• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyajian Data Penelitian

Dalam dokumen M09 PSP PENGEMBANGAN PROFESI 07092016 (Halaman 65-75)

F. Cara Penggunaan Modul

2. Penyajian Data Penelitian

Data yang dikumpulkan biasanya masih berserakan, tidak beraturan dan sulit dibaca. Agar data tersusun teratur dan mudah dibaca, maka perlu disusun. Dengan demikian pengertian penyajian data adalah kegiatan menyusun data mentah yang berserakan menjadi lebih teratur sehingga mudah dibaca, dipahami dan dianalisis. Tujuan penyajian data menurut Ferguson dan Takane (1998:16) adalah: 1) memudahkan dalam membaca dan memahami data; 2) memudahkan dalam proses analisis data.

a. Penyajian Data Kuantitatif

Data yang diperoleh perlu diatur, disusun dan disajikan dalam bentuk yang lebih jelas dan lebih baik. Data kuantitatif dapat disajikan dalam dua cara

1) Membuat Tabel dan Daftar

a) Daftar Baris dan Kolom

CONTOH DISTRIBUSI BARIS DAN KOLOM:

Gambar 5. Contoh Tabel Distribusi Baris dan Kolom

b) Distribusi Frekuensi

(1) Tabel Distribusi Frekuensi Tunggal

Tabel Distribusi Frekuensi Tunggal adalah tabel yang digunakan untuk menyusun distribusi data dalam frekuensi dengan distribusi yang bersifat tunggal.

CONTOH DISTRIBUSI FREKUENSI TUNGGAL:

Gambar 6. Contoh Tabel Distribusi Frekuensi Tunggal DATA JENIS KELAMIN GURU TAHUN 2013-2016

SEKOLAH BINAAN

Tahun Laki-Laki Jumlah Guru Perempuan Jumlah

2013 47 43 90

2014 44 48 92

2015 45 48 93

2016 50 48 98

Sumber Data: …

DATA USIA GURU PESERTA UKG 2015 SEKOLAH BINAAN

Usia Guru Frekuensi (F)

< 55 10 45-55 21 35-45 25 25-35 21 >25 13 Jumlah 90 Sumber Data: …

(2) Tabel Distribusi Frekuensi Bergolong

Tabel distribusi frekuensi bergolong adalah tabel yang digunakan untuk menyajikan data dalam frekuensi dengan distribusi data bergolong. Penggolongan distribusi data dilakukan untuk makin memudahkan memahami data.

CONTOH DISTRIBUSI FREKUENSI BERGOLONG

Gambar 7. Contoh Tabel Distribusi Bergolong

(3) Tabel Kontingensi (Tabel Faktorial)

Tabel kontingensi merupakan bagian dari tabel baris kolom, akan tetapi tabel ini mempunyai ciri khusus, yaitu untuk menyajikan data yang terdiri atas dua faktor (variabel) atau lebih dalam satu perpaduan baris dan kolom

CONTOH DISTRIBUSI FREKUENSI KONTINGENSI:

Gambar 8. Contoh Tabel Frekuensi Kontingensi Keterangan:

Grade 1-3 (Rendah) untuk guru yang dapat grade ini dilabel "Tidak Layak Guru", yaitu mereka yang mendapat nilai kurang dari 40.

Grade 4-7 (Sedang), yaitu yang nilainya antara 40-70 akan diberi pembinaan pedagogik dan profesional.

Grade 8-10 (Tinggi), yaitu yang dinyatakan lulus dan mendapat nilai 70 ke atas akan dijadikan sebagai tutor sebaya bagi guru-guru yang mendapat grade 4-7.  Faktor yang satu terdiri atas b (baris) kategori dan lainnya terdiri atas k (kolom)

kategori, dapat dibuat daftar kontingensi berukuran b x k dengan b menyatakan baris dan k menyatakan kolom

DATA GRADE NILAI UKG 2015 SEKOLAH BINAAN

Nilai Ukg Grade Frekuensi (F)

< 40 1-3 30

40-70 4-7 35

80-100 8-10 12

Sumber Data: …

DATA MASA KERJA GURU DAN NILAI UKG SEKOLAH BINAAN Grade Nilai Ukg (2015) Masa Kerja (Tahun) Jml Prosen tase (%) 0-5 5-10 10-15 15-20 20-25 > 25 1-3 0 0 1 2 0 1 4 4,44 % 4-7 4 8 13 11 6 4 46 51,11 % 8-10 7 5 10 7 5 6 40 44,44 % Jumlah 11 13 14 20 11 11 90 100 Sumber Data:…

2) Membuat Diagram

a) Diagram Batang

Diagram Batang adalah grafik yang berbentuk persegi panjang yang lebarnya sama dan dilengkapi dengan skala atau ukuran dalam interval tertentu pada pada bidang cartesius. Diagram batang biasanya digunakan untuk menggambarkan data diskrit (data cacahan). Ada dua jenis diagram batang, yaitu 1) diagram batang vertikal, dan 2) diagram batang horizontal.

CONTOH DIAGRAM BATANG VERTIKAL

Gambar 9. Contoh Diagram Batang Vertikal CONTOH DIAGRAM BATANG HORIZONTAL

Gambar 10. Contoh Diagram Batang Horizontal b) Diagram Baris (Histogram)

Diagram Baris (Histogram) disebut juga Bar Diagram adalah grafik berbentuk segi empat dengan dasar pembuatan menggunakan batas nyata atau titik tengah.

CONTOH DIAGRAM BARIS (HISTOGRAM

Gambar 11. Contoh Diagram Baris (Histogram) 0 10 20 0-5 5-10 10-15 15-20 20-25 >25 G RA DE NILA I UK G MASA KERJA

DATA MASA KERJA GURU DAN GRADE NILAI UKG 2015 1-3 (Rendah) 4-7 (Sedang) 8-10 (Tinggi) 0 5 10 15 0-5 10-15 20-25

GRADE NILAI UKG

M A SA KER J A

DATA MASA KERJA GURU DAN GRADE NILAI UKG

8-10 4-7 1-3 0 5 10 15 0-5 5-10 10-15 15-20 20-25 25-30 G RA DE NILA I UK G MASA KERJA

DATA MASA KERJA GURU DAN GRADE NILAI UKG

1-3 4-7 8-10

c) Diagram Pie/Pastel (Lingkaran)

Diagram Pie/Pastel (Lingkaran) adalah grafik atau bagan berupa lingkaran yang telah dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan proporsi data. Biasanya dinyatakan dalam prosentase.

CONTOH DIAGRAM PIE/PASTEL (LINGKARAN)

Gambar 12. Contoh Diagram Pie/Pastel (Lingkaran) d) Diagram Garis

Diagram Garis adalah grafik data berupa garis yang diperoleh dari ruas garis yang menghubungkan titik-titik pada bilangan. Grafik ini dibuat dengan 2 sumbu yakni sumbu X menunjukkan bilangan yang sifatnya tetap, seperti tahun, ukuran dan sebagainya. Sedangkan pada sumbu Y ditempatkan bilangan yang sifatnya berubah-ubah seperti, harga, biaya dan jumlah.

CONTOH DIAGRAM GARIS

Gambar 13. Contoh Diagram Garis e) Diagram Pencar (Titik)/Scatter Diagram

Diagram Pencar adalah gambaran grafis yang terdiri dari sekumpulan titik- titik (point) dari nilai sepasang variabel (variabel X dan variabel Y). Diagram ini bertujuan untuk menunjukkan seberapa kuatnya hubungan antara 2 (dua) variabel serta menentukan jenis hubungan dari 2 (dua) variabel tersebut apakah hubungan positif, hubungan negatif ataupun tidak ada hubungan sama sekali.

CONTOH DIAGRAM PENCAR (TITIK)/SCATTER 64%

25%

11%

PROSENTASE MASA KERJA TERHADAP GRADE NILAI UKG 1-3 4-7 8-10 0 5 10 15 0-5 5-10 10-15 15-20 20-25 >25 M A S A KE RJA

DATA MASA KERJA GURU DAN GRADE NILAI UKG

1-3 4-7 8-10

Gambar 14. Contoh Diagram Pencar (Titik/Scatter) b. Penyajian Data Kualitatif

Penyajian data kualitatif merupakan salah satu langkah yang dilakukan pada tahapan analisis data kualitatif. Langkah-langkah penyajian data kualitatif disajikan pada gambar berikut, antara lain: koleksi data, display data, dan reduksi data.

Gambar 15. Tahapan Penyajian Data Kualitatif

Berdasarkan gambar tersebut, dapat dipahami bahwa pada tahap pengolahan data maupun analisis data untuk pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif berbeda. Penjelasan berikut akan lebih memfokuskan pada tahapan analisis data kualitatif. Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2015) mengatakan hal penting tentang analisis data kualitatif, bahwa “The most serious and central difficulty in the use of qualitative data is that methods of analysis are not well formulate”. Pendapat tersebut dikuatkan dengan pendapat Susan Stainback dalam Sugiyono (2015) bahwa “There are no guidelines in quality research for determining how much data analysis are necessary to support and assertion, conclusion or theory”. Berdasarkan pendapat ahli tersebut, maka peneliti kualitatif tidak perlu khawatir tentang akhir dari pekerjaan penelitiannya. Berikut ini diuraikan dan dicontohkan data-data yang biasa dikumpulkan oleh peneliti kualitatif.

47 44 45 50 43 48 48 48 42 44 46 48 50 52 2012 2013 2014 2015 2016 2017 J UM LA H G UR U TAHUN AJARAN

DATA SEBARAN JUMLAH GURU DAN JENIS KELAMIN

Laki-laki Perempuan

Reduksi Data

Verifikasi/ Kesimpulan

Koleksi Data Display Data

1) Koleksi Data

a) Catatan Lapangan

Menurut Bogdan dan Biklen (1982) catatan lapangan merupakan catatan tertulis mengenai apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Idrus (2007:85) juga berpendapat bahwa catatan lapangan merupakan catatan yang ditulis secara rinci, cermat, luas, dan mendalam dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti tentang aktor, aktivitas ataupun tempat berlangsungnya kegiatan tersebut. Data catatan lapangan dapat berasal dari berbagai sumber catatan seperti: 1) Jotted Notes yang merupakan catatan buatan peneliti di tempat penelitian. Catatan cukup ringkas yang hanya berisi kata-kata yang dapat mengingatkan memori di tempat kejadian; 2) Catatan analitis merupakan tulisan taktik, rencana, keputusan prosedural, serta kritik peneliti secara pribadi mengenai keputusan yang diambil sendiri; 3) Catatan pribadi merupakan catatan pribadi peneliti mengenai segala hal yang peneliti rasakan dalam mengadakan penelitian; 4) Catatan pengamatan langsung (Direct Observation Notes) merupakan catatan yang dibuat langsung oleh peneliti setelah meninggalkan tempat kejadian. Catatan ini disusun secara kronologis berdasarkan tempat, waktu, dan urutan kejadian. Catatan lapangan dapat berasal dari transkripsi rekaman video, audio, maupun foto. Tangkapan informasi ditulis apa adanya dalam bentuk transkripsi. Peneliti perlu mengkonfirmasi informasi hasil transkripsi dengan catatan peneliti; 5) Catatan interpretasi peneliti (Researcher Inference Notes) merupakan interpretasi peneliti mengenai suatu kejadian tertentu; 6) Peta dan diagram merupakan gambaran situasi di tempat kejadian dan memudahkan pembaca untuk memahaminya; 7) Catatan wawancara merupakan catatan yang menerangkan kapan, siapa, bagaimana, dan isi dari pokok-pokok wawancara yang dibahas.

CONTOH CATATAN INTERPRETASI PENELITIAN

CATATAN PENELITI Data Informan:

Nama : Djasis, S. Pd., M.Pd.

Jabatan : Kepala SMP Negeri Millenium 1 Alamat : Jln. AIS Nasution No. 26

Kota Melosuba

Tanggal pengamatan/wawancara : 19 Januari 2016

Informan menjawab: “jujur saja, belum pernah lakukan penilaian diri”. (Catatan

peneliti): situasi saat ditanya cukup membingungkan, karena informan tidak melakukan penilaian diri, sedangkan penilaian diri akan ditagih pada saat IN-2. Setelah wawancara, peneliti mencoba menggali informasi dari informan lain, seperti pengawas SMP dan juga pengawas SD. Dari informasi informan lain ternyata informan baru saja mengalami kedukaan (suaminya meninggal dunia), kemudian menikah lagi, namun suaminya terkena penyakit stroke ringan sehingga harus dibawa dan ditemani untuk berobat. Menurut peneliti: kemungkinan besar, perhatian dan fokus informan tidak kepada pelatihan atau penyelesaian tagihan-tagihan, karena perhatiannya kepada suami yang sedang sakit.

Interpretasi peneliti

CONTOH CATATAN LAPANGAN

CATATAN LAPANGAN

PROVINSI : SULUJABATE

KABUPATEN/KOTA : SUBASOMA

NAMA TIM ENUMERATOR : MIYAHJENTI

TANGGAL : JUMAT, 22 JANUARI 2016

A. RENCANA KEGIATAN

Hari ini peneliti melanjutkan kegiatan sesuai dengan yang telah direncanakan. Kota Ternate masih diguyur hujan deras sehingga sedikit menghambat tim untuk menjangkau MIS Darul Muksinin karena harus berjalan kaki. Kondisi fisik peneliti juga mulai membaik. Hari ini tim berhasil melakukan wawancara sesuai dengan yang direncanakan, yakni 4 orang informan, yakni :

1. Kepala Madrasah MIS Darul Muksinin : Syahriati Kamaruddin 2. Guru Madrasah MIS Darul Muksinin : Nasibala Lamasila 3. Guru Madrasah MIS Darul Muksinin : Sana Karim

4. Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Ternate: Nayla Batsyir

Secara umum wawancara berlangsung dengan baik. Wawancara dengan Kepala Madrasah (Kamad) MIS Darul Muksinin dilaksanakan di ruang kepala sekolah. MIS Darul Muksinin terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota. Kondisi fisik sekolah cukup memprihatinkan, terdapat atap yang bocor dan dinding antar ruang kelas terbuat dari papan. Ruang kepala sekolah juga sangat kecil, berukuran 2x2 meter. Wawancara dengan kedua orang guru MIS Darul Muksinin dilakukan di ruang kelas setelah murid- murid pulang sekolah. Durasi waktu wawancara bervariasi yakni 20-110 menit. Setelah istirahat siang (Sholat Jumat), tim berinisiatif untuk beristirahat sejenak, karena kondisi kesehatan yang mulai menurun karena kehujanan. Kemudian pada sore hari melanjutkan wawancara dengan Kasi Penma Kemenag Kota Ternate. Menurut adat istiadat dan kepercayaan yang dianut, dalam suasana duka tersebut masih belum dapat keluar rumah termasuk ke kantor. Peneliti sempat ragu dapat mewawancarai responden, namun setelah ditelepon dan menjelaskan maksud dan kedatangan tim, responden menerima dengan baik dan mempersilahkan langsung datang ke rumah. Wawancara hari ini selesai pada pukul17:25.

B. TANTANGAN

Secara umum tidak terdapat tantangan yang berarti pada aktivitas wawancara, kecuali kondisi fisik tim yang masih belum terlalu pulih, serta kondisi cuaca kota Ternate yang masih diguyur hujan deras dari pagi hingga sore.

C. CATATAN WAWANCARA DAN PENGAMATAN Informan 1: Kamad MIS Darul Muksinin

Responden tidak dapat menunjukkan satupun dokumen yang diminta oleh tim. Menurut responden, data-data dan dokumen hilang karena laptop rusak dan juga karena sudah diserahkan ke WI di LPMP Tidore. Responden dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan baik, meskipun terdapat beberapa pertanyaan ataupun aktivitas pada saat In1, OJL dan In2 yang sudah tidak diingat. Responden sangat bersyukur dapat mengikuti kegiatan ProDEP, mengingat Kemenag Kota Ternate memberikan perhatian yang masih kurang kepada Madrasah Swasta dibandingkan Madrasah Negeri, termasuk pelatihan-pelatihan dan juga bantuan-bantuan lainnya. Responden juga menyampaikan bahwa MIS Darul Mukminin tidak mendapatkan bantuan BOSDA. Sebagai informasi, MIS ini memiliki 61 murid, 5 rombel dan memiliki 12 PTK (7 PNS, 4 Honor dan 1 penjaga sekolah).

Informan 2 : Guru MIS

Murid-murid di MIS ini telah pulang sekolah pada pukul 10 pagi karena hari Jumat. Wawancara dengan responden guru dilakukan di ruang kelas. Responden dapat

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan baik terkait dengan BPU 1 (kurikulum) dan BPU 2 (Supak) yang dipelajari oleh Kepala Madrasah. Responden telah bertugas di MIS sejak tahun 2011 dan merupakan guru kelas 2. Setelah selesai wawancara, responden kemudian menyelesaikan angket kuantitatif.

Informan 3 : Guru MIS

Responden merupakan guru mata pelajaran agama (Fiqih) dan telah mengajar di sekolah sejak tahun 2013. Sama seperti responden guru sebelumnya, wawancara berjalan dengan baik dan responden dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan baik dan nyaman.

Informan 4 : Kasi Penma Kemenag Kota Ternate

Wawancara dilakukan di rumah responden dan tim diterima dengan baik. Responden menyampaikan bahwa pengawas MTs dan MI telah menghubungi dan memberitahukan tentang kedatangan tim, sehingga responden telah siap dan dapat menjawab dengan baik semua pertanyaan yang diajukan meskipun masih dalam keadaan berduka. Responden merupakan peserta pelatihan Renstra pada tahun 2014 dan telah menjabat sebagai Kasi Penma selama 2 tahun. Responden menyampaikan bahwa isi Renstra secara spesifik sudah tidak ingat, namun Renstra belum mengakomodasi isu gender dan disabilitas. Responden mengetahui dengan baik tentang Prodep dan sangat terkesan dengan program PPCKS, karena tidak ada di Kemenag Kota Ternate. Pengangkatan Kepala Sekolah hanya berdasarkan kompetisi dan senioritas. Menurut responden, program Prodep yang ingin dilanjutkan adalah PKB dan akan diajukan ke Kanwil Agama Provinsi Maluku Utara dan juga Kepala Kantor Kemenag Kota Ternate. D. TARGET RENCANA KEGIATAN BESOK

Peneliti akan ke SMPN 1 Kota Ternate untuk bertemu dengan KS SMP dan para guru untuk mengambil angket dan dokumen-dokumen pelatihan serta bertemu dengan Pengawas SD untuk meminta kelengkapan dokumen. Selain itu tim akan melakukan diskusi dan pemeriksaan kelengkapan instrumen, angket dan data-data lainnya serta entry data di penginapan sebelum kembali ke lokasi masing-masing.

CONTOH TRANSKRIPSI WAWANCARA/REKAMAN AUDIO/VIDEO

IDENTITAS

Kode :G3.RW.W-1

Hari : Selasa Tanggal : 15 September 2015 Jam: 15.20

Informan: Guru Posisi: Guru

SD Nama Subyek: Dra. Rini Jenis Kelamin: Perempuan Umur: - Alat Bantu : Camera Foto / Audio Recorder / Video Recorder / Alat Tulis

ISI TRANSKRIP

SUBYEK ISI TEMA

DSCI040 1

Jadi kalau bicara pengembangan profesional guru itukan bisa dilakukan dengan apa saja. Rupa kuliah maso kang? Seminar. Ibu so ja iko seminar? So golongan berapa?

Aktifitas

Pengembangan melalui Seminar Seminar --- golongan 3B, sementara golongan 3C sementara

diurus.

Ja ba iko seminar? Pelatihan ia kang, diklat itu biasa kang. Seminar satu dua kali.

DSCI040 2

Kesimpulannya bahwa pengembangan profesional butuh waktu ya? Nah kalau memang butuh waktu, apakah waktu yang dibutuhkan untuk penelitian sama banyak dengan waktu yang dibutuhkan untuk baca buku, atau sama banyaknya dengan waktu yang dibutuhkan untuk kuliah?

Kebutuhan Waktu

2) Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Reduksi data dapat diartikan sebagai suatu proses: 1) pemilihan data; 2) pemusatan perhatian pada penyederhanaan data; 3) pengabstrakan data; 4) transformasi data: kasar” yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Reduksi data merupakan bagian tak terpisahkan dari pengolahan data, berlangsung terus-menerus selama pengumpulan data kualitatif dilakukan. Pada proses reduksi data dilakukan pemilihan tentang: 1) data mana yang perlu di kode; 2) data mana yang perlu dibuang; 3) pola mana yang harus diringkas, dst. Jadi kegiatan reduksi data adalah proses: 1) penajaman analisis, 2) penggolongan data; 3) pengarahan data; 4) pembuangan data yang tidak perlu dan; 5) pengorganisasian data sedemikan rupa untuk bahan penarikan kesimpulan.

CONTOH HASIL REDUKSI DATA (KODIFIKASI DAN PENENTUAN TEMA)

DSCI040 3

Bu Rina tadi kan bilang pengembangan profesional mo baca buku perlu beli buku, pake doi, penelitian untuk bahan penelitian pake doi, nah menurut bu Rina guru perlu nda secara pribadi menyisihkan anggaran untuk pengembangan diri?

Kebutuhan Dana Beli Buku

Ya perlu, karena pengalamannya waktu saya ambil S1 dulu, jadi sebagian pribadi sebagai sekolah.

Berarti perlu. Nah karena itu perlu tiba-tiba ada itu kan nda mungkin ya?

DSCI040 4

Ibu so, punya gagasan mengembangkan bahan ajar pariwisata itu kan so ibu rencanakan sendiri yang mulai bulan juni nanti awal semester depan so kelar. Nah ada kelanjutannya program yang ibu beking ini.

Keberlanjutan Kegiatan

Pengembangan Rencananya setelah itu, ada lagi kan, ada beberapa

kompetensi yang saya berikan. Bukan cuma satu kompetensi. Akan bikin lagi untuk kompetensi lain. Ia kalau sudah selesai. Itu sendiri atau dengan tim?

Untuk sementara sendiri, cuma saya minta informasi sedikit- sedikit dari teman.

Perlu DSCI040

5

Nah, ibu beking modul itu, itu kan keperluan sekolah, bukan keperluan pribadi. Ia, kan di pake untuk pelajaran di sekolah. Ibu pernah ajukan itu ke tingkat jurusan atau sekolah?

Kebutuhan Dana

Pengembangan Profesi

Oh sekolah dulu pernah,.

Oh pernah disampaikan ke sekolah?

CATATAN LAIN-LAIN Koneksi Data ke Kode: Tanggal Aproval: Tanda Tangan Informan:

3) Display/Sajian Data

Display data atau penyajian data dapat berbentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Menurut Miles dan Huberman (1984) “the most frequent form of display data for qualitative research data in past has been narrative text”. Dengan menyajikan data, maka peneliti mudah menentukan tema dan pola hubungan antar tema sehingga akan mempermudah pula untuk membuat proposisi-proposisi. Berikut ini contoh sajian data dengan temuan pola terkait perencanaan dana pengembangan profesional.

CONTOH DATA YANG DIDISPLAY (PENENTUAN POLA)

POLA: Perencanaan Dana Pengembangan Profesional Pertama, dana pengembangan profesional ada yang direncanakan oleh pihak

eksternal, sekolah dan individu guru;

Kedua, jika guru ingin berkembang, guru dapat menyisihkan dana minimal Rp. 50.000 sebulan untuk pengembangan diri;

Ketiga, sumber dana pengembangan diri atas inisiatif guru sendiri dapat disisihkan dari uang jalan guru, dan sumber lainnya dan tidak perlu mengambil dari pendapatan utama (gaji);

Keempat, dana pengembangan guru untuk pendidikan lanjut sudah ada pada RABS dan Rencana Anggaran Komite Sekolah. Dana yang disediakan tidak jelas jumlahnya; Kelima, Sekolah memasukkan anggaran seminar, pelatihan atau penataran dalam RAKS dan koperasi sekolah. Dana yang disediakan koperasi sekolah untuk guru sebesar 2,5% dari sisa hasil usaha (SHU). Dana yang dicantumkan di RAKS dan koperasi sekolah dianggarkan untuk menambah dana uang saku dan uang jalan sebesar Rp. 250.000 untuk dalam kota dan sebesar Rp. 500.00 untuk luar kota; Keenam, dana pengembangan guru seperti seminar ditanggung bersama oleh pihak penyelenggara dan sekolah, meskipun dana yang harus disediakan oleh sekolah sebenarnya hanya berupa tambahan untuk uang jalan;

Ketujuh, dana penataran ditanggung pihak penyelenggara, sekolah, dinas pendidikan DATA HASIL WAWANCARA

TEMA: Pengembangan Kurikulum

Cuma memang pernah ada yang di sekolah kita ini untuk apa... e... kasih kursus inggris dengan komputer. ...kalu dari ketua jurusan kita itu pernah usul, ...seperti ini baru-baru dia usulkan ke kita, kita sebagai sekertaris jurusan, kan kita ikut eee apa... (maksudnya kursus) komputer supaya merakit (merakit komputer) katanya supaya,... ikut kursus...

(G1.DT.W-1.h5,13)

TEMA: Pengembangan Guru

Pernah ketika kurikulum 2006, selama satu tahun yang ikut seminar dan ikut pelatihan hampir 30, 40 orang. Yang kelabakan koperasi, dana pendidikan kalau dia (guru) anggota koperasi, kalau dia ikut pelatihan, ikut penataran, ikut seminar dia dapat. ...padahal dana pendidikan dari koperasi itu kan hanya 2,5% dari SHU....

(G2.SK.W-1.h10)

PANDANGAN PENELITI

TEMA: Pengembangan Guru

Komentar Peneliti: Kondisi kebingungan kepala sekolah dalam menentukan peserta semakin menegaskan pernyataan kepala sekolah sendiri bahwa kegiatan pengembangan sering dilakukan belum terencana atau lebih bersifat insidental.

dan pemerintah kota;

Kedelapan, biaya kursus bahasa maupun kursus komputer merupakan inisiatif sekolah dan dana pengembangan yang direncanakan oleh sekolah;

Kesembilan, dana studi mandiri seperti membaca buku merupakan inisiatif guru untuk tujuan pengembangan diri dan untuk menyesuaikan bahan ajar hasil pengkajian kurikulum. Namun buku yang dimaksud adalah buku yang baru sesuai dengan perkembangan di luar. Maka, mekanisme pengadaan buku tersebut ada dua yakni dapat secara langsung membeli sendiri dan mendapat pengembalan dengan menyerahkan nota pembelian, atau dapat pula diusulkan daftar buku yang hendak dibeli kepada pihak sekolah untuk dibelikan. Dana pengadan buku dapat diambil dari dana BOM.

4) Verifikasi dan Kesimpulan CONTOH VERIFIKASI

CONTOH KESIMPULAN

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya tentang perencanaan dana pengembangan profesional guru, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pola perencanaan dana pengembangan profesional guru belum sepenuhnya dimiliki oleh guru, sekolah maupun Dinas Pendidikan. Ada beberapa ketetapan yang telah dimiliki oleh sekolah, meskipun seharusnya perencanaan dana seharusnya disusun oleh guru sendiri untuk pengembangan profesinya karena akan menggunakan dana sendiri, dana yang disediakan oleh sekolah, oleh Dinas Pendidikan maupun oleh pihak eksternal. Dalam merencanakan pendanaan pengembangan profesional guru seharusnya disusun oleh guru, sekolah, Dinas Pendidikan dan pihak eksternal secara kolaboratif. Ketetapan-ketetapan pendanaan bagi kebutuhan aktivitas pengembangan profesional guru dibuat sekolah dan dirancang secara bersama melibatkan semua elemen yang ada di sekolah. Ketetapan-ketetapan pendanaan dimaksud ditentukan dengan pertimbangan besaran satuan aktivitas per orang sesuai jarak, lama waktu kegiatan dan kebutuhan yang terkait

Dalam dokumen M09 PSP PENGEMBANGAN PROFESI 07092016 (Halaman 65-75)

Dokumen terkait