• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit non-infeksi pada pembenihan ikan baung

PENYAKIT PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG

2. Penyakit non-infeksi pada pembenihan ikan baung

2.1 Penyakit akibat faktor lingkungan

Penyakit non-infeksi akibat faktor lingkungan pada pembenihan ikan baung yang sering menjadi pemicu terjadinya cekaman (stress), bahkan mengakibatkan kematian, antara lain: deplesi oksigen terlarut, fluktuasi

suhu dan pH, serta tingginya kadar amonia dalam media pemeliharaan (Taukhid et. al. 2018). Meskipun penyakit akibat faktor lingkungan tidak menular, namun efeknya cukup serius karena dampak negatif (fisiologis) serta kematian yang terjadi berlangsung sangat singkat dan umumnya mematikan seluruh populasi ikan. Kisaran parameter kualitas air (fisika-kimia) yang optimal untuk pembenihan ikan baung disajikan pada Tabel 9.1.

Kisaran kualitas air (fisika-kimia) determinan yang optimal untuk Tabel 9.1

pembenihan ikan baung (Hemibagrus nemurus) Parameter Kisaran

optimal Lebih rendah dari

kisaran optimal Lebih tinggi dari kisaran optimal

Parameter Kisaran

optimal Lebih rendah dari

kisaran optimal Lebih tinggi dari kisaran optimal Suhu (oC) 26–32°C <15°C pertumbuhan ikan

terhenti dan mungkin Tabel 9.1 Kisaran kualitas air (fisika-kimia) determinan yang optimal untuk

pembenihan ikan baung (Hemibagrus nemurus) (lanjutan)

Parameter Kisaran

optimal Lebih rendah dari

kisaran optimal Lebih tinggi dari kisaran optimal

Kekurangan oksigen terlarut sering menjadi masalah pada pembenihan ikan baung. Pada sistem pembenihan yang sepenuhnya dilakukan secara indoor, kondisi ini umumnya terjadi akibat peningkatan biomassa sebagai konsekuensi dari pertumbuhan ikan yang tidak diimbangi dengan peningkatan pasokan oksigen. Sementara pada sistem pembenihan yang dilakukan secara outdoor, kondisi ini umumnya terjadi menjelang pagi hari di kolam/bak yang memiliki populasi fitoplankton tinggi, atau pada saat tekanan atmosfer rendah dan tidak ada cahaya matahari karena tertutup awan dalam tempo yang cukup lama.

Tabel 9.1 Kisaran kualitas air (fisika-kimia) determinan yang optimal untuk pembenihan ikan baung (Hemibagrus nemurus) (lanjutan)

2.1.b Fluktuasi suhu air yang ekstrem

Perubahan suhu air yang ekstrem akan merusak keseimbangan hormonal dan fisiologis tubuh ikan, serta pada umumnya ikan tidak mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan ini yang berakibat stres bahkan kematian mendadak. Sebagian besar ikan budidaya memiliki kemampuan yang tinggi untuk hidup pada kisaran suhu air yang cukup luas yang sulit untuk ditoleransi adalah fluktuasi suhu yang tinggi dalam tempo yang relatif singkat. Kondisi ini sangat sensitif, terutama bagi larva dan benih ikan.

2.1.c Keracunan nitrit

Keracunan nitrit atau methemoglobinemia atau penyakit darah cokelat adalah penyakit yang disebabkan oleh konsentrasi nitrit yang tinggi di dalam air. Sumber nitrit terutama berasal dari hasil metabolisme protein pakan oleh ikan. Unsur nitrogen yang dihasilkan oleh tubuh ikan adalah amonia. Pada saat amonia dilepas ke air, selanjutnya dioksidasi oleh bakteri Nitrosomonas yang mampu merubah amonia menjadi nitrit. Nitrit selanjutnya dioksidasi menjadi nitrat oleh bakteri Nitrobacter. Apabila pakan ikan terlalu intensif atau Nitrobacter kurang efektif mengoksidasi nitrit menjadi nitrat, konsentrasi nitrit meningkat dan selanjutnya menjadi masalah bagi ikan. Nitrit akan bersifat toksik bagi ikan pada konsentrasi 0,5 ppm.

Gejala klinis yang tampak pada kondisi keracunan nitrit, antara lain ikan terlihat lemas, meloncat ke permukaan air atau berkumpul di saluran pemasukan air, dan insang berwarna merah kecokelatan karena darah tidak berfungsi membawa oksigen sehingga ikan seperti tercekik.

2.1.d Keracunan amonia

Amonia terdapat dalam dua bentuk, yaitu yang tidak terionisasi dan sangat beracun (NH3), serta yang terionisasi dan kurang beracun (NH4+).

Mekanisme keracunan amonia berlangsung seperti halnya keracunan nitrit, umumnya akibat pemberian pakan yang berlebihan atau bahan organik. Sementara populasi bakteri pengurai nitrogen yang ada tidak mencukupi. Daya racun amonia sangat dipengaruhi oleh pH dan suhu air. Semakin tinggi pH atau suhu air, maka makin tinggi pula daya racun amonia.

Gejala klinis yang tampak pada kondisi keracunan amonia secara umum hampir sama dengan keracunan nitrit, yaitu ikan terlihat lemas dan meloncat ke permukaan air atau berkumpul di saluran pemasukan air karena lapisan epitel pada filamen insang tidak berfungsi melakukan proses difusi.

2.1.e Emboli gas (Gas Bubble Disease)

Emboli gas adalah kondisi di mana konsentrasi gas lewat jenuh yang ada dalam air keluar dari larutan dan membentuk emboli gas dalam tubuh ikan. Emboli gas tersebut mungkin terjadi di bawah kulit atau dalam pembuluh darah. Emboli di bawah kulit merusak kekompakan kulit sebagai pertahanan utama terhadap infeksi patogen serta menjaga keseimbangan osmotik. Sementara emboli pada pembuluh darah akan membendung aliran darah, terutama pada insang ikan.

2.2 Penyakit malnutrisi

Penyakit akibat malnutrisi umumnya jarang menunjukkan gejala yang spesifik sehingga relatif sulit dalam mendiagnosis penyebab utamanya.

Meskipun demikian, defisiensi unsur tertentu dalam diet pakan berakibat kelainan morfologis dan fungsi fisiologis, misalnya: (1) Defisiensi asam pantothenic adalah penyakit proliferasi jaringan insang ikan, dengan gejala klinis: insang terlihat lunak dan kesulitan bernapas yang diikuti dengan kematian; (2) Defisiensi vitamin A sering menunjukkan gejala:

pertumbuhan lamban, kornea mata lunak, mata menonjol/buta, serta terjadi perdarahan pada kulit dan ginjal; (3) Defisiensi vitamin B-1 (Thiamin) sering menunjukkan gejala: kehilangan nafsu makan, perdarahan dan penyumbatan pembuluh darah, serta nervous; (4) Defisiensi asam lemak esensial sering menunjukkan gejala: erosi sirip, infiltrasi lemak dalam kulit, serta minimnya pigmentasi pada tubuh ikan.

Defisiensi vitamin C merupakan penyakit yang umum terjadi, akibat yang paling populer adalah “broken back syndrome” seperti skoliosis dan lordosis. Vitamin C sangat berperan dalam: (1) proses osifikasi atau konversi tulang rawan menjadi tulang sejati, (2) sebagai ko-enzim reaksi biokimia dalam tubuh, (3) meningkatkan ketahanan tubuh (imunitas) terhadap penyakit infeksius, (4) mencegah pengaruh negatif akibat gangguan lingkungan atau stres, serta (5) mempercepat proses penyembuhan luka.

2.3 Penyakit genetis

Perkawinan sekerabat (inbreeding) yang berlangsung terus menerus berdampak pada penurunan variasi genetik dalam tubuh ikan, antara lain: (1) pertumbuhan yang lambat (kuntet) dan variasi ukuran yang luas (blantik), (2) lebih sensitif terhadap infeksi patogen, (3) organ tubuh invalid, seperti operkulum yang tidak tertutup sempurna, tubuh bengkok, atau tidak memiliki salah satu sirip.