UNIVERSITAS INDONESIA
PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMEN KEMANG VIEW, BEKASI PT. PP (PERSERO) TBK.
LAPORAN KERJA PRAKTIK
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Kerja Praktik
Alan Agustian Teknik Sipil 1006659634
Nirmala Teknik Sipil 1006771232
Sesaria Marina Raissa Teknik Lingkungan 1006680985
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
DEPOK DESEMBER
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Laporan Kerja Praktik ini adalah hasil karya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.
Nama : Alan Agustian NPM : 1006659634 Tandatangan :
Tanggal : Desember 2013
Nama : Nirmala NPM : 1006771232 Tandatangan :
Tanggal : Desember 2013
Nama : Sesaria Marina Raissa NPM : 1006680985
Tandatangan :
KATA PENGANTAR/ UCAPAN TERIMA KASIH
Terpujilah Tuhan yang karena-Nya segala hikmat kebijaksanaan, pemeliharaan, serta kesempatan, kami dapat menyelesaikan laporan kegiatan kerja praktek ini tepat pada waktunya. Penulisan laporan ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada program studi Teknik Sipil – Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Tentu kami tidak mungkin dapat menyelesaikan laporan ini tanpa bimbingan, bantuan, serta semangat dari berbagai pihak. Melalui ini, kami dengan bangga mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Dr. Ir. Heru Purnomo, selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran untuk kami dalam memberi arahan, memberi koreksi, menegur bahkan mendewasakan kami demi terselesaikannya laporan ini;
(2) PT. Pembangunan Perumahan (PP) yang bersedia menerima kami sebagai peserta kerja praktek. Kami banyak belajar dari seluruh rangkaian kegiatan serta bimbingannya, senior-senior kami di lapangan. Secara khusus kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Astri Oktaviani selaku Site Engineering
Manager (SEM) pada proyek Apartemen Kemang View, Bekasi.
Bimbingan yang ibu berikan akan terus kami pegang serta kami praktikkan saat kami bekerja nanti.
(3) Seluruh tim dosen dan staf di Departemen Teknik Sipil, Universitas Indonesia; terima kasih atas segala ilmu yang telah diberikan;
(4) Teman-teman Departemen Teknik Sipil 2010, terima kasih buat kebersamaan kita selama ini;
Akhir kata, semoga Tuhan semakin memberikan berkat-berkatnya bagi kalian semua. Seluruh harapan kami adalah penulisan laporan akhir kegiatan kerja praktek ini dapat berguna bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan.
ABSTRAK
Judul Laporan : Laporan Kegiatan Kerja Praktek di Pembangunan Apartemen Kemang View, Bekasi
Pembangunan Apartemen Kemang View merupakan salah satu program pengembangan kota Bekasi untuk perumahan tinggi. Pembangunan terbagi dalam pekerjaan struktur bawah yakni menggunakan tiang pancang, pekerjaan struktur atas yakni beton bertulang pada bangunan tipikal, serta pekerjaan fasilitas lainnya terkait proyek ini. Laporan kegiatan ini meneliti sekaligus membahas hal-hal mengenai proses kegiatan pembangunan baik dari segi struktural maupun dari segi managemen proyek dan kajian lingkungan secara keseluruhan.
Kata kunci: Apartemen, Beton Bertulang, Lingkungan, Managemen Proyek, Pembangunan, Struktur Atas, Struktur Bawah, Tiang Pancang
ABSTRACT
Title: Internship Report in Kemang View Apartment Construction, Bekasi
Kemang View Apartment Construction is one of the construction project of high rise building in Bekasi city. This construction is divided into three phases: lower structure using piles, upper structure with reinforced concrete, and other facilities related to this project. This report examines the project activities and to discuss the construction process in terms of structure and project management with overall environmental assessment.
DAFTAR ISI
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
KATA PENGANTAR/ UCAPAN TERIMA KASIH ... III ABSTRAK ... IV
BAB 2 GAMBARAN UMUM PROYEK ...6
2.1 LATAR BELAKANG PEMBANGUNAN PROYEK ...6
2.2 DESKRIPSI UMUM PROYEK ...7
2.3 LINGKUP UMUM PEKERJAAN ...7
2.4 DATA TEKNIS DAN PETA LOKASI ...9
BAB 3 METODE KONSTRUKSI ... 11
3.1 DESKRIPSI UMUM ... 11
3.1.1 Pengantar Metode Konstruksi... 12
3.1.2 Metode Pengaturan Organisasi Proyek ... 12
3.1.3 Durasi Waktu Pelaksanaan Pekerjaan ... 13
3.1.4 Rencana Penggunaan Alat Konstruksi ... 14
3.2 PEKERJAAN PENDAHULUAN ... 15
3.2.1 Survai Lokasi ... 15
3.2.2 Penyelidikan Tanah dan Perbaikan Tanah... 17
3.2.3 Pelaksanaan Fasilitas Sarana dan Prasarana Proyek ... 20
3.3 PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH... 22
3.3.1 Pekerjaan Pemancangan ... 23
3.3.2 Metode Pemancangan ... 25
3.3.3 Pengujian Tiang Pancang ... 28
3.3.4 Pekerjaan Penggalian Tanah ... 29
3.3.5 Pekerjaan Pile Cap dan Tie Beam ... 29
3.3.6 Pekerjaan Pengecoran ... 31
3.4 PEKERJAAN STRUKTUR ATAS ... 32
3.4.1 Pekerjaan Kolom... 32
3.4.1.2 Pekerjaan Ketikan dan Setelah Pengecoran ... 40
3.4.2 Pekerjaan Balok dan Pelat Lantai ... 44
3.4.2.1 Pemasangan Perancah ... 46
3.4.2.2 Pembuatan Bekisting ... 46
3.4.2.3 Pembesian ... 48
3.4.2.4 Pengecoran ... 49
3.4.2.5 Lepas Shoring ... 51
3.4.2.6 Curing Beton ... 53
BAB 4 MANAJEMEN PROYEK ... 55
4.1 MANAJEMEN WAKTU PROYEK ... 55
4.1.1 S-Curve ... 55
4.1.2 Milestones... 55
4.1.3 Estimasi Waktu ... 55
4.1.4 Kontrol Jadwal ... 55
4.2 MANAJEMEN KUALITAS PROYEK ... 56
4.2.1 Standar Kualitas Produk dan Perencanaan Kualitas ... 56
4.2.2 Spesifikasi ... 56
4.2.3 Diagram Alir Perencanaan dan Kontrol Kualitas ... 68
4.2.4 Penerapan Kontrol Kualitas ... 73
4.3 MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA PROYEK ... 75
4.3.1 Sumber Daya Manusia yang Dibutuhkan (Human Resources Planning) ... 75
4.3.2 Struktur Organisasi ... 76
4.3.3 Deskripsi Kerja ... 77
4.3.4 Pengembangan Tim ... 79
4.3.5 Kinerja Anggota Tim ... 80
4.4 MANAJEMEN RESIKO PROYEK ... 81
4.4.1 Identifikasi Resiko ... 81
4.4.2 Kualitas dan Kuantitas Resiko ... 84
4.4.3 Rencana Respon Resiko ... 87
4.4.4 Kontrol Resiko ... 95
4.5.5 Penutupan Kontrak... 98
4.6 MANAJEMEN BIAYA PROYEK ... 99
4.6.1 Estimasi Biaya ... 100
4.6.2 Penganggaran Biaya ... 101
4.6.3 Pengendalian Biaya ... 102
4.6.4 Rancangan Anggaran Biaya (RAB) ... 105
4.7 MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)PROYEK ... 105
4.7.1 Latar Belakang dan Tujuan Penerapan K3 ... 105
4.7.2 Pihak Penyelenggara K3 ... 106
4.7.3 Program Kerja K3 ... 108
4.7.5 Penerapan K3 di Lingkungan Proyek ... 118
4.7.6 Pelaporan dan Pengarsipan Kegiatan K3 ... 122
4.8 MANAJEMEN LINGKUNGAN PROYEK ... 122
4.8.1 Identifikasi Dampak Lingkungan ... 122
4.8.2 Matriks Environmental Plan ... 125
4.8.3 Penjaminan Lingkungan ... 130
4.8.4 Kontrol Lingkungan ... 130
BAB 5 PENUTUP... 131
5.1 KESIMPULAN ... 131
5.2 SARAN ... 132
DAFTAR PUSTAKA ... 134
Lampiran 1 : S-Cruve (Kurva S) ... 135
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Waktu Minimum Untuk Pembongkaran Scaffolding ... 51
Tabel 4.1 Kebutuhan Sumber Daya Manusia ... 75
Tabel 4.2 Identifikasi Resiko ... 81
Tabel 4.3 Kombinasi Resiko... 84
Tabel 4.4 Hasil Kuantifikasi Resiko ... 85
Tabel 4.5 Kode Penanganan Resiko ... 88
Tabel 4.6 Rencana Respon Resiko ... 89
Tabel 4.7 Daftar Supplier Proyek Pembangunan Apartemen Kemang View ... 97
Tabel 4.8 Dampak Proyek Terhadap Lingkungan Berdasarkan Aktivitas ... 123
Tabel 4.9 Dampak Proyek Terhadap Lingkungan Secara Umum ... 124
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Apartemen Kemang View ...6
Gambar 2.2 Peta Lokasi ... 10
Gambar 3.1 Struktur Organisasi Proyek Apartemen Kemang View Bekasi ... 13
Gambar 3.2 Penggunaan Excavator dan Dump Truck ... 14
Gambar 3.3 Jalur Datang dan Pergi Dump Truck Untuk Hasil Galian Yang Optimal ... 15
Gambar 3.4 Zoning Pekerjaan ... 17
Gambar 3.5 Fasilitas Site Management pada Semi Basement ... 21
Gambar 3.6 Tampak Depan Direksi Keet ... 21
Gambar 3.7 Ruang Rapat ... 21
Gambar 3.8 Areal Kantor ... 22
Gambar 3.10 Denah Tiang Pancang ... 24
Gambar 3.11 Zona Pemancangan Tiang ... 25
Gambar 3.12 Diagram Alir Pekerjaan Kolom ... 33
Gambar 3.13 Contoh Shop Drawing yang Digunakan ... 34
Gambar 3.14 Proses Pemasangan Tulangan Kolom ... 35
Gambar 3.15 Gambar Contoh Sepatu Kolom ... 36
Gambar 3.16 Proses Pemasangan Sepatu Kolom ... 36
Gambar 3.17 Bekisting dengan Sabuk Kolom ... 37
Gambar 3.18 Permukaan Plywood yang telah Dibersihkan ... 37
Gambar 3.19 Pemasangan Bekisting Menggunakan Tower Crane ... 38
Gambar 3.20 Tahap Pemasangan Bekisting ... 39
Gambar 3.21 Bagian Keseluruhan dari Pemasangan Bekisting ... 39
Gambar 3.22 Push And Pull pada Pipa Support ... 40
Gambar 3.23 Pengecoran Kolom ... 41
Gambar 3.24 Penuangan Ready Mix ke dalam Bucket ... 42
Gambar 3.25 Proses Penggetaran Menggunakan Internal Vibrator ... 43
Gambar 3.25 Proses Pengetokan Bekisting ... 43
Gambar 3.26 Kepala Kolom ... 44
Gambar 3.27 Diagram Alir Tahapan Pekerjaan Balok dan Pelat ... 45
Gambar 3.29 Pemasangan Scaffolding ... 46
Gambar 3.30 Gambar Potongan Bekisting Balok ... 47
Gambar 3.31 Bekisting Balok Dan Horry Beam ... 47
Gambar 3.32 Pemasangan Plywood Bekisting ... 48
Gambar 3.33 Pabrikasi Wiremesh ... 49
Gambar 3.34 Tahap Pengecoran Plat Dan Balok ... 50
Gambar 3.35 Penggunaan Trowel ... 51
Gambar 3.36 Aturan Naiknya Tingkat Sistem Perancah ... 52
Gambar 3.37 Bekisting Balok ... 53
Gambar 3.38 Proses Curing Beton ... 54
Gambar 4.1 Target Kualitas Struktur Beton Kolom ... 57
Gambar 4.2 Target Kualitas Struktur Beton Balok ... 57
Gambar 4.3 Target Kualitas Struktur Plat Balok ... 58
Gambar 4.4 Target Kualitas Pekerjaan Pemasangan Dinding Bata Ringan ... 58
Gambar 4.5 Target Kualitas Pekerjaan Plester Dinding ... 59
Gambar 4.6 Target Kualitas Pekerjaan Pembesian ... 60
Gambar 4.7 Target Kualitas Pekerjaan Perancah Shoring... 61
Gambar 4.8 Foto Pekerjaan Pembuatan I Girder ... 62
Gambar 4.9 Foto Pekerjaan Galian Tanah... 62
Gambar 4.10 Pekerjaan Timbunan ... 63
Gambar 4.11 Target Kualitas Pekerjaan Pasangan Batu ... 64
Gambar 4.12 Foto Pekerjaan Lantai Kerja ... 65
Gambar 4.13 Target Kualitas Perkerasan Kaku ... 66
Gambar 4.14 Target Kualitas Pekerjaan Kanstin ... 68
Gambar 4.15 Diagram Alir Pekerjaan Galian Biasa ... 69
Gambar 4.16 Diagram Alir dan Urutan Kerja Galian Untuk Selokan Drainase dan Saluran Air ... 69
Gambar 4.17 Diagram Alir Pekerjaan Pasangan Batu ... 70
Gambar 4.18 Diagram Alir Pekerjaan Perkerasan Berbutir ... 71
Gambar 4.19 Diagram Alir Pekerjaan Jembatan ... 71
Gambar 4.20 Diagram Alir Kontrol Kualitas Aspal ... 72
Gambar 4.21 Diagram Alir Pekerjaan Tack Coat ... 72
Gambar 4.23 Diagram Alir Quality Control Dalam Penerapan Manajemen Mutu ISO
9001-2000 ... 73
Gambar 4.24 Implementasi dan Operasi Inspection And Check List ... 74
Gambar 4.25 Diagram Alir Operasi Pelaksanaan Inspeksi ... 75
Gambar 4.26 Struktur Organisasi Proyek Apartemen Kemang View, Bekasi ... 76
Gambar 4.27 Proses Estimasi Biaya ... 100
Gambar 4.28 Proses Penentuan Anggaran ... 101
Gambar 4.29 Diagram Alir Penentuan Anggaran Biaya ... 102
Gambar 4.30 Proses Kontrol Biaya ... 102
Gambar 4.31 Diagram Alir Kontrol Biaya ... 103
Gambar 4.32 Struktur P2K3 Panitia Pembina Kesehatan dan Keselamatan Kerja ... 107
Gambar 4.33 Struktur Organisasi Tanggap Darurat... 107
Gambar 4.34 Jadwal Program She dan Housekeeping ... 110
Gambar 4.35 Jadwal She Patrol ... 110
Gambar 4.36 Peralatan Safety ... 112
Gambar 4.37 Kotak Peralatan Safety... 113
Gambar 4.38 Tempat Sampah ... 113
Gambar 4.39 Tempat Pembuangan Sampah Sementara ... 114
Gambar 4.40 Tabung Pemadam Kebakaran ... 115
Gambar 4.41 SHE Patrol ... 116
Gambar 4.42 SHE Talk ... 116
Gambar 4.43 Program Jumat Bersih ... 117
Gambar 4.44 Titik Kumpul Darurat yang Berada di Pintu Masuk Lokasi Proyek dan di Depan Direksi Keet ... 117
Gambar 4.45 Beberapa Rambu Peringatan Di Lokasi Proyek ... 118
Gambar 4.46 Safety Net Horisontal ... 119
Gambar 4.47 Safety Net Vertikal ... 119
Gambar 4.48 Kegiatan Fogging Di Lokasi Proyek ... 120
Gambar 4.49 Rambu dan Area Tempat Merokok ... 120
Gambar 4.50 Jalur Evakuasi Kantor ... 121
Gambar 4.51 Jalur Evakuasi Lapangan Lantai Semibasement ... 121
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan zaman kini menuntut seorang lulusan S1 untuk mampu menyamai perkembangan teknologi yang kian pesat. Ada pun proses penyamaan ini berupa kepemilikan akan keterampilan dan keahlian yang mampu membuat seorang lulusan S1 bersaing di dunia kerja. Selain itu, meluasnya jaringan komunikasi dan logistik saat ini akibat era globalisasi juga membuat persaingan di dunia kerja juga ikut meluas hingga jangkauan internasional. Oleh karena itu, lulusan S1 dari perguruan tinggi Indonesia diharapkan mampu menguasai ilmu serta keterampilan dalam bidang atau pun bagian yang ditekuninya. Namun, terdapat pula hal penting yang dapat meningkatkan kualitas dari seorang lulusan S1: pengalaman dan disiplin dari ilmu yang bersangkutan. Pengalaman serta disiplin ini tentunya diperoleh dari lapangan di mana prinsip dan teori selama pembelajaran di ruang kuliah diterapkan.
Berawal dari kebutuhan akan tenaga kerja yang sedemikian rupa telah disebutkan, Departemen Teknik Sipil yang membawahi program studi Teknik Sipil dan Teknik Lingkungan di Universitas Indonesia memiliki kurikulum yang mana setiap mahasiswa yang sudah menjelang tingkat akhir diwajibkan untuk melaksanakan kegiatan lapangan yang disebut dengan Kerja Praktik (KP). Dengan adanya KP ini diharapkan agar segala teori dan prinsip yang diajarkan selama kegiatan perkuliahan dapat diperdalam, diaplikasikan, dan disempurnakan melalui kegiatan lapangan.
sekaligus perancangan karena Teknik Lingkungan UI juga mempelajari pelajaran Teknik Sipil seperti yang berkaitan dengan struktur suatu bangunan. Begitu pula dengan Teknik Sipil UI yang berbasis Teknik Lingkungan. Artinya kedua program studi ini mengharapkan pencapaian kompetensi yang setara untuk satu sama lainnya.
Berangkat dari dasar tersebut, penulis melaksanakan Kerja Praktik (KP) pada proyek pembangunan Apartemen Kemang View dengan kontraktor PT. PP (Persero) Tbk. dan pemilik proyek PT. Anugrah Duta Mandiri. Adapun beberapa aspek yang dapat ditinjau dari proyek ini berupa struktur dan manajemen konstruksi proyek serta aspek teknik lingkungan yang dapat ditinjau seperti penangan limbah padat dan cair, Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan (K3L) dan lain sebagainya dari pihak yang lebih berpengalaman pada lokasi proyek saat KP berlangsung. Selama KP pun diharapkan adanya penjelasan serta penyelarasan akan materi yang diperoleh mahasiswa di bangku perkuliahan dengan keadaan nyata di dunia kerja. Dengan adanya pengalaman tersebut, diharapkan mahasiswa setelah lulus memiliki kesiapan akan keterampilan serta keahlian yang cukup untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan Kerja Praktik ini adalah sebagai berikut:
Sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksana Kerja Praktik dalam pemenuhan salah satu mata kuliah wajib untuk mahasiswa Departemen Teknik Sipil, Program Studi Teknik Sipil dan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia untuk memperoleh gelar sarjana Strata 1. Sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksana Kerja Praktik kepada PT. PP
(Persero) Tbk sebagai pihak kontraktor tempat pelaksanaan proyek Kerja Praktik.
1.3 Batasan Masalah
Ruang lingkup yang dibahas dalam Kerja Praktik ini adalah sebagai berikut:
1. Gambaran Umum Proyek 2. Metode Konstruksi
Pekerjaan Pendahuluan Pekerjaan Struktur Bawah Pekerjaan Struktur Atas 3. Manajemen Proyek
Manajemen Waktu Proyek Manajemen Kualitas Proyek
Manajemen Sumber Daya Manusia Proyek Manajemen Resiko Proyek
Manajemen Pengadaan Proyek Manajemen Biaya Proyek
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Proyek Manajemen Lingkungan Proyek
4. Gambar Kerja
Gambar Perencanaan Gambar Detail 5. Spesifikasi Teknis Item Pekerjaan Syarat dan Ketentuan
1.4 Sumber Data Penulisan
a. Data Primer
b. Data Sekunder
Data dari dokumen-dokumen yang diperoleh dari proyek dan buku referensi terkait yang digunakan.
1.5 Metode Penulisan
Laporan ini disusun dengan sistem penulisan deskriptif yang menggambarkan dan menguraikan tahapan pelaksanaan kegiatan atau pekerjaan di dalam proyek serta memaparkan penjelasan berdasarkan data yang diperoleh selama proyek berlangsung.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan Kerja Praktik proyek pembangunan Apartemen Kemang View adalah sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Menjabarkan perihal yang berkaitan dengan latar belakang, tujuan penulisan, batasan masalah, sumber data penulisan, metode penulisan serta sistematika penulisan dalam penyusunan laporan kerja praktek
BAB 2 GAMBARAN UMUM PROYEK
Mendeskripsikan kondisi berlangsungnya proyek sehingga dalam penyusunan laporan yang mana meliputi latar belakang, tujuan, lokasi, data, lingkup umum pekerjaan, kondisi eksisting dan site layout dari pembangunan Proyek Apartemen Kemang View.
BAB 3 METODE KONSTRUKSI
Membahas deskripsi umum pelaksanaan pekerjaan konstruksi, pengantar metode pekerjaan konstruksi, metode pengaturan organisasi proyek, penggunaan material utama, durasi waktu pelaksanaan pekerjaan, rencana penggunaan alat konstruksi, penjelasan sistem pondasi yang digunakan, dan
flowcha rt pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang ada pada pembangunan
jenis-jenis pekerjaan struktur yang meliputi pekerjaan pendahuluan, pekerjaan struktur bawah, dan pekerjaan struktur atas.
BAB 4 MANAJEMEN PROYEK
Mengulas manajemen proyek yang berlangsung di dalam proyek pembangunan yang mana meliputi manajemen sumber daya manusia, biaya, waktu, kesehatan dan keselamatan kerja (K3), pengadaan, mutu, dan pengawasan pembangunan Proyek Apartemen Kemang View.
BAB 5 PENUTUP
BAB 2
GAMBARAN UMUM PROYEK
2.1 Latar Belakang Pembangunan Proyek
Proyek pembangunan Apartemen Kemang View di Jalan Raya Pekayon, kota Bekasi menjadi salah satu program pengembangan kota yang mengarah pada hunian bangunan tinggi serta merupakan investasi yang baik bagi kota Bekasi sebagai salah satu kota yang memiliki pertumbuhan yang cukup pesat.
Hunian apartemen terus menjadi daya tarik dalam pertumbuhan kota yang semakin rapat dan ditengah sulitnya menemukan hunian pada lahan cukup luas di daerah perkotaan. Pembangunan Apartemen Kemang View bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hunian dikawasan Bekasi sekaligus memiliki tujuan komersial.
Lokasi Apartemen pun tidak sulit dijangkau karena berada tepat di depan tol Jakarta-Cikampek sehingga menjadi lokasi yang banyak diminati para investor dari kemudahan akses. Proyek Apartemen Kemang View mulai dilaksanakan mulai 12 November 2012 dan direncanakan akan selesai pada 27 Juli 2014. dengan luas bangunan sebesar 1,45 Ha. Proyek Pembangunan Apartemen Kemang View dilaksanakan oleh PT. Pembangunan Perumahan (PP) Divisi IV cabang Jawa Barat yang di pimpin oleh Manajer Proyek Wahyu Triyanto, ST.
2.2 Deskripsi Umum Proyek
Nama Proyek : Apartemen dan Hotel Kemang View Bekasi
Lokasi : Jl. Raya Pekayon Jaya. RT/RW 001/004. Kel. Pekayon Jaya-Bekasi Selatan. Kota Bekasi
Pemberi Tugas : PT. Anugrah Duta Mandiri Izin (No. IMB) : 503/0534/IB/BPPT/XII/2012 Konsultan Struktur : PT. Adinata Surya Pratama Konsultan M&E : PT. Adhicipta Prajawidya Konsultan Arsitektur : X | Y Architects
Konsultan Pengawas : PT. Anugrah Duta Mandiri
Konsultan Pelaksana : PT. Pembangunan Perumahan (PP) Nilai Kontrak : Rp119.504.224.000,00 (include PPN)
Mata Uang : Rupiah
Waktu Pelaksanaan : 630 Hari Kalender (21 Bulan) 12 Bulan Pek. Struktur
14 Bulan Pek. Arsitektur (Overlap 5 Bulan dengan Pek. Struktur) Dari 12 November 2012 – 27 Juli 2014
Cara Pembayaran : Monthly Progress Payment
Project Manager : Wahyu Triyanto, ST
Site Engineering Manager : Astri Oktaviani, ST
Site Administration Manager : Yulia Indriani D, SE
Site Operation Manager : Hendrajat, ST
Tipe Kontrak : Lump Sum Fixed Price
Retensi : 5% × Rp119.504.224.000,00 = Rp5.975.212.200,00
2.3 Lingkup Umum Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang terdapat pada Proyek Pembangunan Apartemen Kemang View secara umum meliputi:
a. Survai lokasi
b. Penyelidikan tanah dan perbaikan tanah
c. Pengadaan fasilitas sarana dan prasarana proyek. 2. Pekerjaan Struktur yang meliputi:
a. Pekerjaan Tanah
i. Dewatering Air Tanah
ii. Galian Basement
b. Pekerjaan Struktur Bangunan Bawah
i. Pengerjaan Sub Struktur Semi Basement 1 lantai ii. Pekerjaan Lantai Kerja
c. Pekerjaan Struktur Bangunan Atas
i. Pengerjaan Lantai Tipikal sampai 22 lantai ii. Pekerjaan Atap (Mahkota), Lift, dan Tangga d. Pekerjaan Struktur Kolam Renang
e. Pekerjaan Struktur Pelengkap (Canopy, Duct House dan Summpit) f. Pekerjaan Teknik Lingkungan: Pengerjaan Sub Struktur Sewage
Treatment Plant (STP), Ground Water Tank (GWT) dan Power
House
3. Pekerjaan Arsitektur yang meliputi: a. pekerjaan dinding
b. pekerjaan dinding pracetak c. pekerjaan partisi
d. pekerjaan lantai e. pekerjaan plafond
f. pekerjaan opening pintu dan jendela g. pekerjaan railing
h. pekerjaan sanitary
i. pekerjaan lain-lain (meja beton pracetak)
4. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal (M/E) yang meliputi : a. Pemasangan Air Conditioner (AC)
c. Pemasangan Plumbing untuk Air Bersih, Air Kotor dan Air Flushing/Gardening
d. Pemasangan Alarm Keselamatan e. Pemasangan Sistem Elektrikal f. Pemasangan Lift
5. Pekerjaan Landscape a. Pembuatan Taman b. Pembuatan Boulevard
2.4 Data Teknis dan Peta Lokasi
Struktur terdiri dari :
o Semi Basement
o Hotel (dalam Apartemen terdapat area yang dijadikan sebagai Hotel)
o Pertokoan serta Commercial Building lainnya
Gross Area: 1,45 Ha = 14.500m2
Kondisi Eksisting
Pada tanggal 17 Juni 2013 kondisi eksisting yang terdapat di lokasi proyek pembangunan meliputi :
Fasilitas karyawan seperti site office, kantor pemasaran, kantor
owner, kantor subkontraktor, sistem penyediaan air bersih, dan
genset.
Pekerjaan struktur bawah (ba sement) sudah selesai dikerjakan. Pekerjaan struktur atas dilakukan pertahapan.
BAB 3
METODE KONSTRUKSI
3.1 Deskripsi Umum
Proyek pembangunan Apartemen Kemang View di jalan raya Pekayon, kota Bekasi menjadi salah satu program pengembangan kota yang mengarah pada hunian bangunan tinggi serta merupakan investasi yang baik bagi kota Bekasi sebagai salah satu kota yang memiliki pertumbuhan yang cukup pesat. Apartemen Kemang View merupakan proyek bangunan tipikal. Untuk mengerjakan proyek ini, pihak owner yakni PT. Anugrah Duta Mandiri, menunjuk kontraktor yang memenuhi kriteria.
Setelah dilakukan seleksi oleh owner, maka diperoleh kontraktor terpilih untuk mengerjakan proyek ini. Kontraktor yang menangani ialah PT Pembangunan Perumahan atau yang biasa disebut PT. PP (Persero) Tbk. dengan status sebagai kontraktor struktur atas. Struktur Bawah pondasi telah dikerjakan sebelum pelelangan oleh pihak owner dengan kontraktor lainnya. Setelah PT. PP (Persero) Tbk. terpilih, maka selanjutnya dilakukan rapat koordinasi dengan pihak
owner. Rapat ini secara umum membahas mengenai detail pekerjaan teknis dan
aspek manajemen proyek antara owner dengan PT. PP (Persero) Tbk. Dengan adanya rapat koordinasi ini, maka:
Tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak jelas;
Menyatukan persepsi antara kontraktor dengan owner dalam hal perencanaan pembangunan;
Membahas detail aspek manajemen proyek kosntruksi; Menentukan metode konstruksi yang tepat.
3.1.1 Pengantar Metode Konstruksi
Setelah proses serah terima tentunya kontraktor akan memulai pekerjaan dengan menggunakan metode konstruksi yang dinilai paling efisien. Setiap kontraktor memiliki metode konstruksi yang berbeda-beda, bergantung kepada metode dan cara kerja masing-masing perusahaan. Metode yang digunakan untuk suatu pekerjaan konstruksi dapat berbeda dengan metode lainnya. Pada umumnya, kontraktor menerapkan metode konstruksi tergantung kepada mutu pekerjaan yang diinginkan, waktu pekerjaan yang diperbolehkan, biaya yang tersedia, dan spesifikasi teknis yang disyaratkan. Dengan adanya metode pekerjaan, pihak
owner dapat melakukan penilaian terhadap kinerja kontraktor dengan harapan jika
hasil pekerjaan sesuai keinginan dan metode kerja yang dilakukan.
Inovasi yang dilakukan PT. PP pada proyek Apartemen Kemang View ini adalah inovasi menggunakan metode pracetak (precast). Akhir–akhir ini sering sekali metode pracetak (precast) digunakan pada pekerjaan struktur dalam bidang teknik sipil di Indonesia. Hal ini dilakukan karena semakin besarnya tuntutan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang efisien. Metode pracetak (precast) memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan dibandingkan metode cor setempat
(cast in site). Metode precast sangat cocok untuk diaplikasikan pada jumlah
pemakaian elemen yang semakin banyak dengan tipe yang berulang (tipikal).
3.1.2 Metode Pengaturan Organisasi Proyek
Dalam hal sumber daya manusia, PT. PP membagi tugas yang tetap dipimpin oleh 1 Project Manager dengan 3 Site Manager, diantaranya: Site
Engineering Manager (SEM), Site Administration Manager (SAM), dan Site
Operation Manager (SOM). Pada setiap Site Manager memiliki perbedaan dalam
tugas dan tanggung jawab namun tetap saling bekerjasama. SEM membawahi bidang-bidang seperti : Perencanaan Teknik & Material, Perencanaan Biaya & Administrasi Kontrak, Quantity Surveyor, Drafter, Logistik, dan Peralatan. SOM atau Site Operation Manager membawahi Genera l Superintendent yang langsung memerintah Superintendent lalu dibawahnya ada Surveyor yang memiliki
Manager membawahi bagian-bagian yaitu : Keuangan, Akuntansi, Umum, SDM,
dan Office Boy.
Gambar 3.1 Struktur Organisasi Proyek Apartemen Kemang View Bekasi Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
3.1.3 Durasi Waktu Pelaksanaan Pekerjaan
Proyek Kemang View Apartement akan dikerjakan dalam waktu 630 hari kalender (21 bulan) atau 89 minggu menurut kalender. Periode ini dibagi menjadi dua bagian yaitu 12 bulan untuk pekerjaan struktur sedangkan 14 bulan untuk pekerjaan arsitektur dengan overlap lima bulan. Ketika lima bulan terakhir menuju penyelesaian pekerjaan struktur maka dimulai pekerjaan arsitektur hingga berlangsung selama 14 bulan.
3.1.4 Rencana Penggunaan Alat Konstruksi
Detail mengenai peralatan konstruksi dan material yang digunakan pada proyek ini akan dijelaskan selanjutnya pada bagian tersendiri, tetapi pada sub-bab ini dijelaskan terlebih dahulu, sebagai pengantar saja. Jenis-jenis alat yang digunakan pada proyek ini adalah sebagai berikut:
Tower Crane
Gantry Crane
Excavator
Concrete Pump
Concrete Mixer
Dump Truck
Bucket
Lift barang
Peralatan Survey (theodolit, waterpa ss, total station, dan lainnya ) Peralatan lainnya yang terkait.
Tower Crane nantinya akan diletakan di kedua titik yang berbeda yaitu di
sebelah utara proyek dan di bagian selatan. Tower Crane di bagian selatan diletakkan tepat di sebelah utara dari Tower Apartemen bagian C dengan tujuan agar penggunaan Tower Crane maksimal di semua titik yang dijangkau.
Gambar 3.2 Penggunaan Excavator dan DumpTruck Sumber: Dokumentasi PT.PP (Persero) Tbk., 2013
Jalur yang dilalui Dump Truck juga diperhatikan agar menghasilkan produk galian yang optimal. Dari arah Dump Truck datang, lalu parkir dan kembali pergi untuk membuang hasil tanah galian ke disposal area.
Gambar 3.3 Jalur Datang dan Pergi Dump Truck untuk hasil galian yang optimal Sumber: Dokumentasi PT.PP (Persero) Tbk., 2013
3.2 Pekerjaan Pendahuluan
Pekerjaan pendahuluan pada proyek pembangunan Apartemen Kemang View di jalan raya Pekayon, kota Bekasi ini merupakan tahap pekerjaan paling awal dalam rangkaian proyek konstruksi. Pada pembahaan laporan ini, pekerjaan pendahuluan telah salesai dikerjakan saat dimulainya masa studi kerja praktek sehingga sumber data yang kami peroleh berasal dari pihak-pihak terkait pekerjaan tersebut dengan menggunakan metode wawancara. Pekerjaan pendahuluan meliputi: survai lokasi, penyelidikan tanah dan perbaikan tanah, pengadaan fasilitas sarana dan prasarana proyek.
3.2.1 Survai Lokasi
Pekerjaan survai lokasi proyek merupakan suatu pekerjaan yang bertujuan untuk melakukan penentuan teknis mengenai:
Perhitungan luasan lahan suatu proyek secara menyeluruh;
Menentukan elevasi muka tanah suatu proyek relatif terhadap elevasi jalan raya terdekat;
Zoning pekerjaan;
Lokasi bangunan relatif terhadap koordinat lokal dan koordinat global; Faktor teknis lainnya yang berhubungan dengan kegiatan surveying.
Kegiatan survai biasa dilakukan setelah kegiatan pembersihan lahan atau biasa disebut land clearing. Kegiatan I ni umum dilakukan pada suatu proyek karena umumnya lokasi awal lahan suatu proyek biasa ditumbuhi tanaman ataupun sisa dari bangunan yang pernah berdiri sebelumnya.
Pada proyek Apartemen Kemang View ini, dilakukan pekerjaan land
clearing secara menyeluruh. Lahan yang digunakan proyek ini pada sebelumnya
sebagian adalah perumahan tua dan sebagian adalah lahan kosong bekas taman sehingga hanya ditumbuhi oleh tanaman-tanaman kecil dan beberapa pepohonan. Pengupasan lapisan tanah humus juga perlu sedikit dilakukan pada proyek ini karena tanah di lokasi ini cukup lama ditinggalkan sehingga ditumbuhi oleh tanaman namun pengupasan dilakukan dengan metode manual karena tanah masih relatif baik untuk proyek seperti tanah-tanah pada lokasi proyek di kota-kota pada umumnya.
Pekerjaan survai yang cukup penting adalah zoning pekerjaan. Pada tahap ini, zoning pekerjaan dibagi berdasarkan kesiapan lahan yang telah dipancang oleh Pihak Owner. Adapun Pembagian zona dibagi menjadi 4 bagian, yaitu
Pekerjaan survai lokasi dilakukan setelah gambar desain rencana awal proyek telah dikeluarkan. Dari gambar inilah, para surveyor akan melakukan kegiatan ma rking lokasi proyek berdasarkan gambar rencana proyek. Peran
surveyor sangat penting pada hal ini. Surveyor harus memastikan lokasi pekerjaan
proyek sesuai dengan lokasi gambar kerja yang sudah disetujui pihak owner. Zona 1 Tower A & Podium
Gambar 3.4 Zoning Pekerjaan Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Peralatan konstruksi yang umumnya digunakan pada fase pekerjaan ini adalah: theodolit, total station, leveling, rambu, waterpass, dan peralatan survai lainnya. Pekerjaan survai biasanya melibatkan sistem koordinat lokal dan global. Sistem koordinat ini dimaksudkan untuk membantu tim surveyor dalam melaksanakan pekerjaannya. Biasanya sistem koordinat lokal diberikan dari pemerintah daerah setempat dengan dikeluarkannya denah situasi koordinat jalan raya yang dekat dengan lokasi proyek tersebut. Dengan keluarnya denah situasi ini, pihak surveyor dapat melakukan kalkulasi terhadap koordinat lokasi proyek dan memenuhi syarat administrasi yang diterapkan berupa: Garis Sepadan Bangunan (GSB), Koefisien Dasar Bangunan (KDB), dan Garis Sepadan Jalan (GSJ).
3.2.2 Penyelidikan Tanah dan Perbaikan Tanah
dilakukannya suatu penyelidikan tanah untuk suatu pekerjaan proyek konstruksi. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
Untuk mengetahui urutan, ketebalan lapisan tanah suatu lokasi, dan terutama daya dukung tanah;
Memperoleh contoh tanah yang dianggap dapat mewakili kondisi tanah lapangan. Contoh tanah ini kemudian diuji oleh sejumlah pengujian laboratorium yang sesuai;
Mengetahui kedalaman lapisan tanah keras yang nantinya berperan dalam penentuan dimensi dan jenis dari pondasi yang digunakan;
Mempelajari perilaku tanah di lokasi proyek dengan melakukan pengujian lapangan;
Penyelidikan tanah juga berfungsi untuk mempelajari kemungkinan terjadinya masalah yang berkaitan dengan kondisi tanah di lokasi tersebut.
Pengujian sondir bertujuan untuk mengetahui tahanan friksi dari tanah dan tahanan ujung dari tanah. Dengan pengujian sondir ini, dapat diketahui kedalaman tanah keras yang merupakan tempat bertumpunya pondasi. Hasil dari pengujian sondir menunjukan jika penetrasi konus berhenti pada nilai qc (cone
resistance) = 150 kg/cm2 dan nilai qt (total resista nce) = 250 kg/cm2 berarti telah
mencapai tanah keras sehingga selanjutnya dapat ditentukan Fs untuk menentukan Hambatan Pelekat (HP) dan Jumlah Hambatan Pelekat (JHP) serta persen
Friction Resistance (FR). Nilai-nilai tersebut digunakan untuk memperoleh
klasifikasi tanah Untuk nilai sondir di titik lainnya, dalam percobaan ada kemungkinan perbedaan nilai qc dan qt akibat karakteristik alamiah tanah yang
tidak sama di semua titik.
Pengujian sondir terbatas pada kedalaman 20 meter dan pengujian ini “diragukan” jika terdapat lensa (lapisan tanah keras semu) karena penetrasi konus bisa saja membaca lensa tersebut sebagai tanah keras. Untuk itulah dilakukan pengujian perbandingan lainnya, yaitu pengujian bor dalam (Standard Penetration
Test / SPT). Pengujian bor dalam sendiri bertujuan untuk mengambil sampel tanah
tak terganggu (undisturbed sample) dan mengetahui kedalaman tanah keras dengan nilai pukulan per 15 cm penurunan (NSPT). Pengujian bor dalam mampu
menembus lensa dan kedalamannya bisa mencapai 50 meter lebih, sehingga kondisi tanah dapat tergambarkan lebih dalam di sini.
Hasil pengujian sondir dan bor dalam ini kemudian digunakan tim konsultan struktur untuk dapat merencanakan beban struktur yang mampu ditahan tanah dan jenis pondasi yang cocok digunakan pada bangunan ini. Selain itu hasil ini juga digunakan untuk menentukan spesifikasi dari detail pondasi yang akan digunakan. Contohnya saja: jika hasil sondir berhenti pada kedalaman 13 meter, maka rencana panjang tiang pancang / tiang bor yang digunakan juga akan berkisar di nilai 13 m atau lebih.
Hal lain yang juga dapat dihasilkan dari pengujian ini, baik sondir maupun bor dalam, yakni dapat mengetahui elevasi muka air tanah (ground water
level). Padaproyek Apartemen Kemang View ini, elevasi muka air tanah (ground
water level) ditemukan pada kedalaman 2 meter dari permukaan. Data ini
3.2.3 Pelaksanaan Fasilitas Sarana dan Prasarana Proyek
Secara umum, fasilitas proyek merupakan sarana penunjang yang dibangun sementara untuk pihak-pihak terkait untuk memperlancar pekerjaan konstruksi. Tata letak lapangan merupakan hal penting dalam perencanaan lapangan pada suatu proyek konstruksi. Tujuan perencanaan lapangan adalah untuk menempatkan fasilitas-fasilitas penunjang proyek seperti gudang, direksi keet, dan barak pekerja pada lokasi yang tepat; sehingga penempatan tersebut dapat optimal dalam arti jarak tempuh antara fasilitas yang satu dengan fasilitas lainnya dapat diminimalisasikan.
Fasilitas Sarana dan Prasarana meliputi : - Kantor Pemasaran
- Pintu Masuk Proyek - Pos Security
- Parkir Kendaraan Proyek
- Tower Crane
- Los Pracetak - Pagar Proyek
- Los Besi dan Penyimpanan Besi - Kontraktor Keet
- Toilet
- Gudang Tertutup - Los Logistik - Alimax
Gambar 3.5 Fasilitas SiteManagement pada Semi Basement Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.6 Tampak Depan Direksi Keet Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.8 Areal Kantor Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.9 Areal Direksi Keet Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
3.3 Pekerjaan Struktur Bawah
Proyek pembangunan Apartemen Kemang View di jalan raya Pekayon, kota Bekasi ini menggunakan sistem pondasi yang terdiri dari Pile Cap,Tie Beam dan tiang pancang yang menggunakan alat pancang Hydraulic Jack. Penggunaan tiang pancang dikarenakan daya dukung tanah yang cukup tinggi dan kedalaman tanah keras yang relatif dangkal. Alat pancang Hydraulic Jack digunakan dikarenakan lokasi proyek sangat dekat dengan pemukiman warga sehingga menyebabkan kebisingan bila menggunakan alat pancang biasa.
3.3.1 Pekerjaan Pemancangan
Berikut data mengenai jumlah tiang pancang yang diperoleh dari PT. PP (Persero) Tbk.:
Pile Cap Type PC1 (TP 300×300, L = 23m) ada 46 tiang
Pile Cap Type PC2 (TP 300×300, L = 23m) ada 196 tiang
Pile Cap Type PC3 (TP 350×350, L = 23m) ada 36 tiang
Pile Cap Type PC3A (TP 400×400, L = 23m) ada 6 tiang
Pile Cap Type PC4A (TP 400×400, L = 23m) ada 56 tiang
Pile Cap Type PC4B (TP 400×400, L = 23m) ada 459 tiang + (TP
350×350, L=23m) ada 153 tiang
Pile Cap Type PC5A (TP 400×400, L = 23m) ada 195 tiang
Pile Cap Type PC6A (TP 400×400, L = 23m) ada 54 tiang
Pile untuk STP + GWT (TP 350×350, L = 23m) ada 20 tiang
Pile Cap Type PL8 (TP 350×350, L = 23m) ada 8 tiang
Pile Cap Type PL9 (TP 350×350, L = 23m) ada 12 tiang + (TP 400×400,
L=23m) ada 6 tiang
Pile Cap Type PL9A (TP 350×350, L = 23m) ada 6 tiang + (TP 400×400,
L=23m) ada 3 tiang
Pile Cap Type PL10 (TP 350×350, L = 23m) ada 5 tiang + (TP 400×400,
Paling tidak terdapat 1278 titik tiang pancang yang masing-masing titik dikelompokkan menjadi kelompok tiang dalam denah pemancangan pada Gambar 3.10 berikut.
Gambar 3.10 Denah Tiang Pancang Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Urutan pekerjaan pemancangan yaitu - Survai letak koordinat tiang pancang; - Pembuatan denah tiang pancang;
Hal-hal yang perlu diingat dalam pekerjaan tiang pancang antara lain: - Pengerjaan pemancangan sesuai Zona yang telah ditentukan supaya
tidak terjadi kesulitan saat memancang bagian tengah. Urutan pemancangan dimulai dari Zona 1, Zona 2, Zona 3, dan Zona 4.
Gambar 3.11 Zona Pemancangan Tiang Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
- Penentuan titik dilapangan umumnya menggunakan tali tipis yang dipaku dua arah menjadi potongan persegi supaya letak tiang lebih presisi.
- Panjang tiang 23m di bagi menjadi dua tiang yang dilas, 12m + 11m.
- Alat yang digunakan berupa Mobile Crane dan Hydraulic Jack.
3.3.2 Metode Pemancangan
Metode pemancangan dapat di jabarkan dalam langkah-langkah berikut ini:
patah. Dalam mengangkat tiang, perlu juga diperhatikan agar tiang tidak bertabrakan dengan tiang lain atau benda lain.
b. Kemudian, tiang diangkut menuju titik pemancangan yang ditandai oleh paku bertali. Posisi tiang pancang dipastikan tidak berdekatan dengan tiang pancang di sebelahnya. Foremen (pekerja) menggunakan besi dengan panjang 1 meter untuk mengukur jarak tiang yang akan dipancang terhadap tiang di kanan-kiri dan depan-belakangnya. Sebelum memancang, foremen menyiapkan dirinya untuk menghitung jumlah tekanan alat Hydraulic Jack terhadap tiang pancang dengan menggunakan counter, dan hasil pengamatannya dicatat dalam laporan harian pemancangan. Mulailah alat
Hydraulic Jack memancang tiang bagian bawah (bottom) 11 m tersebut.
c. Setelah pelindung kepala tiang mencapai tanah, alat Hydraulic Jack menghentikan pemancangan tiang, kemudian bergerak menjauhi lokasi titik pemancangan tiang, menuju ke lokasi tiang bagian atas (top) 12 m berada. Sementara itu, foremen membersihkan daerah penyambungan tiang pancang dari tanah yang akan menutupi posisi penempatan pelat logam sambungan tiang.
d. Pelindung tiang dipasang pada kepala tiang bagian atas (top) 12 m. Alat
Hydraulic Jack mengangkat tiang bagian atas (top) 12 m di titik 0,2 dari
panjang tiang dan mengangkutnya ke titik pemancangan tiang bagian bawah
(bottom) 11 m untuk disambung kemudian dipancang. Tiang bagian atas
(top) 12 m ditegakkan dan ditempatkan tepat di atas tiang bagian bawah
(bottom) 11 m. Lempengan pelat logam dipasang pada daerah
e. Alat Hydraulic Jack memancang tiang bagian atas (top) 12 m dan jumlah tekanan tiap penurunannya pun tak lupa dicatat oleh foremen menggunakan
counter. Setelah pelindung kepala tiang mencapai tanah, foremen lainnya
bersiap-siap untuk melakukan tes kalendering. Foremen menempelkan kertas millimeter block pada kepala alat Hydra ulic Jack. Foremen juga menyiapkan pensil dan tatakan papan. Hal yang dicatat dalam tes kalendering adalah penurunan posisi tiang pancang per tekanan tertentu (blow). Jika nilai kalendering 1 cm (final set), berarti tiang pancang telah mencapai kedalaman tanah keras. Jika nilai kalendering masih lebih dari 1 cm, berarti tiang pancang belum mencapai tanah keras. Imbasnya, tiang akan terus dipancang (redriving) hingga final set.
- Dalam eksekusi pemancangan, terdapat tiga kemungkinan, yaitu: - Tiang sudah mencapai final set
- Belum final set - Tiang amblas
3.3.3 Pengujian Tiang Pancang
Berdasarkan peraturan pemerintah daerah DKI Jakarta, tepatnya Peraturan Kepala Dinas Penataan dan Pengawasan (P2B) Nomor 50 Tahun 2007, untuk sebuah sistem pondasi tiang pancang ataupun tiang bor perlu dilakukan uji pembebanan aksial tarik, aksial tekan, dan uji beban lateral. Pengujian ini biasa disebut dengan sebutan loading test. Besarnya beban untuk diujikan ini sebesar 200 % dari beban rencana dan jumlah tiang yang diuji untuk tes ini berbeda antara tiang bor dengan tiang pancang. Untuk tiang bor, setiap 75 tiang bor wajib diuji 1 tiang dalam ukuran yang sama. Untuk tiang pancang, setiap 100 tiang wajib diuji 1 tiang dalam ukuran yang sama. Pengujian loading test model tes aksial tarik dan tes aksial tekan untuk tiang pancang dinyatakan berhasil jika pergeseran yang terjadi dibawah 10 mm untuk 100 % dari beban rencana dan 25 mm untuk 200% beban rencana. Untuk pengujian lateral, lendutan maksimum akibat pembebanan yang diizinkan adalah sebesar 1,27 cm. Adapun lokasi untuk melakukan pengujian tiang ini adalah di titik di lapangan yang “dicurigai” memiliki daya dukung paling buruk.
Selain dilakukan tiga jenis pengujian loading test, juga ada pengujian perbandingan hasil loading test dengan menggunakan pengujian PDA (pile
driving analyzer) dan PIT (pile integrated test). Tes PDA merupakan jenis tes
dinamik dari tiang pancang dan bersifat sebagai pembanding saja karena bagaimanapun juga uji pembebanan yang bersifat statik masih memberikan hasil yang lebih akurat. Hasil dari tes PDA ini menyatakan jika tiang pancang memiliki daya dukung sesuai rencana, tetapi pihak owner merasa “ragu”, sehingga dilakukan pemancangan tiang pancang ulang ( redriving ) untuk wilayah wing A. Tentu saja pemancangan ini memakan waktu tambahan mengingat jumlah tiang pancang sampai ribuan unit.
keutuhan dari material tiang itu sendiri. Biasanya uji PIT dilakukan untuk tiang bor karena tiang bor rawan akan ketidakutuhan tiang akibat pengecoran yang dilakukan di tempat. Meskipun demikian, uji PIT juga diterapkan di tiang pancang, terutama mengecek keutuhan sambungan tiang pancang. Uji PIT didasarkan atas sifat rambat gelombang ketika diberikan ketukan alat uji. Dengan uji PIT ini akan terlihat rambatan gelombang didalam tiang pancang dan dapat diambil kesimpulan mengenai keutuhan dan kekuatan material tiang.
3.3.4 Pekerjaan Penggalian Tanah
Penggalian tanah dilakukan setelah tiang pancang tertanam dengan baik dan proses penggalian ini diawali oleh tim surveyor yang menentukan kedalaman galian tanah. Proses pekerjaan penggalian tanah ini dilakukan oleh alat berat, yaitu excavator jenis backhoe. Penggalian tanah di daerah ini tidak seperti menggali tanah di lapangan luas, tetapi penggalian ini dibatasi oleh tiang-tiang pancang yang tertanam, sehingga target galian adalah tanah yang terhimpit diantara tiang pancang.
Dalam melakukan galian, operator excavator dibantu oleh satu juru pengarah. Juru pengarah ini bertujuan untuk memberikan tanda kepada operator
excavator mengenai gerakan alat dan lokasi yang belum digali dengan sempurna.
Juru pengarah diperlukan karena sudut pandang operator excavator terbatas, sehingga dalam menjalankan alatnya bergantung kepada arahan dari juru pengarah yang telah memiliki kode-kode khusus kepada operator. Proses penggalian tanah ini adalah penentu awal keberhasilan untuk pekerjaan yang mengandalkan kemiringan tanah saat pengecoran Pile Cap dan Tie Beam. Tanah yang sudah digali ini kemudian dikumpulkan di satu titik untuk selanjutnya diangkut oleh
dump truck ke lokasi pembuangan.
3.3.5 Pekerjaan Pile Cap dan Tie Beam
Pekerjaan Pile Cap dan Tie Beam dapat dijabarkan dalam langkah-langkah berikut ini:
Penentuan lokasi pile cap menggunakan theodolit dan waterpass berdasarkan shop dra wing.
Pemasangan pile cap.
b. Bobokan kepala pancang. Proses bobokan kepala pancang menggunakan tenaga kerja.
Pembobokan disini berarti adalah penghancuran tiang pancang secara manual dengan menggunakan pasak baja dan palu pemukul. Tiang pancang dibobok agar strand didalam tiangnya bisa didapatkan untuk ikatan selanjutnya ke tie beam dan pile cap. Pekerjaan pembobokan memang dilakukan dengan manual dan tidak menggunakan alat karena biaya dalam menyewa alat pembobok tiang cenderung labih mahal sehingga tenaga manusia masih dianggap lebih ekonomis.
Kedalaman bobokan tiang pancang sudah ditentukan oleh tim surveyor sebelumnya dan diberikan tanda batas pembobokan tiang pancang, sehingga hasil pembobokan rapih dan tinggi strand yang didapatkan sesuai dengan spesifikasi teknis, yakni sekitar 50 cm. Hasil dari pembobokan tiang pancang berupa beton yang sudah pecah tidak beraturan dan umumnya tidak dibuang dengan percuma, tetapi hasil bobokan ini digunakan untuk lapisan perkuatan akses jalan didalam proyek.
c. Pembengkokan tulangan pancang. Setelah beton dibersihkan dan kemudian bengkokan tulangan sesuai dengan gambar yang disetujui.
d. Perataan pasir setebal 10 cm. Pasir digunakan sebagai dasar untuk lantai kerja agar permukaan menjadi datar.
e. Pembuatan lantai kerja dengan tebal 5 cm. Lantai kerja dibuat untuk memfasilitasi pelaksanaan pekerjaan pile cap.
Setelah diberikan lapisan plastik, maka selanjutnya dilakukan pembesian lantai kerja.
Pengecoran lantai kerja, perataan dengan alat manual yang terbuat dari kayu. batas tinggi lantai kerja harus sama dengan batas pembobokan tiang pancang.
f. Pasang bata sebagai bekisting. Pasangan bata ditempatkan di sekitar pile cap.
g. Memasang tulangan pile cap, tie beam, dan kolom. Pemasangan dilakukan sesuai dengan gambar rencana.
Perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan pembesian ini dilakukan berdasarkan SNI Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung yang mengatur antara lain:
- tipe baja tulangan yang digunakan - material baja dan kekuatannya - perencanaan struktur
- kriteria tebal selimut beton, panjang penyaluran, dan panjang sambungan.
Di samping SNI Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, pekerjaan di lapangan juga mengacu pada dokumen-dokumen proyek seperti Bar Bending Schedule dan gambar kerja dari kontraktor.
Bar Bending Schedule (BBS) adalah dokumen yang menjelaskan
tipe-tipe tekukan dan panjang potongan besi yang akan digunakan dalam pekerjaan. BBS ini berfungsi untuk memudahkan pekerja dalam melakukan penekukkan dan pemotongan besi sekaligus sebagai upaya untuk menggunakan stok besi seefisien mungkin.
3.3.6 Pekerjaan Pengecoran
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pekerjaan pengecoran berlangsung adalah
Harus mampu menghindari terjadinya penurunan plastis (plastic
settlement) yang rentan muncul di permukaan konstruksi beton berskala
Harus mampu menghindari terjadinya keretakan beton di usia awal akibat perbedaan suhu yang ekstrim di dalam konstruksi beton (early age
thermal cracking). Hal ini dapat dihindari dengan perencanaan yang tepat
terhadap tulangan, material dan mix design, urutan pengecoran, dan usaha-usaha penjagaan suhu.
Harus ada kepastian untuk mendapat pasokan beton yang kontinu serta adanya kesesuaian antara kecepatan pengiriman beton, penuangan, pemadatan, dan finishing.
Marking atau penandaan yang dilakukan oleh tim survey bertujuan untuk
memberi acuan pada pekerja dalam menentukan banyaknya beton yang dituang saat pengecoran.
Insulasi beton bertujuan untuk menjaga penurunan suhu beton agar berlangsung secara perlahan, tidak drastis. Penurunan suhu yang ekstrim perlu dihindari karena dapat mengakibatkan terjadinya keretakan. Insulasi dilakukan menggunakan lapisan-lapisan plastik dan styrofoam yang ditumpuk di atas permukaan atau dengan memasang tenda sebagai bentuk thermal isulation. Insulasi dipasang segera setelah pekerjaan pemerataan selesai dan beton sudah cukup keras untuk dilewati pekerja.
3.4 Pekerjaan Struktur Atas
3.4.1 Pekerjaan Kolom
Gambar 3.12 Diagram Alir Pekerjaan Kolom Sumber: Dokumentasi PT.PP (Persero) Tbk., 2013
3.4.1.1 Pekerjaan Sebelum Pengecoran a. Pemahaman Shop Dra wing
Pemahaman terhadap Shop Dra wing atau gambar kerja merupakan tahap paling awal dari pekerjaan kolom. Pentingnya mempelajari gambar kerja ini karena akan dikerjakan nantinya oleh para mandor dan diawasi para pengawas.
Shop Dra wing dipelajari secara bertahap tergantung zona dan lantai yang akan
Gambar 3.13 Contoh Shop Dra wing yang Digunakan Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
b. Penentuan Letak Kolom
Menentukan letak kolom merupakan tahap setelah mempelajari Shop
Dra wing. Fungsi dari tahapan ini ialah agar posisi atau letak kolom sesuai dengan
perencanaan. Proses ini menggunakan alat yang dinamakan theodolit. Setiap akan melakukan pekerjaan kolom harus dilakukan pengecekan ini untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang terjadi seperti perubahan letak as ataupun kolom yang miring.
c. Pabrikasi Tulangan Kolom
d. Pemasangan Tulangan Kolom
Setelah tulangan dirangkai maka siap untuk dipasang ke titik yang telah ditentukan. Tulangan dipindahkan dengan menggunakan alat berat yaitu Tower
Crane. Setelah tulangan mencapai posisi yang diinginkan, tulangan
disambungkan. Menyambungkan tulangan juga memiliki aturan tersendiri. Seperti memiliki panjang tertentu untuk tulangan yang overlap, memasang besi kolom ke dalam stek besi yang sudah ada, lalu mengencangkan stek dan besi kolom dengan menggunakan sengkang.
Gambar 3.14 Proses pemasangan tulangan kolom Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.15 Gambar Contoh Sepatu Kolom Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Pengecekan kelurusan pemasangan sepatu kolom dilaksanakan saat pengerjaan penyambungan tangkai sepatu kolom dengan tulangan utama kolom sehingga permukaan luar sepatu kolom tepat segaris dengan marking sisi luar kolom.
Gambar 3.16 Proses Pemasangan Sepatu Kolom Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
e. Pabrikasi Bekisting
Bekisting adalah komponen yang digunakan untuk mencetak beton sesuai dengan dimensi yang direncanakan. Bekisting menggunakan bahan yaitu
Marking Sepatu Kolom
Stek Kolom
plywood dan kayu kaso. Pada proses pabrikasi bekisting juga terjadi tahapan pemasangan sabuk kolom yang terbuat dari besi. Biasanya sabuk kolom pada bekisting berjarak 40 cm.
Gamba r 3.17 Bekisting dengan sabuk kolom Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Proses setelah pemasangan sabuk kolom ialah membersihkan permukaan
plywood dan melumasinya. Guna diberikannya pelumas pada permukaan plywood
ialah agar mempermudah pembongkaran bekisting.
f. Pemasangan Bekisting
Guna menjaga selimut beton, sebelum pengecoran beton decking harus terpasang pada tulangan kolom. Beton deking berbentuk silinder dengan diameter 50 mm dan tebal 2.5 mm ini dibuat dengan campuran semen dan pasir dengan perbandingan (2 semen : 1 pasir) yang nantinya dipasang pada tulangan kolom setelah tulangan kolom dirakit.
Setelah pabrikasi bekisting dan bekisting sudah siap dipasang maka bekisting dipindahkan menggunakan tower crane.
Gambar 3.19 Pemasangan Bekisting Menggunakan Tower Crane Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.20 Tahap Pemasangan Bekisting Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Setelah terpasang, bekisting dipasangkan pipa support yang berguna menjaga bekisting agar tetap tegak dan lurus. Kelurusan dari bekisting diatur oleh fungsi push and pull pada pipa support bekisting.
Gambar 3.22 Push and Pull pada Pipa Support Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
3.4.1.2 Pekerjaan Ketikan dan Setelah Pengecoran a. Pengecekan Volume Pengecoran
Pengecoran kolom dilakukan dengan menggunakan bucket yang dibantu dengan tower crane. Pengecoran kolom dilakukan apabila pekerjaan tulangan dan bekisting telah selesai dikerjakan dan telah mendapat persetujuan dari konsultan pengawas. Pengecekan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah volume beton yan akan dibutuhkan pada tahap pengecoran yang dilakukan nantinya.
b. Pengecekan Slump Beton
c. Pengecoran
Pengecoran biasanya dilakukan pada malam hari setelah semua bekisting telah terpasang dan arus lalu lintas sekitar proyek tidak terlalu padat. Arus lalu lintas di sekitar jika terjadi macet maka akan berpengaruh pada ready mix karena bisa mengeras sebelum digunakan. Karena alasan ini juga pengecoran dilakukan secara berkala dan tidak langsung datang banyak sekaligus. Pengecoran untuk lantai dasar hingga lantai dua masih menggunakan concrete pump karena jangkauan pipa masih memadai, namun untuk pengecoran lantai yang cukup tinggi ialaha menggunakan tower crane dan bucket. Caranya dengan memasukkan campuran ke dalam bucket yang sebelumnya telah dibersihkan menggunakan air. Setelah itu bucket diangkat dan dipindahkan ke lokasi kolom yang akan dicor. Penuangan campuran dari bucket menggunakan selang untuk menjaga distribusi dari komposisi campuran.
Gambar 3.23 Pengecoran Kolom Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Penuangan akan berhenti disetiap 1/3 tinggi kolom, lalu dilakukan pemadatan dengan vibrator. Kegiatan tersebut diulangi setiap kelipatan 1/3 tinggi kolom sampai adonan beton memenuhi tinggi kolom yang diinginkan.
Gambar 3.24 Penuangan Ready Mix ke dalam Bucket Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
d. Pemadatan
Gambar 3.25 Proses Penggetaran Menggunakan Internal Vibrator Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Gambar 3.25 Proses Pengetokan Bekisting Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
e. Pembongkaran Bekisting
Gambar 3.26 Kepala Kolom
Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
f. Pekerjaan Perawatan
Pekerjaan perawatan ialah pekerjaan yang dilakukan sebelum beton benar-benar mengeras. Perawatan bertujuan untuk ketahanan beton terhadap aus, kekedapan terhadap air dan untuk meningkatkan keawetan beton. Prosesnya ialah dengan curing, curing dilakukan dengan terus menyemprotkan air ke permukaan beton selama minimal tiga hari berturut-turut.
3.4.2 Pekerjaan Balok dan Pelat Lantai
Gambar 3.27 Diagram Alir Tahapan Pekerjaan Balok dan Pelat Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
3.4.2.1 Pemasangan Perancah
Perancah atau scaffolding adalah komponen yang akan memikul bekisting untuk pelat dan balok. Jenis scaffolding yang digunakan pada proyek ini adalah scaffolding konvensional yang masih harus dibongkar pasang jika hendak dipindahkan ke area lainnya. Scaffolding memiliki peranan lain di luar menyangga bekisting, yaitu menyangga beban ketika pelat dan balok belum siap dan pekerja hendak melakukan pekerjaan selanjutnya di atas pelat dan balok.
Gambar 3.29 Pemasangan Scaffolding Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
3.4.2.2 Pembuatan Bekisting
Bekisting yang digunakan untuk balok akan bertumpu pada suri-suri scaffolding yang telah dipasang. Bekisting untuk balok terdiri dari komponen yaitu, kaso 5/7, balok plywood, form tie, balok siku 50×50,5 , penjepit berdiameter 10mm, form tie dengan ketentuan jarak tertentu, plywood, balok 6/12, perancah T
Gambar 3.30 Gambar Potongan Bekisting Balok Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Setelah bekisting balok dipasang maka dipasang horry bea m. Horry
beam merupakan perancah horisontal yang berfungsi menahan bekisting pelat
lantai sesaat dan mempertahankan kedataran bekisting pelat lantai sebelum dan setelah dilakukan pengecoran.
Setelah horry beam dipasang, selanjutnya adalah pemasangan plywood untuk cetakan pelat. Pekerjaan harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum proses pemasangan tulangan pelat dan balok dimulai.
Gambar 3.32 Pemasangan Plywood Bekisting Sumber: Dokumentasi PT. PP (Persero) Tbk., 2013
3.4.2.3 Pembesian
Gambar 3.33 Pabrikasi Wiremesh Sumber: Dokumentasi Penulis, 2013
Tulangan balok seperti biasa dipabrikasi di area yang telah ditentukan, begitu pula untuk wiremesh atau tulangan pelat. Proyek ini mengandalkan subkontraktor dan supplier masalah pekerjaan pembesian. Tulangan dipabrikasi lalu dipasang oleh para pekerja sesuai dengan peraturan yang ada pada gambar
shop dra wing untuk overlapping, diameter besi yang digunakan dan titik tulangan
ayam pada pemasangan wiremesh.
3.4.2.4 Pengecoran
akan dilakukan perbaikan ulang. Pekerjaan berikutnya adalah pembersihan lokasi pengecoran yaitu menyingkirkan kotoran-kotoran serbuk gergaji, potonganpotongan kawat pengikat, dan lainnya. Setelah pekerjaan pembersihan lapangan selesai, maka diadakan kontrol bersama di mana beton siap untuk dicor.
Gambar 3.34 Tahap Pengecoran Plat dan Balok Sumber: Dokumentasi Penulis, 2013
Pengecoran balok dan pelat dilakukan dengan secara bersamaan agardidapatkan satu kesatuan. Pekerjaan pengecoran dilakukan setelah selesai prosespenulangan selesai. Biasanya dilakukan pengecekan terhadap penulangan, serta kekuatan dari bekisting yang akan dipakai. Pembuatan spa ring (lubang-lubang)yang digunakan untuk keperluan Mechanical Electrical (ME) juga harusdikerjakan dengan benar. Sebelum dilaksanakan pengecoran, volume pengecoran ditentukan terlebih dahulu agar pemesanan beton sesuai dengan volume yang akan dicor. Setelah volume ditentukan, maka pemesanan beton
ready mix ke PT. Adhimix dilaksanakan. Pengiriman beton pun dilakukan secara
Gambar 3.35 Penggunaan Trowel Sumber: Dokumentasi Penulis, 2013
Saat pengecoran pelat dan balok juga harus dilakukan penggetaran agar tidak ada gelembung udara yang terjebak. Penggetaran pelat menggunakan trowel, trowel ada alat penggetar seperti baling-baling dengan jangkauan penggetaran yang cukup besar. Pemadatan dilakukan menggunakan alat concrete vibrator. Setelah itu, permukaan beton diratakan dengan menggunakan papan perata. Untuk mengecek kedalaman beton agar sesuai dengan harapan, dapat dilihat ditanda garis pada papan bekisting balok ataupun dengan cara menancapkan baja sepanjang tebal beton untuk memastikan apakah kedalaman beton sudah benar. kemudian dilakukan pengecekan kembali elevasi pelat menggunakan theodolit.
3.4.2.5 Lepas Shoring
Pembongkaran scaffolding dan bekisting balok dilakukan setelah beton mengeras. Setelah bekisting dibongkar, perancah masih tetap dipasang (reshore) sebagai penunjang sementara untuk meminimumkan lendutan.
Tabel 3.1 Waktu Minimum Untuk Pembongkaran Scaffolding Minimum waktu
Keterangan Waktu
Tepi cetakan beton 12 jam Tumpuan balok L= 3-6m 14 hari Tumpuan balok L<3m 7 hari Tumpuan balok L>6m 21 hari
Aturan mengenai berapa tingkat dan lamanya sistem cetakan dan perancah tetap dalam keadaan utuh terhadap pengecoran lantai dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3.36 Aturan Naiknya Tingkat Sistem Perancah Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Keterangan:
- T = siklus pengecoran lantai = 7 hari
- n = jangka waktu sejak pengecoran lantai i, pembongkaran reshore di bawah lantai i-2, dan pembongkaran reshore di bawah lantai i-1 = 5 hari.
- Pengecoran lantai I = x hari
- Pembongkaran reshore dibawah lantai i-2 dan pembongkaran
reshoring di bawah lantai i-1 = x+n hari.
Gambar 3.37 Bekisting Balok Sumber: Dokumentasi Penulis, 2013
Tahapan pembongkaran dimulai dari membongkar suri-suri dan horry
beam lalu scaffolding yang menopang plat. Setelah itu, melepaskan besi-besi siku
yang digunakan pada bekisting balok secara hati-hati agar tidak merusak beton. Besi-besi siku ini nantinya akan masih bisa digunakan kembali untuk pekerjaan balok lainnya.
3.4.2.6 Curing Beton
BAB 4
MANAJEMEN PROYEK
4.1 Manajemen Waktu Proyek
4.1.1 S-Curve (terlampir)
4.1.2 Milestones
Milestones adalah kejadian penting yang dapat terjadi dalam sebuah
proyek, dan tidak memiliki durasi. Milestones unik untuk setiap proyek.
Milestones dapat terjadi pada akhir dari sebuah paket kerja dalam WBS dan dapat
termasuk dalam jadwal proyek. Dalam pekerjaan konstruksi, milestones sering digunakan sebagai suatu titik dalam proyek dimana suatu pembayaran dibuat.
Milestones pada Proyek Pembangunan Apartemen Kemang View sebagai berikut
a. Penyelesaian Persiapan b. Penyelesaian Konstruksi c. Penyelesaian Proyek d. Proyek dimulai
4.1.3 Estimasi Waktu
Estimasi pengerjaan proyek ini adalah 630 hari kalender atau 21 bulan dengan waktu pelaksanaan proyek dari November 2012 hingga Juli 2014. Selama 12 bulan adalah pelaksanaan pekerjaan struktur dan 14 bulan pelaksaan pekerjaan arsitektur yang memiliki overlapsebanyak 5 bulan dengan pekerjaan struktur.
4.1.4 Kontrol Jadwal
jadwal proyek yang telah ditentukan. Beberapa cara tersebut meliputi fast tracking
dan crashing. Fa st tracking adalah pengerjaan pekerjaan secara bersamaan atau
paralel dan cra shing merupakan pengerjaan dengan menambahkan waktu kerja serta sumber daya yang ada.
4.2 Manajemen Kualitas Proyek
4.2.1 Standar Kualitas Produk dan Perencanaan Kualitas
Proyek pembangunan Apartemen Kemang View ini haruslah disesuaikan dengan tujuan akhir dari penggunaan gedung Apartemen Kemang View: sebagai tempat tinggal, hotel, dan perniagaan. Perencanaan kualitas ini diawali dengan melakukan pengecekan internal oleh kontraktor yang bertanggung jawab untuk dapat mengetahui proses pembuatan dan operasional dari pembangunan Apartemen Kemang View: PT. PP (Persero) Tbk.. Setelah itu, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari persetujuan dari owner proyek. Apabila pemilik proyek menyetujui perancanaan kualitas yang diajukan, maka proyek akan langsung dilakukan. Akan tetapi, apabila perencanaan kualitas yang telah dilakukan oleh kontraktor ditolak, maka harus dibuat perencanaan yang baru lagi. Setelah persetujuan pemilik didapatkan, kontraktor akan mengundang manajemen bangunan ditemani oleh teknisi dan supplier yang bersangkutan berserta standard
operating procedure (SOP) yang telah dibuat sebelumnya.
4.2.2 Spesifikasi
Apartemen Kemang View akan dijadikan sebagai sarana tempat tinggal, hotel, dan juga perniagaan yang mana karena itu kualitas bangunan yang merupakan tanggung jawab dari PT. PP (Persero) Tbk. diwajibkan mampu mendukung seluruh kegiatan yang mungkin terjadi setelah Apartemen Kemang View terbangun tanpa adanya resiko yang tinggi.
Spesifikasi kerja dalam hal ini meliputi target kualitas yang telah ditetapkan oleh PT. PP (Persero) Tbk.. Spesifikasi kerja yang dilakukan pada pembangunan Apartemen Kemang View adalah
- Sudut kolom tidak geripis - Tidak ngeplin
- Warna permukaan seragam
- Ukuran sesuai dengan shopdra wing
- Pada kaki kolom tidak geripis/keropos dan air semen tidak keluar
Gambar 4.1 Target Kualitas Struktur Beton Kolom Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
Struktur Beton Balok
Pada bagian kepala kolom tidak keropos, tanpa plin, sambungan bersih, dan air semen tidak meleleh.
Struktur Plat Balok
- Sudut balok tidak geripis - Tidak ngeplin
- Warna permukaan seragam - Balok lurus
Gambar 4.3 Target Kualitas Struktur Plat Balok Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
b. Pekerjaan Arsitektur
Pekerjaan pemasangan dinding bata ringan
Pekerjaan Plester Dinding
Gambar 4.5 Target Kualitas Pekerjaan Plester Dinding Sumber: PT. PP (Persero) Tbk., 2013
c. Pekerjaan Pembesian
Sesuai dengan shop dra wing: diameter, jarak, dimensi, jumlah
Ikatan antar pertemuan tulangan kuat dan diikat 100% memakai kawat beton
Selimut beton > 3 cm dan < 15 cm
Ukuran dan jumlah posisi beton deking kuat
Overlap minimal 40 × diameter
Bersih dari kotoran, lumpur, oli, cat, karat, kerak