proyek
Secara umum, fasilitas proyek merupakan sarana penunjang yang dibangun sementara untuk pihak-pihak terkait untuk memperlancar pekerjaan konstruksi. Tata letak lapangan merupakan hal penting dalam perencanaan lapangan pada suatu proyek konstruksi. Tujuan perencanaan lapangan adalah untuk menempatkan fasilitas-fasilitas penunjang proyek seperti gudang, direksi keet, dan barak pekerja pada lokasi yang tepat; sehingga penempatan tersebut dapat optimal dalam arti jarak tempuh antara fasilitas yang satu dengan fasilitas lainnya dapat diminimalisasikan.
Fasilitas Sarana dan Prasarana meliputi : - Kantor Pemasaran
- Pintu Masuk Proyek - Pos Security
- Parkir Kendaraan Proyek
- Tower Crane
- Los Pracetak - Pagar Proyek
- Los Besi dan Penyimpanan Besi - Kontraktor Keet - Toilet - Gudang Tertutup - Los Logistik - Alimax - Penyimpanan Solar - Los Kerja Kayu - Jalan Akses - Toilet Pekerja
Gambar 3.5 Fasilitas SiteManagement pada Semi Basement Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.6 Tampak Depan Direksi Keet Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.7 Ruang Rapat Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.8 Areal Kantor Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.9 Areal Direksi Keet Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
3.3 Pekerjaan Struktur Bawah
Dalam pekerjaan Struktur bawah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa hasil tulisan yang kami buat sepenuhnya berdasarkan survai/wawancara kami tanpa melihat langsung proses pengerjaan dikarenakan kegiatan kerja praktek dimulai ketika pekerjaan struktur bawah telah selesai di kerjakan.
Proyek pembangunan Apartemen Kemang View di jalan raya Pekayon, kota Bekasi ini menggunakan sistem pondasi yang terdiri dari Pile Cap,Tie Beam dan tiang pancang yang menggunakan alat pancang Hydraulic Jack. Penggunaan tiang pancang dikarenakan daya dukung tanah yang cukup tinggi dan kedalaman tanah keras yang relatif dangkal. Alat pancang Hydraulic Jack digunakan dikarenakan lokasi proyek sangat dekat dengan pemukiman warga sehingga menyebabkan kebisingan bila menggunakan alat pancang biasa.
3.3.1 Pekerjaan Pemancangan
Berikut data mengenai jumlah tiang pancang yang diperoleh dari PT. PP (Persero) Tbk.:
Pile Cap Type PC1 (TP 300×300, L = 23m) ada 46 tiang
Pile Cap Type PC2 (TP 300×300, L = 23m) ada 196 tiang
Pile Cap Type PC3 (TP 350×350, L = 23m) ada 36 tiang
Pile Cap Type PC3A (TP 400×400, L = 23m) ada 6 tiang
Pile Cap Type PC4A (TP 400×400, L = 23m) ada 56 tiang
Pile Cap Type PC4B (TP 400×400, L = 23m) ada 459 tiang + (TP
350×350, L=23m) ada 153 tiang
Pile Cap Type PC5A (TP 400×400, L = 23m) ada 195 tiang
Pile Cap Type PC6A (TP 400×400, L = 23m) ada 54 tiang
Pile untuk STP + GWT (TP 350×350, L = 23m) ada 20 tiang
Pile Cap Type PL8 (TP 350×350, L = 23m) ada 8 tiang
Pile Cap Type PL9 (TP 350×350, L = 23m) ada 12 tiang + (TP 400×400,
L=23m) ada 6 tiang
Pile Cap Type PL9A (TP 350×350, L = 23m) ada 6 tiang + (TP 400×400,
L=23m) ada 3 tiang
Pile Cap Type PL10 (TP 350×350, L = 23m) ada 5 tiang + (TP 400×400,
Paling tidak terdapat 1278 titik tiang pancang yang masing-masing titik dikelompokkan menjadi kelompok tiang dalam denah pemancangan pada Gambar 3.10 berikut.
Gambar 3.10 Denah Tiang Pancang Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Urutan pekerjaan pemancangan yaitu - Survai letak koordinat tiang pancang; - Pembuatan denah tiang pancang;
- Penentuan titik pancang di lapangan dengan pemberian tanda; - Pemancangan tiang berdasarkan urutan.
Hal-hal yang perlu diingat dalam pekerjaan tiang pancang antara lain: - Pengerjaan pemancangan sesuai Zona yang telah ditentukan supaya
tidak terjadi kesulitan saat memancang bagian tengah. Urutan pemancangan dimulai dari Zona 1, Zona 2, Zona 3, dan Zona 4.
Gambar 3.11 Zona Pemancangan Tiang Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
- Penentuan titik dilapangan umumnya menggunakan tali tipis yang dipaku dua arah menjadi potongan persegi supaya letak tiang lebih presisi.
- Panjang tiang 23m di bagi menjadi dua tiang yang dilas, 12m + 11m.
- Alat yang digunakan berupa Mobile Crane dan Hydraulic Jack.
3.3.2 Metode Pemancangan
Metode pemancangan dapat di jabarkan dalam langkah-langkah berikut ini:
a. Pertama, tiang pancang bagian bawah (bottom) 11 m yang telah diangkut oleh Mobile Crane menuju dekat titik pemancangan tiang, dipasang pelindung pada kepala tiangnya karena di bagian itulah akan ditekan oleh alat Hydraulic Jack. Tiang diangkat kembali pada bagian titik pengangkatannya yaitu pada posisi 0.2 sekaligus ditegakkan. Jarak 0,2 adalah jarak ideal untuk titik pengangkatan tiang untuk mengantisipasi tiang
patah. Dalam mengangkat tiang, perlu juga diperhatikan agar tiang tidak bertabrakan dengan tiang lain atau benda lain.
b. Kemudian, tiang diangkut menuju titik pemancangan yang ditandai oleh paku bertali. Posisi tiang pancang dipastikan tidak berdekatan dengan tiang pancang di sebelahnya. Foremen (pekerja) menggunakan besi dengan panjang 1 meter untuk mengukur jarak tiang yang akan dipancang terhadap