• Tidak ada hasil yang ditemukan

Probiotik yang dapat diaplikasikan pada ikan baung

Penelitian tentang probiotik melalui media budidaya di Laboratorium Kesehatan Ikan–Instalasi Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Ikan, BRPBATPP–Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menghasilkan produk biologi, yaitu probiotik PATO AERO 1 dan PATO AERO 2. Ulkhaq (2014) menyatakan bahwa dengan pemberian probiotik Bacillus P4I1 dengan dosis 104 cfu/mL pada media air pemeliharaan ikan lele efektif menekan pertumbuhan A. hydrophila dan mencegah penyakit Motile Aeromonads Septicemia, dengan meningkatkan respons imun dan kelangsungan hidup, serta laju pertumbuhan harian ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Begitu juga penelitian yang dilakukan Haditomo (2011), dengan aplikasi probiotik B. firmus pada media budidaya mampu mencegah serangan A. hydrophila pada ikan mas (Cyprinus carpio). Penambahan probiotik B.

firmus dengan dosis 106 cfu/mL pada media budidaya dengan pemberian setiap 2 hari sekali selama 2 minggu mampu mencegah dan menanggulangi serangan A. hydrophila. Tingkat kelangsungan hidup ikan uji dengan aplikasi probiotik mencapai 100% dan lebih tinggi jika dibandingkan tanpa penambahan probiotik B. firmus dengan kelangsungan hidup hanya sebesar

50%. Hal tersebut dikarenakan konsentrasi A. hydrophila pada media budidaya penyebab penyakit Motile Aeromonad Septicemia (MAS) pada ikan mas berada pada kisaran 107–108 cfu/mL, dan apabila ikan berada dalam kondisi stres maka semakin besar kemungkinan terjadinya kematian. Sementara penelitian Lusiastuti et al. (2011) menunjukkan bahwa pemberian probiotik B. firmus dengan dosis 109 cfu/mL dapat meningkatkan ketahanan tubuh benih lele dumbo dengan kelangsungan hidup tertinggi mencapai 53,33% setelah diuji tantang dengan A. hydrophila, serta terjadi peningkatan kadar limfosit sebesar 81% dan aktivitas fagosit sebesar 60% setelah pemberian probiotik.

Menurut Fidyandini (2015) bahwa pemberian probiotik multispesies dengan kombinasi B. substilis ND2 dan Staphyilococcus lentus LIK melalui media budidaya ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) mampu menekan populasi A. hydrophila hingga 40% dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 89,33%. Hasil penelitian Lusiastuti et al. (2011) memperlihatkan aktivitas Bacillus cereus dengan dosis 109 cfu/mL sebagai probion anti Streptococcus agalactiae yang diaplikasikan pada media pemeliharaan benih ikan nila (Oreochromis niloticus) dan tanpa penggantian air mampu meningkatkan kelangsungan hidup mencapai 46%. Selain itu pemberian probiotik juga meningkatkan indeks fagositosis, baik pada media tanpa maupun dengan pergantian air, meskipun peningkatan indeks fagositosis masih lebih baik pada ikan yang dipelihara pada media tanpa pergantian air.

Bacillus subtilis STC sebagai biokontrol dengan mekanisme anti-quorum sensing dapat menekan penyakit vibriosis pada budidaya udang di mana dengan penambahan B. subtilis STC ke media pemeliharaan udang dan mampu mendegradasi AHL (Acyl Homoserine Lactone) yang dihasilkan oleh Vibrio harveyi BB 120 (Yuniarti et al. 2015). Dalam review-nya, Newaj-Fyzul (2014) mengkompilasikan beberapa probiotik yang telah diteliti penggunaanya dalam kegiatan akuakultur dan terbukti untuk menyingkirkan bakteri patogen tertentu. Probiotik tersebut dari berbagai organisme baik bakteri ataupun nonbakteri. Ikan baung yang diinfeksi dengan A. hydrophila selama dua minggu dan diberi pakan dengan 109 cfu/g B. subtilis G1 menghasilkan tingkat mortalitas yang rendah dibandingkan kontrol (Verschuere et al. 2000;

Balcázar et al. 2006; Sahu et al. 2008). Bakteri probiotik memberikan efek yang besar pada sistem imun sebagai modulator sistem imun nonspesifik dengan memperkuat level antibodi dan aktivitas makrofag yang dapat meningkatkan resistensi terhadap penyakit (Balcázar et al. 2006; Nayak 2010).

Liu et al. (2012) menduga bahwa resistensi terhadap patogen berkorelasi dengan meningkatnya alternative complementary pathway activities (ACH50) dan aktivitas lysozyme karena ikan diberi pakan yang mengandung B. subtilis.

Efek probiotik pada pertumbuhan dan resistensi penyakit tergantung dari jenis spesies ikan, dosis dan lama pemberian pakan, asal strain probiotik, mekanisme pertahan ikan yang berbeda terhadap patogen yang berbeda, dan patogenisitas patogen yang berbeda pula (Son et al. 2009; Standen dan Abid 2011). Perbedaan dari mikrobiota saluran cerna dan fisiologi ikan juga memengaruhi keberhasilan aplikasi probiotik (Gisbert dan Castillo 2011).

Vaksin dan probiotik efektif dalam melindungi ikan dari serangan penyakit, terutama untuk perlindungan terhadap infeksi bakteri dan virus. Vaksin kurang efektif digunakan pada benih sebelum umur satu minggu dan ikan yang mengalami stres.

DAFTAR PUSTAKA

Al‐Dohail MA, Hashim R, Aliyu‐Paiko M. 2009. Effects of the probiotic, Lactobacillus acidophilus, on the growth performance, haematology parameters and immunoglobulin concentration in African catfish (Clarias gariepinus, Burchell 1822) fingerling. Aquaculture Research 40:

1642–1652.

Anonim. 2015. Laporan Penggunaan Vaksin dari Dinas Perikanan Se Indonesia. (Tidak dipublikasi)

Balcázar JL, Blas ID, Ruiz-Zarzuela I, Cunningham D, Vendrell D, Múzquiz JL. 2006. The role of probiotics in aquaculture. Veterinary Microbiology 114: 173–186.

Chiu CH, Cheng CH, Gua WR, Guu YK, Cheng W. 2010. Dietary administration of the probiotic, Saccharomyces cerevisiae P13, enhanced the growth, innate immune responses, and disease resistance of the grouper, Epinephelus coioides. Fish and Shellfish Immunology 29: 1053–

1059.

Chong LK, Tan SG, Yusoff K, Siraj SS. 2000. Identification and characterization of Malaysian river catfish, Mystus nemurus (C&V): RAPD and AFLP analysis. Biochemical Genetics 38(3–4): 63–76.

Ellis AE. 1998. Fish Vaccination. London (UK): Academic Press Limited.

255p.

Fidyandini HP. 2015. Evaluasi pemberian probiotik multispesies melalui media budidaya ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) untuk pencegahan penyakit motile aeromonas septicemia [Tesis]. Bogor (ID): Institut Peranian Bogor.

Frerichs GN, Millar SD. 1993. Manual for the Isolation and Identification of Fish Bacterial Pathogens. Stirling (UK): Pisces Press. 60p.

Freshwater Fisheries Research Centre. 2004. Freshwater fisheries Research Centre Annual Report 1995. Available: http://www.fri.gov.my/pppat/

page11-1.html [Accessed 12 March 2012].

Gisbert E, Castillo M. 2011. Use of probiotic in aquaculture: Can these additives be useful? Available: http://www.aquafeed.co.uk/IAF1106 [Accessed 28 May 2013].

Haditomo AC. 2011. Pemberian probiotik pada media budidaya untuk pengendalian Aeromonas hydrophila pada ikan mas (Cyprinus carpio) [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Lusiastuti AM, Sumiati T, Hadie W, Wijaya A. 2011. Kajian aktivitas probion anti Streptococcus agalactiae pada media pemeliharaan benih ikan nila Oreochromis niloticus. Prosiding Forum Inovasi teknologi Akuakultur 2011, 649–654.

Liu CH, Chiu CH, Wang SW, Cheng W. 2012. Dietary administration of the probiotic, Bacillus subtilis E20, enhances the growth, innate immune responses, and disease resistance of the grouper, Epinephelus coioides.

Fish and Shellfish Immunology 33: 699–706.

Movahedi A, Hampson DJ. 2008. Now ways to identify novel bacterial antigens for vaccine development. Veterinary Microbiology 131: 1–13.

Nayak SK. 2010. Probiotics and immunity: a fish perspective. Fish and Shellfish Immunology 29: 2–14.

Newaj-Fyzul A, Al-Harbi AH, Austin B. 2014. Review: developments in the use of probiotics for disease control in aquaculture. Aquaculture 431:

1–11.

Rainboth WJ. 1996. Fishes of the Cambodian Mekong. FAO species identification field guide for fishery purposes. FAO, Rome. 265p.

Sahu MK, Swarnakumar NS, Sivakumar K, Thangaradjou T, Kannan L. 2008.

Probiotics in aquaculture: Importance and future perspectives. Indian Journal of Microbiology 48: 299–308.

Son VM, Chang CC, Wu MC, Guu YK, Chiu CH, Cheng W. 2009. Dietary administration of the probiotic, Lactobacillus plantarum, enhanced the growth, innate immune responses, and disease resistance of the grouper Epinephelus coioides. Fish and Shellfish Immunology 26: 691–698.

Subasinghe R. 2005. Fish health management in aquaculture. FAO Fisheries and Aquaculture Iranian Journal of Fisheries Sciences 14(4) 2015 856 Departmen, Rome. Available: http://www.fao.org/fishery/topic/13545/

en [Accessed 5 March 2013].

Sun YZ, Yang HL, Ma RL, Lin WY. 2010. Probiotic applications of two dominant gut Bacillus strains with antagonistic activity improved the growth performance and immune responses of grouper Epinephelus coioides. Fish and Shellfish Immunology 29: 803–809.

Standen B, Abid A. 2011. Evaluation of probiotic bacteria in tilapia production. Available: http://www.aquafeed.co.uk/IAF1106 [Accessed 28 May 2013].

Taukhid, Taslihan A, Lusiastuti AM. 2012. Prospek vaksinasi pada perikanan budidaya di Indonesia. Prosiding Indoaqua-Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2012, 805–814.

Ulkhaq MF. 2014. Pemberian probiotik bacillus pada media pemeliharaan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) untuk pencegahan penyakit motile aeromonads septicemia [Tesis]. Bogor (ID): Institut Peranian Bogor.

Verschuere L, Rombaut G, Sorgeloos P, Verstraete W. 2000. Probiotic bacteria as biological control agents in aquaculture. Microbiology and Molecular Biology Reviews 64: 655–671.

Yuniarti, Maftuch, Soemarno, Aulanni’am. 2015. In vitro and in vivo study of acyl homoserine lactone degrading Bacillus against Vibrio harveyi.

International Journal of Biosciences 6(2): 338–348.

nasional diarahkan pada keinginan mewujudkan kemandirian, kedaulatan, kesejahteraan, dan keberlanjutan. Untuk itu, aspek pelestarian sumber daya perikanan yang ada dan lingkungan menjadi hal penting dalam upaya pemanfaatan potensi, agar nilai ekonomi sumber daya perikanan budidaya mampu dinikmati sampai generasi yang akan datang. Salah satu ikan lokal air tawar yang dikembangkan adalah ikan baung (Hemibagrus nemurus). Ikan ini memiliki nilai ekonomis penting dan telah mendapatkan popularitas di kalangan konsumen di Indonesia dan Asia Tenggara. Ikan baung dikenal dengan tiga nama sinonim di masyarakat, yaitu sebagai Bagrus nemurus (Valenciennes 1840), Macrones nemurus (Valenciennes 1840), dan Mystus nemurus (Valenciennes 1840). Ikan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan anggota famili Bagridae. Famili ini merupakan salah satu famili ikan berkumis (catfish) yang hidup di air tawar dan payau yang tersebar di Asia dan Afrika.

Genus Hemibagrus Bleeker 1862 memiliki sinonim sebagai Mystus Scopoli 1777 atau Macrones Dumeril 1856. Di Indonesia, genus Hemibagrus memiliki sepuluh spesies. Ikan baung termasuk ikan pemakan segalanya (omnivora) dengan kecenderungan memakan anak ikan, udang, remis, cacing, dan lumut atau mengarah ke pemakan daging (carnivora). Selain itu, jenis makanan yang disukai berupa insekta, Planaria sp., Thiara scabra, Faunus ater, dan Nodilittorina pyramidali.

Di Indonesia, budidaya ikan baung belum dilakukan secara optimal disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya belum tersedianya jumlah induk terdomestikasi yang mencukupi sehingga benih yang dihasilkan belum berkualitas dan tidak kontinu. Selama ini, penyediaan benih baung untuk kegiatan budidaya sebagian besar masih mengandalkan tangkapan dan pemijahan menggunakan induk dari alam. Benih ikan baung yang berasal dari alam masih memiliki tingkat kanibalisme yang tinggi, sedangkan benih yang diperoleh dari induk hasil domestikasi memiliki tingkat kanibalisme yang rendah. Selain itu, rendahnya produksi pada kegiatan budidaya ikan baung dipengaruhi juga oleh faktor alam, di antaranya kondisi lingkungan (suhu, pH, oksigen terlarut, salinitas, padatan tersuspensi total (TSS), dan amonia), fotoperiod, padat tebar, dan curah hujan. Di alam, siklus reproduksi

ikan baung umumnya terjadi pada musim hujan dengan puncak pemijahan pada bulan Oktober–Desember. Pengelolaan induk merupakan aspek penting dalam budidaya ikan baung. Pengelolaan induk yang tepat akan menghasilkan kualitas telur, sperma, dan larva yang baik. Pengelolaan induk bisa dilakukan secara terkontrol dengan menyediakan pakan yang mengandung nutrien secara lengkap. Pakan induk ikan baung dapat meningkatkan performa produksi dan produktivitas induk. Untuk pengembangannya, riset pakan induk ikan baung perlu digali dengan fokus: (a) penggunaan tepung ikan secara minimum dalam pakan, (b) substitusi penggunaan minyak ikan dengan minyak nabati, dan (c) penggunaan suplemen pakan yang dapat meningkatkan performa reproduksi dan kualitas telur/sperma, percepatan pematangan gonad, dan rematurasi induk.

Pada budidaya ikan baung, jenis-jenis penyakit infeksius utama yang sering ditemukan dan mengakibatkan kematian antara lain: parasit (protozoa dan trematoda), jamur, dan bakteri. Penyakit non-infeksius yang sering terjadi antara lain akibat kondisi kualitas air (suhu, oksigen terlarut, pH, amonia, alkalinitas, dan kesadahan), serta malnutrisi (feeding habit and periodicity).

Penggunaan vaksin dan probiotik cukup efektif dalam melindungi ikan dari serangan penyakit, terutama untuk perlindungan terhadap infeksi bakteri dan virus kecuali pada benih sebelum umur satu minggu dan ikan yang mengalami stres. Penyediaan benih ikan baung pada Balai Benih Ikan (BBI) sangat diperlukan dalam rangka menunjang kebutuhan benih yang berkualitas untuk mendukung budidaya pembesaran. Beberapa permasalahan terkait dengan pengembangan usaha pembenihan ikan baung adalah kondisi kualitas lingkungan yang tidak baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Upaya peningkatan produktivitas pada pendederan ikan baung secara indoor dapat menggunakan teknologi resirkulasi dengan penggunaan filter biologi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan membuat kebijakan mengenai pembenihan yang tertuang dalam Undang-undang No 31 Tahun 2004 jo. UU 45/2009 tentang PERIKANAN dan diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 35/

PERMEN-KP/2016. Pemerintah mendukung secara penuh pembudidaya ikan dalam mengembangkan usahanya dengan mempertimbangkan pada program penilaian kebutuhan masyarakat, pendekatan solusi, dan partisipasi masyarakat. Selain itu, diprioritaskan pada kelembagaan atau kelompok yang sudah ditetapkan agar lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berdampak pada usaha yang mandiri.