BAB III SDM KESEHATAN
3.2 Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit
31 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
3.2. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit
Seiring bertambahnya jumlah rumah sakit di Kota Bekasi, jumlah tenaga kesehatan di rumah sakit seharusnya juga meningkat.
Dibandingkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 tahun 2014, jumlah tenaga kesehatan di rumah sakit Kota Bekasi sudah memenuhi standar.
Tabel 3.2
Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018 s.d 2019
NO JENIS TENAGA JUMLAH
2018 2019
1 Dokter Spesialis 1148 973
2 Dokter Umum 473 333
3 Dokter Gigi 123 98
4 Dokter Gigi Spesialis 82 89
5 Bidan 679 421
6 Perawat Umum 3615 2514
7 Perawat Gigi 57 38
8 Teknis Kefarmasian 592 392
9 Apoteker 233 166
10 Kesehatan Masyarakat 35 10
11 Kesehatan Lingkungan 35 22
12 Gizi 125 61
14 Ahli Laboratorium Medik 299 153
Namun dari tabel 3.2 di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2019 jumlah tenaga kesehatan di rumah sakit terlihat menurun dibandingkan tahun 2018. Hal ini disebabkan karena tidak semua rumah sakit di Kota Bekasi memberikan data ketenagaan ke Dinas Kesehatan.
Pada tahun 2018 dari 42 rumah sakit yang ada di Kota Bekasi, baru 33 rumah sakit yang memberikan laporan. Dan jumlah rumah sakit yang melaporkan menurun pada tahun 2019 menjadi 26 rumah sakit dari 46 rumah sakit yang ada di Kota Bekasi. Rumah sakit yang tidak memberikan data ketenagaan pada tahun 2019 antara lain: RS Masmitra, RSIA Karunia Kasih, RS Helsa Jatirahayu, RS Mitra Keluarga Cibubur, RS Mitra Keluarga Pratama Jatiasih, RS Kartika Husada, RS Siloam
32 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Bekasi Sepanjang Jaya, RS Sentosa, RS Juwita, RS Siloam Bekasi Timur, RS Omni Pelayon, RS Cikunir, RS Anna Medika, RS Awal Bros Bekasi Utara, RSIA Rinova Intan, RSIA Selasih Medika, RS Karya Medika Bantargebang, RS Permata Bekasi, RS Satria Medika, dan RS Mustika Medika.
Oleh karena itu data ketenagaan di rumah sakit belum menunjukkan data yang sebenarnya karena baru 57 persen rumah sakit yang melaporkan. Diharapkan pada tahun-tahun mendatang dapat disajikan data seluruh rumah sakit yang ada di Kota Bekasi.
33 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
4.1. Anggaran Kesehatan Kota Bekasi
Pembiayaan kesehatan adalah bagian terpenting yang memperkuat sistem kesehatan. Pembiayaan kesehatan yaitu dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan berbagai upaya pelayanan kesehatan yang dibutuhkan baik oleh perorangan, keluarga, maupun masyarakat. Jadi selain sarana dan tenaga kesehatan, anggaran di bidang kesehatan adalah satu sumber daya kesehatan yang juga dibutuhkan agar terlaksananya pembangunan di bidang kesehatan.
Tabel 4.1
Anggaran Pembangunan Kesehatan Menurut Sumber Anggaran di Kota Bekasi Tahun 2015 s.d 2019
Anggaran kesehatan di Kota Bekasi mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sumber anggaran pembangunan kesehatan di Kota Bekasi berasal dari APBD Kota Bekasi, APBD Provinsi, maupun APBN. Hanya saja untuk tahun 2019 DAK (Dana Alokasi Khusus) baik yang fisik maupun non fisik, dimasukkan ke dalam APBD Kota Bekasi, bukan dimasukkan ke APBN seperti tahun-tahun sebelumnya.
No SUMBER BIAYA
KESEHATAN 464.111.983.023 557.495.357.947 805.581.702.334 1.157.089.485.089 1.778.759.401.651
BAB IV PEMBIAYAAN
KESEHATAN
34 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
DAK merupakan dana yang bersumber dari dana transfer pemerintah pusat (APBN), namun untuk mekanisme pengelolaan dan pertanggungjawabannya mengikuti pemerintah daerah masing-masing.
Sehingga pada tahun 2019 dana tersebut dikelompokkan ke dalam APBD, termasuk di Kota Bekasi.
Anggaran pembangunan kesehatan seperti terlihat pada tabel 4.1 di atas merupakan akumulasi alokasi anggaran pada Dinas Kesehatan dan RSUD Chasbullah Abdul Madjid. Sejak tahun 2017 terjadi peningkatan yang cukup tajam pada anggaran kesehatan karena mulai tahun 2017 Pemerintah Kota Bekasi mencanangkan Program Kartu Sehat berbasis NIK.
Pemerintah Kota Bekasi telah berkomitmen untuk meningkatkan pembangunan kesehatan di Kota Bekasi. Hal ini terlihat dari alokasi anggaran kesehatan yang terus meningkat setiap tahunnya. Grafik 4.1 berikut menunjukkan persentase anggaran kesehatan dari APBD Kota Bekasi tahun 2019 sebesar 25,53 persen meningkat tajam dalam sepuluh tahun terakhir dari 5,95 persen tahun 2011. Sejak tahun 2016 anggaran pembangunan kesehatan di Kota Bekasi telah lebih dari 10 persen total APBD, sesuai dengan amanat undang-undang kesehatan. Lonjakan anggaran yang cukup tinggi pada tahun 2019 ini juga karena terkait salah satunya dengan DAK yang dimasukkan ke dalam APBD tahun 2019.
Grafik 4.1
Persentase Anggaran Pembangunan Kesehatan dari Total APBD di Kota Bekasi Tahun 2011 s.d 2019
5,95
8,79
7,10
5,06
9,00 10,81
13,43
16,54
25,53
5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
35 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Peningkatan persentase anggaran pembangunan kesehatan yang cukup tinggi pada tahun 2019 tentunya meningkatkan anggaran kesehatan per kapita di Kota Bekasi tahun 2019. Seperti terlihat pada grafik 4.2 di bawah ini, anggaran kesehatan per kapita yang meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir. Dan dilihat dalam sepuluh tahun terakhir anggaran kesehatan per kapita telah meningkat sepuluh kali lipat, dari Rp. 52.987,58 di tahun 2010 terus meningkat hingga mencapai Rp. 590.194,87 pada tahun 2019.
Grafik 4.2
Anggaran Kesehatan Per Kapita di Kota Bekasi Tahun 2010 s.d 2019
Total APBD Kota Bekasi tahun 2019 adalah sebesar Rp.
6.968.529.529.634,00. Dari jumlah tersebut total anggaran pembangunan kesehatan yaitu sebesar Rp. 1.778.759.651,00 yang berasal dari APBD Kota Bekasi, APBD Provinsi Jawa Barat, dan APBN.
Jumlah ini meningkat dari anggaran tahun 2018 dengan APBD Kota Bekasi sebesar Rp. 5.788.899.814.757,00 dengan anggaran pembangunan kesehatan yang berjumlah Rp. 1.157.089.485.089,00.
Rp52.987,58
Rp91.704,35
Rp127.918,58
Rp132.692,13 Rp136.225,27
Rp169.802,87 Rp198.871,31 Rp280.350,16
Rp393.071,57 Rp590.194,87
Rp100.000,00 Rp200.000,00 Rp300.000,00 Rp400.000,00 Rp500.000,00 Rp600.000,00 Rp700.000,00
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
36 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
5.1. Kesehatan Ibu
Kesehatan Ibu merupakan salah satu isu prioritas dan indikator kesehatan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM). Sasaran kesehatan Ibu yaitu pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu menyusui.
5.1.1 Pelayanan Antenatal (K1-K4)
Pelayanan antenatal digunakan untuk memonitoring dan mendukung kesehatan ibu hamil normal sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi sedini mungkin. Dengan demikian diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Oleh karena itu ibu hamil dianjurkan mengunjungi pelayanan kesehatan sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan antenatal.
Pelayanan antenatal adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar dan paling sedikit 4 kali kunjungan (sekali di trimester pertama, sekali di trimester kedua, dan 2 kali di trimester ketiga).
Output pelayanan dilihat dari cakupan K1 (kunjungan pertama ibu hamil ke fasilitas kesehatan pada trimester pertama) dan K4 (kunjungan keempat ibu hamil ke fasilitas kesehatan pada trimester terakhir.
Cakupan K1 di Kota Bekasi tahun 2019 turun sebesar 91,8 persen setelah tahun 2011 mengalami sedikit peningkatan (dari 91,1 tahun 2010 menjadi 92,4 persen tahun 2011), seperti terlihat pada grafik 5.1 berikut. Hal ini karena cakupan baru dilihat dari ibu hamil yang berkunjung ke puskesmas dan bidan-bidan praktek di Kota Bekasi dan belum mengikutsertakan data dari fasilitas pelayanan kesehatan lainnya seperti rumah sakit.
BAB V KESEHATAN
KELUARGA
37 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Grafik 5.1
Cakupan Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Di Kota Bekasi Tahun 2009 s.d 2019
Grafik 5.1 di atas menunjukkan fluktuasi cakupan K1 dan K4 di Kota Bekasi dalam sepuluh tahun terakhir. Baik K1 maupun K4 dalam tiga tahun terakhir terlihat sudah mencapai di atas 90 persen. Dan untuk K1 dalam tiga tahun terakhir stabil pada cakupan 95 persen. Untuk cakupan K4 pada tahun 2019 sedikit meningkat dari 90 persen pada tahun 2018 menjadi 91 persen di tahun 2019.
Peningkatan kunjungan lengkap (K4) ini diharapkan dapat mendeteksi dini komplikasi ibu hamil dan perawatan kehamilan dapat dilaksanakan dengan baik dan berkualitas sehingga komplikasi yang terjadi saat kehamilan dapat dicegah. Dengan demikian kematian ibu dan bayinya dapat dicegah. Hal ini disebabkan karena cakupan K4 merupakan salah satu indikator program yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu.
Seperti terlihat pada grafik 5.2 berikut, pada tahun 2018 terjadi penurunan cakupan K4 dan pada tahun yang sama terlihat naiknya jumlah kematian ibu. Dan sebaliknya, dengan peningkatan cakupan K4 pada tahun 2019 terlihat ada penurunan pada jumlah kematian ibu.
91 91 92 92 89 93 96 94 95 95 95
87 88 85 89
83 86
92 89 93 90 91
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
K1 K4
38 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Grafik 5.2
Cakupan K4 dan Jumlah Kematian Ibu Di Kota Bekasi Tahun 2009 s.d 2019
5.1.2 Pertolongan Persalinan
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) di Kota Bekasi dilaksanakan dengan tujuan agar tercapainya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.
Dengan persalinan yang bersih dan aman diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu.
Grafik 5.3 berikut menunjukkan adanya peningkatan jumlah pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dalam tiga tahun terakhir. Hal ini seiring dengan bertambahnya jumlah ibu bersalin setiap tahunnya. Dari 87,7 persen cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan pada tahun 2018, meningkat menjadi 91,14 persen pada tahun 2019.
Puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatannya tertinggi pada tahun 2019 adalah Puskesmas Sumur Batu, Marga Mulya, Karang Kitri, dan Puskesmas Pondok Gede (100 persen). Sedangkan Puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatannya terrendah adalah Puskesmas Mustika Sari (70,95 persen).
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Kematian Ibu K4
39 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Grafik 5.3
Jumlah Ibu Bersalin dan Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Di Kota Bekasi Tahun 2009 s.d 2019
5.1.3 Imunisasi Ibu Hamil
Selain pemberian imunisasi rutin diberikan pada bayi, pemberian imusisasi juga dilakukan pada ibu hamil dan wanita usia subur yaitu imunisasi Tetanus Toxoid (TT). Imunisasi ini berguna untuk melindungi bayi yang baru lahir dari penyakit Tetanus Neonatorum (TN) dan juga untuk melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka pada saat melahirkan.
Imunisasi TT pada ibu hamil dapat diberikan sejak diketahui postif hamil dan bisa dilakukan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan yang menyediakan imunisasi TT. Imunisasi ini sebaiknya diberikan sebelum kehamilan delapan bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap.
Cakupan ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT di Kota Bekasi tahun 2019 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2018. Ini terjadi pada semua jenis TT mulai TT1 sampai TT5, seluruhnya mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada grafik 5.4 berikut.
46.848 47.855
53.684 53.684 54.450
47.736 49.388 53.151 53.591 53.981 54.349
39.156 41.099 45.021 46.957 45.603 47.505 49.157 46.924 47.152 47.347 49.535
10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Ibu Bersalin Linakes
40 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Grafik 5.4
Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Jenis TT di Kota Bekasi Tahun 2009 s.d 2019
Cakupan TT1 pada ibu hamil tahun 2019 tertinggi di Puskesmas Duren Jaya (104,26 persen). Diikuti oleh Puskesmas Perwira (95,98 persen) dan Puskesmas Jaka Mulya (95,14 persen). Sedangkan tiga Puskesmas dengan cakupan terrendah yaitu Puskesmas Harapan Baru (11,39 persen), Seroja (17,07 persen), dan Puskesmas Bekasi Jaya (17,20 persen).
5.1.4 Kunjungan Ibu Nifas
Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat reproduksi pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Secara normal masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari. Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca bersalin oleh tenaga kesehatan. Pada masa nifas, wanita rentan terhadap beragam gangguan, seperti depresi masa nifas dan infeksi.
Terutama bagi mereka yang menjalani insisi vagina dan operasi caesar.
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
TT1 TT2 TT3 TT4 TT5
41 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas ini, maka diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali. Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam sampai dengan 3 hari setelah persalinan. Kunjungan nifas kedua dalam waktu 2 minggu setelah persalinan (8 – 14 hari). Dan kunjungan nifas ketiga dalam waktu 6 minggu setelah persalinan (36 – 42 hari).
Grafik 5.5
Cakupan Kunjungan Ibu Nifas Lengkap (KF 3) Di Kota Bekasi Tahun 2011 s.d 2019
Cakupan kunjungan ibu nifas lengkap (KF 3) menunjukkan trend yang terus meningkat. Dari 38,5 persen di tahun 2011 meningkat terus hingga 87,5 persen pada tahun 2019. Tiga Puskesmas dengan cakupan KF 3 tertinggi yaitu Puskesmas Pondok Gede, Karang Kitri, dan Sumur Batu. Sedangkan tiga Puskesmas dengan cakupan KF 3 terrendah adalah Puskesmas Jaka Setia (52,09 persen), Cimuning (57,27 persen), dan Puskesmas Mustika Sari (62,24 persen). Pada Puskesmas-Puskesmas dengan cakupan yang rendah ini diharapkan untuk lebih meningkatkan cakupan KF 3 ini dapat meminimalisir komplikasi pada ibu nifas.
38,5 46,4
70,5 74,0
83,3 84,6 83,3 84,7
87,5
10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0 80,0 90,0 100,0
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
42 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
5.1.5 Pelayanan Kontrasepsi
Pelayanan kontrasepsi atau Keluarga Berencana (KB) merupakan pelayanan terhadap pasangan usia subur maupun ibu pasca melahirkan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Peserta KB ini dibedakan dengan peserta KB aktif yaitu pada Pasangan Usia Subur (PUS) dan peserta KB pasca persalinan.
Jumlah peserta KB aktif di Kota Bekasi tahun 2019 ada sebanyak 354.621 PUS dari 542.493 PUS yang ada, atau baru sebesar 65,37 persen yang menjadi peserta KB aktif. Dilihat berdasarkan jenis kontrasepsi yang digunakan, sebagian besar (46,2 persen) menggunakan alat kontrasepsi suntik. Diikuti oleh alat kontrasepsi pil (21,6 persen), dan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra Uterine Device (IUD) sebesar 19,3 persen. Seperti terlihat pada grafik 5.6 di bawah ini.
Grafik 5.6
Proporsi Peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi Di Kota Bekasi Tahun 2019
Puskesmas dengan cakupan KB aktif tertinggi yaitu Puskesmas Sumur Batu (102,27 persen) diikuti Puskesmas Marga Jaya (96,81 persen) dan Puskesmas Jaka Setia (92,73 persen).
46,2
21,6 2,7
19,3 3,1
6,4 0,62
Suntik Pil MOW AKDR Kondom Implan MOP
43 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Sedangkan Puskesmas dengan cakupan terrendah adalah Puskesmas Cimuning (35,91 persen), Puskesmas Mustika Jaya (40,31 persen), dan Puskesmas Pondok Gede (41,95 persen).
Sedangkan peserta KB pasca persalinan yang ada di Kota Bekasi tahun 2019 sebanyak 15.896 orang (29,25 persen) dari 54.349 ibu bersalin. Pada grafik 5.7 berikut terlihat bahwa jenis kontrasepsi yang banyak digunakan oleh ibu bersalin adalah suntik (66,04 persen), diikuti pil (16,81 persen), dan IUD (7,17 persen).
Grafik 5.7
Proporsi Peserta KB Pasca Persalinan Menurut Jenis Kontrasepsi Di Kota Bekasi Tahun 2019
Puskesmas dengan cakupan peserta KB pasca persalinan tertinggi pada tahun 2019 adalah Puskesmas Ciketing Udik (93, 84 persen), diikuti Puskesmas Duren Jaya (92,39 persen), dan Puskesmas Cimuning (76,73 persen). Sedangkan Puskesmas dengan cakupan peserta KB pasca persalinan yang terrendah antara lain: Puskesmas Rawa Tembaga (0,76 persen), Puskesmas Kali Abang Tengah (2,43 persen), dan Puskesmas Jati Makmur (2,65 persen).
66,0 16,8
0,7 7,2 4,1
5,2 0,03
Suntik Pil MOW AKDR Kondom Implan MOP
44 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
5.1.6 Kematian Ibu
Angka kematian ibu adalah banyaknya wanita yang meninggal karena suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.
AKI digunakan untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan sewaktu ibu melahirkan, dan masa nifas. Namun indikator ini digunakan pada daerah yang kelahiran hidupnya minimal 100.000. Oleh karenanya karena jumlah kelahiran hidup di Kota Bekasi belum mencapai 100.000, maka yang digunakan adalah jumlah kematian ibu dilaporkan.
Grafik 5.8
Jumlah Kematian Ibu Di Kota Bekasi Tahun 2010 s.d 2019
Grafik 5.8 di atas menunjukkan jumlah kematian Ibu di Kota Bekasi dalam sepuluh tahun terakhir. Dari grafik terlihat jumlah yang fluktuasi. Namun untuk tahun 2019 jumlah kematian ibu sedikit menurun (16 jiwa) dibandingkan tahun 2018 (18 jiwa).
0 5 10 15 20 25 30
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
20 18
26 29
22
14 16
11 18
16
45 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas kesehatan.
Grafik 5.9
Jumlah Kematian Ibu Menurut Kelompok Umur Di Kota Bekasi Tahun 2015 s.d 2019
Pada grafik 5.9 terlihat bahwa dalam lima tahun terakhir jumlah kematian ibu tertinggi hampir setiap tahunnya pada kelompok umur 20-34 tahun karena kelompok umur ini merupakan masa produktif seorang ibu. Kecuali pada tahun 2019, jumlah kematian ibu umur 20-34 tahun sama dengan kelompok umur 35 tahun atau lebih (8 jiwa).
Berdasarkan pencatatan dan pelaporan Puskesmas di Kota Bekasi tahun 2019 jumlah kematian ibu dilaporkan ada sebanyak 18 jiwa. Puskesmas dengan jumlah kematian ibu tertinggi adalah Puskesmas Jati Rahayu dan Pengasinan (3 jiwa). Diikuti oleh Puskesmas Seroja dan Pejuang (2 jiwa). Dan masing-masing 1 kematian ibu yaitu di Puskesmas Jati bening, Jati Sampurna, Jati Asih, Karang Kitri, Jaka Setia, dan Puskesmas Kali Abang Tengah.
0 1
0 0 0
13 14
7
11
8
1 1
4
7 8
0 2 4 6 8 10 12 14 16
2015 2016 2017 2018 2019
< 20 Thn 20-34 Thn ≥35 Thn
46 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Grafik 5.10
Jumlah Kematian Ibu Menurut Kelompok Ibu Di Kota Bekasi Tahun 2012 s.d 2019
Pada tahun 2019, ibu nifas merupakan kondisi kematian ibu tertinggi di Kota Bekasi (14 jiwa). Dari grafik 5.10 di atas juga terlihat bahwa terjadi kecenderungan peningkatan jumlah kematian ibu nifas dalam tiga tahun terakhir. Dengan demikian pelaksanaan P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) dan kunjungan lengkap ibu nifas (KF 3) harus ditingkatkan agar jumlah kematian ibu dapat diturunkan.
Penyebab kematian ibu tahun 2019 antara lain: perdarahan (4 kasus), hipertensi dalam kehamilan (3 kasus), dan penyebab lain-lain (9 kasus). Perdarahan postpartum (setelah melahirkan) menjadi penyebab kematian paling tinggi pada ibu hamil.
Penyebab utamanya adalah pembuluh darah pada bagian rahim yang terbuka (tempat melekatnya plasenta ketika ibu masih mengandung). Perdarahan pascapersalinan ini antara lain karena:
gangguan pada rahim, pelepasan plasenta, robekan jalan lahir, dan gangguan faktor pembekuan darah. Risiko akan meningkat, pada ibu hamil yang menderita anemia dan rahim teregang terlalu besar karena bayi yang besar. Beberapa penyebab kematian tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila kehamilan dan persalinan direncanakan, diasuh, dan dikelola secara benar.
9 10
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
47 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
5.2. Kesehatan Anak
5.2.1 Kunjungan Neonatal
Neonatal merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan cukup tinggi. Upaya-upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatal.
Setiap bayi baru lahir sebaiknya mendapatkan kunjungan neonatal dari tenaga kesehatan. Kunjungan neonatal dilakukan saat bayi berumur 6-48 jam (kunjungan neonatal pertama atau KN1), 3-7 hari (KN2), dan 8-29 hari (KN3). Bayi yang mendapatkan kunjungan neonatal tiga kali dapat dinyatakan sebagai kunjungan neonatal lengkap (KN lengkap).
Grafik 5.11
Cakupan Kunjungan Neonatal Pertama dan Lengkap Di Kota Bekasi Tahun 2010 s.d 2019
Berdasarkan pencatatan dan pelaporan Puskesmas di Kota Bekasi tahun 2019, cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari 100 persen tahun 2018 menjadi 99,51 persen tahun 2019.
99,0 99,0
91,5 90,3 88,0
100,0 100,0 101,2 100,0 99,5
76,67
70,81 76,9
70,7
82,0
96,3 96,9 96,6 95,7 95,7
20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 KN1 KN Lengkap
48 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Hampir seluruh Puskesmas di Kota Bekasi tahun 2019 mencapai cakupan KN1 100 persen. Sedangkan cakupan kunjungan neonatal pertama yang terrendah adalah Puskesmas Mustika Jaya (90,16 persen).
Grafik 5.11 di atas menunjukkan bahwa kunjungan neonatal lengkap tahun 2019 sama seperti tahun 2018 (tidak ada peningkatan secara persentase), namun secara jumlah meningkat. Dari 45.272 orang tahun 2018 menjadi 47.431 orang tahun 2019.
Puskesmas dengan cakupan kunjungan neonatus lengkap tertinggi di Kota Bekasi tahun 2019 yaitu Puskesmas Rawa Tembaga (102,81 persen) dan Kranji (102,03) diikuti Puskesmas Jati Warna (100 persen) dan Puskesmas Kali Abang Tengah (100 persen), dan Mustika Jaya (100 persen). Sedangkan cakupan terrendah yaitu Puskesmas Jaka Setia (82,93 persen).
5.2.2 ASI Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, dengan memberikan ASI saja tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain termasuk air. Manfaat ASI terutama dalam memberikan asupan zat gizi dan zat kekebalan sehingga bayi tidak mudah terkena penyakit infeksi. Dengan demikian dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada balita seperti diare dan pneumonia, termasuk menurunkan kejadian gizi buruk.
Cakupan ASI eksklusif di Kota Bekasi dalam delapan tahun terakhir dapat dilihat pada grafik 5.12 berikut. Meskipun awalnya berfluktuasi, namun dalam tiga tahun terakhir ini menunjukkan trend yang meningkat. Dari 23,2 persen tahun 2016 meningkat terus menjadi 26,9 persen pada tahun 2017, meningkat lagi di tahun 2018 menjadi 31,4 persen, dan tahun 2019 mencapai 33,8 persen.
49 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
Grafik 5.12
Persentase Cakupan Bayi yang Diberi ASI Eksklusif di Kota Bekasi Tahun 2012 s.d 2019
Dilihat berdasarkan distribusi cakupan menurut Puskesmas diketahui bahwa Puskesmas dengan cakupan ASI eksklusif tertinggi di Kota Bekasi pada tahun 2019 yaitu di Puskesmas Marga Mulya dengan cakupan sebesar 84 persen, diikuti Puskesmas Ciketing Udik (73,5 persen) dan Puskesmas Seroja (72,1 persen). Sedangkan Puskesmas dengan cakupan ASI eksklusif terrendah yaitu Puskesmas Bantargebang (10,4 persen), Mustika Sari (10,6 persen), dan Puskesmas Harapan (11,1 persen).
Rendahnya cakupan ASI eksklusif ini antara lain karena pencatatan dan pelaporan ASI eksklusif yang kurang baik, masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya ASI eksklusif, banyaknya ibu yang bekerja, dan masih sedikitnya tenaga konselor laktasi maupun kelompok pendukung laktasi yang diharapkan dapat memberikan bantuan kepada ibu menyusui ketika menghadapi masalah dalam pemberian ASI. Dengan demikian perlu ditingkatkan promosi kesehatan mengenai ASI eksklusif pada ibu hamil sejak awal masa kehamilan.
22,1
13,8 13,5
44,0
23,2
26,9
31,4
33,8
5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 35,0 40,0 45,0 50,0
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
50 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
5.2.3 Kunjungan Bayi
Grafik 5.13
Cakupan Kunjungan Bayi Di Kota Bekasi Tahun 2010 s.d 2019
Kunjungan bayi sangat penting dilakukan untuk memantau pertumbuhannya sehingga dapat diketahui adanya gangguan pertumbuhan (growth faltering) pada anak secara dini. Kunjungan ini dilakukan minimal 4 kali yaitu saat: bayi berumur 29 hari – 2 bulan (1 kali), bayi berumur 3 – 5 bulan (1 kali), bayi berumur 6 – 8 bulan (1 kali), bayi berumur 9 – 11 bulan (1 kali). Kunjungan bayi dilaksanakan tidak hanya di puskesmas, tetapi juga termasuk di posyandu, bidan, dan fasilitas kesehatan lain.
Grafik 5.13 di atas menunjukkan peningkatan yang cukup tajam pada cakupan kunjungan bayi di Kota Bekasi pada tahun 2019. Kunjungan bayi tahun 2019 sebesar 96,7 persen meningkat dibandingkan tahun 2018 (85,1 persen).
Puskesmas dengan cakupan kunjungan bayi tertinggi tahun 2019 yaitu Puskesmas Jati Bening (231,56 persen). Sedangkan Puskesmas dengan cakupan kunjungan bayi terrendah adalah Puskesmas Mustika Sari (16,09 persen), Aren Jaya (47,79 persen), dan Puskesmas Cimuning (50,19 persen).
75,3 79,6
54,4
73,4 76,0
84,1 85,2 87,5 85,1 96,7
20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
51 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019
5.2.4 Imunisasi Bayi
Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit.
Imunisasi dilaksanakan untuk mencegah penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, antara lain: difteri, tuberculosa, tetanus, hepatitis B, pertusis, polio, dan campak. Imunisasi dasar pada bayi yang diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia antara lain: BCG, DPT-Hb-Hib, Polio, Hepatitis B, dan MR/ Campak.
Pemberian imunisasi dasar pada bayi berbeda-beda, yaitu:
BCG diberikan pada bayi berumur kurang dari tiga bulan, imunisasi polio mulai diberikan pada bayi baru lahir, dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. Imunisasi
BCG diberikan pada bayi berumur kurang dari tiga bulan, imunisasi polio mulai diberikan pada bayi baru lahir, dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. Imunisasi