Potensi Budidaya Ikan Lokal Prospektif:
BAUNG Hemibagrus nemurus
Penerbit IPB Press
Jalan Taman Kencana No. 3, Kota Bogor - Indonesia
C.01/10.2019
Potensi Budidaya Ikan Lokal Prospektif:
BAUNG Hemibagrus nemurus
Dewan Penyunting:
Prof Dr Ir Brata Pantjara, MP Prof Dr Ir Rudhy Gustiano, MSc Ir Anang Hari Kristanto, MSc, PhD Dr drh Angela Mariana Lusiastuti, MSi
Penyunting Pelaksana:
Deni Radona, SPi, MSi Vitas Atmadi Prakoso, SPi, MSc MH Fariduddin Ath-Thar, SPi, MSi
Tim Penulis Dewan Penyunting:
Prof Dr Ir Brata Pantjara, MP Prof Dr Ir Rudhy Gustiano, MSc Ir Anang Hari Kristanto, MSc, PhD Dr drh Angela Mariana Lusiastuti, MSi Penyunting Pelaksana:
Deni Radona, SPi, MSi Vitas Atmadi Prakoso, SPi, MSc MH Fariduddin Ath-Thar, SPi, MSi Penyunting Bahasa:
Bayu Nugaraha Mutia Rizqydiani Korektor
Dwi M Nastiti
Penata Isi dan desain Sampul:
Makhbub Khoirul Fahmi Jumlah Halaman:
148 + 10 halaman romawi Edisi/Cetakan:
Cetakan 1, Oktober 2019 PT Penerbit IPB Press Anggota IKAPI
Jalan Taman Kencana No. 3, Bogor 16128
Telp. 0251 - 8355 158 E-mail: [email protected] www.ipbpress.com
ISBN: 978-602-440-942-5
Dicetak oleh Percetakan IPB, Bogor - Indonesia Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan
© 2019, HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit
DAFTAR ISI ...v PRAKATA ...vii PROLOG ...ix PROSPEK PERBENIHAN IKAN BAUNG
DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN Brata Pantjara, Anang Hari Kristanto,
Rudhy Gustiano, dan Reza Samsudin ...1 KEANEKARAGAMAN IKAN BAUNG
Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) Rudhy Gustiano, Vitas Atmadi Prakoso,
Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar, dan Irin Iriana Kusmini ...15 MANAJEMEN INDUK IKAN BAUNG
Anang Hari Kristanto, Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-Thar,
Otong Zenal Arifin, dan Brata Pantjara ...27 TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG
Jojo Subagja, Otong Zenal Arifin,
Vitas Atmadi Prakoso, dan Deni Radona ...39 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG
(Hemibagrus nemurus)
Irin Iriana Kusmini, Deni Radona,
Anang Hari Kristanto, dan Vitas Atmadi Prakoso ...55 NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN INDUK IKAN BAUNG
Mas Tri Djoko Sunarno, Reza Samsudin,
Deisi Heptarina, dan Muhamad Sulhi ...71
PARAMETER KUALITAS AIR OPTIMUM
UNTUK INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Yohanna R Widyastuti, Lies Setijaningsih,
Adang Saputra, dan Nurhidayat...85 KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA
UNTUK BENIH IKAN BAUNG
Ani Widiyati, Adang Saputra, Tri Heru Prihadi, dan Yosmaniar ...95 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA
Taukhid, Desy Sugiani, dan Tuti Sumiati ...107 APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN
IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus)
Angela Mariana Lusiastuti, Nunak Nafiqoh, dan Septyan Andriyanto ...129 EPILOG ...147
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga buku bunga rampai dengan judul
“Potensi Budidaya Ikan Lokal Prospektif: Baung Hemibagrus nemurus”
telah terselesaikan. Buku bunga rampai ini merupakan hasil dari berbagai kajian riset dan pengalaman peneliti di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan Bogor.
Budidaya ikan baung telah berkembang di masyarakat sejak beberapa tahun silam karena mempunyai pangsa pasar yang baik. Ketersediaan benih yang berkualitas dan berkecukupan sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan budidaya. Untuk itu, pengelolaan induk ikan baung dalam menghasilkan telur dan sperma yang berkualitas, serta teknik pemijahan buatan dan kelengkapan panti benih yang memadai dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan benih ikan baung yang berkualitas. Berbagai aktivitas sangat penting dan menjadi perhatian utama dalam penyediaan benih, misalnya pemilihan induk yang akan digunakan dalam pemijahan, sistem pemeliharaan induk, teknik pemberian pakan dan pengelolaan kualitas air, nutrisi induk ikan baung, parasit dan penyakit, serta predator ataupun pesaingnya telah dibahas dalam buku bunga rampai ini.
Semoga buku bunga rampai ini bermanfaat dan dapat menjadi acuan dalam meningkatkan ketersediaan benih ikan baung secara nasional.
Kepala Pusat Riset Perikanan
Waluyo Sejati Abutohir, SH, MM
Arah dan kebijakan perbenihan nasional telah ditetapkan dalam Undang- Undang No 31 Tahun 2004 jo. UU 45/2009 tentang perikanan dan diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 35/PERMEN-KP/2016, yaitu tentang cara pembenihan ikan yang baik, pedoman dan tata cara mengembangbiakkan ikan melalui manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, dan pemeliharaan larva atau benih dalam lingkungan terkontrol melalui penerapan teknologi yang memenuhi kriteria dan persyaratan teknis, manajemen, keamanan pangan, dan lingkungan. Untuk membangun sektor perikanan, khususnya perikanan budidaya diperlukan ketersediaan benih secara kontinu. Benih yang diperlukan harus memenuhi persyaratan untuk budidaya dalam menunjang industri perikanan.
Bunga rampai ini disusun dengan maksud untuk menyajikan informasi tentang perbenihan ikan baung (Hemibagrus nemurus) yang diharapkan dapat mendukung pengembangan perikanan budidaya secara nasional. Karena teknologi perbenihan ikan baung cukup kompleks, terutama dalam mengurangi tingkat kanibalisme di tingkat larva, berbagai upaya perlu dilakukan, seperti pemberian shelter, penyeragaman ukuran, dan pemberian pakan yang kontinu.
Artikel-artikel dalam bunga rampai ini membahas berbagai isu terkait perbenihan ikan baung. Karena itu, bunga rampai ini diberi judul “Potensi budidaya ikan lokal prospektif: Baung Hemibagrus nemurus”. Dalam buku ini disajikan 12 artikel termasuk prolog dan epilog. Artikel pertama membahas prospek perbenihan ikan baung dalam mendukung industri perikanan. Pengembangan budidaya dan usaha pelestarian ikan baung akan terlaksana apabila tersedia benih yang berkualitas secara kontinu, penggunaan pakan yang tepat dan pencegahan penyakit, serta terjaganya lingkungan hidup yang baik untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhannya. Ketersediaan induk dan benih ikan berkualitas baik masih terbatas. Artikel selanjutnya membahas tentang keanekaragaman ikan baung yang termasuk dalam genus Hemibagrus dan merupakan anggota famili Bagridae. Famili ini merupakan salah satu famili ikan berkumis (catfish) yang hidup di air tawar dan payau
di Asia dan Afrika. Artikel berikutnya membahas tentang manajemen induk dan benih, pakan, kualitas air, pencegahan, dan pengendalian penyakit pada ikan baung. Manajemen induk yang tepat akan menghasilkan kualitas telur, sperma, larva, benih yang baik, serta dapat meminimalkan kematian induk melalui pengaturan kualitas air, pemberian pakan yang tepat, dan pencegahan penyakit.
Editor
MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN
Brata Pantjara, Anang Hari Kristanto, Rudhy Gustiano, dan Reza Samsudin
Salah satu sumber daya perikanan perairan umum di Indonesia yang mempunyai peluang dan prospek cukup cerah untuk pengembangan budidaya air tawar adalah ikan baung (Hemibagrus nemurus). Di Jawa Barat, ikan baung mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga ikan mas.
Ikan baung sangat diminati masyarakat karena rasa dagingya yang lezat, tekstur dagingnya sangat lembut dan gurih, serta tidak memiliki duri halus (sedikit durinya). Selain itu, ikan baung mempunyai nilai gizi dan protein yang cukup tinggi sehingga sangat baik untuk dikonsumsi.
Ikan baung cenderung ada kemiripan dengan ikan patin, namun perbedaan yang mudah dikenali dari kedua jenis ikan ini antara lain ikan patin memiliki tubuh yang lebih panjang, sedangkan baung lebih pendek. Perbedaan lainnya yaitu pada sirip ikan patin berbentuk agak runcing, sedangkan sirip baung lebih condong ketumpul. Selain itu, bagian kepala ikan patin lebih kecil dibandingkan kepala ikan baung yang cenderung lebih besar dan pipih. Bila dilihat dari tingkat kekerabatannya, ikan baung masih tergolong satu famili dengan ikan lele (Muflikhah et al. 1998; Samuel et al. 1995). Bobot baung dewasa berkisar dari 2–5 kg, namun baung yang hidup di alam bobotnya bisa mencapai lebih dari 5 kg. Di alam liar maupun di kolam pembudidayaan, ikan baung mempertahankan dirinya dengan cara mematil menggunakan pangkal sungut dan kepalanya. Patilan baung lebih beracun daripada patilan ikan lele. Oleh karena itu, biasanya para pemancing atau pembudidaya baung menggunakan sarung tangan supaya tidak terkena patil yang beracun tersebut.
Ikan baung termasuk ke dalam hewan nokturnal atau hewan yang aktif di malam hari. Dengan demikian, baung baru mencari makan pada malam hari, sedangkan ketika siang hari biasanya berdiam diri di sarang atau di lubang- lubang berlumpur di tepi sungai. Di habitat aslinya, ikan baung termasuk golongan omnivora atau pemakan segala. Oleh karena itu, kehidupannya di alam liar biasanya memakan ikan-ikan kecil, serangga, lumut, dan cacing.
Ikan baung dapat hidup pada suhu 20–33°C. Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan adalah jumlah pakan yang dikonsumsi, kecernaan makanan, laju pencernaan, frekuensi pemberian pakan, penyerapan zat makanan, serta efisiensi dan konversi pakan (Ibrahim et al. 2008; Izquierdo et al. 2001; Millamena et al. 2002).
Ikan baung banyak ditemukan di perairan Kalimantan, Sumatera, Jawa, hingga beberapa daerah di wilayah Indonesia timur. Ikan ini dapat dibudidayakan di kolam maupun keramba jaring apung Ikan baung (Suhenda et al. 2010).
Di perairan umum, ikan baung dapat ditemukan di rawa, danau, dan waduk, namun baung sebenarnya lebih suka hidup di perairan yang memiliki arus cukup deras, seperti sungai sehingga ikan tersebut lebih banyak hidup di sungai. Ikan baung memiliki berbagai keunggulan, yaitu toleransi terhadap kualitas air dan penyakit relatif tinggi, toleransi terhadap berbagai kondisi lingkungan, efisien dalam membentuk protein kualitas tinggi dari berbagai bahan organik, serta memiliki kemampuan tumbuh yang baik (Khairuman dan Amri 2010; Nwadukwe dan Ayinla 2004).
Ekspor perikanan Indonesia sudah terdistribusi di berbagai negara. Pada skala ekonomi makro, data International Trade Center (2017) menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tahun 2012–2016, total nilai ekspor komoditas perikanan nasional mengalami kenaikan rata-rata pertahun sebesar 2%. Tahun 2016 total nilai ekspor komoditas perikanan nasional mencapai ± US$2,9 miliar.
Dari nilai tersebut, subsektor perikanan budidaya mendominasi dengan memberikan share sebesar 60,03% terhadap total nilai ekspor perikanan nasional. Di samping itu, pendapatan domestik bruto (PDB) perikanan berdasarkan harga berlaku dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2012–
2016) menunjukkan tren peningkatan dengan rata-rata kenaikan per tahun sebesar 14,6% dan memiliki kinerja pertumbuhan yang lebih besar dibanding sektor lainnya. Sementara itu, produksi ikan baung secara nasional belum
banyak informasinya, namun produksi ikan lainnya di Indonesia, misalnya tilapia terus meningkat setiap tahunnya, kenaikan rata-rata produksi yaitu 17,98% per tahun, sedangkan nilai produksi rata-rata naik 24,91% per tahun.
Ekspor ikan baung Indonesia sudah dilakukan bersamaan dengan tilapia ke Amerika Serikat dan Kanada, sedangkan untuk kawasan Eropa ke Jerman, Belanda, Prancis, dan Belgia (Anonim 2017). Beberapa permasalahan terkait dengan pengembangan usaha pembenihan ikan baung di daerah, antara lain benih masih mengandalkan hasil penangkapan dari alam. Untuk itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan membuat kebijakan mengenai pembenihan yang tertuang dalam Undang-Undang No 31 Tahun 2004 jo. UU 45/2009 tentang perikanan dan diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 35/PERMEN-KP/2016 (Anonim 2004;
2016). Pengembangan budidaya dan usaha pelestarian ikan termasuk ikan baung dapat terlaksana apabila tersedianya benih yang berkualitas, penggunaan pakan yang tepat, pencegahan penyakit, serta kondisi lingkungan yang baik untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhan ikan budidaya. Selama ini, produksi benih ikan baung dari Unit Pembenihan masih mengandalkan pada musim hujan. Di musim kemarau, induk ikan air tawar umumnya kurang produktif karena sediaan nutrien yang kurang, terutama protein dan asam lemak. Izquierdo et al. (2001) melaporkan bahwa nutrien menentukan keberhasilan reproduksi dan meningkatkan derajat sintasan larva.
Pemerintah mendukung secara penuh pembudidaya ikan yang telah tergabung dengan kelembagaan agar lebih mudah mengontrolnya, efektif, dan berkelanjutan dalam kemandirian usaha. Hal ini terbukti dengan banyaknya pembudidaya yang telah mampu secara mandiri mengembangkan usahanya di beberapa daerah. Dengan demikian, perencanaan program KKP yang dilakukan sudah mempertimbangkan prinsip bottom-up, yaitu program didasarkan pada penilaian kebutuhan masyarakat, pendekatan solusi, dan partisipasi masyarakat.
PELUANG USAHA PERBENIHAN IKAN BAUNG
Peluang usaha perbenihan ikan baung di masa mendatang memiliki prospek yang baik. Bisnis benih ikan baung sudah lama dilakukan oleh pembudidaya dan mempunyai peluang cukup besar, walaupun masih berfluktuasi karena
kebutuhan benih untuk menunjang budidaya pembesaran sampai saat ini belum terpenuhi. Bisnis perbenihan budidaya ikan baung memerlukan modal yang kecil tidak seperti pada pembesaran karena tidak memerlukan lahan yang luas. Ketersediaan benih ikan baung yang berkualitas dan berkesinambungan sangat diharapkan guna menunjang keberhasilan budidaya pembesaran (Hardjamulia dan Suhenda 2000). Benih dengan kualitas baik kurang banyak tersedia di pasaran disebabkan sulitnya mendapatkan induk matang gonad.
Selain itu, daya tetas telur ikan baung masih rendah, yaitu sebesar 34,5%
(Muflikhah et al. 1998).
Teknologi perbenihan ikan baung cukup sederhana karena bahan dan peralatan untuk menunjang kegiatan tersebut banyak dijual di pasaran dan sudah dilakukan masyarakat. Selain kolam, hal penting yang dibutuhkan antara lain pengadaan induk ikan baung dan kelengkapan lainnya, seperti selang, paralon, timba, jaring, terpal, wadah jerigen, pompa air, perlengkapan aerasi, dan lainnya. Pemasaran benih untuk dijual ke masyarakat tergantung pada lokasi dan peminat, namun sampai saat ini konsumennya cukup besar karena ikan baung digemari masyarakat mulai dari konsumsi rumah tangga hingga berbagai usaha kuliner.
DUKUNGAN RISET PERBENIHAN
Beberapa peneliti telah melakukan serangkaian riset perbenihan, antara lain seleksi induk, pematangan gonad ikan melalui aplikasi hormon, persyaratan sperma yang baik, teknik pengambilan sperma dan telur, teknologi pendederan, teknik penetasan, serta monitoring penyakit dan perbaikan pakan induk baung. Seleksi induk dengan cara induk ikan baung yang terpilih dari hasil seleksi, terutama dilihat dari morfologi ikan. Induk betina matang gonad dicirikan oleh perut yang membesar, tubuh agak kusam, gerakan lamban dan genitalnya berwarna kemerahan (Bobe dan Labbé 2010), sedangkan induk jantan dicirikan dengan gerakannya yang lincah, tubuhnya memerah dan lebih terang, serta memiliki genital berwarna kemerahan dan agak membengkak.
Penggunaan hormon berfungsi untuk memacu pematangan telur (Brain dan Amy 1980). Subagja et al. (2006) menyatakan bahwa pemijahan ikan secara buatan dengan rangsangan hormon dapat meningkatkan produksi benih. Hormon yang sering digunakan, yaitu LHRHa dengan komposisi salmon gonadotropin releasing hormone analog (sGnRHa) dengan konsentrasi
20 µg/mL dan antidopamin (domperidone) dengan konsentrasi 10 mg/mL, serta aplikasinya dilakukan melalui penyuntikan. Selain LHRHa, penyuntikan dapat menggunakan larutan kelenjar hypofisa dari ikan mas. Prosedur yang dilakukan adalah menyiapkan induk betina ikan mas matang gonad ukuran 400–600 g dan diambil hypofisanya dengan cara memotong ikan secara vertikal tepat di belakang tutup insang, kemudian kelenjar hypofisa diambil dan dimasukan ke dalam gelas dan digerus. Selanjutnya, ditambah 1 mL aquabides dan diaduk sampai merata. Larutan hypofisa disuntikan ke dalam tubuh induk betina. Pematangan gonad ikan baung dapat dilakukan di kolam tanah dengan sistem air mengalir. Untuk perbenihan, diperlukan sebanyak 300 ekor induk ukuran 0,7–1,0 kg. Induk jantan dan betina dipelihara terpisah.
Kondisi sperma sangat penting untuk mendapatkan benih yang berkualitas (Bobe dan Labbé 2010). Sperma disiapkan sebelum pengeluaran telur dengan ditempatkan pada cawan yang ditambah larutan infus natrium klorida. Pengeluaran telur ikan baung dilakukan secara perlahan pada bagian perut ke arah lubang telur. Sperma dan telur diaduk sampai merata dengan menggunakan bulu ayam, kemudian ditambahkan larutan natrium chlorida dan diaduk kembali hingga merata. Telur yang telah terbuahi, kemudian diaktivasi dengan menambahkan air dan sperma yang tidak membuahi dibuang sehingga telur yang telah bersih siap ditetaskan.
Berbagai faktor yang perlu diperhatikan dalam penetasan telur Ikan baung di antaranya suhu pada waktu masa inkubasi telur (Brazil dan Wolters 2002;
Okunsebor et al. 2015). Woynarovich dan Horvath (1980) melaporkan bahwa semakin tinggi suhu penetasan, semakin cepat telur akan menetas, namun juga akan menyebabkan larva lahir prematur sehingga larva tersebut tidak dapat hidup dengan baik. Penetasan telur ikan baung dilakukan di bak beton, bak fiber, atau akuarium dan dilengkapi dengan aerasi untuk menambah oksigen pada media. Penetasan telur ikan baung dilakukan dalam bak tembok dan sebaiknya kolam dilengkapi dengan sistem air mengalir selama proses penetasan. Penetasan telur di bak fiber dan akuarium disesuaikan dengan ukuran atau volume, serta ukuran ikan dan jumlah ikan. Sintasan larva ikan yang tinggi dapat diperoleh dengan memasang hapa halus yang ukurannya sama dengan bak dan diberi pemberat agar hapa tenggelam. Telur yang sudah disiapkan hingga merata ke seluruh permukaan hapa. Larva yang telah menetas diberi pakan naupli artemia. Pemanenan dilakukan panen pada hari ke-7 dengan menggunakan gayung plastik dan larva ini siap ditebar
ke kolam penederan pertama. Larva ikan baung yang dihasilkan dari induk generasi kedua (G2) hasil domestikasi mempunyai sintasan yang lebih tinggi dibandingkan larva yang berasal dari induk di alam karena menurunnya tingkat kanibalisme. Hal positif lainnya adalah parameter bioreproduksi induk ikan baung G2 hasil domestikasi tidak mengalami penurunan kualitas (Prakoso et al. 2019 unpublished).
Pendederan untuk penyediaan benih ikan baung dapat dilakukan dengan tiga tahapan pendederan yang masing-masing segmen pendederan mempunyai nilai jual di pasaran. Pendederan pertama, dapat dilakukan di kolam beton atau kolam dengan substrat tanah. Bentuk kolam persegi panjang atau bujur sangkar dengan ukuran 250–500 m2 atau disesuaikan dengan luasan lahan yang tersedia. Persiapan kolam untuk pendederan I dengan melakukan pengeringan kolam tanah untuk mengurangi toksisitas dan pada kolam beton tidak diperlukan pengeringan hanya pembersihan lumut yang menempel pada dinding kolam dan kotoran lainnya. Penumbuhan pakan alami (plankton) pada kolam dasar tanah dengan memberikan pupuk pupuk organik sebanyak 0,2–0,3 kg/m2. Kedalaman air kolam ± 20 cm dan air ditinggikan kedalamannya secara bertahap hingga air mencapai kedalaman
± 40 cm selama 5–7 hari. Penebaran larva ikan baung sebanyak 100–150 ekor /m2 atau 4–6 ekor/L. Waktu penebaran dilakukan pada pagi hari. Pemberian pakan berupa pelet yang dihaluskan (tepung pelet) sebanyak 1–2 kg dilakukan setelah dua hari larva ditebar di kolam. Lama pemeliharaan pada pendederan I sekitar 21 hari. Pada segmen pendederan I, benih ikan baung sudah dapat dijual dan sudah ada pangsa pasar, namun masih sedikit pembeli. Pendederan kedua juga dapat dilakukan pada kolam beton atau kolam tanah. Ukuran kolam dan persiapan kolam budidaya hampir sama dengan pendederan I.
Penebaran benih sebanyak 60–80 ekor/m2 benih hasil pendederan I yang terseleksi. Pemberian pakan sebanyak 2–4 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam yang diberikan setiap hari. Pendederan II dengan lama pemeliharaan selama 30 hari. Pada segmen pendederan kedua, benih ikan baung mulai banyak peminat dan sudah ada pangsa pasar dan cukup banyak pembeli karena digunakan untuk usaha bisnis pendederan ikan yang cukup memberikan keuntungan.
Pendederan ketiga, sebaiknya dilakukan pada kolam tanah. Ukuran kolam disesuaikan dengan luas lahan, namun ukuran yang ideal antara 400–800 m2. Persiapan kolam yang dilakukan hampir sama dengan yang dilakukan pada pendederan I maupun II. Penebaran benih sebanyak 30–50 ekor/m2 benih hasil pendederan II yang terseleksi. Pemberian pakan dosis 4–6% dari bobot ikan per hari. Lama pemeliharaan 3–4 minggu. Pada segmen pendederan ketiga, benih ikan baung sudah banyak pembeli untuk digunakan pada budidaya pembesaran. Pada segmen pendederan ini, ukuran benih ikan lebih besar dan sehat, serta benih ikan lebih tahan terhadap kondisi lingkungan bila ditebar untuk budidaya pembesaran di kolam. Monitoring penyakit yang sering menyerang ikan baung adalah Ichthyopthirius multifiliis atau lebih dikenal dengan white spot (bintik putih). Pencegahan penyakit pada benih ikan baung dapat dilakukan dengan persiapan kolam yang mantap dan penggunaan air yang baik kualitasnya dalam arti tidak tercemar dari limbah atau tidak banyak mengandung bahan organik. Sebaiknya, air yang masuk dalam kolam budidaya pendederan berasal dari air dari petak tandon yang sudah di treatment. Pengobatan dilakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak 200 gr/m3 setiap 10 hari selama pemeliharan atau merendam ikan yang sakit ke dalam larutan oksitetrasiklin 2 mg/L.
Faktor utama dari pakan menentukan keberhasilan reproduksi dan meningkatkan sintasan larva. Menurut Wooton (1979), jumlah telur ikan ditentukan oleh faktor lingkungan dan distribusi atau penggunaan energi pakan. Kualitas dan jumlah pakan mempunyai peranan penting bagi pematangan gonad dalam menghasilkan telur dengan kualitas baik (daya tetas tinggi). Pertumbuhan dan pematangan gonad terjadi apabila terdapat kelebihan energi yang diperoleh dari makanan untuk pertumbuhan tubuh.
Demikian pula dengan protein yang merupakan salah satu nutrien penting dalam mendukung pertumbuhan dan reproduksi ikan. Riset perbaikan pakan induk baung untuk reproduksi telah dilakukan Sunarno et al. (2018), di BBI Ciherang. Bobot induk baung yang digunakan dalam penelitian berkisar 682,74 ± 177,59 g. Induk yang matang gonad berbobot 730,16 ± 223,98 g dan fekunditas yang diperoleh disajikan pada Tabel 1.1. Nilai indeks kematangan gonad (IKG) induk baung tersebut pada kondisi pakan tidak terkontrol sekitar 5,36 ± 4,20%. Nilai IKG tersebut tergolong normal untuk kondisi di alam.
Kondisi awal induk ikan baung (
Tabel 1.1 H. nemurus) sebelum diberi pakan
perlakuan
Bobot induk (g) Berat gonad (g)
IKG (%)
FR (%)
HR Awal Akhir (%)
Kisaran 413,20–1.110 401,90–1.012,80 2,50–106,50 0,4–13,81 90 80 Rerata ± st dev 730±223,98 689,15 ± 207,80 41,01± 36,34 5,36 ± 4,20 90 80 Sumber: Sunarno et al. (2018)
Pada kondisi ini, induk ikan baung sulit beradaptasi karena konsumsi pakan hariannya yang relatif rendah. Fluktuasi pakan harian pada induk ikan baung pada pakan yang diberikan dan tidak direspons oleh ikan akan mengendap di dasar wadah dan berpotensi mencemari perairan. Hasil pengamatan induk yang matang gonad, pemijahan, dan pengukuran performa reproduksi tercantum pada Tabel 1.2. Induk ikan baung pada pakan uji mempunyai fekunditas tertinggi, kemudian diikuti oleh kontrol. Induk ikan baung diberi pakan uji (109.722 butir), selanjutnya pakan kontrol (38.010 butir).
Performa reproduksi induk ikan baung (
Tabel 1.2 H. nemurus) pada berbagai
suplementasi asam lemak
Parameter Satuan Pakan
komersial Pakan uji
Pertumbuhan mutlak g 96 120
Jumlah ikan memijah Ekor 1 1
Jumlah telur Butir 105.618 109.722
Fekunditas total - 10.604 11.969
Derajat pembuahan % 92 96
Derajat penetasan % 86 92
Produksi larva selama 25 hari - 90.831 18.653
Produksi larva per 100 g induk 9.120 2.035
Diameter telur (mm) mm 0,32 0,34
Indek kematangan gonad (%) % 9,44 12,93
Sumber: Sunarno et al. (2018)
Dilaporkan oleh Sunarno et al. (2018) bahwa pemijahan ikan dilakukan dua kali dengan selang waktu 25 hari. Tingkat pembuahan telur meningkat pada pakan uji (96%), kemudian pakan komersial (92%). Tingkat penetasan telur tertinggi pada pakan uji (92%), kemudian kontrol (86%).
DUKUNGAN PEMERINTAH DALAM PERBENIHAN
Pembenihan ikan merupakan proses dalam menghasilkan benih ikan melalui pengelolaan terhadap induk, teknik pemijahan, penetasan telur, dan pemeliharaan larva atau benih pada lingkungan yang terkontrol (Anonim 2016). Kebijakan Pemerintah dalam upaya peningkatan produksi perikanan secara nasional diarahkan pada keinginan mewujudkan kemandirian, kedaulatan, kesejahteran, dan keberlanjutan. Untuk itu, aspek pelestarian sumberdaya perikanan yang ada dan lingkungan menjadi hal penting dalam upaya pemanfaatan potensi, agar nilai ekonomi sumberdaya perikanan budidaya mampu dinikmati sampai generasi yang akan datang. Akuakultur di masa depan dihadapkan pada dua tantangan besar, yaitu pemenuhan kebutuhan pangan dan perubahan lingkungan global. Perubahan iklim dan lingkungan global mengancam eksistensi sumberdaya alam pada sektor yang berbasis pangan, termasuk perikanan budidaya (Anonim 2015). Oleh karena itu, penting untuk mengedepankan aspek pelestarian sumberdaya dan lingkungan, serta pengelolaan budidaya yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan nilai ekonomi agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Pengembangan budidaya dan usaha pelestarian ikan baung akan terlaksana apabila tersedia benih berkualitas secara kontinu, penggunaan pakan yang tepat dan pencegahan penyakit, serta terjaganya lingkungan hidup yang baik untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhannya. Ketersediaan induk dan benih ikan berkualitas baik masih terbatas. Untuk itu, perlu strategi untuk pengembangan pembenihan ikan baung tersebut. Demikian pula, pembenih ikan baung belum sepenuhnya menerapkan standar prosedur operasional (SOP), tata laksana pembinaan, pengawasan, dan monev perbenihan belum berjalan optimal. Berdasarkan kebijakan pembenihan yang tercantum dalam UU 31 Tahun 2004 jo. UU 45/2009 tentang perikanan Pasal 7 poin e, Pasal 14.1, dan Pasal 15 bahwa urusan perbenihan (induk dan benih Ikan) menjadi kewenangan pemerintah dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran, mengembangkan pemanfaatan plasma nutfah, dan alokasi ikan “tertentu”.
Peraturan Menteri KP yang menyangkut perbenihan diatur dalam KP No 35/PERMEN-KP/2016 tentang cara pembenihan ikan yang baik (CPIB).
CPIB adalah pedoman dan tata cara mengembangbiakkan ikan dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, dan pemeliharaan
larva atau benih dalam lingkungan yang terkontrol, melalui penerapan teknologi yang memenuhi kriteria dan persyaratan teknis, manajemen, keamanan pangan, dan lingkungan (Anonim 2004; 2016).
Strategi yang harus dilakukan dalam jangka pendek adalah membangun dan mengoptimalkan broodstock center untuk menghasilkan induk dan benih yang berkualitas. Penerapan CPIB tidak boleh diabaikan agar dapat memenuhi produksi benih yang berstandar dan bersertifikasi. Hal ini juga harus mendapat dukungan dari pemerintah yang ada di provinsi maupun kabupaten dan kota agar penerapan CPIB wajib dilakukan untuk menghasilkan benih yang berkualitas. Selain itu, hatchery skala rumah tangga (HSRT) atau unit perbenihan rakyat (UPR), serta pembinaan kelompok yang mandiri dan profesional harus diberdayakan dan diawasi secara kontinu. Pemerintah harus meningkatkan fasilitas bangunan, serta rehabilitasi sarana dan prasarana untuk Balai Benih Ikan (BBI). Pentingnya sharing informasi untuk pengembangan jejaring pada instansi dan lembaga, serta stakeholder lainnya terkait dengan perbenihan ikan baung. Perlu adanya program pemanfaatan dan revitalisasi, serta operasionalisasi unit hatchery pemerintah dan swasta yang terkesan mangkrak dan kurang termanfaatkan.
PENGUATAN KELEMBAGAAN PERBENIHAN SKALA MIKRO
Pengawasan dalam proses penyediaan benih yang berkualitas sampai ke masyarakat perlu dilakukan. Penerapan teknologi perbenihan di unit perbenihan rakyat, terutama ikan baung hasil domestikasi dan dukungan dari bidang riset lainnya, seperti aquaculture engineering. Peran pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan UPTD dalam pembinaan pembenihan sangat diperlukan agar kegiatan dapat berjalan baik.
PEMULIAAN GENETIKA
PUSAT INDUK/
BROODSTOCK CENTER
UPT/UPTD
MASYARAKAT/
PEMBUDIDAYA HATCHERY
Diagram penyediaan benih yang berkualitas pada
Gambar 1.1 hatchery
Tingkat pusat atau UPT yang bertanggung jawab dalam pembuatan dan penerapan SOP; melakukan kegiatan pengembangan di beberapa lokasi yang terpilih, meliputi pembinaan, pengawasan, monitoring, dan evaluasi terhadap kegiatan perbenihan, sosialisasi sertifikasi, distribusi induk, dan calon induk.
Tercapainya penyediaan benih harus diimbangi dengan permintaan masyarakat atas kebutuhan benih. Perbenihan akan berkembang dan berkelanjutan apabila permintaan benih ikan baung oleh masyarakat cukup banyak. Untuk itu, dukungan masing-masing daerah di tingkat provinsi sangat dibutuhkan.
Dukungan pemerintah pada perbenihan ikan baung diprioritaskan pada kelembagaan atau kelompok pembudidaya ikan yang sudah ditetapkan agar lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berdampak pada usaha yang mandiri untuk kesejahteraan masyarakat.
Strategi untuk mencapai kelembagaan yang kuat dapat dilakukan melalui pendampingan teknologi kepada masyarakat, misalnya dengan pelatihan, bimbingan, pembinaan, kegiatan diseminasi, atau membuat demplot di beberapa daerah karena masing-masing daerah mempunyai kondisi lahan yang berbeda sehingga perlu penanganan yang spesifik. Bimbingan pada kelompok melalui organisasi kelompok mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi, serta budaya masyarakat. Pembinaan kemitraan melalui inti plasma, perbankan, antarkelompok binaan dan penguatan modal usaha, serta pemberian bantuan paket sarana produksi bagi kelompok pemula sehingga sesuai dengan sasaran yang diinginkan pemerintah. Saat ini, banyak pembudidaya atau kelompok pembudidaya secara mandiri mengembangkan usahanya. Untuk itu, pemerintah mengarahkan kelompok pembudidaya yang telah tergabung dengan kelembagaan pembudidaya ikan yang kuat dan mandiri dengan harapan peranan kelembagaannya lebih efektif dan berkesinambungan, serta berdampak positif bagi kemandirian usaha. Pemerintah dalam mengajukan program kegiatan didasari pada penilaian kebutuhan masyarakat (need assessment), pendekatan solusi (solution approach), dan partisipasi masyarakat (social participatory). Langkah ini sangat penting sebagai faktor utama dalam membangun pengembangan komunitas (community development) yang efektif dan secara langsung mendorong pemberdayaan dalam meningkatkan kapasitas usaha pembudidaya ikan dan upaya kelompok pembudidaya mendapatkan kemudahan akses terhadap input produksi, teknologi, dan informasi pasar sehingga mampu mandiri.
Dukungan pemerintah terhadap penguatan Gambar 1.2
kelembagaan kelompok pembudidaya
Keterlibatan berbagai pihak mulai dari perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), kementerian/lembaga lain, serta pihak terkait lainnya untuk melakukan pengawalan sekaligus pembinaan kepada para kelompok pembudidaya di sentra-sentra produksi sehingga mampu mewujudkan community development. Upaya pendampingan dan pengawalan dari berbagai pihak yang terkait harus didorong dengan kerja sama.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004. Undang-Undang Republik Indonesia No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Keputusan bersama DPR RI dan Keputusan Presiden RI. 86 Hlm.
Anonim. 2015. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 45/Permen-KP/2015 tentang perubahan atas peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 25/Permen-KP/2015 tentang rencana strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2015–2019.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 92 Hlm.
Anonim. 2016. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia no 35/Permen-KP/2016 tentang cara pembenihan ikan yang baik. Kementerian Kelautan dan Perikanan, (KKP). 19 Hlm.
Anonim. 2017. Tilapia jadi komoditas unggulan perikanan budidaya. Diakses pada tanggal 4 Juli 2017. https://news.kkp.go.id/index.php/tilapia-jadi- komoditas-unggulan-perikanan-budidaya/.
Bobe J, Labbé C. 2010. Egg and sperm quality in fish. General and Comparative Endocrinology 165(3): 535–548.
Brain FD, Amy C. 1980. Induced fish breeding in South East Asia. Working report, Singapore. 25–28th November 1980. 10RC: 178.
Brazil BL, Wolters WR. 2002. Hatching success and fingerling growth of channel catfish cultured in ozonated hatchery water. N Am J Aquac 64:
144–149.
Gustiano R, Kusmini II, Ath-thar MHF. 2015. Mengenal Sumber Daya Genetik Ikan Spesifik Lokal Air Tawar Indonesia untuk Pengembangan Budidaya. Bogor: IPB Press.
Okunsebor SA, Ofojekwu PC, Kakwi DG, Audu BS. 2015. Effect of temperature on Fertilization, Hatching and Survival Rates of Heterobranchus bidorsalis Eggs and Hatchlings. British Journal of Applied Science & Technology 7(4): 372–376.
Hardjamulia A, Suhenda N. 2000. Evaluasi sifat reproduksi dan sifat gelondongan generasi pertama empat strain ikan baung (Mystus nemurus) di karamba jaring apung. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 6(3–4): 24–35.
Ibrahim MSA, Mona HA, Mohammed A. 2008. Zooplankton as live food for fry and fingerlings of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) and Catfish Clarias gariepinus in Concrete ponds. Central Laboratory for Aquaculture Research (CLAR), Abbassa, Sharkia, Egypt. 8th International Symposium on Tilapia in Aquaculture 757–769.
Izquierdo MS, Fernandez H, Palacios, Tacon AGJ. 2001. Effect of broodstock nutrition on reproductive performance of fish. Aquaculture 197: 25–42.
Khairuman, Amri K. 2010. Ikan Baung, Peluang Usaha Dan Teknik Budidaya Intensif. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 88 Hlm.
Millamena OM, Colloso RM, Pascual FP. 2002. Nutrition in Tropical Aquaculture: essentials of fish nutrition, feeds, and feeding of tropical aquatic species. Tigbauan, Iloilo, Philippines: SEAFDEC Aquaculture Department. 221 p.
Muflikhah N, Syarifah N, Aida SN. 1998. Domestikasi Ikan Baung (Mystus nemurus). Jurnal Litbang Pertanian XVII(2). Jakarta. 72 Hlm.
Nwadukwe FO, Ayinla OA. 2004. Growth and survival of hybrid catfish fingerlings under three dietary treatments in concrete tanks. Azazeb 6: 102–106.
Prakoso VA, Subagja J, Arifin OZ. 2019. Keragaan Bioreproduksi Induk Ikan Baung Lokal dan Hasil Domestikasi serta Pertumbuhan Benih yang Dihasilkannya. Unpublished.
Samuel, Adjie S, Akrimi. 1995. Beberapa aspek biologi ikan baung (Mystus nemurus) di daerah aliran sungai Batanghari, Provinsi Jambi. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia 28: 1–13.
Sunarno MTD, Sulhi M, Samsudin R, Heptarina D, Sumiati T, Saputra A, Prakoso VA, Nugraha A, Hendra, Kumarasetya A. 2018. Aplikasi Pakan Formula Induk Untuk Peningkatan Performa Reproduksi Induk Dan Produksi Ikan Baung. Laporan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan perikanan, Bogor. 15 Hlm
Subagja J, Cahyanti W, Nafiqoh N, Arifin OZ. 2015. Keragaan bioreproduksi dan pertumbuhan tiga populasi ikan baung (Hemibagrus nemurus Val.
1840). Jurnal Riset Akuakultur 10(1): 25–32.
Subagja J, Arifin OZ, Prakoso VA, Suhud EH. 2017. Pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan benih ikan baung (Hemibagrus nemurus) hasil domestikasi. Dipresentasikan pada Simposium Nasional Ikan dan Perikanan. Sekolah Tinggi Perikanan Bogor 12–13 September 2017.
Suhenda N, Samsudin R, Nugroho E. 2010. Pertumbuhan benih ikan baung (Hemibagrus nemurus) dalam keramba jaring apung yang diberi pakan buatan dengan kadar protein berbeda. Jurnal Iktiologi Indonesia 10(1): 65–71.
Woynarovich E, Horvath L. 1980. The Artificial Propagation of Warm-Water Finfish. A Manual for Extention, FAO. Fisheries Technical Paper No.
201. 385 p.
Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840)
Rudhy Gustiano, Vitas Atmadi Prakoso, Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar,
dan Irin Iriana Kusmini
Ikan baung khususnya jenis Hemibagrus nemurus merupakan salah satu jenis komoditas air tawar yang relatif mahal di Indonesia. Menurut Gustiano et al. (2015) ikan ini merupakan salah satu sumber daya genetik dari 22 jenis ikan air tawar yang dapat digunakan untuk diversifikasi usaha budidaya.
Penurunan populasi ikan baung di alam terjadi akibat eksploitasi secara berlebihan dan intensifikasi usaha budidaya menggunakan benih dari alam.
Beberapa alasan ikan baung menjadi komoditas andalan karena kualitas dan kuantitas dagingnya mendukung kuliner di daerah Sumatera dan Kalimantan, serta harga yang cukup menjanjikan berkisar antara Rp45.000–60.000/kg di tingkat penghasil. Hasil analisis komoditas melaporkan bahwa ikan baung menduduki posisi kelima dari 15 komoditas yang dikaji di Kalimantan Selatan (Sukadi et al. 2009). Di Indonesia, upaya budidaya ikan baung pertama dilaporkan oleh Gaffar et al. (1992). Pada tahun 2007, produksi baung dunia sebesar 3.477 ton dengan nilai USD7.718.000 yang dihasilkan oleh Indonesia dan Malaysia. Secara statistik, Malaysia telah tercatat lebih dahulu memproduksi ikan baung oleh FAO pada tahun 1993 sebesar 29 ton dengan nilai sebesar USD74.000. Dalam periode tahun 1994–1996, terjadi lonjakan peningkatan produksi sebesar 300–500%. Peningkatan produksi terus terjadi dalam kurun waktu 1997–2003, hingga mencapai angka produksi sebesar 1,366 ton dengan nilai USD3,088. Sementara Indonesia baru tercatat sebagai negara produser ikan baung oleh FAO sejak tahun 2004 dengan nilai produksi
sebesar 541 ton senilai USD842,000. Produksi meningkat pada tahun 2007 menjadi 2,277 ton dengan nilai USD4,691.000. Berdasarkan data yang dilaporkan FAO pada tahun 2007, Indonesia adalah negara penghasil ikan baung nomor satu di dunia.
Produksi ikan baung,
Tabel 2.1 Hemibagrus nemurus di dunia
Negara Unit 1993 2003 2004 2005 2006 2007
Indonesia (t) 541 128 991 2,277
USD’000 842 90 694 4,691
Malaysia (t) 29 1,366 1,231 1,327 1,316 1,200
USD’000 74 3,088 2,782 3,497 3,237 3,027
Total (t) 29 1,366 1,772 1,455 2,307 3,477
USD’000 74 3,088 3,624 4,397 3,931 7,718
Sumber: Fisheries and Aquaculture Statistics (FAO 2008)
Pada Tabel 2.1, ikan baung menunjukkan peningkatan lebih dari 1000 kali dalam waktu 14 tahun, 29 ton pada tahun 1993 menjadi 3.477 ton pada tahun 2007. Sangatlah ironis informasi produksi dan perkembangan budidaya ikan baung di Indonesia masih langka dibandingkan dengan di Malaysia hingga saat ini. Hal ini diduga produksi ikan baung di Indonesia masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, baik untuk ukuran ikan konsumsi maupun ukuran benih untuk kegiatan budidaya. Oleh karena itu, budidaya ikan baung harus segera dibenahi untuk meningkatkan dan mempertahankan keunggulan potensi yang sudah ada pada ikan ini. Ilustrasi pola produksi dalam usaha budidaya ikan baung di Indonesia ditampilkan dalam Gambar 2.1.
Sumber benih
(Jawa Barat dan Kalimantan Selatan)
Panti Benih Alam
Budidaya
(Sumatera, Jawa dan Kalimantan)
KJA
Kolam Karamba
KONSUMSI
Ikan Segar Rumah Makan Olahan
Alur sistem budidaya dan Gambar 2.1
usaha ikan baung, Hemibagrus nemurus
MENGENAL IKAN BAUNG
Ikan baung, Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) termasuk dalam genus Hemibagrus yang merupakan anggota famili Bagridae. Famili ini merupakan salah satu famili ikan berkumis (catfish) yang hidup di air tawar dan payau di Asia dan Afrika, berisi banyak anggota dengan 20 genera, dan lebih dari 200
spesies (www.fishbase.org). Ciri-ciri umum Bagridae adalah sebagai berikut:
terdapat jari-jari sirip keras di sirip punggung, jari-jari sirip lunak 6 atau 7.
Sirip pengendali sangat beragam ukurannya. Jari-jari keras sirip dada bergerigi, memiliki dua pasang kumis (Nelson 1994). Genus Hemibagrus Bleeker 1862 memiliki sinonim sebagai Mystus Scopoli 1777 atau Macrones Dumeril 1856.
Distribusi genus Hemibagrus ditampilkan dalam Gambar 2.2. Ikan baung yang umum dikenal masyarakat, diketahui terdapat tiga nama sinonim yang dikenal sebagai Bagrus nemurus (Valenciennes 1840), Macrones nemurus (Valenciennes 1840), dan Mystus nemurus (Valenciennes 1840) (Tabel 2.2).
Distribusi genus
Gambar 2.2 Hemibagrus (Berra 2001)
Di Indonesia, genus Hemibagrus memiliki sepuluh spesies atau jenis yang disajikan dalam Tabel 2.2. Semua jenis Hemibagrus sering kali disebut sebagai ikan baung sebagaimana Hemibagrus nemurus.
Daftar spesies baku dalam genus
Tabel 2.2 Hemibagrus di Indonesia
(fishbase.org)
No. Nama Baku Sinonim
1. Hemibagrus nemurus
(Valenciennes 1840) Bagrus nemurus Valenciennes 1840 Macrones nemurus (Valenciennes 1840) Mystus nemurus (Valenciennes 1840) Bagrus hoevenii (non-Bleeker 1846) Mystus johorensis (non-Herre 1940)
No. Nama Baku Sinonim 2. Hemibagrus planiceps
(Valenciennes 1840) Bagrus planiceps Valenciennes 1840 Macrones planiceps (Valenciennes 1840) Mystus planiceps (Valenciennes 1840) 3. Hemibagrus
hoevenii (Bleeker 1846) Bagrus hoevenii Bleeker 1846
Bagrus nemurus (non-Valenciennes 1840) 4. Hemibagrus wyckii
(Bleeker 1858) Bagrus wyckii (Bleeker 1858) Macrones wyckii (Bleeker 1858) Mystus wyckii (Bleeker 1858) Hemibagrus wycki (Bleeker 1858) Mystus wicki (Bleeker 1858) Mystus wycki (Bleeker 1858) 5. Hemibagrus bongan
(Popta 1904) Macrones bongan (Popta 1904)
Hemibagrus nemurus (nonValenciennes 1840) 6. Hemibagrus fortis
(Popta 1904) Macrones fortis Popta 1904 Macrones howong Popta 1904 Macrones bo Popta 1904 Macrones kajan Popta 1904
Macrones fortis capitulum Popta 1904 Hemibagrus capitulum Popta 1904 7. Hemibagrus olyroides
(Roberts 1989) Mystus olyroides Roberts 1989 8 Hemibagrus velox
(Tan dan Ng 2000) Bagrus planiceps (non-Valenciennes 1840) Hemibagrus planiceps (non-Valenciennes 1840) Macrones planiceps (non-Valenciennes 1840) Mystus planiceps (non-Valenciennes 1840) 9. Hemibagrus caveatus
(Ng Wirjoatmodjo dan
Hadiaty 2001) -
10. Hemibagrus lacustrinus
(Ng dan Kottelat 2013) -
Tabel 2.2 Daftar spesies baku dalam genus Hemibagrus di Indonesia (fishbase.org) (lanjutan)
Kunci identifikasi buatan genus Hemibagrus di Indonesia
(Modifikasi Ng dan Kottelat 2013; Robert 1989) 1a. Memiliki 43–46 vertebrae, dasar-sirip lemak atau pengendali
(adipose fin) pendek (<19% SL) ...2 1b. Tubuh memanjang dengan 47–51 vertebrae ...5 2a. Sirip ekor berwarna kemerahan atau jingga waktu hidup,
sisi tubuh memiliki garis hitam tipis vertikal
dan garis tipis gurat sisi ...Hemibagrus caveatus 2b. Tubuh polos tanpa ada ciri khusus sepanjang gurat sisi, sirip ekor
berwarna abu-abu waktu hidup ...3 3a. Hamparan gigi premaxillary (premaxillary tooth band)
nampak ketika mulut ditutup, sirip ekor lonjong, terdapat batas hitam menyolok sekitar sirip ekor,
sirip ekor berbentuk segitiga ...Hemibagrus hoevenii 3b. Hamparan gigi premaxillary (premaxillary tooth band) tidak nampak
ketika mulut ditutup, sirip ekor membulat, batas hitam sekitar sirip ekor memudar atau tidak ada ...4 4a Seluruh cabang dari jari-jari keras sirip punggung sama panjang,
memiliki batas membulat ke arah sirip ... Hemibagrus fortis 4b. Bagian depan cabang dari jari-jari keras sirip punggung lebih
panjang dari bagian lainnya, memiliki batas bergerigi yang jelas ke arah sirip, sirip dorsal di luar perpanjangan filamen tidak menyentuh adipose fin, bagian atas kepala
relatif rata ... Hemibagrus nemurus 5a. Dasar adipose fin panjang (>20% SL), sirip punggung pendek dan
lemah poorly serta tidak memiliki gerigi pada bagian sisi belakang, sirip ekor memanjang dan bagian atasnya berbentuk pisau,
berwarna cokelat gelap ... Hemibagrus olyroides 5b. Sirip punggung panjang dan kuat (12–16%SL), memiliki 10–12
gerigi pada bagian sisi belakang ...6
6a. Kepala lebar dan pipih, berwarna terang pada bagian utama sirip ekor, daerah humeral berwarna krem, sungut maxila
menyentuh bagian tengah dasar sirip punggung ... Hemibagrus wyckii 6b. Dasar sirip lemak pendek (<19% SL), tubuh tanpa garis hitam
pada gurat sisi ...7 7a. Jarak sirip punggung ke sirip lemak 8–11% SL, bagian belakang
sirip punggung menyentuh atau melebihi awal
sirip lemak ...Hemibagrus lacustrinus 7b. Jarak sirip punggung ke sirip lemak 11–18% SL, bagian belakang
sirip punggung menyentuh atau melebihi awal sirip lemak ...8 8a. jarak antar bola mata 32–37% cHL ...Hemibagrus planiceps 8b. Jarak antar bola mata 28–34% cHL, panjang moncong 33–41%SL,
sirip lemak relatif pendek ...9 9a. Alat kelamin jantan tidak menyentuh sirip dubur,
bagian atas sirip ekor ke arah belakang membulat,
tidak memiliki perpanjang sirip ...Hemibagrus bongan 9b. Alat kelamin jantan menyentuh sirip dubur, bagian atas sirip ekor
lonjong, memiliki perpanjang sirip ... Hemibagrus velox
Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840)
A
B C
Ikan baung,
Gambar 2.3 Hemibagrus nemurus (salah satu contoh ikan Hemibagrus di Indonesia) A. seluruh tubuh; B. bagian kepala;
C. gigi premaxillary (sumber: Bleeker 1862)
Hemibagrus nemurus
Gambar 2.4 , 400 mm SL, 23 Mei 2010, Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia (Sumber: fishbase.
org)
Deskripsi asli: Bagrus nemurus Valenciennes, in Cuvier dan Valenciennes 1840. P: 423. (type locality: Jawa).
Diagnosis: Memiliki 43–46 vertebrae, dasar sirip lemak pendek (<19% SL), tubuh polos tanpa ada ciri khusus sepanjang gurat sisi, sirip ekor berwarna abu-abu waktu hidup, hamparan gigi premaxillary (premaxillary tooth band) tidak nampak ketika mulut ditutup, sirip ekor membulat, bagian depan cabang dari jari-jari keras sirip punggung lebih panjang dari bagian lainnya, memiliki batas bergerigi yang jelas ke arah sirip, sirip dorsal di luar perpanjangan filamen tidak menyentuh sirip lemak atau pengendali, bagian atas kepala relatif rata.
Nama umum: Ikan baung atau dikenal secara internasional sebagai Asian redtail catfish, di Indonesia dikenal dengan nama lokal sebagai duri, patik, baung, tagih, ririgi, baung putih.
Keterangan umum: Secara umum, ikan baung dicirikan dengan jari-jari keras sirip punggung 2, jari-jari sirip lunak enam atau tujuh; jari-jari lunak sirip dubur 10–13. Warna tubuh cokelat, sering diikuti warna kehijauan berkilat. Sirip berwarna abu-abu hingga ungu pudar. Sirip perut bersekat-
sekat dibagian dalamnya. Dasar sirip pengendali lebih pendek dari sirip punggung dan kurang lebih sebanding dengan sirip dubur. Sungut (kumis) dua pasang; sungut hidung memanjang melebihi belakang mata, sedangkan sungut dari sudut bibir melebihi pangkal sirip perut. Kepala agak mendatar daripada menonjol; sirip punggung tidak menyentuh sirip pengendali; sirip dada lunak bagian depan; terdapat sembilan sirip dubur yang bercabang. Ikan ini dimanfaatkan secara komersial sebagai ikan konsumsi atau ikan hias.
Ekologi dan tingkah laku: Pada umumnya, ikan ini hidup di sungai besar yang berlumpur atau lunak dan ada aliran yang tidak terlalu deras (Gustiano et al. 2015). Ikan baung sering berpindah dari habitat sungai ke daerah genangan atau banjir di sekitar hutan di musim penghujan untuk memijah.
Makanan ikan baung berupa udang-udangan dan ikan. Sebagai ikan karnivor, ikan baung termasuk salah satu pemangsa level atas dalam rantai makanan.
Panjang total maksimum adalah 65,0 cm. Ikan baung merupakan salah satu ikan yang bernilai tinggi sebagai ikan konsumsi.
Distribusi: Ikan baung di Indonesia memiliki sebaran di Pulau Jawa (Gambar 2.5).
Distribusi ikan baung di Gambar 2.5
indonesia memiliki sebaran di Pulau Jawa
DAFTAR PUSTAKA
Berra TM. 2001. Freshwater Fish distribution. San Diego: Academic Press, xxxv+604pp.
Bleeker P. 1858a. Enumeratios [Ecierum piscium javanensium hucusque cognitarium. Naturkundig Tijdshcrift voor Nederlandshc Indie 15: 359–456.
Bleeker P. 1858b. […eenige vischsoorten, hem toegezonden van Banjoewangi…, eenige andere, verzameld te Buitenzorg, …reptilian, te Buitenzorg verzameld…]. Naturkundig Tijdshcrift voor Nederlandshc Indie 16: 47–49.
Bleeker P. 1858c. […eenige slangen en vischen, gevangen in de omstreken van Montrado de gawezen hoofplats der chinezen ter westkust van Borneo…]. Naturkundig Tijdshcrift voor Nederlandshc Indie 16:
196–197.
Bleeker P. 1858d. […vischsoorten uit de rivier van Palembang…], Naturkundig Tijdshcrift voor Nederlandshc Indie 16: 263–266.
Bleeker P. 1858e. Ichyyologiae archipeagii indici prodromus. Volume 1 Siluri DE vischen van den indischen archipel beschreven en toegelicht Deel 1 siluri. Acta Societatis Scientarum Indo-Nederlandicae 4(2): i–xii + 1–370.
[Preprint published in1858, journal in 1859; also Published by Lange, Batavia i–xii + 1–370].
Bleeker P. 1858f. Zevende bijdrage tot de kennis den vischfauna van Sumatra Visschen van Palembang. Acta Societatis Scientarum Indo-Nederlandicae 4(2): I–xii + 1–370. [Preprint published in1858, journal in 1859].
Bleeker P. 1858g. Twaalfde bijdrage tot de kennis den vischfauna van Borneo Visschen van Singkawang. Acta Societatis Scientarum Indo-Nederlandicae 5(7): 1–10. [Preprint published in1858, journal in 1859].
Bleeker P. 1862. Atlas ichthyologique des Indes orientales néêrlandaises: publié sous les auspices du gouvernement colonial néêrlandais. II. Siluroide, Chacoïdes et Heterobranchoïdes. 112 pls. 49–101.
Cuvier G, Valenciennes A. 1840. Histoire Naturelle Des Poissons, 14. Pitois- Levrault, Paris. 464 pp, pls 389–420.
[FAO] Food and Agriculture Organization. 2008. Fisheries and Aquaculture Statistics.
Gaffar AK, Muflikhah N. 1992. Pemijahan buatan dan pemeliharaan larva ikan baung. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 254–257.
Gustiano R, Kusmini II, Ath-thar MHF. 2015. Mengenal sumber daya genetik ikan spesifik lokal air tawar Indonesia untuk pengembangan budidaya.
Bogor: IPB Press, 51p. ISBN 978-979-493-779-2.
Nelson JS. 1994. Fishes of the World. NY, USA: John Willey and Sons.Inc.
600p.
Ng HH, Kottelat M. 2013. Revision of The Asian Catfish Genus Hemibagrus Bleeker 1862 (Teleostei: Siluriformes: Bagridae). The Raffles Bulletin of Zoology 61(1): 205–291.
Roberts TR. 1989. The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Mem. Calif. Acad. Sci 14: 1–210.
Sukadi MF, Kristanto AH, Nugroho E, Komarudin O, Widiyati A, Gustiano R, Djajasewaka H, Kusmini II. 2009. Kandidat komoditas ikan lokal air tawar potensial untuk pengembangan budidayanya di Kalimantan Selatan In: Sudradjat et al. (eds). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur (Buku 1), 365–373.
Anang Hari Kristanto,
Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-Thar, Otong Zenal Arifin, dan Brata Pantjara
Ikan baung (Hemibagrus nemurus) termasuk dalam ikan ekonomis penting yang mendiami perairan umum yang menyebar di Asia. Ikan baung terdapat di sungai Mekong, sungai Chao Phraya, dan sungai Xe Bangfai, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (http://www.fishbase.se/summary/
Hemibagrus-nemurus). Ikan baung merupakan bahan baku untuk membuat ikan asap dan pindang yang digemari oleh masyarakat Sumatera, khususnya masyarakat Jambi (Nasution et al. 1993). Di Jawa Barat, jenis ikan baung dikenal dengan nama ikan tagih. Kajian terhadap aspek sumber daya di alam, telah dilakukan sejak tahun 1995 oleh beberapa peneliti (Samuel et al. 1995), sedangkan kajian terkait aspek pembenihan ikan baung dilakukan sejak tahun 1992 (Gaffar dan Muflikhah 1992; Muflikhah dan Gaffar 1992; Muflikhah et al. 1993; Hardjamulia dan Suhenda 2000). Muflikhah dan Gaffar (1992);
Muflikhah dan Aida (1996) telah melakukan aspek kajian pembesaran ikan baung sejak tahun 1992. Budidaya ikan baung mulai berkembang di masyarakat, dicirikan dengan permintaan benih ikan baung untuk kegiatan pembesaran. Kebutuhan benih di Provinsi Riau untuk keperluan budidaya lebih sejuta per tahun (Roza et al. 2014). Ketersediaan benih berkualitas dalam jumlah yang mencukupi merupakan dasar dan kebutuhan utama dalam budidaya ikan baung yang berkelanjutan. Benih ikan baung dapat tersedia setiap saat, bila mana manajemen induk ikan baung diterapkan sesuai kaidah. Manajemen induk ikan baung melibatkan semua tindakan yang diterapkan oleh pembudidaya untuk mendapatkan ikan baung yang dibudidayakan matang gonad dan menghasilkan telur, serta dapat dibuahi
oleh sperma dari induk ikan baung jantan. Penggunaan teknik pemijahan buatan dan kelengkapan panti benih yang memadai dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan benih ikan baung yang berkualitas (Kristanto et al.
2016) dan Radona et al. (2018). Keberhasilan pemijahan ikan baung yang dilakukan oleh pembudidaya tergantung dari kualitas induk yang dipijahkan.
Kualitas induk ikan baung dapat ditingkatkan melalui menajemen induk yang baik. Kegiatan manajemen induk ikan baung meliputi penyediaan induk dan transportasi induk asal alam ke wadah budidaya, pemilihan induk ikan baung yang akan digunakan dalam pemijahan, sistem pemeliharaan induk, teknik pemberian pakan serta pengelolaan kualitas air, nutrisi induk ikan baung, parasit dan penyakit, serta predator dan pesaingnya.
PENYEDIAAN INDUK DAN PENGANGKUTAN INDUK IKAN BAUNG
Penggunaan induk baung hasil domestikasi sangat dianjurkan dalam pengadaan induk. Apabila induk yang terdomestikasi tidak tersedia, induk hasil penangkapan dari alam dapat dipergunakan sebagai indukan dengan input teknologi domestikasi. Transportasi induk ikan baung dari alam maupun yang telah terdomestikasi, dapat dilakukan melalui udara maupun kendaraan darat dengan sistem transportasi tertutup. Apabila sampai di tempat penampungan, induk ikan baung diberikan potasium permanganat, kemudian ditampung dalam wadah yang dilengkapi air mengalir pada kondisi fotoperiod alami dengan suhu air 27–28oC, serta kandungan oksigen yang mencukupi antara 7–8 ppm. Proses aklimatisasi ini dilakukan untuk membiasakan induk ikan baung pada lingkungan budidaya yang baru (Adebiyi et al. 2013).
PEMILIHAN INDUK IKAN BAUNG
Pemuliaan ikan baung sampai saat ini belum dilakukan oleh pembudidaya.
Hal ini karena pemuliaan memerlukan waktu yang cukup panjang dan kebutuhan sarana perkolaman yang cukup banyak. Induk ikan baung hasil domestikasi dapat digunakan dalam produksi benih. Pemilihan induk ikan baung yang akan digunakan dalam pemijahan dapat mengacu pada Bromage dan Roberts (2001). Induk ikan baung yang dipilih, sebaiknya tidak cacat bawaan dan tidak terinfeksi penyakit. Pembudidaya harus mempunyai
kemampuan mendiagnosa dan memberikan tindakan pencegahan terhadap serangan penyakit bila diperlukan. Induk ikan baung jantan dipilih berdasarkan kriteria panjang papilla genitalia. Ikan yang dipergunakan bila panjang papilla sudah melewati pangkal sirip anal dan induk ikan baung betina yang dipilih mempunyai tubuh gemuk dan melebar, warna kulit terlihat kusam, alat kelaminnya berwarna merahan (Subagja et al. 2015).
Induk jantan dan betina terbesar yang tertangkap pada saat penangkapan pertama dengan jaring dapat digunakan sebagai induk terpilih. Hal ini karena selain induk tersebut mudah tertangkap, sifat mudah tertangkap ini dapat diturunkan kepada generasi berikutnya, juga dapat menghindari terpilihnya induk yang mempunyai pertumbuhan lambat pada saat penangkapan induk berikutnya. Induk ikan baung jantan mencapai kematangan gonad pertama pada saat berumur 1 tahun, sedangkan betina berumur 1,5 tahun. Induk ikan baung yang digunakan dalam pemijahan dipasangkan minimal 50 pasang untuk menjaga tidak terjadi inbreeding. Pemasangan induk betina dari kolam induk betina dengan jantan dari kolam lain perlu dipertimbangkan bila menggunakan jumlah induk yang sedikit.
PEMELIHARAAN INDUK IKAN BAUNG
Pemeliharaan induk ikan baung dapat dilakukan di kolam, keramba, atau wadah fiber. Induk ikan baung akan memberikan benih ikan dengan kualitas baik perlu ditangani secara seksama. Pada pemeliharaan secara terpisah, padat tebar yang dapat digunakan untuk induk 0,5 ekor per m2. Induk baung yang dipelihara di kolam ukuran 100 m2 dapat ditebar dengan kepadatan 50 ekor.
Kolam yang digunakan mempunyai kedalaman 1–1,5 m dengan kondisi air masuk dan pengeluaran yang baik. Lokasi kolam induk, berbentuk persegi atau disesuaikan dengan ruang yang tersedia. (Muflikhah et al. 1994). Induk ikan baung, bisa juga dipelihara dalam wadah pemeliharaan berupa waring berukuran masing-masing 2 m x 2 m x 1,25 m yang diletakkan di dalam kolam tembok berukuran 200 m2 dengan kedalaman air 1,25 m. Kualitas air diupayakan dalam kondisi yang baik, seperti yang disyaratkan dalam pemeliharaan induk, terutama untuk kandungan oksigen terlarut. Untuk itu pada malam hari digunakan aerasi dengan pompa air. Ikan uji adalah ikan baung jantan yang berumur minimal dua tahun sebanyak 25 ekor dengan bobot antara 187–338,5 g, serta ikan baung betina yang telah matang gonad.
Pemeliharaan induk ikan baung telah dilakukan oleh Subagja et al. (2015) di kolam tembok luasan 20 m2 dan diisi ikan sebanyak 20 ekor dengan rasio pemeliharaan 15 ekor betina dan 5 ekor jantan. Ikan diberi pakan buatan kadar protein 28–30%, diberikan sebanyak 3% dari biomassa yang didistribusikan dua kali sehari, yaitu pagi hari sekitar pukul 8.00 dan sore hari pukul 18.00. Pemeliharaan induk ikan baung dapat juga dilakukan di keramba yang ditempatkan dalam kolam atau diletakkan di sungai. Pemeliharaan induk ikan baung dalam keramba dapat dilakukan dengan padat tebar 32 ekor per keramba yang berukuran 1 m x 1 m x 1,5 m dengan pemberian pakan komersil yang mengandung 41% protein dengan pemberian 1,5% dari biomas per hari. Pemberian ikan rucah dapat digunakan untuk mempercepat tingkat kematangan gonad dengan dosis pemberian 6% sekali setiap minggu (Muflikhah et al. 2005). Pemeliharan ikan baung di kolam mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pemeliharaan induk ikan baung dikolam, antara lain pencemaran yang terjadi terhadap air kolam sedikit, bila air berasal dari mata air, bila kolam dipupuk, pakan alami dapat tumbuh sehingga dapat meningkatkan produktivitas ikan yang dipelihara. Kekurangan yang dijumpai pada pemeliharaan di kolam, antara lain kebutuhan air untuk penggantian tergantung dari musim, serta perubahan kualitas air pada siang dan sore bisa sangat ekstrem tergantung dari alkalinitas air akibat limbah pakan dan feses sehingga terjadi endapan yang perlu diangkat secara berkala.
Bila pemeliharaan induk ikan baung di karamba, mempunyai kelebihan penggunaan padat tebar ikan bisa tinggi dengan volume air yang kecil.
Selain itu, pemeliharaan ikan baung di karamba memerlukan teknologi yang sederhana dan relatif murah, serta pengelolaan dan manajemen pemberian pakan dan penangkapan induk untuk pengecekan tingkat kematangan gonad relatif mudah. Beberapa kendala yang sering dijumpai pemeliharaan ikan di karamba adalah kematian masal akibat cemaran air dan karamba terbawa banjir (Slembrouck et al. 2005).
TEKNIK PEMBERIAN PAKAN DAN KEBUTUHAN NUTRISI DALAM MANAJEMEN INDUK
Ikan baung termasuk ikan yang mencari makan dibagian dasar atau badan air bila dipelihara dalam lingkungan budidaya. Penggunaan pakan tenggelam akan membantu induk baung dalam mendapatkan makanan. Oleh karena itu, pakan tenggelam yang diberikan harus tidak mudah larut dalam air dan
mempunyai nilai kecernaan yang baik. Pemberian pakan induk ikan baung dilakukan sehari dua kali dan diberikan selama enam hari dalam seminggu.
Untuk tujuan pengosongan lambung dan memacu nafsu makan, pemberian pakan tidak diberikan selama satu hari dalam seminggu. Pemberian pakan dilakukan secara perlahan agar induk ikan baung terbiasa dan pakan tidak banyak terbuang pada dasar perairan. Selain itu, pembudidaya dapat sekaligus melihat perilaku induk ikan baung yang diberi makan. Pakan yang diberikan terhadap induk ikan baung, perlu dievaluasi jumlah takaran yang diberikan setiap bulannya, penyesuaian takaran yang diberikan dilakukan dengan mengambil sampel induk ikan baung sebanyak 10% dari populasi dan mengukur berat dari induk ikan baung yang diperoleh, kemudian perhitungan pemberian takaran pakan mengikuti hasil kalkulasi yang baru.
Evaluasi penyesuaian takaran diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan dan proses kematangan gonad induk ikan baung. Pada proses pemeliharaan induk ikan baung, sering kali dijumpai jenis ikan lain yang hidup dalam wadah pemeliharaan yang sama. Ikan ini mengganggu karena pada saat pemberiaan pakan, ikan jenis lain akan mengambil porsi pakan induk baung. Ikan jenis lain masuk ke wadah pemeliharaan dapat melalui saluran masuk, baik dalam bentuk telur yang kemudian menetas di dalam kolam atau juga larva atau benih yang terbawa air yang masuk ke kolam induk. Oleh karena itu, jenis ikan liar, harus sering dibersihkan secara berkala (Slembrouck et al. 2005).
Produksi telur dan larva berkualitas dari induk ikan baung dapat dicapai melalui penanganan biologi reproduksi, pengelolaan metabolisme tubuh, dan lingkungan akuatik yang baik. Pakan induk merupakan faktor yang sangat menentukan dalam kemampuan ikan untuk reproduksi. Keberhasilan program domestikasi menyebabkan ikan baung yang awalnya bersifat omnivor dapat diberikan pakan komersil berupa pelet dengan kandungan protein 30%.
Pakan diberikan sebanyak 2% dari bobot badan per hari dengan frekuensi dua kali sehari (Hardjamulia dan Suhenda 2000). Abidin et al. (2006) menyatakan kebutuhan protein induk ikan baung sebesar 35% yang berasal dari sumber hewani (tepung ikan dan tepung hasil limbah) dan protein dari tanaman (kedelai, biji minyak, dan sereal). Energi berasal dari lemak 3–8%
(minyak sayur atau lemak dari limbah). Pakan komersil ini dapat mendukung pertumbuhan dan meningkatkan kualitas telur yang dihasilkan. Asam lemak esensial tidak dapat diproduksi di dalam tubuh ikan baung. Oleh karena itu, kebutuhan akan asam lemak dapat di berikan melalui pakan (Bautista dan
La Crus 1988). Suhenda et al. (2009) menyatakan kebutuhan lemak untuk induk ikan baung sebesar 8% dalam ransum pakannya. Menurut Izquierdo et al. (2001), lemak dan komposisi asam lemak pakan merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan reproduksi dan sintasan larva karena asam lemak yang terkandung dalam telur berpengaruh terhadap stadia awal dari embriogenesis dan akan menentukan apakah embrio itu akan berkembang atau tidak (Mokoginta 1991). Pemberian vitamin C dan E yang tepat dalam pakan induk merupakan salah satu cara meningkatkan kematangan gonad dan peningkatan produksi benih ikan baung. Vitamin C dan E mempunyai peranan penting menjaga ketersediaan nutrisi sebagai sumber energi yang dibutuhkan untuk reproduksi (Khaidir 2001).
PENGELOLAAN KUALITAS AIR
Kolam induk ikan baung pada saat awal pengisian digunakan air yang mempunyai kualitas baik, namun pemberian pakan yang tidak termakan oleh induk akan memicu pembusukan. Pembusukan bahan organik akan mengurangi kualitas air yang dicirikan dengan rendahnya kandungan oksigen, tingginya kandungan amonia dan nitrit, serta karbon dioksida dan terkadang terdapat asam sulfit menyebabkan induk ikan menjadi stres. Hal ini membuka peluang untuk masuknya penyakit dan parasit. Selain itu, kolam menjadi blooming akibat kandungan nitrogen dan fosfor yang dihasilkan dari pembusukan sisa pakan yang menyebabkan kebutuhan oksigen lebih tinggi di malam hari. Kualitas air yang menurun secepatnya harus diatasi melalui pengurangan pemberian pakan, pemberian aerasi untuk meningkatkan kandungan oksigen, atau melakukan oksidasi kimia untuk mengurangi nilai Biology Oxygen Demand (BOD) melalui pemberian potasium permanganat atau membuang air kolam pada bagian dasar kolam dan mengganti air.
PREDATOR DAN KOMPETITOR (PESAING)
Predator dapat merupakan masalah utama penyebab hilangnya induk ikan baung dan kompetitor dapat menyebabkan pengurangan jumlah dan kualitas telur. Predator utama pada induk ikan baung adalah ikan gabus dan berang- berang. Sementara itu, ikan kompetitornya antara lain ikan gabus dan lele.
Pencegahan berang-berang dapat dilakukan dengan memagar sekeliling kolam. Pencegahan kompetitor dapat dilakukan pada saat persiapan kolam