• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENGENDALIAN PENYAKIT

6.3 Penyakit Menular Vektor dan Zoonosis

85 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Grafik 6.22

Kasus AFP dan AFP-Rate di Kota Bekasi Tahun 2009 s.d 2019

Penemuan kasus AFPdi Kota Bekasi tahun 2019 sama seperti tahun 2018. Namun AFP rate sedikit menurun karena jumlah sasaran anak usia kurang dari 15 tahun yang meningkat di tahun 2019. Pada tahun 2019 ditemukan 16 kasus AFP dengan AFP-rate sebesar 2,23 per 100.000 anak usia <15 tahun. Sedangkan kasus AFP yang ditemukan tahun 2018 sebanyak 16 anak dengan AFP rate 2,26 per 100.000 anak usia <15 tahun. Kasus AFP terbanyak ditemukan di wilayah Puskesmas Pejuang (4 kasus). Diikuti Puskesmas Pengasinan dan Bekasi Jaya (masing-masing 2 kasus).

6.3. Penyakit Menular Vektor dan Zoonosis 6.3.1 Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia salah satunya Indonesia. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, terjadi terutama di musim hujan. Hingga saat ini, DBD masih merupakan salah satu penyakit endemis yang menjadi masalah kesehatan di Kota Bekasi.

7 6 11 9 10 8 12 15 17 16 16

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Kasus AFP AFP Rate

86 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Insidence Rate (IR) kasus DBD di Kota Bekasi tahun 2019 merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir yaitu sebesar 82 per 100.000 penduduk. Sebelumnya pada tahun 2018 sebesar 21 per 100.000 penduduk dan tahun 2017 sebesar 25 per 100.000 penduduk.

Grafik 6.23

Insidence Rate dan Case Fatality Rate Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi Tahun 2009 s.d 2019

Meskipun insidens rate di Kota Bekasi mengalami peningkatan tahun 2019, namun sebaliknya pada Case Fatality Rate (CFR). Seperti ditunjukkan pada grafik 6.23 di atas, CFR Kota Bekasi tahun 2019 merupakan angka terrendah dalam sepuluh tahun terakhir yaitu sebesar 0,1 persen. CFR ini menurun dari 0,3 persen di tahun 2018 dan 2017. Dengan demikian penanganan terhadap kasus DBD sudah cukup baik sehingga penderita DBD yang ada tidak sampai meninggal dunia. Selain itu CFR dapat dipertahankan bahkan diturunkan hingga <1 persen.

Namun jumlah kasus DBD tahun 2019 ini (2.484 kasus) jauh meningkat dibandingkan tahun 2018 (626 kasus) dan 2017 (699 kasus). Pada grafik 6.24 terlihat adanya peningkatan kasus DBD setiap tiga tahun, antara lain pada tahun 2013, 2016, dan 2019

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

IR CFR

87 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Peningkatan kasus DBD ini perlu diwaspadai antara lain dengan pemeriksaan jentik oleh Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

Pemeriksaan jentik ini dapat dilaksanakan saat mulai musim penghujan dan mulai terjadi peningkatan kasus DBD, yaitu pada Bulan Bakti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-DBD yaitu Bulan Oktober, November, dan Desember.

Grafik 6.24

Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi Tahun 2008 s.d 2019

Pemeriksaan jentik yang dilaksanakan pada akhir tahun diharapkan dapat mencegah kenaikan jumlah kasus yang tajam pada awal tahun berikutnya dan mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB)-DBD pada musim penularan DBD. Dengan demikian, populasi nyamuk penular DBD akan berkurang sehingga kasus DBD dapat diturunkan.

Penyebaran kasus DBD menurut Puskesmas tahun 2019 cukup merata (seluruh Puskesmas terdapat kasus DBD). Kasus tertinggi yaitu di wilayah Puskesmas Jati Asih (274 kasus), disusul Puskesmas Jati Luhur (134 kasus). Kedua Puskesmas ini merupakan Puskesmas-Puskesmas di wilayah Kecamatan Jati Asih. Sedangkan Puskesmas dengan kasus terrendah adalah Puskesmas Marga Jaya dan Ciketing Udik (masing-masing 8 kasus), dan Puskesmas Jati Ranggon (9 kasus).

2.885

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

88 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

6.3.2 Filariasis

Penyakit kaki gajah (filariasis) merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh mikrofilaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, kantong buah zakar, payudara dan kelamin wanita.

Grafik 6.25

Penderita Filariasis Kumulatif Menurut Kecamatan Di Kota Bekasi Tahun 2018 s.d 2019

Di Kota Bekasi, penyakit ini sudah menyebar di seluruh kecamatan, dengan angka kesakitan filariasis di Kota Bekasi yang terus menurun dalam sepuluh tahun terakhir (dari 2,8 per 100.000 penduduk tahun 2011 terus turun hingga mencapai 0,63 per 100.000 penduduk tahun 2019. Hal ini disebabkan semakin berkurangnya kasus baru filariasis yang ditemukan setiap tahunnya. Hingga kasus baru filariasis yang ditemukan pada tahun 2019 ada sebanyak 4 orang antara lain 2 kasus di wilayah Puskesmas Pondok Gede, dan masing-masing 1 kasus di wilayah Puskesmas Jati Rahayu dan Mustika Jaya.

Pd

89 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Penyakit filariasis di Kota Bekasi lebih banyak ditemukan pada perempuan dengan angka kesakitan sebesar 0,73 per 100.000 penduduk (58 persen) dibandingkan angka kesakitan pada laki-laki yaitu sebesar 0,53 per 100.000 penduduk atau sebesar 42 persen.

Grafik 6.26

Proporsi Penderita Filariasis Menurut Jenis Kelamin Di Kota Bekasi Tahun 2019

Jumlah penderita filariasis secara kumulatif pada tahun 2019 sebanyak 19 orang. Jumlah penderita filariasis ini jauh berkurang dalam sepuluh tahun terakhir dari 66 kasus tahun 2012 yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Bekasi dan Kecamatan Jati Sampurna merupakan kecamatan dengan jumlah penderita filariasis terbanyak di Kota Bekasi saat itu.

Namun pada tahun 2019 sebaran kasus terbanyak yaitu di wilayah Mustika Jaya dengan 4 kasus. Kasus kronis filariasis di Kota Bekasi pada tahun sebelumnya (2018) ada sebanyak 22 penderita. Dan kasus baru yang ditemukan ada sebanyak 4 kasus.

Namun jumlah seluruh kasus kronis tahun 2019 ada sebanyak 19 penderita. Berkurangnya jumlah kasus kronis kumulatif antara lain karena beberapa penderita telah meninggal dan beberapa pindah ke luar Kota Bekasi.

8; 42%

11; 58%

Laki-laki Perempuan

90 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

6.3.3 Malaria

Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit golongan Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Vektor penular penyakit ini adalah nyamuk anopheles betina. Parasit Plasmodium yang ditularkan nyamuk ini menyerang sel darah merah. Gejala penyakit ini antara lain:

demam, kelelahan, muntah, dan sakit kepala. Pada kasus yang lebih parah bisa menyebabkan kulit kuning, kejang, koma, bahkan kematian. Gejala ini biasanya muncul 10 sampai 15 hari setelah digigit nyamuk. Dan jika tidak diobati, penyakit ini dapat kambuh beberapa bulan kemudian.

Kota Bekasi bukan merupakan daerah endemis malaria, kasus malaria yang ditemukan di Kota Bekasi adalah kasus impor.

Artinya tidak terjadi penularan penyakit malaria di Kota Bekasi.

Kasus yang ditemukan antara lain karena orang yang terkena malaria tersebut pulang bepergian dari daerah endemis malaria, sehingga tertular penyakit malaria di daerah yang dikunjungi tersebut.

Grafik 6.27

Proporsi Kasus Malaria Menurut Jenis Kelamin Di Kota Bekasi Tahun 2019

11; 92%

1; 8%

Laki-laki Perempuan

91 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Jumlah kasus malaria tahun 2019 di Kota Bekasi menurun dibandingkan tahun 2018. Pada tahun 2019 jumlah kasus malaria import sebanyak 12 kasus, menurun dari tahun 2018 sebanyak 19 kasus. Grafik 6.27 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar kasus malaria terjadi pada laki-laki (92 persen), meningkat dari tahun 2018 sebesar 58 persen. Hal ini karena laki-laki yang memang lebih banyak bepergian ke luar kota (daerah endemis malaria) untuk urusan pekerjaan, sehingga lebih besar kemungkinan untuk mendapatkan kasus impor malaria.

6.4. Penyakit Tidak Menular