• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit infeksi pada pembenihan ikan baung

PENYAKIT PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG

1. Penyakit infeksi pada pembenihan ikan baung

Beberapa jenis penyakit infeksi yang potensial pada pembenihan ikan baung sudah dimulai sejak stadia larva di unit pembenihan hingga ukuran siap tebar di unit pembesaran. Pada stadia larva hingga ukuran benih sering ditemukan adanya infeksi parasit (protozoa: Trichodina spp., Ichthyophthirius multifiliis, Epistylis spp., Oodinium spp., dan metazoa: Dactylogyrus spp., Gyrodactylus spp.), infeksi jamur (Saprolegniaceae), dan beberapa jenis bakteri: Aeromonas hydrophila, A. sobria, Flavobacterium columnare, Pseudomonas spp., dan beberapa jenis bakteri patogen lainnya (Lerssutthichawal 2008; Faruk dan Anka 2017; Taukhid et al. 2018).

1.1 Parasit

Infeksi patogen parasitik jarang mengakibatkan wabah penyakit yang sporadis. Namun pada intensitas serangan yang tinggi, hal itu bisa saja terjadi. Akibat yang ditimbulkannya secara ekonomis cukup merugikan. Selain dapat mengakibatkan kematian, hal tersebut juga dapat menurunkan laju pertumbuhan, rasio konversi pakan yang kurang

efisien, menurunkan performance, serta ketahanan tubuh ikan sehingga sering dimanfaatkan sebagai jalan masuk (port of entry) bagi infeksi sekunder oleh patogen lain, seperti jamur dan bakteri (Faruk dan Anka 2017; Taukhid et al. 2018).

1.1.a Protozoa

Beberapa jenis protozoa parasitik yang umum menginfeksi dan menimbulkan kerugian signifikan pada pembenihan ikan baung di Indonesia, antara lain: Trichodina spp., Trichodinella spp., Tripartiella spp., Ichthyopthirius multifiliis, dan/atau umum disebut “penyakit gatal”.

Infeksi jenis-jenis protozoa parasitik tersebut umumnya lebih banyak ditemukan pada media budidaya yang mengandung total bahan organik tinggi, relatif stagnan, serta padat tebar tinggi dan status kesehatan benih yang kurang prima akibat nutrisi yang kurang berimbang. Trichodina spp. sering ditemukan menginfeksi kulit, sirip, dan insang benih ikan baung. Sementara dari genus Trichodinella spp. dan Tripartiella spp.

umumnya hanya ditemukan pada insang ikan. Ketiga genus protozoa tersebut menempel dan merusak sel epitel atau epidermal pada tubuh benih ikan sehingga menimbulkan iritasi yang serius dan selanjutnya digunakan sebagai pintu masuk bagi bakteri atau jamur. Gejala klinis yang dapat digunakan sebagai diagnosa presumtif akibat infeksi parasit ini, antara lain ikan tampak pucat, nafsu makan menurun, gerakan lambat, dan sering menggosok-gosokkan tubuhnya pada dinding kolam.

Pada infeksi lanjut, sirip kuncup, megap-megap dan meloncat-loncat ke permukaan air, serta adanya hemoragi/pendarahan pada pangkal sirip (Lom dan Dykova 1992; Faruk dan Anka 2017; Taukhid 2017).

Ichthyophthirius multifiliis atau biasa disebut ”Ich” atau “penyakit bintik putih” merupakan salah satu jenis parasit yang paling sering menjadi kendala pada pembenihan ikan baung. Parasit tersebut lebih sering muncul pada saat suhu air budidaya relatif rendah secara berkelanjutan (22–27°C) sehingga sering disebut “parasit musim dingin”. Sifat serangannya sangat sporadis karena memiliki kemampuan multiplikasi yang sangat cepat, dan kematian yang diakibatkannya dapat mencapai 100% dari seluruh populasi dalam tempo yang relatif singkat. Gejala klinis yang dapat digunakan sebagai diagnosa presumtif akibat infeksi parasit ini, antara lain: (1) Ikan tampak pucat, nafsu makan berkurang, gerakan lambat dan sering menggosok-gosokkan tubuhnya pada dinding

kolam. Pada infeksi lanjut, ikan tampak megap-megap dan meloncat-loncat ke permukaan air untuk mengambil oksigen; dan (2) Gejala khas infeksi parasit ini adalah adanya bercak-bercak putih pada permukaan tubuh ikan.

1.1.b Metazoa

Parasit dari golongan metazoa yang sering dilaporkan menginfeksi dan menimbulkan kerugian pada pembenihan ikan baung di Indonesia adalah cacing monogenea (Dactylogyrus spp., Gyrodactylus spp.,) atau sering disebut cacing insang dan cacing kulit/sirip. Cacing insang (Dactylogyrus sp.) merupakan cacing kecil yang bersifat ektoparasit, berkembang biak dengan cara bertelur, dan dalam siklus hidupnya hanya memerlukan satu inang yaitu ikan, dan organ yang menjadi target infeksi adalah insang ikan. Penularan terjadi secara horizontal, terutama pada saat cacing dalam fase berenang bebas (Onchomiracidium) yang sangat infektif. Gejala klinis akibat infeksi kelompok parasit ini yang dapat digunakan sebagai diagnosa presumtif, antara lain: (1) Ikan tampak lemah, tidak nafsu makan, pertumbuhan lambat, tingkah laku dan berenang tidak normal, disertai produksi lendir yang berlebihan. Ikan sering terlihat mengumpul di sekitar air masuk, karena pada daerah ini kualitas air terutama kadar oksigen lebih tinggi; dan (2) Insang tampak pucat dan membengkak sehingga operkulum terbuka. Kerusakan pada insang menyebabkan ikan sulit bernapas sehingga tampak megap-megap seperti gejala kekurangan oksigen (Lerssutthichawal dan Hong 2005; Maika et al. 2013; Solichah et al. 2014; Faruk dan Anka 2017; Taukhid 2017).

Cacing kulit (Gyrodactylus sp.) bentuknya mirip Dactylogryrus sp. Namun apabila diamati secara mikroskopis terlihat perbedaan yang sangat signifikan. Beberapa karakter yang paling mudah untuk membedakan Gyrodactylus sp. dengan Dactylogyrus sp., antara lain tonjolan pada ujung kepala hanya 2 buah, tidak memiliki mata, dan berkembang biak dengan cara beranak (keturunan ke-1 dan bahkan keturunan ke-2 kadang dapat dilihat dengan jelas). Organ yang menjadi target infeksi adalah kulit dan sirip ikan. Gejala klinis akibat infeksi parasit ini yang dapat digunakan sebagai diagnosa presumtif diagnosa, antara lain: (1) Ikan tampak lemah, tidak nafsu makan, pertumbuhan lambat, tingkah laku dan berenang tidak normal, disertai produksi lendir yang berlebihan; (2) Peradangan pada kulit sehingga tubuh ikan tampak gelap, sering menggosok-gosokkan

badannya pada benda di sekitarnya, dan sering disertai warna kemerahan di sekitar lokasi penempelan parasit; dan (3) Pada infeksi berat, terkadang parasit ini dapat dilihat dengan mata telanjang di permukaan kulit ikan.

Cacing tersebut menempel dan merusak sel epitel atau epidermal tubuh ikan sehingga menimbulkan iritasi yang serius dan selanjutnya digunakan sebagai pintu masuk bagi bakteri atau jamur.

1.2 Jamur

Infeksi jamur pada pembenihan ikan baung umumnya merupakan infeksi sekunder, meskipun ada beberapa jenis jamur yang bersifat obligate parasite seperti Aphanomycosis. Namun selama ini belum ada laporan penyakit pada ikan baung yang disebabkan oleh jenis jamur tersebut. Penyakit jamur yang sering dilaporkan menjadi kendala pada pembenihan ikan baung adalah dari famili Saprolegniaceae (Saprolegnia sp. dan Achlya sp.) (Lerssutthichawal 2008; Taukhid et al. 2018).

Saprolegniasis disebabkan oleh jamur Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Beberapa faktor yang memicu terjadinya infeksi jamur, antara lain: penanganan yang kurang baik (terutama transportasi) sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, kekurangan gizi, suhu, dan oksigen terlarut yang rendah, bahan organik tinggi, kualitas telur buruk/tidak terbuahi, kepadatan telur pada saat penetasan terlalu tinggi, serta adanya iritasi/luka akibat infeksi parasit. Penyakit ini terutama menular melalui spora di air. Gejala klinis yang dapat digunakan sebagai diagnosa sementara adalah terlihat adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal ikan.

1.3 Bakteri

Lusiastuti dam Taukhid (2013) dan Taukhid et al. (2015) menyatakan bahwa penyakit bakterial merupakan jenis penyakit yang banyak dilaporkan sebagai penyebab kegagalan usaha perikanan. Dua jenis penyakit bakterial yang sering ditemukan pada pembenihan ikan baung adalah “penyakit merah” dan “penyakit columnaris”. Penyakit merah disebabkan oleh bakteri gram negatif (Aeromonas hydrophila dan/atau ko-infeksi A. hydrophila dan A. sobria). Infeksi bakteri ini biasanya berkaitan dengan kondisi stres akibat berbagai faktor seperti kepadatan, malnutrisi, penanganan kurang baik (handling and transportation), infeksi parasit, eutrofik, oksigen rendah, kualitas air yang buruk, fluktuasi suhu air yang

signifikan, pemijahan, dan lain-lain. Sifat serangan umumnya sub-akut sampai akut, namun apabila kondisi lingkungan terus merosot pada saat terjadi kasus, kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%. Gejala klinis “penyakit merah” sangat bervariasi. Mula-mula warna tubuh kusam/

gelap, nafsu makan menurun, mengumpul dekat saluran pembuangan, kulit kasat, dan ekses lendir. Selanjutnya terlihat perdarahan pada tubuh ikan, baik pada pangkal sirip, ekor, sekitar anus, dan bagian tubuh yang lain. Kemudian sisik lepas, luka, dan akhirnya menjadi borok. Pada infeksi berat, perut lembek, dan bengkak (dropsy) yang berisi cairan merah kekuningan. Ikan mati lemas sering ditemukan di permukaan maupun dasar kolam.

Penyakit columnaris atau luka kulit, sirip, dan insang disebabkan oleh infeksi bakteri Flavobacterium columnare (sebelumnya dikenal Flexibacter columnaris). Seperti halnya penyakit merah, infeksi bakteri F. columnare umumnya berkaitan dengan kondisi stres akibat berbagai faktor, fluktuasi suhu air yang signifikan, dan kualitas air yang buruk. Kasus penyakit ini sering terjadi pada kelompok ikan yang baru datang (pascatransportasi).

Gejala klinis awal biasanya terjadi luka di sekitar mulut, kepala, badan, atau sirip yang berwarna putih kecokelatan, kemudian berkembang menjadi borok. Infeksi di sekitar mulut terlihat seperti diselaputi benang (thread-like) sehingga awalnya disebut penyakit “jamur mulut” (mouth fungus) meskipun penyebab yang sebenarnya adalah bakteri. Di bagian pinggir luka tertutup oleh lendir berwarna kuning cerah. Apabila bakteri tersebut menginfeksi insang, respons pertama adalah ekses lendir, kerusakan dimulai dari ujung filamen insang, dan merambat ke bagian pangkal, akhirnya filamen membusuk dan rontok (gill rot). Selain insang, apabila bakteri ini menginfeksi sirip maka sering dicirikan dengan rontok sirip (fin rot). Sifat serangan umumnya sub akut sampai akut, apabila insang yang dominan sebagai organ target, ikan mati lemas dan kematian yang ditimbulkannya dapat mencapai 100%.